Disclaimer: This story is based on characters and situations created and owned by JK Rowling.

And Cecily von Zigesar and George R R Martin for some character's name

Pairings: Draco Malfoy/OC

Setting: Harry Potter and Sorcerer's Stone (Book & Movie)

The Two-Tale Heart

XVII

SERENA

Serena nyaris saja memeluk Hagrid sewaktu dia datang dengan segerumbul knotgrass liar pada hari terakhir putaran bulan purnama. Serena tahu betul, Hagrid melakukannya karena tidak mau membahayakan nyawa Serena dengan masuk kembali ke hutan. Ini menyelamatkannya juga dari detensi tambahan.

Snape tampak tidak menyadari bahwa bukan Serena sendiri yang memetik tumbuhan itu. Snape kelihatan sedang banyak masalah. Serena tertawa geli, demi menghibur diri, membayangkan Snape punya masalah keluarga. Lalu dia mencuri pandang ke jemari Snape yang sedang memberi contoh cara menyimpan knotgrass supaya tetap segar. Snape tidak memakai cincin kawin. Itu membuat Serena nyaris terbahak.

Tetapi semua guru juga mempunyai masalah. Ujian sudah dekat. Anak-anak dipaksa untuk belajar. Perpustakaan selalu dipenuhi antrian. Serena, yang dibesarkan di dunia muggle dengan segala teknologi yang memudahkan, sekarang harus bergelut dengan buku-buku berdebu di perpustakaan untuk menyelesaikan tugas akhirnya. Bersin-bersin dan berulang kali menyamakan teori pada buku dengan pertanyaan tugasnya, Serena berusaha berbesar hati. Kesibukan ini membuatnya aman dan dia akan melakukan apapun. Apa saja selain masuk kembali kedalam Hutan Terlarang...

.

.

.

Hermione Granger tadinya selalu membuat Serena sebal. Beberapa bulan menjelang ujian, Hermione terus-menerus terbangun di tengah malam. Membuka buku di tempat tidur dan mencoba menghapalkannya sebelum matahari terbit. Beberapa kali Serena terbangun, silau karena cahaya lampu menembus kelambunya. Menggerutu karena dia sangat ingin istirahat karena kebanyakan detensi, Serena merasa dia bisa menebak apa yang menjadi mimpi buruk Hermione setiap malam. Yaitu semua teori dan mantra yang telah dihapalkan Hermione semenjak masuk sekolah, kabur dari kepalanya. Serena ikut menggerutu bersama Parvati dan Lavender yang sama terganggunya.

Tetapi semenjak kejadian didalam Hutan Terlarang, lampu dari balik kelambu Hermione, dan suara gemerisik buku serta desisan cepat Hermione menghapal, adalah satu-satunya yang bisa membangunkan Serena dari mimpi buruk.

Manusia atau monster. Penghisap darah centaurus itu berusaha mengejarnya dalam mimpi. Antara sadar dan tidak, Serena berusaha berlari, terbang, atau menantang langsung kepada si pengejar yang berlumuran darah-perak. Serena tidak pernah mengalami mimpi yang membuatnya lelah setengah mati. Seolah dia benar berlari. Lalu cahaya silau dan gemerisik dari tempat tidur Hermione membangunkannya.

"Mungkin karena belajar terlalu keras..."

Serena terus-menerus meyakinkan dirinya sendiri saat dia berangkat ke kelas dengan malas di pagi harinya, karena tidak tidur dengan benar tiap malam. Neville, yang masuk juga ke hutan, malah kelihatan baik-baik saja. Dia hanya mengkeret dan mencari aman agar tidak perlu didetensi masuk kedalam hutan lagi. Tetapi Neville tidak melihat si makhluk itu. Jadi yang tersisa hanyalah Harry dan Draco Malfoy...

