Disclaimer: This story is based on characters and situations created and owned by JK Rowling.

And Cecily von Zigesar and George R R Martin for some character's name (sorry for not mention this earlier)

Pairings: Draco Malfoy/OC

Setting: Harry Potter and Sorcerer's Stone (Book & Movie)

The Two-Tale Heart

X

DRACO

Dear Ayah dan Ibu,

Maaf aku baru sempat membalas surat-surat kalian. Permen-permennya enak semua, Bu. Dan terima kasih atas semua saran Ayah. Sangat berguna sekali.

Aku memang harus belajar lebih keras agar tidak kalah dari para darah-lumpur itu. Dan tentu saja, aku akan masuk tim Quidditch tahun depan. Marcus Flint, kapten tahun ini, sudah mengenal ayah sedari dulu.

Profesor Snape memang benar-benar baik. Dia memujiku kalau ramuan buatanku paling baik dibandingkan anak-anak Gryffindor sekalipun. Omong-omong tentang Gryffindor, Harry Potter yang ternyata sok terkenal itu masuk kesana, bersama dengan anak keluarga Weasley entah yang keberapa.

Untunglah di asrama Slytherin tidak ada jembel macam begitu. Lalu aku akan

Draco mengernyit memandang kata-kata yang baru dia tuliskan sendiri. Sekarang kehabisan ide. Dengan kesal, dia meremas perkamen itu dan membuangnya ke perapian. Api meretih menyedihkan saat tertimpa sampah perkamen Draco yang entah-sudah-keberapa.

Draco bersandar pada kursi malasnya, merasa lebih malas dari kursi tersebut. Menulis surat bukanlah salah satu hobinya. Terutama kalau dia diharuskan mengarang tentang apa yang sudah dia lakukan untuk membuat ayahnya bangga.

Seminggu di Hogwarts dan dia belum melakukan apapun yang ayahnya harap dia lakukan.

Masalahnya semua suasana di Hogwarts nyaris membuatnya lupa diri. Draco berjanji dia akan segera mengunjungi perpustakaan agar selangkah lebih maju dari teman-temannya. Tapi suasana di ruang rekreasi Slytherin yang rendah dan hangat amat mendukung untuk kegiatan berkumpul dan bersantai. Draco ingin melewatkan makan malam, seperti yang biasa ibunya lakukan dulu, untuk berdiskusi dengan para guru atau para prefek mengenai pelajaran-pelajaran tadi pagi. Tapi itu sulit saat bersama Crabbe dan Goyle yang memakan apapun yang tersaji di meja saat waktunya makan malam. Dan karena lelahnya, Draco terkadang terpaku di meja makan, ikut makan segala makanan enak yang tersaji. Para Prefek Slytherin juga tidak mengajarkan Draco apapun selain bagaimana cara mencari-cari kesalahan agar dapat mengurangi nilai anak-anak asrama lain, yang omong-omong, telah Draco kuasai dengan baik.

Dia merasa kalau dia menuliskan semua itu di suratnya, ayahnya sama sekali tidak akan bangga.

Draco memandang langit yang kini mulai berwarna biru muda hangat. Karena peraturan yang menyebutkan anak kelas satu tidak boleh naik sapu terbang sendiri, Draco belum terbang selama seminggu ini. Nalurinya tergelitik untuk memeriksa lemari sapu sekolah. Barangkali dia bisa mencoba satu untuk terbang…

Detensi, surat peringatan dari sekolah, dan ayahnya yang akan datang ke sekolah untuk marah-marah tiba-tiba beterbangan dalam pikiran Draco.

Rencana terbang langsung dia hapuskan dari pikirannya sementara dia berkonsentrasi untuk menulis surat lagi. Ibunya akan cemas kalau Draco tidak membalas juga.

Tetapi pintu-pintu kamar menjeblak di kejauhan, menandakan beberapa orang telah terbangun. Draco menatap perkamen dan pena-bulunya dengan perasaan bersalah, menyadari dia ingin ke aula besar untuk sarapan daripada menulis surat.

Beberapa menit kemudian, Crabbe dan Goyle menghampiri Draco. Pansy Parkinson dan beberapa teman ceweknya yang biasa, ikut menghampiri, berkata dengan suara tinggi khas anak perempuan yang ribut betapa mereka terlalu lelah di minggu pertama mereka ini. Pansy berusaha menggelayuti Draco. Rambut cokelatnya terlihat sehalus sutra hasil dari banyak ramuan mahal. Draco menyeringai karena Pansy tampak berusaha terlalu keras untuk mendapat perhatian Draco.

