Disclaimer: This story is based on characters and situations created and owned by JK Rowling.

And Cecily von Zigesar and George R R Martin for some character's name (sorry for not mention this earlier)

Pairings: Draco Malfoy/OC

Setting: Harry Potter and Sorcerer's Stone (Book & Movie)

The Two-Tale Heart

XV

SERENA

Serena mengunyah roti panggang sarapannya pagi itu seperti mengunyah karpet. Disekelilingnya, di Aula Besar, hampir semua anak tampak antusias menyambut hari pertama semester baru. Kesibukan berkelebatan. Ada yang saling bergurau, beberapa sudah mulai berdebat, dan ada juga beberapa yang saking rindunya dengan pacarnya, tidak malu-malu lagi mengumbar kemesraan.

Di meja Ravenclaw, yang pastilah anak-anaknya sudah tidak sabar untuk kembali ke kelas, Serena melihat sahabat barunya. Wajah Cat memerah antusias, menunjukkan apa yang baru dicetaknya dari komputer hadiah Natal Serena.

Serena tidak bisa menahan senyum. Walaupun begitu, beberapa anak tampak tidak seantusias Cat. Ada juga anak-anak yang kuyu, terlihat lelah, dan malas sekolah. Mereka kelihatannya sama sekali tidak ingin meninggalkan liburan.

Serena sama kuyu dan malas sekolahnya seperti mereka. Hanya saja itu bukan karena meninggalkan ayahnya dan liburan. Tampang Draco Malfoy membuatnya tidak tidur semalaman.

Itu, dan ditambah Serena sama sekali tidak melihat Draco di meja Slytherin. Anak-anak kelompok geng Draco sedang sombong-sombongan seperti biasa, namun Draco tidak hadir diantara mereka.

Mata Serena sudah berkali-kali berpindah antara tangga yang menuju ruang bawah tanah dan meja makan Slytherin. Hatinya terasa semakin berat.

Apakah Draco hanya terlambat? Atau dia sakit? Atau Quirrell menculiknya entah-mengapa?

Serena sempat melirik meja guru untuk memastikan Quirrell masih disana dan berkedut-kejang seperti biasa sebelum pikiran memalukan menghantamnya.

Serena sama sekali tidak punya hubungan apa-apa dengan Draco. Mereka bahkan terlalu sering saling benci untuk disebut teman. Memang hadiah Natal darinya begitu manis, yang sama sekali tidak dibalas Serena. Berpacaran? Serena merasa wajahnya memanas ketika melihat lagi para kakak kelasnya yang sedang bermesraan.

Apa yang dilakukannya tadi malam seharusnya tidak menjadi beban. Tetapi wajah Draco membayanginya lagi. Ekspresi ketidakpercayaan dan terluka. Serena tidak pernah melihat itu pada Draco sebelumnya, terlapisi oleh kesombongan yang setebal baja. Tiba-tiba Serena merasa bagaikan menjadi anak-anak The Bradley yang dulu menjauhinya karena dia dianggap aneh dan berbahaya.

Tapi Draco bukan orang aneh. Tapi lebih jauh dari berbahaya. Karena keluarganya... mungkin bisa dibilang... kriminal...

Serena meletakkan roti panggangnya dengan gelisah. Perasaan bersalah meluap. Dia berjanji pada diri sendiri untuk tidak menilai orang hanya dari penampilan, asrama, ataupun keluarganya... Tetapi bagaimana untuk Draco? Mendengar beberapa anggota keluarganya adalah pendukung besar Voldemort saja sudah membuat Serena takut setengah mati.

Serena ingin bercerita. Tapi tidak tahu kepada siapa. Ayah, paman, dan bibinya sudah pasti ide buruk. Karena Serena bisa-bisa langsung ditarik dari Hogwarts. Cat jelas tidak akan pernah mengerti mengapa Serena mau berbicara dengan Draco Malfoy sejak awal mula.

"Ser? Kau tahu siapa Nicholas Flamel?"

Neville berbisik pada sikunya, membuat Serena gelagapan.

"Huh, sori? Siapa?"

"Nicholas Flamel... Harry, Ron, dan Hermione membicarakannya dengan serius. Kelihatannya penting..."

Serena memutar matanya karena Neville tidak punya kerjaan lain selain menguping si trio-emas.

"Nev, aku tahu kau ingin ikut terlibat dengan mereka, tapi..."

"Jadi? Flamel itu siapa?" tanya Neville ngotot.

