Disclaimer: This story is based on characters and situations created and owned by JK Rowling.

Pairings: Draco Malfoy/OC

Setting: Harry Potter and Sorcerer's Stone (Book & Movie)

The Two-Tale Heart

VII

SERENA

Siapapun yang menyatakan dirinya baik-baik saja pada hari pertama masuk sekolah, pasti berbohong. Terutama saat sekolah yang akan dimasuki adalah sekolah sihir.

Serena merasa mulas terus-terusan. Dia berjajar di stasiun bersama keluarganya. Ayahnya dan Robert, yang ikut mengantar, ternganga menatap lokomotif uap merah yang akan membawa Serena ke Hogwarts. Tetapi itu bukan apa-apa dibandingkan histeria saat mereka menembus peron sembilan tiga-perempat.

Sebagai dua orang yang paling dipercaya, Robert dan Anna telah diberitahu hal sebenarnya tentang Serena. Serena kaget sekali saat mereka menerima lebih baik dibandingkan dirinya sendiri. Serena punya pikiran bahwa mereka lega dengan kenyataan ini, dibanding kalau ternyata mereka melayani majikan yang benar-benar aneh.

Beberapa hari setelahnya, Bibi Charlotte datang ke rumah untuk kursus-kilat-penyihir-amatir. Serena mengira dia akan langsung mengajar mantra dengan tongkat sihir. Tapi Bibi Charlotte mengajar hal yang paling dasar, yaitu sejarah. Serena nyaris ketiduran, Robert, yang ikut menemani, bahkan sudah tertidur duluan.

Serena hanya benar-benar menyimak saat Bibi Charlotte menceritakan kejadian pada masa sebelum dia lahir. Berkuasanya penyihir hitam yang bernama Voldemort.

Seperti yang terjadi saat ada pemimpin kejam yang mencoba menguasai dunia, sebagian besar masih takut bahkan untuk menyebut namanya. Bibi Charlotte di sisi lain, menyuruh Serena mengabaikannya.

"Kami berjuang untuk mengalahkannya, saat kau masih dalam kandungan ibumu…" kata Bibi Charlotte, sekarang terdengar seperti pejuang sungguhan dibanding guru privat. "Kau anak ibumu, katakan Voldemort di depan mataku. Katakan!"

"Em… Oke… Voldemort…" kata Serena bingung sendiri.

Kenyataan bahwa ibunya mengandung dirinya pada saat keadaan perang penyihir amat mengagetkan. Rasanya seperti berada dalam film perang. Dan Serena lebih kaget lagi waktu tahu bahwa penyihir laki-laki kecil yang dia temui di Gringotts, Harry Potter, adalah yang mengalahkan Voldemort waktu dia masih bayi.

"Tapi bagaimana bisa?" protes Serena. "Yah, penyihir hitam besar dan seorang bayi…"

Bibinya hanya mengangkat bahu. Tapi Serena jadi mengetahui alasan mengapa mereka menghormati si Harry itu.

Beberapa hari berikutnya untuk perkenalan satwa gaib, mantra, dan sedikit hitungan penyihir yang membuat Serena pusing duluan. Tapi saat bibinya menghilang begitu saja dengan bunyi dar keras, Serena benar-benar tidak bisa menahan pertanyaan dalam kepalanya.

"Itu masih jauh, Ser!" kata bibinya berulang-ulang. "Aku hanya memperlihatkannya kepadamu… Nanti kau akan belajar pelan-pelan…"

"Bisa saja bibi berkata begitu… Nanti aku akan jadi paling bodoh di sekolah…" Serena merengut, dia sudah merasa tegang lagi.

"Tentu saja tidak! Kita adalah Ravenclaw!"

Bibinya sudah menjelaskan tentang Hogwarts, sejarah, dan asramanya yang termasyhur. Keluarga ibunya, sejak jaman dulu selalu di Ravenclaw, sepanjang yang bisa dicatat. Ravenclaw adalah asrama dengan kualitas anak-anak yang pintar dan bijaksana. Sialnya, Serena sama sekali tidak merasa pintar dalam dunia ini, terlebih lagi bijaksana di dalam dunia manapun.

"Jadi? Bibi belum naik sapu terbang, kan? Katamu itu salah satu cara untuk penyihir berpergian? Aku ingin sekali terbang… Maksudku, aku sudah sering naik pesawat, tapi kan…"

Robert di sebelahnya juga ikut-ikutan bersemangat, walaupun Serena tidak yakin. Selain Robert bukan penyihir, tubuh besarnya pasti akan langsung meremukkan sapu manapun, yang ajaib sekalipun.

"Tentu saja belum boleh, Ser! Kau kan baca sendiri di suratmu… Nanti di sekolah kau akan belajar…" tolak bibinya.

"Sungguh membosankan!" gerutu Serena.

"Nah! Nah!" bibinya sekarang setengah geli. "Kudengar seorang van der Woodsen bukan pengeluh yang suka merajuk… Mari kita lanjutkan lagi…"

Bibinya menyuruh Serena mengepak sebelum hari keberangkatan. Kepala Serena masih terasa kosong. Dia ketakutan lagi seperti yang selalu dia rasakan saat di The Bradley. Teman-teman yang mencemooh dan membuatnya merasa sebagai orang bodoh sedunia.

Ayahnya, yang pergi sebulan lalu untuk bekerja, kembali tepat saat Serena mengunci sangkar Jasper pada pagi hari di tanggal satu September. Jasper berbau sabun-khusus-burung yang dibelinya di Diagon Alley. Anna telah berbaik hati menyikat bulu Jasper, walaupun tangannya kini penuh luka patuk.

