Disclaimer: This story is based on characters and situations created and owned by JK Rowling.
And Cecily von Zigesar and George R R Martin for some character's name
Pairings: Draco Malfoy/OC
Setting: Harry Potter and Sorcerer's Stone (Book & Movie)
The Two-Tale Heart
XX
DRACO
Draco melihat kejatuhan Serena van der Woodsen dari tribun Slytherin. Baik jatuh dari ketinggian maupun reputasinya. Dia berpikir, satu-satunya yang dapat menolong Serena dari bulan-bulanan ini adalah bahwa seluruh sekolah mengetahui kalau Serena juga terlibat dalam kejadian dengan Quirrell malam itu.
Tapi semua sudah terlambat. Hanya dalam satu malam, seluruh sekolah tampaknya berpendapat bahwa si Potter yang melalui semua kejadian-kejadian tersebut. Tak diragukan lagi, si darah-lumpur Granger dan Weasley bertanggungjawab atas besarnya mulut mereka.
Draco mengijinkan diri berdiri dan bersorak dengan anak-anak lain. Merayakan Ravenclaw yang keluar sebagai pemenang. Lagu konyol Hogwarts akhirnya keluar dari mulut mereka semua sementara rombongan anak dengan pernak-pernik biru membanjiri lapangan dan membopong jagoan Quidditch mereka, menyeret tim Gryffindor yang lesu tanpa ampun.
Tapi masih ada titik kecil yang sendirian di tengah lapangan...
Serena, yang malam itu entah mengapa menghampiri Draco dengan pizza konyolnya. Lalu terjebak dengan Quirrell. Disakiti dan diancam dibunuh. Yang berjuang untuk tetap hidup. Yang bahkan rela mati demi... Draco?
Mendadak tepuk tangan Draco berhenti, membayangkan betapa tidak adilnya dunia. Tidak seorang pun akan melihat Serena seperti itu. Saat ini, hanya ada Serena, anak cadangan pengacau dan bodoh, yang mengabaikan perintah kaptennya, dan membawa Gryffindor jauh dari kemenangan...
Titik kecil dilapangan itu berjalan gontai...
Draco merasa sulit mengalihkan perhatian, walaupun di tribun utama, Dumbledore sedang menyerahkan piala Quidditch yang besar berkilau kepada kapten Ravenclaw.
"Draco!" Pansy memanggilnya. "Ayo ikut ke Aula Depan. Theo akan menghitung kemungkinan nilai kita untuk tahun ini!"
Akhirnya Draco dan anak lainnya turun ke lapangan untuk menuju kastil. Besok pesta sekolah akan dimulai. Tentu saja hari ini akan menjadi penutupan pemberian poin untuk masing-masing asrama. Slytherin sudah menang tujuh kali berturut-turut.
Beberapa anak Gryffindor yang muram melewati Aula Depan tanpa memandang jam. Karena bebatuan pada jam pasir mereka paling sedikit.
"Kita menang..." kata Theodore dramatis seolah nilai itu adalah hasil kerjanya seorang diri.
"Walaupun tidak menang piala Quidditch, tapi kita menang piala asrama..."
Kata-kata Theodore sedikit menenangkan Draco. Dia mencuri-dengar dari Longbottom yang bodoh dan ceroboh itu bahwa Granger sedikitnya meminta tambahan perkamen tiga kali untuk semua ujian. Draco sama sekali tidak yakin dirinya akan menempati peringkat pertama. Tapi setidaknya juara asrama akan membuat ayahnya lebih lunak. Dia mungkin tidak akan disuruh belajar privat selama libur musim panas dan akan tetap dibelikan sapu baru.
Draco harus bisa masuk tim Quidditch tahun depan. Serena telah menangkap Snitch-nya lebih dulu walaupun dia tidak pernah berlatih jadi Seeker... Kalaupun itu adalah kebetulan, tapi tetap saja membuat Draco agak gerah.
Malam itu meja Ravenclaw adalah yang paling ramai. Perasaan bahagia menguar pada mereka semua, tak terkecuali meja Hufflepuff dan Slytherin yang ikut-ikutan. Meja Gryffindor masih makan dalam diam. Draco tidak mencari, karena dia tahu betul, Serena tidak akan ke Aula Besar untuk makan malam... Dan Draco terlalu pengecut untuk menyusulnya dan memberinya pizza...
.
.
.
"Draco, Stark memakan rotimu..."
