Disclaimer: This story is based on characters and situations created and owned by JK Rowling.

And Cecily von Zigesar and George R R Martin for some character's name

Pairings: Draco Malfoy/OC

Setting: Harry Potter and Sorcerer's Stone (Book & Movie)

The Two-Tale Heart

XVIII

DRACO

Untuk seorang anak yang sejak kecil hidup nyaman bergelimang harta, tahun pertama Draco di Hogwarts dimulai dengan banyak hal yang mengerikan.

Darah-murni ataupun hanya mengenal keluarga penyihir, makhluk mengerikan penghisap darah unicorn belum pernah Draco temui sebelumnya. Serena van der Woodsen membuat semuanya lebih parah. Dia menyangka, sang Pangeran Kegelapan, begitulah keluarganya menyebut Voldemort, akan kembali. Draco tidak yakin apakah dia harus bangga dan meyakinkan Serena bahwa Pangeran Kegelapan kembali itu bakal bagus untuk dunia sihir yang menurut Draco amat payah akhir-akhir ini, ataukah harus sama takutnya?

Tapi melihat mata hijau-biru Serena yang menggelap, Draco akhirnya berkata bahwa semua hal itu tidak mungkin...

Yang pasti, ujian mengganti ketidakmungkinan itu menjadi nyata. Surat-surat dari anggota dewan sekolah kini datang merendengi surat perintah-lebih-banyak-belajar dari ayahnya dan surat kecemasan dari ibunya. Masing-masing berisi latihan soal tahun sebelumnya. Draco, yang berpikiran bahwa lebih baik mereka memberikan soal ujian untuk tahun ini, membakar semua di perapian. Ruang rekreasi bawah tanah yang sudah lembap menjadi semakin panas.

Marc Zabini menyadari kecemasan Draco. Dia terus memperingatkan Draco bahwa rambut sempurna kedua orang tuanya akan rontok lebih cepat karena Draco sudah banyak mengecewakan mereka bahkan di tahun pertamanya. Draco tidak ambil pusing dengan menghardik Marc secara langsung. Tetapi langsung membayar salah satu teman sekamar Marc untuk membubuhkan Ramuan Pengeriting di pencuci rambut Marc. Marc bangun keesokan harinya dengan rambut mirip sekali wig para pria Inggris di abad pertengahan. Draco harus ke kamar kecil untuk tertawa terbahak-bahak tanpa dicurigai.

Tapi senyumnya nyaris lenyap saat melihat saingannya dalam ujian kali ini. Hermione Granger, si anak emas, dan anak-anak Ravenclaw jelas bukan lawan yang mudah. Draco harus belajar dengan sangat keras dan berbicara dengan menunduk-nunduk pada semua guru, berharap mendapat nilai bagus. Dan dia harus melakukannya pada Quirrell juga. Terutama karena dia tidak mengerti apa yang dia pelajari dari Quirrell. Sialnya, Quirrell bahkan lebih gugup dari biasanya. Draco tidak yakin Quirrell menyadari bahwa Draco sedang duduk di meja ujiannya. Draco berusaha tersenyum menjilat sedemikian rupa walaupun dia ketakutan.

Tapi rupanya itu belum selesai. Setelah menahan diri untuk tidak menandak-nandak kegirangan seperti orang bodoh lainnya saat ujian Sejarah Sihir berakhir, Draco keluar kelas hanya untuk mendapati Quirrell menunggunya di koridor.

"Mr Malfoy... Kuharap kau datang ke ruanganku untuk mengulang ujianmu... Kau salah semua..."

Rasa takut Draco menghilang saat mendengar kata 'kau salah semua'. Bayangan tentang tidak lulus, tidak naik kelas, dan terutama, ditinggalkan oleh teman bodohnya macam Crabbe dan Goyle, menghantuinya lebih daripada apapun.

Jadi Draco setuju saat Quirrell menyuruhnya untuk ujian ulang secara pribadi di ruangannya malam itu juga. Mengabaikan keramaian Aula Besar dan aroma tambahan makanan di meja Gryffindor yang berupa pizza, makanan muggle kesukaan Draco, Draco keluar dari aula dengan bahu tegang. Berulang kali menoleh kebelakang dengan cemas, takut ada yang menyadari kepergiannya dan mengetahui kebodohannya.

Langkah Draco menjadi semakin berat seiring naiknya dia ke lantai dua. Draco memikirkan ujian, ayahnya, nasibnya, ketika dia ingat pada sesuatu. Sesuatu yang lebih menakutkan dari sekedar ujian. Sesuatu yang menyebabkan dia takut pada Quirrell bahkan sebelum Draco menginjakkan kaki di Hogwarts. Dan Quirrell sama sekali tidak gagap sewaktu menyuruh Draco ke ruangannya malam ini...

