Disclaimer: This story is based on characters and situations created and owned by JK Rowling.

Pairings: Draco Malfoy/OC

Setting: Harry Potter and Sorcerer's Stone (Book & Movie)

The Two-Tale Heart

IV

DRACO

Ada banyak hal yang dibenci Draco. Tampaknya dia memang tidak menyukai segala hal yang tidak berjalan sesuai kemauannya. Tapi yang saat ini dibencinya adalah, bahkan orang tuanya sendiri mengabaikannya.

Draco tahu ayahnya belum puas menghukumnya karena kejadian minggu kemarin. Ketika tamannya dirusak dan merak piaraannya nyaris dimutilasi. Itu karena ibunya selalu melindungi Draco.

Ayahnya bukan hanya tidak jadi membelikannya sapu terbang baru, tapi juga menyita sapu lamanya. Ayahnya juga melarang Draco untuk main di luar. Jadi ibunya memberi Draco peta menuju halaman lewat gudang penyimpanan bawah tanah agar Draco bisa keluar sebentar. Juga memberitahu tempat sapunya disita. Ayahnya bahkan ingin Draco untuk membersihkan rumah mereka seperti Dobby ketika ibunya meledak dan memberitahu suaminya, dia sama rendahnya dengan ayah-ayah muggle lainnya kalau menerapkan hukuman macam begitu.

Ayahnya mengalah. Tapi sejak saat itu, hari-hari mereka selalu dipenuhi cekcok. Draco tidak tahu apa penyebab sesungguhnya. Tapi dia benci pertengkaran orang tua.

Surat dari Hogwarts akhirnya datang. Dan Draco harus menelan kegembiraannya sendiri karena ayah-ibunya bahkan tidak ada di rumah saat itu. Mereka pergi entah kemana tanpa bilang-bilang terlebih dulu. Begitulah kata Dobby.

Draco menunggu saat sarapan, saat makan siang, bahkan sampai jam minum teh pun mereka belum kembali.

Draco cemberut sepanjang hari. Dia bahkan tidak terbang di hari secerah ini. Rasa senang dan bangganya mendesak keluar. Tapi dia ingin terlebih dulu melihat senyum bangga di wajah ayahnya atau ibunya yang menangis terharu, karena akhirnya dia akan masuk sekolah.

Maka Draco susah payah berusaha menahan diri dengan membaca suratnya yang tadi baru dibaca sekilas.

SEKOLAH SIHIR HOGWARTS

Kepala Sekolah: Albus Dumbledore

(Order of Merlin, Kelas Pertama, Penyihir Hebat, Kepala Penyihir, Konfederasi Sihir Internasional)

Mr Malfoy yang baik,

Dengan gembira kami mengabarkan bahwa kami menyediakan tempat untuk Anda di Sekolah Sihir Hogwarts. Terlampir daftar semua buku dan peralatan yang dibutuhkan.

Tahun ajaran baru mulai 1 September. Kami menunggu burung hantu Anda paling lambat 31 Juli.

Hormat saya,

Minerva McGonagall

Wakil Kepala Sekolah

Dan ada rincian beberapa barang yang harus Draco beli. Draco menyeringai melihat tiga setel jubah kerja sederhana. Ibunya tidak akan mengizinkannya memakai jubah murah. Dan dia pasti akan dibawakan lima untuk setiap minggu alih-alih tiga.

Dia membaca daftarnya lagi. Kemudian menyadari buku Sejarah Sihirnya adalah karangan Bathilda Bagshot yang setebal batu bata. Tampaknya akan sangat berat untuk dibawa di tas. Draco memutuskan Crabbe atau Goyle juga harus membawa buku-bukunya sebagai tambahan tugas mereka sebagai pengawal.

Hati Draco berdesir melihat tongkat sihir. Dia tidak sabar lagi. Bayangan akan tongkat yang akan menemaninya untuk melakukan apapun kini berenang-renang di kepalanya.