"Aku pernah mempelajarinya. Di buku dongeng... Atau pelajaran Kimia-ku, ya?" Serena mengingat dengan bingung. "Nicholas Flamel, salah satu penemu, ahli alkemi, sebelum kimia... Berusaha membuat formula untuk menjadikan cairan apapun jadi emas dan..."

"Dan?" tanya Neville, matanya membulat.

"Membuat ramuan hidup abadi..." kata Serena sedramatisir mungkin lalu dia tertawa terbahak-bahak. "Aku tidak tahu itu benar atau tidak... Yang jelas dia mungkin orang nyata tentu... Bersama Galileo atau Shakespeare..."

Wajah Neville kosong.

"Oh, lupakan..." Serena menggoyangkan tangannya. "Yang jelas dia sudah mati. Kecuali dia adalah penyihir? Atau berhasil membuat ramuan-hidup-abadi..."

"Kau akan memberi tahu Harry?" tanya Neville.

Serena melirik Harry, Ron, dan Hermione yang duduk terpisah. Tampak sedang membicarakan sesuatu yang maha-penting. Tidak mau diganggu. Tidak menerima orang luar. Dan Serena punya masalahnya sendiri.

"Aku yakin Miss Know-It-All akan tahu... Ayo, kita terlambat untuk mantra..."

.

.

.

Kesibukan yang sudah dikenal Serena menyambutnya bertubi-tubi hari pertama semester baru. Pertama, Oliver Wood mengubah jadwal Quidditch menjadi tiga kali seminggu.

"Tidak ada detensi lagi, Ser!" seru Wood. "Kami butuh semua tenaga cadangan untuk pertandingan semifinal! Kita akan melawan Hufflepuff!"

"Tapi aku tidak pernah..." kata Serena tergagap, merasa menjadi pengacau tim. "Snape..."

"Bersikap baiklah kalau begitu!" potong Wood tidak mau disela. "Dan aku tahu Cedric Diggory naksir kau... Tapi dia musuh!"

Angelina, Alicia, dan Katie terkikik campuran geli dan iri.

"Siapa Cedric Diggory?" sembur Serena. "Oke... Oke..."

Serena mengalah saat melihat pelototan Wood, "Aku akan menganggap siapapun musuh. Tidak sulit..."

Serena memutuskan untuk meminjam lagi semua catatan Cat tahun sebelumnya. Dia beranggapan harus mencicil semuanya dari sekarang apabila mau nilai bagus, naik kelas, dan tetap di tim. Neville tidak membantu. Serena merasa dia agak kurang nyaman bila berada diantara Serena dan Cat. Cat sendiri tampaknya hanya menganggap Neville adalah pengekor Serena.

"Dan bagaimana agar aku tidak mendapat detensi Snape semester ini?" bisik Serena kepada Cat sebelum dia dan Neville masuk ke kelas Ramuan sore ini.

Neville berdiri di belakang Serena, setengah bersembunyi. Serena bisa merasakan Neville mengejang tiap ada anak yang berjubah Slytherin lewat.

Akhirnya Serena bisa mengetahui Draco masih hidup dan baik-baik saja. Pertama melihatnya beberapa hari yang lalu, Draco sedang membuat rambut Neville berdiri semua dengan mantra barunya.

"Kau tidak bisa bagaimana-bagaimana, Ser... Snape memberi detensi kapan saja dia suka. Dia, kan membenci semua murid kecuali Slytherin..."

"Kau tidak membantu, Cat..."

"Kalau begitu coba duduk di belakang dan tidak menarik perhatian. Buat ramuanmu berdasarkan buku sampai titik-koma..."

"Yeah... yeah... Dan aku hampir telat..."

Serena menjejalkan perkamen Cat ke tas lalu mendorong Neville sedikit agar dia maju berjalan duluan. Tapi Cat menggamit lengan Serena ketika Neville sudah beberapa langkah di depan.

"Kau tahu? Neville Longbottom bukanlah anak yang baik untukmu saat ini. Dia terlalu menempel... Orang lain bisa salah sangka..."

Serena mengernyit, "Yah, aku tidak bisa meninggalkan anak yang digencet terus-menerus oleh geng Draco Malfoy, kan? Kau tahu betul pengalamanku..."

"Tapi kau jadi... terlihat tidak keren..." Cat memutar mata tapi dengan ekspresi minta maaf. "Yang lain bisa menganggap kalian berpacaran..."

"Kami kelas satu, Cat..."