Seseorang bergerak di belakangnya dan Draco otomatis berbalik, mengacungkan tongkat sihirnya, siap untuk menyerang ketika wajah kaget Serena berada dalam pandangannya. Serena mengangkat kedua tangannya, menunjukkan dia tidak bersenjata, dan mengoceh tentang pizza. Lalu Quirrell menangkap mereka berdua.

"Ck, ck, ck... Nakal, nakal, nakal..." Quirrell berdecak-bebas-gagap walaupun matanya mulai berkedut. "Bertemu diam-diam, kalian anak kelas satu... Dan apa itu yang masih ada di tanganmu, Miss van der Woodsen? Tunjukkan PADAKU!"

Kata-kata terakhir Quirrell membuat mereka tersentak. Lalu, walaupun Gryffindor mengaku 'berani', tangan Serena tetap bergetar saat menyerahkan bungkusan pizza-nya.

Quirrell mengambil bungkusan, membuka dan mengernyit. Selama beberapa detik yang konyol Draco mengira bahwa Quirrell akan mencoba memakannya. Tapi sesuatu muncul kembali, mengingatkan Draco bahwa mereka sedang berhadapan dengan guru gila yang menakutkan.

"B-b-baik, T-t-tuanku... B-b-baik... M-m-maafkan... A-a-aku akan bersiap... d-dengan s-segera..."

Quirrell yang gagap kembali tidak menenangkan Draco. Apalagi yang berbicara sendiri. Udara dingin menggantung di udara, walaupun musim panas sudah tiba. Dan Draco, entah hanya perasaannya atau bukan, seolah mendengar suara lain dalam ruangan yang hanya berisi mereka bertiga. Suara samar seolah dikatakan oleh angin...

Lalu Quirrell menjatuhkan pizza dan menginjaknya. Kemudian dengan pandangan masih mengancam pada Draco dan Serena, dia masuk ke kamarnya.

Draco memberanikan diri menoleh pada Serena. "Kau dengar?" bisik Draco lirih.

Serena mendongak, "Apa?"

"Ada yang bicara... Ada..."

"Yeah, Quirrell punya teman imajinasi..."

Draco menjadi marah entah mengapa, "Ada seseorang lagi disini! Tapi dimana? Kau tahu, dasar darah-campuran tidak tahu apa-apa, dalam dunia kami, ada beberapa yang tidak kasat mata..."

Namanya bukan Serena kalau dia tidak membalas marah, "Yang paling kasat-mata saat ini adalah, bagaimana kau si darah-murni yang tahu apa-apa bisa menghampiri Quirrell yang tadinya kau hindari? Kau sudah ikut ujiannya..."

"Dia bilang ujianku salah semua..."

"Dasar darah-murni pendek akal! Kita ujian pelajarannya dengan membuka buku. Apa buku catatan Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam-mu tertukar dengan Astronomi sehingga bisa salah semua?"

Draco merasakan wajahnya bagai disengat api. Bahkan ketika Quirrell datang lagi dari kamarnya dan menyengat mereka agar mereka berjalan didepan, keluar dari ruangan. Draco tidak tahu bahwa Quirrell, seorang guru, berani menyerang mereka yang adalah murid. Draco melihat tangannya memerah karena sengatan lalu pada Serena dibelakangnya, yang tangannya bernasib sama.

Mereka berpandangan beberapa detik sebelum Draco mulai berjalan didepan, sekarang tahu dengan pasti, bahwa Quirrell memang akan membunuh mereka...

.

.

.

Draco mengutuk semua anak yang kerajingan pesta-selesai-ujiannya, entah dimana kecuali di koridor-koridor sepi yang mereka jalani sekarang. Sunyi sepi dan tidak bertemu dengan siapapun, bahkan isi lukisan pun tampaknya berada di aula. Draco sama sekali tidak berani menoleh kebelakang. Sebagian karena takut Quirrell akan menyerangnya lagi, dan sebagian karena takut Serena akan kelihatan takut juga... Draco tidak mengerti kenapa anak perempuan itu mengikutinya tadi. Tapi dia setengah lega karena mereka kini berdua. Dan berharap si Gryffindor lebih punya akal untuk menyelamatkan diri...

"Keatas..." perintah Quirrell ketika mereka sampai di tangga.

Hogwarts luas dan tangganya suka berpindah-pindah. Draco mengutuk keajaiban kastil ini sekarang. Lebih sedikit lagi orang yang akan melihat mereka. Anak-anak pasti sudah berada di ruang rekreasi masing-masing. Pansy pasti menyadari Draco hilang, tapi tidak akan berbuat apa-apa. Crabbe dan Goyle lebih pasti tenggelam dalam lautan makanan daripada menyadari ketidakhadirannya.

