Disclaimer: This story is based on characters and situations created and owned by JK Rowling.

Pairings: Draco Malfoy/OC

Setting: Harry Potter and Sorcerer's Stone (Book & Movie)

The Two-Tale Heart

VI

DRACO

Draco memandang anak laki-laki dengan kacamata dan rambut acak-acakan itu berlari terburu-buru.

"Sampai bertemu di Hogwarts, ya!"

Seruannya bergaung tak terbalas di antara gulungan kain yang memenuhi toko. Draco menelan ludah. Apakah dia sebegitu membosankan sampai anak itu kabur?

"Kurasa sudah cukup untuk yang ini!"

Draco membentak pelayan yang sedang mengepas jubahnya, lalu berganti dengan selusin lain yang ibunya pesankan.

Rasanya konyol sekali harus berlama-lama di toko jubah seperti anak perempuan. Tapi ayahnya yang memaksa tadi. Ayahnya berpikir bahwa penampilan luar adalah segalanya. Tetapi Draco yakin ayahnya hanya berusaha menahan Draco agar tidak merecokinya untuk pergi ke toko peralatan Quidditch.

Jadi setelah bersin-bersin karena dikerubuti kain yang tak habis-habis, Draco melemparkan kantung galleonnya. Dia pergi dari toko jubah Madam Malkin dengan bungkusan besar yang menggunung sampai kepala.

Waktu makan siang pastilah sudah tiba. Perutnya berbunyi saat aroma sosis panggang menguar. Jauh di jalan depan, anak-anak sepertinya merengek minta dibelikan es krim Florean Fortescue.

Draco tidak bisa melihat jalan, apalagi mencari dimana ayah-ibunya. Dia hampir saja ditabrak oleh seseorang saat mencoba menyebrang.

Draco memutuskan untuk menunggu mereka di toko es krim. Tapi meja dan antrian dipenuhi anak-anak, yang dengan sekali pandang, Draco tahu mereka adalah kelahiran muggle. Mereka menatap es krim ajaib Florean yang beraneka rasa dengan mulut terlalu ternganga. Membuat Draco jijik dan mengurungkan niat. Dia menjatuhkan semua belanjaannya.

"Darah-lumpur!" umpatnya kesal seraya mengenyakkan diri untuk duduk di atas tumpukan dus.

Sambil menggulung lengan kemejanya karena kepanasan, Draco melihat ke jalan. Berharap bertemu dengan muka-muka familiar.

Dia sudah melihat Marc Zabini, yang, syukurlah, sedang dikelilingi oleh pacar-pacarnya sehingga tidak melihat Draco. Blaise juga pasti ada di sekitar sini. Begitu pula Theodore.

Draco menjulurkan leher sejauh mungkin. Hatinya tidak tenang karena memikirkan Theodore atau Blaise sukses meminta ayah mereka membelikan sapu terbang. Lalu telah menemukan cara untuk menyelundupkannya ke Hogwarts.

Alih-alih Theodore dan Blaise, Draco melihat ibunya yang membawa banyak belanjaan. Dia melihat Draco dan langsung menghampiri, menjatuhkan dengan kesal semua keperluan sekolah Draco.

"Oke!" desahnya lelah. "Aku lupa bahwa tongkatlah yang memilih penyihir bla… bla… bla… Jadi kau harus ke Ollivander's sendiri, Draco. Atau kita tidak akan menemukan tongkat yang pas…"

Draco terduduk tegak mendengar ini. Dia bahkan tidak pernah sukses dengan tongkat sihir ibunya, lalu dia akan mencari tongkat yang memilih penyihir. Ini terdengar seperti suatu tes yang menyebalkan. Padahal Draco biasanya tidak pernah dipersulit saat menginginkan sesuatu.

"Ibu, bolehkah kita ke toko sapu dulu…"

Tetapi ibunya telah berpaling untuk melihat seseorang di jalan. Ayahnya memanggil mereka dari kerumunan.

Kebalikan dari Draco dan ibunya yang kerepotan dengan belanjaan, ayahnya sama sekali santai. Karena Dobby berjalan di sampingnya, membawakan buku-buku baru Draco.

"Aku harus menunggu lama di kasir karena Flourish and Blotts sedang kedatangan pewaris baru mereka."

