"Mencintaimu adalah sesuatu yang tidak menyenangkan, namun menolak perasaan inipun juga tidak bisa kulakukan."—Kim Jongwoon.
.
.
.
.
.
Queen is King's © Jenny Kim
Super Junior © God, SMEnt, ELFs, Their Parents and of course Themselves
Rated: T semi M
Warning(s): Always Boys Love, MPREG, OOCness, Typo, etcetera-etcetera~
.
.
.
.
.
"AAAAANGGGHHHH..." Ryeowook meremas sprei di tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Kepalanya terasa pening, fajar hampir datang namun Yesung tak mau berhenti juga mengerjai tubuhnya. Makhluk setengah siluman itu terus menyentak-nyentakkan lidahnya ke dalam manhole Ryeowook dan menghantam prostatnya.
Yesung merubah lidahnya menjadi lidah ular. Membuat lidahnya lebih panjang dan tajam hingga mampu menyentuh titik kenikmatan Ryeowook tanpa menyuntikkan bisanya. Tangan kanannya mengocok penis Ryeowook yang terus mengucurkan precum, sedangkan tangan kirinya menangkup perut buncit Ryeowook dari belakang. Menjaga janin berusia tujuh hari itu agar tetap aman.
"AHH! Hyungghh... C-cukuphh! ARGHH!" Tangan dan kaki Ryeowook melemas. Ia sudah tidak sanggup menopang tubuhnya yang menungging.
Yesung mengeluarkan lidahnya dan menjilati pintu anal Ryeowook, lalu menghisap dan menelan cairan kental yang keluar dari sana.
"Aaaaahhh..." Ryeowook menjulurkan tangannya ke belakang dan menekan rambut hitam lurus Yesung. "Ssshh...ppleasee.."
Yesung menjauhkan kepalanya dan mendongak, Ryeowook langsung berbalik dan naik ke pangkuan pria setengah siluman itu.
"Sudah ya... Aku capek.." pinta namja manis itu sambil membelai rambut Yesung. Ia menarik tangan Yesung dan menaruhnya di perut besarnya yang sudah berusia tujuh hari. "Babies juga capek."
Yesung mengelus perut Ryeowook dengan gerakan memutar. "Mereka mendukungku," ucapnya ambigu seraya menjilat pipi Ryeowook dengan lidah ularnya.
"Ssshh..." Ryeowook memejamkan matanya menikmati lidah hangat Yesung di pipinya. "Tidak mung—ahhh...khinnhh..URGH!"
Yesung menyeringai. Ia tahu bahwa telur-telur dalam perut kekasihnya bergerak. Membuktikan pada sang ibu bahwa mereka berada di pihak sang ayah. "Bagaimana?"
Ryeowook menggembungkan pipinya. "Kalian menyebalkan!" rengutnya.
Yesung tersenyum menang. Separuh wajahnya dipenuhi sisik hijau dan biru. Begitupun tangan dan separuh dada kanannya. Ia memutar tubuh Ryeowook menjadi duduk memunggunginya, lalu mengangkat tubuh Ryeowook pelan-pelan.
"Ready?"
Ryeowook menelan ludah paksa. Ia harus merasakan sakit lagi. Selalu seperti itu tiap Yesung memasukinya—walau ujung-ujungnya dia akan merasakan nikmat dan meminta lebih, sih..
Namja mungil itu menangkup kedua pantat bulatnya, meremasnya dan menariknya ke arah yang berlawanan. Membuat manhole-nya yang berkedut terlihat dengan jelas. Ia menurunkan tubuhnya secara perlahan pada penis tegak Yesung.
"Ssshhh...pelan-pelan, hyungiihh..." rintihnya saat Yesung menurunkan tubuhnya dengan cepat walau belum sampai pada pangkal penis viper hijau kebiruan itu.
Yesung diam. Ia menunggu Ryeowook sampai selesai menurunkan tubuhnya. Meski ia bosan karena ia lebih suka bermain cepat dan kasar. Namun ia juga harus menjaga calon bayi-bayinya yang ada dalam perut Ryeowook.
"AAAKKHH!" Ryeowook mendongak dengan mulut menganga saat seluruh penis Yesung telah masuk ke dalam lubangnya dan tepat mengenai titik terdalamnya.
