Disclaimer: This story is based on characters and situations created and owned by JK Rowling.
And Cecily von Zigesar and George R R Martin for some character's name
Pairings: Draco Malfoy/OC
Setting: Harry Potter and Sorcerer's Stone (Book & Movie)
The Two-Tale Heart
XIX
SERENA
Hanya satu detik ketika bau busuk troll yang menguar itu menghilang. Digantikan dengan aroma manis roti yang tampaknya telah mengerak di tempat Serena sekarang berada.
Matanya berkunang-kunang dan dia merasa akan jatuh. Perutnya bergejolak, sama sekali tidak membantu. Serena segera berpegangan pada benda terdekat yang tampaknya adalah punggung kursi. Lalu berjongkok menyedihkan. Tangannya dingin gemetar sementara dia menatap lantai batu. Berusaha untuk mempertahankan isi perutnya sembari bernafas.
Draco pasti ada disini bersamanya. Hampir nyaris sekali ketika dia tadi menyambar tangan Draco agar bisa dibawa pergi oleh Doreah. Dia menatap lagi tangannya yang bergetar, rasanya seperti keberuntungan...
Sekarang, Serena hanya berharap Draco menemukan tempat yang tepat. Serena mendengar Draco sedang muntah-muntah tak keruan.
Aroma cokelat hangat yang berpadu dengan roti menerpa hidung Serena, membuatnya menengadah. Ada beberapa peri-rumah kecil berseragam seperti Doreah, membawa dua mug minuman tersebut.
Ini pastilah dapur sekolah. Dan mereka berhasil... Berhasil kabur dari jeratan maut yang nyaris hanya sejengkal. Serena van der Woodsen, hanya pernah menyaksikan kekejaman muggle-muggle jahat di dunianya dahulu lewat televisi atau koran, dan selalu aman berada dalam penjagaan Robert, pengawalnya, serta berbagai fasilitas mewah. Sekarang dia sendirian, merasakan ancaman kematian yang amat dekat...
Jadi Serena hanya mengangguk dengan tangan gemetar menangkup mug. Lalu mengijinkan diri terduduk begitu saja di lantai. Pikirannya melayang.
Serena terlonjak lagi ketika ada yang menyelimuti dirinya dengan kain. Ternyata salah satu peri-rumah yang lain.
"Maaf, Miss!" serunya melengking. "Anda kelihatan kedinginan!"
Serena tidak bisa berkata apapun, sepertinya tenggorokannya rusak. Dia memaksa diri menyeruput cokelat panas. Lalu mengernyit mendengar Draco muntah-muntah kembali.
Tiba-tiba bayangan Quirrell muncul kembali di kepalanya dan Serena berdiri dengan tergesa.
Mug cokelatnya hampir tumpah ketika dia bangkit dan berhadapan dengan Draco yang sedang menyeka mulutnya. Rambutnya tegak berdiri di beberapa arah sementara alisnya sama sekali tidak terlihat, berbaur dengan wajah pucatnya.
"Kita harus ke Dumbledore, sekarang!" kata Serena gugup. Menyadari bahwa Quirrell mungkin masih bisa naik keatas dan menangkap mereka berdua lagi.
Puluhan atau bahkan ratusan peri-rumah tidak mungkin sanggup melawan penyihir gila yang marah.
Draco menjawab dengan jawaban yang sama sekali diluar dugaan Serena.
"Tapi kita harus menjelaskan apa? Ini jelas tengah malam dan nilai kita akan dikurangi..."
"Quirrell mencoba membunuh kita dan kau sibuk memikirkan nilai?" seru Serena tak percaya. "Baiklah! Aku akan pergi sendiri..."
Bahkan untuk melangkah pun dia sulit. Cokelat panasnya tampak memaksanya untuk tetap berada dalam kenyamanan dapur. Tapi ini belum selesai... Semua harus tahu bahwa ada penyihir jahat berkeliaran di kastil...
Serena memaksa dirinya berbalik sebelum teringat sesuatu. Lalu dia mencari Doreah diantara kerumunan para peri yang takut-takut menatapnya dan Draco. Tapi Doreah berdiri bersembunyi di dekat Draco. Tampaknya merasa bersalah karena menyebabkannya muntah-muntah.
Tanpa mempedulikan erangan jijik Draco, Serena berlutut dan memeluk Doreah. Hanya dari pizza yang terinjak, Doreah tahu ada yang tidak beres pada Serena. Dan lagi menemukannya di ruang bawah tanah rahasia adalah hal yang sulit. Tapi peri itu tetap pergi. Ada perasaan tersengat pada hidung Serena saat merasakan tulang-tulang kurus si peri, bahwa dia telah menemukan satu lagi teman... Peri kecil itu telah menyelamatkan mereka...
