Disclaimer: This story is based on characters and situations created and owned by JK Rowling.

The Two-Tale Heart

II

DRACO

Draco Malfoy menyabetkan tongkat milik ibunya keras-keras. Bunga api berbagai warna memerciki rerumputan. Kalau saja tongkat itu bukan tongkat sihir, pasti sudah patah sejak tadi.

Dibesarkan dalam keluarga yang bergelimang emas membuat Draco kurang menghargai apapun. Dia selalu berpikir semua dapat dibeli dengan uang sihirnya.

Padahal tongkat bagaikan nyawa kedua untuk seorang penyihir. Dan Draco adalah penyihir kecil yang akan memiliki tongkatnya sendiri dua bulan lagi.

Dia menyipitkan mata ke gerbang masuk rumah keluarga Malfoy yang menjulang. Teman-teman ayah dan ibunya bisa saja tiba setiap saat, membawa anak-anak mereka untuk acara minum teh. Dan Draco sama sekali belum bisa melancarkan mantra yang Theodore Nott bisa lakukan.

Theodore Nott adalah salah satu teman Draco sejak kecil. Setidaknya ibunya memaksa mereka untuk berteman. Begitu pula dengan puluhan anak lain yang khusus.

Khusus di sini berarti pilihan ayahnya. Yang pasti harus berasal dari keluarga terhormat, kaya, terpandang, dan yang terpenting, berdarah murni. Muggle alias non-penyihir tidak perlu repot-repot mendekat. Draco tidak membantah. Berteman dengan orang-orang tertentu saja sudah membuatnya tertekan.

Minggu kemarin Theodore membuat teman-temannya kagum karena berhasil mencuri tongkat ayahnya. Dia membuat Blaise Zabini mengeluarkan suara kodok hanya dengan satu lambaian tongkat. Kelihatannya gampang sekali. Tetapi Dobby si peri-rumah, pembantu keluarga Malfoy sejak jaman kakek-neneknya, masih berjongkok di batu-batu yang mengambang di permukaan kolam. Dia persis seperti kodok di atas daun water lily, dengan mata yang bulat dan hijau. Hanya saja alih-alih mendengkung karena hasil sihiran Draco, Dobby tetap berkata, "Maaf, Tuan! Maaf, Tuan!" berulang kali seperti biasanya.

Draco mengumpat keras dengan kata-kata yang pasti akan membuat ayahnya memukul mulutnya kalau dia dengar. Dengan gelisah, Draco menatap pada pintu gerbang lagi untuk yang kesejuta kalinya.

Terlalu meremehkan apabila menyebut rumah keluarga Malfoy sebagai rumah. Mereka menyebutnya Malfoy Manor. Manor itu telah ditempati keluarga Malfoy sejak berabad-abad yang lalu.

Malfoy adalah keluarga penyihir yang tua dan terhormat di kalangan sihir. Dan walaupun tahun-tahun kemarin dia sempat mendengar desas-desus tidak enak yang ditujukan pada ayahnya, setiap generasi Malfoy tetap tahu persis bagaimana cara mempertahankan kebangsawanan mereka.

Walaupun dari kejauhan, lambang keluarga Malfoy di depan gerbang tetap terlihat jelas. Dan Draco hafal betul bagaimana bentuknya. Sebuah huruf M silver besar di tengah perisai, tiga tombak bersilangan di belakangnya. Tombak di tengah dililiti dua buah ular hijau dan di kanan kiri perisai terdapat naga bersayap yang mengeluarkan api berwarna hitam. Di bawah huruf M itu tertulis motto keluarga Malfoy dalam pita silver, Sanctimonia Vincet Semper – Kemurnian Selalu Mengalahkan

Malfoy Manor adalah manor dengan tanah kosong yang seolah tanpa batas. Pagar-pagar sihir memagari tiap sisinya, kadang oleh pagar tanaman yang tebal dan menjulang. Pepohonan beraneka jenis dan tanaman rambat yang rimbun memenuhi tiap petak. Bunga-bungaan kegemaran ibu Draco mengitari setiap sisi jalan setapak, menggerombol penuh warna. Draco sendiri saat ini berdiri di salah satu kolam dengan batu-batu sihiran mengambang di permukaan. Pohon cemara kecil berdiri rapi tepat di tengahnya. Seperti pohon Natal.

