Disclaimer: This story is based on characters and situations created and owned by JK Rowling.
And Cecily von Zigesar and George R R Martin for some character's name (sorry for not mention this earlier)
Pairings: Draco Malfoy/OC
Setting: Harry Potter and Sorcerer's Stone (Book & Movie)
The Two-Tale Heart
XVI
DRACO
Dengan kaki dan punggung yang luar biasa nyeri, Draco menegakkan tubuh dan berjalan selurus mungkin menuju kastil. Biasanya, dia akan mengerang-erang kesakitan agar dibawa ke rumah sakit, akan mengadu pada ayahnya, dan menyebabkan siapapun yang menyakitinya dihukum.
Hanya saja Draco tidak mau kelihatan begitu lemah di depan anak perempuan sialan itu.
Kalau Serena menganggap dia dan keluarganya adalah penyihir hitam, maka Draco akan memberikannya. Draco berhenti berusaha populer di Hogwarts. Dia juga berhenti berusaha menjadi yang terpintar. Berusaha menjadi yang terjahat sekarang ada dipikirannya. Kalau Draco menindas yang lain, maka Serena van der Woodsen bukan pengecualian.
Selain si Longbottom sialan, Draco menjegal Serena agar terlambat dan mendapat detensi Snape sesering mungkin. Perasaannya amat puas saat itu. Namun anehnya, ketika puncaknya Draco menyerang Serena dengan Kutukan Ikat-Tubuh-Sempurna, melihat Serena berlumur tepung dari atas kepala sampai kaki, menyibakkan rambut dan menggosok matanya yang perih, Draco merasa menjadi orang paling jahat sedunia. Dan sama sekali tidak ada kepuasan disana.
Lalu ada si Weasley yang membuat matanya menjadi bengkak. Si miskin itu berani menghajarnya. Maka Draco berusaha mengikuti Potter yang mengindap-indap mengikuti sesuatu ke Hutan Terlarang. Berusaha membuat si Potter dikeluarkan, Draco malah ketahuan oleh Serena. Dan segalanya jadi kacau.
"Sialan! Darah-campuran sialan! Darah-pengkhianat sialan! Kurang ajar!"
Draco berseru keras-keras bahkan sampai mengagetkan Peeves yang sedang melayang di udara, berusaha melepas kandelar.
Aula Besar tentu saja masih penuh oleh anak-anak yang sedang berpesta untuk Gryffindor. Draco berjalan ke meja Slytherin dengan seringai kemenangan anak Gryffindor dan juga Marc Zabini menyinarinya bagai lampu sorot, tertarik oleh matanya yang lebam.
"Draco! Kau kemana saja?" pekik Pansy. "Aduh, matamu!"
Pansy sibuk sendiri sementara Draco mengambil steak dan mengiris dengan ganas. Dia tidak pernah menyangka akan 'berperang' dengan Serena. Tanpa aba-aba, tanpa peringatan. Emosi memenuhi mereka. Seperti anak-anak yang berkelahi. Seperti dia dengan Longbottom dan Weasley tadi sore. Tapi Draco bahkan tidak punya keberanian untuk membiarkannya jatuh. Draco menatap jarinya, dengan darah Serena masih menempel pada kukunya. Tadi itu gerak refleks. Draco menahan Serena agar dia tidak terjatuh, sehingga Draco pun ikut terjatuh.
Apabila Serena jatuh sedangkan Draco selamat, apakah Serena akan menge-cap Draco sama? Sebagai anak jahat dari keluarga jahat pula?
Draco berhenti mengiris dan menggeleng sendiri. Keluarganya adalah keluarga darah-murni terhormat yang memegang tradisi dengan teguh. Itu tidak jahat. Dan Serena bisa memikirkan apapun tentang dirinya karena Draco tidak peduli. Dia hanya cewek bodoh yang kebetulan selalu memenuhi pikirannya. Dipenuhinya otaknya dengan penyesalan karena dia tidak membiarkan cewek itu jatuh saja tadi.
"Diggory menerima kekalahan dengan bagus..." kata Theodore tiba-tiba, menatap meja Hufflepuff. "Taruhan, dia yang akan menjadi kapten tahun-tahun berikutnya..."
Draco mau tidak mau menoleh juga ke meja Hufflepuff. Yang juga ikut berpesta walaupun masih lesu karena kalah. Cedric Diggory ada di tengah teman-temannya. Tetap menjadi pusat perhatian karena wajahnya yang, katanya, tampan. Seluruh mata memang terpusat pada meja Gryffindor malam itu. Tapi Draco tampaknya tahu siapa yang dicari cowok-cantik itu di meja Gryffindor. Dan anak itu sedang bersama si raksasa di tepi hutan.
"Aku bisa menghilangkan lebam itu, Malfoy... Sebelum Ayahmu ikut repot..."
Suara Marc Zabini tidak membuatnya jauh lebih baik. Draco berusaha untuk tidak mempedulikannya.
"Jangan kurang ajar, Marc!" bela Pansy.
"Aku tidak butuh kau bela, Pansy!" potong Draco tiba-tiba tersinggung.
"Tapi... Draco?"
Pansy jelas bingung dan sakit hati karena bentakkan Draco. Tapi Draco tak peduli lagi. Sebagian karena anak-anak di meja Gryffindor sedang membopong pahlawan-pahlawan Quidditch mereka, minus Potter yang sedang-entah-apa di dalam hutan, sebagian karena agak sedih mengingat Serena tidak akan berbagi Butterbeer hasil kemenangan timnya dengan Draco kali ini...
.
.