Tapi, Doreah yang terkaget-kaget membalasnya dengan mengatakan sesuatu yang memupus harapan.
"Kepala sekolah Profesor Dumbledore sedang pergi dan belum kembali, Miss!"
.
.
.
Sebuah lemari jubah jelas adalah tempat persembunyian yang klasik, menurut pendapat Serena. Dia bisa menyembunyikan diri dengan efektif karena ukurannya. Filch mungkin tidak akan menyangka ada anak yang bersembunyi disitu, karena akan terlalu mudah ketahuan. Tapi lemari itu juga berbau apak, gelap, dan jauh dari nyaman. Tetapi hanya lemari satu-satunya tempat persembunyian yang paling dekat dengan pintu masuk ke aula.
Serena merapatkan lututnya ke dada, siaga pada bunyi sekecil apapun. Masalahnya, benar kata Draco. Ketahuan masih berkeliaran di kastil pada malam seperti ini bisa berakibat fatal. Para murid pasti sudah dipaksa untuk menghentikan pesta-selesai-ujian dan kembali ke ruang rekreasi masing-masing.
Serena tidak memusingkan masalah nilai. Tapi tentang siapa guru yang akan dipercayainya ataupun mempercayainya. McGonagall mungkin akan tahu bahwa Serena menceritakan hal yang sebenarnya. Tapi dia urung lagi mengingat McGonagall menganggapnya anak nakal karena banyaknya detensi dengan Snape. Belum lagi Quirrell selama ini dianggap guru gagap dan tidak berdaya. Kalau bertemu Snape, Serena jelas akan langsung didetensi sebelum sempat bilang apapun.
Dan saat ini, sebagaimanapun Serena tidak meragukan guru-guru lainnya, melihat Quirrell segila itu, dia memutuskan untuk percaya pada Dumbledore seorang.
Jadi disinilah dia. Menunggu Dumbledore kembali sehingga bisa jadi orang pertama yang menghampirinya. Dumbledore pasti akan masuk lewat pintu ini. Serena tahu dari bibinya, mereka tidak bisa ber-apparate atau disapparate didalam Hogwarts untuk keamanan. Ini menjelaskan banyak hal. Tapi bagaimana dengan Doreah yang bisa berpindah tempat semudah itu? Doreah suka muncul tiba-tiba di kelas Ramuan dan tadi langsung muncul di bawah tanah...
Serena memutuskan untuk memikirkan hal itu nanti saja dan baru akan menyusun kata-kata yang akan dikatakannya pada Dumbledore agar dia percaya ketika pintu lemari menjeblak terbuka, memperlihatkan Draco dengan dasi dan jubah yang terlepas, memegang mug berbau kopi susu.
Serena melotot dan bereaksi langsung sebelum Filch atau Peeves menemukan mereka. Dia menarik Draco masuk lemari.
"Aduh, panas!" seru Serena ketika cairan panas menumpahi lengannya.
"Jangan tarik tanganku, kau bodoh!"
"Kau akan membuat kita ketahuan..."
"Serena, kau! Kakiku itu tidak lentur!"
"Singkirkan kopimu..."
"Sstt!"
Serta-merta mereka terdiam untuk mendengar keadaan diluar. Tapi saat itu masih sepi.
Sekarang lemari itu berbau kopi dan sangat sempit. Serena bahkan tidak berani untuk meluruskan punggungnya yang kaku. Draco ada disebelahnya. Amat dekat sehingga dia bahkan tidak berani bernafas...
Beberapa menit yang canggung berlalu, sementara mereka terdiam.
"Tadi nyaris sekali..."
Draco memecah kesunyian dengan berbisik. Serena mengangguk dalam diam. Kemudian sadar bahwa Draco tidak mungkin melihatnya.
"Ya..." jawabnya pelan.
"Kau tahu?" kata Draco, tiba-tiba bahunya berbenturan dengan Serena karena kegelisahan. "Ini salah Dumbledore..."
"Apa?"
"Dia tidak selektif memilih guru. Apakah dia tidak memperhatikan kalau Quirrell jahat dan gila?"
"Beberapa orang jenius setengahnya gila... Tapi..."
Serena tidak melanjutkan. Dia tidak yakin waktunya pas. Tapi entah karena keadaan mereka yang amat dekat sekarang, Draco tampaknya tahu jalan pikiran Serena.
"Tapi apa? Ini tidak akan terjadi kalau saja Ayahku ada di dewan..."
Draco tidak melanjutkan, sama seperti Serena. Tapi perkataannya tentang ayahnya membuat Serena akhirnya meneruskan.
"Kau tahu Quirrell itu jahat, kan? Tadi di bawah... Quirrell bilang orang tuamu... Dan... dia seperti mengincarmu sejak awal... untuk melakukan sesuatu."