Serena memperhatikan Draco, yang tampaknya agak lupa dengan kegiatannya sebagai anak nakal. Dia juga kelihatan menghindari masalah yang bisa mengirimnya kembali kepada detensi. Neville bahkan tidak terlalu sering diganggu lagi. Terlepas pada pernyataan Draco bahwa dia mungkin tahu banyak dibandingkan dengan Serena tentang Voldemort, Serena menjadi ragu lagi. Draco bahkan amat ngeri mendengar namanya disebut. Kemungkinan besar Draco sama sekali menganggap kembalinya Voldemort adalah hal yang begitu menakutkan sehingga dia menolaknya mentah-mentah. Atau dia sedang berusaha membuat Serena tidak khawatir... Yang sama sekali tidak seperti Draco.

Yang jelas, kekhawatiran Draco kurang lebih sama seperti Hermione. Ujian. Matanya berkantung seolah dia juga menghapal bukunya di tempat tidur layaknya Hermione. Wajah Draco kelihatan mual terus dan itu wajar karena dia terus-menerus menegak kopi-susu.

Lebih karena rasa berterimakasih pada malam sebelumnya, Serena menyampaikan kekhawatirannya. Yang salah besar. Saat itu Draco sedang mencari kuali cadangan di ruang persiapan ramuan ketika Serena mengambil bahan pembantu.

"Kau akan membuat lambungmu berlubang karena kopi-susu..."

"Apa?" seru Draco agak kaget dibalik tumpukkan kuali.

"Kau akan... Lupakan..." Serena mendesah karena sekarang dia terdengar seperti Anna, pelayannya.

"Kami penyihir punya daya tahan tubuh yang bagus, van der Woodsen. Jangan samakan kami..."

"Yeah, yeah, dan kau ternyata dengar..."

Serena meninggalkan Draco yang terus mengoceh. Dia tahu betul apa yang sedang Draco kejar. Nilai bagus dan menjadi nomor satu untuk membuat orang tuanya bangga, atau tidak mengomel. Serena dulu pernah berada di posisinya untuk berusaha jadi nomor satu. Tapi dengan ayah yang begitu baik dan perhatian. Draco kini menunjukkan bakat Slytherin sejatinya selain menyebalkan. Berusaha menyaingi Hermione adalah ambisi yang amat sangat besar.

Mengetahui Draco ternyata masih normal dan mempunyai cita-cita membuat Serena gundah lagi. Sesuatu pada saat malam di Hutan Terlarang itu, makhluk itu, dan ramalan kembalinya Voldemort oleh para centaurus, meninggalkan rasa tidak enak pada ujung lidahnya. Sensasi yang membuat Serena tidak bisa mengenyahkannya begitu saja. Akhirnya hanya tersisa Harry...

Sebagai anak yang bertahan hidup dari serangan Voldemort sendiri, tampaknya wajar kalau Harry kelihatannya terganggu oleh hal ini. Sama seperti Serena, dia berusaha mengubur diri dalam tumpukan tugas dan buku. Tapi ada sesuatu pada diri Harry yang juga sama khawatirnya

Serena ingin mencoba berbincang dengan Harry. Bibi Char menyatakan bahwa dulu ibu Serena juga bergabung untuk melawan Voldemort. Kemungkinan ibunya dulu mengenal orang tua Harry... Perasaan ini mungkin bisa mengurangi rasa tidak tenang Serena. Bahwa dia tahu seseorang yang... masa lalunya amat sangat menyedihkan... Lalu saat semua itu terangkat kembali seperti sekarang? Apakah Harry akan ikut kembali berjuang apabila pembunuh orang tuanya kembali lagi? Bagaimana dengan Serena? Ibunya memang meninggal dunia karena sakit. Tapi apakah dia juga ingin Serena melakukan sesuatu pada saat ini? Apakah dia ingin Serena berjuang mencari tahu apapun-itu-yang-misterius-terjadi-di-Hogwarts?

Apa yang sebetulnya terjadi saat ini di Hogwarts?

Dia menatap Harry yang sedang berkasak-kusuk dengan Ron, yang tangannya sudah mengempis, dan Hermione. Tiba-tiba saja merasa akan segera diusir apabila berani nimbrung.

Pagi itu, Catelyn mengalihkan pikiran Serena dengan tumpukkan perkamen yang sudah dijilid. Dia menjatuhkannya di meja makan.

"Ini kupinjamkan ringkasan catatanku. Kau lihat apa?"

"Aku... Aku tidak..."

