Disclaimer: This story is based on characters and situations created and owned by JK Rowling.

And Cecily von Zigesar and George R R Martin for some character's name (sorry for not mention this earlier)

Pairings: Draco Malfoy/OC

Setting: Harry Potter and Sorcerer's Stone (Book & Movie)

The Two-Tale Heart

XIII

SERENA

Serena meninggalkan Hogwarts yang penuh pohon, penuh lampu-hias, penuh lagu-lagu Natal ciptaan Peeves yang kurang ajar, dan yang berselimutkan salju pada tengah semester.

Snape belum membebaskannya dari detensi. Sehari sebelum liburan dimulai, Serena ujian terlebih dahulu tentang ramuan-ramuan yang dipelajarinya semester ini. Dia ditugasi merevisi apa kesalahan buku-buku cetaknya, dan walaupun Snape tidak mau mengakuinya, Serena diharuskan menuliskan tambahan-tambahan yang diketahuinya dalam catatan.

"Satu tetes kesalahan karena ke-sok tahu-anmu bisa menyebabkan kematian..." ancam Snape alih-alih mengucapkan selamat liburan, "...dan kuharap kau sudah belajar keras untuk memahami ini..."

Akhirnya Serena tahu sedikit cara yang aman untuk bereksperimen dengan ramuan, tahu cara mempersiapkan bahan-bahan yang benar dalam pelajaran ini. hanya saja dia lebih memilih untuk tidur sebelum tertinggal Hogwarts Express besok pagi.

Serena tertidur sepanjang perjalanan di kompartemen yang diisi Neville, Seamus, Dean, Parvati serta Lavender. Pada saat dia ingat belum meminta maaf kepada Draco Malfoy karena bertingkah seperti 'Ratu Drama' malam-malam yang lalu, Serena sudah berdiri sendiri di stasiun King's Cross-nya muggle. Sementara itu, teman-temannya menjauh dan melambai, meneriakkan selamat liburan.

Serena merasa dia ditinggal sendirian di tengah stasiun yang megah tersebut dengan koper besar dan Jasper mengamuk dalam kandangnya. Sampai seseorang menggodanya.

"Hai, Cantik... Tersesat?"

Serena berbalik menghadapi ayahnya sedang tersenyum jahil. Air mata nyaris tumpah saat Serena menubruknya. Serena sama sekali tidak bermaksud mendramatisir semua ini. Beberapa bulan yang amat lama sering dilewati Serena tanpa kehadiran sang ayah yang sibuk. Tetapi kali ini rasanya seperti Serena yang meninggalkan ayahnya...

"Kau sudah tinggi lagi, Ser... Dan kukira Hogwarts penuh makanan lezat?"

Ayahnya meremas-remas pipi Serena yang pastilah mengurus beberapa minggu ini. Mata hijau-biru mereka saling berpandangan. Rambut hitam ayahnya, entah bagaimana mengingatkan Serena pada Harry, kalau saja Harry berhasil merebahkan rambutnya.

Serena tidak bisa berkata apa-apa, semua beban yang hinggap di perutnya berkurang sedikit.

Saat mereka menuju mobil, setinggi apapun Serena sekarang, Robert masih bisa mengangkatnya saat mereka berpelukan.

"Anna menunggu di rumah..." kata Robert mengabarkan pengurus rumah tangga mereka. "Dia sedang membuat pizza dengan pepperoni, jamur, dan keju ekstra..."

"Pizza ekstra keju..." Serena menyetujui.

Kalau ada yang sulit ditemui di dunia sihir, itu adalah junk food. Serena harus membelah roti, menyelipkan daging cincang, dan melelehkan keju untuk mengobati kerinduannya pada double chesse burger. Anak-anak Slytherin yang melihat ini menyebut Serena 'orang dari hutan'. Serena mencoba memaklumi mereka. Dia belum pernah melihat McDonalds di Diagon Alley.

"Jadi? Bagaimana? Kau betah? Ada kejadian apa saja di Hogwarts?"

Ayahnya memberondong Serena dengan berbagai pertanyaan sepanjang jalan mereka ke rumah. Serena berbicara dengan lagak dia menguasai dunia. Sulit untuk berhenti saat berbicara tentang Quidditch dan Unicorn. Serena tidak berbicara tentang anjing raksasa Cerberus yang menjaga entah-apa di lantai tiga Hogwarts. Bagaimanapun itu topik yang mengkhawatirkan bagi orang tua murid. Yang muggle sekalipun.

Draco, detensi dengan Snape, bagaimana anak-anak lain memperlakukannya tidak lebih buruk daripada sekolahnya dulu, menguap dari mulut Serena. Jadi Serena mengeluarkan cokelat-cokelat yang dia beli dari Fred dan George untuk membungkam ayahnya. Robert tidak bisa menunggu sampai berhenti, dia menyetir sambil menghabiskan dua batang sekaligus.

Ayahnya tertawa senang melihat Kerumunan Kecoak. Serena menatapnya karena merasa harus membicarakan sesuatu, tapi terlalu malu untuk memulai...

Bagaimana ada wajah-wajah ramah yang memandangnya dan memperlakukannya dengan baik di Hogwarts...

"Kupikir... akhirnya aku punya teman, Dad..."

.

.

.

Perut Serena amat sangat sakit setelah dia menyambar delapan iris pizza untuknya sendiri. Anna menghidangkan air mineral biasa untuk menetralisir lemak.

