Disclaimer: This story is based on characters and situations created and owned by JK Rowling.

And Cecily von Zigesar and George R R Martin for some character's name (sorry for not mention this earlier)

Pairings: Draco Malfoy/OC

Setting: Harry Potter and Sorcerer's Stone (Book & Movie)

The Two-Tale Heart

XII

DRACO

Draco memaksakan diri untuk tetap menyeringai walaupun dia sebenarnya kaget. Pansy ikut bersorak dengan beberapa anak perempuan yang pasti bertanggungjawab atas pelemparan kotoran naga tersebut. Mereka mulai merasa cemburu saat Marc Zabini terang-terangan memulai pendekatan kepada Serena.

Masalahnya, Draco tidak tahu harus bereaksi apa selain mengikuti anak-anak asramanya sendiri. Bahkan dari ketinggian tribun, Draco melihat Serena yang tadi amat marah, entah mengapa kini tertunduk lesu sesaat setelah menatap langsung kepada Draco.

Berupaya untuk tidak peduli, ternyata Draco kesulitan untuk berhenti bertanya-tanya apakah Serena menyangka dia pelakunya? Apakah Serena akan masuk jadi tim cadangan? Apakah tadi hanya perasaannya saja kalau Serena melihat langsung padanya? Bagaimanapun lapangan dan tribun amat jauh jaraknya…

Draco mengutuki dirinya sendiri yang memikirkan hal-hal tidak penting seperti ini.

"Potty bodoh itu memang kesayangan Dumbledore, kan? Dibelikan sapu Nimbus 2000 baru dan kepalanya melembung seperti dahi pitaknya. Padahal terbangnya biasa-biasa saja!"

Draco selalu mengatakan ini kepada siapapun yang mau mendengar, terutama dirinya sendiri dan ayahnya di rumah. Tetapi dia belum pernah melihat Harry Potter berlatih terbang. Saat melihat Serena, satu angkatan dengannya, anak perempuan yang dibesarkan oleh muggle, terbang, Draco dengan malu menyadari, bahwa dia mungkin tidaklah sehebat yang digembar-gemborkannya. Anak perempuan Gryffindor yang biasa, jauh dibalik bayangan Harry Potter sang anak ajaib kesayangan Kepala Sekolah, Serena terbang tinggi mengikuti kata hati, bukan kata-kata orang lain…

Draco turun dari tribun, memikirkan apakah dia sebaiknya ikut tim cadangan juga? Melepaskan harga diri demi berlatih agar menjadi lebih baik? Dia tidak yakin dia bisa menahan diri untuk terbang satu tahun lagi. Kotoran naga tampaknya tidak menghentikan Serena van der Woodsen. Lalu mengapa Draco tidak?

Draco baru menyadari bahwa Crabbe dan Goyle serta rombongan Pansy tidak mengikutinya. Tetapi Draco terus berjalan sendirian dengan pikiran-pikirannya. Draco menyesali itu saat Quirrell berdiri di lorong yang menuju ruang bawah tanah.

"A-ah-ah, bisa bicara sebentar? Mi-Mister Malfoy?"

Quirrell langsung meluncur menuju Draco yang mundur selangkah. Dia sudah menghindari Quirrell sejauh ini dan tidak pernah mau tahu apa masalah gurunya yang aneh ini.

"A-a-ahhh… J-j-jangan takut… H-hanya m-ma-mau t-t-tanya k-k-kabar o-o-o-orang t-t-tuamu… M-m-mereka b-b-b-belum b-b-balas s-s-suratku…"

Ada nada kesal dalam nada bicara Quirrell, kebalikan dengan kegagapannya.

"Mereka… sibuk… mungkin…" kata Draco, hampir sama gagapnya dengan Quirrell.

"T-t-tapi…"

Quirrell maju lagi mendekati Draco. Sesaat, Draco punya keinginan aneh untuk segera lari.

"Draco?"

Kelegaan pastilah terlihat pada wajah Draco karena Quirrell kini berganti memandang seseorang di belakang Draco.

"S-S-Severus?"

"Sedang apa kalian di sini?" tuntut Snape.

Draco menoleh ke belakang untuk meminta perlindungan Snape. Lalu ada sesuatu yang berdesir secepat kilat ke jantungnya.

Snape berjalan dengan Serena.