Tangan Yesung bergerak naik. Menyusuri lekuk tubuh Ryeowook dan berhenti di dada namja manis itu. Dada Ryeowook sedikit membesar karena kehamilannya. Dan tidak memungkiri dia bisa menyusui bayi mereka saat bayi-bayi itu lahir.
"Bergerak, Queen!" perintah Yesung di telinga Ryeowook. Ia mengulum telinga Ryeowook dan memutar lidah ularnya di lubang telinga Queen-nya.
"Ahh! Ahh! Uhh! Akh! Arrghh!" Ryeowook bergerak naik turun dengan erotis. Matanya terpejam erat dengan mulut menganga yang meneteskan saliva. Rautnya menunjukkan kenikmatan sedangkan tubuhnya yang berbalut keringat tampak mengkilat seksi.
Yesung meremas bulatan dada Ryeowook, lalu mencubit dan menarik-narik nipplesnya. Ia menjepit puting pink kecoklatan itu dengan ibu jari dan jari tengahnya. Pria itu terhenyak saat merasakan basah di jemarinya, namun beberapa saat kemudian ia menyeringai.
"Air susumu sudah keluar, Queen," ucap Yesung tanpa meninggalkan seringai setannya. Ia menjilati jarinya dan menikmati air susu pertama ratunya.
"Nghhh... Itu milik... Ahh! Ahh! Bbayi... Argh! Khitahh..ANGHH!" Ryeowook refleks mencengkeram paha Yesung saat prostatnya kembali tertumbuk.
Yesung mendesis pelan merasakan nyeri di pahanya. "Selama mereka belum keluar, ini milikku!" putusnya kembali memainkan dada Ryeowook. Ia meremas kencang dada kiri Ryeowook yang seukuran dengan genggaman tangannya. Memompanya terus hingga air susu tak pernah berhenti mengalir dari sana.
"Ahh! Akh...ahh... ngh...hhyungh.. HYUUUUNGGGHHH...!"
0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o
"Aish... Mereka berisik sekali!" kesal seorang namja tampan berwajah serupa dengan Yesung. Ia mengacak-acak rambutnya yang memang sudah memiliki style 'berantakan'. Mata mutiara hitamnya makin menyipit karena kantung mata yang membesar.
Seorang namja cantik di sampingnya menutup buku tebal yang dibacanya dan menaruhnya di meja kecil. Ia membelai lembut kepala putranya. "Biarkan saja, ne?" ujarnya lembut.
Jongwoon memajukan bibirnya dan mengeratkan pelukannya di pinggang ibunya. "Umma selalu membelanya."
"Kau cemburu lagi pada kakakmu?" decak Leeteuk. Ia merubah posisinya yang sebelumnya duduk bersandar di kepala ranjang menjadi tidur memeluk putranya. Ia menenggelamkan wajah Jongwoon di dadanya. "Apa perlu umma ke kamarnya dan menyuruhnya berhenti?"
"Aniya~" tolak Jongwoon. "Lebih baik melakukan hal yang sama seperti mereka."
Leeteuk melotot kaget. "AP-AAAAAHHH~ Jjongwoonnhh.." Lenguhan nikmat keluar dari bibir tipisnya saat Jongwoon menyelipkan tangannya ke dalam celana Leeteuk dan meremas penisnya.
"Ne, umma.. Ayo membuat anak!" ajak Jongwoon, ia meraup nipple kanan Leeteuk yang masih tertutup piyama putih transparannya.
"Ungh...ahh...ttidakhh...akh! jangan menghh...gigitnyaahh..!"
0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o
"Hah...hah... Hyungie... hah..pelan-pelan! Hah...hah..." ujar Ryeowook dengan nafas terengah. Meski sudah tidak berlari, ia tetep berusaha melangkah cepat. Mengimbangi langkah Yesung—kalau teleportasi itu termasuk dalam kategori melangkah.
Bagaimana tidak, dia yang sedang hamil tua begitu harus jogging pagi-pagi. Dan Yesung sebagai calon suami dan ayah yang baik memang menemaninya jogging, tapi tidak dengan kekuatan silumannya juga kali. Ryeowook lari-lari sampai mandi keringat, tapi Yesung malah sebentar menghilang, sebentar muncul, sebentar di samping Ryeowook, sebentar lagi duapuluh meter di depan Ryeowook. Dasar siluman menyebalkan!
