Disclaimer: This story is based on characters and situations created and owned by JK Rowling.

Pairings: Draco Malfoy/OC

Setting: Harry Potter and Sorcerer's Stone (Book & Movie)

The Two-Tale Heart

V

SERENA

"Enervate!".

Serena seakan mendengar suara dari kejauhan. Setelah itu, dia tidak bisa melakukan apapun selain membuka matanya.

Wajah Bibi Charlotte-lah yang pertama muncul, sedang mengacungkan sesuatu seolah akan menusuk mata Serena. Serena otomatis mengernyit untuk menghindar dan mendapati wajah ayahnya di sisi lain.

"Aku buatkan teh!"

Dari sisi lain terdengar suara Paman Ed. Baru beberapa detik, wangi teh panas sudah menguar ke hidung Serena, seakan baru saja dijerang.

"Ini… Minum dulu…"

Ayahnya membantu Serena bangkit pelan-pelan dari tempat tidurnya. Serena mau tidak mau memandang lukisan keluarga di atas perapian. Ibunya tidak berada di sana lagi, membuat Serena tersedak teh yang panas membara.

Kericuhan terjadi beberapa saat sebelum Bibi Charlotte mengayunkan sesuatu yang kelihatan seperti tongkat konduktor. Tumpahan teh hilang tak berbekas.

"Bagaimana…?" tanya Serena mengabaikan lehernya yang terbakar.

Dia berganti-ganti memandang tongkat konduktor Bibi Charlotte dan lukisan.

"Oh…" kata Bibi Charlotte mengikuti pandangan Serena. "Jangan kuatirkan dia. Celia mungkin sedang ke lukisannya yang satu lagi. Di toko buku kami. Tidak ada yang mengawas hari ini, sedangkan pelanggan sedang banyak…"

"Mengunjungi…" ulang Serena putus asa.

Dia menoleh kepada ayahnya, "Bagaimana itu mungkin?"

"Tentu saja itu mungkin! Kami adalah penyihir!" seru Paman Ed seolah itu menyelesaikan masalah.

Serena tetap memandang ayahnya, meminta penjelasan. Bibi Charlotte tampaknya tahu ini masalah yang harus dibicarakan antara ayah dan anak. Dia menggamit lengan suaminya dan mereka terburu-buru keluar kamar dengan alasan akan membuat teh lagi.

Mulut Serena membentuk kata Apa? tanpa suara. Tawa ayahnya hampir pecah sekarang. Namun melihat Serena benar-benar kebingungan, dia kembali serius.

"Ser… Apa yang bisa aku katakan? Aku mengenal ibumu sejak aku masih anak yatim-piatu yang kaya karena warisan tapi tak punya rasa percaya diri…"

Ayahnya mengangkat bahu. Mata hijau-birunya memantulkan kesedihan.

"Aku tidak pernah bertemu keluarganya kecuali Charlotte. Lalu saat dia seumurmu sekarang, dia bilang akan bersekolah asrama di tempat yang jauh. Aku tidak pernah tahu dimana, segalanya serba misterius. Lalu waktu dia bilang dia tidak cocok untukku karena dia terlalu berbeda. Aku memintanya menunggu dan setelahnya bekerja mati-matian…"

Ayahnya tersenyum sekarang, "Kupikir masalahnya hanya pada tidak mau menikahi pria seperti aku… Tapi ternyata lebih dari itu… Ibumu dan seluruh keluarganya adalah penyihir…"

"Penyihir?" ulang Serena lagi, sama sekali tidak yakin apakah dia belakangan ini waras.

"Betul! Mereka benar-benar ada, Ser… Dan maafkan aku. Keegoisanku lebih memilih membesarkanmu di kota yang penuh manusia biasa, dengan cara mereka. Yang disebut muggle oleh para penyihir…"

"Tunggu! Tunggu! Bagaimana Dad tahu Mom adalah penyihir? Maksudku benar-benar penyihir sungguhan?"

Ayahnya mengangkat bahu seolah semua sudah jelas, "Dia mengerjakan segalanya dengan sihir…"

Dia terdiam mengingat-ingat sesuatu.

"Oh, ya! Waktu aku bilang aku tidak percaya, dia memboncengku dengan sapu terbang. Waktu aku bilang itu hanyalah alat canggih yang bisa membuat manusia terbang, dia memelukku dan tiba-tiba kami ada di puncak Menara Eiffel, kami menjatuhkan diri ke bawah lalu tiba-tiba saja kami sudah sampai ke tempat semula sebelum jantungku berhenti…"

"Apa? Apa?" Serena menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Oke, aku mau pulang…"

Ayahnya tertawa lagi, "Tapi kau sudah di rumah, Ser! Kau ada di duniamu sendiri sekarang. Tenangkan dirimu… Karena kita sebentar lagi akan jalan-jalan ke tempat yang akan membuatmu lebih yakin…"

.