Ayahnya mengabari setelah dia mendekat, "Menggelikan… Apa yang bisa diharapkan dari toko buku tua…"

"Selain fakta bahwa itu toko buku paling besar se-Diagon Alley?" potong ibunya. "Kau seharusnya tidak membawa Dobby untuk dirimu sendiri, Lucius!"

Ibunya menumpukkan sangkar berisi burung hantu-elang Draco yang baru, bahan-bahan ramuan, kuali, teleskop dan segebung perkamen di atas buku-buku Draco. Sehingga yang terlihat dari Dobby sekarang hanyalah kaki kurusnya.

"Aku bisa mencium bau muggle lain bahkan di antara bau buku-buku apak. Memalukan sekali! Flourish. Sisa-sisa terakhir keturunan Ravenclaw, berhubungan dengan muggle…"

"Apakah anak itu punya dua warna mata yang berbeda?"

Dan Draco langsung menyesali pertanyaannya. Sesuatu yang pernah dikatakan Blaise tentang anak perempuan itu sama sekali tidak menarik minatnya. Hanya saja, entah mengapa, kata-kata tersebut meluncur keluar.

"Aku tidak tahu, Draco…" Ayahnya terlalu kesal untuk penasaran dengan pertanyaan Draco. "Apalagi yang kurang, Cissy? Ini sudah siang dan aku…"

"Kita harus ke Ollivander's lagi. Draco harus mencoba tongkatnya sendiri…"

"Baiklah! Dan aku bisa belok kiri ke…"

"Tidak!" sela ibunya dengan galak. "Ollivander membuatku gelisah, dia bilang dia ingat saat aku pertama kali ke toko itu. Dan dia menatapku seolah kita… aku…"

Ibunya tidak melanjutkan, tapi ayahnya juga tidak membantah. Maka mereka kembali menelusuri jalan dengan Draco masih mengangkut bungkusan jubah. Dobby kelihatannya akan pingsan apabila ditambah beban satu gram lagi saja.

Bunyi deritan keras terdengar saat mereka sampai di pintu yang papan namanya kusam, nyaris tak terbaca. Draco tergopoh-gopoh masuk dan menjatuhkan bungkusan di satu-satunya kursi di toko itu.

Baru sedetik merasa lega, Draco terjatuh karena terpeleset sesuatu. Bungkusan jubah berjatuhan dari kursi dalam usahanya menahan jatuh.

Draco meraih ke bawah. Ternyata dia menginjak sebuah tongkat sihir yang menggelinding dari tumpukkan kotak terbuka yang menggunung. Sepertinya baru saja ada yang menghabiskan waktu di toko tongkat lebih lama daripada Draco di toko jubah.

Ayahnya mengangkat Draco pada belakang kerah jubahnya, menggumam tentang sejak kapan Draco berubah menjadi anak canggung.

Draco menyentak kesal sementara tongkat sial tadi masih tetap pada genggamannya. Ibunya berteriak kecil, yang tidak ada hubungannya dengan keadaan toko yang berantakkan ataupun jatuhnya anaknya sendiri.

Berbeda dengan toko lain, toko kecil dan pengap Ollivander tampak dinaungi langit malam. Ada cahaya berkilau kebiruan di sana. Berpendar membentuk gelombang seperti uraian pita raksasa.

"Ya… Ya… Penyihir kecil yang pandai sekali. Membeli tongkatku yang langka. Aurora Borealis. Pemandangan dari rumah para beruang es yang berbaju zirah…"

Seorang lelaki tua kurus muncul entah darimana. Sama-sama mengagumi langit-langitnya.

"Kelas satu?" tanya ibunya, yang karena terpesonanya, lupa untuk takut kepada penyihir yang pastinya adalah si Ollivander. "Sungguh hebat…"

"Dan aku sama sekali tidak bisa membuat Dobby bersuara kodok!"

Draco merajuk sebal karena ibunya memuji anak lain. Ayahnya merajuk untuk alasan yang berbeda.

"Kami mau beli tongkat, Ollivander. Bisa cepat atau tidak? Aku ada perlu…"

Ibunya ber-oh keras lagi, menyebabkan Ollivander yang tadi sudah berbalik untuk melihat Draco dan ayahnya, kini kembali melihat ke langit-langit.