"Lalu? Dengar, kudengar Cedric Diggory sering menanyakanmu... Kalau dengan dia aku sangat setuju... Yah, mungkin tunggu sampai dua tahun lagi, deh..."

Serena tergagap bingung kali ini, "Apa? Siapa? Cat, aku tidak tahu apa yang kau bicarakan... Dan siapa Cedric Diggory?"

Serena setengah berteriak setengah berlari ketika dia meninggalkan Cat dan menyusul Neville. Lalu Serena menabrak orang yang paling tidak diinginkannya ditabrak saat ini.

Draco Malfoy...

Mata abu-abunya dingin seperti biasa. Serena pasrah saat teman-teman gorilanya mendorong bahu Serena agar tidak menghindari jalan mereka. Draco hanya menegakkan diri dan merapikan jubahnya lalu terus berjalan.

Sekhawatir apapun Serena pada Draco yang sedang dia hindari, Serena mengernyit tidak senang saat Draco berlaku bagaikan ditabrak rakyat jelata yang kotor.

"Tolong!"

Terdengar jeritan tertahan Neville. Serena berlari mengejar rombongan Draco. Setelah mereka berlalu sambil tertawa puas, barulah Neville terlihat. Dia jatuh tertidur bagai mumi dengan tangan rapat di samping tubuh dan kaki ikut menempel. Matanya terbelalak.

.

.

.

Serena dengan tergesa-gesa masuk ke kelas Ramuan. Dia sudah terlambat sekitar beberapa menit. Tapi dia akan terlihat lemah dan penakut kalau tidak bisa menghadapi Snape saat terlambat.

Neville yang masih kaku-kaku bergelayut lemah di lengannya. Neville masih diam seribu bahasa, terlalu pasrah untuk melawan.

"Ah... Pasangan berbahagia memutuskan untuk masuk akhirnya?"

Suara Snape yang sedingin es dan selalu menyindir itu adalah salah satu yang tidak dirindukannya selama liburan. Tawa mengejek seperti biasa, menggelegar dari meja anak Slytherin.

"Maaf, Sir... Tapi ada yang... menyihir Neville. Kutukan Ikat Tubuh Sempurna saya kira. Lalu saya..." Serena menelan ludah, kehabisan alasan. "Saya sempat lupa mantra penangkalnya..."

Dari sudut matanya, entah hanya membayangkan atau tidak, Serena seperti melihat Hermione memutar mata di balik kualinya. Saking marahnya, Serena mengalihkan pandangan lurus-lurus pada Hermione, yang salah besar, karena Snape tidak suka diacuhkan.

"Jadi, kau berhasil membuka kutukannya?" tanya Snape.

"Ten... Tentu... Ini dia Neville... Bisa berjalan sendiri..."

Serena berusaha melepas Neville sambil mengernyit memandang Snape, yang tiba-tiba menjadi perhatian.

"Lima angka dipotong dari Gryffindor. Karena sihir tidak boleh dipergunakan di koridor. Dan sepuluh karena kalian berdua telat. Oh, tidak, tidak. Lima saja untuk Longbottom... Kau akan menjalankan detensi lagi, Miss van der Woodsen. Selamat datang di semester dua..."

.

.

.

"Ini sama sekali tidak adil!"

Serena merajuk ketika Wood mendiamkannya pada sesi latihan terakhir sebelum pertandingan dengan Hufflepuff besok.

"Dari tiga sesi latihan tiap minggu, aku hanya ikut satu kali... Dan Wood memperlakukanku seperti..."

"Sudahlah, Ser," kata George menenangkan.

"Jangan hitung-hitungan begitu," timpal Fred.

"Kau tetap datang latihan,"

"Itulah yang terpenting,"

"Dan Snape akan jadi wasit besok,"

"Semuanya sudah takdir,"

"Aku tidak bisa menangkap Quaffle dengan baik tadi," Serena nyaris tidak mendengarkan, suaranya agak bergetar.

"Ser, kau kan baru terkena Kutukan Ikat Tubuh Sempurna tadi..." kata Fred memaklumi dengan hati-hati.

"Yah, lalu jatuh dan menyenggol rak tepung. Lalu tersiram satu karung tepung gandum... Siapapun akan kaku-kaku setelahnya..." lanjut George.

Serena menghentakkan kaki keluar dari ruang ganti.

"Hai, kau mau kemana?" teriak entah-Fred-atau-George.

"Balas dendam!"

"Itu baru gadisku!" seru mereka kompak lalu tertawa senang.