"Sosis!"

Goyle menggeram mengagetkan Draco saat mereka tiba di Aula Besar. Mereka langsung menuju meja makan untuk menyerbu sarapan pertama di pagi hari, sementara beberapa anak bahkan terlihat masih mual untuk makan.

Draco memutar matanya, berharap dia akan mendapat inspirasi untuk suratnya setelah minum secangkir kopi susu hangat.

Tetapi bukan inspirasi yang Draco dapat. Tetapi Serena van der Woodsen…

Draco memalingkan wajah, tetapi ternyata dia tidak bisa.

Serena, seperti yang biasanya dilakukan oleh orang yang sibuk dengan dunianya sendiri, sibuk memilah-milah gula batu dan potongan wortel. Berjanji untuk tidak memedulikannya lagi, Draco kesulitan berpaling.

Dia mengenakan sweater kodian Hogwarts hitamnya dengan bangga. Rambutnya terjepit asal kebelakang, tampak seperti belum disikat. Pada lengannya terdapat bercak-bercak tinta.

Draco sekarang menyadari, dengan agak gembira, bahwa dia bukan satu-satunya anak yang terpaksa bangun pagi buta untuk menulis surat.

Serena pergi keluar aula dengan roti bakar terjepit di mulutnya. Draco duduk di kursinya sendiri dan berusaha berkonsentrasi pada kopinya.

Malam pertama Serena van der Woodsen dipastikan menjadi murid asrama Gryffindor, Draco telah berjanji untuk melupakan perkenalan mereka di kereta. Wajah bahagia Serena di meja Gryffindor, dengan anak-anak macam Longbottom dan Weasley yang mengelilinginya membuat Draco muak.

"Dia hanya cewek biasa… Cewek biasa-biasa yang jelek dan dibesarkan oleh muggle Amerika yang berlogat payah…" kata Draco santai, malam seleksi yang lalu, saat Theodore mengeluh keras-keras karena Serena tidak menjadi penghuni Slytherin.

Theodore tidak memperhatikan saat Draco kelepasan berbicara tentang Serena seolah dia sudah mengenalnya. Draco bahkan yakin, bahwa beberapa anak cowok Slytherin, dan terutama Marc Zabini, tidak keberatan Serena adalah penghuni Gryffindor. Beberapa anak selalu mencari kesempatan untuk menatap lekat-lekat pada anak perempuan yang menyadari dirinya cantik saja tidak…

"Kau mau daftar jadi pemain cadangan?"

Thedore datang menghancurkan lamunan Draco saat dia melambai-lambaikan selebaran di depan hidungnya.

"Ap-Apa?"

"Quidditch. Anak kelas satu diperbolehkan mendaftar untuk pemain cadangan. Kalau dia bisa terbang tanpa jatuh setelah kelas terbang pertama. Kemungkinan kita akan menggantikan pemain inti sangat kecil, tapi siapa tahu?"

Pansy menggenggam tangan Draco dengan antusias, seolah dia yang akan bergabung.

"Kau pasti bisa, Draco! Aku yakin…"

Draco menarik tangannya.

"Cadangan? Tolong… Aku terbang dan bukannya hanya duduk di kursi… Orang payah macam apa…"

"Mungkin lebih baik bagimu untuk tetap menempel di tanah, Malfoy… Ibumu tidak akan senang melihatmu kotor. Dan ayahmu akan khawatir rambut pirang indah warisan keluarga Malfoy-nya berantakkan…"

Draco berpaling dengan kesal kepada suara mengejek yang memotong kata-katanya. Dia berharap bisa berkelahi dengan satu atau dua orang anak hari ini.

Sayangnya, ejekan itu berasal dari Marc Zabini.

Draco membenci dirnya sendiri yang tidak bisa balas mengata-ngatai Marc dan seringainya yang menyebalkan. Theodore tidak membantu, begitu juga Blaise yang ada di belakang Marc. Mereka saling bertukar senyum, lalu menunduk lagi.

Draco tahu persis mengapa Theodore, yang ingin masuk tim Quidditch, bersikap begitu. Marc adalah anggota tim Quidditch dan Blaise adalah adik tirinya.

Menyadari kekalahan Draco, Marc pergi dengan santai dengan teman-temannya sambil tertawa-tawa. Lebih parahnya, mereka menghampiri Marcus Flint, si kapten, yang baru memasuki aula.

Pansy-lah yang menyadarkan Draco dengan jari-jari gemuk di bahunya.