.

.

Beberapa menit kemudian, mereka berempat sudah berada di limousine yang dikendarai Robert. Sepanjang perjalanan menuju London, mereka hanya berbicara hal-hal yang normal seperti dia akan sangat menyukai sekolah barunya.

Serena tidak berani membantah. Dia kesulitan bicara. Surat burung hantunya tergenggam erat sama seperti saat dia meremas hasil ujian akhirnya. Hal itu lebih efektif dari cubitan-cubitan yang sejak tadi dilakukan karena masih mengira dirinya bermimpi.

Mobil memasuki jalan Charing Cross sementara Serena memandang jalan yang ramai dengan perasaan skeptis.

Penyihir? Dunia Sihir?

Dengan manusia biasa berjalan sebanyak ini, mereka pasti hanya bercanda. Tetapi kejadian-kejadian yang tidak terjelaskan yang bisa dilakukan paman dan bibinya? Yang bisa dilakukan oleh Serena sendiri selama ini?

Serena memejamkan mata erat-erat. Terlalu bagus untuk menjadi kenyataan bahwa ada dunia tempat anak aneh sepertinya untuk melarikan diri dari kehidupan nyata yang payah. Ini kelihatannya hanya terjadi di dongeng-dongeng.

Robert berhenti di satu jalan yang penuh pertokoan ramai. Serena menyusul ayah, paman, dan bibinya keluar.

"Ini salah satu jalannya… Mungkin memang hanya ada satu, aku tidak pernah memakai yang lain, karena tidak perlu sebenarnya…" Paman Ed mengoceh kepada Serena.

Mereka menyusuri toko dan kafe-kafe sebentar ketika sampai ke tempat yang hampir saja Serena lewatkan kalau saja mereka tidak berhenti.

Plangnya berkata The Leaky Cauldron.

Kuali Bocor? Kau bercanda! umpat Serena dalam hati.

Kalau ayahnya tidak berada di tempat, Serena pasti sudah balik badan menuju ke mobil.

Serena mengikuti mereka masuk. Mungkin karena dari luar tempat itu adalah semacam pub kecil-kotor yang tidak akan Serena pandang dua kali, dia terkejut menyadari keramaian di dalam.

Orang-orang di rumah minum itu tampak seperti orang biasa dengan pakaian aneh seperti paman dan bibinya. Tapi banyak juga anak yang memakai pakaian normal seperti dirinya. Beberapa keluar masuk dan naik turun tangga yang membuat Serena yakin tempat itu juga berfungsi sebagai restoran dan penginapan.

Perhatian Serena betul-betul teralih saat dia melihat banyak hal yang tidak mungkin terjadi.

Pertama, sapu yang menyapu lantai sendiri. Kedua, minuman yang mengocok sendiri. Lalu, ada orang yang bermunculan begitu saja dari dalam perapian. Diiringi api hijau dan bunyi dar keras. Burung hantu datang dan pergi sesuka hati.

Serena mencari tangan ayahnya setengah mati dan menggenggamnya kuat-kuat untuk meyakinkan diri dia tidak sendirian di sana.

"Ed!"

Teriakan tidak jelas terdengar dari meja bar. Ada seseorang yang sangat bongkok menyambut pamannya dengan senyum ompong.

"Membawa tamu rupanya?" seru si orang bongkok yang kelihatannya adalah bartender tempat tersebut.

"Tidak! Tidak, Tom!" kata Bibi Charlotte terburu-buru. "Ini adalah kakak ipar dan keponakanku! Kenalkan, itu Tom. Pemilik penginapan. Dan, Tom! Ini Nathaniel dan Serena van der Woodsen!"

Tom keluar dari meja bar untuk bersalaman.

"Halo! Halo! Senang sekali bertemu kalian!"

Serena harus melepaskan diri dari ayahnya sebelum mereka bersalaman. Serena berharap Tom tidak menyadari tangannya yang dingin.

"Akan membeli kebutuhan Hogwarts rupanya?" tanya Tom kepada Serena.

Serena tidak tahu bagaimana harus menjawab, jadi dia hanya tersenyum saja.

"Silahkan kalau begitu…" dia menunjukkan tangannya yang berbonggol-bonggol ke pintu belakang.

"Baik, Tom! Sampai jumpa makan siang kalau begitu! Kami akan masuk dulu…" kata Paman Ed berpamitan.