Draco kembali sadar dari rasa mengantuknya. Pagi itu cerah sekali. Dan malamnya para penghuni asrama Ravenclaw memutuskan untuk berpesta di Aula Besar alih-alih di ruang rekreasi mereka sendiri. Para cendikia yang kutu buku itu ternyata tahu cara bersenang-senang. Flitwick meminta izin ke Dumbledore. Dan mereka pun makan dan minum tanpa henti di aula sementara Butterbeer botolan mulai dioperkan. Beberapa jam kemudian Peeves memutuskan untuk menyirami kepala siapapun dengan jus labu kuning yang terabaikan. Draco baru kembali ke kamarnya pada jam dua pagi, senang dan setengah mabuk, jubahnya sewarna kuning-kenari Hufflepuff tersiram jus.
Surat yang dibawakan burung hantunya membuat Draco siaga. Itu dari ayahnya. Draco hanya berharap tidak ada seorang pun yang akan mengadukan bahwa dia bertingkah seperti remaja bengal tadi malam.
"Apa kata ayah-ibumu Draco? Mereka memintaku menginap musim panas ini?" tanya Pansy, mencoba mengintip dari bahu Draco.
"Bukan, Pansy... Dan jangan menempel begitu!" seru Draco gusar.
Surat ayahnya bernada singkat seperti biasa dan tentu saja tidak berhubungan dengan liburan. Sepertinya berita bahwa Slytherin akan memenangkan piala asrama sudah sampai ke telinga keluarganya. Karena ayahnya juga menulis seolah-olah Draco yang memenangkan itu semua.
Tapi surat dari ibunya-lah yang membuat hati Draco ringan. Ibunya berjanji akan membebaskannya dari semua pelajaran tambahan... Tanpa syarat!
Suasana hati orang tuanya yang bahagia, ketidakhadiran Quirrell, membuat Draco lebih menyukai anak-anak yang berada disekitarnya, termasuk juga Pansy. Maka Draco sekarang mendekati Marcus Flint, si kapten Slytherin, untuk membahas kemungkinan posisinya tahun depan. Draco mungkin sudah punya sapunya sendiri...
"Kau tidak boleh lengah, Draco!" seru Flint yang sedang mengemil kacang. "Kalau kau mau posisi Seeker, Terrence memang akan lulus tahun ini, tapi..."
"Tapi apa?" desak Draco.
"Aku juga harus mempertimbangkan hal lain, seperti rekruitmen terbuka... Maaf, Draco. Aku harus melihat bakat-bakat lain. Lawan kita berat. Kita tidak bisa mengabaikan begitu saja pemain asrama lain. Lihat saja si cewek cantik Ravenclaw itu, kemudian kabarnya Diggory akan mencoba jadi Seeker tahun depan..."
"Aku tidak akan kalah dari anak-anak cantik..." potong Draco sebal.
"Dan kau mungkin akan berhadapan dengan Potter..." kata Flint melanjutkan. "Kita tidak bisa pura-pura tidak tahu bahwa dia hebat... Dan anak lain penuh kejutan. Kau lihat si van der Woodsen itu terbang kemarin. Terbangnya nekad sekali berbanding terbalik dengan wajah lembutnya..."
"Aku tidak akan kalah dari mereka!" Draco tiba-tiba merasa sakit hati. "Dan kuharap ada beberapa tulang si Potter yang tidak akan sama lagi karena dia kan..."
Draco langsung menutup mulut. Tak seorang pun tahu tentang dia, Serena, dan si Potter yang selalu ikut campur dengan Quirrell di ruang bawah tanah. Tapi desas-desus bermunculan sebagaimana yang selalu diharapkan oleh orang terkenal yang menyebalkan.
Draco nyaris muak mendengar banyak orang membicarakan Harry Potter dan batu bertuah dari waktu ke waktu.
"Aku dengar dari temanku di Hufflepuff yang temannya anak Gryffindor dan dekat dengan kakak-beradik Weasley, kalau Dumbledore punya satu persediaan batu bertuah hasil karyanya dengan Nicholas Flamel..."
"Kau bohong..."
"Benar..."
"Masa, sih?"
"Kudengar Harry Potter berusaha mendapatkan batu itu untuknya sendiri..."
"Lebih mungkin kalau Dumbledore menyimpan batu itu untuknya sendiri. Dia sudah sangat tua..."
"Kudengar Harry Potter berusaha menyelamatkannya... Tapi dari apa? Apakah ada pencuri masuk Hogwarts?"
"Bagaimana cara dia mengalahkan si penjahat? Dengan melemparkan Nimbus 2000 barunya?"
"Kudengar dua orang temannya juga ikut terlibat, mari kita tanya mereka..."
"Jangan bodoh! Masa kita mau bicara pada darah-lumpur dan si miskin Weasley..."