Dengan gelagapan Serena melihat Cat sudah ada disampingnya.

"Yah, kebanyakan melamun tidak akan membantumu fokus. Ini ujian pertamamu, Ser..."

Serena melirik Cat, yang rambut merah-senjanya mengeriting ke segala arah. Hidungnya bengkak karena pilek. Lalu Serena menyadari bahwa mungkin Hermione bukanlah satu-satunya anak yang mimpi buruknya adalah tidak hafal satu paragraf buku sihir.

"Ini catatanku. Soal latihan untuk ujian juga ada... Maaf, aku sibuk sekali belajar sampai lupa. Kau tahu? Dengan detensimu, latihanmu, dan desas-desus yang kudengar tentang Harry Potter, pasti membuatmu banyak ketinggalan..."

Serena membuka mulut untuk menenangkan tapi tak ada yang keluar. Matanya terasa panas karena terharu. Diantara banyak anak yang membencinya, dia sama sekali lupa tentang Cat. Maklum, mereka baru Natal kemarin berteman. Dan kemudian Serena menyadari dia bisa bercerita pada Cat...

"Baiklah... Aku harus pergi lagi ke perpustakaan. Kau tahu juga, kan? Kami kelas dua perlu memilih beberapa mata pelajaran khusus untuk kelas tiga..."

"Oke... Tentu..." Serena masih tergagap, menyadari bahwa cerita tentang apapun mungkin malah akan membuat Cat kalut.

Jadi dia hanya mampu memandangi Cat yang berjalan keluar aula, ketika pandangannya bertabrakan dengan cowok tinggi Hufflepuff itu, Cedric Diggory. Ringkasan pelajarannya menumpuk lebih tinggi daripada yang diberikan Cat padanya. Dia melambai ramah pada Serena, menunjuk dengan sendok sereal tumpukan perkamen itu dengan ekspresi lelah.

Serena balas melambai dengan senyum yang, entah mengapa. dirasanya terlalu merekah dan membuat wajahnya panas. Cengirannya masih bersisa ketika dia berbalik dan matanya lagi-lagi tidak sengaja bertatapan dengan cowok tinggi berambut hitam satu lagi dari meja Slytherin. Cowok ini tidak mempunyai tumpukan perkamen melainkan sepiring kentang goreng yang dilahapnya dengan gaya yang menyebabkan senyuman Serena hilang seketika. Lalu, hanya karena ingin melengos lebih jauh, dia melihat Draco diantara gengnya. Draco merengut dibalik surat-suratnya yang banyak, selama sepersekian detik, Serena entah mengapa yakin tadi Draco sedang melihat kearahnya. Untunglah Neville menyelamatkan keadaan tidak penting ini. Trevor si katak, yang tadi Neville ubah menjadi teko, sekarang masih bernafas-uap.

.

.

.

Keringat jatuh dari pelipisnya walaupun angin malam berusaha menyayat kulit. Gelap malam menutupi pandangan bahkan dalam jarak ujung hidungnya.

Serena tidak berani menoleh ke belakang. Dia tahu, bahkan dalam kesendirian, ada sesuatu yang menantinya disana. Tidak dalam posisi bisa melarikan diri, Serena berharap dia sama tenggelamnya dengan kakinya pada tanah dibawah.

Dia seperti tidak berlidah karena tidak ada suara yang keluar. Jangankan teriakan, untuk mendesis ketakutan pun dia tidak berani.

Refleks, Serena akhirnya menoleh ke belakang bahunya...

Yang dilihatnya bagai tak berlidah pula. Kali ini bukan karena orang itu diam, tapi mulutnya yang meneteskan darah perak... Entah kekuatan darimana, Serena akhirnya bisa melepaskan kakinya yang terbenam dan berlari.

Larinya terasa amat lambat. Berulang kali Serena berharap dia bisa terbang.

Tanpa diduga, Draco muncul didepannya. Wajah dan rambut pirang-peraknya terlihat jelas mencolok. Mulutnya terbuka tanpa suara. Menandakan peringatan. Tapi Serena membawa peringatan lebih jelas karena akhirnya dia berhasil membuka mulut dan berteriak.