Draco punya keinginan mendadak untuk menoleh lagi kebelakang. Tempat Serena berjalan bahkan tanpa suara sama sekali. Dia ingin mengetahui perasaan gadis itu sekarang. Apakah dia sama kesepiannya seperti Draco? Serena van der Woodsen yang terlalu lunak pada anak-anak bodoh macam Neville dan si kembar Weasley, ataupun trio emas Gryffindor itu. Semua kebaikannya terbuang percuma kalau tidak ada yang menyadari bahwa dia hilang di malam ini... Tidak ada yang mencarinya untuk menyelamatkannya... Walaupun dia tidak akan berpikir dua kali untuk lari kearah si makhluk penghisap darah unicorn untuk menyelamatkan temannya...

Kegetiran Draco ini terpotong oleh Quirrell yang mendadak menyuruhnya berhenti tepat didepan pintu besar.

"Aku buka kuncinya dan kau masuk duluan, Mr Malfoy..."

"Tidak!" seru Serena, lalu dia memekik tertahan karena tangannya tersengat lagi. "Tunggu!" kini dia hanya berani berdesis.

"Saya masuk duluan..."

"Kau mau aku sengat sampai terbakar, Miss?" ancam Quirrell.

"Anda tidak tahu apa yang ada didalam..."

Draco tanpa sadar beringsut menjauh dari pintu. Untunglah, Quirrell sedang terpusat perhatiannya pada Serena.

"Dan... Bagaimana kau tahu?" desis Quirrell berbahaya.

"Berikan kepada saya tongkat sihir saya... Didalamnya ada... makhluk yang harus dijinakkan dengan musik... Itu... Saya, saya bisa menciptakan harpa... Odyseuss memainkannya saat dia pergi ke dunia kematian Hades..."

Draco pasti menganggap Serena sama gilanya karena tidak mengerti apa yang sedang dia ocehkan. Tapi suara itu lagi terdengar, kini cukup keras, sehingga Draco yakin Serena juga mendengarnya.

"Aku tahu, Tuan! Aku sudah tahu! Aku membuat si raksasa besar itu mengambil telur naganya untuk ditukar dengan informasi... Baik! Aku akan masuk dengan harpa!"

Quirrell menciptakan harpa dari udara, tidak termakan jebakan Serena yang tadi meminta tongkatnya kembali. Kelihatannya dia jengkel sekali pada Serena. Terutama saat Serena mengiterupsinya lagi.

"Anda harus memainkannya langsung disini, Sir... Kalau tidak, Cerberus akan memakan kita karena dia pastinya..."

Terdengar pekikan lagi dan Draco kini maju untuk menyerang Quirrell tanpa pikiran apapun.

"Dan membiarkan orang lain mendengar musikku, Miss van der Woodsen? Ternyata kau lebih daripada anak perempuan cantik biasa, ya... Dan Mr Malfoy, jangan berani bergerak... Masuk! Alohomora!"

Pintu menjeblak terbuka dan Draco merasa dia dan Serena dijejalkan kedalamnya. Geraman mengerikan dan gonggongan seribu anjing mengalahkan suara naga penjaga pintu Gringotts-nya sekalipun. Lalu suara berdebum keras terdengar sebelum Draco membuka mata. Dentingan harpa kini mengalun lembut. Draco didorong maju dengan paksa.

Apa yang dilihatnya nyaris membuat pingsan. Ada anjing raksasa berbulu hitam sedang tertidur. Kepalanya ada tiga... Masing-masing mendengkur mengerikan. Draco tidak habis pikir bagaimana Serena bisa tahu hal ini. Mereka mungkin memang sengaja diumpankan pada makhluk ini, kalau ternyata informasi dari Hagrid si raksasa, teman Serena yang ternyata sama payahnya, tidak benar.

Quirrell seolah membaca ini dari belakang kepala Draco.

"Kau tahu, aku harus mengerjakan ini semua sendirian... Mencari informasi, mencari metode, mencari... cara... agar Tuanku kembali..."

Anjing berkepala-tiga kini terasa tidak menakutkan lagi dibandingkan kata-kata Quirrell tadi.

"Ayah-Ibumu, berusaha main aman... Tidak mau susah payah mencari Tuan mereka kembali. Malas oleh status terhormat dan kedamaian... Penyihir rendah... Mereka membantuku dengan gagal pada saat aku berusaha mencuri Batu Bertuah di Gringotts. Mereka setengah-setengah, tidak percaya bahwa aku..."