.
Hari-hari berjalan dengan membosankan. Jadi Draco sama sekali tidak kaget kalau ujian hanya tinggal dua bulan lagi. Itu juga karena ayahnya tidak pernah lupa mengingatkan lewat surat. Statusnya sebagai dewan-sekolah-Hogwarts-yang-sebentar-lagi-aktif, membuat isi suratnya semakin membosankan. Untunglah Pansy juga kebagian surat tersebut.
"Draco, Ayahmu memintaku untuk membuat jadwal belajar ujianmu..." kata Pansy pagi itu sambil mengelus-elus rambut cokelatnya.
"Eurgh..."
Terdengar suara jijik dari belakang mereka.
"Jauh-jauh dari kami, cewek jelek!" sentak Pansy kepada Serena yang mengagetkan Draco.
Serena jelas menguping Draco dan Pansy. Dan ini kali pertama dia langsung bersinggungan dengan mereka. Mungkin ini caranya menyatakan perang terbuka. Mencari masalah, karena Serena biasanya hanya diam dan mengalah bila digencet.
Serena pergi begitu saja, membuat Pansy marah-marah sendiri. Tampak tidak peduli dengan Draco dan Pansy, jelas tak peduli juga pada kejadian malam sebelumnya saat mereka di tepi hutan terlarang. Dia kelihatan lelah seperti biasa. Tangannya terlihat kaku seolah sudah mengaduk sesuatu yang berat sebagai kegiatan pertama yang dia lakukan setelah bangun tidur.
Tidak butuh waktu lama bagi Draco untuk mengetahui kenapa. Kebetulan dia berjalan lurus kearah tiga orang anak Gryffindor. Rambut acak-acakkan itu sudah pasti si Hermione Granger.
"Hermione," terdengar suara Weasley. "Berapa kali dalam hidup kita, kita bisa melihat naga yang sedang menetas?"
"Ada pelajaran. Nanti kita kena marah, dan itu belum apa-apa dibanding dengan apa yang akan terjadi pada Hagrid kalau ada orang yang tahu apa yang sedang dilakukannya..."
"Diam!"
Si Potter menyadari bahwa Draco sedang mendengarkan mereka. Ketiga anak itu menoleh memandang Draco.
Naga.
Ini sempurna untuk balas dendam. Dan Draco mengeluarkan seringai jahat terbaiknya pada mereka.
.
.
.
Draco akhirnya menggunakan kaki dan tenaganya lagi. Untuk mengikuti si trio sialan itu sampai ke pondok si raksasa dan melihat dengan kepala sendiri naga yang sedang menetas.
Awalnya Draco hampir saja bergumam takjub juga. Tapi dia sempat menahannya. Draco sengaja berlama-lama, agar mereka sempat memergokinya. Draco ingin menikmati wajah cemas mereka karena mereka tahu Draco mengetahui rahasia yang bisa membuat si raksasa dipecat, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
Untunglah, Serena tidak ada disana saat si naga menetas. Draco sebenarnya heran karena itu sama sekali tidak seperti Serena. Yaitu berada di tempat yang aneh dengan orang, dan dalam kasus ini, naga, yang juga aneh. Baru ketika Draco melewati rumah kaca, dia tahu mengapa Serena begitu sibuk. Musim moonlace sudah tiba, dan Snape memberinya detensi untuk mengayaki, menguliti, dan mengeringkan bijinya satu-persatu. Bukan perkara mudah, karena moonlace tanaman yang langka. Lampu-lampu sihir paling terang terdapat dalam intisari moonlace. Dan dia berguna juga dalam banyak ramuan paling ajaib dan rumit.
Beberapa hari setelahnya, Draco tidak sengaja menguping pembicaraan Serena dan ketiga anak tersebut. Mulanya Draco merasa aneh mereka akrab, lalu menyadari bahwa tangan si Weasley dalam bebatan sapu tangan, tampak berdarah.
"Aku tidak punya obatnya dan tidak tahu ramuan apa yang bisa menghentikan pendarahan...karena...digigit Norbert..." mulai Serena.
Tapi si Potter menolak mengerti, "Tapi kau sudah belajar banyak bersama Snape, kan? Mungkin kau bisa?"
Serena menggeleng kesal, "Sebaiknya ke Madam Pomfrey, Ron..."
"Aku juga berpikir seperti itu..." kata Granger angkuh.
"Syukurlah kalau begitu dan aku banyak kerjaan..." tutup Serena sambil mengeleos pergi.
Draco mengambil kesempatan ini dan mengikuti ke rumah sakit. Setelah kedua anak itu meninggalkan Weasley yang sudah dibebat, Draco masuk ke kamar pasien, dengan bunga matahari sihiran sebesar wajan di tangan.
"Ma'am... Aku ingin menjenguk sahabatku Ron dan memberikan bunga ini..." kata Draco kepada Madam Pomfrey yang menjaga.
Bahkan Madam Pomfrey pun bingung saat melihat seragam Slytherin Draco dan bunga mataharinya, menjenguk anak miskin dari Gryffindor.
"Aku ingin meminjam catatannya juga..." kilah Draco.
"Oh, baik... baik..."
Madam Pomfrey mengantar lalu meninggalkan mereka sebentar. Tampang si Weasley tampak seperti baru saja disepak Centaurus.
"Mau apa kau kemari?" sentaknya.