Tidak ada satupun dari hal itu yang membuat Draco senang.

Bel berdentang keras di kejauhan, waktunya minum teh.

Draco dengan kaget menoleh ke arah rumah dan tongkat sihir ibunya secara bergantian. Dia melempar tongkatnya ke arah Dobby. Yang langsung menangkapnya dengan bingung.

"Pegang itu!" perintah Draco sementara dia berlari secepat mungkin menuju rumah.

Draco mengotori lantai marmer hitam yang berkilau dengan tanah dari sepatunya. Rambutnya yang pirang-putih keperakan pastilah berantakkan. Jarak antara kolam dan rumah lumayan melelahkan, apabila ditempuh dengan cara berlari secepat mungkin.

Seorang wanita muncul dari ruang tamu. Ekspresinya kesal.

Narcissa Malfoy adalah wanita yang amat cantik dengan ekspresi angkuh dan tegas yang sangat dikagumi Draco. Padahal sebenarnya dia sangat lembut. Kalau boleh memilih, Draco lebih senang saat dia menghabiskan waktu bersama ibunya. Dia selalu melindungi dan sangat memanjakan Draco.

"Jubahmu penuh jarum cemara!" seru ibunya. "Dan rambutmu? Pergi ke kamar! Ganti jubah dan sikat rambutmu yang benar! Dan jangan bilang kau mencuri tongkatku lagi, Draco!"

"Aku tidak…"

Draco berusaha menghentikan celoteh ibunya. "Lihat! Dobby yang mengambilnya!"

Draco menunjuk Dobby yang entah sejak kapan sudah di belakangnya lagi. Padahal tadi dia meninggalkan Dobby di kolam. Dobby terlihat seperti bayi-berjalan yang membuntuti Draco. Dia memakai sarung bantal kumal dan memegang tongkat ibunya dengan hati-hati, seolah itu barang pecah-belah.

Ibunya segera menyambar tongkat dari tangan Dobby. Mata birunya melebar dengan cemas, tetapi kemudian tenang lagi.

"Pergi ke dapur dan segera bawakan tehnya, Dobby!" perintah ibunya kepada Dobby.

Dobby membungkuk dan berlari pergi dengan takut. Meninggalkan mereka berdua.

"Pembohong kecil yang payah…" gumam ibunya sekarang memelototi Draco. "Sekali lagi Ibu menemukan kau memberikan tongkatku kepada peri-rumah, Ibu akan memotong semua uang jajanmu…"

"Tapi Theo…" protes Draco.

"Tidak ada tapi-tapian! Cepat bereskan dirimu di kamar!"

Draco menghentakkan kaki dengan kesal, tetapi dia menuruti ibunya. Kalau sampai ayahnya tahu dia tidak menurut, hukumannya akan lebih berat.

Di kamar, Draco melemparkan jubah habis-pakainya sembarangan. Menambah pekerjaan Dobby. Dia merasa hitam adalah warnanya, sehingga dia memilihnya dari ruang pakaian.

Segera setelah menyikat rambut, Draco mematut dirinya di cermin.

"Bagaimana menurut pendapatmu?" tanya Draco kepada bayangan dirinya.

"Sangat tampan, Tuan Muda! Oh, sungguh keren…"

Cerminnya menjawab pertanyaan itu. Draco tidak puas. Si cermin selalu berkata begitu tiap kali dia berkaca. Tetapi Draco sedang uring-uringan sehingga tidak mempedulikannya lagi.

Kulit pucatnya kontras dengan jubah hitamnya. Dia mengelus cincin dengan emblem ular di jari kirinya, dulunya milik ayahnya yang dikecilkan. Lalu memeriksa matanya yang abu-abu dingin seperti badai.

"Yah, setidaknya aku tidak terlalu jelek… Selera berpakaian Theo payah sekali…"

"Ya, Tuan! Miss Parkinson menganggap Anda orang tertampan di dunia…" balas si cermin tanpa diminta.

Draco mengernyit jijik. Dan saat meninggalkan kamar, dia memikirkan untuk memecat si cermin.

Di ruang tamu, Draco menghampiri ibunya yang sedang menata meja yang sebenarnya tidak perlu dirapikan lagi. Ibunya menoleh pada Draco dan tersenyum.

"Lihatlah, kau mirip dengan ayahmu waktu kecil…"

Itu adalah jenis pujian yang paling disukai Draco. Dia nyengir lebar.