Serena terkena kutukan tadi siang dan pasti Draco yang melakukannya. Dia sudah menggunakan ini tanpa dipotong poinnya satu kalipun kepada anak-anak Gryffindor. Terutama Neville. Serena tadinya tidak menyangka Draco akan menggunakannya padanya. Hanya saja ketika dia sedang mengurus kendi-kendi yang berisi berbagai macam tepung di kelas Ramuan, tiba-tiba tangannya membeku. Tidak punya kendali atas tubuhnya sendiri, Serena jatuh, menabrak rak penuh tepung tersebut.

Kupingnya berdenging sekarang, mengingat sakitnya dan tepung yang membuatnya bersin tak terkendali, sakit mata, dan malu yang tak tertahankan.

"Jangan berbuat apa-apa yang akan menyusahkan kami, Ser!" Angelina masih sempat meneriakinya dari jauh. Serena tidak mempedulikannya. Bukan Angelina yang didetensi lalu anak-anak mengacau di tempat yang sudah dia rapikan sepanjang malam.

Keluarga kriminal atau bukan. Tidak ada lagi orang yang bisa memperlakukannya seperti itu. Sama sekali tidak.

Aula Besar hampir kosong ketika Serena dengan pelan-pelan kembali kesana. Draco masih memakan makan malamnya. Gengnya masih tetap berada disekelilingnya. Sialnya, para guru masih menikmati minuman hangat mereka. Serena jelas tidak akan bisa mengutuk Draco di depan Dumbledore. Jadi masih dengan sembunyi-sembunyi, Serena berjalan menuju koridor sepi yang akan menuju tangga ruang bawah tanah. Ada patung besar disana. Cocok untuk persembunyian. Kalau Draco kembali ke ruang rekreasinya, dia akan lewat sini.

Serena mengusap tongkat sihirnya. Butir-butir salju dingin mulai berhamburan seperti ketombe seolah berusaha memadamkan hati Serena yang panas tapi ikut antusias dengan apa yang terjadi berikutnya.

Serena mengulang dalam hati. Apakah dia akan menggunakan Kutukan Ikat Tubuh Sempurna juga? Kedengarannya kurang seru. Dia memikirkan Mantra Gelitik. Atau Mantra-Tari-Tap Dance yang pernah diperlihatkan Flitwick? Bagaimana kalau ketiganya disatukan?

Terdengar suara ramai Draco dan pengikutnya mendekat. Serena memejamkan mata untuk mengulang mantra dalam hati dan berharap tepat sasaran. Berharap Draco terus tertawa dan menari sampai pagi. Apabila harus terjadi perang-kutukan, maka terjadilah...

Seseorang mengacau bahkan sebelum Serena sempat memulai. Dia datang setengah berlari dari lantai bawah tanah. Suara sepatunya bergema di tangga membuat Serena sama sekali tidak sempat untuk sembunyi lagi. Konsentrasi Serena pecah antara memperhatikan anak tersebut dan mengutuk Draco berserta gengnya. Serena menyipit. Khawatir itu Snape yang pasti akan melakukan apapun agar Serena tidak bisa ikut ke lapangan besok.

Sosok itu semakin dekat. Konsentrasi Serena pecah karena lega orang itu bukan Snape. Dia memakai jubah Hufflepuff dan tas yang penuh berisi buku pelajaran. Mungkin dapat detensi dari Snape juga atau hanya membahas masalah pelajaran dengannya. Dia tinggi sehingga Serena tahu anak itu mungkin kelas empat atau lima, seperti Percy Weasley. Dia berambut hitam dan... amat tampan. Kelihatannya seperti anak yang bernama Marc Zabini, tapi tanpa gaya jalan yang menyombong dan senyum menyebalkan kau-akan-naksir-padaku-setengah-matinya.

Atau mungkin karena sekarang anak itu sedang dengan bingung menatap Serena. Serena tidak bisa memikirkan apapun ketika tiba-tiba si anak mengalihkan pandangan pada anak Slytherin yang akhirnya tidak jadi Serena serang.

Terdengar kikik senang beberapa anak perempuan. Lalu mereka menghilang ditelan tangga yang menuju kebawah, tidak melihat ke belakang tempat Serena bersembunyi di sebelah patung. Serena mendesah lega tapi tetap menyesali kesempatannya. Kalau saja anak tadi tidak ada...

"Dilarang menggunakan sihir di koridor, lho! Dan aku sedang mengajukan diri untuk menjadi Prefek. Jadi poinmu akan kukurangi tahun depan..."

