Disclaimer: This story is based on characters and situations created and owned by JK Rowling.
And Cecily von Zigesar and George R R Martin for some character's name (sorry for not mention this earlier)
Pairings: Draco Malfoy/OC
Setting: Harry Potter and Sorcerer's Stone (Book & Movie)
The Two-Tale Heart
IX
SERENA
Matahari bahkan belum muncul saat Serena duduk di kursi yang paling dekat dengan jendela. Suasana sepi dan mengantuk yang menyelubungi ruang rekreasi Gryffindor tidak cukup untuk mengalahkan perasaan bersalahnya.
Dengan perkamen tergulung dan pena-bulu di tangan, Serena mulai menulis surat untuk ayahnya. Yang terlambat lima hari semenjak dia memasuki Hogwarts.
Serena bahkan belum sempat mengabari paman dan bibinya bahwa dia terpilih masuk ke asrama Gryffindor alih-alih Ravenclaw, asrama keluarganya sejak jaman dahulu. Serena mengeluh akan panjangnya surat yang harus dia jelaskan. Berjanji ternyata lebih mudah daripada menepati.
Tetapi dia tidak mengeluh satu kali pun sejak dia dan teman-teman seasramanya diantar Percy Weasley, si Prefek Gryffindor, menuju kamar-kamar mereka.
Serena berhasil mendapat tempat tidur tepat di pinggir jendela yang berbentuk wajik-wajik kecil. Dia menatap ke kejauhan dengan kagum, walau yang terlihat hanya kegelapan hutan.
Teman sekamarnya ada tiga orang. Anak perempuan berambut hitam panjang yang bernama Parvati Patil. Dan yang berambut cokelat kepirangan adalah Lavender Brown.
Satu lagi sudah tentu adalah Hermione Granger. Yang langsung sibuk menata buku-bukunya sesuai abjad pada rak di sebelah tempat tidur. Serena, yang terlalu malas karena kebanyakan makan es krim cokelat, bahkan tidak sempat membuka kaus kakinya. Dia langsung tertidur dengan perasaan bahagia.
Dia tidak lagi takut bangun dan mendapati semua hanya mimpi… Semua betul-betul nyata…
Minggu pertama di Hogwarts merupakan suatu kemajuan besar bagi Serena. Karena dia akhirnya mendapatkan teman.
Neville Longbottom awalnya tidak terlihat sebagai seseorang yang pas untuk dijadikan teman. Tetapi Serena kesulitan mencari bahan pembicaraan dengan Parvati dan Lavender karena mereka terlalu cewek. Bahkan terkadang Serena mendapat kesan mereka terganggu dengan kehadirannya. Hermione sudah jelas. Dia memperlakukan anak lain sama ngebosnya seperti kepada Serena, sehingga dia tenang. Sikap bermusuhan Hermione sudah Serena anggap sebagai bonus.
Harry dan Ron terlalu sibuk dengan penggemar mereka. Well, penggemar Harry. Serena juga cocok dengan Seamus Finnigan yang kocak dan Dean Thomas, yang sama-sama dibesarkan keluarga muggle. Tetapi mereka terkadang menatap malu-malu kepada Serena, membuatnya jengah sendiri.
Neville yang pelupa, ceroboh, penakut dan cengeng, tanpa diduga adalah satu-satunya yang membuat Serena paling nyaman.
Mereka tersesat terus saat mencari kelas yang membuat Serena justru semakin mengenali kastil yang luar biasa luas itu. Mengingatkan Neville akan sesuatu membuat Serena lebih siap terhadap keperluannya sendiri. Neville tidak pernah marah kalau Serena menertawai kesialannya. Tapi terutama, Neville tidak memandang Serena seperti anak lainnya.
Pada hari ketiga, Neville tampak menyadarinya.
"Kau tahu? Kau bisa saja bergabung dengan anak yang lebih oke dari aku…" bisik Neville saat mereka berusaha mengubah korek api menjadi jarum pada pelajaran Transfigurasi.
Serena setengah yakin koreknya akan berubah menjadi jarum kalau saja Neville, dan bel yang berbunyi nyaring, tidak mengacaukan konsentrasinya.