Rumah-setengah-kastilnya yang besar kini tidak tampak kaku lagi setelah kedatangan sang tuan rumah. Mereka tertawa, makan, berbincang, dan makan lagi. Disini, tidak ada seorang pun yang akan membiarkan Serena mengerjakan pekerjaan seperti memotong-motong kepala ulat untuk ramuan. Ini membuatnya agak senang.

Anna masih seperti dulu, gemuk dan cantik dalam pakaian seragam pelayannya. Dia jelas sangat kehilangan Serena dilihat dari caranya memanjakan Serena.

Serena melihat sekeliling dan tiba-tiba teringat peri-rumah Hogwarts yang pertama kali menghampirinya malam itu, saat detensi Snape.

Makhluk seperti alien kecil dengan kuping kelelawar dan hidung-pensil tiba-tiba saja meletus-muncul di hadapan Serena, membuat kaget setengah mati. Si makhluk langsung menunduk-nunduk minta maaf.

"Maaf, Miss! Maaf! Doreah tidak bermaksud mengagetkan! Tidak! Tidak!"

Dia terus membungkuk layaknya orang sakit perut.

Serena menemukan suaranya, "Mmm..."

"Doreah peri-rumah yang nakal! Jelek! Tidak tahu kalau masih ada orang di malam selarut ini!"

Makhluk itu terus menyalahkan diri.

"Doreah? Peri-rumah?"

Serena pelan-pelan menghampiri makhluk itu. Matanya yang hijau-besar seperti bola tenis menatap Serena takut-takut.

"Kau tinggal di Hogwarts?" tanya Serena, kini merasa familiar dengan wajah si makhluk. Tampaknya beberapa juga ada di toko buku paman-bibinya, sedang menggosoki buku-buku di dalam gudang.

"Tentu, Miss! Doreah dan ratusan peri lain!" kata si peri.

"Wow! Kok aku baru lihat, sih?"

Si peri terkikik sopan, kini tidak tampak terlalu takut.

"Keberadaan peri-rumah memang tidak seharusnya diketahui oleh para majikan. Itu tanda peri-rumah yang baik, Miss. Dan guru serta para murid-lah majikan kami! Kami memasak, mencuci, membereskan kastil, dan segala macam lainnya, Miss..."

Si peri kelihatan bersalah karena kebanyakan bicara.

"Maaf! Doreah tidak semestinya sombong! Maaf! Maaf!" Dia menepuk-nepuk keras dahinya.

"Wow!" kata Serena lagi. "Namamu Doreah tadi? Terima kasih telah mencucikan jubahku. Kupikir Hogwarts punya seperangkat mesin cuci ajaib dan oven-penghasil-makanan sendiri. Maafkan aku baru tahu akan hal ini. Aku Serena van der Woodsen, kelas satu di Gryffindor..."

Serena mengulurkan tangannya untuk berkenalan. Doreah menatapnya seolah itu pisau.

"Kenapa?" tanya Serena.

Serena langsung kaget melihat Doreah tersedu-sedu.

"Miss yang cantik dan baik mengajak Doreah bersalaman layaknya Doreah sederajat..."

"Mmm?" komentar Serena, bingung.

"Tidak ada yang pernah!" seru Doreah lagi.

"Seharusnya Miss sudah tidur pada malam selarut ini..." kata Doreah seolah menyesal.

"Yah, Snape baru menambah satu jam detensi, katanya untuk stok selama berlibur!" gertak Serena kesal.

Doreah dengan malu-malu merespon.

"Doreah... bisa membantu Miss..."

"Oh, tidak, tidak!" tolak Serena. "Kau pasti lelah seharian mencuci jubah terus..."

"Tidak! Tidak!" seru Doreah lagi. "Izinkan Doreah membantu..."

Dia membungkuk rendah lalu mulai naik ke meja persiapan, menyelesaikan pekerjaan Serena, yaitu menyerut tanduk-tanduk Griffon.

"Wow!" gumam Serena entah untuk keberapa kalinya. Serutan tanduk itu setipis keripik kentang.

"Doreah dan kawan-kawan biasa melakukan ini, Miss! Profesor Snape sering memerintah kami..."

Serena sekarang berpikir dengan sebal karena Snape memperlakukannya seolah dia semacam pelayan.

Tetapi Serena tidak kembali ke kamarnya walau Doreah mengambil alih detensinya dengan cekatan. Dia duduk menonton, setengah takut Snape akan melakukan inspeksi.

Memikirkan bahwa ratusan murid Hogwarts ternyata bagaikan raja dan ratu karena dilayani ratusan peri, pantas saja ada beberapa yang sangat menyebalkan.

"Paman dan Bibimu datang sebentar lagi, Miss Serena..." kata Anna mengembalikan Serena ke masa kini.

"Oke..."

"Dan haruskan saya mengemasi lagi pakaian yang lain? Di New York sudah turun salju juga..."

"Ap-Apa?"

"Mr Nathaniel bilang dia ada keperluan dan akan membawa kalian semua ke New York agar bisa berlibur bersama..."

Ayahnya pastilah lupa memberi tahu Serena. Atau memang sengaja agar Serena tidak bisa berkelit. Mengingat kejadian sebelum dia masuk ke Hogwarts pada saat di New York, Serena yakin pasti alasan yang kedua.

Serena bangkit dari meja makan dengan susah payah.