Ternyata anak itu belum pergi, dia menghampiri lagi si patung tempat Serena bersembunyi. Dari jarak dekat, Serena bisa melihat matanya yang abu-abu, sama seperti Draco, hanya saja mata itu tampak ramah. Hidungnya lurus sempurna.

Serena terpaku menatapnya kemudian si anak tertawa.

"Aku hanya bercanda... Tanganmu beku, tuh..."

Serena dengan kaget menatap tangannya sendiri, yang tadi sama sekali tidak dipedulikannya. Tongkat sihirnya terpegang dengan kaku dan dipenuhi bunga salju. Sesaat dia lega karena wajahnya tidak memanas, mungkin karena efek dingin tongkatnya.

"Well, yeah! Tongkatku punya intisari beruang es... Sepertinya kalau tidak salah dengar, sih..." Serena tiba-tiba menjadi gugup. "Kurasa dia tegang karena belum pernah menyerang ular licik sebelumnya..."

Pikiran Serena teralih dan dia menyeka saljunya sambil menatap tangga bawah tanah dengan menyesal.

"Aku bukan Wood..." anak itu berdeham. " Tapi, maaf, kurasa tidak bijaksana untuk membuat masalah sebelum pertandingan besok?"

Serena menatap kembali anak itu. Merasa aneh mengapa anak itu bisa mengetahui dia di tim Quidditch Gryffindor. Padahal Serena sudah memakai kaus dan meninggalkan seragam dan sapunya di ruang ganti.

"Kurasa kau benar... Trims... Aku akan mengutuknya besok saja..."

Anak laki-laki itu tertawa lagi. Tawa yang begitu menyenangkan sehingga Serena mau tidak mau ikut tertawa. Lupa dengan kekesalan dan kegugupannya.

"Sampai jumpa di lapangan besok, kalau begitu!" anak laki-laki itu mundur sambil sedikit membungkuk, mengingatkan Serena pada cowok-cowok yang biasa ada di film drama romantis remaja.

"Kau main atau nonton?" seru Serena pada si anak yang menjauh.

"Nomor satu! Dan jangan terlalu serius mencari karena kita akan menjadi musuh!"

.

.

.

Snape menjadi wasit dan itu membuat perasaan Serena campur aduk. Antara tegang karena sudah pasti Snape akan memihak. Senang karena dia hanya menjadi cadangan dan sedikit kemungkinannya akan bermain hari ini. Dan sakit perut menahan tawa saat guru menyebalkan itu menaiki sapu dengan canggung seperti kelelawar di dahan pohon.

"HARRY! HARRY! HARRY!"

Serena ikut berteriak ketika Harry, entah mengapa sangat terburu-buru mengejar Snitch seperti orang kesetanan. Tapi mungkin ini strateginya agar Snape tidak banyak membuat kerugian. Dan tentu saja, hambatan tidak akan banyak berarti bagi bakat alam yang terlatih. Maka Serena ikut berteriak-teriak sampai serak saat peluit berbunyi. Menandakan Harry menangkap Snitch-nya.

Berteriak dan menghambur seperti orang gila, Serena larut dalam kegembiraan. Dan ketika Angelina memeluk dan memutar-mutarnya seperti yang biasa Robert lakukan, barulah Serena melihatnya.

Anak laki-laki itu dengan berbesar hati bersalaman dengan Wood sebagai sesama kiper. Rambutnya acak-acakkan. Tapi sama sekali tidak mengurangi penggemarnya. Walaupun kelihatannya dia bukan kapten dan mereka kalah, beberapa anak cewek Gryffindor yang menyeruak memilih untuk dekat-dekat dia dibanding membopong Harry sang pahlawan.

Dia mendapati Serena yang masih diputar-putar Angelina menatapnya, lalu melambai ramah dan berbalik. Nomor dan nama terpampang di punggungnya. Saat itulah Serena pertama kalinya mengetahui anak laki-laki yang bernama Cedric Diggory.

Dan untuk menyempurnakan suasana hari itu, Serena melihat Draco diantara kerumunan. Mata kirinya biru lebam. Salah satu gorilanya sedang menarik kerah Neville yang tampak pingsan.

.

.

.