"Jangan lelet, Queen," ucap Yesung datar.
Ryeowook mendengus kesal. Ia menghentakkan kakinya. "BERHENTI, KIM YESUNG!" sentak namja manis itu galak.
Yesung diam. Merasa akan ada hal buruk yang menimpanya jika tidak menuruti calon istrinya itu. Iapun melakukan teleportasi terakhir dan berdiri di samping Ryeowook.
Ryeowook memandangnya tajam. "Aku lelah. Aku ingin duduk!"
Yesung mengangguk patuh. Ia menggendong Ryeowook bridal style dan membawanya berteleportasi ke sebuah pondokan kecil di tepi hutan.
Ryeowook mendudukkan tubuhnya dan mendesah lega. "Ahh... lelahnya.."
Yesung mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya dan mengusap peluh di dahi namja mungil itu. "Istirahatlah."
Ryeowook mengangguk lemah. Ia menaruh tangan kirinya di belakang punggungnya. Menopang tubuhnya yang terasa semakin berat. Tangan kanannya mengusap-usap perut buncitnya. "Mereka bergerak terus, rasanya sakit," keluhnya.
Yesung memagut bibir Ryeowook. "Bertahanlah, dua hari lagi."
Lagi-lagi Ryeowook hanya mengangguk. Pikirannya fokus pada rasa sakit di perutnya. Ia memeluk pinggang Yesung yang berdiri di depannya. "Aku ngantuk.."
Yesung mengusap punggung Ryeowook naik turun. Baju lengan panjang yang dipakai kekasihnya itu basah oleh keringat. Sepertinya mereka memang jogging terlalu jauh hingga Ryeowook kecapekan. "Tidurlah, kita pulang setelah kau tidak lelah."
0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o
Jongwoon meringis sakit saat lehernya dicekik. Tubuhnya dihimpit di atas pohon hingga kakinya tak menapak tanah.
"Aku tidak pernah menyangka ini akan terjadi padamu."
Suara berat dan dingin itu seolah menusuk indra pendengarannya. Matanya berair memohon udara agar masuk ke paru-parunya.
"Bagaimana bisa kau?!" sentak pria besar itu marah. Ia melemparkan tubuh Jongwoon hingga membentur pohon dan jatuh ke tanah.
"Uhukk—uhuuk...urrgh... Mmianhae, appa...uhuuk.." Jongwoon membungkuk dan memegangi dadanya yang terasa panas.
"Kupikir setengah siluman itu yang akan merebut Jungsoo dariku, tapi ternyata... kau? ORANG YANG KUAKUI SEBAGAI ANAKKU?!" teriak Kangin marah. Suaranya yang menggelegar mengundang angin kencang untuk datang dan mengubrak-abrik ketenangan hutan.
"Aku mencintainya, appa.."
"Mencintainya? IBU KANDUNGMU SENDIRI?!" kalap Kangin. Ia menendang tubuh Jongwoon. Membuat tubuh anaknya kembali menghantam pohon dan memuntahkan darah.
Jongwoon meludahkan darah di mulutnya. "Ya, aku mencintai ibu kandungku sendiri. DAN AKU TIDAK PEDULI SEKALIPUN APPA MEMBUNUHKU! AKU MENCINTAINYA, DENGAN ATAUPUN TANPA IJIN DARI APPA!"
Kangin tercekat. Ia mundur perlahan. "Kau membuatku menyesal.. Kau satu-satunya putra yang kuakui. Kau putra yang kuminta pada Jungsoo untuk menjadi manusia. Kau yang kuinginkan sebagai anak. Dan ini balasanmu untuk ayahmu?"
Jongwoon merangkak mendekati ayahnya. Ia memeluk kaki Kangin dan menangis di sana. "Mianhae, appa... Tapi kami saling mencintai... Aku mohon, biarkan kami bahagia. Aku tahu aku jahat, bahkan aku lebih jahat dari King. Tapi aku tidak bisa kehilangan umma. Aku tidak bisa kehilangan orang yang kucintai lebih dari dua kali. Biarkan kami bersatu, appa.."