Dia beralih ke binatang piaraan yang boleh dibawa. Dia memikirkan betapa kucing selalu berdesis kepadanya. Dan dia sudah pasti akan mempunyai stok teman-teman yang bersuara kodok apabila dia sudah menguasai mantra Theodore. Draco teringat burung hantu lamanya yang telah mengirim surat-surat Draco sejak kecil. Tapi lalu memutuskan untuk membeli yang baru. Burung hantu lamanya sudah tua dan tampaknya sekarang hanya tahu satu jalan. Yaitu ke tempat peristirahatan kakek Draco di Irlandia. Dimana Draco biasa menulis hanya karena ibunya memaksa.

Draco terkejut saat melihat pengumuman besar-besar yang menyatakan bahwa anak kelas satu belum boleh membawa sapu terbang sendiri.

Rasa gelisah membanjirinya sampai-sampai dia bergumam sendiri.

"Tidak mungkin… Apa sih yang mereka pikirkan? Biarkan saja anak-anak muggle yang belum pernah terbang itu celaka. Tidak ada yang bisa menghalangiku terbang! Theo mungkin bisa memberitahu cara menyelundupkan…"

Draco baru bangkit dari meja makan untuk menghubungi Theodore ketika terdengar derit keras pintu masuk di aula depan. Suara langkah kaki terdengar sampai ruang makan.

Sekarang senyumnya terkembang. Dia buru-buru menghambur ke ruang depan, bersiap mengejutkan orang tuanya.

Tapi ternyata Draco-lah yang terkejut saat dia sudah sampai di pintu yang terbuka sedikit. Ibunya mengumpat keras di dalam. Jenis umpatan yang sama yang Draco takut umpatkan keras-keras di depan ayahnya. Dan tidak pernah terpikir itu akan keluar dari mulut ibunya.

"Cissy!" sentak ayahnya tertahan.

"Kupikir kau sudah berjanji… sudah berjanji…"

Ibunya tampak kehabisan kata-kata.

Draco berhenti, tangannya yang menggapai pintu melayang di tengah udara. Itu bukanlah sesuatu yang ingin dia curi-dengar. Mungkin permasalahan suami-istri yang terlalu dewasa untuk Draco tahu. Tapi rasa penasaran tentang apa yang membuat kedua orang tuanya pergi tanpa pamit-lah yang menang. Draco mendekat ke arah pintu.

"Aku berjanji untuk melindungi kalian," gertak ayahnya. "Dan kenapa kau pikir aku mengirim ayahku ke rumah peristirahatan kami? Agar dia tidak kelepasan mengoceh kepada teman-teman Kementeriannya di sini. Status kita sudah dinyatakan bersih…"

"Tidak kalau kau tetap mendengarkan si bodoh Evan yang mabuk itu kemarin…" potong ibunya. "Kupikir kita setuju untuk tidak pernah lagi mengunjungi Bella di Azkaban karena dia pasti selalu bisa mempengaruhimu tentang ini…"

Draco kini seperti terkena mantra perekat-super karena kakinya menolak bergerak sedikitpun. Dia semakin bersemangat menguping ayah-ibunya karena mereka sekarang menyebut Bibi Bella.

Bellatrix Lestrange. Kakak ibunya yang dipenjara di Azkaban karena, menurut ibunya, terlalu gila untuk dibiarkan sendirian di masyarakat. Tapi Draco tahu persis dari Theodore, yang selalu senang apabila bisa menyebarkan aib keluarga Draco di depan anak lain. Bibinya itu menyerang Auror, penangkap penyihir hitam di Kementerian Sihir.

"Cissy…"

Walaupun tidak melihatnya, Draco yakin raut wajah ayahnya akan melembut saat mengatakan ini. Jenis yang hanya bisa ditampilkannya pada istrinya sendiri.

"Kau tahu betul aku harus kelihatan untuk terus mencariNya di hadapan kelompok-kelompok lamaku. Kau tidak…"

"Kupikir Dia sudah mati! Mati dan membusuk entah dimana…" ibunya memotong lagi.

Suaranya terdengar jijik dan … takut?

Draco benci memikirkan apa yang ditakuti ibunya. Salah satu orang yang Draco pikir tidak mau kalah pada apapun.