Setelah puas dengan mudah pada keterangan Madam Pomfrey yang mengabarkan kalau Neville akan bangun dengan selamat besok pagi, Serena naik lagi ke sapunya. Tadi dia baru dicegat Hagrid sewaktu meninggalkan lapangan. Hagrid berbisik dengan tidak jelas diantara teriak dan sorak ramai anak Gryffindor. Hagrid bilang dia butuh 'pikiran kedua' untuk entah-apa yang mungkin sedang dilakukannya. Serena berjanji akan ke pondok Hagrid sehabis membawa Neville ke rumah sakit. Hagrid tampak antusias dan rambutnya amat mengembang, tanda bahagia, atau stres berat. Serena tahu karena itulah yang biasa terjadi pada rambutnya.

Langit gelap sudah menggelayuti Hutan Terlarang di belakang pondok Hagrid saat itu. Serena hampir saja terjatuh ketika dia samar-samar melihat seseorang terbang juga diantara pepohonan. Tapi bukan orang itu yang membuat bulu kuduknya meremang, melainkan sesuatu yang mengikuti orang tersebut dari belakang.

Sekilas Serena menyangka yang terbang itu adalah hantu. Tapi ternyata itu adalah seseorang yang naik sapu juga. Anehnya, orang tersebut tampak seperti bayang-bayang yang mencair.

"Halo?"

Serena memberanikan diri menyapa, terlalu takut jantungnya akan berhenti mendadak.

Orang itu berbalik menukik dengan sapunya, lalu apa yang menjadi misteri terbongkar. Sehelai kain setipis kabut langsung jatuh ke tanah. Rupanya orang tersebut naik sapu dengan memakai semacam jubah perak. Serena hanya bisa mengira sampai kesitu karena pikirannya teralihkan. Ternyata orang itu Draco Malfoy.

Draco mengumpat sambil turun dan mengambil kain tersebut dari tanah. Jelas tampak berharga dan ajaib. Serena ingin mengagumi jubah ajaib tersebut, tapi dia sedang tidak berminat untuk memuji Draco.

"Yakin hari ini belum cukup bermasalah bagi mata-panda?" tembak Serena saat Draco sudah sejajar lagi di udara.

Draco mengumpat sesuatu yang kira-kira akan membuat Merlin mengutuknya di tempat.

"Urus urusanmu sendiri, sana!" sentaknya.

"Kenapa kau mau ke hutan? Siapa yang kau ikuti?"

"Bukan urusanmu!"

"Kau akan dihukum jika ketahuan terbang malam-malam begini ke Hutan Terlarang...Dan membawa kain aneh itu..." desis Serena, kemudian menyesal karena dia terdengar seperti Percy.

Apakah dia sengaja mencari bahan pembicaraan agar Draco berbicara lagi padanya? Apakah sesungguhnya dia merasa kehilangan?

"Yah, mengadu sana pada pacar Hufflepuff-mu! Dasar menyedihkan..." kata Draco dengan suara mengejek yang sedikit bergetar.

"Aku tidak punya pacar!" balas Serena, tapi lalu menyesalinya. Diantara banyak argumen dia memilih yang kedengarannya justru malah semakin menyedihkan. "Dan Diggory bukan pacarku!"

"Siapa yang bilang Diggory? Kudengar Filch dulu di Hufflepuff juga. Dan semua tahu kau selalu dekat-dekat orang aneh macam Longbottom dan si raksasa..."

Serena hanya menyadari dinginnya tongkat sihirnya sebelum mencabut dan menyerang Draco, nyaris tanpa peringatan.

"Rictusempra!"

Draco berhasil menghindar tepat waktu dan balas menyerang.

"Tarantallegra!"

Serangannya terlalu kelihatan ketika cahaya putih membelah malam. Serena menghindar dengan mudah.

"Well, well, lihat siapa yang harus kulempar pakai karung terigu lagi..."

"Waddiwassi!" seru Serena, menghamburkan sekitar ratusan kerikil dari tanah dibawahnya kepada Draco.

Draco terbang lebih tinggi lagi keatas dan menyerang. Mereka berputar-putar diantara pohon terluar Hutan Terlarang. Siapapun yang diikuti oleh Draco pasti telah masuk hutan lebih jauh karena mereka tampaknya tidak menyadari keberadaan Serena dan Draco, yang saat ini mengeluarkan umpatan khas rapper-rapper New York dibalas dengan umpatan-dengan-membawa-nama-Merlinnya Draco.

Mantra terlupakan saking banyaknya umpatan dan sekarang mereka hanya saling mengirim bunga api, berusaha menjegal dengan tarik-tarikkan ranting sapu. Lalu sapu Draco tersangkut pada salah satu dahan besar ketika Serena terbang cepat di belakangnya. Kejadiannya seperti dalam mimpi saking cepatnya.