Serena tidak bisa memikirkan ada pintu masuk ke tempat belanja di belakang pub kecil. Dan benar saja, hanya ada tembok bata dengan tempat sampah di sana.

Paman Ed mengeluarkan tongkat konduktornya, yang kemudian disadari Serena, itu mungkin adalah tongkat sihirnya. Serena memusatkan mata pada tongkat itu, yang sekarang mengetuk beberapa batu bata.

Tembok terbuka seperti pintu gerbang otomatis. Sekali lagi, hal yang sama seperti dongeng, memperlihatkan jalan panjang di dalamnya…

Serena seolah memasuki dunia lain. Pasar di dunia lain. Toko dan kafe berderet di sepanjang jalan corn block yang berliku. Tidak ada satupun dari mereka yang menjual benda-benda normal. Beberapa orang dengan pakaian yang betul-betul seperti penyihir, dengan jubah dan topi runcing, berseliweran di jalan.

Ada toko penuh dengan kucing warna-warni. Burung hantu dalam sangkar. Dan tikus yang main lompat tali. Di toko sebelah, beberapa anak kecil mengerubungi kaca etalase. Menampilkan sapu yang melayang di udara. Ada yang menjual taring binatang sebesar gading gajah. Tanduk yang Serena kenal sebagai tanduk unicorn, terpajang bebas di salah satu dinding toko lainnya.

Ayahnya mengetuk bahu Serena.

"Toko Ibumu…"

Serena mengikuti arahan ayahnya dan melihat toko besar yang ada di kanan jalan. Etalasenya penuh buku yang membuka sendiri.

Flourish and Blotts.Dengan lambang ungu dan dua pena bulu kuning.

"Nanti kita istirahat di sana!" seru bibinya. "Sebaiknya kita ke bank dulu, lemari besi Celia dan Nate sudah lama tidak digunakan, mungkin harus ada ganti kunci atau apa…"

"Sudah kubilang tidak akan apa-apa, Char! Kau terlalu khawatir… Tapi memang enaknya ke Gringgotts dulu…"

Perhatian Serena terlalu teralih oleh toko es krim yang berwarna-warni pastel menyenangkan. Dia mulai nyengir senang. Hanya beberapa toko ketika jalan menjadi bercabang dua, Serena ditarik untuk menuju bangunan tinggi putih bersih. Keheranannya terjawabkan.

"Gringotts! Bank penyihir!" kata pamannya bangga. "Kau tak apa-apa, Ser? Kau diam saja sejak tadi? Lihat di ujung sana? Di dekat pintu gerbang?"

Pamannya menunjuk, "Itu goblin! Mereka menjalankan bank! Kau suka buku cerita tentang goblin yang kami kirimkan bukan?"

Serena menyipitkan mata meneliti makhluk tersebut. Kelihatannya seperti kurcaci besar. Mirip dengan gambaran buku. Kuping lebar dan baju merah. Itu adalah makhluk sihir pertama yang Serena lihat, seolah keluar langsung dari buku cerita. Tetapi Bibi Charlotte tidak tertarik pada goblin, dia mengaduk-aduk tasnya, bergumam tentang perkamen yang menyelip.

"Mereka benar-benar membiarkan goblin menjalankan perbankan?" desis Serena kepada ayahnya, mulutnya masih menganga.

Dia teringat musim liburan saat dia membantu ayahnya dengan belajar komputer di bagian keuangan. Bagaimana sibuknya kantor itu. Sulit membayangkan seorang yang, yah, bukan manusia, untuk menjalankan bisnis.

"Sesuai dengan legenda, bukan?" ayahnya mengedip.

Serena masih mengamati goblin penjaga-pintu dari kejauhan ketika sesuatu yang besar membuat si goblin tidak berarti lagi. Sekarang Serena mendapati dirinya menatap seorang raksasa… yang memanggil paman dan bibinya.

"Ed! Charlotte! Kalian itu?"

Bibi Charlotte balas berteriak, "Hagrid! Ya, ampun! Apa kabarmu?"

Serena harus mundur ketika si raksasa mendarat di ujung tangga, tempat mereka berdiri. Dalam ketergesaan, Serena menabrak seorang anak, yang mungkin, seperti goblin, karena berada di sebelah raksasa, menjadi tidak berarti.

Dia adalah anak laki-laki dengan gerak-gerik yang mengingatkan dirinya akan seseorang. Kemudian Serena menyadari kemungkinan orang itu adalah dirinya sendiri yang canggung. Anak itu menggerakkan tungkainya seolah mereka kepanjangan, sama seperti Serena yang memang bertungkai panjang.