Hening lagi. Serena tidak berani bernafas karena sekarang perasaan bersalah merayapinya. Akhirnya, Serena memberanikan diri untuk menoleh ke sisinya.
Draco menatapnya dengan tatapan nyaris tanpa ekspresi. Wajah pucatnya seolah bersinar di kegelapan. Serena hanya berharap wajahnya yang memanas tidak terlihat.
"Aku tidak tahu..." Draco sekarang memejamkan mata. Seolah tidak mau terlibat hal-hal yang memusingkan. "Quirrell pernah ke rumahku. Dia mungkin tahu orang tuaku, dan mengancam sesuatu. Kau... Kau kan mungkin tahu keluargaku..."
Hening lagi karena Draco tidak melanjutkan dan Serena terlalu takut untuk mengatakan sesuatu. Tapi,
"Kau tahu, Serena? Dalam dunia sihir, kau tidak bisa mempercayai bahwa seseorang benar-benar sudah mati..."
Bulu kuduk Serena meremang di ruang lembab ini. Dia merasakan hawa yang sama, yang ada di bawah tanah tadi, saat Quirrell bicara sendiri... Atau pada suara-suara tak kelihatan yang bergaung...
"Kau pikir dia ada..."
"Aku tidak bilang itu dia..."
Serena bergerak gelisah, ingin membantah. Sampai Draco bangkit dan melakukan sesuatu yang membuat Serena terdiam lagi. Draco menempelkan jari-jarinya ke mulut Serena...
"Sstt..."
Terdengar pintu membanting dengan keras. Membentur tembok sampai bergetar dan merambati punggung mereka di lemari. Serena mengintip terlebih dahulu untuk mengetahui siapa yang datang. Tapi jubah ungu itu tidak mungkin salah. Dumbledore tampaknya amat tergesa sehingga hanya beberapa detik dia sudah sampai pada ujung aula dan mengarah ke koridor di kiri kastil.
Serena membuka pintu lemari dan segera berlari. Draco menyusulnya juga. Serena tidak tahu apa yang membuat Draco berubah pikiran. Mungkin dia ingin terlihat baik di depan Dumbledore dengan memberitahu kejahatan Quirrell. Tidak ada waktu untuk menuduh Draco ingin cari muka, saat ini, apa yang ada di bawah tanah, jauh lebih penting...
Belum juga sampai pada tikungan koridor, rasa yang amat sangat menyakitkan muncul begitu saja dari tangannya. Dia menjerit tanpa bisa ditahan lalu berhenti berlari.
Draco serta-merta berhenti dan berbalik.
Serena mulai berjongkok ketika tangannya terasa ditusuk-tusuk, menjalar sampai bahunya, membuat dia berjongkok lagi karena lemas.
"Ada apa? Kau kenapa?" tanya Draco terengah.
"Kau pergilah! Susul Dumbledore. Aku akan..."
Serena mengernyit lagi. Mungkin ketegangan yang menyusut membuat Serena lupa pada rasa sakitnya tadi. Sekarang Serena mulai menggulung lengan jubahnya, mendapati lengannya sudah ungu dan bengkak. Tapi bahkan masalah ini belum selesai...
"Kau gila!" seru Draco. "Dumbledore tidak akan mempercayai anak Slytherin seperti aku! Ayo, sini!"
Draco membantu Serena berdiri dengan kedua tangannya merangkul bahu Serena. Kemudian bersama-sama mereka berlari menyusul Dumbledore. Serena pastilah sudah kepayahan. Dia merasakan kepalan tangannya dingin dan keringat mulai mengucur dari dahinya. Padahal mereka baru berlari beberapa langkah.
Tangan Draco tidak kalah dingin ketika mereka menikung di koridor, lalu mengeratkan pegangan tanda peringatan. Sedetik kemudian, nyaris saja, Draco menarik kembali langkah mereka untuk bersembunyi di tikungan.
Ada orang lain yang juga menghampiri Dumbledore dari arah yang berlawanan. Dan orang tersebut adalah orang terakhir yang ingin Serena temui dalam keadaan seperti ini. Tidak berdaya, dan bersama musuh besar mereka. Draco.
"Profesor Dumbledore!" seru suara melengking Hermione.
"Harry mengejarnya, kan?" potong Dumbledore.
Baik Serena maupun Draco memasang telinga tajam-tajam. Dumbledore tampaknya tidak berhenti dan terus berlari menuju lantai tiga. Serena sama sekali tidak mengerti artinya. Ketika didengarnya Ron bicara.
"Sebaiknya kita ikut Dumbledore. Siapa tahu Harry butuh bantuan juga... Mantranya pasti..."