"LARI, DRACO!"

Draco tetap berada di tempatnya. Gestur tangannya menentang seolah melarang Serena untuk mendekatinya. Tapi Serena terlalu cepat untuk mengerem dan dia semakin dekat... Menabrak Draco...

Draco ternyata berdiri di bibir tebing. Mereka berdua jatuh pada kedalaman tak berujung tanpa peringatan...

Jantung Serena seolah ikut meluncur jatuh ketika dia terbangun dengan nafas memburu, mencengkeram erat seprai, seolah memegang jubah Draco.

Kegelapan pada kaca-kaca berbentuk wajik menyadarkan Serena bahwa dia masih ada di menara Gryffindor-nya. Aman dalam ketinggiannya. Dadanya sakit saat mencoba bangkit dan menenangkan diri. Draco muncul untuk pertama kalinya dalam mimpi buruknya kali ini...

Desisan seseorang terdengar amat mirip si makhluk dalam mimpinya sehingga Serena tersentak lagi, kali ini memegang tongkatnya yang dia simpan di samping bantal.

Ternyata Hermione sedang mencoba mantra entah-apa, seperti biasa. Mungkin menyadari kegusaran yang terjadi di tempat tidur Serena, Hermione membuka kelambunya, tepat pada saat Serena mengacungkan tongkatnya.

"Kau mau menyerangku?" Hermione bertanya setengah menantang.

"Tidak... Aku..." Serena kesulitan bicara dan menurunkan tongkatnya.

"Maaf deh kalau aku membangunkan tidur-perawatan-kecantikanmu..." kata Hermione lagi, kali ini sambil menutup kelambunya kembali.

Serena tercenung menatap kelambu dan Hermione didalamnya. Sesuatu yang tidak disangka-sangka muncul dari dalam dirinya, dan itu mungkin karena dia baru saja jatuh dari ketinggian dalam mimpinya. Adrenalin memuncak. Serena menarik paksa kelambu Hermione.

"Kupikir kau akan tetap mendapat nilai tertinggi tanpa harus mengganggu orang seperti ini. Mereka menyediakan ruang rekreasi dan perpustakaan untuk belajar..." desis Serena dengan tangan masih pada kelambu.

Kalau Serena kaget saat melihat keadaan di tempat tidur Hermione, yang tampaknya dipenuhi dengan buku sebagai pengganti bantal, itu tidak seberapa dengan kekagetan Hermione.

"Oh, maaf kalau aku selama ini mengganggu..." katanya setelah lepas dari kekagetan. Nada suaranya tidak meminta maaf sama sekali. "Tapi aku harus bekerja keras, kau tahu, aku bukanlah anak cantik yang beruntung dan disukai banyak orang..."

Ini sama sekali tidak masuk akal. Serena tidak merasa dia cantik atau beruntung atau disukai banyak orang sehingga dia tidak harus bekerja keras. Kata-kata Hermione kedengarannya sama seperti kata-kata Pansy Parkinson. Atau Serena sedang tidak mau kalah malam ini. Dia tidak akan kembali ke tempat tidur sebelum Hermione tidur seperti kerbau mati.

"Untuk Nona yang selalu benar semua, kau salah satu karena kau tidak menyukaiku. Dan berhentilah mengganggu anak lain tidur. Dan yang terpenting, berhentilah memperlakukanku bagaikan anak dengan otak kosong!"

Hermione bangkit diatas buku-bukunya. Menjulang tinggi karena dia berdiri di tempat tidur.

"Kalau kau punya masalah, adukan pada Profesor McGonagall..."

"Aku mengatakannya padamu langsung, karena aku bukan pengadu!"

"Yeah, yeah, dengarkan kata-kata Nona-Sempurna..."

Hermione mengatakan kalimat terakhir dengan menirukan logat Amerika Serena yang amat payah. Beberapa kali bertukar kata-kata pedas, hal terakhir yang Serena ingat adalah Parvati dan Lavender melerai mereka. Hermione menutup kembali kelambunya tanpa ada tanda-tanda dia akan tidur seperti kerbau. Dan Lavender meminjamkan penutup mata dan telinga yang berbulu untuk dipakai tidur Serena.