Hening sejenak…

Ayahnya sekarang membuka mulut, "Kau tahu kita tidak akan pernah betul-betul yakin tentang itu…"

Hening lagi. Bahkan lebih lama dari tadi.

"Kita punya Draco sekarang, Lucius…" kata ibunya. "Aku tidak mau hal ini melibatkannya…"

Ayahnya tampak bergumam yang kedengarannya seperti Draco tidak perlu diperlakukan seperti bayi.

"Baik! Baik!" seru ayahnya lebih keras.

Mungkin ibunya memelototinya atau mengancam memukulnya atau, yang Draco sering lihat diam-diam saat ibunya tidak mendapatkan keinginannya adalah, membuat semua rambut ayahnya berdiri seperti landak.

"Kita bahkan tidak menemukan dia hari ini. Dia mungkin sudah pergi lagi atau apa… Mari kita lupakan saja…"

Terdengar langkah kaki lagi menuju pintu. Mata Draco membulat, telinga dan badannya kini menjauhi pintu. Dalam ketergesaan, dia mundur beberapa langkah lalu berpura-pura lari menuju pintu saat orang tuanya keluar.

"Ayah! Ibu! Aku dapat suratku!"

Dia berteriak sekencang mungkin untuk menutupi jejaknya, berusaha terlihat benar-benar baru datang. Ayah dan ibunya tampak sudah bepergian jauh. Itu terlihat dari mereka yang mengenakan jubah bepergian hitam tebal di hari sepanas ini. Baik rambut ibu dan ayahnya diikat ke belakang.

Mereka diam tanpa ekspresi sementara senyum lebar Draco mengering.

Akhirnya ibunya tersenyum.

"Selamat, Draco! Bagus!"

"Bagaimana kalau ke Diagon Alley-nya akhir Juli saja? Jadwalku penuh…"

Mereka mengeloyor pergi setelah ibunya memeluk Draco sekilas dan ayahnya meremas bahunya.

Hanya itu yang Draco dapatkan pada saat, yang menurutnya, membanggakan dalam hidupnya.

.

.

.

Draco menghabiskan waktu menunggu akhir bulan dengan merajuk. Dia tidak bisa berpura-pura mengerti bahwa kedua orang tuanya sedang ada masalah. Draco suka sekali berpikir dirinya adalah pusat-alam-semesta yang harus selalu didahului-diperhatikan.

Maka dia menolak makan malam yang biasanya harus dihadiri seluruh keluarga. Yaitu mereka bertiga. Ibunya sudah merayunya setiap hari sedangkan ayahnya menyerah setelah lima menit. Dia mengomel kepalanya pusing dan memutuskan menghukum Draco lagi dengan tetap melarangnya bermain di luar.

Itulah yang Draco lakukan pagi ini.

Setelah makan pagi banyak-banyak karena tidak pernah makan malam, dia menyelinap keluar ketika ibunya sibuk dengan panggilan-Floo-nya dan ayahnya sedang pergi sebentar ke Kementerian.

Draco memanggul sapu tuanya dengan perasaan sebal yang dobel. Dia tidak dibelikan sapu baru, tidak diperbolehkan membawa sapu, apalagi? Mungkin kelas satu juga belum boleh masuk tim Quidditch.

Dan dia diabaikan orang tuanya.

Jejakkannya pada tanah terlalu keras sehingga dia naik ke udara dengan oleng. Tapi Draco berhasil menyeimbangkan diri lalu naik lebih tinggi.

Segera saja cuaca musim panas berhembus lembut di pipinya. Angin menerbangkan juga rambutnya ke belakang. Draco menyipitkan mata saat dia ngebut terbang sepuluh putaran penuh di atas pucuk-pucuk pepohonan. Baru setelah rasa kesalnya hilang, dia melambat dan bertengger di ujung pohon tertinggi.

Pemandangan dari atas sungguh luar biasa. Batas-batas sihir Malfoy Manor terlihat sejauh mata memandang. Avebury, lembah luas seolah tanpa batas terhampar di hadapannya. Hijau sejauh mata memandang. Perlindungan sempurna untuk rumahnya. Berpuluh-puluh generasi Malfoy menguasai daerah tersebut.