Hermione menggumam yang mungkin menyatakan bahwa Dumbledore bisa mengatasi apapun, "Tidak... lalu kepalamu..."
"Aku bisa menunggu ke Madam Pomfrey!" seru Ron tak sabaran. "Ayo, kita tidak bisa meninggalkan Harry..."
Terdengar suara mereka berlari lagi. Rasa sakit yang bertubi-tubi membuat Serena memutuskan sesuatu kali ini. Tapi saat ini, sedekat apapun Serena dengan Draco, mereka malah berbeda pendapat.
"Ayo, kita juga kejar..."
"Kau sekarang yang gila!" sentak Serena. "Dumbledore sudah mengetahuinya. Pasti Harry dan kawan-kawannya menyusul kita tadi, aku tidak tahu persisnya, tapi pasti kita sudah kabur dengan Doreah ketika mereka masuk lantai tiga..."
Serena mengingat Harry, dan duelnya dengan Draco dulu. Tengah malam tampaknya adalah waktu yang pas untuk keluar kamar dan memulai kekacauan.
"Tapi..." Draco masih memprotes.
"Dumbledore akan membereskannya. Dan apapun yang terjadi dengan Harry... Yah, Ron dan Hermione selamat, kan..."
Draco melepaskan Serena dengan tiba-tiba sehingga dia limbung. Wajah Draco sekarang memerah karena marah.
"Lalu mengapa? Bukan mereka yang ada dalam ancaman pembunuh sebenarnya! Kau hanya perlu merasakan tanganmu untuk mengetahui bahwa kita..." Draco berhenti untuk mencari kata-kata yang tepat. "Kita yang menemukan ini semua! Kita juga berada dalam bahaya dan... Ini momenku! Aku yang diincar dan kita hampir dibunuh Quirrell dan kau akan melempar semua kejayaan pada si Potter itu?"
Draco tidak perlu meneruskannya, karena Serena tahu. Tahu bagaimana perasaannya. Sekarang, apapun yang terjadi dengan Harry, ataupun Ron dan Hermione. Orang akan mengingat mereka sebagai pahlawan dalam hal ini. Tidak ada yang tahu, kecuali mereka berdua dan Quirrell sendiri, bahwa Serena dan Draco juga ambil bagian pada kejadian ini.
Mungkin pengaruh lengannya yang sakit setengah mati. Tapi ini berbeda dengan ketika Monica Rhodes mengambil momennya di upacara kelulusan dulu. Serena tidak sepenuhnya menginginkan dirinya terlibat. Saat ini, dia hanya berhasil kabur dari Quirrell. Mungkin itu ada baiknya. Serena tidak yakin apakah dia sanggup menghadapi Voldemort, kalau apa yang Draco katakan tadi benar...
Harry Potter satu-satunya yang pernah berhasil... Mungkin ini adalah takdirnya...
Tapi tidak dengan Draco. Harus ada seseorang yang tahu, bahwa Draco tidaklah sepengecut...
"Draco, maafkan aku, tapi ini tidak akan berhasil..."
"Kau bicara apa!" sentak Draco.
"Ini adalah, masalah Harry dengan... yah, kau tahu, tadi kau bilang..."
"Lupakan aku pernah bilang apa tadi!" gertak Draco, sekarang benar-benar marah. "Kalau kita bergegas..."
"Kalau begitu kau bisa pergi sendiri! Dan aku akan ke rumah sakit memperbaiki lenganku sebelum Hermione kesana dan mencari-cari kesalahanku!"
Serena kembali berjalan sambil dengan hati-hati menggendong lengannya.
"Tunggu!" desis Draco.
Tapi karena Serena sudah membulatkan tekad, maka dia berpura-pura tidak mendengar desisan Draco, yang sekarang mulai mengikutinya.
Draco baru benar-benar diam saat mereka akhirnya sampai di rumah sakit. Serena berjalan lurus untuk masuk bangsal dan membangunkan Madam Pomfrey.
Madam Pomfrey, syukurlah, bukan orang yang banyak mengajukan pertanyaan, meskipun dia bisa tiba-tiba saja cerewet. Dan tidak ada gunanya menyingkirkan Draco yang tampaknya berniat mengecam Serena sesudahnya dia berobat. Draco ikut masuk dan menunjukkan dia terluka pada tangannya serta sedikit memar akibat jatuh dari sapunya tadi. Draco berkata dia diserang Pixie. Sementara itu, Serena berbohong pada Madam Pomfrey bahwa dia jatuh dari tempat tidur.