"Tapi aku tidak mau ikut!" serunya. "Aku cinta Inggris dan New York hanya memberi kenangan buruk... Katakan padaku, Anna, apa yang akan dilakukan Monica Rhodes kalau aku kembali dan tiba-tiba bertemu dengannya di Times Square atau..."

Sebelum Serena menyelesaikan pembicaraan tentang Monica Rhodes, musuh bebuyutan di dunia muggle yang suaranya diubah menjadi kuakkan kodok oleh Serena, Paman Ed dan Bibi Char memasuki ruangan dengan heboh.

"Ser! Maaf tidak sempat menjemput di stasiun!" seru Paman Ed.

Bibi Char menghambur memeluknya dan bergumam dia bangga sekalipun Serena ternyata masuk Gryffindor.

"Kalian akan ikut ke New York, kan?" tanya Serena cemas.

Paman dan bibinya tampak siap bepergian. Mereka layaknya kutu buku yang akan menghadiri tur museum. Tas ransel besar bertengger di pundak Paman Ed alih-alih koper.

"Oh, maaf, sayang..." kata Bibi Char. "Kami betul-betul ingin ikut... Tapi ternyata perpustakaan di Italia membuka koleksi-koleksi langkanya untuk umum di hari Natal ini... Itu benar-benar catatan yang bagus... Dan kami ingin mengembangkan toko buku kita... Kami akan ke Italia dulu..."

Serena merasa wajahnya memucat yang pasti disadari bibinya.

"Oh, jangan sedih..." bujuk bibinya. "Nanti kami menyusul... Dan untuk menebus rasa bersalah ini, kami membawa kejutan!"

Serena berpikir itu tumpukkan buku baru. Tapi pamannya menghambur ke pintu masuk untuk membawa sesuatu, dan yang dibawanya bukanlah buku.

Melainkan seorang anak perempuan yang memeluk setumpuk perkamen...

Melihat rambut merah-jingganya dan langkah-langkah anggunnya walau setengah diseret Paman Ed, Serena lebih memilih untuk diberi kejutan berupa buku-buku.

"Ser, ini temanmu yang akan menemanimu di New York!" seru Paman Ed. " Lihat apa yang dia bawa? Salinan catatan pelajarannya yang rapi! Kalian pasti akan bersenang-senang... Ayo, Nak! Kau sudah kenal dengan keponakan kami, bukan? Ini Catelyn Tully, Ser!"

.

.

.

Kota New York menjelang Natal jauh lebih ramai dibanding Inggris. Lupakan Natal putih. Salju dikeruk sampai menimbulkan lumpur di sepanjang trotoar. Jalanan dipenuhi orang yang berbelanja, sopir taksi yang mengancam akan melindas penyeberang jalan manapun yang lalai, dan sinterklas yang membunyikan lonceng keras-keras untuk meminta sumbangan.

Serena nyaris merasa asing di tempat asalnya ini. Walaupun dia memang tidak pernah diterima dalam lingkungannya. Serena kini menyadari itu semua karena kini dia dikelilingi muggle. Baru beberapa hari dan Serena sudah merasa rindu lagi dengan Hogwarts.

Apartemen ayahnya di lantai teratas menghadap langsung ke Central Park, taman buatan terbesar di kota tersebut. Kolam membeku dan pepohonan memutih membuat Serena menghirup nafas dalam-dalam dari balkon kamarnya. Lalu dia menyesal, hidungnya menjadi perih. Udara New York tidaklah sesegar Hogwarts.

"Terima kasih sudah mau mengajakku..." kata suara di belakangnya.

Serena menoleh dan mendapati Catelyn, canggung dalam pakaian mugglenya, menatap seluruh pemandangan dengan mata terbelalak.

"Sungguh luar biasa... muggle... Aku berencana ambil Telaah Muggle tahun depan. Dan mereka tidak bisa menyihir tapi bisa membangun bangunan setinggi ini..."

"Itu gunanya arsitek dan tukang bangunan..." gerutu Serena pelan.

Serena tidak melirik Catelyn sedikit pun, tapi dia tahu rona merah pastilah menjalar sampai ke telinga anak perempuan itu. Suasana tidak menjadi lebih baik saat ayahnya sama sekali tidak memberitahu bahwa mereka akan menghabiskan liburan di New York. Paman dan bibinya tidak ikut. Sebagai gantinya, mereka membawa Catelyn Tully yang angkuh di Hogwarts. Mereka bilang Catelyn ingin sekali melihat kehidupan muggle dan sangat senang karena diajak. Serena tidak ingat Catelyn pernah membalas senyumnya saat mereka berpapasan di koridor Hogwarts.

Jadi semakin Catelyn menyadari keberadaannya tidak diinginkan, semakin baik. Sialnya, ayahnya tidak beranggapan demikian.

Serena sama sekali tidak mau berbagi ayahnya, tapi sang ayah menganggap Catelyn bagai puteri raja. Membuat Serena dobel sebal.

Robert sudah menelepon dari bawah saat Serena berlama-lama memakai syal wol-nya. Mereka akan berbelanja keperluan Natal hari ini. Ayahnya hanya punya beberapa jam dan dia serta si Catelyn sudah berada di dalam mobil. Serena merasa kegiatan favoritnya, belanja natal, akan berlangsung buruk.

"Ser, aku pikir kau bukan anak manja pencemberut..."

Terdengar suara ayahnya dari belakang.

"Aku tidak begitu!" sentak Serena kesal.