Baik Serena maupun Draco jatuh.

.

.

.

Tampaknya Serena sempat pingsan satu detik karena ada suara seperti suara Hagrid yang menghampirinya. Dia bahkan merasa aneh, mengapa Hagrid bisa ada disini.

"Hai! Hentikan! Kalian! Siapa disitu?"

Serena baru menyadari kalau dia baru saja terjatuh saat melihat sapunya dalam keadaan terjepit pada kakinya. Dan dia merasakan terkilir pada tangannya.

Kehangatan disampingnya mengeluarkan wangi campuran sabun mandi pohon pinus dan beberapa pembersih pakaian yang dipakai peri-rumah Hogwarts.

Serena buru-buru terbangun sampai pusing. Gonggongan anjing yang ramai menyadarkannya bahwa dia baru saja jatuh diatas Draco.

"Aku... Maaf..." gumam Serena amat gugup.

Mata abu-abu Draco membelalak. Dia jelas sudah sadar juga, terlepas apakah tulangnya ada yang patah atau tidak. Serena terlalu gugup untuk menerka reaksinya.

"Ser? Itu kau?" seru Hagrid.

"Guk! Guk!"

Sebelum keduanya merespon, Hagrid sudah sampai di tempat Serena dan Draco jatuh. Tanpa banyak tanya, Hagrid menggamit lengan Serena dan menarik tangan Draco sampai dia benar-benar bangun.

"Aduh! Pelan-pelan sedikit, bodoh!" seru Draco marah, menandakan dia sehat.

"Apa sih yang kalian lakukan malam begini?" tuntut Hagrid.

"Lepaskan aku, raksasa bau!"

Dengan satu kali hentakkan, Draco terlepas dari Hagrid dan memelototi Serena. Tampaknya Draco memutuskan dia sudah cukup berurusan dengan Serena malam ini karena dia langsung berbalik dan berjalan terpincang-pincang menuju kastil. Sama sekali lupa pada sapu dan jubah peraknya itu.

"Dra... Malfoy!" seru Serena.

"Sudahlah, Ser," geram Hagrid. "Dia menyerangmu? Kurang ajar! Mari kugendong kau..."

Serena mengambil sapunya dan sapu Draco yang tampaknya rusak. Lalu jubah milik Draco tersebut. Merasa masih bisa berjalan. Namun Hagrid menolak mendengarkan. Akhirnya Serena digendong pada punggungnya.

Sesampainya di pondok Hagrid yang hangat, Hagrid langsung memeriksanya. Serena tampak baik-baik saja, hanya tangan kanannya luar biasa ngilu dan perih.

"Lumayan, nih... Kau seharusnya tidak mempedulikan si Malfoy. Darah jelek, Malfoy... Semua orang tahu..." kata Hagrid sambil membebat bahu Serena.

Hagrid yang banyak tahu tentang dunia sihir dan menganggap Draco juga adalah anak jahat semakin membuat Serena cemas.

"Tapi..."

"Yah, Harry dan Ron juga sering bilang ingin menghajar Malfoy," kata Hagrid meneruskan tanpa ampun. "Mereka tidak salah... Tapi kau kan lain, Ser... Kau anak perempuan yang lembut hati..."

"Eurgh..." keluh Serena membayangkan dirinya berlembut-lembut terhadap anak penindas.

Atau dia mengeluh karena Hagrid sekarang menggulung lengan kaus Serena. Ada cakaran berdarah yang amat panjang. Pasti cakaran Draco pada saat Serena jatuh tadi.

"Yah, anak itu mencoba menarik dan menahan agar kau tidak jatuh, tuh... Aneh, ya?" Hagrid tertawa seolah itu lucu.

Tapi Serena tercenung ketika Hagrid mengusir Fang agar tidak menjilati luka berdarah Serena.

Draco berusaha menyelamatkannya... Atau dia terlalu marah untuk tetap berpikir jernih? Anak sombong dan penindas itu seharusnya sedang tidak mau berbaik-baik pada Serena.

"Lihat, ini jubah gaib namanya..."

Hagrid mengembalikan Serena pada masa kini. Tangannya yang besar hilang setengah.

"Bagaimana..."

"Jubah gaib!" kata Hagrid seolah semua jelas. Tangannya menggoyang-goyangkan sesuatu yang tidak kelihatan. Namun beberapa detik kemudian munculah bayangan transparan yang tadi dilihat Serena menyelubungi Draco.