Ayahnya menatap langsung ke mata Serena. Tidak ada kata-kata, tidak ada pelukan…

"Kau akan mengirimiku surat kalau begitu?" tanyanya pada akhirnya.

Serena ingin berlari ke pelukannya, berharap dia bisa pergi bersama ayahnya. Tetapi kemudian dia menyadari, walaupun telah menghabiskan waktu kebanyakan sendirian karena kesibukan ayahnya, pada detik inilah Serena diharapkan untuk menjadi seorang anak perempuan yang mandiri. Kuat dan tegar.

Maka Serena hanya membalas,

"Selalu…"

.

.

.

"Hogwarts Express! Langsung ke Hogwarts!"

Paman Ed memberitahunya dengan lagak seorang kondektur.

Setelah mengatasi nafasnya yang memburu karena menembus palang sembilan tiga-perempat dengan berlari, Serena harus mengakui dia merasa takjub melihat kereta ini. Dia biasa melihat kereta produksi ayahnya yang lebih modern, sehingga merasa aneh melihat mesin seberat ini akan bisa berjalan jauh.

Anak-anak yang mengerubungi kereta membuat hatinya menciut. Kebanyakan dari mereka saling mengenal, menyapa ramah, bahkan saling menempati kompartemen. Tampak akrab satu sama lain.

Dia mencari anak-anak dengan tampang yang sama seperti dia, kebingungan karena baru. Tapi tidak melihat satupun. Tidak juga si Harry Potter yang pertama ditemuinya dulu. Lalu Serena berpikir lagi, Harry pasti amat populer sehingga Serena ragu dia mau berteman dengan Serena.

Bibinya juga pernah bercerita tentang anak keluarga Tully. Yang keluarganya adalah teman dekat ibu dan bibinya. Dia satu tahun lebih tua daripada Serena. Juga di Ravenclaw. Bibinya berpikir Serena dan anak ini akan jadi sahabat dekat. Sedangkan Serena hanya berpikir skeptis tentang anak kelas dua yang mau menemani anak kelas satu kemarin sore yang tidak keren.

Pamannya menemukan satu kompartemen kosong untuk Serena dan segera menaikkan koper dan sangkar Jasper. Wajah Serena tertunduk saat melihat kompartemen-kompartemen penuh di sekelilingnya. Mereka serasa menatapnya dengan intensitas lebih. Dia kembali lega saat turun kembali ke keluarganya.

"Baik-baik kalau begitu…"

Ayahnya menepuk-nepuk kepala Serena, yang membuat Serena tidak tahan lagi, lalu langsung menangis saat itu juga. Syukurlah ayahnya memeluknya, tampak ikut bergetar juga. Segala yang ditahannya selama beberapa bulan ke belakang, tumpah.

Setelah dicium paman-bibinya, Robert nyaris mengangkatnya dari tanah saat mereka berpamitan. Serena tahu dia yang akan paling kehilangan. Robert telah menjadi pengawal dan supir Serena sejak nyaris sepanjang hidupnya. Tahu bahwa Serena selalu pulang paling awal karena tidak ada teman bermain, tahu bahwa Serena sering diam-diam menangis saat semua anak meninggalkannya dan merindukan ayahnya, bahwa hanya dengan Robert-lah dia menghabiskan banyak waktunya. Sekarang Serena akan sendirian kemana-mana, di suatu negeri yang tidak bisa dijangkau Robert. Lepas dari semua pengawasan Robert…

Serena tidak mau turun sehingga Robert mulai memutar-mutarnya, menyebabkan semua tertawa.

Akhirnya peluit pertama berbunyi. Serena mulai berjalan mundur untuk terus melambai. Wajahnya pasti aneh karena air mata, tapi dia tidak peduli kalaupun anak lain memandangi dan menganggapnya cengeng. Dia tetap bertenger di pintu, dan melambaikan tangan ketika kereta mulai bergerak. Kedua kakinya terasa seperti masih di stasiun. Sementara itu keluarganya menjauh. Cahaya matahari yang menyilaukan, menghilangkan mereka dari pandangan…

.

.

.

Kereta mengebut saat memasuki daerah pedesaan. Serena masih terayun-ayun dalam tiap deraknya. Dahinya menempel ke jendela pintu. Merasa canggung untuk berjalan ke kompartemen. Sampai seseorang mengetuk bahunya.

"Serena van der Woodsen?" tanya anak itu.

Serena berbalik dan mendapati anak perempuan dengan rambut merah kekuningan, nyaris seperti warna senja. Matanya biru pucat. Khas orang Inggris. Dia mempunyai kharisma seperti anak yang tahu segalanya. Itu mengingatkannya pada anak-anak di The Bradley yang selalu memenangkan lomba debat.

Beberapa anak di belakangnya memandang Serena dengan lekat. Pandangan menilai.

Serena tersenyum mengiyakan. Anehnya, nada suara anak itu langsung turun seperti dia agak kecewa.

"Ibuku bilang kau yang bermata…" dia terdiam sebentar, meneliti, yang pastinya warna mata Serena yang berbeda. "Ah… Aku Catelyn Tully. Dari keluarga Tully. Ibu dan bibimu masih kerabat jauh sebenarnya…"

"Hai!" kata Serena jelas-jelas terdengar lega karena dia bisa menemukan seseorang yang diketahuinya. "Namamu bagus sekali!"