"Jaga perilakumu, Weasley. Kalau tidak, kau akan keracunan lagi... Sebenarnya aku membawa bunga ini untukmu. Biji bunganya bisa dimakan. Siapa tahu kau kelaparan?" Draco pura-pura kaget melihat tangan Weasley. "Oh! Maaf! Aku lupa tanganmu sedang terluka... Pasti tangan dengan luka gigitan naga tidak bisa dipakai mengupas biji, ya?"
Draco tertawa terbahak melihat wajah si Weasley yang menjadi semerah tomat.
"Nah, Weasley... Coba aku pinjam catatan Mantra-mu sebelum kubilang pada Madam Pomfrey apa yang mengigitmu..."
Weasley tidak punya pilihan selain memberikannya. Draco mengeloyor pergi. Sebenarnya dia masih ingin mengganggu, tapi ada yang lebih penting. Kesalahan si Potter adalah memilih tukang berkelahi sebagai teman. Weasley dan Granger. Dimana kalau mereka sedang bertengkar, siapapun bisa mencuri dengar.
Dan Draco mengeluarkan surat dari catatan si Weasley. Surat yang mengabarkan kalau si naga, akan dipindahkan ke suatu tempat dengan tempat pertemuan di menara Astronomi. Sabtu tengah malam.
.
.
.
Draco sengaja bolos latihan Quidditch pada akhir pekan itu. Dia terlalu tegang untuk membuat rencana bagaimana Potter dan kawan-kawan dikeluarkan. Draco berpikir dia akan langsung mengadukannya pada Snape saja. Tapi harus ada bukti yang kuat karena si Potter adalah anak kesayangan Dumbledore. Mungkin kalau Draco membawa Snape untuk mengintai Potter sebelum tengah malam?
Bahkan di kepalanya pun ide itu terdengar bodoh. Sebaik apapun Snape kepadanya, dia mana mau diajak mengintai macam anak-anak begitu? Dan Draco enggan menghampiri kepala asramanya tersebut. Snape tampak marah-marah terus dan selalu berjalan dengan gundah bagai kelelawar yang kehilangan gua-nya. Tapi Draco lebih takut lagi karena sekarang Snape tampaknya terus menempel pada Quirrell. Quirrell jelas lebih gemetaran dan lebih menyedihkan dibanding Snape. Tapi ada tatapan setengah gila yang meresahkan pada gerak-gerik Quirrell yang membuat Draco enggan dekat-dekat. Itu, dan Draco sedang tidak mau Quirrell meminta bantuan dia ataupun orang tuanya itu.
"Jangan lakukan..."
Draco sampai kaget sendiri ketika melihat Serena dibalik lemari tempat penyimpanan ramuan-ramuan. Karena itu, Draco terpaksa berhenti dan menggumam gugup entah-apa.
"Jangan lakukan... Ron bilang kau sudah tahu... Apapun yang akan kami lakukan..." kata Serena lagi, sekarang dia yang tampak gugup.
"Kami?" ejek Draco sekejam yang bisa dia keluarkan lewat mulutnya. "Sungguh mengharukan... Jadi trio emas Gryffindor, oh maaf, trio pecundang itu mau digerecoki orang luar macam kau?"
Wajah Serena memerah, "Yah, mereka membicarakannya dengan keras, sih..."
"Sudah kuduga..."
Serena maju sedikit dan hampir mendekati Draco sehingga Draco dapat melihat mata hijau-birunya dengan jelas. Draco mundur sedikit. Tidak jelas mengapa, itu bukan rasa takut, lebih karena malu... sepertinya...
"Dengar... Hagrid temanku juga. Dan kami bisa membereskan ini. Kau tidak bisa melihat orang senang, ya? Apakah satu-satunya cara membahagiakanmu adalah membuat beberapa orang yang dikeluarkan?" tantang Serena.
"Oh, tidak juga. Aku bahagia kalau sedang punya banyak emas, kopi susu, dan semua orang menuruti keinginanku..."
Serena memutar matanya tetapi Draco melanjutkan sebelum Serena sempat berkomentar.
"Dan kami kan dari keluarga penyihir hitam, Ser... Apa sih yang lebih membahagiakan selain darah-lumpur yang dikeluarkan?"
Wajah Serena sekarang kaku oleh rasa bersalah, "Dengar..."
"Aku tidak butuh permintaan maaf!" potong Draco.
"Ih, siapa yang mau minta maaf?" seru Serena mengernyit. "Jubah gaibmu ada padaku, kau jelas tidak akan bisa memakainya. Khasiatnya pun sudah agak pudar saat kemarin kucoba pakai..."
"Berani-beraninya kau memakai..."
"...dan kalaupun kau melapor pada Profesor McGonagall, kau tidak akan bisa menangkap kami. Kami sangat cerdik... Kami tahu kau akan mengadu, jadi..."
Draco menyeringai kejam, "Oh, ya? Sangat menarik... Kita lihat saja nanti, van der Woodsen. Kuharap kau berada cukup dekat dengan tiga pecundang itu agar kau sama-sama dikeluarkan..."
.
.
.
Malam itu pula, sebelum jam menunjukkan pukul dua belas, Draco dengan gagah berani mengetuk pintu kamar sang kepala asrama Gryffindor. Sialnya, tidak ada yang membuka pintu. Draco bertanya pada salah satu lukisan yang berkata McGonagall sedang ke dapur. Menara Astronomi ada di atas jalan yang menuju dapur. Ini sempurna. Draco akan kesana, bertemu McGonagall dan menangkap Potter serta kedua temannya.
Berpapasan dengan McGonagall saat akan menaiki tangga menara Astronomi adalah sesuatu yang Draco tidak mau lihat lagi di masa-masa mendatang. Masalahnya McGonagall saat itu tidak jauh berbeda dengan nenek sihir. Hanya saja dia memakai baju tidur kotak-kotak dan harnet.