"Benarkah? Ibu mengenal ayah sejak kalian masih kecil?"

Ibunya merapikan ujung-ujung rambut pirang-panjangnya, yang sebenarnya sama seperti meja, tidak perlu dirapikan lagi.

"Tentu saja. Aku pernah ada diposisimu saat aku kecil dulu… Bermain dengan anak-anak seperti teman-temanmu… Kami bahkan bersama di Hogwarts…"

Ibunya menerawang sedikit saat menyebut nama sekolah sihir tersebut. Hidungnya yang mencuat indah kini seperti melembut. Seolah mengingat saat-saat terbaik dalam kehidupannya.

"Yah, ceritanya panjang. Dan sekarang Draco kecilku akan masuk Hogwarts juga…"

"Kita tidak tahu itu sampai dia menerima suratnya, Cissy! Yang aku ragukan kalau melihat kemampuannya saat ini…"

Suara berat yang dingin memenuhi ruangan. Draco dengan otomatis menegakkan punggung.

Lucius Malfoy memasuki ruangan dengan langkah anggun. Dia tegap dan tinggi. Matanya kelabu dengan rambut pirang-putih, persis sama seperti Draco. Hanya saja panjangnya melebihi bahu. Lurus dan tertata dengan rapi. Jubah hitamnya tersulam baik dengan penuh gaya. Hasil jahitan termahal. Pernyataan aristokrat seolah menempel pada setiap jengkal tubuhnya.

Ayahnya terlihat sempurna, sama seperti ibunya. Seperti seharusnya seorang Malfoy. Yang selalu Draco usahakan dengan sekuat tenaga.

"Jangan menjadi perusak kesenangan, Lucius!" tegur Narcissa kepada suaminya.

"Kalau kau tidak terlalu memanjakannya, Draco mungkin sudah bisa melancarkan mantra gelitik seperti anak keluarga Nott itu…" protes ayahnya tidak mau kalah.

"Dan apa gunanya mantra gelitik?" balas ibunya. "Semua mulai dari Hogwarts. Aku tidak mau Draco kehilangan momen itu, dan Draco akan dapat suratnya!"

"Kalau tidak, awas!" sekarang ayahnya mengancam. "Durmstrang sudah menutup pendaftaran…"

"Draco, sayang, tamu-tamu ibu sebentar lagi datang. Tunggu di pintu gerbang, ya? Dan bawa Lasalle bersamamu…"

Ibunya tampak mengusir Draco secara halus, jelas untuk menyelamatkannya dari ayahnya, yang suasana hatinya tampak buruk. Tetapi saat itu Draco lebih memilih tetap bersama ayahnya.

"Dengan merak bodoh itu? Ibu! Kau tahu betapa menyebalkan…"

"Dengar kata-kata ibumu, Draco!" sentak ayahnya. "Ayo, sana! Jangan sampai mereka menunggu lama!"

Draco pergi dengan menghentakkan kaki lagi.

Sesampainya diluar, dia bersiul keras-keras. Lasalle, merak albino putih-bersih milik ayahnya, tidak pernah mau dipanggil sekali. Draco bersiul sampai mulutnya sakit dan si merak baru menampakkan diri. Dia menghampiri Draco dengan angkuh, menolak membuka ekornya, matanya mendelik.

Draco bergegas menuju pagar lewat jalan setapak yang beralaskan batu-batu potong yang tersusun abstrak. Belum beberapa detik, Draco sudah terengah-engah dan mendapati dirinya disusul oleh Lasalle yang berkuak mengejek.

"Kenapa mereka tidak lewat perapian Floo saja, sih?" gerutu Draco pada dirinya sendiri.

Jaringan Floo adalah cara bepergian penyihir lewat perapian. Tetapi semua perapian Malfoy Manor ditutup agar tidak bisa menerima orang dari luar. Draco tidak tahu apa sebabnya. Banyak rahasia yang disimpan, bahkan untuknya sekalipun…

Tamu-tamu ayah-ibunya, serta anak-anak mereka, muncul tepat setelah Draco sampai di depan gerbang. Dia menyambut mereka setengah cemberut.

Draco benci acara minum teh ini, begitu pula hal-hal lainnya, kecuali apabila dia yang menjadi pusat perhatian. Menilai sikap ayahnya hari ini, dia tidak terlalu yakin hal itu akan terjadi.