Serena masih memakai baju kaus Quidditch Gryffindor-nya. Sudah bebas kotoran, dia menatap Draco dengan cemberut.

"T-T-Tidak! H-h-hanya… t-t-tanya a-ap-ap-apakah h-h-hari i-i-ini m-m-menyenangkan?"

Draco tidak menjawab. Snape menatap Draco dan Quirrell bergantian.

"Nah, sudah pasti menyenangkan, bukan?" gumam Snape di sudut-sudut bibirnya. "Kalau kau tidak keberatan, Quirrell, Miss van der Woodsen ini lupa untuk mengisiki daun jelatang dari tangkai-tangkainya. Dia sangat egois, lebih mementingkan permainan bodoh itu dibanding hukumannya… Nah, Mr Malfoy, bagaimana kalau kau tunjukkan caranya pada Miss-yang-tidak-terpilih-sebagai-cadangan ini…"

"Saya tahu cara memetiki daun jelatang!" tolak Serena langsung setengah menggertak.

"Potong dua angka dari Gryffindor karena tidak sopan. Nah, sekarang, ayo kalian pergilah… Aku perlu bicara dengan Profesor Quirrell…"

Tidak ada jalan lain bagi Draco selain mengikuti Serena yang sudah berjalan secepat mungkin.

Sesampainya di ruang persiapan Ramuan, Serena langsung mencabuti jelatang-jelatang itu seolah dia sedang mengasah pisau. Draco mengambil satu batang jelatang dengan canggung. Keheningan berjalan amat tidak nyaman.

Draco baru berpikir apakah dia akan berani untuk berkata "terbangmu bagus", ataukah sebaliknya, ataukah dia akan seharian diam, saat Serena tiba-tiba menghardik.

"Terima kasih atas kotorannya, Malfoy. Kenapa kau tidak sekalian saja hantamkan Bludger dan kita tidak akan ada di sini berdua? Aku akan sangat berterima kasih…"

Draco merasa kupingnya panas.

"Bukan aku yang melakukan!"

"Yeah? Dan kabarnya kau yang menjebak Harry ke ruang piala agar Filch bisa menangkapnya…"

Serena mengambil beberapa batang jelatang lalu mengisikinya dengan ganas.

"Anak-anak cewek itu yang melakukannya. Mereka… Mereka iri karena Marc Zabini itu mendekatimu!"

"Aku bahkan tidak tahu siapa Marc Zabini…"

"Anak Quidditch yang memberimu handuk tadi…"

Serena berhenti bekerja dan Draco amat sangat berharap semburat merah pada wajah Serena itu hanya karena gatal jelatang.

Mereka diam lagi dan terus mencabuti daun-daun. Draco ingin sekali tidak peduli, atau meninggalkan Serena dengan rimbunan jelatangnya, tetapi dia sulit melepaskan pandangan dari anak perempuan di hadapannya, yang tampaknya mengalami minggu yang buruk sekali. Tangannya membengkak karena bilur-bilurnya tidak membaik. Matanya yang hijau-biru tetap membulat, tapi sekarang hanya menandakan bahwa dia sedang kesal.

"Sari Murtlap…" kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Draco.

Serena menatapnya dengan alis mata terangkat dan kening berkerut, masih mencemberuti Draco.

"Mintalah ke Madam Pomfrey. Ramuan untuk luka-luka gores. Tangan sebesar jahe tidak akan bisa membawa Quaffle dengan baik…"

"Kenapa kau memberi saran pada anak sampah seperti aku?" tuntut Serena.

"Aku hanya…"

"Dan jangan pikir hanya karena Sari Murtlap, aku tidak akan melemparkan Bludger padamu saat kau ujian nanti…"

"Bukan aku yang melemparnya!" sentak Draco kesal. " Dan aku tidak akan ikut jadi cadangan!"

"Kenapa? Terlalu takut untuk merusak tata rambutmu?"

Draco mendengar Serena mendengus yang sama sekali tidak lucu baginya. Kedengarannya seperti Marc Zabini dalam versi perempuan. Draco melempar jelatangnya ke meja.

"Aku akan terbang lebih baik daripadamu yang gagal, van der Woodsen!"

"Bring it on, Malfoy!" tantang Serena dengan bahasa bodoh Amerikanya lagi.