"DRACO MALFOY!"
McGonagall menyalakan kandelar terdekat dan seketika lorong menjadi terang-benderang.
"Profesor McGonagall, saya tadi mencari Anda..."
"BERANI-BERANINYA KAU!"
McGonagall langsung menyambar telinga Draco dan menyeretnya menjauh dari tangga.
"Detensi!" teriak McGonagall. "Dan potong dua puluh angka dari Slytherin! Berkeliaran di tengah malam, beraninya kau..."
Draco berusaha melepaskan diri, "Anda tidak mengerti, Profesor, Harry Potter akan datang, dia membawa naga!"
"Sungguh omong kosong! Berani-beraninya kau bohong besar begitu! Ayo, aku akan bicara pada Profesor Snape tentang kau, Malfoy!"
Telinga Malfoy hampir copot sehingga dia sama sekali tidak melawan ketika McGonagall menyeretnya menjauhi menara Astronomi.
.
.
.
Berita baiknya, kabar menyebar dengan amat cepat di Hogwarts, sehingga Draco tahu apapun yang terjadi tadi malam. Walaupun Draco tidak berhasil memergoki Potter, perpindahan naga itu kelihatannya tidak berjalan mulus.
Ada hampir dua ratusan angka yang menghilang dari jam pasir Gryffindor. Dilihat dari anak-anak Gryffindor yang menjauhi Potter dan Granger, serta si Longbottom, Draco tahu, pahlawan cilik mereka-lah yang menyebabkannya. Semua anak Slytherin berterima kasih pada mereka, karena sekarang nilai asrama Slytherin-lah yang paling tinggi.
Tidak ada sok-sokkan, tidak ada kesombongan seorang anak-bertahan-hidup dan trio emas Gryffindor. Yang ada, Potter terus menundukkan kepala seolah tidak mau lagi mengacau.
Berita buruknya, mengadu pada McGonagall ternyata bukan ide baik karena guru galak itu sama sekali tidak percaya pada Draco. Dan Snape agak hormat pada McGonagall. Jadi dia menyetujui saja kalau Draco harus didetensi.
Draco sekarang merasa seperti Serena. Hanya saja dia tidak tahu hukuman apa yang harus dikerjakannya. Ayahnya bilang detensi di Hogwarts hanya menulis kalimat. Draco hampir lupa Mantra Kutip-Kilat yang bisa menduplikasi tulisan apapun. Tapi McGonagall kelihatannya bukan tipe yang suka menghukum anak dengan menulis. Snape jelas mendetensi Serena dengan memaksanya membantu di ruang persiapan.
Serena...
Draco melihatnya sedang duduk di sebelah si Potter, dengan tampang pengertiannya yang menyebalkan, mencoba menghibur anak menyedihkan tersebut. Dilihat dari lambaian tangan dan wajah meremehkan Serena, Draco entah mengapa sangat yakin kalau Serena sedang berbicara bahwa Potter tidak perlu khawatir kalau asrama mereka kehilangan angka. Angka itu didapat Potter sendiri saat menang Quidditch dan keaktifan Granger di kelas. Potter dan Granger, kecuali mungkin Longbottom yang tidak pernah mendapat poin apapun, mempunyai hak untuk mengambil lagi angka tersebut. Anak-anak yang memusuhi si Potter lebih baik fokus dalam mengejar angka mereka sendiri dibanding berharap anak Gryffindor lain mendapatkannya untuk mereka.
Draco kaget sendiri dengan pikirannya itu. Kemampuannya menebak apa yang akan dilakukan Serena mulai mengkhawatirkan. Karena mungkin itulah yang akan dikatakannya kalau Draco saat ini ada di posisi si Potter. Screw them...
Berita buruknya lagi adalah ketika Serena menangkap basah Draco yang sedang memandanginya. Senyum meremehkan belum hilang dari wajahnya, ada setitik seringai kemenangan pada dagunya yang diangkat tinggi, dan dia segera bangkit dari meja makan untuk segera mengikuti kelas. McGonagall kebetulan akan pergi juga sehingga mereka berjalan berdua.
Tahulah Draco bahwa sebenarnya dia telah dijebak agar mendapat detensi dan pengurangan angka. Draco sama sekali tidak berpikir untuk melaporkan Potter dan naganya kepada McGonagall. Dia hanya melakukannya karena Serena yang berkata begitu...
.
.
.
Draco tidak sempat membalas dendam, tidak sempat menjahili orang, dan tidak sempat apapun selain belajar. Waktu ujian sudah semakin dekat dan kalau dia mau menghabiskan waktu di rumah dengan tenang, tanpa omelan ayahnya, sebisa mungkin Draco harus belajar untuk mendapat nilai bagus.
"Draco..." kata Pansy pelan.
"Apa?" sentak Draco yang sedang kesulitan menghapal proses pengubahan kumbang menjadi kancing untuk Transfigurasi.
"Ah, tidak... Ini Snape memintaku mengantarkan ini..."
Pansy menyerahkan selembar gulungan perkamen yang Draco sudah tahu isinya bahkan sebelum dia membukanya.
Detensinya akan berlangsung malam itu jam sebelas malam. Dia mengeluhkan banyaknya PR dan latihan yang tidak akan sempat dikerjakannya malam ini. Lagipula tengah malam, dia mau dihukum untuk mengerjakan apa, sih? Filch akan menunggunya di Aula Depan. Draco punya firasat buruk.