"Ap-apa?" tanya Serena tidak fokus.
Profesor McGonagall, guru Transfigurasi sekaligus kepala asrama mereka, mengalihkan lagi perhaian murid-murid dengan menunjukkan bahwa Hermione adalah satu-satunya yang berhasil mengubah koreknya menjadi jarum.
Serena mengijinkan diri untuk mengeluarkan ekspresi iri dan sebal, yang juga dilakukan seluruh kelas, pada Hermione yang tampak amat puas.
"Menurutku kau oke, Nev!" kata Serena mengulurkan buku-buku Neville yang lupa dia masukkan ke tasnya sendiri.
Serena berjalan sambil memandangi anak-anak lain yang membanjir menuju Aula Besar untuk makan siang. Beberapa ada yang memandangnya dengan senyum ramah. Beberapa mengernyit dan mencemooh. Beberapa bahkan tidak merasa perlu memandangi anak kelas satu.
Serena memutuskan dia akan balas tersenyum kepada yang ramah-ramah saja, mengingat niatnya untuk menjalani kehidupan sekolah yang lebih baik. Sulitnya, mereka yang ramah kebanyakan adalah anak laki-laki.
Serena memutuskan untuk tidak mengabarkan ini kepada ayahnya.
Tetapi dia tidak bisa menahan diri untuk menuliskan bagaimana si Topi Seleksi menempatkannya di Gryffindor. Serena sama sekali tidak merasa dia berani dan berhati mulia seperti para pahlawan di film. Dia berharap ayahnya akan lapang dada seperti biasanya, mengingat Serena tidak mengikuti jejak ibunya. Dan lagi Serena merasa lebih mirip ayahnya…
Serena juga menceritakan betapa lucunya Profesor Flitwick. Guru yang kecil mungil dengan suaranya mencericit, memimpin paduan suara Hogwarts dan mengajar Mantra.
Dia setengah berbohong saat menceritakan bahwa dia selalu bersemangat mendengarkan Profesor Binns, guru-hantu satu-satunya di Hogwarts, saat pelajaran Sejarah. Sejujurnya, dia tertidur sepanjang pelajaran karena bosan. Hermione memandangnya penuh cemooh. Jadi Serena memutuskan untuk menutupi diri dengan Sejarah Sihir-nya Bathilda Bagshot ketika mulai mengantuk.
Mereka juga mempelajari Astronomi secara langsung pada malam hari. Lalu siang harinya mengunjungi rumah-rumah kaca penuh tanaman asing yang ajaib. Serena sesungguhnya enggan bergumul dengan pupuk-kotoran dan berbagai cacing tanah. Tetapi Neville melakukan semua pekerjaan kotor untuk Serena sehingga dia amat berterima kasih. Herbologi yang diajar Profesor Sprout tampaknya adalah favorit Neville.
Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam yang sudah ditunggu-tunggu semua anak ternyata mengecewakan. Serena hanya duduk di kelas, tidak tahu caranya mempertahankan diri kalau diserang, sementara menatapi Profesor Quirrell yang gugup dan takut bahkan untuk menceritakan pengalamannya. Mata Serena sudah perih sekali karena bau bawang putih yang menguar dari turban Quirrell.
Serena tersenyum saat menyadari bahwa, walaupun ada beberapa anak yang tetap tertawa mengejek saat mendengar logat Amerikanya, ataupun menatapnya dengan pandangan mencemooh, dan dia hanya punya sedikit teman, setidaknya berada di Hogwarts terasa agak mirip di rumah sendiri…
Lalu ada Draco Malfoy…
Serena berhenti menulis surat. Mengijinkan pikirannya melayang. Ragu untuk menceritakan tentang anak itu bahkan kepada ayahnya sendiri.
Meja makan Gryffindor berseberangan dengan Slytherin di aula. Serena sudah sering sekali mencoba berkontak mata, bahkan terkadang ingin memanggilnya. Tetapi dia langsung mengurungkan niat karena Draco selalu dikelilingi teman-teman Slytherinnya yang memancarkan aura permusuhan.
Dia mulai berpikir Draco lupa kalau mereka pernah bertemu di Hogwarts Express.
Terkadang, untuk suatu saat yang aneh, Serena jadi iri pada Neville, yang kabarnya selalu digencet Draco dan gengnya kalau Serena tidak sedang bersamanya. Atau kepada Harry, yang tampaknya telah menandai Draco sebagai musuh utamanya.
Ini mungkin karena perbedaan asrama. Tetapi Draco kelihatan baik-baik saja saat mereka membahas ini di kereta. Serena mulai menghitung-hitung apakah ada anak Gryffindor yang berteman dengan anak Slytherin. Dia tidak menemukan satupun…
Serena bertanya kepada kakak kembar Ron, Fred dan George Weasley, mengapa Gryffindor dan Slytherin tampak selalu bermusuhan.
"Itu fakta dan bukan hanya tampaknya…" jawab Fred.
"Jangan terlalu memikirkan teman-teman kita itu, Serena sayang… Itu sudah sifat buruk mereka…" lanjut George.
"…karena terlalu lama berada di ruang bawah tanah yang bau…" sambung Fred.
"…dan sama licinnya seperti ular…" timpal George.
"…yang harus segera kita basmi. Eh, apakah aku sudah bilang bahwa mereka bau?" tanya Fred.
Percy Weasley si Prefek, kakak Ron yang satu lagi, berpendapat kurang lebih sama,
"Memang ada sisi positif dan negatif apabila kita memecah diri menjadi beberapa kelompok. Tetapi kita harus tetap fokus pada tujuan utama para pendiri sebelum kita. Bagiku, sih, semua omong kosong permusuhan antara Gryffindor dan Slytherin tidak masuk akal. Kita semua kan dilahirkan berbeda. Tapi kemarin Adrian Pucey dari Slytherin memang main curang saat pemilihan Ketua Murid. Aku tidak akan mengijinkan…"
Serena memotong karena dia teringat sesuatu yang tertinggal, lalu bergegas kabur dari kuliah Percy.
Dia bahkan sengaja ikut nimbrung dengan tiga pemain Quidditch Gryffindor saat mereka membahas kelicikan Slytherin di lapangan, tahun ajaran lalu, saat asrama Slytherin memenangkan piala.
"Mereka main kasar, itu sudah jelas!" Angelina Johnson yang tinggi besar berkata kepada Serena yang mengangguk-angguk. "Yah, itu sudah jadi khas mereka. Licik dan penuh rencana kotor…"
"Lihat saja apa yang mereka lakukan pada semua Chaser Hufflepuff tahun lalu," Alicia Spinnet yang kelas tujuh menimpali. "Hanya karena mereka kelahiran-muggle…"
"Apa maksudmu?" tanya Serena.
"Yah, kau tahu kan ada orang yang menganggap anak kelahiran-muggle itu sampah? Mereka kebanyakan ada di Slytherin… Yah, orang yang menyebalkan ada dimana-mana sih sebetulnya… Tapi kebanyakan anak Slytherin itu membanggakan diri mereka sebagai darah-murni… Ada beberapa yang memang berasal dari keluarga penyihir…"
"Kurasa aku tidak suka dianggap sampah…" kata Serena, tiba-tiba saja gundah dengan perkataan Alicia.
"Siapa yang suka, Ser…" timpal Angelina santai.
"Katakan saja aku pernah bertemu anak Slytherin yang awalnya tidak masalah dengan siapa aku dibesarkan…" Serena memutuskan untuk curhat, lebih karena ketiga anak perempuan ini menyenangkan dan tidak mengejek logat Amerikanya.
"Cowok kukira?" Katie Bell, yang termuda diantara mereka, angkat bicara dengan senyum menggoda. "Tentu saja mereka tidak akan keberatan, kau kan cantik…"
"Siapa bilang?" seru Serena kaget.
Ketiga anak itu kini tertawa-tawa riang menanggapi keluguannya.