Dia menoleh kepada ayahnya yang ternyata nyengir.

"Kau harus mencoba membuka diri, Ser... Catelyn tampak baik..."

"Yeah, dan itu kata semua orang tentang dia, kan?"

"Dia sudah minta maaf dan menunjukkan niat baik. Ayolah... Apa yang lebih menyenangkan dari teman yang datang ke rumah untuk menghabiskan liburan bersama? Beberapa tahun dari sekarang dan kau tidak akan membutuhkan aku lagi karena banyaknya temanmu... Atau kau memang lebih suka hidup sendiri?'

Serena tercenung merasakan gatal pada lehernya yang tidak disebabkan oleh syal wol. Rasanya dia ingin membantah. Tapi ada terlalu banyak kebenaran dalam kata-kata itu.

Serena menegakkan diri dan mengencangkan syalnya.

"Baiklah!" gerutunya pada akhirnya.

.

.

.

Butuh waktu sepagian untuk berbelanja dan memenuhi kehausan Catelyn akan kehidupan muggle yang sebenarnya. Dia terpaku di toko alat elektronik. Terpaku saat melihat mesin penjual koran otomatis. Terpaku melihat mobil pengeruk salju. Serena berbekal hot dog dan kopi susu panas untuk dimakan saat ikut berhenti ketika Catelyn berhenti.

Hari sudah siang ketika mereka meninggalkan toko mainan dan permen terbesar di New York. Serena sudah mengantuk setengah mati sementara Catelyn mengoceh kepada siapapun tentang indahnya New York.

Robert menepi di satu sisi, membuat Serena mengira mereka akan mengunjungi toko lain. Betapa kagetnya Serena melihat bangunan kuno yang kaku itu, The Bradley, sekolah lamanya sebelum dia ke Hogwarts.

Dengan refleks Serena bersandar di kursi, berharap siapapun tidak bisa melihat. Tetapi Robert berhenti di pintu gerbang.

Dengan perut bergolak Serena memandang ayahnya.

"Kau tidak punya rencana memasukkan aku kemari lagi kan, Dad? Aku berani bersumpah aku penyihir!"

Ayahnya tersenyum tapi dia mengelus mulutnya tanda gugup.

"Tentu tidak, Ser... Aku hanya mau mengunjungi sekolah lamamu..."

"Ini sekolahmu dulu?" celetuk Catelyn. "Bagus sekali ya... Pasti isinya anak-anak muggle yang pintar..."

Serena bahkan tidak sempat memutar mata saking tegangnya.

"Ayah mau kemari untuk apa?" cecar Serena masih kepada ayahnya.

"Ser, ini mungkin berat bagimu... Tapi... Terus terang... Kau tidak meninggalkan sekolah ini dengan baik..." jelas ayahnya sabar.

"Kenapa?" celetuk Catelyn lagi. "Apa kau tidak sengaja melakukan sihir..."

"Diam!" sentak Serena. "Aku pikir kau sudah membereskan segalanya, Dad! Dan aku tidak mau bertemu Monica serta Kepala Sekolah Grey!"

"Ser... Aku bisa membereskannya dengan sekejap. Tapi apa jadinya denganmu? Kau bukan anak manja yang akan membiarkan orang lain membereskan semua kekacauanmu, kan?"

Air mata Serena hampir tumpah keluar karena suaranya bergetar, "Kekacauan? Itu sihir yang kulakukan dengan tidak sengaja!"

"Apa? Kau melakukan apa? Barangkali aku bisa..."

"DIAM!" sentak Serena kepada Catelyn.

"Ser, aku janji... Ini terakhir kalinya kita akan kemari. Tetapi kita harus bereskan dulu semua yang tertinggal... Kau mungkin akan merasa lega..." Ayahnya melirik Catelyn yang wajahnya bagai tomat. "Akan merasa lega dan menjadi ceria lagi..."

Serena hampir merepet di belakang ayahnya saat mereka terpaksa turun dari mobil. Klakson sudah bersahutan menyuruh mobil Robert menyingkir dari jalan. Catelyn ikut di belakang Serena. Tampak canggung tapi tidak bisa menutupi keantusiasannya.

Tangga batu berwarna abu-abu itu membuat Serena senewen dan ingin kabur. Ada banyak yang ingin Serena katakan kepada ayahnya, tetapi "Demi Merlin! Apa yang kau pikir kau lakukan?" ada diatas daftar. Serena bahkan ragu ayahnya mengenal Merlin.

The Bradley, walaupun sekolah sudah memasuki masa libur, jelas sedang mengadakan bazaar Natal. Biasanya untuk kegiatan amal yang akan didatangi juga oleh petinggi sekolah dan orang tua murid.

Ini kegiatan tahunan yang dibenci Serena. Walaupun ayahnya seringkali menyempatkan diri datang. Tahun lalu, Monica Rhodes menumpahkan eggnog-tanpa-alkohol yang mereka jual ke rok Serena. Serena dulu sama sekali tidak mengerti mengapa cokelat berbentuk rusa raksasa yang mereka pajang di meja tinggi menjadi meleleh dan tumpah ke kepala Monica. Kepala Sekolah Grey saat itu mendiskusikan hukuman Serena dengan ayahnya, sementara dia sendiri, berbau telur dan susu, bersembunyi di belakang punggung ayahnya.