Dia mengucapkannya dengan sungguh-sungguh. Tetapi anak-anak di belakangnya ada yang terlihat menahan tawa. Lalu Serena sadar apa penyebabnya. Logat Amerikanya. Dia merasa wajahnya panas.

"Senang bertemu denganmu…"

Serena mengulurkan tangannya dengan ekspresi agak keras. Beberapa anak itu terlihat seperti anak-anak The Bradley yang selalu mengejeknya.

Catelyn menjabatnya, masih memperhatikan Serena.

"Well, kami mau ke kompartemen depan. Sampai bertemu di Hogwarts kalau begitu. Mudah-mudahan kau di Ravenclaw…" kata Catelyn.

Serena berusaha menghapus pikiran buruknya karena kata-kata Catelyn tadi tampaknya terdengar hanya setengah hati.

"Oke…"

Serena melambai canggung. Berharap dia dapat merespon lebih baik. Anak-anak yang lain masih memandangi Serena dari atas sampai ke bawah saat Catelyn pergi. Hal itu hanya memperparah kegugupannya, membuat tungkainya terasa kepanjangan. Pandangan itu membuat Serena tidak nyaman.

Dan Catelyn Tully sama sekali tidak mengajaknya bergabung…

Serena menggeleng. Dia seharusnya tidak merasa takut berjalan sendirian. Karena dia telah terbiasa…

Tetapi tetap saja. Di dunia sihir ini, dia berharap sedikitnya ada yang berubah…

Maka dengan bahu tegak, Serena berjalan menyusuri lorong. Tetapi sesampainya di kompartemen, ketakutannya muncul lagi.

.

.

.

Anak perempuan itu bertampang sangat pintar. Lebih daripada yang terlihat pada Catelyn Tully. Rambut cokelatnya mengembang sementara gigi depannya agak besar-besar. Dia berbicara pada anak laki-laki yang sedang menangis. Anak laki-lakinya gemuk dengan wajah bundar, tampak merana sekali.

Serena tiba-tiba saja merasa menyayangi si anak laki-laki. Mengetahui rasanya meninggalkan keluarga dekat dan belum mempunyai teman. Walaupun dia sama sekali tidak tahu apa yang membuat anak itu menangis.

Anak perempuan itu menatap Serena dengan tatapan seperti yang dilakukan Catelyn dan teman-temannya.

"Halo…" sapanya dengan dagu terangkat. "Kelas satu juga?"

Serena mendapat dorongan ingin menjawab sama sombongnya, tapi dia mendapati dirinya sedang menggigiti bibir.

"Betul… Halo juga…" balas Serena.

Aksen Amerikanya kini membuat anak perempuan itu mengernyit.

"Aku Hermione Granger. Dan ini Neville Longbottom…" anak perempuan itu memperkenalkan diri.

Serena mengulurkan tangan untuk dijabat, "Serena van der Woodsen…"

"Itu burung hantumu?" tanya Hermione pada Serena yang mengangguk. "Katak Neville hilang… Kau melihatnya di lorong?"

"Tidak, maaf…"

"Yah, sudah kubilang kepada Neville untuk menunggu sebentar. Hewan di dunia sihir berbeda. Mereka tahu mereka dimiliki oleh siapa… Aku tahu ini karena sudah mengadakan survey ke toko binatang piaraan gaib… Burung hantumu juga bagus. Tipe yang pantas sebagai pengantar pos. Aku membaca di suatu buku, kau mungkin tidak membelinya karena itu tidak ada dalam daftar buku kelas satu…"

Hermione terus mengoceh tanpa memberi Serena kesempatan menyela.

"… dan beberapa mantra yang di luar akal sehat! Orang tuaku sama sekali bukan penyihir, kau tahu? Mereka kaget sekali saat aku dapat surat Hogwarts-ku… Akupun begitu… Tapi aku sudah membaca semua bukuku, berharap itu cukup. Dan, lihat ini…"

Dia mengeluarkan tongkat sihirnya, dan melambai di depan hidung Serena dan Neville. Rambut mereka berdiri semua. Termasuk Hermione.

Serena tidak berkata apa-apa melainkan ternganga.

"Yah, bagus bukan?" tanya Hermione sambil lalu saat rambut mereka lemas lagi. "Aku yakin kau juga akan bisa melakukannya kalau berusaha keras…"

Hermione pastilah tipe seseorang yang tidak menyadari bahwa dia sedang menganggap rendah seseorang. Tapi Serena sedang tidak mau mendengarkan hal-hal yang membuatnya tidak nyaman. Walaupun Serena sangat putus asa untuk mencari teman, dia bersedia meninggalkan kompartemennya kapan saja.

"Bagaimana kalau kita cari katakmu?" ajak Serena pada Neville. "Banyak orang di lorong, nanti dia bisa terinjak…"

Hermione mendengus tentang katak yang lebih gesit dan tidak mungkin terinjak. Tapi Neville ikut bangkit dengan gembira. Hermione mengikuti jejak mereka.

"Aku akan cari ke belakang!" seru Serena menghambur ke bagian belakang kereta.

"Jangan diinjak kalau ketemu, ya?" balas Neville.

Serena setengah mendengar apa yang dikatakan Neville Longbottom. Sebetulnya dia sangat berharap bisa menemukan satu kompartemen kosong yang tanpa anak-anak seperti Catelyn dan gengnya serta Hermione Granger.

.

.

.