Draco setuju pada siapapun yang mengatai Granger darah-lumpur dan Weasley itu miskin.
Tapi lebih menyakitkan saat tahu bahwa hanya si trio emas busuk itulah yang mereka bicarakan. Lupakan saat Serena menyuruh Quirrell menyihir harpa untuk membuat tidur si anjing-kepala-tiga. Sekarang, bahkan anak bodoh seperti teman-teman Pansy tahu keberadaan anjing itu.
"Kau pikir apa yang dinyanyikan si Granger?"
"Mereka kan pakai api?"
"Itu saat mereka menyerang Jerat Setan, kalian bodoh!" seru seorang anak Ravenclaw yang kebetulan lewat dan menguping.
Serena menghalau Jerat Setan dengan menggigitnya...
"Lalu ada pengamanan apa lagi?"
"Catur sihir bagaimana? Apa? Weasley menyelesaikannya?"
Draco sama kagetnya dengan mereka, tapi mengakui kalau dia dan Serena tidak harus tercincang sampai mati ketika menyeberangi set catur dan menghadapi troll. Kemudian si Granger dipuji-puji karena ketepatannya menebak ramuan. Pintu terakhir tempat mereka hampir mati...
Tidak ada satupun dari mereka yang mengetahui kejadian sebelumnya. Tentang Serena. Ya, mungkin juga tentang Draco. Dan kini, semua menguap hilang sama seperti saat mereka menghilang begitu saja dari ruang tersebut...
.
.
.
"Draco, sini kurapikan dasimu..."
Pansy merapat pada Draco di meja panjang mereka. Draco menerimanya tanpa membantah. Suasana hatinya sekarang sedang sangat baik. Dasi dan pinnya amat sangat cocok dengan dekorasi Aula Besar yang didominasi oleh warna hijau dan perak. Slytherin resmi keluar sebagai pemenang piala asrama.
Meja mereka menjadi yang paling ramai dengan suara celotehan. Beberapa bahkan sudah ada yang mulai menyanyi-nyanyi dengan bodohnya. Mengetuk piring-piring mereka dengan garpu dan pisau. Walaupun kelihatan seperti anak bodoh yang tidak berkelas, tidak bisa dipungkiri, tingkah mereka menaikkan suasana hati Draco.
Dari sudut matanya, Draco melirik meja Gryffindor. Meja itu terlihat sangat lesu, memandang penuh benci pada meja Slytherin. Hal itu tidak aneh, mengingat mereka selama tujuh tahun berturut-turut dipecundangi oleh asrama yang paling mereka benci.
Serena mudah ditemukan karena dia duduk diujung meja, mencoba untuk tidak menarik perhatian. Hal itu sulit, karena sebenarnya anak-anak asrama lain tidak terlalu menaruh dendam padanya. Beberapa anak bodoh yang masih naksir padanya terus saja tersenyum-senyum genit.
Dia terlihat persis sama seperti pada saat pertama kalinya memasuki Hogwarts. Canggung dan pendiam. Bersebelahan dengan anak paling bodoh sedunia, si Longbottom.
Lalu anak-anak mulai berbisik dengan riuh.
Ternyata Harry Potter datang memasuki aula. Dengan jubah seragamnya yang makin kebesaran. Draco sama sekali tidak suka melihatnya kembali utuh begitu.
Dia menahan diri untuk tidak menjambak rambut Pansy yang sekarang mulai berbicara dengan mendesis pada kakak-beradik Greengrass. Si bodoh Potter seharusnya dibiarkan membusuk di rumah sakit atau di ruang bawah tanah itu saja sekalian.
Dumbledore tiba tidak lama kemudian. Draco punya dorongan yang sangat aneh untuk maju dan mengatakan bahwa sebelum Potter bodoh itu terlibat apapun, Draco sudah ada disana sebelumnya. Tapi perasaan itu ditahannya, mereka toh sudah memenangkan piala...
Celoteh anak-anak langsung mereda ketika Dumbledore, seperti biasa, merentangkan tangannya untuk berbicara.
"Satu tahun lagi telah berlalu! Dan aku harus menggerecoki kalian dengan ocehan orang tua sebelum kita mulai menyerbu makanan enak-enak ini. Tahun ini sungguh luar biasa! Mudah-mudahan kepala kalian sedikit lebih penuh daripada setahun yang lalu... kalian masih punya sepanjang musim panas untuk mengosongkan kepala sebelum tahun ajaran baru mulai..."
"Nah, seperti yang kupahami, Piala Asrama perlu dianugerahkan dan skornya sebagai berikut..."