Anak laki-laki itu tersenyum canggung. Matanya hijau cemerlang seperti mata kiri Serena. Kacamata bulat seperti milik Paman Ed merosot terus ke hidungnya. Serena tidak terlalu yakin apakah sambaran kilat di dahinya itu luka atau tanda lahir. Serena buru-buru mengalihkan perhatiannya dari baju kaus anak itu yang gedombrangan. Memandangi orang lain dianggap tidak sopan di dunianya dan Serena yakin di dunia ini juga tampak begitu.

Tapi sulit untuk tidak mendongak memandangi Hagrid, raksasa yang namanya dipanggil begitu oleh bibinya tadi. Bahkan janggut lebatnya menutupi matanya. Jarinya yang seukuran sosis melambai-lambai gembira.

"Apa yang membawamu ke Gringgotts?" seru Bibi Charlotte, juga mendongak.

Anak laki-laki itu hampir jatuh. Serena menyadari Hagrid baru saja menepuk bahunya.

"Mengantar Harry Potter ini! Tahun pertama di Hogwarts!"

Sekarang Paman Ed melongo tidak percaya sementara Bibi Charlotte memandang dengan gugup ke arah ayah Serena dan Serena sendiri, lalu ke anak itu dan Hagrid.

"Harry? Harry Potter? Potter yang itu?" Paman Ed tergagap.

"Kau tahu, Ed!"

Tidak ada yang berbicara selama beberapa detik sehingga suasana canggung sekali. Tapi Bibi Charlotte menyelamatkan keadaan.

"Tentu kami tahu! Selamat datang kembali Mr Potter!"

Dia menjabat tangan si anak laki-laki yang bernama Harry itu kuat-kuat. Paman Ed mengikutinya.

"Suatu kehormatan bisa bertemu denganmu! Dan Serena kami juga baru… Tahun pertama di Hogwarts maksudku…"

Bibi Charlotte merangkul Serena dan ayahnya di sisi lain. Sekarang giliran Hagrid yang bengong.

"Serena? van der Woodsen?"

Serena mengernyit karena seorang raksasa tahu namanya. Hagrid menoleh pada ayahnya yang tampak nyengir.

"Ah, aku ingat! Yang di…" dia tertawa dan menjabat tangan ayahnya kuat-kuat. "Halo! Halo! Senang bertemu denganmu! Dan kau, Nak…"

Hagrid menunduk menatap Serena yang tidak bisa mundur karena tertahan rangkulan bibinya. Tapi mata coklat Hagrid tampak ramah di bawah alis lebatnya.

"Aku hanya tahu saat mereka menamaimu Serena…"

Paman Ed menepukkan tangannya.

"Ah! Dimana sopan santunku! Kuulangi, Hagrid, Harry, kenalkan, ini iparku, Nathaniel. Dan putrinya Serena. Nate, Ser, kenalkan ini Hagrid dan Harry Potter…"

Serena sekarang tidak yakin siapa yang tidak berarti tampaknya bagi mereka. Paman dan bibinya, bahkan Hagrid menganggap anak laki-laki kecil itu seperti seorang aktor atau pahlawan. Kalau mendengar cara mereka menyebut namanya. Harry sendiri kelihatannya amat malu.

"Hagrid adalah pengawas binatang liar di Hogwarts, Ser! Mungkin nanti bisa menunjukkan unicorn padamu…"

"Asal hanya unicorn, ya…" potong bibinya memperingatkan.

Serena menyalami Harry sesudah Hagrid meremukkan jari-jarinya. Mereka bertukar senyum canggung lagi. Tiba-tiba Serena merasa lega, dia bukan satu-satunya anak baru. Walaupun dianggap bagai pahlawan, anak laki-laki ini kelihatan seperti tipe anak yang tidak akan tertawa kalau Serena bilang dia masih kesulitan menerima bahwa dunia sihir ini nyata.

Mereka akhirnya berpisah ketika Serena dan keluarganya masuk bank sedangkan Hagrid dan Harry kembali berbelanja.

Tur tak terlupakan terjadi di dalam Gringgotts. Saat bibinya sibuk menuju konter, Serena mengamati goblin yang tampaknya campuran antara teller dan penaksir pegadaian. Beberapa orang menukarkan uang pound mereka dengan koin-koin emas. Ada yang sedang meneliti berlian-berlian sebesar kepalan tangan, yang kalau dalam dunia Serena yang biasa, pasti sudah jadi alasan untuk perang.