Tetapi harapan Serena membumbung lagi waktu mengetahui Gryffindor akan sekelas dengan Slytherin pada mata pelajaran Ramuan di hari Jumat. Dia tidak tahu mengapa dia mempermasalahkan sikap Draco Malfoy. Draco yang ditemuinya di kereta tampak menyenangkan. Apa yang membuatnya berubah?
"Aku payah dalam Ramuan… Aku tidak bisa merebus atau mencampurkan apapun dengan baik…" gumam Neville gugup pada saat armada burung hantu memasuki aula dan menjatuhkan surat-surat.
Serena mengambil surat dari paruh Jasper yang langsung mematukinya. Dia menganggap itu sebagai pengingat karena Serena sama sekali belum mulai membalasi surat-suratnya.
"Itu wajar kukira…" kata Serena menimpali, meneliti amplop bertulisan cakar ayam yang ditujukan padanya. "Laki-laki tidak biasa berada di dapur…"
Serena ingin sekali mengatakan Neville jarang bisa melakukan apapun dengan baik, tapi tidak jadi mengingat pertemanan mereka baru tumbuh. Jadi dia membandingkan kecerobohan Neville pada Ramuan layaknya kecerobohan laki-laki manapun dalam memasak.
Neville mengernyit kebingungan. Tetapi bibinya meracik ramuan penumbuh rambut sebagai perkenalan sewaktu mereka belajar bersama. Serena, dan pengasuhnya, Anna, sangat menikmatinya bagai ikut kelas masak.
"Hei! Ini dari Hagrid! Kau kenal, kan?" kata Serena saat membuka surat. "Dia bilang aku boleh ikut ke Hutan Terlarang hari Sabtu besok pagi-pagi sekali. Dia mau mengobati unicorn!"
Neville menggumamkan sesuatu tentang manusia serigala yang sama sekali tidak mengurungkan minat Serena.
Mereka turun ke ruang bawah tanah karena kelas Ramuan ada di sana. Mereka akan diajar oleh Profesor Severus Snape.
Serena dan Neville dengan canggung melewati gerombolan anak kelas atas Slytherin yang naik ke Aula Besar. Dia merasa beberapa anak memandanginya lagi. Serena menganggap hal itu biasa sebagai anak baru. Tetapi anak yang tinggi dengan rambut hitam dan mata biru cerah menatapnya sambil tersenyum sedemikian rupa. Lupa untuk balik tersenyum, hal itu malah membuat Serena malu dan segera membuang muka.
Dia masih bisa merasakan tatapan anak itu menusuk punggungnya saat menjauh.
Anak-anak perempuan Slytherin yang sudah mengantri di depan kelas menatap Serena berkebalikan dengan anak laki-laki tadi, yang anehnya, cukup familiar. Karena itu adalah tatapan Monica Rhodes dan gengnya.
Kejadiannya hanya sepersekian detik saat Serena mengalihkan diri dari pemandangan menyebalkan tersebut. Dia berselisih pandang dengan Draco. Tetapi Draco langsung berbicara lagi pada teman-temannya sambil lalu. Serena menjadi rikuh sendiri. Wajahnya terasa panas saat dia diam-diam mengerling Draco yang sudah memakai jubah seragam Slytherinnya. Dengan hitamnya yang pekat serta dasi rapi berkilau warna hijau dan silver, emblem ular peraknya berkilauan, membuat jubah Gryffindor Serena terlihat sangat kusam, menambah jurang perbedaan diantara mereka.
Neville, di sebelahnya, berusaha membuat dirinya kecil tak berarti. Beberapa teman Draco memandanginya dengan pandangan petinju kepada kantung tinju.
Profesor Snape sejauh ini adalah profesor yang memerankan guru galak di sekolah Hogwarts. Tetapi dia bukan sekedar berperan. Ternyata dia sungguh jahat, menurut pendapat Serena.
Snape menindas Harry terus-menerus, lalu mengurangi poin dari Gryffindor. Dan anak-anak Gryffindor lain diperlakukan sama saja. Hanya anak Slytherin-lah yang diperlakukan dengan baik. Serena sempat tersenyum sendiri saat Snape memperlakukan Draco bagai anak emas.