Tahun sebelumnya pun sama, Serena hanya duduk di belakang ayahnya, mengunyah ganas permen-tongkatnya, sementara dewan sekolah sibuk menjilat, memuji, dan tersenyum palsu agar keluarga van der Woodsen menyumbang uang lebih untuk pembangunan.

Butuh waktu seminggu untuk menjelaskan kepada kepala sekolah, kalau tiba-tiba rombongan dewan tersebut menjadi keram wajah sehingga mereka terus tersenyum menakutkan dan tidak bisa kembali normal dalam waktu dua belas jam, itu bukan kesalahan Serena.

Taman dalam tempat utama bazaar diadakan bersuasana Natal. Para paduan suara bernyanyi sayup-sayup, menghibur pengunjung. Pohon dan lampu Natalnya kalah jauh dari Hogwarts, tentu saja. Serena mencibir untuk menenangkan diri. Tangannya gatal ingin meraih tongkat sihir yang dia simpan di dalam sweaternya. Serena sudah membantu Profesor Flitwick pada hari-hari sebelum liburan. Memasang dekorasi natal tinggi di puncak pohon-pohon dengan wingardium leviosa-nya. Menyebabkan para prefek cewek mengatainya cari muka.

Stand jualan berjejer di sisi taman. Menawarkan berbagai makanan, minuman, dan hiasan natal. Serena menyadari dengan takut bahwa kelas SD, SMP, dan SMA sedang disatukan. Membuat bazaar menjadi sesak. Serena memanfaatkan ini. Dia memandang ke lantai batu sesering mungkin daripada harus bertemu pandang dengan beberapa anak dan orang tua murid The Bradley.

Ayahnya melangkah tanpa keraguan. Serena yakin dimana mereka akan berhenti. Ruang aula. Tempat dimana Serena terakhir menjejakkan kakinya di sekolah ini, hampir kurang dari setahun yang lalu.

"Kedua orang tua Monica..." dehem ayahnya memulai. "Meminta permohonan maaf secara formal... Di depan seluruh warga sekolah. Karena... Apa yang terjadi waktu itu cukup memalukan mereka... Dan... yah, tidak bisa dijelaskan dengan akal sehat..."

"Dan mereka memintaku bertanggung jawab..." gertak Serena di ujung bibirnya.

"Ser..."

Serena diam saja. Pikirannya berlomba mengenai apa yang harus dia lakukan saat menghadapi musuh lamanya dan apa yang harus dia katakan di depan semua orang.

"Ser..." kata ayahnya lagi. "Aku akan bersamamu sepanjang jalan... Apapun yang terjadi. Apapun yang dicemoohkan mereka... Kau tidak bisa meninggalkan kehidupan masa lalumu begitu saja... Mari kita selesaikan ini..."

Serena mendongak menatap mata ayahnya yang penuh permohonan. Kemudian kenyataan menghantamnya seperti batu. Serena pergi ke dunia sihir, tempatnya seharusnya memang berada. Tapi ayahnya tetaplah muggle. Dan dia tidak bisa meninggalkan orang seperti Monica ataupun kehidupan sosialnya yang lain. Teman-teman bisnisnya, kerabatnya, maupun saingannya. Serena tahu betapa banyak relasi yang diperlukan untuk menjadi pebisnis.

Ayahnya tidak akan mau membicarakan bahwa ini untuk kepentingan bisnisnya juga, untuk nama baiknya. Ayahnya menjaga perasaan Serena. Ayahnya selau memikirkan Serena.

Dan Serena seharusnya tidak memikirkan diri sendiri...

Serena tanpa sengaja menoleh menatap Catelyn, yang tampaknya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi dia diam saja menggigiti bibirnya.

Serena menghembuskan nafas kuat-kuat. Dia penyihir. Dia sekarang bersekolah di Hogwarts, sekolah terbaik di dunia, walaupun anak-anak muggle seperti Monica mungkin akan menganggapnya sekolah di tempat terkucil agar terisolasi dari dunia normal.

Dan dia di Gryffindor...

Sekumpulan orang di aula jelek tidak seharusnya membuatnya takut...

"Baik..." desahnya menegakkan bahu. "Mari kita masuk..."

.

.

.

Ayahnya melepas Serena ke podium diiringi tatapan membunuh Kepala Sekolah Grey yang sama sekali tidak seperti Profesor Dumbledore yang bijak. Anggota dewan sekolah mengapit tiga orang yang Serena sadari adalah Monica Rhodes dan kedua orang tuanya. Monica menatap Serena tajam. Campuran bengis dan takut. Serena lupa bertanya, apakah dia masih bersuara katak atau tidak. Tapi mungkin permintaan maaf formal ini keluar dari mulut-manusianya.

Kini Monica tampak cantik sekaligus tua. Dia mengingatkan Serena pada beberapa anak Hogwarts yang menghabiskan waktu mereka dengan melentikkan bulu mata.

Beberapa anak di aula mulai saling berbisik. Beberapa orang tua murid memegangi anak mereka seolah khawatir Serena akan mengubah mereka menjadi kodok juga, walaupun itu sudah lama sekali.

Karena Serena, anak aneh yang kebetulan saja ber-ayahkan orang kaya dan terhormat, aula itu sama sekali tidak dibersihkan dan didekorasi dengan baik. Bekas-bekas alat olahraga dan peralatan pemandu sorak masih bertebaran di belakang. Serena akhirnya berdiri dengan canggungnya. Antara dia dan ratusan orang yang berjejalan di aula, hanya ada mic dan tiangnya.