Jadi dengan bersungut-sungut, malam itu Draco mengenakan jubah tebal menutupi lehernya, berusaha mengalihkan pandangan dari Filch yang terus menyeringai. Sialnya, Potter, Granger, dan si tolol Longbottom menyusulnya. Draco tidak tahu apakah dia harus senang karena ini. Setidaknya dia bisa menyiksa Longbottom saat melakukan hukuman entah-apapun.
Mereka menyeberangi lapangan gelap sementara Filch mengoceh tentang hukuman yang dia gunakan jaman dulu. Bulan bersinar terang, tetapi awan-awan yang berulang kali melintas membuat mereka berjalan dalam kegelapan. Draco melihat pondok si raksasa yang masih menyala. Kemudian ada suara.
"Kaukah itu, Filch? Cepat, aku mau mulai."
Draco mengeluh ketika mendengar suara familiar itu. Dengan si raksasa, tampaknya tidak akan ada yang berjalan baik. Apalagi dengan anak-anak kesayangannya.
"Rupanya kau mengira kau akan bersenang-senang dengan orang kasar itu, ya? Pikir lagi, Nak. Kalian akan dibawa ke Hutan dan aku keliru sekali kalau mengira kalian semua berhasil keluar utuh nanti."
Draco berhenti berjalan. Walaupun dia pernah membuntuti Potter sampai ke tepi hutan, Draco belum pernah benar-benar berniat memasukinya.
"Hutan?" Draco merasa suaranya agak bergetar. "Kita tidak boleh kesana di malam hari, ada macam-macam di sana, manusia serigala, kudengar..."
Draco dengan gugup menatap langit, yang bulannya penuh.
Si Longbottom jelas langsung tersedak dan merengek.
"Salah kalian sendiri, kan?" kata Filch, suaranya menjadi serak saking senangnya. "Mestinya ingat soal manusia serigala itu sebelum melanggar peraturan, ya, kan?"
Si raksasa datang menghampiri. Dia membawa busur besar dan sekantong anak panah tergantung di bahunya. Si anjing bersisian dengannya. Dibelakang, Draco dengan kaget melihat, walaupun dia sudah bisa menebaknya, berjalan Serena van der Woodsen.
Draco menegakkan diri tapi itu belum apa-apa dibanding Granger yang kelihatannya tidak mau disaingi Serena, bahkan dalam detensi-masuk-ke-hutan.
"Mengapa kau disini?" tanya si darah-lumpur itu agak menyerang.
Serena mengangkat bahu, "Membantu, kurasa..."
Si raksasa membelanya, "Dia disini untuk bantu aku tentu saja, Hermione... Dan Profesor Snape memintanya memetik knotgrass liar yang harus dipetik pada bulan purnama..."
Ketika Filch meninggalkan mereka setelah puas memastikan bahwa mereka akan mati menderita, Draco menoleh kepada si raksasa.
"Aku tak mau masuk Hutan itu," katanya terus terang.
Adanya Serena lebih membuat perasaannya tidak enak.
"Kenapa? Takut?" tanya Serena langsung dan tepat, seperti dugaan Draco.
Si raksasa berusaha melerai, "Harus, kalau kau mau tetap di Hogwarts," kata si raksasa dengan tidak sopan. "Kau sudah lakukan kesalahan dan sekarang harus bayar."
"Tapi ini untuk kelas pelayan, bukan untuk pelajar." Draco berusaha mengingat apapun yang anggota dewan katakan kalau ada murid yang dihukum karena ada musuhnya akan membawa naga, tapi ternyata baru dia satu-satunya yang mendapat detensi karena hal itu. "Kukira kami akan disuruh menulis atau yang semacamnya. Kalau ayahku tahu aku dihukum begini, dia akan..."
"Akan apa? Bilang padamu untuk terus tinggal didalam hutan? Beliau mungkin malah akan senang..." potong Serena tidak bisa menahan diri.
Draco baru akan membalas tapi tidak jadi karena suara mendengus si Potter terdengar di sebelahnya dan si raksasa memarahinya lagi.
"Sudah, kalian... Jangan tengkar terus! Ayahmu pasti bilang padamu memang begitulah di Hogwarts! Menulis! Apa gunanya? Kau akan lakukan sesuatu yang berguna, kalau tidak mau, keluar saja. Kalau kaupikir ayahmu lebih suka kau dikeluarkan, ya balik saja ke kastil dan pak kopermu. Ayo!"
Draco amat tersinggung sehingga ingin rasanya menampar raksasa itu. Tapi apa daya, tangan Draco tidak akan sampai dan dia tidak mau keluar sekolah. Kediaman Serena saat itu menandakan bahwa mungkin dia agak kasihan terhadap Draco yang terus dicecar, dan itu malah membuatnya resah.
"Baiklah!" kata-kata si raksasa bagaikan sudah membaur dengan keluasan hutan yang tak berujung. "Sekarang dengar baik-baik, karena apa yang akan kita lakukan malam ini berbahaya dan aku tak mau ada yang ambil risiko. Ikut aku ke sini dulu."
Dia membawa mereka sampai ke tepi Hutan, persis di deretan tempat Draco dan Serena dulu berkelahi. Seraya mengangkat lampunya tinggi-tinggi, dia menunjuk jalan tanah setapak yang sempit dan berkelok-kelok yang menghilang di antara pepohonan besar-besar dan gelap. Angin sepoi menerbangkan rambut mereka ketika mereka memandang ke dalam Hutan.