Masalahnya adalah, saat kecapaian dan bersender pada gerbong paling ujung, Serena merasa dirinya terdorong ke belakang. Sebuah kompartemen kosong membuka kepadanya, seolah keberadaannya tidak pernah diketahui orang kalau tidak sengaja bersandar. Tersembunyi secara sihir…

Jendela membuka menghadapi jalan yang kini berupa hutan. Kompartemen itu terawat baik walaupun berbau apak. Serena tanpa sadar sudah duduk di tepiannya di dekat jendela.

Setelah beberapa detik yang ragu, Serena mengeluarkan tongkat sihirnya yang sejak tadi ada di sakunya. Dia mengeluarkan catatan rangkuman tentang dunia sihir. Lalu frustasi karena tidak ada satupun yang sama persis seperti yang bisa dikatakan Hermione.

Serena mengumpat keras, lalu meremas kertas dan membuangnya. Dia berfokus. Tongkat di tangan, pandangannya di gumpalan kertas. Dia mengacungkan tongkatnya, berharap sampai perutnya sakit bahwa kertas ringan itu harus terbang.

Tanpa mengucap mantra apapun, hanya dengan kekeraskepala-an yang hebat, kertas naik perlahan-lahan, mengikuti gerak tongkatnya, yang dia curi-lihat saat pamannya membuat barang-barang terbang. Segera saja gumpalan kertas itu ada di depan hidungnya.

"Mantra bagus…"

Serena nyaris terlompat. Gulungan kertasnya jatuh menggelinding ke kaki seseorang yang tampaknya sejak tadi ada di ambang pintu.

Serena hanya bisa melihat rambut pirang-perak anak itu tampak jatuh halus saat memungut kertas Serena.

Waktu anak itu menegakkan diri, barulah Serena melihat siapa yang mengagetkannya.

Pertama, mata yang begitu abu-abu seperti badai. Wajahnya runcing dengan seluruh garis wajah yang persis sama seperti anak-anak pangeran pada abad pertengahan di film-film. Aristrokasi yang sombong…

Pakaiannya sedikit mirip pamannya tapi tanpa kelusuhan dan kekusutan yang berarti. Jelas model terbaru dan termahal yang bisa dibeli dengan galleon. Bordiran dan beberapa pin perak memperjelas hal itu.

Sesuatu pada anak itu membuat Serena otomatis berdiri.

"Ini kompartemen rahasia ibuku dulu…" kata anak itu, sekarang Serena menyadari dia tampak sedang memberat-beratkan suaranya.

Serena amat canggung dan merasa memasuki kompartemen pribadi, sehingga dia memutuskan pergi.

"… maaf, aku…"

"Tidak! Bukan… Maksudku… Silakan duduk kembali…"

Mereka berkata berbarengan. Lalu terdiam dengan rikuh berbarengan. Anak itu mengangkat bungkusan penuh makanan di tangannya.

"Cuma perlu tempat tenang untuk makan… Kau tidak keberatan? Tidak suka keramaian, ya?"

Serena memutuskan aman untuk duduk kembali di ujung kursi saat anak itu duduk di hadapannya.

"Teman sekompartemenku membuat resah…" Serena mengelus puncak kepalanya. "Dia bilang dia sudah hafal seluruh isi bukunya…"

Wajah anak laki-laki itu terlihat lebih ramah saat dia nyengir.

"Aku sama sekali belum membuka buku manapun. Juga tidak bisa melakukan mantra melayang yang tadi kau lakukan. Padahal aku darah-murni… Maksudku seluruh keluargaku penyihir… Kau bisa tenang… Maksudku, aku Draco, Draco Malfoy…"

Kata-katanya diucapkan dengan tergesa sehingga Serena tidak menduga dia akan memperkenalkan diri. Serena menjabat uluran tangan anak yang bernama Draco itu agak terlalu cepat.

"S-Serena! Serena van der Woodsen!"

Dia sangat benci getaran pada suaranya sendiri, sehingga memutuskan untuk menambah sesuatu yang terdengar akrab.

"Draco dari mana? Yang menjaga pohon apel emas Hesperides? Atau penjaga bulu domba emas?"

Serena langsung tahu kata-katanya itu bodoh saat Draco memandangnya kosong.

"Sori?" tanyanya.

Serena mendapati dirinya mengelus puncak kepalanya lagi.

"Maaf… Maksudku dalam mitos Yunani. Kau tahu? Ada seekor naga. Namanya Draco. Pada zaman Hercules, naga itu menjaga pohon apel emas. Zaman Jason sebagai… Lupakan…"

"Tidak! Tidak!" Draco kelihatan tidak enak sekarang. "Kebanyakan orang tertawa mendengar namaku. Sebetulnya keluarga ibuku menamai anak-anak mereka dengan nama konstelasi bintang. Tapi aku baru dengar yang itu… Yah, mitos Yunani… Bagus sekali…"

"Oh…" Serena menanggapi dengan rikuh. "Ibumu cool…"

Draco menatap kosong lagi. "Trims, kurasa…"

Serena baru menyadari dia mengatakan keren dengan bahasa slang New York yang pastilah terdengar asing. Dia mengutuki kebodohan dan kecanggungannya menghadapi anak laki-laki. Hasil dari beberapa tahun bersekolah di sekolah khusus perempuan dan ketidakberadaan teman.

"Hei… Hei… Aku bawa banyak makanan…"

Serena sudah akan menolak, tapi Draco sudah menyodorkan satu pak besar cokelat padanya.