Serena nyaris tidak memperhatikan saat goblin lain mengantar mereka menaiki kereta kecil seperti di pertambangan.

"Kita mau kemana?" teriak Serena saat kereta melaju dengan cepat, menuju lorong gelap.

"Lemari besimu!" teriak ayahnya. "Aku pernah kemari sekali, menyenangkan sekali!"

Si goblin yang duduk di depan seperti mendengus mengejek, tapi Serena tidak tahu apakah dia hanya bersin. Serena juga tidak bisa membuka matanya karena angin menerpa kencang. Sekarang Serena merasa sedang menjelajah gua, karena aroma tanah dan batuan yang amat kuat. Setelah beberapa menit, kereta memelan.

Ketika membuka mata, Serena yakin dia sedang berada di bagian gua yang belum tereksplorasi dan tidak bisa melihat alasan mengapa bisa ada lemari besi di sini. Tapi ternyata memang ada pintu besi muncul di hadapan mereka.

"Telapak tangan seorang pewaris sah, tolong!" kata si goblin bergaung.

Ayahnya maju.

"Ah! Harus seorang yang punya darah penyihir…" kata si goblin lagi.

Serena lagi-lagi melihat seringai tersembunyi pada wajah si goblin ketika ayahnya mundur dengan canggung sambil meminta maaf.

"Ayo, kalau begitu, Ser…"

Bibinya membimbing lembut, menempelkan telapak tangan Serena ke pintu.

Pintu meleleh oleh sentuhannya dan terlihatlah pemandangan yang menakjubkan. Ada timbunan koin emas sampai ke langit-langit sehingga Serena merasa aneh timbunan itu belum runtuh. Disebelahnya ada koin perak dan perunggu juga. Di samping lain, ada berbatang-batang emas.

Serena tahu ayahnya sekaya apa, tapi dia belum pernah punya batangan emas.

"Semuanya kutukarkan sebelum kau lahir, Ser," kata ayahnya. "Ini biaya sekolahmu…"

"Terlalu berlebihan untuk biaya sekolah…" desis si goblin di siku Serena.

"Bukan urusanmu, maaf…" balas Bibi Charlotte terdengar kesal.

"Ya ampun! Mereka benar-benar galak dan suka emas seperti di buku dongeng!" celetuk Serena.

Si goblin tampak tersinggung tapi Paman Ed sudah menyerok koin emas, perak, dan perunggu ke dalam ransel yang dimunculkan begitu saja. Serena sudah melihat banyak hal ajaib lain sehingga itu tidak terlalu memusingkannya.

"Galleon adalah yang emas ini, Ser!" kata pamannya menunjukkan satu koin emas. "Perak, Sickle! Perunggu, Knut! Tujuh belas Sickle sama dengan satu Galleon, dua puluh sembilan Knut sama dengan satu Sickle..."

Serena menyesal tidak membawa pulpen agar dia bisa mencatatnya.

Saat pamannya sibuk menyerok lagi, Serena menimang-nimang salah satu emas batangan yang juga, sama seperti berlian-berlian di konter, bisa menjadi alasan perang, lalu bertanya pelan pada ayahnya.

"Mereka tidak punya uang kertas atau cek?"

"Belum kukira, mau memberi saran?" ayahnya nyengir memandang goblin pengantar mereka. "Tampaknya nilai uang di sini tetap dilihat dari apa yang membuatnya bernilai…"

Setelah bank Gringotts, Serena memasuki toko-toko yang sama tak-akan-terlupakannya. Mereka mengikuti arus penyihir yang berbelanja ke Madam Malkin, Jubah Untuk Segala Kesempatan. Serena agak canggung memakai jubah hitam sekolah barunya walaupun setelah dilihat-lihat, jubah itu tidak terlalu berbeda dengan seragam The Bradley-nya.

Selanjutnya membeli perkamen dan pena bulu, yang Serena yakin dia perlu latihan dulu karena lebih sering memakai pulpen. Bahan-bahan ramuannya kelihatan akan sangat memuaskan kebutuhan peramal-peramal voodoo di New Orleans.

Serena diam selama berbelanja, berusaha melihat lebih jelas daripada membuang-buang nafas. Semuanya fantastis, semuanya seolah melihat mimpinya berubah menjadi nyata…

Dengan tangan pegal mengangkut belanjaan, akhirnya mereka sampai di Flourish and Blotts lagi.

"Mari masuk ke toko buku kami… Toko bukumu, sayang…" kata Bibi Charlotte tampak bangga sekaligus terharu.

Dia membuka pintu yang segera berbunyi klang.