Draco meninggalkan Serena di ruang Ramuan. Dipenuhi amarah dan rasa sebal, Draco mulai berpikir bagaimana caranya dia meminta Marcus Flint untuk menerimanya di bangku cadangan. Dan bagaimana caranya agar ayahnya tidak tahu.

.

.

.

Quirrell dan apapun yang akan dia pinta dari Draco maupun kepada orang tuanya, terhapuskan dari pikiran Draco. Snape tampaknya bisa mengatasi semuanya, walaupun Quirrell masih sering mengerling dengan menakutkan sewaktu Draco mengikuti pelajaran Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam.

Blaise yang pertama kali mendengus saat mereka mengerjakan PR.

"Pansy!" seru Draco. "Jangan teteskan tinta di perkamenku! Dan apa kataku tentang perapalan mantra tadi? Yah, silakan kalau kau menganggap ini lucu, Blaise!"

Draco menatap garang pada Blaise sementara Pansy menuliskan apa yang didiktekan Draco untuk PR-nya. Dia telah membicarakan keinginannya untuk ikut tes cadangan pada Marcus Flint, si kapten Slytherin. Dan seperti yang diduganya, semuanya menertawakan. Draco menjadi kesal dan malas menulisi PR-nya.

"Kau yang pertama bilang bahwa…" protes Theodore yang kemarin diancam Draco karena mau ikut tes juga.

"Lupakan apa yang pernah kubilang! Dan aku pinjam sapumu, Theo. Komet lebih baik daripada sapu-sapu Bintang Jatuh punya sekolah. Dan aku tidak bisa minta Ayah membelikan Nimbus. Nanti dia akan tahu aku ikut tim cadangan, atau yang lebih parah, anak lain akan menuduhku ikut-ikutan si Potty!"

"Cewek van der Woodsen itu naik Bintang Jatuh tapi terbangnya cukup cepat…" kata Theodore, tampak tidak mau sapunya dipinjam Draco.

"Bagaimana kau tahu dia naik Bintang Jatuh?" tanya Blaise, wajahnya melembut.

"Diggory dari Hufflepuff itu yang bilang pada teman-temannya…"

Draco mengerling mendengar nama baru itu, tapi sebelum dia bisa berkomentar, Pansy sudah mulai duluan.

"Cedric Diggory yang itu?" serunya dengan nafas tertahan. "Oh, bagus sekali. Sekarang anak-anak Hufflepuff yang akan melemparinya kotoran naga…"

Pansy tertawa mengejek bersama dengan anak-anak perempuan lainnya. Draco ingin sekali menggertak bahwa dia tidak mau nama Serena disebut-sebut sampai ruang rekreasinya, tapi tidak punya alasan yang tepat.

Jadi dia hanya beranjak untuk tidur lebih awal dan berharap agar tidak tampak konyol seperti calon anggota cadangan lainnya besok.

Atau lebih parah, Serena ingat janjinya untuk menghantam Draco dengan Bludger…

.

.

.

Komet yang dipinjam-paksa dari Theodore bergetar di tangan Draco. Draco memaksanya terbang cepat sampai batas terakhir. Kalaupun sapu terbang Theodore rusak, Draco bisa dengan mudah menggantinya nanti.

Tidak seperti Serena yang berurusan dengan bola merah Quaffle, Draco yang ingin posisi Seeker dalam Quidditch, berhadapan dengan bola emas Snitch. Bola kecil bersayap yang terbang amat cepat, sulit terlihat tetapi apabila berhasil ditangkap, pertandingan akan selesai dan memberi si Seeker seratus lima puluh poin.

Penentu pertandingan. Draco merasa itu amat pas dengannya.

Mungkin energi kemarahannya yang akhir-akhir ini keluar membuat Draco fokus dengan baik. Setelah menabrak keras dua Beater yang berpura-pura menjadi penyerangnya, si mungil bersayap itu ada dalam genggamannya.

Peluit Flint berbunyi di atasnya. Draco melakukan salto di udara untuk mengekspresikan kebahagiaanya. Raut wajah Marc Zabini menambah kebahagiaannya lagi.

"Bagus, Draco! Kau benar-benar panas!" seru Flint. "Tetap pertahankan semangat dan kegaranganmu. Berlatih lebih sering. Dan, hmm, beli sapu lebih bagus… maka Terence Higgs harus berhati-hati dengan apa yang dimakannya sebelum pertandingan…"

Flint menyeringai licik yang dibalas Draco. Terence termasuk kelompok Marc, maka raut cemberutnya juga membahagiakan hati Draco.