Telinga Draco tegak lagi sementara wajahnya memanas.
"Di tempat keempat Gryffindor, dengan tiga ratus dua belas angka; tempat ketiga Hufflepuff, dengan tiga ratus lima puluh dua; Ravenclaw mengumpulkan empat ratus dua puluh enam, dan Slytherin empat ratus tujuh puluh dua."
Draco harus mengerahkan seluruh kemampuannya untuk bertepuk keras, karena ketiga meja asrama lainnya tampak ogah-ogahan menepuki kemenangan mereka. Jadi hanya meja Slytherin-lah yang berusaha untuk heboh sendiri. Draco merasa seperti disorot oleh mata yang berkilauan sampai dilihatnya mata semua anak asrama lain, termasuk sepertinya si Potter, memandang dia dengan rasa tidak suka. Draco tidak peduli. Ini akan menjadi malam kejayaan bagi Slytherin.
"Ya, ya, bagus sekali, Slytherin," puji Dumbledore.
Draco mendengar sedikit kesinisan pada suara Kepala Sekolahnya tersebut. Tapi hal itu tidak akan berubah banyak. Slytherin tidak memenangkan angka itu dengan kecurangan. Yah... mungkin sedikit. Draco baru menyadari bahwa kisikannya tentang Potter yang akan membawa naga ke McGonagall-lah yang telah mengurangi banyak nilai Gryffindor...
Draco tersenyum gembira memikirkan ini. Dia sama sekali tidak dapat menahan rasa kemenangannya...
Tapi...
"Meskipun demikian, kejadian belakangan ini harus ikut diperhitungkan."
Aula langsung sunyi senyap. Diujung meja, Serena menaikkan wajahnya seolah sejak tadi yang dilakukannya adalah menunduk. Seringai hilang dari wajah Draco.
"Ehem," Dumbledore berdehem dengan mencurigakan. "Ada angka-angka terakhir yang harus kubagikan. Coba kulihat. Ya... Yang pertama, kepada Mr Ronald Weasley, untuk permainan catur paling indah yang pernah dilihat Hogwarts selama bertahun-tahun ini. Kuhadiahkan kepada Gryffindor lima puluh angka."
Sorak riuh yang menggetarkan langit-langit memenuhi meja Gryffindor. Draco mengernyit ketika si kakak laki-laki Weasley yang Prefek itu meneriaki, "Adik laki-lakiku yang paling kecil! Berhasil memecahkan set catur raksasa McGonnagall!"
Draco dan Serena memang tidak memecahkan set caturnya, tapi kan mereka...
"Kedua, kepada Miss Hermione Granger... untuk penggunaan logika dingin dalam menghadapi api. Kuhadiahkan kepada Gryffindor lima puluh angka."
Sekarang tidak hanya anak Gryffindor, sorak sorai sudah bercampur dengan kutukan dari meja Slytherin, mencemooh si darah-lumpur dan ketidakadilan ini. Nilai mereka sekarang semakin menyusul... Draco mengijinkan diri ikut memprotes juga. Disinilah saat terakhir kali mereka gagal menghentikan Quirrell dan malah kabur dengan si peri-rumah. Serena tidak dapat menggunakan logika dingin apapun, walaupun dia katanya pewaris Ravenclaw yang pintar, dia terlalu sibuk menghadapi ancaman maut Quirrell.
Dia terlalu sibuk memikirkan keselamatan Draco... Si bodoh itu...
Dan sekeras apapun Draco memprotes, tidak akan ada yang mendengarnya.
"Ketiga, kepada Mr Harry Potter..."
Ruangan betul-betul sunyi senyap. Draco tidak tahu bagaimana anak Slytherin lain bisa menelan kembali caci-makinya. Tapi lidah Draco pun seolah menempel di langit-langit mulutnya.
"Untuk ketabahan dan keberanian yang luar biasa. Kuhadiahkan kepada Gryffindor enam puluh angka."
Hiruk pikuk yang terdengar kini memekakkan telinga. Draco berpaling kepada Theodore, yang mungkin sedang hitung menghitung. Theodore tampaknya saat itu sedang terhubung pikirannya dengan Draco, karena dia menggeleng dengan tidak bersemangat dan mulutnya bergumam, "Seri.", tanpa suara.
Dumbledore mengangkat tangannya dan Draco, yang tiba-tiba saja ingin menyelanya, sekarang terduduk tak berdaya lagi di kursinya.