Serena tidak kapok disengat dan memotong lagi, "Mungkin mereka memang benar-benar tidak mau berhubungan lagi dengan... siapapun Tuan-mu... dan Batu Bertuah itu tidak ada... Nicholas Flamel..."

Terdengar pekikannya dan bunyi harpa berhenti. Dengusan keras tiga kepala anjing tersebut membuat Draco terlonjak. Quirrell menyihir kembali harpanya sedetik kemudian setelah menyengat Serena dan suara dengkur kembali terdengar.

"Kau tahu terlalu banyak untuk ukuran anak kelas satu kemarin sore..." Quirrell mendesis. "Tapi tidak apa-apa... Karena mungkin kalian akan berguna..."

"Kami tidak tahu dimana... Apapun yang Anda cari itu!" Draco sekarang memberanikan diri membuka mulut dengan kasar, tahu Quirrell tidak akan menyerang karena masih menyihir harpanya agar tetap bermain.

"Aku memang tidak mengharapkan kalian tahu..." kata Quirrell kalem. "Tapi setiap perjalanan menemukan benda berharga selalu ada jebakannya..."

Quirrell meraih Serena dan langsung mendorongnya ke arah si anjing. Serena menabrak Draco. Dan lantai dibawah mereka mendadak menghilang...

.

.

.

Draco baru saja merasa bersyukur bahwa dia mendarat ditempat yang lunak karena isi perutnya seolah tertinggal semua diatas, ketika Serena menariknya dengan cepat.

"Bangun! Cepat!"

"Tunggu! Badanku mau patah!" seru Draco memprotes.

Tapi Serena tetap menarik paksa tangan Draco sampai sakit. Draco baru saja akan memprotes lagi ketika menyadari sesuatu membelit pergelangan kakinya lebih erat.

"Diffindo! Diffindo!"

Apapun yang dilakukan Serena jelas tidak akan berguna. Dia tidak memiliki tongkatnya.

"Berhenti merapal! Kau tidak memegang tongkatmu! Apa yang membelit kakiku?"

Draco panik sekarang karena kini cengkeramannya lebih kuat.

"Maaf. Refleks... Jaga agar apapun itu tidak membelit tanganku..."

Serena menunduk meraih kaki Draco. Draco tidak bisa melakukan apa-apa selain memegang bahu Serena dengan kecemasan tingkat tinggi. Tidak ada waktu untuk malu-malu sekarang, belitan itu kini menyeret Draco...

"Lepaskan!" seru Serena kepada belitan itu. Lalu dengan kekuatan mengejutkan bagi anak perempuan ceking sepertinya, Serena menggigit apapun-yang-membelit kaki Draco dan melepas-paksa dengan menariknya keras-keras.

Kaki Draco masih mati rasa tetapi dia berusaha keras untuk bangkit dan berlari ke arah lorong. Satu langkah dan dia lupa kepada Serena. Tidak sempat berpikir apakah dia harus berlaku seperti pengecut yang meninggalkan teman atau sama-sama terbelit lagi, Serena sudah menubruknya untuk lari ke landasan yang lebih keras.

"Ada apa dibawah? Katakan!"

Suara Quirrell bergema dari atas. Sekarang Draco tahu, mereka adalah umpan perjalanan Quirrell saat ini. Pikiran tentang menjadi umpan membuat dada Draco bergemuruh marah dibandingkan takut...

"Tidak ada... uph!"

Sebelum Draco sempat membohongi Quirrell agar dia terjun langsung dan diserang oleh lilitan-lilitan itu, Draco mendapati tangan Serena membekapnya.

"Terlalu gelap untuk tahu! Kami butuh cahaya dari tongkat sihir!"

Si bodoh Serena dan keinginannya untuk memperdaya. Tapi Quirrell sama sekali tidak percaya. Cahaya kini memancar dari atas, sangat menyilaukan. Quirrell langsung melompat kebawah sebelum si anjing berkepala tiga terbangun.

Segera saja apa yang membelit Draco terlihat jelas. Itu Jerat Setan. Tepatnya timbunan Jerat Setan. Sulur-sulurnya yang berbahaya bereaksi terhadap cahaya dari tongkat Quirrell. Mereka menjauhi lorong dan tersedot masuk ke lorong gelap jauh diseberang sana. Quirrell mendarat pada sisa-sisa sulur yang 'berlari' ketakutan. Jatuhnya cukup keras. Draco berharap tulang lehernya patah saja.

Tapi Quirrell bangkit dengan bengis sehingga mereka berdua harus mundur menjauh.

"Terus berjalan..."

Mereka terpaksa menyusuri lorong lembap dengan bunyi air menetes-netes sebagai satu-satunya teman suara langkah kaki mereka bertiga. Dan kalau ada yang lebih membuat suasana semakin mencekam lagi, itu adalah Quirrell yang kembali berbicara sendiri.