"Kau sudah pernah coba Cokelat Kodok? Ini enak… Dan ada kartu-koleksinya…"

Demi kesopanan, Serena mengambil cokelat itu dari tangan Draco sambil berterimakasih. Mereka mulai makan dengan hening. Serena berusaha berkonsentrasi pada kartu Albus Dumbledore-nya yang berkedip-kedip, sementara otaknya terasa berputar kencang saat memikirkan obrolan apalagi yang harus dia katakan kepada Draco.

"Jadi…" Draco memutuskan untuk memecah keheningan. Pipinya menggelembung penuh cokelat. "Keluargamu ada yang penyihir? Aku belum pernah mendengar van der Woodsen…"

Serena menelan coklatnya, "Keluarga almarhum ibuku, serta paman dan bibiku saja kukira… Ayahku bukan. Aku percaya para penyihir menyebutnya muggle…"

Serena berharap dia hanya membayangkan ketika wajah Draco sama sekali tidak berekspresi, seolah dia sudah tahu… Atau lebih buruk lagi, kelihatan terganggu dengan status ayahnya. Dia tidak mau jadi tidak menyukai anak yang dengan baik hati mengajaknya mengobrol.

"Oh, maafkan aku tentang ibumu…"

Serena menggeleng kuat-kuat, "Yah, sekarang aku bisa melihatnya bergerak di foto-foto, terima kasih kepada fotografi-sihir…"

Mereka nyengir berbarengan.

"Dan kami tinggal di New York hampir seumur hidupku… Amerika… Jadi mungkin kau belum pernah dengar…"

"Itu menjelaskan banyak tentang aksenmu…"

Serena menaikkan alis, "Well, terima kasih karena tidak tertawa seperti orang lain. Atau kau hanya sedang berusaha sopan saja…"

"Tentu saja aku berusaha sopan. Kau tidak menertawai namaku…"

Mereka nyengir lagi, detik berikutnya tertawa. Suasana yang mencair sungguh melegakan. Serena lega sekali, karena saat itu Draco menawarinya kacang segala rasa Bertie Bott. Sulit memakan kacang yang benar-benar segala rasa itu apabila masih jaga image.

Serena sudah meludahkan ke luar jendela beberapa kacang yang bahkan dia sendiri tidak tahu rasa apa, diiringi tawa riang Draco. Serena membalasnya tak kalah heboh saat Draco berlari ke kamar kecil, muntah-muntah, saat memakan kacang rasa kotoran-kaki. Setelah itu mereka tidak berani menyentuh kacang itu lagi.

"Jadi, Yankee…" Draco menjulukinya julukan abadi yang melekat pada setiap anak Amerika. "Di asrama mana kau berharap ditempatkan?"

Draco meneguk jus labu kuning dingin, Serena ikut-ikutan menyeruput jus aneh itu pelan-pelan.

"Aku tidak tahu… Tapi seluruh keluarga ibuku di Ravenclaw… Bagaimana denganmu?"

"Slytherin…" ucap Draco seolah tidak menunggu jawaban Serena, lagi-lagi seakan dia sudah tahu…

"Nah, nah, aku tahu arti tatapanmu. Semua penyihir jahat berasal dari Slytherin… Jangan dekat-dekat mereka… Jangan berteman dengan mereka… Pasti begitu kata keluargamu…" tuduh Draco.

Serena mengernyit sebal, walaupun memang bibinya pernah berkata begitu saat menceritakan penyihir penjahat itu, Voldemort.

"Seperti yang kau bilang, aku Yankee… Kami menolak dinilai dan tidak menilai orang hanya dari tempat mereka tinggal…"

Draco tampak memikirkan kata-katanya. Serena menyesal dia mengatakan kata-kata yang sulit dan terdengar keras kepala. Semakin menegaskan diri bahwa dia kurang bergaul.

"Cheers!"

Draco mengangkat botolnya sambil nyengir menyetujui. Serena tertawa dan ikut bersulang.

Setelah kenyang, Draco, seperti kebanyakan anak laki-laki lain, menurut apa yang pernah diceritakan Anna padanya, membicarakan olahraga.

Serena menyimak dengan teliti setiap perkataan Draco. Hanya karena dia bilang mainnya naik sapu terbang…

"… jadi pemain Quidditch terdiri dari tiga Chaser untuk memasukkan Quaffle ke gawang. Keeper untuk menjaganya. Dua Beater untuk memukul Bludger pengganggu. Dan Seeker, untuk mencari Golden Snitch, bola yang amat cepat. Permainan berakhir saat Snitch ditangkap…"

"Jadi seperti permainan bola basket, sepak bola, dan baseball dimainkan bersamaan. Hanya saja mainnya di udara… Cool!"

Draco mengernyit tampak sebal, "Ini lebih daripada permainan muggle konyol… Jauh lebih berbahaya dan… Maafkan aku… Aku pikir… Yah! Syukurlah kau sudah tahu gambarannya…"

Draco pasti menyadari Serena yang mengernyit jauh lebih sebal daripadanya sehingga dia meminta maaf. Serena melihat tanda-tanda kesombongan pada Draco yang mungkin jauh lebih dalam daripada Hermione Granger. Tapi Serena sudah terbiasa menghadapi anak seperti itu, terlebih-lebih lagi jahat, saat dia di New York, sehingga dia mungkin bisa tahan sedikit…

"Aku pikir aku mau jadi Chaser…" Serena akhirnya berkata menutupi rasa bersalah Draco. "Dulu aku pernah main basket di sekolah… Sampai tidak ada anak yang mau setim denganku…"

Serena tersenyum dan menggelengkan kepala. Kebanyakan makan cokelat membuatnya bicara semakin ngawur.

"Kalau aku ingin jadi Seeker…" Draco membalasnya dengan mengawang-awang.

Serena menatapnya lekat-lekat, garis keras dan sombongnya hilang saat Draco menceritakan mimpinya. Sekarang dia terlihat hanya seperti anak laki-laki sebelas tahun biasa.

"Kalau kau pasti bisa…" kata Serena. "Kau tahu? Semua anak muggle memimpikan untuk bisa terbang… Kita beruntung sekali…"

Semburat merah muncul di pipi pucat Draco, "Yah, syukurlah, kau kemari… Maksudku, jadi bisa naik sapu terbang…"

Mereka berbicara lagi sampai matahari mulai turun. Draco terlihat cemas karena dia bolak-balik melihat ke pintu. Serena tidak mengerti mengapa Draco mau terus-terusan di sini bersamanya, padahal makanan mereka sudah habis. Tiba-tiba dia tersadar bahwa anak ini mungkin tidak mau terlihat tidak sopan.

Serena memutuskan untuk pura-pura kaget.

"Aku harus pergi untuk memberi makan Jasper!"

"Sori? Jasper?"

"Burung hantuku… Dia tidak suka terkurung…"

Mereka bangkit berbarengan.

"Oke kalau begitu…" kata Draco saat dia membukakan pintu.

Lorongnya sekarang dipenuhi anak-anak yang makin berisik.

"Sampai bertemu di Hogwarts, Yankee…"

Serena berbalik kepada Draco. Draco berdiri saja di tempatnya, tersenyum tulus kepadanya… Dibenci dan dianggap anak aneh dan menakutkan oleh semua orang hampir seumur hidupnya, Serena tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Jadi dia hanya bisa tersenyum lebar, melambai canggung dan berbalik lagi.

Wajahnya terasa panas, penuh cengiran konyol, sementara hatinya membuncah…

.

.

.

Katak Neville belum ditemukan. Hal itu sudah pasti karena Serena sama sekali tidak mencarinya tadi. Hermione, entah bagaimana, tampak tahu. Mungkin karena Serena yang tersenyum terus menerus.

Maka, saat kereta melambat dan berhenti, Hermione turun duluan dengan wajah terangkat tanpa menunggu. Neville yang terisak membuat Serena memutuskan untuk turun dengannya.

Serena harus menyeret Neville agar dia tidak terbawa arus gerombolan anak-anak kelas atas yang berjalan ke arah lain. Suara keras berseru kepada mereka.

"Kelas satu! Kemari! Kelas satu! Ikut aku!"

Suara itu terdengar familiar, Serena menyadari siluet raksasa dan merasa lega. Itu Hagrid, si raksasa yang ditemuinya di Gringotts. Dia bergegas menghampiri. Hagrid ternyata sedang menyapa anak terkenal berkacamata itu. Harry Potter.

Serena hampir-hampir merasa lega saat Harry ternyata masih mengingatnya.

"Semoga kita sekelas, eh?" kata Harry. "Ini Ron… Ron Weasley…"

Harry memperkenalkan anak tinggi kurus yang ada disebelahnya. Serena hanya sempat melambai karena saat itu Hagrid sudah menyuruh mereka berjalan.

Mereka menyusuri jalan sempit yang curam. Kegelapan yang pekat menaungi mereka. Tidak banyak yang berbicara.

"Sedetik lagi kalian akan melihat Hogwarts untuk pertama kali! Sesudah belokan ini!" seru Hagrid yang memimpin di depan.

Terdengar seruan "Ooooh!" keras.

Jalan itu mendadak membuka ke tepi danau luas yang gelap. Di atas gunung tinggi di seberang danau, Serena melihatnya…

Hogwarts…

Masalahnya, Serena yang besar di perkotaan, belum pernah melihat kastil sebelumnya. Apalagi kastil yang hidup kena cahaya…

Dia memikirkan Cinderella atau cerita-cerita dongeng lainnya. Mengijinkan dirinya ber-"oooh oooh…" keras bersama yang lain, sampai mereka menghadapi perahu-perahu kecil di sisi danau.

"Satu perahu hanya boleh diisi empat anak!" seru Hagrid.

Serena membantu Neville yang kesulitan naik perahu yang sama dengan Harry dan Ron, ketika Hermione menaikinya juga.

"Ops!" keluh Serena ketika kakinya terpeleset ke danau.

"Oh, maaf! Kau lama, sih…"

Terlihat seperti anak perempuan dari keluarga yang sopan dan pintar, Serena sama sekali tidak mengerti mengapa Hermione tampak tidak menyukainya. Tetapi sebagai anak baru yang sedang berusaha menjalani hidupnya dengan lebih baik, Serena memutuskan mengalah daripada mendorong Hermione dari perahu.

"Baiklah… Aku ke perahu lain…"

Dan untunglah dia masih mendapat satu yang kosong dengan tiga anak lainnya. Serena memandang ke sekeliling saat ratusan perahu maju sendiri. Tidak jelas apa yang dicarinya sampai dia berpikir bahwa tidak akan sulit mencari rambut pirang-perak dalam kegelapan sekalipun…

Katak Neville ditemukan Hagrid saat mereka turun dari perahu. Kemudian mereka mendaki lagi sampai ke hamparan rumput halus berembun tepat d depan bayangan kastil. Mereka mendaki undakan batu dan berkerumun di depan pintu yang membuat pintu rumah Serena terlihat bagaikan pintu masuk-kucing.