"Lihat di sana," katanya lagi. "Lihat yang berkilau di tanah itu? Yang keperakan? Itu darah unicorn. Di dalam ada unicorn yang luka parah digigit entah apa. Ini kedua kalinya dalam seminggu. Aku temukan satu unicorn mati Rabu akan cari makhluk malang itu. Mungkin kita harus bebaskan dia dari penderitaannya."
Serena menengadah keatas dan menghembuskan nafas lewat mulut. Matanya kelihatan berkejap. Mungkin sedih. Dan diduga dari bersemangatnya Serena saat pertama kalinya dia bertemu unicorn, mungkin anak perempuan ini tidak akan setuju pada pembantaian-unicorn-atas-dasar-belas-kasihan. Tapi Draco tidak bersimpati, dia hanya mau dia aman. Titik.
"Dan bagaimana kalau entah apa yang menggigit unicorn itu lebih dulu menemukan kita?" sentak Draco.
"Tak ada satu pun di Hutan yang akan melukaimu kalau kau bersamaku atau Fang," kata si raksasa percaya diri. "Dan ikuti jalan ini. Baik, sekarang kita bagi menjadi dua arah yang berlainan. Ada bercak darah dimana-mana, paling tidak si unicorn sudah berkeliaran kesakitan sejak semalam."
"Aku mau bersama Fang," kata Draco cepat, memilih untuk tidak bersama si raksasa yang pastinya akan bersama Potter dan Granger.
"Baiklah, tapi kuingatkan kau, dia pengecut,"
Longbottom sudah jelas bergerak mendekati Serena, tapi Fang si anjing sedang mengendusi ujung jubah Longbottom, seperti mengajaknya ikut bersamanya.
"Aku tidak keberatan bersama Neville," tawar Serena.
Bagus, pikir Draco, semalam lagi di Hutan dengan anak cewek pemarah.
"Tidak!" kata si raksasa. "Aku berjanji menemanimu memetik knotgrass, dan aku tahu tempat itu. Nanti Profesor Snape marah lagi padamu. Kau, kan perempuan..."
"Perempuan yang lemah..." timpal Draco tanpa bisa menahan diri.
"Bicara pada dirimu sendiri!" sentak Serena.
"Hentikan kalian berdua, bertengkar terus!"
Si raksasa memotong dan Serena serta-merta menurutinya. Tapi Draco yakin bukan karena itu. Si Granger sekarang menatap mereka penuh penilaian.
"Begini saja," saran si raksasa. "Aku, Serena, Harry, dan Hermione akan ke satu arah, sedangkan Draco, Neville, dan Fang ke arah lain. Nah, kalau salah satu dari kita temukan unicorn itu, kita kirim bunga api hijau, oke? Keluarkan tongkat kalian dan berlatihlah sekarang..."
Draco mengeluarkan tongkatnya dengan enggan saat si raksasa menyuruh mereka mengirim juga bunga api merah apabila mereka dalam kesulitan. Setelah itu mereka berangkat.
Hutan gelap dan sunyi. Tak lama jalan bercabang sehingga Draco harus berjalan dibelakang Fang dengan Longbottom berusaha sedekat mungkin dengan Draco. Draco menjauh dengan jijik, membiarkan Longbottom dengan nafas terengah mengikuti.
Hutan terasa semakin pekat sementara bahkan di depan matanya sendiri, semua tetap kelihatan hitam. Draco berjalan dengan tergesa, tidak mengindahkan suara-suara berisik ranting patah yang dia buat sendiri. Semakin banyak suara, semakin bagus. Draco berprinsip, apabila ada yang tiba-tiba muncul dihadapannya, dia tidak akan terlalu kaget lagi. Maka dia benar-benar berhenti saat mendengar sesuatu di sebelahnya. Fang menyalak kaget.
"Ap-apa?"
Longbottom mendesah, mencengkeram bagian belakang jubah Draco. Draco tidak menepisnya, terlalu sibuk berkonsentrasi, meninggikan lenteranya.
Ternyata hanya ular yang melata di dahan pohon terendah. Draco bisa merasakan Longbottom tetap mengencangkan cengkeramannya. Draco tidak terlalu takut pada ular yang merupakan simbol asramanya. Tapi rasa sombongnya kini mulai memuncak lagi. Si unicorn mungkin hanya diserang serigala betulan. Fang akan segera menyerang apapun yang menghampiri mereka. Dan berjalan di kegelapan hutan dengan anak bodoh ini mulai membuatnya bosan.
"Diam kau, otak udang!" desis Draco pada Longbottom. "Ada yang mengawasi kita..."
Longbottom merengek lagi.
"Pelan-pelan... Kita berbalik ke belakang bersama-sama..." kata Draco memerintah.
Seperti dalam kejadian drama-drama yang menegangkan, mereka berbalik melihat ke belakang. Sunyi sepi bahkan Fang berhenti menyalak. Draco melihat tangan si Longbottom yang gemetar meninggikan lenteranya.
"KENA KAU!"
Draco menyerang Longbottom dari belakang lalu bunga api merah memuncah di langit.
.
.
.
Yang diingat Draco adalah si raksasa datang dan segera menyambar kerah mereka bagai anak anjing. Muka Draco sudah perih sekali terkena ranting-ranting karena mereka memotong jalan lewat sesemakkan. Si raksasa marah saat mengetahui Draco memilih untuk jahil disaat seperti ini.
Draco tidak bisa menahan diri untuk nyengir tapi kemudian kesal lagi. Serena tidak menampakkan wajah marah seperti ketiga teman anehnya yang lain. Dia tampak takut, tangannya mencengkeran bagian tengah jubahnya, dan bukan lentera yang dia angkat tinggi, melainkan tongkat sihirnya, seakan bersiap bertarung.