"T-t-tapi bagaimana... B-b-bagaimana yang terakhir, T-t-tuan? A-a-apakah aku harus..."

Dia terus bertanya lirih dan terkadang mengisak tertahan. Draco tidak percaya bahwa orang gila lebih berbahaya dibandingkan dengan anjing berkepala tiga. Dia melirik Serena yang berjalan disampingnya. Dia terlihat sama takutnya seperti Draco. Dan tanpa disadari, bahkan oleh Draco sendiri, jari-jari Serena sedang memegang ujung pergelangan jubah Draco. Seolah khawatir ditinggal lari lagi...

Perasaan bersalah Draco terganggu oleh bunyi berkerisik ribut dikejauhan. Serena berhenti berjalan, kemudian mereka berdua ditabrak oleh Quirrell yang tampaknya tidak khawatir dengan jebakan didepan.

"Jalan terus, kalian! Ini jebakan Flitwick dan semua tahu dia kerdil yang lemah..."

"Dia yang terbaik dalam mantra..." nada suara Serena bergema dengan menyeramkan pada dinding-dinding lorong.

Draco mengutuki dalam hati kesetiakawanan Serena pada guru yang menurut Draco juga kerdil dan bisa membunuh mereka berdua dengan jebakan yang dibuatnya.

"Kalau kau begitu menghormatinya, Miss van der Woodsen, kau juga bisa menghormati aku sekali-sekali..."

Quirrell menodongkan tongkat sihirnya pada punggung Serena. Lalu menyentakkan dagu agar Draco yang maju duluan.

"Maju, Mr Malfoy! Kau akan menemukan sesuatu yang membuat kau berguna kali ini..."

Draco kembali berjalan dan kini menemukan tempat yang terang di ujung lorong. Ternyata itu adalah kamar dengan menara yang tinggi menjulang keatas... Kamar itu dipenuhi ratusan burung yang mendesis dan mengitari ruangan. Burung itu mengambang di udara... dan berwarna keperakan?

"Itu kunci..." kata Quirrell menjawab lagi pertanyaan Draco. "Dan kalian akan terbang dengan sapu disana itu untuk membuka pintu diseberang..."

Ada pintu kayu besar yang pastinya terkunci. Juga beberapa sapu terbang yang bertenger dengan konyolnya disisi mereka.

"Yang mana kuncinya?" tanya Draco berusaha untuk tidak bergetar saat menanyakannya.

"Itu, Mr Malfoy, adalah yang harus kau coba satu persatu... Cepat dan tepat... Apapun caranya... Dan ingat, kalau kau berusaha kabur..."

Quirrell mengambil sebuah sapu dan menyuruh Serena menaikinya. Serena naik ke sapu, disusul Quirrell yang menempel membonceng kebelakangnya. Tongkat sihirnya kini ditekankan pada leher Serena.

"Dia akan langsung kubunuh..."

.

.

.

Keberuntungan tidak berpihak pada mereka pada awal pencarian kunci. Masalahnya, begitu mereka terbang dan mencoba menangkap satu, ratusan lainnya mulai ikut beterbangan ke segala arah, mengacaukan pandangan. Draco akhirnya menangkap satu yang membuat buku jarinya patah terhantam tembok. Sialnya, itu bukan kunci yang benar.

Draco kini berhamburan sisa-sisa sayap yang terbuat dari bulu. Serena tidak membantu walaupun dia ikut terbang. Draco melihatnya dan tahu mengapa. Quirrell sedang bicara sendiri lagi diboncengannya. Tapi dia terlihat tidak bisa mendengar apapun yang dikatakan 'teman imajinasinya', suara kepakan sayap kini menjadi ribut.

"Draco! Cari yang perak seperti pegangan pintu!" Serena meneriakinya. "Dan, jelek dan tua! Lalu..." Serena menatap keatas, tempat kubah yang berwarna putih-biru, asal cahaya, menerangi ruangan. "Sayapnya kebiruan!"

"Bagaimana kau yakin?" Draco balas berseru ketika bulu memasuki mulutnya dan dia meludah.

"Dekorasi bangunan selalu satu kelompok warna! Biasanya... Itulah yang dilakukan Anna kalau sedang mendekor... Cepat carilah!"

Draco mulai terbang, dengan susah payah mencari kunci dengan deskripsi yang digambarkan Serena. Tetapi tidak percuma Draco ngotot menjadi anggota Quidditch tahun ini juga. Dengan mudah dia melihat kunci tersebut. Draco terbang tinggi lalu menukik lagi, berusaha memusatkan mata pada si kunci. Tapi kemudian dari arah berlawanan meluncurlah Serena dan Quirrell dengan kecepatan tinggi. Mata Draco melebar, tangannya sudah dijulurkan untuk meraih kunci tersebut. Terlalu cepat untuk menghindar sekarang...