Serena merangkak lagi ke tempat tidurnya dengan telinga gatal dan perasaan kalah dari Hermione. Juga perasaan bersalah karena memulai pertengkaran yang tidak perlu. Tapi semenjak saat itu, Serena tidak pernah bermimpi buruk tentang kejadian di hutan lagi... Seolah beberapa hal yang ditahannya ikut keluar saat bertengkar dengan Hermione...

.

.

.

Ujian pertama Serena di dunia sihir, diluar dugaan, berjalan normal. Berusaha untuk tidak memikirkan kejadian malam sebelumnya di Hutan Terlarang. Berusaha untuk tidak memikirkan Draco, Hermione, siapapun atau apapun. Terutama mengabaikan pikiran tentang apa yang harus dilakukannya dengan kejadian serba-misterius di Hogwarts saat ini. Serena memilih untuk melakukan apa yang saat ini bisa dia lakukan.

Ujian teori Mantra menjadi yang pertama. Serena masih kekenyangan telur aduk saat berusaha menjawab pertanyaan. Memutuskan untuk tidak terlalu banyak sarapan ketika akan ujian, Serena mengeja dalam hati. Dalam dunia sihir, bahasa latin lebih penting daripada bahasa Prancis yang dulu diwajibkan untuknya di dunia muggle. Maka kepalanya amat sangat sakit seolah sedang belajar Biologi di dunia serba magis. Tapi Serena memaksakan diri kalau tidak mau bangun dengan kerbau diatas dadanya suatu hari nanti, seperti yang diceritakan Profesor Flitwick ketika Penyihir Baruffio salah mengucap mantra.

Pada ujian praktek sore harinya, Serena nyaris melakukan semuanya dengan sempurna. Kecuali pada saat tes pertama dan dia menghujani Profesor Flitwick dengan salju alih-alih menghasilkan bunga dari ujung tongkatnya. Setelah minta maaf atas kegugupannya, semua berjalan lancar.

Profesor McGonagall membuat mereka semua bekerja keras bahkan dalam ujian teori. Sadar diri dan menelan kenyataan bahwa Hermione sudah pasti akan mendapat nilai tinggi dilihat dari kecepatan menulis dan panjangnya lembar jawaban tambahan, Serena memutuskan untuk menuliskan apapun yang dia ingat dengan grafik dan tabel untuk menghemat waktu. Ujian prakteknya diluar dugaan, berlangsung dengan mudah. Profesor McGonagall menguji mereka membuat tikus menjadi kotak tembakau. Pernah menjamu tamu wanita-wanita aneh pebisnis dari Rusia dengan kotak tembakau yang penuh hiasan bulu dan permata, Serena berhasil membuat mata Profesor McGonagall yang seperti manik-manik menjadi seperti permata. Hermione sampai harus berkata berulang-ulang kepada yang mau mendengarkan bahwa dia yakin ujian teorinya betul semua saat melihat kotak tembakau milik Serena yang tampaknya lebih baik.

Serena mengacuhkan Hermione karena besoknya mereka ujian Ramuan. Apapun yang dilakukan Serena tampaknya tidak akan pernah cukup. Kesulitan merangkai kata untuk ujian teorinya yang mirip ujian 'resep-masakan', Serena mengerjakannya sesingkat mungkin agar Snape tidak mencari kesalahan dalam kata-katanya. Akibatnya dia selesai lebih dulu dan meninggalkan kelas diiringi pandangan mencemooh Snape yang biasa.

Saat membuat Ramuan Lupa, Serena sama sekali tidak bisa tahan untuk tidak menambahkan sesuatu. Catatan Cat menyuruhnya menggunting bulu Jobberknoll dan tidak memasukkan batang bulunya agar khasiat dan uapnya lebih efektif. Khasiatnya terlihat karena kekentalannya lebih meyakinkan. Neville, yang ada disebelahnya, sampai kelupaan semua bahan-bahan terakhir akibat menghirup uap ramuan Serena saja.