Cahaya putih tak kalah bersinar menyebabkan aurora itu berpendar lebih terang dan bergerak-gerak, seolah ada yang sedang meniupnya.

Tetapi keindahan itu sama sekali tidak bisa menenangkan ayahnya.

"Ayolah, Cissy!" serunya pada ibunya. "Nah, bagaimana kalau kita cari tongkat untuk anakku?"

Tapi Ollivander, yang melihat mereka lagi, menggeleng dengan tegas.

"Saya rasa tidak perlu cari lagi. Saya tahu apa yang cocok untuk Tuan Muda Malfoy ini…"

Ada beberapa orang yang menyebut nama Malfoy mereka dengan penuh hormat, walaupun banyak juga yang merasa jijik. Tapi Draco sama sekali tak bisa menduga apa yang ada dipikiran Ollivander saat mengatakannya.

Hal itulah yang Draco kira kini mengusik ibunya. Tetapi ternyata bukan.

"Apa?" sentaknya. "Secepat itu?"

"Betul, Ma'am… Kayu Hawthorn, sehelai rambut unicorn dan dua puluh lima senti persis. Cukup lentur…"

Bagaimana Ollivander bisa mengetahuinya, mengejutkan mereka bertiga.

"Tapi kau sendiri bilang bahwa tongkat memilih penyihirnya… Draco baru saja sampai dan kau berani-berani hanya meramal…"

"Tidak! Tidak meramal… Tapi kenyataan…"

Ollivander menunjuk Draco, lalu matanya beralih ke tongkat yang dipeganginya tanpa sadar. Tongkat sial yang membuat Draco terjatuh tadi.

Draco tersentak kaget mendapati tongkat itu ternyata menghangatkan genggamannya dan saat ini sedang mengeluarkan cahaya berkilau putih. Membumbung ke atas seperti asap.

Ternyata tongkat itulah yang sejak tadi melengkapi aurora hasil sihiran sebelumnya…

.

.

.

Draco menyusuri kembali jalan berliku itu dengan muram. Tidak ada yang salah dengan tongkat sihir barunya, apalagi sihiran yang tadi dilakukannya tanpa sadar tidak terlalu buruk. Sebagai penyihir berdarah murni, dia seharusnya bangga karena bisa mendapatkan tongkat yang pas dengan cepat.

Tetapi tongkat yang jatuh secara kebetulan, membuatnya terpeleset, dan bukan merupakan tongkat langka yang tadi disebut-sebut Ollivander, jauh di bawah standar Draco. Ini membuat perasaannya tidak menentu.

Baru saja Draco membesarkan hati dengan menerima setidaknya sekarang dia punya tongkat, ayahnya berbelok ke kanan jalan.

"Ayah!" seru Draco. "Kupikir… Kita akan lewat Leaky Cauldron…"

Draco tadinya bermaksud membawa orang tuanya ke toko Peralatan Quidditch Berkualitas, tapi ayah-ibunya terus menelusuri jalan itu sehingga Draco terpaksa membuntut.

"Aku harus ke Borgin and Burkes dulu! Ini sudah hampir gelap!" jawab ayahnya.

Draco melewati penunjuk jalan yang menyebutkan Knockturn Alley. Tempat kedua favorit ayahnya selain rumah mereka sendiri.

Walaupun matahari masih ada, jalanan Knockturn Alley ditutupi bayangan toko-tokonya yang kumuh. Berderet menampilkan barang-barang ajaib. Tetapi beda dengan jalan utama Diagon Alley, di sini ajaib dalam artian menyeramkan.

Sebagai keluarga yang selalu memiliki yang bagus-bagus, mereka tampak salah tempat. Ibunya menyadarinya karena dia sekarang memegangi bagian belakang jubah ayahnya dan menggandeng lengan jubah Draco, seolah takut tiba-tiba dipalak. Berusaha tidak mengejang saat beberapa penyihir yang tak kalah seram berselisih jalan dengan mereka. Desisan dan bisikan mengiringi mereka dari balik keremangan.

"Kupikir… kita mau melihat sapu?" Draco masih meminta-minta kepada ibunya lewat sela-sela bungkusan jubahnya.