Dan Draco menyambar kuncinya. Lalu sapu Serena beserta kedua penumpangnya menabrak Draco. Rasanya seperti habis menangkap Snitch dan diserang Bludger secara bersamaan. Mereka jatuh kebawah. Tumpang tindih dan beberapa tulang berderak.

Draco segera berdiri dan menggenggam erat kuncinya seolah takut terlepas lagi. Quirrell bangkit juga dan menjambak rambut Serena. Serena berteriak kesakitan. Dari tangannya yang kaku, Draco tahu ada beberapa yang mungkin patah.

"T-t-tunggu!" seru Draco takut-takut. "Saya dapat kuncinya, tapi saya payah... Dia hanya berusaha mempersempit jarak dan mengambil kuncinya kalau saya gagal..."

"Sungguh mengharukan... Tapi Tuanku bilang kalian akan mencoba membunuhku kalau bisa... Sekarang, Mr Malfoy, buka pintunya! Akan kutunjukkan pada kalian cara yang bagus untuk mati!"

Draco gemetar dari ujung kepala sampai kaki, sementara dia memasukkan dengan gugup kunci tersebut pada lubangnya. Pintu terbuka tanpa kesulitan sama sekali dan si kunci terbang lagi. Serena benar... Dan itu malah membuka pintu kematian mereka sendiri...

"T-t-tunggu, Profesor Quirrell, Ayahku..."

Draco mencoba bermanis-manis lagi pada Quirrell.

"Masuk atau mati duluan disini, Mr Malfoy..."

Draco menyerah dan mencoba masuk ke ruangan selanjutnya. Air mata kini membanjirinya. Draco setengah lega ruang itu gelap sehingga tidak ada yang melihatnya. Dia ketakutan dan kedinginan sama besarnya. Semakin mereka masuk kedalam ruangan, semakin Draco merasa segalanya tidak akan menjadi lebih mudah.

Siluet puluhan raksasa dihadapan mereka membuat Draco ciut lagi. Dia menghapus air matanya pelan-pelan, berusaha menghadap Quirrell. Berlutut, mencium sepatu baunya, atau menjadi pengikutnya, apapun itu agar dia terbebas dari sini. Tapi kemudian dia melihat siluet Serena yang masih dijambak pada rambutnya... Melihat pemandangan semena-mena ini, Draco urung melakukan apapun. Dia terlalu malu melakukannya dihadapan Serena... Mengetahui bahwa Serena telah berbuat apapun, walau itu bodoh dan Draco tidak mengerti mengapa Serena berusaha melukai Quirrell, tapi dia tidak berusaha meninggalkannya...

Quirrell menggumamkan suatu mantra lagi. Ditujukan pada siluet-siluet raksasa didepannya. Tidak ada yang terjadi... Tapi dia memerintahkan mereka untuk tetap maju.

Ternyata siluet tersebut adalah bidak-bidak catur raksasa. Pada sisi mereka adalah bidak hitam sementara jauh diseberang adalah bidak putih.

"Kalian tahu?" suara Quirrell bergema diantara patung-patung. "Aku bisa saja membiarkan kalian menyeberangi papan catur ini dan dicincang sampai mati oleh bidak sihiran yang ditransfigurasi oleh McGonagall. Tapi tidak... Aku membutuhkan kalian untuk lebih menderita lagi... Jalan!"

Draco menolak berjalan tapi Serena menjerit lagi saat Quirrell memaksanya naik ke papan catur dan menyeberang. Tidak ada yang terjadi... Quirrell tampaknya sudah menyihir agar si bidak tidak hidup dan memukuli mereka.

"Finite!" seru Quirrell.

Dan mantra tampaknya kembali bekerja pada bidak-bidak sihiran. Mencegah mereka kabur... Draco tahu pasti bidak itu akan hidup kembali setelah mereka menyeberang karena kejadian berikutnya begitu cepat.

Mereka sampai diseberang ruangan yang juga berpintu. Dalam ketergesaan, Quirrell membuka pintu. Bau menyengat yang membuat muntah memasuki ruangan papan catur. Diantara pusing dan bau berbagai sampah dan got, Draco menyadari ada sesuatu yang besar sekali, dan hidup, berlari keluar...