Dia menyeringai kesal melihat bangunan muggle di kejauhan. Mau bagaimana pun, mereka tidak bisa menguasai seluruh Wiltshire. Draco sadar daerah mereka telah berkembang, lalu dia menatap berkeliling untuk memastikan si helikopter itu tidak datang.

Sehari sebelum surat Hogwarts datang, ketika Draco sedang ngebut di udara, dia nyaris menabrak benda terbang muggle dengan baling-baling tajam yang mengancam mencincangnya.

Draco langsung menghindar, menukik, dan mengumpat keras. Jantungnya berdebar keras sementara dia berhasil mendarat darurat di salah satu dahan pohon. Si benda-terbang tampaknya kaget juga karena dia berhenti di udara, mencari tanda-tanda dengan apa mereka berpapasan. Membuat kawah angin di bawahnya. Tapi akhirnya pergi terbang lagi.

Draco, yang kaget dan terhina karena dikalahkan benda muggle, langsung mengobrak-abrik ruang kerja ayahnya. Penyihir darah-murni yang memandang rendah muggle pun harus tahu sedikit-sedikit tentang kaum mayoritas di muka bumi itu agar bisa bersaing dengan mereka. Dia menemukan buku-buku Telaah Muggle ayahnya. Yang Draco bersumpah tidak akan diambilnya saat dia sudah di Hogwarts.

Benda-terbang itu adalah helikopter. Sejenis pesawat terbang muggle. Tapi benda itu bisa berhenti di udara dan mendarat dimana saja selama ada ruang yang cukup. Helikopter digunakan saat perang atau untuk petugas medis.

Draco iseng lagi membuka-buka Daily Prophet, Harian Penyihir, lalu menemukan beberapa pengumuman.

Ada peringatan baru untuk para penyihir yang menggunakan sapu sebagai pilihan alat transportasi. Beberapa muggle kini menggunakan helikopter, atau yang mereka singkat chopper dalam bahasa slang Amerika, sebagai kendaraan pribadi. Dan mereka harus berhati-hati karena yang ini terbang cukup cepat dan menabraknya akan sakit sekali.

Draco bergidik melihat kata chopper yang berarti juga pencacah. Dia mengumpat lagi ketika menyadari bahwa semakin banyak muggle yang kaya raya, teritori rumah mereka juga bisa terancam. Walaupun hal itu tampak jauh sekali.

Sejak saat itu dia selalu tertahan apabila sedang terbang. Dan kehati-hatian membuatnya tertekan. Padahal hanya dengan terbang dia merasa bebas.

Draco tidak menemukan chopper hari itu. Tetapi sesuatu berwarna ungu seperti titik di depan pagar rumahnya menarik perhatiannya.

Siapa yang bertamu tanpa pemberitahuan?

Draco terbang rendah menghampiri pintu gerbang. Orang di bawah tampak mengenakan topi karena puncak kepalanya berwarna ungu. Dia mengacungkan tongkatnya yang berarti dia penyihir. Tapi tampaknya penyihir itu ragu. Dia mengacungkan tongkatnya lalu memasukkannya ke saku jubahnya. Begitu terus sampai Draco mendarat di bagian dalam pagar.

Draco menatap pada pemuda yang tampaknya hanya lebih muda sedikit dibanding ibunya. Dia memakai turban seperti penyihir India. Jubahnya juga berwarna ungu tua. Wajahnya pun keunguan seperti mau muntah. Sebelah matanya berkedut sehingga terlihat seperti orang yang agak-kurang-normal.

Draco lega pintu gerbang tidak langsung membuka.

"Ah… Ah…"

Suara orang itu terdengar seperti akan menangis.

"K-k-k-kau M-m-m-m-malfoy? Anak L-l-ucius dan N-n-narcissa?" sambungnya lagi dengan susah payah.

Draco mundur sedikit. Tidak yakin dia akan menjawabnya atau tidak.

Si penyihir tersenyum takut-takut.

"T-t-t-t-t-t-tidak apa-a-a-a-apa, t-t-t-tidak perlu t-t-takut…" katanya, yang seharusnya dikatakan pada dirinya sendiri yang gagap.