Ibunya sekarang meremas lengan Draco seolah berkata, Jangan Sekarang!

Dengan wajah masam, Draco mengikuti ayahnya memasuki toko terbesar di jalan itu, Borgin and Burkes.

"Jangan sentuh apapun, kalian berdua!" perintah ayahnya. Lalu dia maju ke meja konter untuk membunyikan bel.

Sama sekali tidak ada ruang tunggu di toko itu. Kecuali beberapa kursi yang kelihatan seperti kursi penyiksaan bisa disebut kursi tamu.

Draco menjatuhi bungkusan-bungkusannya, lalu terhenyak kelelahan. Pembelian tongkatnya tidak berjalan dengan spektakuler dan mereka tidak sekalipun memasuki toko sapu. Maka tengkorak-tengkorak yang berkeriut, kalung-kalung dengan batu opal besar, dan racun berwarna-warni di Borgin and Burkes sama sekali tidak menarik perhatiannya.

Seseorang muncul dari keremangan bagian belakang toko.

"Ah… Mr Malfoy, Sir! Sungguh suatu kehormatan…"

Draco melihat sekilas Mr Borgin, yang bisa disebut sebagai tukang belanja, pedagang artifak, sekaligus pesuruh ayahnya. Rambut Mr Borgin selicin suaranya.

"Ah! Dan Mrs Malfoy juga! Dan Tuan Muda Malfoy! Sungguh menyenangkan…"

"Nah, Borgin! Tentang apa yang aku minta waktu itu… Kalau sekarang bisa, maka aku akan langsung simpan di Gringotts…" potong ayahnya.

Mr Borgin kembali ke bisnis dan mereka bertransaksi selama beberapa menit. Draco tidak memperhatikan apa yang dilakukan ayahnya. Ibunya tidak berbicara apapun. Sepanjang waktu ibunya hanya melihat ke langit-langit. Bukan mencari aurora lain, tapi terlalu ngeri untuk memandang muka-muka berkerut di sekeliling.

Ayahnya meninggalkan Mr Borgin yang membungkuk-bungkuk melepas kepergian mereka. Dengan jubah agak menggelembung, wajah ayahnya tampak puas.

"Nah, Cissy, kalau cepat kita bisa… hmm… kau tahu? Ke Gringotts…"

"Apa?" seru Draco kaget.

Dia sudah sangat capek, sehingga mengurungkan niat untuk memaksa kedua orang tuanya ke toko sapu sejak memasuki Borgin and Burkes. Membayangkan dirinya harus ke Gringotts membuatnya letih.

"Baik, Lucius. Sebaiknya… cepat…"

Ibunya jarang menyetujui saran ayahnya secepat ini. Maka Draco tahu ada yang tidak beres. Draco hampir saja menendang Dobby saat mereka sudah sampai lagi ke jalan utama. Ketika suara yang familiar berteriak memanggilnya.

Ternyata Theodore Nott.

"Kau mau kemana?"

Draco terpaksa berhenti di tengah jalan. Pandangan Theodore mengikuti ayah dan ibu Draco yang menuju Gringotts.

"Dasar keluarga kelebihan emas!" decak Theodore. "Dengar! Nimbus 2000, seri keluaran terbaru! Pasti spektakuler… Aku melihatnya tadi…"

"Draco!" teriak ayahnya kesal.

Mereka sudah sampai di undakkan.

"Aku kehabisan ide bagaimana caranya agar Ayah mau membelikan. Menyelundupkan ke Hogwarts pun sulit. Ada ide?" Theodore terus bertanya.

"Tidak!" cetus Draco lebih kesal.

"DRACO!" kali ini ibunya yang memanggil.

"Baik kalau begitu! Aku akan kirim burung hantu. Kau tidak bisa ketinggalan seri Nimbus! Lalu aku punya hal seru untuk kita lakukan…"

Theodore sudah terbawa arus kerumunan orang yang mau pulang lewat Leaky Cauldron sehingga Draco tidak bisa mendengar rencananya. Dia sendiri telah ditarik ibunya untuk menaiki tangga.

"Cissy, apakah tidak lebih baik Draco…"

Ibunya menggeleng kuat-kuat. Ayahnya mendengus.