Madam Pomfrey terlalu mengantuk untuk menyadari bahwa Serena dan Draco masih menggunakan pakaian seragam selarut ini. Jadi setelah mengobati beberapa luka Draco. Madam Pomfrey mengayunkan beberapa lambaian tongkat yang rumit. Segera saja Serena memekik karena beberapa tulangnya serasa patah lagi. Tapi hanya beberapa detik itu dan rasa hangat mendera sikunya. Cahaya kemerahan meluncur dari tongkat Madam Pomfrey. Baik bengkak, ungu, maupun rasa sakit itu menghilang.
"Kau harus minum ramuan," kata Madam Pomfrey. "Tulangmu masih rapuh…"
Dia membebat ringan siku Serena dan segera membotoli suatu cairan. Serena memperhatikan gerak-gerik Madam Pomfrey dengan seksama. Bukan karena takjub, tapi lebih untuk menghindari tatapan mata Draco yang terus-menerus.
Lalu Madam Pomfrey menawari apakah Serena malam ini mau tidur di rumah sakit atau di asramanya sendiri. Serena memilih pulang karena tidak bisa membayangkan akan berdua lagi dengan Draco di bangsal. Setidaknya Draco tidak bisa mengikutinya sampai asrama Gryffindor. Sialnya, sulit melepaskan diri darinya karena Serena juga merasakan perasaan bersalah yang tak terjelaskan.
"Jadi," kata Draco, mulai agak keras, dari belakangnya. "Kau bisa bilang terus terang, kalau kau malu kelihatan berdua bersamaku…"
Serena tidak menyangka bahwa ini yang ada di pikiran Draco sejak tadi. Jadi dia memutuskan untuk menanggapi.
"Bukan, tapi…"
"Lalu kenapa? Kau telah menghancurkan..."
"Ya, kejayaanmu, Draco. Dan apa yang telah kita lakukan? Kita melarikan diri dan tidak menghentikan Quirrell..."
"Tapi kita mencoba dan tadi peri-rumah busukmu yang memindahkan kita..."
"Karena kita tadi akan mati!"
Serena teringat pertengkaran mereka yang melibatkan mantra-mantra dan sapu terbang dan jatuh dari ketinggian beberapa meter. Rasanya keadaan saat ini hampir mendekati fase itu. Tapi terputus oleh dehem kering yang membuat keduanya terlonjak.
Nick si Kepala-Nyaris-Putus ternyata ada dibelakang mereka sejak tadi. Dia hantu dan itu menjelaskan ketidakberadaan suara langkah kakinya. Sekarang Serena melihat wajah Draco berwarna kemerahan karena kaget.
"Ehm, Serena, anakku..." kata Nick dengan kata-katanya yang formal. "Aku mencarimu. Tapi aku tidak bisa masuk kamar anak perempuan dan Nyonya Gemuk belum melihat kau kembali... Tapi Neville saat ini sedang terkapar tak berdaya karena Kutukan Ikat Tubuh Sempurna..."
Baik Nick maupun Serena kini sama-sama memelototi Draco.
Draco memprotes, "Kau tahu betul sejak tadi aku bersama-"
"Aku akan segera kesana, Nick..." potong Serena sebelum memperpanjang kecurigaan Nick.
Nick berbalik dengan pandangan bertanya kepada mereka berdua. Serena merasakan kecemasan yang tidak akan diakuinya kepada Draco bahwa Nick mungkin akan bergosip mengenai anak perempuan Gryffindor yang pecundang sedang berduaan di koridor dengan anak lelaki Slytherin yang paling menyebalkan sedunia.
Tapi Draco belum mau menyerah.
"Setidaknya kami tahu apa yang kami mau. Dan kami berusaha untuk merebutnya," desis Draco dengan suaranya yang paling sadis. "Dan hatimu tidaklah semurni itu. Kita lihat saja bagaimana tegaknya kau saat semua orang mengelu-elukan si trio emas. Sementara saat ini, teman yang mencemaskanmu karena kau tidak kembali ke kamar pun tak ada..."
Semua perkataan Draco sangat menonjok hati. Tapi Draco langsung berbalik, meninggalkan Serena yang mematung begitu saja.
Lalu setelah punggung Draco yang malang itu menghilang, Serena bimbang sejenak, lalu segera menyusul Nick untuk membebaskan Neville.
.
.
.
Entah untuk berapa lama, Serena nyaris menganggap dirinya bermimpi. Tapi ketika dia terbangun karena merasa haus, perban yang terlepas dari tangannya menyatakan segalanya nyata.
Ada yang meletakkan teko jus labu kuning di meja dekat tempat tidurnya. Pasti Doreah.
Minuman itu sempurna dinginnya dan terus menerus terisi kembali, membuat perut Serena berbunyi. Setelahnya, dia mengizinkan diri bersendawa dengan keras. Suatu hal yang seharusnya tidak dilakukan seorang gadis kecil yang manis.
Seseorang pastilah berpendapat demikian karena Serena mendengar dengusan. Ternyata Hermione. Serena bahkan tidak menyadari ada Hermione disana.