Kangin menggeretakkan giginya. "Bunuh aku."
Deg!
Jongwoon mengangkat kepalanya dan menatap ayahnya tak percaya.
"Jika kau ingin bersatu dengan Jungsoo, kau harus membunuhku," ucap Kangin. Ia berjalan ke sebuah pohon bambu, lalu memotongnya dengan mudah seakan mematahkan ranting. Kemudian ia berjalan ke arah Jongwoon, memaksanya untuk berdiri dan menyerahkan sepotong bambu di tangannya.
Jongwoon menggeleng-gelengkan kepalanya. "Andwae, appa."
"Apa susahnya? Bunuh aku supaya aku tidak perlu melihat anakku bercinta dengan ibunya sendiri!" desak Kangin.
Jongwoon mundur beberapa langkah. "Jadi appa benar-benar tidak mengijinkanku?"
Kangin memalingkan wajahnya. "Kau sudah tahu jawabannya."
"Kalau begitu biar aku saja yang mati."
Deg!
Kangin tersentak. Ia menoleh pada Jongwoon dengan wajah memucat.
Jongwoon tersenyum sembari mengangkat bambu runcing itu. "Jadi appa bisa berusaha mendapatkan umma lagi."
"Ani, Jongwoon! Jangan lakukan itu!"
JLEEEBB!
0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o
"AAAAAARRRGGGHHH!" Leeteuk terduduk bangun dari tidurnya. Ia meremas perutnya yang tiba-tiba terasa sakit.
Nafas namja cantik itu menderu. Ia menghapus keringat di dahinya dan menyambar segelas air putih lalu meminumnya rakus.
Leeteuk menoleh ke samping, mencari sang putra bungsu yang semalam 'tidur' dengannya. Pupilnya melebar kala tak menemukan Jongwoon di tempatnya. Ia meremas dadanya yang berdegup kencang.
Secepat kilat namja cantik itu mencari pakaiannya yang berserakan di lantai lalu mengenakannya dengan sembarangan. Ia harus menemukan Jongwoon!
0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o
"Jongwoon.." Kangin menyangga kepala Jongwoon dengan tangan kirinya. "Apa kau begitu mencintainya? Bukankah kau mencintai Ryeowook?"
Jongwoon merapatkan kelopak matanya dan mencoba bernafas. "Ergh... Aku sangat mencintainya. Lebih besar dari rasa cintaku pada Caramel. Karena itulah sejak kecil aku selalu ingin diperhatikan umma lebih dari siapapun. Bukan aku iri pada King, tapi karena aku cemburu umma membagi kasih sayangnya. Ahgh... Kupikir aku benar-benar... mencintai Ryeowook, tapi ternyata dia hanya menjadi pelarianku dari kenyataan aku mencintai umma-ku sendiri...hah...hah.."
"Tetaplah hidup, dan akan kubiarkan kalian bersama."
Jongwoon menatap ayahnya. Mata emas bercampur hitam itu terluka. Ia menggeleng pelan. "Sepertinya...khh...ttidak bbisa..hah.." Namja tampan itu mengalihkan perhatiannya pada perutnya yang terus mengeluarkan darah. "Appa... errgh...tolong cabut...bambunya...hh...hh.."
Kangin menuruti permintaan anaknya. Meski ia tahu, mencabut bambu itu sama saja mencabut nyawa anaknya. Namun ini lebih baik daripada Jongwoon terus kesakitan. Siluman viper bersisik coklat itu menggenggam bambu yang tertanam di perut anaknya, lalu menariknya dalam satu tarikan nafas.
"ARRRRGGGGHHHH...!" Jongwoon berteriak kesakitan. Ia mencengkeram baju sang ayah dan mencoba tersenyum. "Gomawo.." bisiknya tanpa suara bersama mata yang tertutup.
Sebutir cairan hangat jatuh di pipi Kangin. Ia menidurkan anaknya dan beranjak bangun. 'Mianhae..'
"K-kangin-ah... apa yang kau laku—kan..?"
Kangin menoleh ke belakang dengan raut kaget. "J-jungsoo.."