Ini bukan perpustakaan publik yang megah di New York, bahkan tidak mendekati toko buku terbesar di Inggris. Tapi sama seperti toko manapun, beberapa pelanggan tetap antri panjang di kasir. Para pelayan toko dengan seragam hijau melambaikan tongkat-tongkat mereka untuk mengambil buku-buku di rak tertinggi. Ada beberapa orang yang asik membaca, ada pula yang langsung belanja.

Serena dengan kaget melihat ibunya di lukisan di belakang tempat pembayaran. Sedang meneriakkan perintah-perintah ke seorang kasir yang kelihatan sebal. Ibunya melihat Serena dan keluarganya masuk, lalu mengedip kepadanya. Di luar kenyataan bahwa dia belum terbiasa dengan lukisan yang bisa bergerak sendiri, Serena membalas kedipannya dengan tersenyum malu.

Rak-rak yang memenuhi langit-langit membawa aroma ratusan buku bersampul kulit, kertas yang termakan usia, atau jilidan buku baru. Serena bukanlah seorang kutu buku akut, tapi dia menghabiskan waktu dengan buku-buku fantasinya sama dengan pecinta buku manapun, sehingga berada di sini terasa sungguh menyenangkan.

Paman dan Bibinya menaiki tangga melingkar yang membawa mereka ke tempat yang lebih tenang, hanya ada beberapa buku yang ricuh. Ada yang membolak-balik dirinya sendiri, ada yang mengeluarkan cercah hijau berkilauan, bernyanyi atau membacakan isi mereka sendiri. Beberapa bahkan memiliki kaki, sedang menuruni tangga untuk kembali ke rak best seller. Beberapa judul yang tertangkap Serena, tentang kutukan, tentang mantra, ramuan ajaib, membuatnya tersandung ayahnya terus, yang berjalan di depannya.

"Beberapa buku sekolahmu sudah kami bawa ke rumahmu kemarin," Paman Ed mengangguk, mengamati ekspresi Serena.

"Oh, ya!" serunya lagi. "Kami punya sesuatu untukmu…"

Dia menepukkan tangan dan bersiul dalam empat nada pendek. Sesuatu yang terbang di atas mereka lalu hinggap di lengan Paman Ed adalah burung hantu besar dengan bulu coklat-kuning. Matanya tampak bulat dan galak dengan lingkaran disekelilingnya, seperti kacamata. Burung itu mengingatkan Serena pada sesuatu.

Dia mencengkeram lengan ayahnya, "Oh, Dad! Aku lupa tidak mengambil suvenir kelulusan The Bradley yang berupa boneka burung hantu memakai toga! Dan sekarang aku dapat yang asli?"

"Di sini, burung hantu digunakan sebagai pengantar surat dan barang. Mereka burung yang benar-benar pintar…" kata ayahnya.

"Itu betul!" kata Bibi Charlotte. "Kami bisa memberimu yang baru, tapi Jasper ini adalah burung hantu pengantar pesanan kami yang terbaik. Dia tahu hampir seluruh alamat dan bahkan bisa mengantar tanpa alamat jelas sekalipun!"

Tiba-tiba Serena merasa seperti menerima hadiah yang berlebihan, padahal dia punya timbunan koin dan batangan emas di bawah tanah bank Gringotts.

"Oh, tidak! Aku tidak usah…"

Tapi Jasper sudah mendelik lagi padanya dan segera mengembangkan sayap untuk terbang menuju Serena, lalu tanpa peringatan, dia hinggap di puncak kepala Serena yang berteriak-teriak antara takut dan senang.

.

.

.

Setelah istirahat dan berkenalan dengan seluruh pegawai toko, Serena meninggalkan Flourish and Blotts dengan memeluk erat-erat sangkar Jasper. Saat ini dia mempunyai satu keyakinan, bahwa semua ini mungkin nyata. Dan kebenaran ini membuatnya sesak nafas.

"Ini belum seberapa…"

Ayahnya mengelus lembut kepala Serena. "Tunggu sampai ke tempat tongkat sihir. Walaupun aku berpikir tidaklah baik untuk menggantungkan diri kepada satu buah barang, tapi aku selalu ingin mencoba memakai tongkat milik ibumu…"

"Dad bisa pakai punyaku!" tawar Serena tanpa pikir panjang.

Ayahnya tergelak, lalu menggeleng, tampak sedikit sedih.

Mereka sampai di toko yang kusam. Papan tokonya mengelupas menunjukkan Ollivanders : Pembuat Tongkat Bagus Sejak 382 SM.