Hermione berpakaian sangat rapi sehingga Serena harus memutar otak untuk mengetahui apakah hari itu dia ada kelas. Tapi dia tidak perlu melakukannya karena Hermione langsung mengkritiknya.
"Kau tidur hampir dua hari penuh. Kupikir kau bahkan mau peduli pada tim Quidditch-mu..."
Hermione meninggalkannya dengan hidung terangkat saat sendawa kedua Serena memotong ucapannya. Sepeninggal Hermione, Serena hanya mengangkat bahu. Ada atau tidaknya dia di tim, tidak akan membawa pengaruh, toh dia hanya cadangan. Maka Serena mengijinkan dirinya meminum seteguk lagi jus labu kuning dan kembali memeluk bantal.
.
.
.
"SER! BANGUN!"
Serena merasakan dirinya diguncang keras oleh seseorang. Dan dia adalah Angelina Johnson, chaser Quidditch Gryffindor.
"Ange, kaukah itu?" tanya Serena, sama sekali belum fokus.
"Bangun, Serena! Kami tidak tahu ada apa dengan dirimu. Memang bebas-bebas saja mau tidur terus setelah ujian... Tapi kami butuh kau di pertandingan..."
Serena langsung terbangun, dan menyesalinya. Kepalanya berputar sementara perutnya keroncongan.
"Ada apa? Kau kenapa?"
"Bukan aku!" jelas Angelina. "Tapi Harry masih tidak sadarkan diri di rumah sakit. Dia seperti kau kemarin-kemarin... Hanya lebih parah..."
"Harry?" Sekarang Serena betul-betul bangun. Dan dia menyadari, dia belum mendengar kabar apa-apa semenjak Ron dan Hermione bilang Harry mengejar Quirrell pada Dumbledore. "Dia hidup?"
Angelina mengernyit dengan tidak sabaran, "Tentu saja dia hidup. Dia hanya, kalau desas-desus itu benar..."
Salah satu chaser lainnya, Alicia Spinnet, masuk ke kamar Serena sekarang, dan melemparkan jubah Quidditch yang berat kepada Serena.
"Itu sudah kukecilkan, seharusnya cukup. Lengannya agak susah dijahit, tapi tidak apa-apa. Sekarang, ayo! Kita tidak boleh membuang waktu. Pertandingan mulai beberapa menit lagi. Wood sudah naik darah..."
.
.
.
Bisa dibilang, Serena dirampas seluruh hak-haknya ketika dia setengah didorong untuk memasuki ruang ganti. Dia kelaparan, belum mandi, dan tidak ada satu pun dari mereka yang menjelaskan mengapa kehadiran Serena di lapangan Quidditch hari ini sungguh berarti.
Wood langsung memberikan perintah dengan wajahnya yang kusut.
"Wiz tidak mau maju hari ini. Dia demam. Atau mungkin sengaja men-demamkan diri!" gertak Wood pada Serena, seolah sakit pura-puranya Wiz, pemain cadangan pertama mereka, adalah salah Serena.
"Jadi kau maju menggantikan Harry..."
Serena yakin dirinya masih bermimpi ketika Wood menyatakan hal yang diluar dugaan ini.
"Wood, aku berlatih untuk menjadi Chaser..."
"Tidak ada waktu lagi!" potong Wood frustasi. "Kau satu-satunya yang bisa terbang dan pernah berlatih bersama kami. Dan cukup bagus menghindari Bludger. Jangan khawatir. Fred akan menjagamu. Sedangkan George akan menjaga tiga Chaser kita saat mencetak gol. Usahakan kalian membuat gol sebanyak mungkin, ladies!"
Sekarang pelototan Wood mengarah kepada Angelina, Alicia, dan Katie Bell, "Kalau beruntung, walaupun Ravenclaw yang menangkap Snitch, kita bisa menang dari gol..."
Tak ada seorang pun menyaut, karena strategi ini bisa dibilang sulit terjadi. Kapten tim Ravenclaw pastinya akan menyuruh Seeker-nya agar menghalau Snitch sebelum mereka memperoleh angka kemenangan dari gol.
Tapi Serena terus mencoba, dibalik jubah Quidditch-nya yang masih terasa kebesaran dan membuat leher gatal.
"Wood, aku tidak yakin bisa melihat Snitch. Aku bahkan tidak pernah bisa mengerti mengapa Harry yang memakai kacamata bisa lebih jeli..."
"Ini hari pertandingan!" teriak Wood sekarang benar-benar marah. "Kita harus maju! Kau lebih memilih menerima kekalahan tanpa bertarung, Ser?"
Kemarahan Wood terpotong oleh peluit yang berbunyi entah darimana. Berdering diatas kepala mereka semua.