"Baik! Mari kita masuk!"

Tidak seperti penyihir lainnya yang biasa-biasa saja, Draco jarang memasuki Gringotts. Kebanyakan karena ayahnya punya simpanan emas sendiri di rumah. Sebagian lagi karena ruang lemari besi mereka ada jauh di dalam bumi. Sehingga membuat malas siapapun.

Ruangan pualam megah masih tetap sama seperti dulu-dulu. Dipenuhi goblin dan beberapa emas-permata yang kontras sekali jelek-cantiknya. Banyak orang yang jelas-jelas muggle sedang menukar uang mereka. Draco menyeringai mengejek saat mereka menghitung dengan hati-hati seolah itu uang terakhir mereka.

Ayahnya segera menemui si Kepala Gringotts di paling ujung konter. Menyela seorang muggle yang sedang berusaha memahami galleon.

Si muggle protes, tapi ayahnya cukup mendelik dengan kejam dan tidak mempedulikannya lagi.

"Mr Malfoy… Ada antrian…" kata si Kepala Gringotts mengernyit sedikit.

"Oh, maafkan aku kalau aku meminta hak-ku sebagai nasabah prioritas dari keluarga darah murni…"

Ayahnya menekankan kata darah-murni begitu kuat sehingga Kepala Gringotts mengesampingkan si muggle.

"Sir?" tanya si goblin menunduk hormat.

"Aku ingin ke lemari besiku lagi. Menambahkan pengaman… Dan menyimpan sesuatu…" perintah ayahnya seolah dia adalah pemilik Gringotts.

"Ah… Ah…" kata si goblin ragu. "Kami menggunakan pengaman kami sendiri yang sangat efektif…"

"Aku hanya ingin menambahkan sesuatu!" potong ayahnya.

Dia menepuk jubahnya. Lalu mengeluarkan kantung dari saku lainnya.

"Ada sesuatu di sini… Sebagai… Uang lelah? Bagaimana menurutmu dengan berlian mentah?"

"Apa yang akan anda tambahkan lagi Mr Malfoy, Sir?"

Si goblin meraih kantung itu, dan seperti ngengat pada api, beberapa goblin lain datang mendekat, meninggalkan pos mereka. Melihat isi kantung yang diberikan ayahnya. Berpura-pura berdebat tentang kepentingannya.

Penyuapan adalah keahlian ayahnya. Draco awalnya tidak tahu tentang hal ini, tapi setelah tahu pun tidak banyak yang berubah. Mudah mendapatkan segalanya pun ada harga yang harus dibayar. Dan para goblin lebih menyukai permata lebih dari standar peraturan mereka.

Hanya dalam beberapa menit, mereka sudah menaiki kereta. Draco meninggalkan bungkusan-bungkusannya dengan Dobby di lobi. Samar-samar dia mendengar beberapa goblin mulai cekcok karena berlian pemberian ayahnya itu.

Tapi seorang goblin lain menghampiri mereka dengan tas yang bergemerincing, memandu ke pintu yang menuju terowongan batu. Kereta datang. Ayahnya naik di depan bersama si goblin sedangkan Draco, mengeluh habis-habisan, duduk di bagian belakang bersama ibunya.

Mereka tidak bisa mendengar apa-apa dalam bisingnya derak kereta. Meluncur turun dalam lorong labirin, semakin jauh mendekati pusat bumi.

Kereta memelan saat menyeberangi jembatan dengan jurang menganga di bawahnya. Ayahnya memilih waktu yang salah untuk berseru, pegangan Draco hampir tergelincir dari tempat duduknya.

"Air Terjun Keruntuhan Pencuri! Aku mau itu ada di sini!"

"Akan kami usahakan!" kata si goblin balik berseru.

Draco sama sekali tidak ingin tahu untuk apa ayahnya perlu air terjun yang digunakan untuk membasuh mantra-mantra, samaran, dan segala hal yang diperlukan untuk melindungi lemari besi mereka. Dia memejamkan mata kuat-kuat. Kunjungan ke lemari besi keluarganya sendiri tidak membuatnya lebih baik.