Mereka bertiga berteriak spontan dan melemparkan diri kesamping pintu, berusaha membuat diri kecil tak berarti. Troll gunung raksasa dan bercawat kotor menghambur keluar, mungkin tidak kerasan berada dalam ruangan kecil tertutup. Tapi Draco bersyukur bahwa Troll adalah makhluk bodoh. Perhatian si Troll langsung beralih pada bidak papan catur yang lebih banyak. Dia berteriak dan menghambur, menyerang para Ratu dan Raja di bagian belakang. Lalu tamatlah kesadarannya. Si bidak Raja lalu mengangkat pedangnya dan menghantam kepala si Troll. Troll pingsan seketika, kemudian dia ditendang kembali oleh sang Raja masuk kedalam ruangan.

Memang papan catur ciri khas McGonagall, kata Draco dalam hati, siapapun harus benar-benar mengerjakan tugasnya sampai tuntas.

Serena menemukan suaranya setelah pemandangan kilat dan brutal ini, "Kau berusaha agar kita bergulat bersama Troll tadi? Kau bahkan lebih rendah dari penjahat... ARGH!"

Quirrell kini menarik tangan Serena yang patah membuat Draco terburu-buru menghambur.

"Dia tidak bermaksud..." kata Draco gelagapan.

"Oh, ya... Lihat siapa yang menganggapku rendah disini... Aku memang bermaksud begitu tadinya... Sampai Tuanku menemukan kegunaan kalian untuk hal pamungkas... Nah, jalan! TERUS!"

Mendengar teriakan Serena lagi membuat Draco memberanikan diri melangkahi kaki si Troll. Menuju pintu yang tampaknya tak ada habisnya.

"BUKA!"

Tanpa disuruh dua kali Draco membuka pintu, menghindar, dan memejamkan mata. Berusaha membuat dirinya kecil lagi. Pasrah pada apapun yang mungkin akan keluar dan menyayati mereka... Api ungu berkobar di pintu belakang yang tadi mereka lalui. Kemudian, api hitam menyala di pintu menuju ruang selanjutnya. Mereka terperangkap.

Quirrell tertawa mengejek melihat ini, "Well, well, anak yang benar-benar anak ayahnya... Kalian sama pengecut dan penakut..."

"Kau tidak berusaha bilang kalau ayah Draco adalah kau, bukan? Karena kau yang pengecut dan... ARGH!"

"DIAM! Aku sama sekali bukan pengecut! Aku tidak penakut! Aku berusaha menemukan cara agar Tuanku kembali... Aku melakukan segalanya... Aku bahkan berburu unicorn untuknya... Tapi tidak ada yang lebih berkhasiat dibandingkan Batu Bertuah dan segalanya akan sama lagi seperti dulu...

Quirrell membanting Serena ke lantai dan Draco tanpa sadar menghampirinya, memaksanya bangun. Ketakutan kini lebih bergaung pada ruangan tanpa-monster sihiran ini... Didepan mereka, ada meja dengan tujuh jenis botol yang berlainan.

Tapi apa yang dikatakan Quirrell membuat mereka menutup mulut rapat-rapat. Quirrell ternyata adalah makhluk yang menghisap darah unicorn tersebut. Dan, kalau dia berusaha membangkitkan Tuannya, mengapa harus dia yang meminum darah tersebut? Atau apakah ternyata Tuannya adalah yang mereka lihat malam itu? Apakah Dia, Tuannya, betul-betul...

Kesengsaraan mereka ditambah oleh suara lain. Suara yang kini tidak terdengar samar layaknya tertiup angin. Suara itu jleas, dingin, melengking, dan... penuh rasa lapar...

Draco merasa seluruh darahnya terhisap. Dia mendekatkan diri serapat mungkin pada Serena, hanya untuk memastikan dia tidak sendirian...

"Cepat! CEPAT! Kau buang waktu!"

"B-b-baik, Tuan... Hanya menyingkirkan... b-b-bukti... M-m-mereka tahu t-t-terlalu b-b-banyak... T-t-tuanku tahu? A-a-aku dendam pada a-a-ayah a-a-anak l-l-lelaki itu, n-n-namanya..."

"CEPAT BUNUH SAJA KAMI, KAU GURU KEDUTAN PENAKUT!"

Serena berteriak sehingga membuat baik Draco maupun Quirrell terlonjak. Draco tidak tahu mengapa gadis ini begitu bodoh. Quirrell sekarang wajahnya jelek sekali, mengerut karena marah. Dia mengacungkan tongkat sihirnya dan tiba-tiba saja baik Serena maupun Draco berdiri menghadap meja dengan tujuh botol ramuan.

"Lihat disini, kalian anak-anak kurang ajar... Ini adalah akhir hidup kalian... Snape kalian tersayang telah membuat racun mematikan diantaranya, beberapa anggur biasa, satu yang bisa membuat kalian kembali ke tempat semula, dan hanya satu yang akan membuat kalian maju ke pintu selanjutnya, oh, ini sulit sekali... Pasti tidak akan bisa dicerna oleh otak kalian yang kecil..."