Vincent Crabbe dan Gregory Goyle, yang seumuran Draco, langsung beralih dari sisi orang tua mereka. Crabbe dan Goyle mengambil tempat di belakang Draco, bagaikan pengawal.

Draco tersenyum puas melihat badan mereka yang bertambah tinggi besar. Dia telah memberi mereka emas tambahan agar mereka bersikap bagaikan anak buahnya mulai hari ini sampai mereka di Hogwarts.

Anak-anak perempuan menyapa Draco kelewat genit. Draco tersenyum bangga saat Pansy Parkinson, Daphne dan adiknya, Astoria Greengrass, anak-anak keluarga Rosier, dan lainnya menatap Draco seolah Draco adalah cowok terkeren sedunia. Tetapi dia merengut kembali saat perhatian mereka teralih kepada Lasalle, yang memutuskan untuk pamer dengan mengembangkan ekornya.

"Merak bagus, Malfoy…"

Suara mencibir yang sangat mirip dengan Draco sendiri itu datang dari Marc Zabini. Draco memaksakan diri tersenyum, yang diusahakannya agar terlihat seperti seringai jahat.

"Marc…" Draco balik menyapa dengan setengah hati.

Marc Zabini adalah anak tertua dari Genevive Zabini. Draco hilang urutan untuk mengingat yang mana ayahnya. Mrs Zabini sudah pernah menikah tujuh kali. Dan Draco, walaupun baru akan berumur sebelas bulan depan, tahu ancaman saat dia melihatnya. Ibunya selalu ada di sisi ayahnya, setiap saat, setiap waktu, saat Mrs Zabini bertamu, walaupun mereka berteman dekat.

Marc sekarang naik kelas empat di Hogwarts. Dia dikelilingi anak-anak sekelasnya seperti Adrian Pucey, Terence Higgs dan lainnya. Mereka semua anggota Quidditch Hogwarts. Olahraga penyihir dengan sapu terbang.

Draco tahu betul dia harus menjaga sikap. Dia sendiri ingin bergabung dengan tim Qudditch. Dan Marc mungkin akan mempersulitnya walaupun bukan dia yang menjadi kapten tim.

Walaupun kurang lebih mirip secara sikap, Draco mengakui dia lebih iri kepada Marc dibandingkan Theodore Nott yang pintar. Marc menuruni ibunya. Matanya biru terang dengan rambut hitam, kontras dengan kulitnya. Rahangnya terpahat sempurna, sesuatu yang tidak Draco dapatkan dari ayahnya sendiri.

Draco kadang malu kalau mengingat dulu selalu menguntit kemanapun Marc dan teman-temannya pergi.

Marc menatap Draco sekali lagi dengan angkuh. Setelah semuanya berjalan menuju rumah, Draco melihat dua orang tersisa di belakang. Mereka jelas baru mencuri tongkat sihir ibu atau ayah mereka. Tangan mereka dimasukkan dalam-dalam ke saku jubah.

Blaise Zabini, adik tiri Marc, dan teman sekaligus saingan utama Draco, Theodore Nott.

"Kau dapat tidak?" tanya Theodore.

Theodore Nott punya tampang angkuh sama seperti Draco. Hanya saja dia lebih kurus. Blaise Zabini yang juga sebaya Draco adalah anak berkulit coklat, dengan tulang pipi tinggi. Ayahnya adalah suami Mrs Zabini saat ini.

Draco menarik nafas, memikirkan alasan-dalam-setengah-detik untuk menjelaskan mengapa dia tidak bisa mencuri tongkat ibunya lebih lama.

"Sudahlah… Aku juga sedang tidak ingin main…" Theodore melambaikan tangannya di depan hidung Draco. "Ayo masuk sebelum ayahmu marah?"

Draco sudah akan membantah karena Theodore bersikap seolah ada di rumahnya sendiri. Tetapi dia berusaha menahan diri. Mungkin nanti ketika mereka berdua sendiri, Crabbe dan Goyle bisa memiting Theodore sedikit.

Ayahnya dan tamu-tamu lain sudah mulai mencampur teh dengan wine. Walaupun sore sepanas ini, mereka berbicara dengan bersemangat. Lalu menyombong tentang segala hal. Ayahnya melihat Draco masuk dengan Crabbe, Goyle, Theodore dan Blaise yang terlambat.