Hari itu, diluar dugaan, amat menyenangkan. Draco merasa sedikit bersemangat dan mempunyai harapan. Dia mencibir melihat anak-anak Gryffindor yang berdesis-desis melihatnya, atau teman Slytherinnya yang mencemooh. Paling tidak dia melakukan sesuatu. Sesuatu yang tidak pernah dia perhatikan selama ini, sebelum…

Saat melewati ruang persiapan ramuan yang masih terbuka, Draco dengan setengah hati menjulurkan kepala ke dalam. Dengan malu dia mengakui, bahwa dia hafal jadwal detensi Serena.

Lemari-lemari yang separo terbuka terisi rapi oleh bahan-bahan pilihan, hasil detensi Serena dengan Snape. Entah apa yang sebenarnya telah anak itu lakukan. Tetapi Draco merasa Snape memperlakukan Serena seperti peri-rumah pribadi alih-alih murid biasa.

Sesuatu yang sedingin es menyejukkan puncak kepalanya. Draco meraih handuk basah itu dan mendapati Serena berdiri di belakangnya. Ekspresi wajahnya seolah dia tidak peduli saat dia menggulung lengan jubahnya, siap bekerja kembali.

"Apa?" tuntutnya saat melihat Draco. "Aku punya setumpuk akar Gurdy yang belum dipotong…"

"Tidak… Aku…"

Draco mengusapkan handuk itu pada wajahnya, samar-samar mencium aroma manis khas anak perempuan sebelum dia berhenti. Wajahnya terasa panas. Serena mulai memotongi akar Gurdy ketika dia bicara, nada suaranya merendah.

"Kau terbang lumayan, Malfoy…"

"Dan kau bisa melihatnya dari ruang bawah tanah?" dengus Draco tak percaya.

"Aku punya teman baik yang mau membantu sebentar… Para peri-rumah Hogwarts yang ramah dan manis…"

Serena mengembangkan tangannya pada lemari-lemari itu. Draco mau tak mau mendengus lagi, mendengar toleransi Serena pada makhluk yang hanya Draco anggap budak-sihir tersebut.

Draco berdehem saat Serena menatapnya tajam. Bukan pisau pada tangannya yang membuat Draco merasa berutang budi, tetapi Draco tidak akan maju terbang kalau bukan karena ejekan Serena kemarin dulu.

"Jadi… Aku… dan mungkin kau, kalau lolos seleksi selanjutnya, akan duduk di bangku cadangan sementara si Potter-Pitak itu terbang menyelamatkan dunia?"

Serena tertawa, buka tawa ejekan, melainkan tawanya yang seperti anak empat tahun.

"Screw, Harry!" katanya dengan bahasa slank Amerika yang sulit dimengerti Draco. "Kita bukan dia. Dan, syukurlah kupikir… Yang jelas kita sudah selangkah lebih maju…"

"Kita?"

"Maksudku… aku…"

"Ah…" kata Draco sambil mencibir. "Tapi banyak anak menganggap kita menyedihkan…"

"Dan, screw mereka juga… Pergi ke kamarmu sana, Malfoy. Kau tidak akan mau ada di sini saat aku merebus si Gurdy ini…"

Draco tercenung. Pikirannya berputar untuk membalas. Tetapi tidak ada yang keluar dari mulutnya. Dia punya perasaan aneh dia ingin tetap di sini, seburuk apapun aroma akar Gurdy…

"Sampai bertemu di seberang lapangan…"

Akhirnya hanya itu yang keluar dari mulut Draco.

.

.

.

November datang membawa angin dan hujan. Draco merasa dia mau muntah terus menerus. Ayahnya sudah mengetahui bahwa Draco masuk sebagai tim cadangan. Dan dia terus merongrong Draco tentang bagaimana Draco menjatuhkan martabat keluarga.

"Kita adalah Malfoy. Dan Malfoy punya harga diri!"

Begitulah kurang lebih isi surat-surat ayahnya.

Draco, yang dulu akan menelan bulat-bulat apa yang dikatakan ayahnya, kini punya dorongan yang aneh untuk meneriakkan, "Screw, Ayah!" seperti yang mungkin akan diteriakkan Serena pada siapapun juga.