"Anak sial, Marc itu… Sudahlah, Draco…"

"Aku tidak butuh hiburanmu!" sentak Draco.

Draco melepas tangan Pansy dari bahunya.

"Sana pergi! Dan jangan ikuti aku!"

Pansy terhenyak, wajahnya memucat, lalu berlari dengan tersedu-sedu. Teman-teman perempuannya, Draco memperhatikan, tersenyum-senyum senang seolah mereka tidak peduli. Sungguh contoh pertemanan yang bagus.

"Draco… Rileks…" Blaise memulai.

"Aku rileks! Aku tidak peduli apa yang kalian katakan, atau anak lain katakan, atau orang tuaku katakan!"

Kata-katanya keluar tidak beraturan sehingga Draco kini mulai naik darah.

"Dan kalau ada yang beranii-berani bergabung dengan Marc Zabini sialan itu di tempat cadangan, aku akan pastikan dia menyesal seumur hidup…"

"Ayolah, Draco… Itu cuma Marc… Dia mengganggu semua orang…" protes Theodore.

"Kalau kau mau merendahkan dirimu sampai level cadangan, Theo, jangan dekat-dekat aku! Dan…"

Draco berpaling kepada Crabbe dan Goyle, mau mengancam ancaman yang sama. Tetapi dia tidak perlu khawatir mereka akan peduli pada Quidditch sekalipun. Saat ini mereka sedang sibuk mengunyah sosis panggang besar yang kelima.

Draco pergi sambil menghentakkan kakinya. Tanpa pengikut ataupun teman. Samar-samar dia merasa Marc tetap menertawainya, sedangkan teman-temannya tidak menyusulnya.

"Biarkan saja orang-orang bodoh itu tenggelam! Biarkan…"

Draco terus mengeluh dan mengumpat. Dalam hatinya dia sibuk bertanya.

"Mengapa yang aku lakukan selalu salah?"

.

.

.

Setelah hari agak siang dan suasana hati Draco sama sekali belum membaik, Draco memutuskan untuk mencari sapu terbang dari lemari sapu yang dia kotak-katik dengan tongkatnya. Ternyata berhasil. Draco mengambil satu sapu yang lumayan bagus. Lalu dengan perlahan, Draco terbang ke atas, berharap tidak ada yang melihat.

Pohon apel yang rimbun di sisi Hutan Terlarang adalah tempat yang dipilih Draco untuk mendarat. Pohon itu terasa nyaman. Draco mulai memetik buahnya dan menggerigiti apel tersebut sambil menerawang.

Melihat pemandangan kehijauan terpampang dihadapannya membuat Draco teringat rumah. Dan betapa dia kesulitan untuk membuktikan diri bahkan kepada ayah-ibunya.

Sekarang mereka hanya punya posisi untuk anak kelas satu di bangku cadangan. Dan Draco sama sekali tidak mau ketinggalan dari Theodore. Tetapi, walaupun sudah satu minggu tidak bertemu, Draco bisa dengan jelas melihat ekspresi ayahnya kalau dia memutuskan bergabung.

Draco batal menggigit apel keenamnya karena telinganya menangkap suara di bawah. Dia segera saja siaga sementara tangan satunya memegang erat sapu terbangnya.

Ada yang datang menghampirinya dari kedalaman hutan. Walaupun saat itu terang, mau tidak mau Draco memikirkan hal-hal lain yang kabarnya tinggal di dalam hutan.

Ternyata itu suara nyanyian…

Kemungkinan suara paling jelek yang pernah didengar Draco. Yang satu lagi berat menggelegar sementara yang satu lagi memekik-mekik riang. Ada suara gonggongan anjing mengiringi.

"Hogwarts, Hogwarts, Hoggy Warty Hogwarts

Ajari kami sesuatu…"

"Guk! Guk!"

Draco memutar mata saat mendengar lagu wajib sekolahnya. Lalu memutuskan untuk terbang kembali ke kastil. Dia baru sampai di dahan yang terendah ketika melihat sumber suara.

Draco kenal rambut coklat dan sweater hitam itu.

Serena…

Draco terdiam kaku di sapunya, berharap dahan-dahan akan tetap menutupinya.

Serena tampak luar biasa kusut. Di rambutnya, bahkan dari ketinggian, Draco masih bisa melihat ranting-ranting yang menyangkut. Dia sedang menuntun anjing hitam besar yang tak hentinya menggonggong gembira dan menyeret kaki kecil Serena sepanjang jalan.