Snape melihat hal itu dan memarahinya. Dia akan mendetensinya sampai Seamus mengingatkan bahwa Neville mungkin sudah lupa dari sananya dan guru tidak bisa mendetensi muridnya saat dia sedang ujian. Untunglah, perhatian Snape teralih pada Harry yang tampaknya membuat kesalahan. Sebenci-bencinya Snape pada Serena, dia lebih membenci Harry. Maka itu sangat menyelamatkan Serena.

Tetapi, hal yang betul-betul menarik terjadi ketika mereka ujian praktek Herbologi. Udara sore musim panas mulai memasuki rumah kaca dan membakar tengkuk. Bahkan di pelajaran favoritnya, Neville tidak bisa untuk tidak melakukan kecerobohan.

Bola-bola pupuk dalam karung yang sedang mereka gotong jatuh sampai robek. Bola-bola itu menggelinding keluar pintu rumah kaca yang dibiarkan terbuka oleh Profesor Sprout. Karena berharga, Serena dan Neville terpaksa berlarian untuk memungutnya. Salah satu yang dikejar Serena menggelinding sampai jauh.

Nafas Serena sudah satu-satu sampai dia menabrak Hagrid yang mengambilkan pupuknya.

"Hai, Ser! Bukankah kau seharusnya ujian?" gelegar Hagrid sambil mengipasi wajah Serena.

"Yah…" kata Serena terengah. "Trims, Hagrid, aku harus bergegas…"

"Aku mau ke kastil juga…"

Sesuatu yang sama sekali tidak terpikirkan, meloncat langsung dari mulut Serena.

"Mau ngapain? Memainkan harpa untuk Fluffy?"

Kalau ada yang lebih efektif dari mengganggu jalannya ujian Serena, itu adalah kekagetan Hagrid. Serena yakin dia benar-benar terlompat dari tanah saat Hagrid memekik keras.

"B-b-bagaimana kau tahu, hah?" desisnya.

"A-a-apa?" tanya Serena ikut gugup.

"Fluffy… Kalau ada yang main musik dia tidur?"

Sebelum Serena sempat membuka mulut, Hagrid sudah menjawab.

"Dasar! Tidak kau, tidak mereka. Sama saja! Terlalu banyak ingin tahu. Harry, Ron, Hermione juga…"

Serena lupa dia sedang kaget dan segera memasang tampang merengut ketika Hagrid menyebut Hermione.

"Aku tidak tahu apapun atau dari siapapun!" Sekarang Serena bersedekap. "Fluffy itu anjing berkepala tiga, Cerberus dalam legenda Yunani kuno. Aku dulu belajar kalau ada laki-laki bernama Odyseuss yang pernah melewati Cerberus dengan memainkan harpa… Pasti sama pada Fluffy…"

Hagrid tampaknya sudah berhenti kaget juga. Tapi dia melamunkan sesuatu. Sepertinya berusaha mengingat.

"Kau tahu? Aku masih ujian… Sampai nanti, ya…"

Serena memutuskan untuk berbalik pergi ketika Hagrid berteriak, "Jangan bilang pada siapapun!"

Serena berpikir bahwa Hagrid benar-benar harus memelankan suaranya kalau dia tidak mau rahasianya terbongkar mudah oleh siapapun. Maka Serena hanya memutar mata. Berharap ada penjagaan yang lebih aman dibandingkan anjing-kepala tiga yang mudah di-nina-bobo-kan. Lagipula apa sih yang disembunyikan di Hogwarts? Dan apa hubungannya dengan makhluk penghisap darah unicorn yang waktu itu dia lihat dan dia sangka sebagai, entah bagaimana, Voldemort?

Tapi semua pikiran itu lenyap bagai ditiup angin malas saat ujian Herbologi sudah bubar ketika Serena kembali.

.

.

.

Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam tidak bisa disebut sebagai ujian. Karena ujian prakteknya ditiadakan dan Quirrell mengizinkan anak-anak untuk membuka buku saat ujian teori. Tampaknya Quirrell sedang banyak masalah. Dia tidak mempedulikan protes Hermione yang sudah belajar bahkan sorak-sorai anak-anak yang senang. Serena mengeluarkan ringkasan Cat, dan mulai menyalin jawaban, berpikir bahwa dia lebih banyak belajar pelajaran ini dari guru Cat tahun lalu. Setelah Astronomi, Sejarah Sihir menjadi ujian terakhir mereka. Jadi mereka akan bebas nanti sore dari segala macam beban pelajaran yang menumpuk.