"Ya, ampun... Itu kan bagus sekali..." Serena ternganga melihat jubah yang bisa membuat orang menghilang tersebut, yang hanya jadi impian kalau saja dia masih hidup di dunia muggle.

"Tapi ini hanya kelas rendahnya... Jubah gaib, yang benar-benar ajaib dan bertahan sepanjang masa hanya ada dalam legenda... Ini sih hanya yang terbuat dari kulit Demiguise, si hewan yang mirip kera itu, yang kulitnya biasa dipintal menjadi jubah gaib. Paling hanya bertahan beberapa tahun. Lihat? Sudah mulai kelihatan, kan?"

Serena tidak terlalu mendengarkan Hagrid. Tangannya menyusuri jubah yang keperakan dan dingin tersebut. Draco mempunyai jubah gaib? Tiba-tiba Serena berpikir pantas saja dia tidak pernah terlihat kalau sedang mengacau. Apakah karena jubah ini? Serena merasa dia harus berpikir ulang kalau mau mengembalikan barang semenakjubkan ini kepada anak yang dianggapnya nakal.

Perlu beberapa menit untuk membereskan luka Serena, tapi dia harus tetap ke rumah sakit. Betapapun ahlinya Hagrid, Serena tidak terlalu yakin pada kehigienisannya. Masalahnya, Hagrid sekarang membawa bungkusan yang tampaknya kotor dan berumur ribuan tahun.

"Ser, aku tahu kau sama tertariknya pada binatang gaib seperti aku..." Hagrid memulai. "Aku menyesal kau tidak mengenal Fluffy..."

"Fluffy? Oh, saudaranya Fang, ya?" putus Serena sok tahu, pikirannya masih dipenuhi kejadian tadi, berusaha menerka-nerka maksud Draco.

"Apa? Bukan! Fluffy itu anjing berkepala-tiga yang kau dan teman-temanmu lihat di koridor terlarang lantai tiga..."

"Apa?"

"Harry bilang kau ada disana juga bersamanya dan teman-temannya waktu jalan-jalan malam yang seharusnya tidak kalian lakukan itu?" tanya Hagrid menegur campur bingung.

"Tunggu, tunggu, tunggu. Cerberus itu namanya Fluffy?"

Hagrid menggeleng, tampak memikirkan apa itu Cerberus tapi lalu mengangguk mengiyakan.

"Jadi dia menjaga apa?" tanya Serena penasaran.

"Lebih baik kau tidak tahu, Ser," putus Hagrid buru-buru, jelas tidak mau kelepasan. "Nah, ini ada satu yang menarik... Menang dari minum kemarin malam..."

Hagrid meletakkan bungkusan itu dengan hati-hati di meja makan.

"Jadi, aku butuh pendapat, juga bantuan..." pinta Hagrid.

Suasana sunyi senyap ketika Hagrid mulai membuka bungkusan. Isinya ternyata adalah sebutir telur. Kalau saja telur itu tidak berwarna hitam pekat berkilat, Serena pastilah sudah mengira itu telur burung unta raksasa.

"Hagrid?" tanya Serena kehabisan nafas.

"Telur naga, Ser... Aku bisa mempunyai naga!"

Suara Hagrid mendecit bahagia dan terharu. Serena nyaris ikut berbahagia.

"Lalu? Kita kembangbiakkan disini?"

Hagrid menggeleng sedih, "Tidak bisa... Ini terlarang... Jarang ada naga di Inggris, dibiakkan dengan hati-hati di tempat penangkaran yang sepi... Dia sulit dan berbahaya, soalnya. Dan amat langka... Tapi..."

"Kau butuh saran apakah kau harus menetaskannya atau tidak, ya?" tebak Serena.

"Ini termasuk melanggar hukum, sih..." Hagrid terlihat sedih lagi.

"Jadi mengapa? Ehm, kau akan berhenti?"

Hagrid menatap Serena seolah lewat mata biru-hijaunya, akan terdapat keputusan dalam membiakkan naga. Rasa penasaran dan antusias kini mengalir juga di tubuh Serena.

Naga. Bahkan dalam cerita muggle-pun, mereka amat sakti dan keramat. Serena harus melihatnya dengan mata kepala sendiri.

Tapi karena seperti biasa, dengan adanya pengalihan perhatian berupa naga, Draco, anak-anak penindas lainnya, Snape, dan bahkan cowok Diggory itu, mungkin bisa menghilang sebentar dari pikirannya.

"Baiklah!" putus Hagrid. "Kita lakukan!"

.

.

.