Pada saat latihan Quidditch, para anggota cadangan memang tidak lebih seperti orang terbuang. Draco selalu memerintah Crabbe dan Goyle saat ada anggota lain yang seenaknya menyuruh Draco mengelap Quaffle atau sapu-sapu mereka. Atau, meneriaki peri-rumah kalau mereka sudah kelewat batas dengan meminta Draco menjahitkan bagian ketiak jubah Quidditch mereka yang robek.

Tidak diragukan lagi, Marc Zabini ada di belakang semua ini.

"Mrs Zabini bilang pada Ayah bahwa kau sekarang menjadi pesuruh anggota Slytherin?"

Itu isi surat ayahnya yang pertama.

Draco ingin membalas bahwa seharusnya Mrs Zabini mengurusi rumah tangganya saja dan bukan anak orang lain, tetapi lebih mudah untuk langsung membakar surat itu. Dia hanya berharap ibunya akan sedikit bangga dan bukannya malu. Ibunya belum mengirimi Draco surat lagi…

Tapi Draco memang sulit memungkiri bahwa dia merasa seperti pecundang besar saat ikut-ikutan mereka terbang untuk pemanasan, atau duduk di tribun menunggu giliran, melihat anggota betulan yang bermain keren-kerenan sementara dia memakai jubah Quidditch yang dilapisi rompi keras jelek berwarna ungu, tanda anggota cadangan.

Apa yang membuat hatinya sedikit terangkat, mungkin adalah si Serena itu…

Serena ada di posisi Draco juga, bahkan lebih buruk, karena dia bukan cadangan inti. Tapi melihatnya terbang sudah membangkitkan semangat Draco. Dan lagi Draco, entah bagaimana, yakin Serena selalu menatapnya dari darat saat Draco latihan. Dengan sembunyi-sembunyi Draco berharap siapa yang Serena perhatikan bukan si Marc bodoh itu...

Kalau saja ayahnya dan teman-temannya mengetahui ini, Draco merasa dia bisa mati saking malunya.

Satu-satunya yang bisa Draco lakukan untuk mengenyahkan pikiran tersebut adalah menindas sebanyak mungkin Potter dan kelompoknya, juga si bodoh Longbottom.

"Tinggalkan dia sendiri, Malfoy!" seru Serena suatu ketika saat Draco berhasil latihan mantra-laso-perak dan menjegal Longbottom pada kakinya.

Longbottom jatuh keras dan langsung menangis kesakitan saat itu juga.

"Well, well, lihat siapa yang datang. Putri yang gagah perkasa!" timpal Draco, terlanjur memperlihatkan kejahatannya.

Serena melengos ketika semua anak Slytherin terbahak bersama Draco.

Itulah kurang lebih kehidupan mereka yang aneh.

.

.

.

"Jaga lapangan untukku, eh, Malfoy?"

Terence Higgs, si Seeker Slytherin memukul punggungnya keras. Draco hampir saja mengeluarkan kembali panekuk yang tadi ditelannya dengan susah payah.

"Kau pasti bisa Draco…" hibur Pansy, mendelik kepada Terence. "Ini, makan lagi…"

"Kau buang-buang waktu, Draco…" kata Blaise terus terang. "Apa ramainya duduk sendiri di bangku cadangan, tidak bisa memberi semangat atau menganggu lawan?"

Hari yang dinantikan telah datang. Pertandingan awal Quiditch tahun ajaran ini. Slytherin versus Gryffindor. Dan Draco sama tegangnya walaupun kesempatan dia main menggantikan Terence amat kecil.

"Kupikir kau mau duduk di bangku cadangan Gryffindor?" tanya Theodore.

"Apa?" sentak Draco sampai saus mapplenya tumpah.

"Blaise. Dia, kan naksir si cewek van der Woodsen itu…"

Untunglah Theodore tidak memperhatikan karena dia sibuk mengangguk ke meja Gryffindor, tempat Serena dan tim Quidditch Gryffindor sarapan.

Serena tampak kurang tidur dan tegang seolah dia baru dapat detensi tambahan. Rambutnya dikepang ke belakang, mengikuti anak-anak cewek Chaser Gryffindor. Dia juga memakai rompi ungu tanda cadangan. Tetapi dia tidak terlihat sekonyol Draco. Di meja Gryffindor, tidak ada anak yang memperhatikan Serena seperti Draco atau kedua temannya. Semua anak memperhatikan si Potter-Pitak.