"Ada bermacam-macam keberanian. Perlu banyak keberanian untuk menghadapi lawan, tetapi diperlukan keberanian yang sama banyaknya untuk menghadapi kawan-kawan kita. Karena itu aku menghadiahkan sepuluh angka kepada Mr Neville Longbottom."
Suara teriakan bergemuruh mungkin akan membuat troll pun takut. Tapi memikirkan troll pun membuat hati Draco saat ini sakit. Semua anak kini berdiri untuk merayakan kemenangan Gryffindor yang tidak disangka-sangka ini. Anak Slytherin berdiri untuk mencecar bagaimana tidak adilnya Dumbledore. Tapi Dumbledore malah sudah mengangkat tongkat dan mengganti dekorasi Slytherin yang tadi berjaya. Ular perak digantikan singa emas. Dan panji-panji menjuntai mereka tiba-tiba berubah warna menjadi merah-emas.
Draco kehilangan kata-kata. Dan yang pertama kali dilakukannya adalah mencari Serena diujung meja.
Tapi sia-sia saja. Dengan pemberian angka kepada Longbottom yang sama sekali tak terduga, membuat Gryffindor menang, kini si tolol itu sedang tenggelam ditumpukkan anak-anak yang berusaha memeluknya. Serena yang tadi duduk disampingnya sama sekali tidak terlihat...
Perasaannya makin parah ketika dilihatnya si Potter, Weasley, dan Granger sedang tertawa-tawa melihatnya.
Ternyata malam ini sama sekali bukanlah malamnya...
.
.
.
Butuh banyak alasan dan sentakkan kepada Pansy dan anak-anak lain yang menggerecokinya, bahwa Draco hanya ingin kembali ke kamar lebih awal. Tapi beberapa anak Slytherin juga terlalu malas untuk ikut pesta. Jadi mereka hanya makan hidangan dan tidak menunggu sampai muncul hidangan penutup, untuk kembali ke ruang rekreasi sambil mendesiskan ancaman-ancaman pada meja Gryffindor.
Di tengah jalan, Draco menjadi terlalu malas untuk kembali ke kamarnya pada malam sepanas ini...
Dia terutama butuh angin untuk mendinginkan kepalanya. Tapi rasa bencinya tidak dapat dipadamkan dengan apapun. Wajahnya terasa pegal karena merengut terus-menerus sepanjang makan malam. Bahkan steak seempuk apapun terasa seperti kardus di mulutnya.
Kakinya yang tadi berjalan tak tentu arah membawanya keluar kastil lewat pintu belakang. Draco baru melewati setengah jembatan yang akan membawanya ke jalan menurun menuju pondok kumuh si raksasa ketika dia merasa bahwa pondok itu tidak akan membawa kesenangan apapun untuknya saat ini. Maka Draco berbalik sebelum dilihatnya seseorang.
Duduk pada pinggiran jembatan dengan menyilangkan kaki. Serena sedang memandang kegelapan yang menyelimuti perbukitan nun jauh disana.
Posisinya sama persis seperti ketika Draco sedang mengawasinya datang dari hutan kemarin dulu. Minggu-minggu pertama saat mereka baru masuk Hogwarts.
Draco mendapati dirinya dengan bodoh mendekat.
Serena pasti tidak melamun karena dia menyadari kehadiran seseorang dibelakangnya dan segera menoleh.
"Kau bisa kabur dari sekelompok orang yang berusaha menciummu, kalau begitu?"
Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Draco, tetapi Serena dapat menangkap senyum sinis Draco sehingga dia hanya ikut tersenyum.
"Itu Neville yang ingin mereka peluk... Kata Neville, dia dikutuk oleh Hermione waktu menahan mereka bertiga keluar untuk menghentikan Snape, maksudku Quirrell... Yah, Ron bilang pertamanya dia menyangka Snape yang jahat sampai..."
"Oh, jadi kau mendengar cerita si Weasel itu dengan tampang kagum seolah kau tidak mengetahui yang sebenarnya?"
Serena pastilah melihat perubahan pada wajah Draco sehingga dia terdiam dan kembali menatap kejauhan. Draco ingin sekali mengerti perasaannya, atau berterimakasih padanya yang sedikit banyak telah menyelamatkan Draco. Tapi lebih mudah untuk menyalahkan kebodohannya dan mendorong Serena sampai jatuh.
Mungkin angin malam kini benar-benar mendinginkan kepalanya sehingga dia meloncat untuk ikut duduk ditepian jembatan, tepat disebelah Serena.
"Pergilah ke dalam, van der Woodsen. Sedikit banyak pesta itu untukmu... Kau dapat seratus lima puluh angka sendirian untuk tangkapan keberuntungan Snitch-mu itu. