Disclaimer: This story is based on characters and situations created and owned by JK Rowling.

Pairings: Draco Malfoy/OC

Setting: Harry Potter and Sorcerer's Stone (Book & Movie)

The Two-Tale Heart

VIII

DRACO

Awalnya Draco menganggap pergi ke King's Cross tanpa diantar ayah-ibunya itu keren. Theodore dan Blaise jelas beranggapan begitu. Draco tidak akan tahan dianggap sebagai anak manja kalau menolak rencana ini.

"Jadi kita tinggalkan surat di kamar dan pergi lebih awal. Kau kan tidak mau kita tampak seperti bayi di depan semua anak baru itu? Jangan mengajak Crabbe dan Goyle! Nanti mereka malah membuka rencana kita… Kami menunggumu di stasiun. Jangan lupa, katakan Stasiun King's Cross Peron Sembilan Tiga Perempat. Kalau tidak, kau akan tersesat…"

Lidah api hijau menjilat-jilat kuping Theodore saat dia menghubungi Draco di perapiannya.

Seperti biasa, itulah yang dilakukan Draco. Dia lupa menyebut Peron Sembilan Tiga-Perempat-nya sewaktu api hijau floo sudah berkobar. Dia sampai di stasiun, hanya saja untuk melihat ekor keretanya pun dia sulit. Draco mendarat keras di perapian milik petugas batubara. Jelaga memenuhi seluruh tubuhnya. Penyihir petugas batubara itu mengusirnya pergi seperti mengusir anjing.

"Pergi, anak sialan! Jalan sana ke keretamu!"

Draco pergi tanpa disuruh dua kali. Dia menyeret kopernya yang berat dengan sangkar Stark, burung hantu barunya, di tangannya yang lain. Mengeluh, mengumpat, mengeluh lagi, dan mengumpat.

Draco menyadari jarak pintu stasiun dengan perapian petugas batubara sangat jauh. Karena, walaupun dia datang agak pagi, pada saat akhirnya dia bisa melihat kereta api merah Hogwarts Express, sudah banyak anak-anak yang mengerumuninya.

Draco berjalan secepat mungkin walaupun punggungnya sakit karena tadi mendarat keras. Tapi beberapa sempat melihat Draco, menunjuk dan tertawa. Dia sudah tidak sempat merasa marah lagi. Wajahnya yang coreng moreng terasa amat panas.

Tanpa sebab yang pasti dan tanpa penjelasan yang masuk akal, Draco berhenti mendadak saat melihat sekelompok orang di depannya.

Mereka tampaknya sedang melepas kepergian seorang anak. Dua diantara mereka memakai jubah. Dua diantaranya jelas-jelas muggle dengan setelan terbaik. Salah satunya besar dan berkulit hitam. Draco memperhatikan dengan setengah jijik karena dia sedang memeluk seseorang.

Rambutnya terurai berwarna cokelat gelap. Bergerak seirama saat si hitam mulai mengangkat dan memutar-mutarnya. Tangan kurusnya yang dibalut sweater merah muda memeluk erat bahu lelaki itu.

Draco mengernyit untuk memperhatikan anak yang mau memeluk muggle berkulit hitam itu. Lalu terdengar tawa riang bercampur sedu sedan. Jernih dan jelas diantara kerumunan anak-anak.

Hidung dan mata anak itu merah saat dia melepas pelukan, jelas habis menangis. Tapi sekarang dia tertawa lagi. Draco menahan nafas saat perasaan aneh kini menjalari dirinya.

Anak itu berjalan mundur ke kereta. Bahunya menabrak beberapa anak, tapi dia mengabaikannya. Keluarganya sama seperti dia, melambai, tertawa dan menangis bahagia…

Cahaya matahari yang menembus atap stasiun menyorot padanya, tepat pada saat dia menyibakkan rambut. Mata sembapnya terlihat jelas. Dengan warna yang berbeda…

Mungkin karena menyadari tatapan Draco, anak itu menoleh ke tempat Draco berdiri. Draco refleks membalikkan badan. Butuh waktu beberapa menit untuk dia sadar kebodohan yang dilakukannya. Mengapa dia harus sembunyi dari anak itu?

"DRACO LUCIUS MALFOY!"

Suara ibunya…

Belum sempat Draco menoleh balik, bahunya sudah sakit sekali. Kepala ular perak hinggap di bahunya. Penutup tongkat ayahnya…

Dia dalam masalah lagi. Lupakan perpisahan mengharukan seperti keluarga anak perempuan tadi. Dan dia sungguh-sungguh berharap anak itu sudah masuk kereta.

"Aku tidak membesarkanmu untuk menjadi seperti ini!" sentak ayahnya.

"… sayang, lihat dirimu begitu kotor!" kata ibunya berbarengan.

"Cepat masuk! Crabbe dan Goyle menempati kompartemen…"

"Scourgify!"

"Demi Merlin! Apa yang kau pikirkan sehingga…"

"Mana sikat rambutmu, Lucius!"

Draco hanya setengah mendengarkan. Pikirannya melayang…

.

.

.

"Potter? Potter yang itu?"

"Benarkah?"

"Di kompartemen belakang kudengar…"

"Harry Potter?"

Suara riuh rendah sampai bisikan-bisikan berseliweran melewati pintu kompartemen yang diduduki Draco.

"Bagaimana? Kau mau melihatnya, Draco?"

Pansy bertanya padanya, sambil membelai bulu Stark.

"Nanti saja…"

Draco membalas malas-malasan. Dia sudah rapi dan bersih lagi, berkat ibunya. Setelah puas mengusir Theodore dan Blaise yang tertawa terbahak karena mengetahui cerita tersesatnya, Pansy dan kawan-kawan ikut bergabung mengisi kekosongan. Crabbe dan Goyle serta anak-anak lain yang mengelilingi dia layaknya anak populer, tidak bisa mengalihkan perhatian Draco.

Dia sungguh penasaran kepada anak itu melebihi rasa penasarannya terhadap Harry Potter. Sehingga pada waktu troli makan siang datang, Draco bangkit dan memborong semuanya, memasukkan beberapa ke kantong plastik.

"Ambil itu…" serunya pada anak-anak yang bersorak dan Crabbe serta Goyle yang menggerung senang karena ditraktir. "Aku ada perlu sebentar…"

Draco meninggalkan kompartemen. Mulai mencari. Si anak perempuan yang dibesarkan muggle itu mungkin belum pernah mencoba Cokelat Kodok…

.

.

.

Lampu-lampu Hogwarts Express sudah mulai dinyalakan. Draco kesulitan berkonsentrasi pada waktu. Serena van der Woodsen tersenyum kepadanya. Rambut coklat panjangnya tergerai di punggung saat dia berbalik.

Pikiran Draco masih dipenuhi cara tertawa anak itu yang seperti anak empat tahun. Atau mata hijau-birunya yang berbinar saat mendengar apapun yang diocehkan Draco. Atau saat dia berkata dengan tegas bahwa seseorang tidak bisa dinilai hanya dari asrama mereka. Draco tidak ingat pernah diperlakukan begitu ramah.

Tetapi juga bingung. Dia kesulitan membanggakan diri. Sulit untuk tidak meminta maaf saat sesuatu yang dikatakannya mengganggu anak itu. Dan sekarang, semua yang tadi dibicarakannya kepada Serena terasa konyol semua.

"Draco…"

Seseorang menggeram. Ternyata Goyle yang menyusulnya bersama Crabbe. Draco lega Serena sudah jauh di depan. Walaupun bodoh, siapa yang bisa menyangka mereka akan membocorkan kalau Draco kabur dari teman-temannya hanya untuk berkenalan dengan anak perempuan yang dibesarkan oleh muggle?

"Mau mengunjungi Harry Potter?" tanya Crabbe dengan suaranya yang lembut, kontras dengan tubuh bongsornya.

Draco mengernyit sebal, "Buat apa…"

Kemudian dia menyadari dia memang butuh alasan.

"Baik! Mari kita lihat anak yang bertahan hidup itu… Tampangnya pasti jelek. Lalu kita jadikan dia pesuruh kita kalau mau bergabung…"

.

.

.

Draco berjalan dengan susah payah saat mendaki jalan menuju danau. Kakinya menginjak genangan air, membasahi sepatunya. Draco mengumpat kesal walaupun pemandangan kastil Hogwarts yang memukau membentang di hadapannya.

Sudah cukup buruk si miskin Ron 'Weasel' menertawakan namanya. Si Harry 'Potty' bahkan tidak mau menjabat tangannya. Mereka tidak tahu dengan siapa mereka berhadapan.

Draco kembali tersenyum menghina saat anak-anak tidak bisa berhenti menganggumi Hogwarts. Dia berjalan dengan bersemangat saat mengikuti manusia liar itu berjalan ke pintu depan.

Dia nyaris tidak memperhatikan Profesor McGonagall, yang kata ayahnya adalah kepala asrama Gryffindor. Dia, seperti keluarganya yang dari Slytherin, bertekad untuk tidak mempedulikan anak-anak Gryffindor, melainkan menekan mereka kapanpun ada kesempatan.

"Anak-anak bodoh! Hanya memenuhi Hogwarts saja!" dengus Draco saat mendengar anak-anak yang ketakutan karena akan diseleksi.

Crabbe dan Goyle mendesis setuju.

Tapi Draco sulit mengatasi debaran hatinya sendiri saat dia berjalan menuju Aula Besar. Panji-panji dan lililn-lilin serta anak-anak yang memandang kepada mereka membuat Draco ciut lagi. Dia dengan cepat menguasai diri. Lalu memandang ke meja guru di bagian depan.

Draco melewatkan Kepala Sekolahnya sendiri, Albus Dumbledore, mengingat apa yang telah dikatakan ayahnya dan teman-temannya tentang si bodoh tua itu. Kepala Sekolah yang paling buruk yang bisa dipunyai Hogwarts.

Matanya memandang Quirrell, yang gemetar di kursinya. Tanpa disadari, dia ikut gemetar juga. Dengan hati-hati Draco menatap seseorang yang akan menjadi gurunya. Dia tampak benar-benar cemas. Ataukah itu hanya akting belaka?

Draco sudah mengetahui yang sebenarnya. Bagaimana dia mengancam ayah-ibunya entah untuk apa… Dan bagaimana kejadian pencurian di Gringotts itu terjadi. Draco tidak mengungkit hal itu kepada siapapun. Ayah-ibunya tetap menutupi. Lagipula Draco tidak yakin dia ingin cerita tentang histerianya terkurung di ruang gelap terungkap.

Dia memutuskan akan menghindari Quirrell sejauh mungkin. Walau penasaran setengah mati tentang apa yang diancamkan Quirrell pada keluarganya, Draco memilih untuk hidup aman dulu di hari pertamanya sekolah.

Untunglah, guru yang duduk di sebelah Quirrell adalah guru yang menjadi teman ayah-ibunya sejak lama. Severus Snape. Profesor Snape, dengan jubah hitam bagai kelelawar dan rambut yang tak kalah menjijikkan, bertemu mata dengan Draco, lalu tersenyum kepadanya. Draco membalas senyumannya. Dia tidak mengerti mengapa ayahnya sangat mengagumi Profesor yang tidak keren ini. Dan ibunya selalu berbicara tentang Snape seolah dia adalah adiknya yang hilang. Snape mengajar Ramuan. Kabarnya dia selalu menginginkan posisi guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, yang Draco tahu saat ini diduduki Quirrell.

Draco ikut hening saat Topi Seleksi mulai menyanyikan lagunya. Beberapa anak sampai terbengong-bengong sendiri saat melihat topi bernyanyi, sama seperti saat mereka melihat lilin-lilin melayang dan langit-yang-seperti-langit-malamnya. Draco mendapati dirinya menyeringai mengejek lagi. Menganggap mereka semua bodoh.

Tapi dia akan senang hati membiarkan Serena kagum kepada Hogwarts. Walaupun itu sampai terbengong-bengong. Draco mendapati dirinya mencari-cari lagi sampai lupa bertepuk saat Topi menyelesaikan nyanyiannya.

Crabbe dan Goyle langsung menduduki kursi di meja Slytherin saat mereka selesai diseleksi. Dengan bodohnya lupa menyisakan kursi untuk Draco. Pandangan mereka sudah terpaku pada piring-piring emas.

Draco akhirnya melihat Serena dikerumunan anak. Dia tidak tahu harus berharap apa. Serena yang menyadari tatapannya dan tersenyum padanya atau tidak. Pansy masih menempel kepada Draco. Dan dia pasti akan canggung sekali kalau ketahuan mengenal Serena.

Tapi Serena sedang tertawa riang saat anak perempuan berambut lebat maju ke depan. Dan untuk membuat semuanya lebih buruk, dia tertawa bersama si Potter saat melihat ekspresi konyol Weasley. Draco merasakan getaran entah-apa yang sangat mengganggunya. Dia seharusnya memperingatkan Serena untuk tidak bergaul dengan jembel macam begitu sejak tadi…

Neville Longbottom, atau apa yang disebut ayahnya sebagai keluarga-penyihir yang payah, maju dengan bodohnya saat namanya dipanggil. Topi memerlukan waktu lama untuk menempatinya pada asrama yang pas. Draco, masih terganggu dengan kenyataan Serena akrab dengan Potter dan Weasley, berharap Longbottom tidak masuk asrama manapun dan langsung dipulangkan saja.

Tapi topi memutuskan untuk menempatinya di Gryffindor. Draco merasa amat sangat lega bisa dengan bebas menindasnya sampai dia harus didorong Pansy saat McGonagall memanggil namanya.

Draco bahkan tidak harus memakai topi itu karena dia sudah memberikan "SLYTHERIN!" sesuai kemauan Draco.

Draco turun dengan bangga saat meja dengan panji hijau dan ular perak itu menyambutnya bagai anak raja. Dia duduk puas saat melihat Theodore juga dimasukkan ke Slytherin.

Tetapi sambutan yang paling meriah ditujukan saat Harry Potter, anak yang bertahan sombong itu, masuk Gryffindor. Bergabung dengan semua keluarga Weasley yang miskin dan Longbottom.

"Biarkan mereka semua membusuk di Gryffindor!" desis Draco kepada Theodore saat mengalihkan perhatiannya dari Albus Dumbledore yang juga ikut bertepuk riuh untuk Potter.

"Hei, lihat dia…"

Theodore menunjuk seseorang, jelas tidak peduli pada omongan Draco. Theodore, Draco sekarang takut tanpa alasan yang jelas, menunjuk Serena, yang sekarang putih pucat dalam temaram sinar lilin.

"Apa?" tanya Draco pura-pura tidak tahu.

Tapi Theodore sudah sibuk berkontak mata dengan Blaise, yang masih belum diseleksi.

"van der Woodsen, Serena!" akhirnya dipanggil oleh McGonagall setelah beberapa lama.

Serena maju dengan kedua tangan terkepal, jelas sangat tegang. Dia duduk diujung kursi, sikap yang sama saat dia menduduki kursi kompartemen bersama Draco tadi.

"Terlalu berlebihankah kalau kita berseru-seru memintanya di Slytherin?" Theodore nyengir kepada Draco.

Theodore bukan satu-satunya. Draco menyadari beberapa anak laki-laki banyak yang berbisik-bisik memandangi Serena. Yang perempuan, seperti biasa saat ada anak perempuan lain yang begitu menarik perhatian, memandangnya dengan kegalakan luar biasa.

Draco berusaha tidak melihat Marc Zabini, yang kata Blaise, mengincar Serena bahkan sebelum dia tahu yang mana anaknya. Marc menjulurkan kepala untuk melihat lebih jelas. Draco sungguh berharap Marc tidak akan pernah tahu…

Topi memerlukan waktu yang lama untuk menyeleksi Serena. Draco tidak tahu mengapa, seharusnya dia sudah ditempatkan di Ravenclaw, seperti keluarganya yang lain. Draco memandang diam-diam ke topi yang sekarang menyembunyikan mata Serena.

Apakah dia berharap terlalu tinggi kalau menginginkan Serena untuk menjadi penghuni Slytherin?

Apa yang diteriakkan Topi Seleksi kemudian sama sekali tidak masuk akal.

"GRYFFINDOR!"

Meja di depan Draco bersorak riuh, sementara Theoodore dan anak-anak lain yang mata keranjang seperti Marc jelas-jelas mengeluh. Serena, dengan senyum canggungnya yang seperti biasa, kini berjalan menuju meja di depan meja panjang Slytherin. Anak kembar Weasley dengan kurang ajar merangkul bahunya. Dia duduk di sebelah Longbottom yang tersenyum amat lega memandangi Serena.

Semua itu membuat Draco ingin muntah.

Tapi kepala Serena terus menjulur ke meja Slytherin-nya diantara lautan kepala. Hanya ketika dia berhenti saat matanya menangkap mata Draco, Draco tahu Serena sedang mencarinya…

Untunglah, saat itu Baron Berdarah, si hantu Slytherin, memilih untuk duduk disebelahnya. Perhatian Draco teralih. Apapun yang terjadi, apapun yang Serena katakan padanya tentang asrama-asrama mereka. Draco sulit untuk menerima. Bagaimanapun, Slytherin dan Gryffindor. Ular dan Singa tidak akan pernah cocok, sejak saat mereka mendirikan Hogwarts sekalipun…

.

.

.