Draco otomatis menyunggingkan senyum saat Serena tak sengaja menatap matanya. Tetapi rupanya frekuensi Draco menindas Longbottom lebih kuat dibandingkan kesamaan posisi mereka sekarang. Serena tidak membalas senyum Draco. Dia mengerutkan kening setengah jijik dan berpaling.

Draco berusaha fokus pada Quidditch dan bukannya van der Woodsen menyebalkan itu dalam sisa pagi tersebut.

Pertandingan hari itu dimulailah. Ratusan murid duduk di tribun, bersorak-sorai. Sapu terbang berdesingan di udara. Ditambah bunyi Quaffle yang dioper, Bludger yang dipukul, dan, entah terdengar atau tidak bunyinya, Golden Snitch kecil.

Anak-anak Gryffindor membabat Slytherin di putaran pertama. Dengan anak Gryffindor keriting dan McGonagall tua itu sebagai komentator, sulit rasanya untuk membalik dukungan dari anak Ravenclaw dan Hufflepuff kepada Slytherin.

"Bad boys selalu menang!" teriak Marc terus menerus membuat cewek-cewek Slytherin dan sebagian anak cewek asrama lain berteriak-teriak mendukungnya.

Draco sungguh berharap kepalanya terhantam Bludger.

Seperti yang diduga Draco, si Potter itu yang membuat semua berantakkan. Nimbus 2000-nya tampak hilang kendali. Sekarang semua anak menunjuk-nunjuk ke arah Potter, tidak memperhatikan lagi pertandingan.

"Dan kalian menyebut anak itu Seeker terhebat sepanjang sejarah?" teriak Draco emosi pada keriuhan anak-anak.

Sapu Potter tetap menyentak, berputar, seolah berusaha menjatuhkan si pemakai. Draco setengah yakin Potter akan jatuh. Dan dia berpikir itu akan bisa menghapus kesombongan si anak ajaib.

Ada teriakan dari atas tribun tempat Draco duduk. Draco otomatis menoleh ke atas, menaungi matanya, memandang siapa yang berteriak.

Snape berdiri di tempat guru-guru lain duduk. Jubahnya terbakar.

Draco tidak yakin apa yang menyebabkannya, tapi ada rambut lebat di darah-lumpur Granger itu dalam kerumunan para guru.

Draco melihat ke langit lagi. Sapu Nimbus Potter sudah baik lagi.

Bergantian menatap Potter, Snape yang terbakar dan rambut lebat Granger. Draco yakin sesuatu telah terjadi. Sesuatu yang menyebalkan dan kotor, seperti permainan yang diteriakkan si komentator pada semua anggota Slytherin.

Tapi Potter sudah terbang melewati Terence. Kecepatan Nimbus memang tidak salah. Keduanya menukik hampir menabrak tanah. Terence, yang pasti takut celaka, terbang keatas lagi sebelum dia menabrak tanah dengan keras. Tapi Potter tidak, dia mendarat keras di tanah, Draco berharap ada beberapa tulangnya yang ikut patah.

Dia tersedak sesuatu. Dan saat memuntahinya, peluit Madam Hooch berbunyi.

Harry Potter menangkap Snitch. Tidak. Dia hampir menelan Snitch-nya.

Flint turun dan marah-marah saat mengatakan hal itu tidak adil. Tetapi Draco tahu mereka sudah tamat untuk hari ini. Kalau saja si Terence tadi tetap mengejar Snitch-nya walaupun itu mungkin akan mematahkan hidung cakepnya.

Flint tampak menyadari kesalahannya.

"Kalau kau terbang jelek lagi besok-besok, Ter, aku akan berlutut pada Dumbledore agar Draco diizinkan terbang!" teriak Flint pada semua anggotanya yang tertunduk lesu.

Draco tidak tahu harus bereaksi apa atas semua ini, tatapan mata anak-anak Slytherin yang sembunyi-sembunyi membuat Draco menjadi tidak nyaman.