Amat sangat mengantuk dan, terutama, terpengaruh liburan musim panas yang akan datang, Serena menuliskan jawaban ujian Sejarahnya dengan setengah hati. Menikmati cercahan sinar matahari yang menembus jendela, menghangatkan punggungnya. Mencoba mengingat apa yang dilakukan penyihir hebat jaman dulu, mengingat apa yang sudah dia baca dari ringkasan milik Cat, dan mengarang sisanya. Tiga bangku dari depan, Hermione seperti biasa, meminta perkamen lembar jawaban tambahan. Serena sama sekali tidak iri. Barangkali kalau liburan musim panasnya berjalan menyenangkan, Serena akan memaafkan semua perkataan Hermione.

Maka setelah waktu dinyatakan habis, Serena ikut bersorak gembira dengan semua anak. Lalu menyihir kaki meja Neville, yang sedang kebingungan sendiri karena kehabisan waktu, agar menari dan mengganggunya.

Tidak ada apapun yang dapat merusak harinya saat ini…

.

.

.

…kecuali mungkin satu hal…

Saat itu sedang di tengah waktu makan malam ketika Serena menghampiri Cat di meja Ravenclaw. Berbeda dengan meja ketiga asrama lain yang ramai karena ujian telah selesai, meja Ravenclaw nyaris sama dengan malam-malam ujian. Beberapa diantara mereka kebanyakan mendiskusikan soal ujian yang telah lampau dan ramai karena mulai adu urat. Cat sedang amat sibuk dengan beberapa pamflet dan surat. Dia sedang mempertimbangkan pilihan akhir untuk pelajaran pilihannya di kelas tiga. Tampangnya amat masam seolah semua masa depannya terpengaruh hanya karena hal itu.

"Ini ada pizza…"

Serena meletakkan satu loyang pizza, yang masih panas, dihadapan Cat.

"Kau dan makanan Amerika-mu…" Cat menggeleng melihat pizza dengan topping melimpah ruah yang menggugah selera.

Para peri-rumah, pasti Doreah yang mengusulkan, telah memberi Gryffindor makanan tambahan berupa pizza favoritnya. Dengan saus tomat "Selamat selesai ujian, Miss Serena!". Beberapa anak menyerbu gembira. Hermione mengernyit dan mengangkat dagu seolah jijik. Serena sama sekali tidak peduli. Dia sudah menghabiskan satu loyang sendiri, merasa amat bahagia, dan merasa para peri-rumah tidak bertindak hanya karena Serena 'cantik'. Lagipula Doreah itu peri-rumah perempuan.

Tapi melihat salah satu sahabatnya tidak terlihat gembira, Serena memutuskan untuk berbagi. Lagipula dia belum bercerita pada Cat tentang kejadian di Hutan Terlarang. Bahkan tentang apapun…

"Pizza itu dari Italia kalau tidak salah… Ayolah… Ini enak sekali!"

Serena mengawasi pipi Cat yang memerah, tanda stres. Khawatir dia akan menjadi seperti Hermione, lalu menjahatinya, Serena memutuskan apapun yang mengganggu pikirannya saat ini bisa ditunda.

Saat itu mungkin hanya kebetulan. Dari sudut matanya, Serena menangkap sosok berambut pirang perak milik Draco, keluar dari Aula Besar sendirian. Ini juga amat janggal dalam situasi seperti sekarang. Karena Draco sendirian, bahunya terlihat tegang, dan lengannya menempel rapat disisi tubuh, sama seperti saat dia masuk untuk ujian praktek apapun.

Dalam situasi lain, Serena mungkin akan tertawa terbahak-bahak melihat gerak tubuh Draco yang berlawanan dengan gayanya yang sombong…

Sampai Draco berbalik sekilas untuk memastikan tidak ada yang mengikutinya. Wajah pucatnya tampak tak berdarah. Dan matanya… membelalak seperti saat Serena melihatnya di Hutan Terlarang… Sewaktu mereka bertemu dengan makhluk itu…

Walaupun kini jantungnya ikut berdebar kencang, Serena tak urung kembali fokus pada pizza-nya yang ditolak Cat.