"Dia kepala asrama Slytherin…" bisik Parvati di sebelahnya. "Selalu berlaku tidak adil…"
Serena membenci orang yang pilih kasih lebih daripada apapun. Itu mengingatkannya pada Kepala Sekolah Grey di The Bradley. Tetapi alih-alih balik menyerang atau menerima begitu saja tindasan Snape, Serena memutuskan untuk menjadi yang terbaik sebagai tanda protes.
Jadi pada saat mereka selesai mencatat, Serena menggulung lengan jubahnya dengan semangat untuk merebus ramuan obat bisul. Snape mengkritiknya sama banyak dengan anak Gryffindor lain, tetapi Serena tidak mengeluh. Dia juga berusaha keras untuk tidak melirik Draco, yang sejak tadi dipuji-puji terus oleh Snape.
Anna, yang juga seorang koki berpengalaman, telah mengajarkan satu-dua hal tentang memasak kepada Serena. Dan Serena, yang dulu tidak punya kerjaan karena tidak punya teman, telah menguasai teknik Anna dengan lumayan baik. Dia berpendapat merebus ramuan kurang lebih sama. Besar-kecil api, cara mengaduk, penambahan yang sesuai takaran, urutan pemasukan bahan dan sebagainya. Serena senang sekali karena pengetahuan yang dia dapat di dunia muggle ternyata berguna. Jadi, kalau lain kali ada orang yang meremehkannya karena dia besar dengan muggle, mereka bisa makan kacang segala rasa rasa kotoran.
Tentu saja Ramuan tidak semudah memasak biasa. Kesalahan di sini tidak ditolerir. Selain bisa membuat peminumnya mati sebagai resiko paling utama, kesalahan juga dapat membuat ramuan meledak, kering-sekejap, atau bahkan melelehkan kuali seperti kuali milik Seamus yang dilelehkan oleh Neville.
Ramuan merembes sampai ke lantai batu membuat sol sepatu Lavender berlubang. Segera saja semua anak sudah berdiri di atas kursi mereka. Lengan dan kaki Neville yang tersiram ramuan kini ditumbuhi bisul-bisul merah.
Snape marah seperti kelelawar yang disuruh terbang pada siang hari. Neville menghampiri Serena yang masih di atas kursi, meminta bantuan. Serena sekuat tenaga menahan tawa saat Snape membentaknya agar mengantar Neville ke rumah sakit.
Dalam ketergesaan, Serena dengan hati-hati merangkul Neville agar bisulnya tidak pecah.
Madam Pomfrey, matron rumah sakit, mengobati Neville dengan membalurkan ramuan yang persis seperti yang mereka harus buat tadi. Serena mengijinkan diri untuk tertawa terbahak-bahak saat melihat Neville berlumur balsam putih seperti vampir. Neville, yang tadi menangis, kini bisa nyengir sedikit. Tetapi tetap menolak meninggalkan rumah sakit dengan wajah masih penuh balsam.
Serena terpaksa sendirian menuju kelas Ramuannya lagi. Kelas jelas sudah bubar. Kuali Serena masih berisikan ramuannya yang telah selesai ketika dia merasakan kehadiran seseorang di belakangnya.
Serena berteriak dan sikunya terbentur meja.
Dia tahu betul bahwa sangatlah tidak sopan untuk kaget dan ketakutan saat melihat seorang guru. Tetapi Snape begitu menakutkan dilihat dari dekat. Rambut sebahunya yang berminyak, hidung bengkok dan tatapannya yang jahat mengingatkan Serena pada film murahan yang dia tonton waktu Halloween dulu.
"Saya…" ujar Serena gugup, mengernyit karena sikunya sakit. "Maaf…"
"Dan apa yang kau pikir kau lakukan, Miss van der Woodsen? Sedikit bakat Ravenclaw membuatmu yakin kalau kau selalu benar?"
Snape mendesis tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan dari kuali Serena.
"Maaf?"
Serena tidak tahu darimana Snape tahu tentang keluarganya. Tapi mungkin juga Snape cukup kutu-buku untuk sering berbelanja di Flourish and Blotts.