Di sisi lain lapangan, tim Gryffindor sedang bersuka cita mengangkut pahlawan baru mereka pada pundak-pundak. Draco melihat Serena bertepuk dan bersorak, tidak mendapat kesempatan terbang sedetik pun hari ini, tidak ada kekecewaan dalam wajahnya, hanya kebahagiaan mendukung kemenangan teman…

Draco hanya bisa berpikir mengapa anak perempuan itu bisa seperti itu…

.

.

.

"Psst! Malfoy!"

Ada yang berbisik dengan susah payah saat Draco berada dalam ruang ganti Slytherin. Para anggota tim yang kecewa dan marah sudah pulang ke kamar masing-masing. Merenungi kekalahan, atau dalam kasus Marc, berpacaran sepuas hati untuk menghilangkan kesedihan. Draco tidak mau ada di ruang rekreasi yang penuh dengan anak-anak yang marah serta Marc dan pacar-pacarnya. Jadi dia berpura-pura akan membereskan sapu-sapu mereka.

Pintu ruang ganti, yang tadi tidak tertutup, kini membuka sedikit lebar. Draco menghampiri pintu untuk melihat siapa yang memanggilnya.

Draco hampir saja tidak mempercayai matanya. Serena van der Woodsen di depan pintu ruang ganti Slytherin.

"Apa?" sentak Draco kaget. "Mau nyukurin aku?"

"Apa?" tanya Serena lagi. "Tidak! Walaupun itu tampak menyenangkan, sih…"

"Apa maumu, van der Woodsen? Aku punya tujuh pasang kaus kaki yang belum dicuci…"

"Ih!" dia bergidik. "Ini untukmu, Fred dan George bilang namanya Butterbeer… Dan, kita sedang… hmm… pesta…"

Serena mengulurkan botol berisi minuman dingin.

"Aku tahu apa itu Butterbeer dan siapa Fred dan George?" tanya Draco defensif mendengar kata pesta.

"Temanku… Ambil ini…"

"Tidak!" tolak Draco.

Serena mendengus kesal setengah menghentakkan kaki.

"Aku tidak pernah punya sesuatu untuk dibagi kepada lawan tiap menang suatu pertandingan… Kalau di dunia muggle-ku, kita akan saling bertukar kaus…" katanya lagi.

Draco memutar mata mendengar kebiasaan jelek muggle itu. "Kasihan sekali… Dan apa yang membuatmu berpikir kau menang? Kau sama sekali tidak terbang, tahu! Dan Gryffindor pasti main curang karena aku melihat si Granger…"

"Aku tidak peduli kau lihat Hermione atau tidak!"

Dia menekankan botolnya pada dada Draco dengan paksa.

"Ini, ambil! Tidak kuracuni, kok! Sampai pertandingan yang lain kalau begitu…"

Serena berlari ke lapangan Quidditch, menuju kastil. Kepangnya bergerak seirama dibalik punggungnya. Draco mengernyit menatapnya, lalu Butterbeer di tangannya, merasa seperti habis tertiup angin ribut.

Tapi tiba-tiba dia merasa hari ini tidak berjalan terlalu buruk…

.

.

.

Libur Natal hampir tiba dan tidak ada yang dibicarakan anak-anak selain Harry Potter sang pahlawan Qudditch. Draco sudah mengatakan kepada semua orang yang mau mendengar, bahwa Potter tidak lebih dari kodok yang tersedak. Dia sudah berpura-pura muntah saat dia berkeliaran di koridor. Akibatnya adalah anak-anak tetap menganggap Potter hebat. Maka Draco mengeluarkan jurus terbaiknya, menghina keluarga muggle si Potter.

"Aku sungguh kasihan, pada anak yang tinggal di sekolah karena mereka tidak diharapkan keluarganya!"

Suatu saat Draco meneriakkan ini di kelas Ramuan. Sialnya, Serena kebetulan baru keluar dari ruang persiapan ramuan. Untungnya dia terlihat tidak fokus. Rambutnya diikat sembarang dan pipinya tercoreng darah naga. Pansy dan kawan-kawan secara sengaja menyenggol satu jerigen besar. Snape yang kini menganggap Serena asistennya, tanpa pikir panjang langsung menyuruh Serena membersihkan.