"Semua sudah di sini? Kau, katakmu masih ada?"

Hagrid menggedor pintu tersebut.

.

.

.

Serena manatap mata wanita tua tersebut. Kacamata kotaknya agak mirip dengan lingkaran hitam di mata Jasper. Gelung ketatnya mengingatkan Serena pada Kepala Sekolah Grey. Walaupun jelas bagi Serena bahwa akan sangat sulit bersikap membangkang pada penyihir ini.

Anak-anak mengikuti Profesor yang diperkenalkan Hagrid sebagai Profesor McGonagall melintasi lantai batu dan memasuki ruangan kecil alih-alih pintu besar yang terdengar ramai di sebelahnya.

"Selamat datang di Hogwarts, " kata Profesor McGonagall. "Pesta awal tahun ajaran baru akan segera dimulai, tetapi sebelum kalian mengambil tempat duduk di Aula Besar, kalian akan diseleksi masuk rumah asrama mana. Seleksi ini upacara yang sangat penting…"

Serena berhenti mendengarkan saat Profesor McGonagall menyebutkan nama asrama Hogwarts satu persatu. Gryffindor, Hufflepuff, Ravenclaw, dan Slytherin. Perutnya mulas lagi dan dia merasa mulutnya pahit. Serena tidak pernah dipilih dalam kelompok apapun saat dia di The Bradley. Bagaimana kalau tim penyeleksi, atau dengan cara apapun mereka menyeleksi murid baru, tidak memilihnya masuk asrama manapun?

Profesor McGonagall meninggalkan ruangan tanpa disadari Serena. Disebelahnya, Neville bergetar.

"Nenekku tidak memberitahuku akan ada seleksi. Katanya ini akan menjadi kejutan… Bagaimana denganmu? Kita akan di tes apa, ya?"

Serena belum sempat mengangkat bahu saat apa yang paling ditakutinya di dunianya dulu, berbondong-bondong menembus ruangan.

Berpuluh-puluh hantu melayang memasuki ruangan. Putih-perak. Berdebat tentang entah-apa. Mereka baru menyadari kekagetan anak-anak manusia setelah beberapa detik.

"Anak kelas satu! Akan segera diseleksi, kan?" tanya seorang hantu keperakan tersebut.

Untunglah Profesor McGonagall masuk ruangan kembali dan mengusir mereka.

Serena masuk barisan dengan Neville di belakangnya, menjauh dari Hermione. Perutnya mulas lagi setelah kekagetannya melihat hantu untuk pertama kalinya. Pintu ganda yang tadi mereka lewati tiba-tiba saja terbuka.

Pada mulanya, Serena seperti merasa memasuki gereja yang amat tua, ramai, dan dipenuhi lilin. Besar di kota dengan ribuan lampu beribu-ribu watt membuat Serena merasa ganjil melihat lilin-lilin sihiran melayang di atas kepala anak-anak yang telah duduk. Dua meja panjang berjajar di kanan-kiri jalan utama yang mereka lewati. Panji-panji melintang di atas meja tersebut. Hijau, Merah, lalu Kuning dan Biru di sisi lain.

Mereka berjalan diiringi beratus-ratus tatapan menuju meja panjang besar di atas undakan. Meja untuk para guru. Dia mendengar Hermione, yang ternyata masih berada dekat, berbisik, entah kepada siapa.

"Disihir supaya tampak seperti langit di luar. Aku baca dalam buku Sejarah Hogwarts."

Melawan keinginannya, Serena mendongak menatap langit-langit. Tetapi tidak ada langit-langit… Hanya ada langit gelap dengan jutaan bintang. Dia benar, seperti langit di luar. Rasanya seperti sedang kemping.

Di depan, Profesor McGonagall meletakkan sebuah topi penyihir. Kotor, berjumbai, dan sudah sobek-sobek. Serena baru saja berpikir seperti itu ketika topi itu bernyanyi.

"Oh, mungkin menurutmu aku jelek,

Tapi jangan menilaiku dari penampilanku,

Berani taruhan takkan bisa kautemukan

Topi yang lebih pandai dariku,

Jubahmu boleh hitam kelam,

Topimu licin dan tinggi,

Aku mengungguli semua itu

Karena di Hogwarts ini aku Topi Seleksi.

Tak ada apa pun dalam pikiranmu

Yang bisa kau sembunyikan dariku,

Jadi pakailah aku dan kau akan kuberitahu

Asrama mana yang cocok untukmu.

Mungkin kau sesuai dengan Gryffindor,

Tempat berkumpul mereka yang berhati berani dan jujur,

Keberanian, keuletan, dan kepahlawanan mereka

Membuat nama Gryffindor masyhur;

Mungkin juga Hufflepuff-lah tempatmu,

Bersama mereka yang adil dan setia,

Penghuni Hufflepuff sabar dan loyal

Kerja keras bukan beban bagi mereka;

Atau siapa tahu di Ravenclaw,

Kalau kau cerdas dan mau belajar,

Ini tempat para bijak dan cendekia,

Ajang berkumpul mereka yang pintar;

Atau bisa juga di Slytherin

Kau menemukan teman sehati,

Orang-orang licik ini menggunakan segala cara

Untuk mendapatkan kepuasan pribadi.

Jadi, segeralah pakai aku!

Janganlah takut dan jangan ragu!

Dijamin kau akan aman

Karena aku Topi Seleksi-mu!"