"A-a-a-a-aku Quirrell. Q-q-quirinus…Quirinus Q-q-quirrell…." ulangnya seolah Draco akan mengenali nama itu. "A-a-aku dulu guru P-p-p—pertahanan Terhadap I-i-i-ilmu Hitam… di H-h-hogwarts, lalu cuti s-s-s-s-setahun…"

Dia bergidik yang dipotong Draco segera sebelum orang itu melanjutkan. Draco capek sendiri mendengar orang ini bicara.

"Kami tidak butuh guru privat Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam di sini!"

"Oh, t-t-t-t-t-idak. B-b-b-bukan itu… Aku d-d-diterima l-lagi di H-h-hogwarts…"

Suatu legenda Hogwarts yang tampaknya pernah diceritakan ayahnya, Theodore, atau Blaise terangkat dalam kepala Draco.

"Bukankah jabatan itu dikutuk? Tidak ada seorang pun yang bisa bertahan selama setahun, bukan?" tanya Draco diluar kemauannya karena penasaran.

Quirrell meneliti Draco dari sela-sela pagar besi lalu tertawa melengking yang tertahan sehingga terdengar seperti mendengking.

"A-a-a-a-anak y-yang lumayan c-c-cerdik. Bisakah kau, a-a-ah m-maksudku… a-a-a-aku b-b-bertemu m-mereka?"

Draco ragu, tapi mengingat orang ini mungkin akan menjadi gurunya di Hogwarts, Draco tidak mau memberikan kesan buruk. Lagipula ibunya pasti tahu sesuatu. Orang ini tampak mengenalnya.

Draco membuka gerbang dengan manual, yaitu dengan tangan-kakinya. Tapi sia-sia saja. Gerbang dikunci dengan sihir. Quirrell, yang sekarang tahu sudah diperbolehkan masuk, mengangkat tongkatnya. Dengan mudah pagar tersebut terbuka.

"Terima kasih, Nak…"

Quirrell melangkah masuk dengan pasti. Seketika itu juga Draco kaget. Mata Quirrell tidak berkedut lagi. Dia tersenyum yang membuat semburat merah menghiasi wajah ungunya. Dan dia tidak lagi gugup.

"Ayo, Tuan Muda Malfoy!"

Sekarang Draco yang berjalan gugup di belakang Quirrell. Quirrell melenggang santai seolah dia tuan rumah di sini. Samar-samar Draco mencium campuran bau bawang-balsam-dan-busuk dari turban Quirrell. Draco melambatkan langkah untuk sedikit menghindar. Berpikir itu ramuan-sampo Quirrell yang sangat buruk. Tak heran dia gila.

Ayahnya ternyata sudah pulang, dia membuka pintu sebelum Draco sempat membukanya.

"Draco, kenapa pintu gerbang ter…"

Ayahnya berhenti mendadak karena melihat Quirrell.

"Ayah…" kata Draco dengan suara sepanjang mungkin untuk menyatakan dia tidak bersalah, hanya bocah lugu. "Ini Profesor Quirrell mau bertemu…"

"Apa kabar, Lucius?" tanya Quirrell berdesis saat menyebut nama ayahnya. Dia masih bebas-gagap.

"Kau…"

Ayahnya terlihat kaget alih-alih bingung. Suara sepatu ibunya menghampiri ruang depan.

"Ah, Narcissa! Cantik seperti biasa…" sapa Quirrell ketika ibunya menampakkan diri.

"Bisakah kita bicara sebentar saja? Walaupun aku punya banyak waktu… Aku yakin Evan Rosier sudah memberitahu?"

Kedua wajah orang tuanya kini keunguan seperti turban Quirrell. Ayahnya dengan refleks bergerak mendekati ibunya agar ibunya itu terlindung di balik tubuhnya.

"Baik…" cetus ayahnya gugup. "Di luar!"

"Ah, mana sopan santunmu?" kata Quirrell seolah sakit hati. "Tapi baiklah, aku memang tak pantas ada di rumah Malfoy yang mewah…"

"Draco, kemari!" sentak ayahnya.