Pikiran tentang Snape berbelanja dan bergunjing dengan Bibi Char sama sekali tidak bisa menenangkan Serena.
"Merebus siput bertanduk lebih lama agar cairannya berubah menjadi gel? Dan apakah aku mencium bau mint?"
Serena lega ternyata Snape sedang membicarakan ramuan yang telah Serena modifikasi sedikit.
"Di buku tertulis penambahan campuran setelah ramuan selesai tidak akan berbahaya untuk keseluruhan khasiat. Well, sebenarnya saya tidak tahu di buku mana, tapi bibi saya yang mengatakannya… Maka saya tambahkan mint untuk menyejukkan kulit yang sakit… Lamanya merebus siput juga tidak dijelaskan, yang penting hasil akhirnya berbentuk pasta. Tetapi dengan merebus siput agak lama, sari jelinya akan keluar sehingga transparan membentuk gel. Ini bagus untuk siapapun yang malu keluar dengan baluran putih di seluruh tubuhnya…"
Serena kini mengetahui bagaimana rasanya menjadi Hermione yang selalu menjawab pertanyaan di kelas, tidak memberikan kesempatan pada murid lain. Dan ternyata dia luar biasa puas. Menjadi anak emas ternyata bukan segalanya…
Sayangnya, Snape tidak puas.
"Potong sepuluh angka dari Gryffindor. Ramuan bukan sesuatu yang bisa kau coba-coba seperti memasak. Kehidupan dan kematian bisa ada di tanganmu. Dan izinkan aku menulis surat yang harus kau sampaikan kepada Profesor McGonagall. Aku akan mengabarkan padanya bahwa kau didetensi. Dua jam tiap malam sebelum pelajaran Ramuan kelas bodohmu. Aku butuh orang untuk menguliti puluhan tong binatang-binatang tak-bertulang belakang…"
.
.
.
Bercak tinta besar menodai surat Serena saat dia menghentakkan pena-bulu dengan kesal. Harry sudah mengeluh karena dia kehilangan angka di kelas Snape kemarin, tapi Serena bahkan tidak bisa bilang dia menghilangkan sepuluh angka. Terlebih lagi, menjadi murid pertama yang didetensi.
Bayangan akan bekerja di ruang bawah tanah untuk Snape sama sekali bukan kegiatan yang seharusnya ada di sekolah sihir. Tetapi, Serena berpikir sambil menggulung suratnya, memang tidak ada yang bilang bahwa dunia sihir hanya penuh hal-hal indah yang segalanya mudah. Dia memutuskan akan mengikuti instruksi buku sampai ke titik-koma seperti apa yang dilakukan Hermione.
Serena mulai menulis surat untuk paman-bibinya serta Robert dan Anna di rumah ketika matahari akhirnya muncul. Terdengar suara-suara dalam kamar-kamar di atasnya. Serena pergi ke kandang burung hantu dengan jari-jari kapalan.
Dia tidak kembali ke menara karena Neville tetap tidak mau diajak ke Hutan Terlarang. Akhirnya Serena pergi ke Aula Besar untuk membungkus susu cokelat di termos dan menjepitkan roti pada mulutnya. Dia tidak tahu apakah unicorn yang sakit mau makan gula batu atau tidak, maka dia membungkus wortel rebus sebagai tambahan gula batunya dan menghambur keluar.
Suasana pagi itu begitu luar biasa. Sejauh mata memandang hanya pohon kehijauan bersambung dengan pegunungan yang menjulang. Serena menghirup nafas dalam-dalam yang dimungkinkan mulutnya yang penuh roti.
Hagrid terlihat dari kejauhan, sedang melambai padanya di tepi hutan. Seekor anjing yang mirip anjing neraka dalam film-film, menyalak di sisinya.
Serena segera berlari menyeberangi halaman. Rambutnya beterbangan, tetapi dia tidak peduli.
Tidak ada satupun, bahkan detensi Snape dan Draco Malfoy, yang akan merusak hari ini…
.
.
.