Seluruh Aula meledak dalam tepuk tangan, si topi membungkuk lalu kemudian diam lagi. Serena sedang tidak mau bertepuk. Tangannya dingin bukan main sehingga nyaris kaku. Profesor McGonagall membuat suasana jauh lebih menegangkan saat dia mengumumkan murid-murid yang dipanggil harus maju ke depan dan memakai si topi.

Entah bagaimana si topi akan menyeleksi mereka hanya dengan memakainya. Serena tahu dia harus berhenti bersikap skeptis dan kritis sekarang. Dia ada di dunia sihir. Dimana segala yang tidak mungkin, mungkin.

Anak perempuan dengan kepangan menjadi yang pertama maju ke depan. Si topi meneriakkan, "HUFFLEPUFF!" keras-keras sehingga meja dengan panji-panji kuning kenari meledak lagi dalam tepuk tangan.

Serena berharap si topi tidak perlu berteriak sekencang itu.

Beberapa menit berlalu saat semua meja sudah terisi beberapa anak baru ketika Profesor McGonagall memanggil Hermione Granger.

"GRYFFINDOR!"

Dia merasa mendengar Ron Weasley, teman Harry, mengeluh. Serena menatapnya dan tersenyum senang, menyadari ada seseorang yang merasakan hal yang sama terhadap Hermione.

Neville nyaris terjatuh saat Profesor McGonagall memanggilnya. Si topi butuh waktu lama sekali untuk menyeleksi Neville. Lalu meneriakkan "GRYFFINDOR!"

Serena tidak ikut tertawa saat anak-anak menertawai Neville yang lupa melepas topinya. Neville tampaknya baik hati walaupun Serena tidak yakin dia seberani itu saat kataknya hilang. Kumpulan anak-anak hanya tinggal setengahnya saat Draco Malfoy maju.

Serena belum sempat berkontak mata dengannya saat topi sudah meneriakkan, "SLYTHERIN!" bahkan sebelum dia sempat memakainya.

Anak-anak di meja dengan panji hijau, bertepuk riuh. Serena mengawasi Draco. Diberi selamat dan ditepuk-tepuk oleh beberapa orang. Beberapa anak tampak jahat dan menakutkan walau beberapa lagi tampak angkuh dan lumayan keren. Serena tidak bisa menghilangkan perasaan familiar yang ada pada wajah anak-anak itu. Lalu kemudian dia sadar, mereka mirip dengan Monica Rhodes dan gengnya dulu. Anak-anak populer yang suka menindas. Serena merasa berat hati lagi, Draco tidak tampak seperti Monica-Laki-laki saat mereka bertemu tadi…

"Potter, Harry!"

Harry maju diiringi beberapa bisikan penasaran. Beberapa jelas berdiri untuk melihat lebih jelas. Serena tidak menyalahkan mereka, dia pun sesungguhnya menganggap Harry, anak ajaib.

Serena memperhatikan untuk pertama kalinya kepala sekolah barunya, Albus Dumbledore. Dia sangat mirip dengan apa yang ada di kartu cokelat kodok. Kacamatanya berbentuk setengah lingkaran. Rambut dan janggutnya amat panjang dan putih. Dia memakai topi kerucut ungu yang lucu.

Perasaan lega tiba-tiba menjalari Serena. Dia merasa kepala sekolahnya kali ini tidak akan sama dengan kepala sekolah Grey. Dia terlihat bijaksana, seperti Merlin dalam dongeng Raja Arthur… Saat ini Profesor Dumbledore tampak tertarik juga melihat seleksi Harry.

Topi meneriakkan Gryffindor dan meja dengan panji-panji merah itu seperti meledak. Dua anak kembar, yang rambutnya merah menyala mirip Ron, menari-nari kegirangan. Serena tidak merasa terlalu aneh. Harry yang pahlawan sudah pasti sesuai dengan deskripsi si topi tentang seorang pemberani.

Masalahnya Serena tidak merasa dirinya pintar seperti Ravenclaw dan keluarganya. Juga tidak berani atau setia. Dia mulai menghitung-hitung seberapa sering dia berlaku licik. Tapi, akhirnya datang juga saatnya.

"van der Woodsen, Serena!"

Tangan Serena dikepalkan sementara dia maju. Apapun yang dibisikkan, dibicarakan ataupun yang dilakukan oleh anak lain sama sekali tidak terdengar olehnya. Serena duduk di ujung kursi, seolah kursi itu penuh jarum.

Serena tidak bisa melihat apa-apa lagi. Si topi merosot sampai ke hidungnya.

"Ah!" suara kecil mengiang di telinga Serena. "Nona yang berpikir-terlalu-banyak… Tapi itu bukan salahmu… Kau punya keturunan… Ah, ah… Aku tahu… Hmm… Loyal dan penuh kasih sayang, mungkin sebenarnya aku tahu kau harus ditempatkan dimana. Tapi… Hmm… ini ada lagi… Ada keinginan untuk membuktikan diri terlalu hebat dan keras kepala… Tapi, tapi… Hmm… Aku tetap harus cari yang terbaik… Nekad dan tidak mau diatur? Hmm… Tapi…"

Si topi rasanya sudah mengoceh seharian mengatakan sifat-sifat Serena. Matanya jadi berair karena tegang. Kata-kata yang diucapkannya pada Draco tadi sore seolah terjadi beberapa tahun lalu.

Walaupun dengan percaya diri dia berkata seseorang tidak bisa dinilai hanya dari asrama mereka, Serena tak urung merasa cemas. Si topi seolah bisa meneriakkan nasibnya kapan saja…

.

.

.