Untuk liburan, Draco sebenarnya malas pulang ke rumah. Serindu apapun dia pada ibu dan rumahnya, Draco yakin ayahnya telah siap dengan segala wejangan, kemarahan, nasihat, kemarahan, saran dan kemarahan yang membuat hati Draco berat. Belum lagi acara Natal tahunan yang sering diadakan keluarga mereka. Draco tidak bermasalah dengan kesombongan dan membuat dirinya terlihat hebat. Hanya saja dia sedang malas.

Pada saat salju turun seperti ini, Draco merindukan suasana rumah yang nyaman, perapian, cokelat hangat dan selimut. Mau tidak mau Draco melirik Serena lagi. Apakah dia akan pulang ke New York? Apakah di Amerika salju turun seperti di Inggris? Draco tampak melihat kesedihan di mata Serena. Seolah anak perempuan yang pertama dia temui di kereta, hilang begitu saja.

"Kau tidak bisa membersihkan darah naga hanya dengan lap!"

Si darah-lumpur teman Potter dan Weasley, Hermione Granger, berseru kepada Serena saat dia selesai.

"Apa?" Serena balik berseru dengan serak, tanda kurang tidur.

"Pakai mantra Scourgify!" kata Granger sombong. "Kau sudah baca bukumu belum?"

Serena tampak kebingungan. Tapi Granger tidak bersikap seperti yang katanya harus ditunjukkan Gryffindor yang terhormat. Dia malah melangkahi lantai yang susah payah dibersihkan Serena, dan meninggalkannya begitu saja, menyusul temannya.

Draco berlama-lama di kelas saat kelas bubar dan hanya tersisa Serena.

"Tidak ada yang belajar Scourgify sampai mereka kelas empat…"

Draco bicara dengan sudut-sudut bibirnya, matanya mengawasi pintu, khawatir Crabbe atau Goyle menyusul.

"Yah…"

Hanya itu yang keluar dari mulut Serena saat dia mencoba mengepel lantai yang masih berbau amis itu.

Draco tidak tahu mantra untuk membersihkan apapun. Walau dia mungkin terlatih karena kedua orang tuanya penyihir, Draco tidak pernah membersihkan apapun seumur hidupnya.

"Aku panggil peri-rumah…" tawar Draco.

"Tidak…"

"Tapi…"

"TIDAK!"

Draco terpaku mendengar kemarahan itu. Masalahnya bukan hanya kemarahan, suara Serena pecah di akhir kata. Pecah hampir menjadi tangis frustasi.

Mungkin hal itulah yang membuat Draco langsung membungkuk untuk mengambil kain pel dari tangan Serena. Draco berpikir dia pasti sudah gila karena melakukan hal ini.

Serena langsung menyentakkannya dan berdiri. Dia memalingkan wajah. Draco tahu persis dia akan menangis.

"Itu yang kau dapat dari berteman dengan darah-lumpur!" seru Draco, sekarang kesal. Semua niat baiknya membuatnya canggung karena ditolak. "Manis sekali dia, kan? Anak yang seharusnya mendukungmu di asrama yang sama?"

"Dan Pansy Parkinson yang darah-murni akan memperlakukan aku sebagai sahabat kalau aku mau berteman dengannya?" seru Serena setengah berseru setengah gemetar. "Atau teman-temanmu yang lain…"

"Itu bukan salahku mereka menjahatimu…"

"Dan mengapa kau mesti berbeda, Malfoy? Semua orang membenciku!"

Draco tidak pernah berpikir kalau Serena akan sama seperti kebanyakan cewek, terlalu banyak memakai perasaan. Tapi Draco memang baru mengenalnya sebentar.

"Tidak…"

Hanya kata-kata menyedihkan itu yang akhirnya keluar dari mulut Draco.

"Keluar…" kata Serena.

"Apa? Tap…" protes Draco semakin merasa serba salah.

"Keluar dan bergabunglah dengan teman-temanmu. Kau menganggapku sampah dan hanya berani bicara padaku kalau mereka tidak ada, kan? Keluar!"

Draco tidak bergerak tetapi Serena mulai mendorongnya keras ke pintu.

"HEI!" protes Draco.

"KELUAR!"

Draco terdorong keluar pintu dan hampir terjepit oleh pintu yang dibanting oleh Serena. Draco terpaku di ambang pintu. Lebih merasa serba salah dari sebelumnya.

Walaupun pintu itu dari kayu dengan ketebalan yang kuat, Draco yakin dia mendengar isak tangis sepanjang malam di dalamnya.

.

.

.