Di sebelahnya, yang membuat Draco lebih kaget lagi, ada si raksasa…

Draco tidak tahu siapa namanya selain dia raksasa liar yang mengantar si Harry Potter ke Diagon Alley, saat mereka pertama bertemu dulu. Juga yang mengantar anak-anak kelas satu ke Hogwarts lewat danau. Dan sekarang sebagai tambahannya, kenal dengan Serena dan membawanya ke hutan.

Draco menahan diri bahkan untuk mengernyit aneh tentang teman-teman pilihan anak perempuan itu, ketika si anjing hitam terlihat bingung dan mengendus-endus. Draco tidak berani bergerak, khawatir tertangkap basah walaupun dia tidak mengintip.

Tapi Serena dan si raksasa tampak tidak peduli dan sekarang berjalan menyeret anjing itu agar ikut berjalan.

Draco lega, tapi dia memutuskan untuk mengikuti mereka sampai keluar hutan.

Draco mendarat pelan di pohon besar, cukup untuk melihat Serena yang sekarang berpaling ke belakang. Seolah masuk ke Hutan Terlarang adalah sesuatu yang diinginkannya lagi.

"… dia tidak akan apa-apa?"

Draco hanya samar-samar mendengar suaranya. Si raksasa, sebaliknya, Draco mendengarnya dengan jelas.

"Tentu! Besok aku ganti perbannya! Sekarang dia tidur dulu… Nah, ayo makan!"

Draco tidak tahu apakah saat itu sudah waktunya makan siang. Yang dia hanya ingin lakukan adalah meneriakkan peringatan pada van der Woodsen bodoh itu bahwa berbahaya memakan apapun yang diberikan raksasa.

Alih-alih melakukan keinginannya, Draco terbang ke arah berlawanan dengan pondok batu jelek si raksasa. Draco mengelilingi lorong yang menghubungkan halaman dengan pintu masuk belakang kastil. Suasana sepi menggantung di udara. Lorong itu memang jarang dilewati murid Hogwarts, kecuali anak-anak seperti Serena van der Woodsen yang merasa perlu mengunjungi Hutan Terlarang dan raksasa bodoh yang berkeliaran di dalamnya.

Draco tercenung memandangi pondok butut tersebut. Berpikir bagaimana ada orang yang bisa tinggal di situ. Draco duduk di tepian pilar, kakinya menggantung di atas jurang parit berbatu di bawahnya. Matanya memandang jauh ke hutan…

Entah berapa lama dia melamun saat seseorang berdehem pelan di belakang Draco, mengagetkannya. Tetapi sepasang tangan menangkap bagian belakang jubah Draco, seolah takut Draco akan jatuh karena kedatangannya yang tiba-tiba.

"Maaf, aku tidak bermaksud mengagetkan! Tapi kau bisa jatuh!"

Draco berpaling dan mendapati Serena dengan takut-takut memegangi ujung jubah Draco. Tangannya diulurkan sejauh mungkin seolah hal ini adalah sesuatu yang amat canggung yang pernah dia lakukan.

Draco pasti melamun dengan sangat parah karena dia sama sekali tidak melihat anak ini keluar dari pondok.

Serena tampak benar-benar lelah dan kelihatan lapar. Tetapi mata hijau-birunya bersinar sementara pipinya kemerahan terselomot angin. Draco tiba-tiba saja mendapati dirinya tidak keberatan jubahnya dipegangi oleh anak yang dianggapnya aneh belakangan ini, hanya dengan melihat hal itu.

"Kau seharusnya turun…" kata Serena, dengan hati-hati melepaskan jubah Draco. "Kau bisa jatuh… Aku hanya mau bilang…"

Dia mundur perlahan. Lalu setelah yakin Draco tidak akan jatuh, Serena berbalik dan mulai berjalan memasuki kastil.

Draco tidak bisa menahan diri.

"Si raksasa tidak menyediakan makanan yang layak rupanya?"

Draco sadar dia menggunakan nada bicaranya yang paling jahat dan menyengat. Tapi dia tidak peduli.

Serena van der Woodsen sama seperti penghuni Gryffindor lainnya. Draco sudah melihat Pansy dan gengnya, bahkan beberapa anak perempuan di kelas yang lebih tinggi, mengincar Serena seperti sasaran kutukan berjalan.

Draco hanya memulainya terlebih dulu.

Serena berhenti berjalan, bahunya menegang. Dan seperti harapan Draco, dia berbalik.