Toko itu tampak sepi. Walaupun beberapa anak banyak yang sedang berbelanja. Serena merasa dia sedang memasuki toko-toko eksklusif yang biasanya dipesan hanya untuk melayani ayahnya dan dia.

Denting bel berbunyi saat mereka berempat berbondong-bondong masuk, merasa kaki-kakinya terlalu berisik dalam toko sesunyi ini.

Tapi rak-rak berdebu dengan kotak-kotak tipis panjang sama meyakinkannya dengan mendengar buku-buku yang bernyanyi. Kotak-kotak itu seolah berdesis dan berbisik, mengantarkan desiran yang membuat bulu kuduk Serena meremang.

Dia belum sempat mengelus tengkuk saat seseorang muncul dari tumpukan tongkat, mengagetkan semua orang.

"Ah! Ah!" seru orang itu. "Edward dan Charlotte Blotts. Kehormatan apa yang membuat kalian kemari… ah!"

Laki-laki tua kurus yang rapi muncul dari deretan rak. Serena harus mundur selangkah menghindari tatapan mata abu-abu milik orang tersebut.

"Mata yang begitu indah... Dan, ah… aku tahu darimana datangnya…"

Serena begitu lega saat orang itu sekarang berganti memandang ayahnya, yang berusaha keras untuk tidak berpaling tapi tetap tersenyum dengan sopan.

"Anda bukan penyihir kukira?" tanya laki-laki yang pastinya adalah Ollivander itu sendiri.

"Dia Ayahku!"

Serena tidak bisa menahan diri untuk membentak. Kenyataan bahwa ayahnya bukan penyihir sungguh mengganggunya. Serena memperhatikan bahwa beberapa tamu Flourish and Blotts, seperti juga si goblin Gringotts, memandang ayahnya seolah dia salah tempat dan tidak seharusnya ada di sini.

Ollivander pasti merasakan keresahan Serena karena dia buru-buru menunduk bagaikan minta maaf pada seorang puteri. "Tentu saja! Maafkan saya… Nah, aku kenal Celia Flourish dulu. Willows, tiga puluh empat senti. Sangat lentur dan fleksibel. Dengan jantung naga. Bagus… Teramat bagus untuk menyihir…"

Ollivander berbalik untuk memilih-milih kotak. Serena mengerjapkan mata dengan kaget saat tangannya tiba-tiba saja dililiti meteran panjang. Meteran itu mengukur semua bagian atas tubuh Serena.

Ollivander menawarkan beberapa tongkat dengan berbagai macam kayu, intisari dan ukuran-ukuran yang disebutkan sampai ke koma-nya. Tetapi segera merebutnya saat Serena baru saja memegangnya sekejap.

Kotak-kotak mulai menumpuk di kaki Serena sementara Ollivander terus mengecek. Dia mulai sebal karena tidak tahu apa yang sebenarnya dicari Ollivander. Pada saat Ollivander sudah membongkar koleksi-koleksi lamanya, dilihat dari kotaknya yang berjamur, Serena mulai khawatir dia ternyata sama sekali bukan penyihir.

"Nah, coba yang ini, Miss van der Woodsen! Kayu pinus. Tiga puluh senti. Dan intinya adalah satu-satunya yang pernah kudapat. Serpihan baju zirah baja beruang es. Salah satu makhluk gaib yang telah punah…"

"Oke…"

Serena mengambil tongkat tersebut dengan lelah. Dia merasa sedikit sedih. Entah karena mengetahui bahwa makhluk gaib juga bisa punah atau karena intisari tongkat ini bukanlah bagian tubuh tertentu seperti jantung naga, tanduk unicorn atau apapun. Ollivander sepertinya mengetahui apa yang dipikirkan Serena.

"Baju zirah baja adalah intisari hidup beruang es… Oh, Merlin!"

Tangan Serena terasa amat panas yang menjalari ujung jari sampai merasuki bagian dalam tubuhnya. Cahaya biru tua berdenyar lembut keluar dari ujung tongkat itu, perlahan membesar dan naik memenuhi langit-langit toko yang temaram.

Sekarang ayah, paman dan bibinya ikut mendesah keras. Serena memperhatikan cahaya tersebut, menyadari bahwa dia baru saja memunculkan aurora di dalam toko itu. Aurora yang hanya pernah Serena lihat di televisi saat menayangkan acara geografi kutub utara.

"Ap…Bagaimana?" tanyanya gugup, bingung antara apakah dia harus menjatuhkan tongkatnya atau tetap memegangnya.

Ollivander menangkap tangan Serena.