"Draco, anak-anak perempuan ingin ke air mancur. Antar mereka, ya?"

"Ayah tidak bisa memerintah…" Draco mulai membantah lagi, lupa dirinya berada di depan para tamu.

Tangan ayahnya terlihat mengejang di tongkatnya yang juga berfungsi sebagai tongkat jalan, walaupun dia belum setua itu untuk berjalan dengan alat bantu. Tongkat ayahnya dihiasi kepala ular perak pada pegangannya. Sesuatu yang besar dan sulit untuk dicuri Draco.

Ayahnya memberi tatapan seribu makna yang bisa berarti, Awas kau nanti malam! atau Akan kupukul! atau yang lebih menakutkan dari segalanya adalah, Draco tidak akan dibelikan sapu terbang baru.

Draco terpaksa membuka pintu menuju halaman untuk menggiring anak-anak perempuan yang tetap cekikikan. Dia mengedik kepada Crabbe dan Goyle yang memandang penuh harap pada kue-kue di meja.

Bersama ayah-ayah mereka, Marc dan gerombolannya duduk santai seolah mereka pemilik rumah. Tetapi Theodore dan Blaise mengikuti Draco.

Sadar akan kemungkinan terjadinya keributan khas anak-anak, ayahnya memperingatinya lagi,

"Jangan nakal, Draco! Dan jangan merusak apapun!"

Draco menggumam tak jelas sementara dia segera berbalik lagi untuk menuju halaman.

Anak-anak perempuan segera menghambur untuk memetik bunga-bunga yang ditanam ibunya. Draco kesulitan sendiri melawan mereka yang merayu-rayu. Dalam hati dia berjanji, suatu saat nanti, dia tidak akan menjadi tuan rumah yang membebaskan tamunya bersikap sembarangan.

Walaupun sedang bosan saling adu mantra, Thedore dan Blaise tetap saling adu-besar-mulut. Kali ini tentang Hogwarts dan cewek. Mereka membahas tentang anak-anak perempuan yang sedang bermain tersebut. Bahkan Crabbe dan Goyle tak henti-hentinya menggeram dan mengangguk sebagai respon. Membuat Draco ingin mati karena bosan.

"Kita masuk sekolah tahun ini… Pasti akan asyik sekali!" kata Blaise.

"Tentu, aku sudah tidak sabar lagi… Kita akan sama-sama di Slytherin kukira?" sambut Theodore, menyebutkan salah satu asrama Hogwarts.

Draco sebenarnya juga sama antusiasnya, tapi dia punya kebiasaan tidak mau seragam dengan orang lain.

"Kita akan jauh dari rumah, satu sekolah dengan para darah-lumpur, diatur oleh kepala sekolah yang mencintai mereka. Kudengar toiletnya kotor sekali, dan penerangannya sangat buruk! Ibuku bilang asrama Slytherin terdapat di bawah tanah. Sungguh merupakan penghinaan…"

"Berhenti mengeluh, Draco!" potong Theodore.

Dia selalu tersinggung apabila Draco mulai menceritakan tentang ibunya. Draco seharusnya tahu bahwa Theodore sangat peka terhadap ibunya, Mrs Nott, yang telah meninggal. Tapi Draco tidak mau peduli. Kalau ada yang bisa membuat Theodore tertekan, itulah yang akan dilakukannya.

"Mudah-mudahan ceweknya tahun ini cantik-cantik…" gumam Blaise setengah bermimpi.

Theodore mengerang dengan putus asa sementara Draco menatapnya dengan tatapan menghina, jijik, sekaligus tak percaya.

"Dasar, Blaise! Sama seperti ibumu…" ejek Draco, yang bahkan membuat Theodore menyeringai. "Di otakmu hanya ada cewek, Blaise? Mau jadi apa kau?"

"Kau akan berkata lain jika rumor yang beredar benar. Kau kan belum pernah bertemu barang bagus karena Pansy selalu menggelayutimu…" balas Blaise.

Draco pasti sudah menyuruh Crabbe dan Goyle untuk menghajarnya sebelum teringat akan ayahnya yang melarang Draco berbuat onar.

"Rumor?" tanya Theodore penasaran.

"Ya…" nada suara Blaise berubah.

Draco memutar mata, bersiap melayani dua anak laki-laki penggosip.