Dia mengkhawatirkan si Longbottom dan itu membuat Draco muak.
"Kita beruntung kalau masih bisa tangkap sesuatu sekarang, setelah suara-suara yang kalian buat. Baik, kita ganti rombongan. Neville, kau bersamaku dan Hermione. Harry, kau pergi bersama Fang dan idiot ini."
Si raksasa berbisik menambahkan pada Potter lalu menatap Serena.
"Ser, sori juga, akan aku ambilkan knotgrass-mu..."
Serena menurunkan tongkatnya dan mengangguk, "Oke, aku akan dengan Fang..."
Ini buruk sekali bagi Draco. Dia tidak tahu apa yang harus dirasakannya. Si raksasa pastilah menyuruh Serena bejalan dengan mereka agar dia bisa mengawasi si Potter, anak-bertahan-hidup yang tampaknya harus dijagai bahkan oleh anak perempuan yang seumur dengannya.
Potter berjalan memimpin dengan Fang disebelahnya. Serena berjalan tanpa suara di belakang Draco. Dia mengawasi Draco. Draco tahu karena bulu kuduknya benar-benar meremang.
Draco menginjak sesuatu yang kental dan berwarna perak. Darah di kepalanya seakan berhenti. Dia menoleh ke belakang, memastikan si Serena masih ada agar dia bisa diserang duluan, kalau ada yang benar-benar menyergap mereka kali ini. Serena meletakkan lentera sepelan mungkin dan berjongkok, memeriksa genangan perak itu pada akar pohon.
"Lihat..."
Si Potter menahan mereka.
Lewat celah di antara cabang-cabang pohon ek tua, Draco bisa melihat tanah terbuka di depan mereka. Sesuatu yang putih terang berkilauan di tanah. Mereka pelan-pelan mendekat.
Ternyata itu benar-benar unicorn, dan dia sudah mati. Draco mungkin bukan penyayang satwa gaib seperti anak cewek bodoh yang kini sudah ada di sebelahnya, tapi mau tidak mau Draco merasa nelangsa. Unicorn ini, tampaknya mati sekarat. Dan Draco belum pernah melihat apapun sekarat sebelumnya.
Baik Serena maupun Potter sudah beringsut mendekat tepat ketika bunyi menggeleser membuat mereka terpaku di tempat. Semak di tepi tempat terbuka itu bergetar... Kemudian, dari bayang kegelapan, muncul sosok berkerudung, merangkak di tanah seperti binatang yang sedang mendekati mangsanya. Sama sekali tidak ada yang bergerak diantara mereka. Lalu sosok gelap berkerudung itu mendekati sisi tubuh unicorn, dan mulai menyeruput darahnya.
Ini sudah keterlaluan bagi Draco sehingga dia pun akhirnya menjerit.
Draco hanya melihat Fang berlari menyusulnya ketika dia mulai berbalik dan berlari. Berlari dan berlari. Sampai sejauh mungkin dari lapangan tadi. Draco sama sekali tidak tahu arah, tapi yang dia tahu adalah, kalau mereka tidak lari, mereka akan mati.
Mereka?
Draco berhenti mendadak dan mendapati selama ini dia berlari dengan menarik tangan Serena yang berteriak-teriak menyuruhnya melepaskannya.
"Sudah puas larinya?" sentaknya terengah-engah. "Sekarang aku mau balik dan melihat Harry!"
Draco bahkan tidak sadar dia menyambar tangan Serena dan berlari bersamanya tadi. Sekarang juga dia sama sekali tidak mengerti mengapa dia menahan si cewek tolol itu.
"Dengar kau, cewek tolol darah-campuran! Kau mungkin berasal dari negara muggle yang serba canggih, dan merasa bertanggung jawab untuk menjadi pengawal si anak-bertahan-hidup-yang-amat-spesial, tapi yang tadi itulah yang namanya monster jahat yang bisa membunuhmu! Kalau tidak, mahkluk itu tidak akan meminum darah apapun!"
"Kita meninggalkan Harry. Aku tidak meninggalkan teman. Sekarang lepaskan tanganku!"
Draco menyadari dia masih mencengkeram pergelangan tangan Serena dan kemudian langsung melepasnya dengan gusar sekaligus malu.
"Yeah, pergi sana selamatkan Harry-mu..."
Walaupun dalam gelap, Draco tahu mereka sedang saling menatap, terengah-engah dan kehabisan kata. Draco sama sekali tidak tahu mengapa Serena belum berbalik untuk kembali ke tempat Potter dan monster tadi berada.
Akhirnya Serena mengangkat tangannya dan mengirim bunga api merah.
Draco bersiap untuk berjalan, atau berlari kembali, ketika Serena menahan tangannya kali ini.
"Diam..." desisnya. "Para centaurus bilang ada yang aneh di hutan ini... Sesuatu... yang berkeliaran..."
Draco diam, terlalu takut untuk merespon.
Setelah beberapa lama hening dalam ketakutan, suara derap kaki kuda mengagetkan mereka. Tapi kemudian kelegaan menguar dari wajah letih Serena.
Dari sisi lain pepohonan, muncul kuda-kuda. Hanya saja mereka sedang bertengkar dan memiliki kepala manusia.
"Kurang ajar, Firenze, beraninya dia..."
"Diam!" seru yang lain.