"Ini sempurna!" katanya, masih menggenggam tangan Serena dan menatapnya lekat-lekat. "Segala keindahan dan kehangatan dalam dirimu membuat tongkat terdingin ini terpikat. Dia telah memilih dirimu. Satu diantara jutaan…"

.

.

.

Sudah lewat tengah malam saat Serena terduduk di ujung tempat tidurnya, memandang ibunya dalam lukisan, yang sekarang sedang tidak bergerak ataupun pergi. Serena tidak sepenuhnya yakin, apakah lukisan orang yang telah meninggal bisa diajak bercerita atau ngobrol? Atau mereka hanya meneriakkan perintah-perintah pada kasir tokonya? Serena merasa dia ingin bercerita banyak, tapi tidak yakin. Bisa bicara lagi dengan ibunya seolah dia tidak meninggal tampaknya adalah sesuatu yang terlalu sulit digapai, bahkan dengan sihir sekalipun.

Jasper telah menemukan rumah barunya, seluruh balkon kamar Serena. Setelah tur singkat dengan terbang mengelilingi halaman rumah, Jasper tidur, mengeluarkan suara dekut lembut, bertengger bersama pot-pot gantung. Serena membiarkan pintu balkon terbuka, suara Jasper menjadi satu-satunya teman di keheningan malam.

"Tidak bisa tidur?"

Ayahnya telah memasuki kamar tanpa disadari Serena. Dia ikut duduk.

"Aku takut terbangun lalu menyadari semuanya hanya mimpi…"

Ayahnya tergelak mendengar kejujuran Serena.

"Kau lihat tampang Robert saat kita membawa Jasper ke limo? Seharusnya itu sudah cukup nyata bagimu…"

Serena balas tertawa, tapi lalu diam lagi, tangannya mengelus tongkat sihir barunya. Berharap dapat menghasilkan aurora lagi. Perkataan Ollivander tentang tongkatnya agak membingungkan, sehingga dia sangat penasaran apa yang bisa dilakukannya dengan tongkat kayu-pinus-plus-serpih-baju-zirah-beruang itu.

Meninggalkan Diagon Alley, entah mengapa, membuat Serena sedih. Keluar dari Ollivander's, Serena terus berjalan sambil menatap ke belakang. Dia baru berhenti setelah hampir menabrak seseorang dengan bungkusan jubah yang menjulang.

Paman dan bibinya melepas mereka di Leaky Cauldron, berjanji akan datang lagi ke rumahnya untuk kursus dasar tentang kepenyihiran, membuat Serena lega sekaligus takut. Ayahnya memastikan Robert dan Anna, selaku orang yang paling dekat dengan Serena, akan diberitahu hal ini, agar bisa menjaganya. Serena diam-diam bertanya siapa yang akan pingsan duluan.

"Dad…"

"Ya?"

Serena mengalihkan pandangan kepada ayahnya, kesulitan bicara. Tanpa disadari, jurang telah terbentuk diantara mereka. Dia adalah penyihir dan ayahnya bukan. Walau mereka akan saling melengkapi, mereka tetap akan hidup di dunia yang berbeda. Dan Serena sama sekali tidak menyukainya. Dia selama ini hanya berdua dengan ayahnya…

"Kita masih… maksudku kita bisa tetap… Aku…" Serena mengepal-ngepalkan tinjunya ke lutut. "Kau tahu, aku lebih memilih untuk tidak masuk ke sekolah itu untuk jadi penyihir daripada harus berbeda denganmu…"

"Kupikir kita tetap sama keras kepala, nekad dan tidak mau diaturnya?" ayahnya tertawa lagi.

"Aku tahu, Ser… Ini kekhawatiranku juga. Aku sudah egois. Aku tidak mau kehilanganmu. Bukan sekedar pindah tempat ke negara lain tapi benar-benar berbeda dunia… Tapi aku tidak bisa membuatmu menjadi seseorang yang bukan dirimu…"

Kalau ada sesuatu yang paling disukai Serena dari ayahnya, itu adalah karena dia tidak pernah memikirkan diri sendiri.

"Pergi dan nikmati sekolahmu, Ser. Jasper akan menemukanku dimanapun aku bekerja. Ceritakan aku tentang pelajaranmu, unicorn-mu, teman-temanmu… dan tentu saja, kau harus beritahu aku siapa anak laki-laki yang mengejar-ngejar dirimu agar aku bisa menyuruh mereka jauh-jauh…"

"Hah?" Serena melengos disambut gelak tawa ayahnya.

Ayahnya bangkit dan memaksa Serena berbaring.

"Tidurlah, penyihir kecilku… Aku akan menjaga mimpimu agar tetap jadi kenyataan. Seperti biasa…"

.

.

.