Leeteuk berlari ke arah Jongwoon dan memeluknya. "Jongwoon… Tidak… bangun! Banguuunn! UMMA BILANG BANGUN, KIM JONGWOON!"
"KAU PEMBUNUH! KAU MEMBUNUH PUTRAKU! KAU PEMBUNUH, KIM YOUNGWOON! ARRRRGGGGHHH!"
0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o
"UHUUKK!" Yesung tersedak ludahnya sendiri secara tiba-tiba.
Ryeowook yang sedang memakan ice cream-nya menatap kekasihnya khawatir. Ia menepuk-nepuk punggung Yesung. "Hyungie, gwaenchana?"
Yesung menyentuh dadanya. "Dadaku sesak." Ia menoleh pada Ryeowook dan membuat Ryeowook terlonjak. "Hyung! Kenapa menangis?!"
Yesung menautkan alisnya bingung. Ia menyentuh pipinya yang basah. "Kenapa aku menangis?"
"Hyungie, apa yang terjadi padamu?"
"Aku... ingin bertemu Jongwoon.."
0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o
Sepasang kelopak tipis itu terbuka pelan-pelan. Menampakkan dua buah bola mata berwarna hitam bening bagai mutiara. Pemuda itu mengerjapkan matanya beberapa kali, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya yang masuk ke dalam retinanya.
"Jongwoonnie.."
Suara merdu dari namja yang begitu dicintainya masuk ke dalam gendang telinganya. Ia menolehkan kepalanya ke samping dan pandangannya langsung bertemu dengan hazel pedih namjanya.
"Umma.."
Leeteuk mengembuskan nafas lega. Ia memeluk Jongwoon yang tertidur dengan kuat. Beruntung luka Jongwoon telah menghilang sempurna, jadi ia tidak perlu takut membuat putranya kesakitan.
"Syukurlah... syukurlah..." gumamnya lega bersama tetesan hangat yang berjatuhan dari hazelnya.
Jongwoon menepuk-nepuk punggung Leeteuk. Menenangkannya yang mulai bergetar karena menangis. "Kupikir aku akan mati.."
"Aku juga menyayangkan, kenapa kau tidak jadi mati saja?" suara sengak Yesung hinggap di telinga Jongwoon. Membuatnya menyadari bahwa ia tidak hanya bersama Leeteuk. Ada Yesung yang bersandar di dinding dan Ryeowook di samping siluman itu, memeluk pinggang Yesung erat.
Ryeowook menginjak kaki Yesung keras. Membuat kembarannya itu meraung keras. "Jangan bicara seperti itu!"
Jongwoon mengernyit. Apa yang terjadi? Yesung bukan orang yang mudah merasa sakit. Bahkan ia tetap biasa saja saat jatuh dari ketinggian sepuluh meter. Ia hanya bisa sakit oleh bubuk beling dan garam. Atau juga saat hatinya terluka. Yesung akan lemah jika hatinya terluka, sama seperti dulu saat ia membunuh anaknya bersama Eunhyuk.
Apa hati Yesung terluka lagi?
Tidak mungkin... Jongwoon tidak merasakan hal itu. Baik dia maupun Yesung memiliki ikatan batin yang kuat. Jika salah satu sakit, yang lainnya juga akan merasakannya.
"Jangan berbuat bodoh lagi. Aku tidak akan menolongmu untuk yang kedua kalinya," ujar Yesung lagi.
Jongwoon menatap kakaknya tak mengerti. Kemudian ia menyentuh perutnya. Matanya membulat kaget. Sama sekali tidak ada luka di sana. Padahal ia yakin ada lubang besar sebelumnya di sana.
Leeteuk mengangkat kepalanya dan membelai wajah Jongwoon. "Yesung memberikan setengah energi ularnya padamu. Dia memberikan separuh umurnya padamu karena jantungmu sudah berhenti berdetak," jelasnya.
Jongwoon tercengang. Ia mengalihkan perhatiannya pada kakaknya. Ia tak pernah menyangka Yesung si siluman berhati setan bisa berbuat lebih dari sekedar malaikat untuknya. "Go-gomawo, hyung.."