Kereta memelan dan akhirnya benar-benar berhenti. Draco segera turun dan menjauh dari tikungan. Ada mimpi buruknya yang selalu dia hindari saat mereka ke Gringotts. Si goblin mulai membunyikan Clankers. Peralatan logam kecil yang akan menghasilkan bunyi dering keras.

Mimpi buruk Draco di Gringotts berupa naga raksasa yang tertambat ke tanah. Menjaga lemari besi keluarga Malfoy dan beberapa keluarga lainnya.

Binatang itu terlihat lebih pucat dan lebih menyedihkan dibanding dengan terakhir kali Draco melihatnya. Kaki belakangnya dibelenggu borgol besar berkarat, yang melukai pergelangan. Draco memalingkan wajah. Semenyedihkan apapun, naga tetap naga. Dan mereka mematikan.

Bunyi Clankers bergaung. Draco merasakan si naga tidak berani bahkan hanya untuk bersendawa asap-asap. Tanah di bawah bergetar menandakan dia gemetar.

Draco tidak tahan lagi dan menoleh ke mata merah jambu itu. Dia buta. Mungkin ayahnya ingin memasang air terjun itu untuk memensiunkan si naga yang wajahnya sudah carut-marut kena besi panas itu.

Untuk beberapa pintu, hanya goblin Gringotts dan ahli waris yang sah yang bisa membuka pintu lemari besi. Maka, ayahnya-lah yang maju karena si goblin masih sibuk dengan Clankers.

Pintu itu perlahan menghilang. Draco yang tadi sedikit merasa kasihan pada si naga, kini lupa akan hal itu. Ruangan yang mirip gua tersebut telah mengalihkan perhatiannya.

Keluarga Malfoy tidak akan pernah hidup susah. Koin dan piala-piala emas menggunung. Baju zirah dengan rangkaian perak murni yang rapat, mahkota-mahkota berbagai bentuk, pedang dengan batu-batu mirah, dan arca-arca setinggi gua, tidak hanya ada di lemari besi mereka, tapi juga di ruangan sebelah kepunyaan kakek Draco.

Kekayaan mereka.

Siapapun yang menyebut seorang Malfoy adalah penyihir besar-kepala, seharusnya melihat isi lemari besi ini untuk memahami alasan mereka.

Draco baru saja duduk di tempat favoritnya. Yaitu singasana dengan sandaran kursi berupa kumpulan pedang yang mencuat sampai ke atas. Dia sibuk memasangkan salah satu mahkota emas berbentuk tanduk rusa pada rambut pirang-peraknya.

Tiba-tiba pintu lemari besi tertutup. Suara Clankers terputus. Obor yang sejak tadi dipegang si goblin padam sampai Draco tidak bisa melihat ujung hidungnya sendiri.

"Ibu!"

Draco berseru tetapi tidak bisa mengalahkan gerungan si naga di luar. Bunyi semburan api terdengar seperti gerakan puluhan piston.

"Ada apa ini?" tanya ayahnya entah dari sebelah mana.

Kalau tidak sedang terlalu kalut, Draco akan menyadari keanehan pada suara ayahnya. Tapi mengiringi gerungan naga, sekarang bunyi memekakkan lonceng bergaung di atas mereka. Disusul dengan bel peringatan yang meraung-raung.

"Lumos!" teriak ayah dan ibunya bersamaan.

Cahaya putih kebiruan muncul di kanan-kiri Draco. Dengan ketegangan luar biasa, Draco meniru mantra mereka. Cahaya dari tongkat sihir barunya sekarang menerangi wajah Draco.

Mantra pertama yang dihasilkan Draco dalam keadaan sadar.

"Ada apa?' ulang ayahnya.

Ibunya tidak panik atau marah seperti biasanya kalau ada hal yang tidak beres. Dia sama tenangnya seperti ayahnya dan Draco baru menyadari hal itu saat ini.

"Hanya orang-orang bodoh yang berniat mencuri!" geram si goblin kesal. "Kami hanya menutup semua jalan keluar sebagai pertahanan sampai keadaan aman…"

"Oh…" wajah ayahnya yang kebiruan sekarang agak menyeringai. "Apakah… ini sering terjadi?"