Meminta maaf hanya dengan kata-kata seharusnya perkara mudah. Masalahnya, Serena tahu betul orang-orang ini bisa sama jahatnya dengan anak-anak Slytherin. Baru saja dia berdehem untuk mengetes mic-nya dengan dagu ditegakkan setinggi mungkin, beberapa anak mulai mencemooh.

"Pecundang..."

Seru seseorang lambat-lambat diiringi kikik geli yang lain.

"Pertama saya ingin..." Serena memulai.

"Dimana kau dipenjarakan selama ini? Kutub Utara?" seru entah siapa.

Tawa menjalar di aula. Sekarang semua orang mulai berbicara sendiri dengan ramai. Apapun yang terjadi, sebenarnya tidak ada seorang pun yang akan mendengarkan Serena. Mungkin ini tujuan awal Monica. Membuat malu Serena di depan umum. Ada anak yang berdiri dan mulai memperagakan gerakan-gerakan anak tolol dan canggung. Tinggal tunggu waktu sebelum seseorang melemparinya telur busuk.

Serena menatap ayahnya, yang tampaknya memandangnya sejak tadi, tidak merasa malu atau terhina. Ayahnya mengangguk menyemangati.

Tapi sebelum Serena membuka mulut untuk berteriak menarik perhatian mereka, ada yang mendahuluinya...

"DIAM KALIAN MUGGLE-MUGGLE TOLOL!"

Ada yang berteriak dari bagian belakang aula yang berantakkan. Baik Serena maupun semua orang kini menoleh memandang tak percaya.

Catelyn Tully sedang berdiri di salah satu kotak tempat berdirinya pemimpin pemandu sorak dan entah bagaimana, tahu cara menggunakan corong pengeras suara.

Bunyi statis menyakitkan telinga membuat semua orang mengernyit, lebih dari kata-kata 'muggle'...

"DIAM DAN PERHATIKAN!" seru Catelyn dengan suara melengking yang sama sekali tidak feminim. "KARENA SERENA VAN DER WOODSEN AKAN BERBICARA DI GEDUNG JELEK INI UNTUK TERAKHIR KALINYA!"

Sudah terlambat untuk menjauhi mic sewaktu tawa Serena menyembur. Semua orang yang tadi menatap Catelyn dengan tidak percaya kini menoleh kepada Serena lagi.

Serena berusaha fokus sementara tangannya berada pada perutnya, berusaha menahan tawa. Akhirnya dia berhasil bicara dengan setengah nyengir.

"Saya, Serena van der Woodsen, meminta maaf pada Monica Rhodes dan keluarganya, dan juga pada Kepala Sekolah, serta pada semuanya dimana saya pernah melakukan kesalahan, baik disengaja ataupun tidak. Saya, dan mewakili ayah saya, Nathaniel van der Woodsen, meminta maaf sebesar-besarnya dan yakinlah bahwa saya tidak akan pernah mengulanginya lagi di masa yang akan datang..."

Tidak ada yang perlu ditambahkan, tidak ada yang perlu disangkal. Walaupun orang-orang ini memperlakukannya dengan buruk dan tidak adil, Serena tidak mengeluh. Dan memang kemampuan sihir Serena-lah penyebabnya. Walaupun dikatai aneh dan idiot pun, Serena tidak mau kemampuan sihirnya hilang...

Ini adalah perpisahannya. Perpisahan Serena dengan dunia lamanya...

Serena turun dari podium. Melihat ayahnya dan Catelyn, yang telah dipaksa turun dari kotak, sama-sama nyengir lebar.

Semua beban yang mengganjal Serena selama ini sepertinya hilang hari itu juga. Dan walaupun semester baru di Hogwarts masih lama dimulai, dia merasa yakin akan bisa menghadapi apapun di sekolah barunya itu.

.

.

.

"Aku rasa ini akan sia-sia saja. Hadiahmu mungkin akan sampai ke rumahmu..."

Serena berbicara pada Catelyn dengan gigi menggeletuk sementara dia memakai berlapis-lapis topi rajut, syal, mantel dan kaus kaki wol di tempat tidurnya sendiri.

Catelyn memaksanya membuka pintu sekaligus jendela pada kamar Serena. Teras yang membeku dan salju yang enggan turun menambah semangat angin dingin untuk menyelomot kulit mereka.

"Tenang... Ini burung hantu dunia sihir... Aku sudah minta burung hantu di rumah untuk membawakan hadiah natalku kemari. Dan Jasper-mu pasti akan demikian juga... Sangat menyebalkan kalau kita tidak bisa membuka hadiah di pagi hari Natal... Dan bagaimana lagi cara burung hantu masuk kemari kalau tidak lewat jendela? Kau hanya punya perapian listrik..." jelas Catelyn panjang lebar, melapisi rambutnya dengan syal tebal. Pipinya amat merah.

Serena terlalu kedinginan dan kekenyangan tacos-pinggir-jalan untuk berdebat. Jadi dia hanya masuk selimut sementara Catelyn mematikan lampu.

"Selamat Natal, Ser..." kata Catelyn gembira saat merebahkan diri di sampingnya.

"Selamat Natal juga, Cat..."

Kerlap-kerlip lampu natal yang dipasang Anna di kamarnya menjadi ceria. Walaupun itu kelihatan amat kecil dibandingkan lampu jutaan watt yang menerangi gedung-gedung pencakar langit kota New York, yang kini terlihat karena Catelyn membuka jendela.