Yesung berdehem pelan sambil membuang pandangannya. Rasanya sedikit aneh saat Jongwoon memanggilnya 'hyung', tapi entah kenapa hatinya—walau ia tak mau mengakui—menyukainya. Rasanya hangat.
"Jangan senang dulu. Aku tidak tahu apa efek samping dari energi yang kuberikan padamu. Biar bagaimanapun itu energi ular, mungkin kau akan memiliki sisik, atau memiliki beberapa sifat ular, atau yang terparah, kau akan jadi siluman sepertiku."
Leeteuk memeluk Jongwoon sekali lagi. "Gwaenchana ne... Yang penting kau tetap hidup.."
Jongwoon mengangguk pelan. "Euh... H-hyung.."
"Hn?"
"Jika itu efek samping yang terjadi padaku, apa efek samping yang terjadi padamu?"
"Aku... aku tidak apa-apa.." ucap Yesung. Suaranya sedikit bergetar. Jongwoon dapat menyadari keraguan dari raut kakaknya.
Yesung cepat-cepat memutus kontak mata mereka. "Queen, ayo kembali ke kamar. Kau harus istirahat."
Ryeowook hanya diam dan menurut. Ia membiarkan Yesung menariknya keluar dari kamar Jongwoon. Perasaannya tidak enak. Ia khawatir pada Yesung.
"Umma, kau yakin King akan baik-baik saja?" tanya Jongwoon setelah sepasang kekasih beda bangsa itu keluar dari kamarnya.
Leeteuk mendesah berat. "Mungkin dia akan menjadi lemah seperti manusia selama beberapa waktu. Bagaimanapun energinya kini hanya setengah dan takkan bisa kembali. Tapi dia akan pulih setelah beberapa waktu walau kekuatan ularnya tinggal setengah."
0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o
"Kau yakin kau tidak apa-apa, hyung?" tanya Ryeowook khawatir. Ia duduk di tepi ranjang. Menaruh tambahan daging panggang tanpa garam di piring Yesung yang telah kosong. Kekasihnya itu bilang lapar tetapi tidak mau makan di meja makan. Ia bilang ia lelah.
"Hm~" sahut Yesung dengan mulut penuh. Matanya terfokus pada daging di piringnya. Enggan menatap ratunya. Ia sedikit mendengus merasakan bumbu-bumbu di dagingnya. Mungkin bagi manusia itu enak, tapi baginya tidak. Ular sepertinya lebih suka semua daging yang berbau mentah dan tidak tersentuh dapur manusia. Tapi Ryeowook selalu mengeluh mual tiap melihatnya makan daging mentah, jadi ia mengalah dan membiarkan Ryeowook memberinya daging matang.
Ryeowook kesal karena tidak diperhatikan. Ia menangkup kedua pipi Yesung dan memalingkannya padanya. "Hyung—ASTAGA! Kenapa kau pucat sekali?"
Yesung menurunkan tangan Ryeowook dan menatap ke arah lain. "Aku memang pucat dari dulu."
Ryeowook kembali menangkup paksa wajah Yesung. "Tapi tidak sepucat ini! Bahkan bibirmu sampai pecah-pecah! Matamu... kenapa merah sekali? Lingkar matamu hitam sekali? Dan kantung matamu membengkak.. Hyungie, kau kenapa?"
Yesung menyingkirkan piring makannya. Percuma, ternyata makanan tidak merubah kondisinya menjadi lebih baik. Ia benar-benar lemas setelah memberikan separuh energinya pada Jongwoon.
Pria tampan itu menjatuhkan wajahnya di bahu Ryeowook dan memeluknya walau akhirnya tangannya jatuh begitu saja karena terlalu lemas. "Bisakah kau menolongku?"
"A-apa?"
"Aku ingin tidur, dalam waktu yang lama. Mungkin beberapa hari, atau bisa juga sampai berminggu-minggu. Tolong jangan bangunkan aku."
"Kau janji untuk bangun, 'kan?" tanya Ryeowook bergetar. "Hiks... Selama apapun, asal kaupastikan untuk bangun suatu saat nanti.."
"..."