Draco memperlihatkan senyuman sinis terbaiknya. Dia tidak lagi bersandar di pilar, memperlihatkan diri bahwa dia terlalu hebat untuk jatuh, seperti yang ditakuti anak itu.

"Namanya Hagrid…" kata Serena pelan, ada kilat waspada di matanya.

"Tentu…" kata Draco sambil lalu. "Kau pasti sangat sibuk sekali sampai-sampai minggu pertamamu di Hogwarts ditemani oleh raksasa keluar masuk hutan… Yang, kalau boleh kuingatkan, dilarang oleh Kepala Sekolah kita… Gryffindor akan kehilangan berapa angka lagi, ya?" tanya Draco pura-pura berpikir. "Setelah insiden teman gemukmu yang bodoh itu, kabarnya menyebabkanmu didetensi?"

Draco tidak tahu apakah kabar Profesor Snape telah mendetensi Serena itu benar. Draco cukup untuk membaca reaksi wajahnya setelah dia menanyainya. Draco bersiap menghadapi reaksi marah Serena.

Tetapi alih-alih marah, Draco kaget sekali ketika Serena tertawa.

"Hagrid bukan raksasa dan dia baik sekali. Neville bukanlah anak bodoh. Dan aku yakin Profesor McGonagall ingin sekali mengetahui mengapa anak kelas satu bisa terbang walaupun itu dilarang…"

Mata Serena terpaku pada sapu terbang yang ada di bawah kaki Draco, lalu pada rambutnya yang pasti berantakkan karena terbang. Sudah terlambat untuk menyembunyikannya sekarang.

"Aku mengambilnya dari lemari sapu…"

"Yang terkunci dan tidak boleh diambil sembarangan kudengar… yang sering diteriakkan Mr Filch…"

Draco seharusnya tahu bahwa akan sulit menekan anak ini. Dia telah mengenalnya sedikit di kereta kemarin, untuk tahu bahwa dibalik sikapnya yang seolah lembut dan canggung, ada kekeraskepalaan yang menyebalkan.

"Aku hanya berlatih untuk masuk tim cadangan Quidditch!" seru Draco, memutuskan untuk berbohong dalam usaha membela diri.

"Mereka membuka tim cadangan untuk kelas satu? Yahtzee!" seru Serena dengan bahasa-slank-bodoh Amerikanya.

"Terima kasih infonya… Terbang masih dilarang sampai mulai pelajaran terbang, kudengar... Dan omong-omong, apa yang akan dikatakan teman-teman Slytherin-mu kalau kau ketahuan membuntuti Serena yang aneh dan jelek dari Gryffindor ini sejak masuk ke hutan sampai makan siang di tempat Hagrid?"

Mata Serena membulat saat dia pura-pura berpikir. Lalu tersenyum menyeringai. Bedanya, seringainya saat ini seperti orang yang sedang tersanjung.

"Aw… Kau cukup perhatian untuk anak yang kukira sudah melupakanku semenjak kita turun dari Hogwarts Express…"

Serena sekarang tertawa dengan tawanya yang seperti anak empat tahun itu. Draco ingin sekali membantah, tapi dia kesulitan membuka mulut. Wajahnya terasa panas campuran dari rasa marah, dan terlebih lagi, malu.

Serena tampak menyadari bahwa dia telah menyerang Draco sampai telak. Dan Draco serius menanggapi kata-katanya. Wajahnya memerah juga, lalu menunduk. Ketika mendongak kepada Draco lagi, ekspresinya melembut.

"Kau benar-benar harus turun…" ujarnya pelan. "Semoga minggu pertamamu kemarin menyenangkan, Malfoy…"

Serena memanggil Draco dengan nama keluarganya, membuat segalanya lebih parah. Draco hanya sempat melihat rambutnya yang berkibar saat dia berbalik untuk berjalan lagi.

Draco menggeleng kuat-kuat, mengusir bayangan anak itu. Tetapi ternyata sulit… Akhirnya Draco naik ke atas sapunya. Pagi ini sudah cukup parah bagi Draco ditambah dengan serangan Serena dan pandangan matanya yang terakhir. Yang penuh belas kasihan. Dia tidak akan menulis surat pada ayahnya dan berkata dia telah kalah dari anak perempuan.

Draco terbang secepat kilat, lalu memotong jalan Serena di depan.

"Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Aku tidak takut dan tidak butuh perhatianmu. Karena di mataku, kau tetap sama seperti anak-anak sampah lain dari Gryffindor, van der Woodsen!"

.

.

.