"Coba aku!" seru Draco, kini lebih marah daripada takut.

"Oh, aku tidak akan ambil resiko kalau-kalau kau benar... Semua orang tahu kalau Serena van der Woodsen adalah ancaman untuk ahli ramuan kita, Severus Snape... Lihat saja mengapa dia menekanmu begitu keras, Miss... Itu bukan karena kau bodoh, tapi kau terlalu brilian. Seperti berlian yang belum terasah. Dan kau, Mr Malfoy, tanyakanlah pada ibumu sendiri apa yang wanita itu sanggup lakukan saat keadaan terdesak. Amat menganggumkan... Tapi yang terpenting, aku sudah tahu ramuan mana yang akan membawaku ke pintu selanjutnya... Kau, Mr Malfoy, ambil botol paling besar! SEKARANG!"

Draco mengambil botol yang dimaksud, nyaris menjatuhkannya, berharap dengan sangat isinya adalah yang bisa membuat mereka kembali. Tapi harapannya meleset.

"Kalau itu ternyata hanya anggur, kalian harus tetap meminum yang lain sampai kalian mati karena keracunan. Pertanyaannya adalah, Mr Malfoy, apakah kau akan membiarkan Miss van der Woodsen ini mencicipinya dulu sebelum kau meminumnya?"

Hanya terdengar kobaran dua api pada detik selanjutnya. Draco kini menatap Serena dihadapannya, tangannya masih memegang botol ramuan. Ketegangan memuncak. Draco menatap mata Serena, hijau-birunya cemerlang walaupun ditekan sedemikian rupa, dia tidak berpaling walaupun Draco berharap dia tidak memandangnya. Tidak ada ekspresi memohon atau apapun pada wajah Serena, hanya kebulatan tekad.

Draco sudah mengetahui apa yang akan dilakukannya.

"Tuangkan ramuan itu dan kembalikan botolnya ke tempat semula, Draco. Snape tidak suka ramuannya terusik..."

Quirrell tertawa melengking, "Bagus, Miss, kau memang, berani, layaknya Gryffindor... Tapi bodoh juga... Nah, Mr Malfoy, segera tuangkan ramuan dan biarkan Miss van der Woodsen mati duluan. CEPAT!"

"TIdak!" seru Draco.

"Draco! Tuangkan ramuan itu dan selesaikan segalanya, kau anak jahil bodoh!" Serena membentak Draco.

"Jangan mengaturku!" sembur Draco panik.

"Biarkan aku meminumnya! Kalau ramuan itu ternyata membuatku kembali, segera minum sisanya semuanya, jangan kalah cepat!"

"Bagaimana kalau kau ternyata meminum racunnya lebih dulu, dasar gadis bodoh!"

"Minumkan padaku, Draco!"

"TIDAK!"

CTAR!

"MINUMKAN PADANYA!" lengking Quirrell kini tak sabaran. "Minumkan atau aku akan membunuhmu langsung, Mr Malfoy!"

Dengan tangannya yang tidak patah, Serena menyambar botol ramuan dan menuangkannya. Draco menepis gelasnya sehingga ramuan itu tumpah, mengenai sesuatu yang kecil di kaki Serena...

Mungkin karena terlalu sibuk saling berteriak tadi, tidak ada yang menyadari kehadiran makhluk ini... Peri-rumah dengan seragam Hogwarts memegang ujung jubah Serena erat-erat.

Bahkan Quirrell pun terdiam karena shock.

"Miss Serena, Miss Serena tidak ada ditempat tidur saat Doreah mengantarkan penutup telinganya... Dan Doreah membersihkan pizza kesukaan Miss Serena di ruangan Profesor Quirrell, Sir..." Si peri mengangguk pada Quirrell yang masih terpaku. "Tidak mungkin Miss Serena begitu saja membuang makanan favorit... Lalu Doreah mencari Miss dan sampailah Doreah kemari... Maafkan Doreah lancang, Miss. Doreah seharusnya hanya muncul kalau dipanggil..."

"Doreah..." potong Serena dengan ketenangan yang dipaksakan, tangannya memegang erat tangan si peri. "Kau tahu? Aku sangat menyesal membuang pizza-nya. Dan aku lapar sekali. Jadi, maukah kau sekarang membawaku serta ke dapur? Aku ingin sekali ke dapur, dengan SEGERA!"

Peri itu berteriak mengiyakan. Lalu tanpa peringatan sama sekali, Serena mencengkeram tangan Draco dengan erat seperti Jerat Setan, dan mereka tersedot dalam kegelapan.

.

.

.