"Kau tahu Harry Potter? Dia kabarnya akan masuk Hogwarts juga kali ini…" kata Blaise.

"Potter? Potter yang itu?" Theodore melirik cepat Draco dengan penuh arti, tapi buru-buru melanjutkan. "Ya, aku tahu. Dia kabarnya seumur dengan kita, kan?"

"Hore…" komentar Draco datar, lagi-lagi tidak mau terlihat sama antusiasnya. "Angkatan kita bakal terkenal…"

"Tapi bukan hanya dia anak terkenal yang akan memasuki Hogwarts," lanjut Blaise mengabaikan Draco. "Aku tidak tahu apakah banyak yang tahu… Yah, soalnya ibuku punya beberapa data tentang… yeah…"

"Data pria-pria kaya?" Theodore membantu melanjutkan. "Lanjutkan…"

"Satu berita merambat ke berita lainnya. Dan kabarnya putri Ravenclaw yang menghilang telah kembali!"

Sekarang Draco benar-benar merasa bosan. Dia tahu Rowena Ravenclaw. Salah satu pendiri Hogwarts. Draco tidak mengerti apa menariknya si putri yang pastinya berumur ribuan tahun ini untuk Blaise. Tetapi ternyata Blaise membahas keturunan mereka.

"Keturunan para pendiri sangat sulit terlacak. Kalian tahu, kan? Banyak diantara kita sekarang menikahi muggle sampai melupakan silsilah keluarga mereka. Dan yang satu ini kabarnya masih ada ikatan darah dengan Rowena Ravenclaw. Dia akan memasuki Hogwarts juga tahun ini…"

Kulit gelap Blaise menjadi memerah karena bersemangat.

"Hore," komentar Draco lagi. "Angkatan kita akan makin terkenal…"

Tidak ada yang repot-repot membalasnya. Blaise tidak bisa dihentikan.

"Kau tahu artinya kan, Theo?"

"Pintar, cantik, dan mengintimidasi?" tebak Theodore.

"Tepat! Cantik… Aku tidak sabar lagi untuk melihatnya. Mereka kabarnya terbuang karena ibunya yang masih keturunan Ravenclaw itu menikahi muggle…"

Pada titik ini Draco sama sekali tidak mendengarkan. Dia tidak tertarik pada siapapun yang menodai darah-murni mereka, tidak darah-campuran, apalagi keturunan muggle. Tetapi dia tidak bisa menahan diri.

"Dan apa gunanya cantik apabila ayahnya muggle?"

"Pada data ibuku, ayahnya itu punya mata kiri berwarna biru, dan kanannya hijau… Dia mungkin punya mata yang sama indahnya…"

"Wow! Kau baru saja menggambarkan monster…" sentak Draco sarkastis.

"Yah, Marc sudah memastikan dia akan mencari anak ini sesampainya di Hogwarts. Dia senang berburu cewek cantik…"

"…sudah keturunan…" gumam Theodore yang disetujui Draco.

"…dan yang lebih penting, ayahnya sangat kaya…" lanjut Blaise. "Kaya di dunia muggle berarti melebihi kekayaan kita semua! Muggle kan banyak sekali…"

"Aku lebih baik miskin daripada menyentuh uang muggle!" seru Draco lebih percaya diri daripada perasaannya sendiri.

Dia tidak pernah dan tidak akan mau hidup miskin.

"Aku tahu… Segala Sanctimonia Vincet Semper-mu. Tanpa itu pun kau tidak akan punya kesempatan, sih…"

Diluar fakta bahwa Draco benar-benar sebal dengan pembicaraan tentang cewek, sekarang dia merasa sedikit tersinggung. Apa yang dia tidak punya sehingga Blaise bilang dia tidak punya kesempatan? Draco senang sekali berpikir bahwa dia bisa memperoleh segalanya.

"Kenapa?" sentaknya.

"Yah… Kudengar ibunya melawan Kau-Tahu-Siapa…"

Mereka bertiga terdiam. Baik Crabbe dan Goyle pun tidak menggeram-geram lagi.

Kau-Tahu-Siapa. Lord Voldemort.

Bahkan ayahnya pun tidak berani menyebut namanya. Draco gantian melirik Theodore sekarang. Seolah mereka berbagi rahasia umum yang sama.