"Ser..." ekspresi Wood sedikit melunak, mungkin melihat Serena kini mulai mencabuti jahitan di lengan jubahnya dengan gugup. "Aku tidak menekanmu... Tapi kaulah satu-satunya harapan kami. Coba temukan dan tangkap Snitch-nya, oke? Kita akan memenangkan piala dengan namamu terpatri sebagai Seeker disana!"
Tampaknya harapan baru ini membuat Wood dan anggota tim lainnya agak bersemangat.
Serena tidak bereaksi apapun saat Katie mendorongnya untuk keluar dari kamar ganti dan menjejalkan sapunya. Serena merasa apabila dia memprotes lagi, rasa mual dan mulasnya akan semakin parah. Maka dia melihat pada sapunya. Sapu latihan Bintang Jatuh-nya yang sudah tua dan kusut. Rasa mulasnya kini lebih mendominasi.
.
.
.
Rasanya seperti melayang ketika Serena mengikuti seluruh temannya ke lapangan. Menghampiri Madam Hooch yang akan menjadi wasit dan peti berisi bola-bola yang bergerak-gerak.
Suara bergemuruh, yang Serena sadari sekarang adalah teriakan histeris anak-anak yang menonton, membuat Serena limbung. Dia harus menegakkan diri dengan sapunya agar tidak jatuh pingsan. Pemandangan di depannya tidak membuatnya lebih baik.
Tujuh pemain Ravenclaw yang tinggi langsing dengan dahi berkerut mengingatkan Serena pada Cat. Mereka pastilah punya strategi yang lebih baik yang akan membuat Serena langsung jatuh dari sapunya. Dan dengan jubah bernomor tujuh, satu-satunya yang tidak tinggi di tim tersebut adalah seorang anak perempuan juga.
"Kapten, bersalaman!" seru Madam Hooch.
Wood maju dan bersalaman dengan kapten Ravenclaw. Sementara itu, pandangan si anak perempuan kini juga tertuju pada Serena.
Anak itu mungkin hanya satu tahun lebih tua dari dirinya. Tapi dia terlihat begitu percaya diri. Serena belum pernah melihat gadis secantik ini sebelumnya, kecuali mungkin ibunya. Dan heran sendiri mengapa dia baru melihatnya. Satu hal yang mungkin adalah, cewek ini biasa bergerombol dengan teman-teman Cat yang lebih suka menjauh ketika Serena menghampirinya. Tipe cewek geng seperti Monica Rhodes.
Serena melirik gugup keatas, ke tribun tempat anak-anak dengan atribut berwarna biru dan boneka kepala elang Ravenlaw berada. Mereka meneriakkan nama si gadis, "CHO CHANG!"
Tidak ada yang meneriaki nama Serena di tribun, kecuali mungkin Neville. Bahkan Dean pun tidak memberinya panji-panji yang dulu dia gambarkan untuk Harry.
Rasa irinya tersapu tiupan peluit Madam Hooch. Dan sepersekian detik, Snitch sudah hilang dari pandangannya.
Para penonton menggila sementara Serena menjejak tanah keras-keras, menyesali kebodohannya karena melamun. Bludger sudah mulai berdesingan di telinganya.
"Coba lihat dengan jelas, Ser!" seru Fred sambil memukul keras-keras Bludger yang tampaknya sengaja diarahkan padanya setiap saat.
"Ini seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami..." keluh Serena sambil terus mendatarkan diri pada sapunya. Dikejauhan, dia tahu dia sedang ditertawai oleh seluruh sekolah.
"Ayo, Ser! Kau harus terbang tegak!" kata Fred lagi sembari memukul, menyemangatinya.
Serena mengeluh tapi kemudian berusaha menegakkan diri. Kemudian dilihatnya Cho Chang, yang tampaknya sangat menguasai trik-trik seorang Seeker. Dia berputar, mengelilingi lapangan, menghindar cantik dari Bludger, dan terus-menerus menyipitkan mata.
Terlatih untuk menyerang gawang dengan berbagai formasi, cara terbang Seeker pada saat pencarian adalah cara terbang yang paling membosankan yang pernah dilihat Serena.
Tapi tak urung Serena mengikuti trik Cho Chang. Dan mengeluh pegal sedetik kemudian. Semua arloji yang diangkat tinggi-tinggi pada tangan anak-anak yang sedang melambai terlihat seperti bola emas. Hanya dengan keberuntungannya sajalah dia melihat Cho Chang mendongak memandang tribun.
Serena ikut mengejar Cho Chang saat gadis itu terbang cepat ke arah tribun Slytherin. Serena tidak melihat apapun dan tidak mendengar apapun yang dikomentari oleh Lee Jordan si komentator. Sapunya mendesah menakutkan karena diajak mengebut.