Ryeowook memeluk Yesung seerat yang ia bisa tanpa berniat menekan perutnya. Yesung tidak menjawabnya. Matanya terlanjur tertutup. "Hiks... Bagaimana dengan bayi kita? Hiks... Apa kau tidak mau menjadi orang pertama yang melihatnya? Hiks... Apa kau tidak mau membantuku memilih siapa yang akan kujadikan manusia?"
"Hiks... Hyungie... jangan tidur terlalu lama.."
0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o
"Gamhi, gamhi jega geunyol bonemnida
Budi, budi nareul yongsohagil
Gamhi, gamhi jega geunyol ttonamnida
Budi nareul itgo
Hengbokhagil baralkkeyo.."
[How dare I, how dare I send her away
Please, please forgive me
How dare I, how dare I leave her
Please forget me
I shall wish for your happiness..]
Namja cantik berkulit putih pucat itu tampak memejamkan mata menikmati suara merdu dari headphone yang dipakainya. Ia mengelus perutnya yang mulai membesar dengan penuh kasih sayang.
"Suara appa sangat indah, kau setuju dengan umma 'kan, YeEun?" tanyanya pada sang bayi yang baru berusia empat hari. Lima hari lagi ia akan melahirkan bayi-bayinya, lalu ia akan memiliki YeEun seperti impiannya selama ini.
Namja cantik itu duduk di lantai yang sudah diberi penghangat ruangan di bawahnya. Ia bersandar pada dinding kaca apartemennya yang menampakkan keindahan California pada malam hari.
Namun malam ini, ia lihat jalanan tidak terlalu ramai, mungkin karena rintik-rintik air yang jatuh dari langit.
Eunhyuk menarikan jari telunjuknya di dinding kaca yang mengembun. Ia menulis sebuah nama seseorang yang menempati hati terdalamnya. 'Kim Yesung~ sa-rang-hae~~'
Ia membentuk tanda cinta yang mengelilingi nama itu. Namja bermata brownies itu terkikik pelan. Tak habis pikir dengan tingkahnya sendiri yang kekanakan.
Wajah cantiknya mendongak. Memperhatikan langit gelap yang dihiasi kilat dan petir. Menurutnya Yesung seperti langit—ah, awan hitam lebih tepatnya. Dan sifat iblisnya yang sadis namun manis itu seperti kilat dan petir. Ia selalu melakukan hal-hal mengejutkan yang membuat orang tidak bisa menghindar untuk jatuh cinta padanya.
Gummy smile tercetak di bibir merah darahnya yang kontras dengan kulit putih pucatnya. Ia mengetukkan telunjuknya, menunjuk langit. "King, bogoshippo. Kau baik-baik saja, 'kan?"
Eunhyuk tidak tahu, namun ia mencoba meyakinkan pada dirinya bahwa Yesung baik-baik saja. Meski hatinya merasa sedikit tidak tenang.
0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o
Ryeowook memandang wajah pujaan hatinya yang tampak tidak tenang dalam tidurnya. Alis Yesung bertaut dengan tangan meremas kuat selimut di pinggangnya.
Namja mungil yang tengah mengandung tujuh hari itu menyeka keringat Yesung yang bercucuran. "Hyung, kau bermimpi apa?"
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
Huwaaaaaahhh… Sudah 3 bulan saya ga lanjut ff ini. Mianhaeeee~ saya lagi sensitive sama siders, jadi males apdet. Huhuhu~ habisnya jumlah orang yang ngefav, ngealert, dll ga sebanding sama yang review T.T
Jadi readers, please, jebal, saya mohon! Kalau habis baca kasih feedback~
Sebagai pendorong semangat saya buat ngelanjutin fic ini. Saya jadi rajin ngetik kalau peminat fic ini banyak, tapi kalau ga ada yang minat, mending saya ga usah lanjutin fic ini aja kali ya…
SIDERS = NO APDET FOREVER~~
Balesan ripiu Ch. 6:
Alint2709: iya~
AiiuRyeong9: wew, saia disindir *nyengir*
Mrs Kim siFujoshi: ohok *kecekik*
Qhia503: yah, saia emang ga bakat jadi author.