Ibunya mengulurkan tangannya yang terawat baik melewati tubuh ayahnya. Draco menurut dan memasuki ruangan, sementara ayahnya kini berganti keluar.

Ibunya nyaris menyeret Draco ke dalam.

"Pergi ke kamarmu! Dan jangan keluar dulu sebelum kuperintahkan…"

"Ibu!" seru Draco tak percaya. "Ada apa? Dia guru! Aku mungkin ingin mengenalnya walau dia tampak gila…"

"Ke kamarmu!" sentak ibunya setengah mendorong Draco melewati pintu ruang depan tempatnya menguping pertama kali kemarin.

Lalu ibunya menutup pintu keras-keras di depan hidung Draco tanpa perasaan.

"Ibu!" teriak Draco lagi.

Lalu dia mengumpat saat mengetahui pintu itu terkunci.

Draco tidak habis akal. Dia berlari ke salah satu ruang minum teh berteras, tapi pintu kaca itu pun langsung menutup seketika diiringi banyak bunyi menjeblak lainnya. Ibunya tampak menyihir agar semua jalan keluar terkunci.

Draco akhirnya berlari tanpa pikir-pikir lagi ke ruang bawah tanah. Yang biasa Draco pakai untuk menyelinap main keluar kalau ada ayahnya.

Setelah melewati ruang makan, dapur, gudang tempat penyimpanan barang-rahasia keluarganya, lorong gelap di belakang lemari, Draco sampai di tangga tali yang akan membawanya ke lubang terbuka pada pohon oak di kolam dekat kandang Lasalle.

Draco tercenung di tepi lubang, karena mendengar suara-suara bertengkar memasuki lubangnya. Tampaknya mereka ada tepat di atas.

"… tidak masuk akal dan aku tidak mau buang-buang tenaga!" seru ayahnya.

"Apa kau kehilangan keyakinanmu, Lucius?" tanya suara Quirrell.

Diam sebentar…

"Tidak pernah!" kata ayahnya akhirnya.

"Tapi aku tahu bagaimana sifatmu, Lucius. Selalu menghilang ketika diperlukan, dan ah… sekarang mungkin terlalu keenakan sendiri saat orang-orang lain menganggapmu… bersih..."

"Kau tidak tahu apapun, Quirrell. Jangan mentang-mentang saat ini kau tahu sesuatu, kau mengira kau tahu segalanya!" gertak ayahnya.

"Baik! Baiklah…"

Draco merasa mendengar dia terkikik senang. Yang tidak lagi terdengar seperti mendengking.

"Tapi kalau aku butuh bantuan, apapun… Kalian akan menyesal kalau tidak…"

Kali ini ibunya yang membentak,

"Tidak ada seorang pun yang bisa mengancam kami!"

Hening sebentar…

"Benarkah itu, Narcissa? Kau ahlinya dalam hal itu bukan? Seperti Malfoy sejati pada masa-masa keemasannya? Tapi anakmu tahun ini ada dalam pengawasanku…"

Pijakkan kaki Draco pada tangga tali hampir lepas saat dia disebut.

"Kau tidak akan pernah menyentuhnya…" desis ibunya.

"Betul… Aku tidak begitu tertarik padanya. Ada banyak urusan lain yang harus kulakukan. Kalian…" Quirrell terkikik lagi. "Yah, aku sudah memperingatkan kalian. Kalau aku berhasil… Kalian sudah diperingatkan… Sebaiknya aku pamit sebelum menghancurkan keluarga kecil kalian yang bahagia…"

TIdak ada kata-kata lagi setelah itu. Draco yang masih tidak mengerti apa yang terjadi, turun dari tangga tali dan berlari menuju ke atas.

Dadanya berdebur antara cemas takut ketahuan menguping dan merasa gelisah karena keluarganya sedang dalam posisi terancam. Padahal sejauh yang Draco tahu, tidak ada yang berani begitu kepada mereka, setidaknya tidak terang-terangan…

Draco hampir sampai ke puncak tangga dari dapur. Tapi terlambat. Ayah dan ibunya pun sudah ada di ruang makan tersebut.

.

.

.