Walaupun Draco penyihir darah-murni, dia baru kali ini melihat centaurus yang bukan pada kerangkeng Kementerian Sihir. Pria-pria dengan rambut gondrong dan tubuh kuda berjalan tanpa sadar menghampiri mereka. Draco hampir saja mengeluarkan tongkat sihir sebelum Serena menahannya.
"Ah, Miss Serena, masih di hutan?" tanya si centaurus yang berambut merah maju mendekati mereka.
"Tuan Ronan..." Serena membungkuk sedikit sambil menyembunyikan tongkat sihir di belakang punggungnya. "Kami tersesat..."
Serena memanggil bagal itu dengan sebutan 'Tuan' membuat Draco mengernyit.
"Ah, kalau begitu... mari kuantar sampai kau bertemu Hagrid... Tapi jalan kaki saja, ya? Saudaraku Bane sedang luar biasa marah, dia mengira Firenze membocorkan rahasia mars yang menyebutkan bahwa ada penyihir hitam besar yang berusaha kembali lagi..."
"RONAN!"
.
.
.
Akhirnya Draco, semua anak yang didetensi, dan Serena memasuki kastil dengan aman. Si raksasa menjemput mereka dengan nafas yang bisa membangunkan kerbau tidur sekalipun. Tepat saat si centaurus yang pasti bernama Bane itu selesai adu urat-kuda dengan Ronan yang kelepasan bicara.
"Langsung ke kamar, dan jangan bertengkar..." kata si raksasa kepada mereka masih memandang keluar, ke kedalaman hutan.
Longbottom sudah pasti lari terbirit-birit duluan. Potter, yang tampak mau pingsan tapi, sialnya, selamat dari apapun yang meminum darah unicorn, direnteti oleh Granger yang terus-menerus menanyakan keadaannya. Sungguh romantis, pikir Draco muak. Si darah-lumpur sama sekali tidak melihat pada Draco atau bahkan temannya yang lain, Serena.
Draco melirik Serena yang kini hanya mata hijaunya saja yang terlihat dari samping, Dia terlihat cemas dan pucat, masih memandang punggung si raksasa dan anjingnya yang menjauh.
"Detensi tambahan lagi? Teman besarmu sama sekali lupa knotgrass-nya, terlalu sibuk menyelamatkan Potter seperti orang-orang lainnya..."
Serena sekarang memalingkan wajahnya tepat ke hadapan Draco. Draco dengan jengah mengalihkan perhatian ke arah lain. Rambut cokelat gelap Serena menjuntai tak beraturan dan kelihatan berminyak karena keringat, jatuh ke wajahnya. Ada noda tanah hitam di dahinya dan dia sama sekali tidak menyadarinya. Walaupun begitu, dia masih seratus kali lebih baik dibandingkan anak-anak cewek lain yang memakai bedak dan berambut tertata.
"Dibandingkan Voldemort, aku lebih memilih menghadapi Snape..." katanya pelan.
Draco harus menggigit lidah untuk mencegahnya berteriak seperti di hutan tadi saat Serena menyebut nama Voldemort. Untung saat itu Serena memilih untuk memandang ke hutan lagi.
Draco melihat tangan Serena saling mengait dengan gelisah. Lalu Draco menyadari sesuatu. Ibu Serena terlibat dengan penyihir besar tersebut saat memeranginya. Apapun yang dikatakan orang, bahkan centaurus bodoh sekalipun, tentang kembalinya Voldemort, pasti membuat cemas siapa saja. Termasuk Draco...
"Dia tidak akan kembali... Centaurus itu peramal payah..."
Draco tidak tahu apa yang menyebabkannya menghabiskan nafas untuk menenangkan Serena.
"Kenapa kau begitu yakin?"
Serena, kini dengan mata hijau-birunya, menatap langsung ke mata Draco.
Dalam satu helaan nafas, Draco menjawab, "Aku tidak tahu apa yang keluargaku lakukan dulu... Tapi kalau Dia kembali... Aku... Aku mungkin tahu..."
Hening lagi. Jam berdentang di kejauhan membuat mereka yakin tengah malam sudah lama lewat.
"Kembali ke kamarmu, Malfoy..."
Akhirnya hanya itu kata-kata yang keluar dari mulutnya.
"Jangan mengaturku, van der Woodsen..."
"Dan coba jauh-jauh dari masalah..."
"Naga yang kau coba ternakkan bersama teman besarmu..."
"Diamlah..."
"... yang menyebabkanku terlibat masalah..."
... salahmu sendiri..."
"... dan terima kasih untuk sarannya saat itu agar aku melapor ke si tua McGonagall..."
"... sama-sama, kau bodoh sekali, sih... Kenapa tidak tunjukkan saja surat dari Charlie yang kau bajak itu? Itu kelemahan terbesar dalam rencanaku sebenarnya…"
Draco terlalu lelah untuk berdebat dan akhirnya Serena mulai berjalan masuk.
"Terima kasih sudah menyelamatkanku tadi..."
Serena berbalik lagi.
"Jangan dipikirkan. Aku hanya punya refleks bagus. Kalau tidak, kau akan kutinggal..."
"Dengar, aku tidak bermaksud hanya menyelamatkan Harry dan meninggalkanmu di sana tadi, oke? Sori..."
"Aku tidak butuh kau temani..."
"Whatever..."
Serena mulai ngeloyor pergi dan Draco mendapati dirinya sedang nyengir.
"Aku menyelamatkanmu dua kali, omong-omong... Dan Gryffindor sejati harus membayar hutangnya..."
"Whatever..."
Sekarang Serena berseru dari punggungnya. Draco punya perasaan Serena juga sedang nyengir lebar saat meneriakkannya.
.
.
.