"Bodoh kalau ada yang mencuri di sini. Tempat teraman di dunia…"

Tapi tampaknya tidak untuk saat ini. Si goblin lupa menyebutkan keadaan aman itu kira-kira satu menit atau satu minggu. Draco mulai berkeringat dingin sementara bunyi raungan naga bercampur dengan sirine yang tak habis-habis.

Terbiasa hidup tenang tanpa masalah, hal terakhir yang nyaris merontokkan jantungnya adalah saat dia menguping pembicaraan ayah-ibunya dengan Profesor Quirrell itu. Maka Draco amat sangat yakin api si naga akan memanggang mereka seperti dalam oven. Ruangan gelap itu menjadi sempit dalam bayangannya. Getaran yang dihasilkan amukkan naga, akan membuat koin-koin itu longsor dan menimbunnya sampai mati.

Nafasnya sesak dan dia bangkit dari singasana berpedangnya, berlari menuju pintu.

"Draco!" teriak ibunya.

Suara kelontangan keras dan longsornya salah satu timbunan membuat Draco tahu dia telah menyenggol banyak barang.

"Kembali kemari, Nak!" teriak ayahnya.

Tapi Draco terlalu takut. Dia ingin keluar secepat mungkin.

Draco telah sampai di ujung ruangan. Entah itu pintunya atau hanya dinding biasa, dia menggedor sekuat tenaga. Perih yang dirasakan buku-buku jarinya diabaikannya. Dia berteriak untuk mengalahkan suara sirine.

"Keluarkan! Buka pintu sialan ini! Tolong! TOLONG!"

Ada orang yang menangkapnya dari belakang, tapi Draco menggebahnya.

"Ide buruk mengajak dia turun, bukan?"

Samar-samar Draco mendengar suara teriakan ayahnya.

"Lebih buruk lagi jika Dia berselisih jalan dengan Draco di luar!"

Ibunya pastilah orang yang menariknya karena Draco bisa merasakan gerakan resah.

Suara sirine berhenti tiba-tiba walaupun si naga di luar tetap mengamuk.

Beberapa menit kemudian hening tanpa suara naga dan getarannya. Angin gua menerpa keras wajah Draco. Semilir panas bekas api yang berbau gosong, menyejukkan wajah Draco yang penuh keringat dingin.

Pintu lemari besi di depannya menghilang, menampilkan beberapa goblin. Membawa selusin Clankers yang tak kalah berisik untuk menenangkan naga. Dan beberapa penyihir biasa meluncurkan tembakkan mantra yang membuat naga itu tertidur seketika.

"Wah… wah… Pangeran kecil yang malang…"

Goblin terdepan membungkuk rendah di hadapan Draco. Draco kini menggelosor pada pelukan ibunya. Mahkota itu pasti masih ada di kepalanya.

"Kerjamu sudah selesai, Bergdord? Ada sesuatu yang harus kau kerjakan…"

Si goblin berpaling untuk menghadap ayahnya.

"Dengan menyesal kami katakan, kami tidak bisa menambahkan pengamanan yang anda minta hari ini juga…"

"Tidak apa-apa…" gumam ayahnya mengalah, yang tidak seperti dia yang biasa.

Lalu bersama ibunya, Draco dibopong menuju kereta untuk kembali ke atas.

Draco tidak bisa menuruni kereta. Dia memuntahi kursinya yang membuat si goblin mengernyit jijik. Draco bahkan tidak sempat merasa malu saat ibunya memaksa Draco duduk di kursi tamu, menyeka muntahannya. Rasanya seperti baru sembuh dari sakit berat. Ibunya membalut kepalan tangan Draco yang mengelupas berdarah dengan sapu tangan.

"Ada yang mereka ambil?" ayahnya masih bersikeras menanyakan info kepada goblin yang lewat.

"Sudah kami bilang. Gila kalau merampok di Gringotts. Tentu saja tidak ada yang hilang…"

Goblin itu melengos pergi. Ayahnya, sekarang Draco melihat, tampak akan meledak marah yang buru-buru ditahannya. Draco sempat melihat itu karena reaksi ibunya yang mengerling memperingatkan. Tanpa kata, tapi terlanjur menjelaskan banyak hal.

Ada yang berusaha mencuri dari Gringotts. Dan ayah-ibunya kemungkinan besar terlibat.

.

.

.