Serena memandang di kejauhan. Tadi dia tidak mengatakan kepada Catelyn bahwa sebenarnya dia hanya mempunyai sedikit teman yang akan memberinya hadiah Natal. Jadi dia seharusnya tidak berharap banyak sampai harus membeku. Ayah, Paman-Bibinya, Robert dan Anna adalah segelintir orang yang peduli. Atau mungkin Neville, yang sering meminta alamat Serena kemudian menghilangkannya. Serena telah menghadiahi Catelyn komputer muggle. Catelyn membayangi terus para asisten ayahnya yang bekerja dengan menggunakan komputer, membuat Serena jengah sendiri, karena kini semua orang di kantor memandangnya seolah mereka dua anak yang bersekolah di jaman batu. Tetapi Catelyn tampak sangat senang saat berhasil mengetik. Maka Serena membelikannya satu walaupun dia ragu listrik akan sampai ke desa penyihir tempat Catelyn tinggal.

Serena akhirnya berguling menghadap Catelyn yang sudah pulas. Tidak berharap apapun melainkan bersyukur mempunyai satu teman lagi. Tetapi berharap tidak ada penculik gila yang akan memanjat lantai tempat mereka tinggal...

.

.

.

Serena bangun keesokan paginya. Merasa dia beku serta pilek berat. Setelah menelepon dengan parau pada pelayan di bawah agar dibawakan sup dan kopi susu panas, Serena melihat Catelyn duduk di lantai. Hidungnya masih merah dengan mata berair, tetapi semua tampak tidak membuatnya pusing. Tumpukan hadiahnya tinggi sekali.

"Ser, lihat, itu hadiahmu! Sudah kubilang akan sampai, bukan?"

Serena melirik tumpukkan yang ditunjuk Catelyn yang ternyata sama tinggi dengan milik Catelyn. Lalu merasa heran. Kemudian dia melihat Jasper di atas tumpukkan, mendelik kecapekan. Serena menelepon pelayan lagi, minta dibawakan daging asap dan air putih.

"Siapa yang memberi aku sebanyak ini?" tanya Serena sambil bangkit.

"Jangan pura-pura tidak tahu begitu, pasti dari penggemarmu, kan?"

Tidak ada nada getir atau kecemburuan pada suara Catelyn, membuat Serena nyaman. Tapi dia tetap tidak habis pikir ada orang yang menggemari anak Amerika berlogat kental, sering dapat detensi dan seorang Chaser cadangan.

Serena segera membuka hadiah pertamanya dari ayahnya. Buku cek Gringgotts baru. Serena tertawa dan menunjukkannya pada Catelyn betapa ayahnya amat cepat tanggap sebagai pebisnis, sekarang mencoba menguasai ekonomi dunia sihir.

Catelyn, seperti anak Ravenclaw sejati, memberinya buku-buku tambahan. Paman Ed dan Bibi Char memberinya buku juga. Buku tersebut bergambar ilustrasi seni hasil seniman ternama di dunia muggle yang sebenarnya adalah penyihir. Semua berbahasa Italia, membuat Serena pusing duluan.

Neville ternyata ingat alamatnya. Dia memberi Serena tanaman air bersinar biru dalam botol selai tertutup. Hagrid memberinya beberapa utas rambut unicorn, yang katanya bisa mengikat dengan kuat apa saja. Para peri rumah Hogwarts memberinya kue natal dengan ratusan macam bentuk dan hiasan gula meriah. Padahal Serena hanya mengirimi mereka puluhan dus minuman cokelat panas sebagai tanda terima kasih, berharap mereka akan bisa bersantai sambil meminumnya saat murid-murid liburan.

Sambil makan kue peri-rumah, Serena tertawa-tawa melihat hadiah-hadiah 'cantik', berenda atau yang berwarna merah muda yang kebanyakan diberikan oleh anak-anak cowok yang bahkan Serena sendiri tidak kenal.

Catelyn menggambarkan mereka dengan ahli, lalu merampas dan melarang Serena menyentuh apapun yang diberikan oleh seseorang yang bernama Marc dan Blaise Zabini.

"Mereka dari Slytherin! Jangan sampai mereka mengguna-gunaimu..."

Serena ingin tertawa mengingat mantra guna-guna yang digunakan agar orang lain jatuh cinta. Tapi sebelum dia mencemooh Catelyn terlalu khawatir, Serena ingat dia sendiri mempelajari Mantra, Jimat dan Guna-Guna, bukan tanpa alasan.

"Benar, kan? Lihat apa isinya..." kata Catelyn memperlihatkan kotak tersebut.

Yang satunya adalah parfum yang tampak mahal dengan tutup seperti berlian sungguhan. Yang satu lagi jepit rambut bertaburkan permata.

"Bagaimana kau tahu ini diguna-guna?" tanya Serena, berusaha memikirkan anak laki-laki berambut hitam yang namanya Marc itu. Dia sepertinya yang bermain Quidditch dan yang selalu tersenyum padanya. Dia kesulitan memikirkan yang mana yang bernama Blaise.

"Yah, tidak ada yang tahu pasti, sih... Pokoknya jangan dipakai! Dan Marc Zabini itu playboy..."

Serena memutar mata saat Catelyn dengan hati-hati membungkus lagi hadiah itu dan menyimpannya di dasar lemari pakaian Serena.