Pinky05KwmS: udah lanjut :)
Anonymouss: iya, ga jadi berbagi T.T
TabiWook: oke :)
Kim eun neul: udah apdet :)
imgdha: SAIA JUGA SREG YEHYUK! *toss*
trililililili: udah apdet :)
windah24: JongTeuk nih buat kamu!
nannaa: ucapan yg mana yg tidak terbukti?
Aidagracilla29: tanya ke reviewer yg lain, boleh ga YeHyuk, soalnya saia sregnya juga gitu XD Tapi Jong ama emak Tukitukie lho~~
lovelovechulie: jadi fic saia bad nih? T.T
Liliz Cloudsomnia: udah next :)
kira hanazawa: berhenti sampai di sini :)
ilma: bukan gitu, kemarin2 sibuk ujian.
SparKSomniA0321: udah next :)
yw411: padahal saia cinta YeHyuk moment. Akhir2 ini makin banyak XD
mingmiuu: Hae kan udah mati di ff ini -_- Jongwoon sama emak Tukitukie.
AmuHinaChan: udah next :)
Kiki Craft: namanya juga siluman XD ga ada YeWook dong kalau Wookie kabur.
InspiritBlue: KangTeuk ga bersatu dan malah jadi JongTeuk XD
Chen Clouds: udah lanjut :)
Ryu: First, Ryu, saia mau bilang kalau itu translate'an dari lagunya Yesung, blind for love. Jadi bukan saia yg bikin, di google banyak. Saia cuma copas. Kalau ga terima, tuntut aja google'nya. Mungkin lebih sempurna dari orang2 Western yang mempublish itu.
Second, 'that' itu ga harus dipakai ya. Contoh lagu SHINee, The Name I Loved, bukan The Name that I Loved. Masa guru kamu ga pernah bilang, sih? Guru saia padahal ngasih tau lho~
Lagian, that I dreamed sama I dreamed of *garis bawahi kata of* itu artinya similar~
Nothing wrong with that. Both of them have the same meaning here.
Ngerti? Aduh~ dulu itung2an Matematika, sekarang . Besok jangan PKn ya! Soalnya saia bukan orang yg beradab, tapi biadab :P
Makasih ya Ryu, selalu membaca dan mereview semua ff saya. Walau agak nyelekit, tapi saya tahu kamu kecantol sama fic2 saya. Makanya kamu jadi reader setia saya. Jadi terharu lho~ fic saya bagus ya? #alaykumat
HannaNick09: Udah lanjut^^
Guest: Sekarang peran Jongwoon masih dikit ga?
ChaaChulie247: Kayaknya kaga
Elf: TengKYU~
Kim Jongmi: Yah~ Emak Tukitukie ama Kang Jongwoon. SiChul masih tenggelam XD
detaayu75: Sama emak Tukitukie
yewook son is onew: YeHyuk daughter is YeEun XDDD Udah lanjut
MeeLaa: Jong ama emak Tukitukie~ Udah naek nih ratingnya neng!
Cho Rin Ae: Udah~
ShfLiee3424: Hehe, mian, sebel sama siders~
babby eunhaee: lumutan? Uuuhh~ tatiaaann~
Guest: Udah~
Park Hyesung: Ini dalem XD
1: Udah lanjut~
Guest: Ceritanya saya kena bash nih? #tampangbabo yaudah, kalau chingu ga suka, ga usah baca^^
LonelyKim: Ne, Hyukkie Nyukkie UnyuUnyu ga muncul lagi (kalau di Korea) XD Weh… Jong ama emak Tukitukie~
J HYERA 411: Sama emak Tukitukie neng~
iekha12693: Annyeong juga^^ ripiu lagi yaaa~
Guest: Wah, ini cuma penpik lho, nanggepinnya serius amat, neng? Saya ga mikir apa2, saya ga ada pesan apa2, saya juga ga minta kesan apa2.
key-kouru: Gagal pup ya? XXXDDD Udah naeeek ratiiinggg neng~
Mrs. EvilGameGyu: Padahal saya sukanya YeHyuk T.T
ViiaRyeosom: Itu mah gegara saya yang nulis fic. Saya takut kena gampar mantan uke saya T.T
Udah kan? Gomawo buat semua ripiunyaaaaa~ hayo pada ripiu~ biar saya punya alasan buat lanjutin fic ini!
Yesung's Concubine
Jenny Kim