Lord Voldemort adalah penyihir hebat yang mendukung prinsip-prinsip darah-murni. Dia berjaya sepuluh tahun kebelakang. Ayah Draco, ayah Theodore, dan sebagian ayah-ayah lainnya yang ada di ruang tamu Malfoy Manor saat ini adalah pendukungnya.

Masalah muncul saat Harry Potter, yang kata Blaise akan masuk Hogwarts tahun ini, mengalahkannya entah bagaimana waktu dia masih bayi. Kabarnya Voldemort hancur. Mati. Yang jelas, ayahnya berhasil berkelit dari masalah saat orang-orang Kementerian Sihir menuduhnya sebagai pendukung besar si Voldemort, yang disebut Pelahap Maut.

Inilah sebagian desas-desus yang Draco dengar bahkan sampai hari ini…

Dan sampai hari ini, hampir semua orang di dunia sihir bahkan tidak berani menyebut nama Voldemort…

"Sial betul…" komentar Theodore pendek.

Blaise mengangkat bahu. Draco kini berpikir Blaise ada benarnya. Ayah-ibunya tidak akan mengijinkan Draco kenal dengan anak ini. Seberapa cantik atau kaya pun dia.

"Kudengar ibunya tidak mati dalam perang. Dia hanya ahli strategi, keahlian Ravenclaw yang cerdik kukira… Tapi tetap saja, dia menyebabkan banyak Pelahap Maut tertangkap waktu dulu…"

Hening kemudian.

"Wah, cinta terlarang… Sungguh menantang…" kata Theodore antusias.

Draco mendesah kesal dan melihat ke sekeliling dengan kaget. Pengawasannya melonggar. Anak-anak perempuan sudah mulai menggunduli beberapa petak bunga dan menghias sangkar Lasalle. Kakak-beradik Greengrass sekarang saling mendorong sehingga mereka berdua tercebur ke kolam air mancur. Menjerit keras-keras. Diiringi kekacauan lain khas anak perempuan.

"Aku bahkan tidak tahu mengapa ayahku berpikir kalian lebih hebat daripadaku! Kita cowok sepuluh tahun! Kita seharusnya membicarakan mantra-mantra bodoh atau Quidditch!" ujarnya gusar. "Dan kalau kalian membicarakan cinta-cintaan lagi, aku tidak akan mengundang kalian main kemari…"

Draco bergegas berlari untuk menghentikan anak-anak perempuan itu merusak taman ibunya. Dia sibuk meneriaki mereka yang ternyata sudah merusak sangkar Lasalle dalam usaha menghiasnya. Lasalle berteriak-teriak mengikuti kakak-beradik Greengrass. Awalnya Draco hanya mengira itu karena sangkarnya diusik. Lalu Draco menyadari dengan ngeri bahwa Pansy sedang berusaha mencabuti ekor Lasalle.

"Ini akan bagus untuk hiasan jubahku! Iya, kan, Draco?" seru Pansy di tengah jeritan Lasalle.

"Hentikan, bodoh! Ayah akan…"

"DRACO!"

Walaupun jarak antara air mancur dengan rumah utama lumayan jauh, suara ayahnya memenuhi kuping Draco. Dia punya dugaan mereka saling terhubung satu sama lain. Ayahnya dan merak bodoh kesayangannya itu.

Benar saja.

Ayahnya nyaris berlari menghampiri keributan. Dia ada pada barisan terdepan ibu-ibu yang bersiap menenangkan anak-anak mereka. Wajah ayahnya yang biasa pucat memerah. Dan itu tandanya Draco harus melakukan satu hal. Yang biasanya dilakukan seorang Malfoy dalam keadaan seperti ini...

"Lari!"

Dia berbalik untuk kabur ke sisi lain halaman.

"Kami tidak ngomong cinta-cintaan!" protes Theodore, masih membahas ancaman Draco tadi.

Lalu dia ikut berlari. Crabbe dan Goyle menggerung di belakang.

"Tunggu!" teriak Blaise terengah-engah. "Kenapa aku harus ikut kalian lari, sih?"

Draco tidak repot-repot membalas, ayahnya akan menangkapnya dengan segera, tapi Draco tidak mau tertangkap tanpa berusaha terlebih dulu.

Dan dia bersumpah tidak akan pernah lagi melayani Theodore atau Blaise bergosip.

Hanya dengan mendengar rumor tentang si gadis sialan ini, Draco sudah pasti tidak akan dibelikan sapu terbang baru.

.

.

.