Tetapi untunglah Catelyn sedang sibuk, karena hadiah berikutnya membuat Serena buru-buru lari ke toilet.

Serena melihat kartunya duluan untuk mengetahui itu dari siapa. Dia punya keinginan aneh agar Catelyn tidak tahu ataupun menyitanya.

Serena membuka hadiah itu di meja wastafel. Saat kotaknya terbuka, hadiah tersebut langsung melesat terbang. Benda itu bukan perhiasan, atau parfum, atau apapun yang cantik, berenda, dan berwarna merah muda.

Si miniatur pemain Quidditch itu terbang dengan ramainya. Sapunya jumpalitan, Quaffle mini seukuran kelereng terlambung-lambung sementara dia melempar, menyundul, dan menendang.

Serena duduk di tepi bathtub sementara si miniatur terbang mengelilingi tempat handuk.

Selama beberapa hari, mencoba mengubur kejadian buruk yang dialaminya di Hogwarts, dan kini termabukkan oleh kejadian The Bradley, kehidupan lamanya di New York dan kehadiran Catelyn, Serena sama sekali lupa. Dan mungkin tidak peduli pada satu-satunya anak yang mencoba peduli.

Serena menunduk membaca ulang kartunya,

Semoga kau tetap betah di dunia kami...

Selamat Natal...

DM

.

.

.

"Keluarga penyihir tua?" tanya Catelyn mengantuk kekenyangan kalkun.

"Ya... Aku hanya ingin tahu..." kata Serena dengan hati-hati melirik ayahnya yang datang dari dapur, membawa es krim.

Tatapannya terpaku pada arloji ayahnya, memikirkan apakah Draco akan senang memakai jam tangan yang setara ribuan galleon itu, kemudian membatalkannya. Akan terlihat sangat 'hutang budi' sekali kalau Serena terlambat memberi Draco hadiah natal. Lagipula jam itu buatan muggle.

"Aku tahu beberapa..." sambut ayahnya nimbrung. "Ibumu pernah memperkenalkan sekali-sekali..."

Ayahnya dan Catelyn bergantian menyebut nama para penyihir dan keluarga yang mereka kenal. Bahkan dengan pekerjaan dan bagaimana mereka mengenalnya. Serena sudah mulai cemas karena mereka tidak menyebut nama Malfoy. Padahal setidaknya, Serena ingin tahu alamat rumah Draco dulu.

"Lalu bagaimana kau bisa tahu Zabini-Zabini itu dari Slytherin langsung?" tanya Serena memancing.

"Yah, kebanyakan Zabini memang dari Slytherin. Kau tahu? Turunan dan sebagainya. Mereka terkenal gila harta... dan, yah... maaf..." kata Catelyn kepada Ayah Serena. "Suka berganti pasangan..."

Wajah Serena ikut memerah seperti pipi Catelyn. Dia kebingungan mau memancing apalagi.

"Aku tahu satu Slytherin yang membawa nama buruk buat asrama itu," kata ayahnya tiba-tiba. "Ibumu dulu melakukan riset terhadap kepribadiannya. Kalian masih terlalu kecil untuk ini sebenarnya... Tapi ini dilakukan sebagai strategi saat perang zaman Voldemort..."

Catelyn tersedak teh-nya dan batuk-batuk. Tetapi kenyataan ayahnya tahu apapun tentang Slytherin membuat Serena hanya sempat menepuk punggung Catelyn yang kaget mendengar nama Voldemort.

"Siapa?" tanya Serena.

"Lestrange..." jawab ayahnya. "Aku tidak tahu banyak. Mereka keji dan setengah gila. Agresif dan kuat. Entahlah, ibumu yang mempelajarinya. Yang jelas dia melatih strategi dengan sekumpulan... apa ya, namanya?" tanya ayahnya pada Catelyn.

Catelyn berusaha menjawab disela batuknya, "Auror, penangkap penyihir hitam..."

"Itu dia! Strategi yang pelik sekali, nyaris gagal, tapi setiap orang hidup bisa dikalahkan..."

Serena baru akan teralihkan pikirannya dan menanyakan strategi apa, tapi Catelyn yang sudah berhenti batuk-batuk, menyela membawa kabar buruk.

"Suami-istri Lestrange dan adiknya, kalau aku baca di koran lama koleksi ayahku. Mereka pendukung besar Kau-Tahu-Siapa," kata Catelyn dengan penekanan yang jelas-jelas menyuruh Serena dan ayahnya menyebut Voldemort dengan kata-kata yang sama.

"Tapi mereka tidak punya anak. Syukurlah... Kita kan tidak mau ada Draco Malfoy kedua di sekolah kita?"

"APA?" tanya Serena amat kaget sehingga ayahnya kini menatapnya penasaran.

"Draco Malfoy..." kata Catelyn santai. "Anak dari Lucius dan Narcissa Malfoy. Yang terhormat... Begitulah yang kudengar... Beberapa komunitas dan kalangan Kementerian Sihir ada dalam pengaruh mereka. Tapi kita lebih baik jauh-jauh dari mereka, saranku. Siapapun tahu Lucius Malfoy seperti Lestrange, pendukung besar Kau-Tahu-Siapa. Mereka kakak dan adik ipar..."

Serena menatap es krimnya yang mencair. Tiba-tiba saja merasa hadiah natal untuk Draco adalah hal yang kurang penting yang harus dia ketahui saat ini.

.

.

.