"Kau tahu? Aku boleh minta sepotong?"

Setelah membungkus makanan dengan tisu, Cat hanya meneriakkan sesuatu pada Serena.

"Jangan pesta sampai larut! Bahaya!"

Serena memutar mata. Lalu mengikuti Draco keluar aula. Draco mungkin sedang tegang seperti biasa. Atau semua guru memutuskan untuk tidak meluluskannya karena Draco begitu menyebalkan. Draco mungkin akan lebih 'berdarah' jika menyantap pizza-nya. Pokoknya semua normal. Dan di malam menyenangkan ini, tidak akan terjadi apa-apa.

Tapi Serena tidak tahu, betapa salahnya dia….

.

.

.

Serena nyaris berlari ketika dia mencoba menyusul Draco ke lantai dua. Kehati-hatian Draco mulai ditinggalkan saat dia mempercepat langkah sehingga tidak menyadari Serena yang mengikutinya dengan berisik. Ini aneh, karena ruang rekreasi Slytherin dibawah tanah dan hampir semua murid sedang makan malam di aula. Tidak ada satupun diantara anak-anak normal lainnya yang mau kembali ke kelas-kelas lagi.

Dan Draco langsung berbelok ke koridor Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam. Serena melihat ke sekitar, merasa aman untuk memanggil.

"Hei! Malfoy!"

Draco tersentak dan langsung berbalik dengan siaga. Tangannya mengacungkan tongkat sihirnya. Serena mengangkat tangan dan pizza-nya dengan konyol secara otomatis.

"Tidak bermaksud mengagetkan…" katanya canggung.

Mata Draco melebar. Dia sama sekali tidak bicara atau membentak apapun, yang membuat Serena kini takut alih-alih canggung.

"Aku punya, hmm, ini…" Serena menurunkan tangan untuk menyodorkan pizza. Bahkan di matanya, gerakan tangannya terlihat amat kaku.

"Makanan khas, hmm, dunia muggle. Kesukaanku. Tapi ini dibuat oleh para peri-rumah…" kata Serena terburu-buru. "Kau masih bisa merasakan 'kesihirannya'. Jangan khawatir… Namanya pizza, by the way…"

Draco tidak merespon, hanya matanya yang membelalak. Serena berusaha mengingat, diantara salah tingkahnya, ekspresi Draco tampaknya familiar... Lalu kenyataan menghantam Serena. Itu adalah ekspresi wajah Draco yang sama seperti mimpi terakhirnya. Pada saat Draco memperingatinya sebelum terjatuh dari jurang...

Sebelum satupun diantara mereka sempat berbicara, suara desiran jubah membuat Serena berbalik...

Itu adalah Quirrell. Dan dia melakukan dua hal yang tidak seperti Quirrell. Dengan senyum licik penuh kemenangan, dia berbicara dengan lancar...

"Well, well... Lihat siapa ini? Sudah kubilang untuk datang sendiri bukan, Mr Malfoy? Slytherin dan Gryffindor, siapa sangka? Dumbledore akan bangga..."

Serena merasa wajahnya panas. Tapi kini bercampur dengan ketakutan. Quirrell yang tidak gagap dan tidak berkedut menandakan mereka dalam masalah. Sebelum mereka sempat melakukan apapun, dua benda sudah melayang menghampiri Quirrell. Serena menyadari itu adalah tongkat sihirnya dan Draco.

"Diam ditempat! Jangan bersuara! Melakukan sesuatu sedikit saja, aku akan membunuh kalian..."

Serena nyaris tidak bisa mengingat apapun. Kakinya seolah melayang saat Quirrell memaksa mereka berbalik dan berjalan menuju salah satu kelas. Hanya pada saat pintu ditutup dan digerendel, dan Quirrell menatap mereka, sadarlah Serena, baik dia dan Draco, saat ini ada dalam tawanan Quirrell...

.

.

.