Tidak ada lagi terbang naik sapu hari itu. Ayahnya, yang amat marah sampai-sampai rambut tanpa celanya itu seolah mengembang, memberinya hukuman kurung di kamarnya sendiri.

Sebetulnya itu masih sangat nyaman dibandingkan dihukum kurung di kandang Dobby. Yang Draco tekankan jangan pernah sampai terjadi. Kamar Draco adalah kamar ayahnya waktu dulu sebelum dia menikah. Berarti ada ruangan yang amat besar di dalamnya yang akan membuat Draco nyaman. Teras balkon juga masih bisa terbuka. Tapi ayahnya menyita sapunya lagi. Dan ibunya tidak membantu kali ini. Sehingga dia tidak bisa terbang keluar.

Draco merosot gelisah ke bawah tempat tidurnya. Sprei coklat tebalnya ikut merosot dengan tubuhnya. Draco tidak peduli. Dia cemberut sampai rahangnya sakit. Belum pernah mereka memperlakukannya seperti ini.

Langit sudah amat gelap ketika terdengar ketukan. Draco tidak repot-repot menoleh. Mengira Dobby mengantarkan makan malamnya yang sengaja terlambat. Bagian hukuman Draco.

"Hei…"

Ternyata ibunya yang datang. Dia membawa nampan makan malam Draco sendiri.

"Aku buatkan kesukaanmu. Roti Italia itu… Pizza dengan keju yang banyak. Juga kopi karamel dingin. Malam ini agak panas…"

Draco mendesah kesal. TIdak repot-repot bangkit untuk membantu ibunya yang tampak kerepotan.

Tetapi bayangan di wajah ibunya yang tampak sedih, serta keberaniannya membuatkan Draco makanan muggle yang diam-diam disukainya tapi dibenci ayahnya, membuatnya luluh.

Dia memakan pizza itu. Ledakan keju leleh memenuhi mulutnya. Ditambah kopi dingin pada malam yang panas membuat kepalanya dingin seketika. Kekesalannya sedikit-sedikit hilang.

Ibunya mengacak lembut rambut Draco.

"Bersabarlah sedikit… Ayahmu sangat sayang padamu. Buktinya dia tetap mengijinkanmu ikut ke Diagon Alley nanti…"

"Kenapa kita diancam, Bu?" potong Draco, melihat langsung ke mata biru ibunya.

Ibunya tidak terlihat kaget mendengar pertanyaan Draco. Seperti yang Quirrell bilang, ibunya seperti Malfoy sejati, walaupun dia nyatanya dari keluarga berbeda. Penyihir-penyihir dari keluarga bangsawan Black hampir tidak pernah memiliki rambut pirang-emas atau mata biru ibunya. Ibunya seolah ditakdirkan untuk menjadi keluarga Malfoy. Dan Draco bersyukur untuk itu. Hanya ibunya, jauh di atas ayahnya, tempatnya berlindung dari apapun…

Hening lama saat Draco memikirkan ini. Tapi ibunya memutuskan untuk tersenyum lebar. Demi anak satu-satunya.

"Jangan kau risaukan. Pergi dan bersenang-senanglah di Hogwarts. Kau akan masuk Slytherin. Akan memimpin di sana. Dan akan punya banyak teman…"

Ibunya mendesah di sela-sela senyum menawannya.

"Dan…" katanya lagi.

"Jangan sampai aku mendengar cinta-cintaan lagi! Ibu terdengar seperti Blaise!" gerutu Draco menangkap cengiran jahil di senyum ibunya.

Tawa ibunya pecah,

"Dan jangan sampai yang cantik-cantik terlewatkan olehmu, Sayang… Lebih cepat menandai lebih baik!"

Dia merangkul Draco sambil terus tertawa sehingga Draco tidak tahu apakah dia serius atau hanya menggoda.

"Kau tahu betul apa yang akan membuatmu bersemangat sekolah, membantumu mengatasi segala kesulitan, atau bahkan berusaha lebih keras dalam apapun… Jangan bilang pada ayahmu aku yang mengatakan ini, kerena dia sendiri tidak mau mengakuinya, tapi itu adalah cinta…"

.

.

.