Terdengar tawa keras dari tribun di belakang Serena dan kemudian Cho Chang melambat sambil berputar-putar lagi dan menyengir. Tahulah Serena, Cho Chang sedang mengelabuinya agar mengikutinya. Sekarang dia merasa bodoh sekali.
"Ser! Jangan ikuti cewek itu!" seru Wood entah dari mana.
Wood mungkin juga meneriakinya agar jangan dulu menangkap Snitch. Tapi Serena mengabaikannya, karena tatapannya kini terfokus pada perubahan ekspresi Cho Chang. Dia menatap kaget kearah lain dan segera terbang.
Entah karena perasaan atau sama-sama perempuan, yang lebih pintar membaca bahasa tubuh, Serena tahu, Cho Chang sudah melihat Snitch-nya.
Serena bergeming melihat Cho Chang, diiringi teriakan seru yang mendukung, terbang cepat ke sisi lain lapangan. Sapu Serena sudah jelas tidak akan bisa mengimbanginya dari belakang.
Kemudian Serena mendapati dirinya yakin kalau Snitch tersebut akan terbang memutari lapangan yang berbentuk oval. Dan kalau dia bisa menghalangi Cho Chang dengan pura-pura menabraknya atau apa...
Serena berbalik dan terbang ke arah berlawanan, jelas saja para pendukung semua mencemooh dan menyorakinya. Tapi Serena tidak peduli. Ini satu-satunya yang bisa dipertaruhkan di pertandingan bodoh ini. Dia akan memotong jalan terbang Cho Chang dan menghalau Snitch.
Serena sekarang bisa melihat Snitch terbang seperti kesetanan sementara Cho Chang ada dibelakangnya. Bludger-bludger mulai saling susul dibelakang mereka. Tapi Serena punya kekhawatiran lebih daripada itu sekarang. Tribun dari papan kayu itu tampaknya keras sekali apabila...
BRAK!
Serena pastilah menabrak ujung sapu Cho Chang karena dia mendengar Cho menjerit kesakitan. Tapi itu tidak ada apa-apanya dibandingkan sapu tua Serena yang menabrak tribun. Guncangannya kuat sekali sehingga Serena harus berpegangan dengan kuat kalau tidak mau jatuh terlalu parah. Tapi akhirnya dia terjatuh juga. Dan tangannya yang kemarin-kemarin patah tampaknya patah lagi. Serena mengeluh dalam hati karena waktu itu dia juga terjatuh dari sapu...
Peluit berbunyi sementara sapu besar Madam Hooch terbang menghampirinya. Serena pasti terkena hukuman pelanggaran atau apa. Tapi Cho kan sama sekali tidak terluka...?
Setidaknya si Snitch itu pasti pergi lagi sampai mereka punya cukup angka untuk menang...
"Pertandingan selesai!" gelegar Madam Hooch. "280-300 untuk Ravenclaw! Ravenclaw menang tapi Gryffindor mendapatkan Snitch-nya!"
Baik Wood maupun kapten Quidditch Ravenclaw mendarat di dekatnya dengan kemarahan luar biasa. Untunglah Fred masih ada disampingnya sedari tadi dan membantunya berdiri.
Rasa sakit di lengannya semakin parah. Sekarang dia juga menimpa sesuatu yang keras dan dingin selain tanah. Sementara dia mendengar para kapten berdebat tentang ketidakadilan pada Madam Hooch.
"Dia tidak menangkap Snitch-nya! Belum!" seru Wood.
"Cewek kasar itu menyakiti Seeker-ku. Anda seharusnya memberi kami penalti!"
Begitulah kurang lebih perdebatan mereka, membuat Serena sakit kepala. Gemuruh penonton yang seolah menyalahkannya kini membuat Serena naik darah.
"Hentikan kalian berdua! Aku tidak menangkap Snitch-nya!" teriak Serena kesal.
Madam Hooch menatapnya dengan mata elangnya yang awas, "Tentu saja kau menangkapnya, Miss van der Woodsen. Snitch-nya tidak sengaja masuk ke lengan jubahmu dan mengenai kulitmu saat kau menghalau Miss Chang. Dan sekarang dia mengakui kalau kau penangkapnya. Golden Snitch mempunyai 'ingatan daging'."
Serena merasakan keresakkan dari dalam lengan jubahnya dan dengan segera mengibaskannya. Bola emas itu satu sayapnya kini lepas, tapi masih bisa terbang dengan mendengung, seolah menyalahkan Serena atas lukanya. Tapi dia tidak pergi terbang kemana-mana lagi selain mengambang-ambang di sekitar rambutnya.
Pertandingan telah usai. Dan Serena mengacaukan segalanya.
.
.
.
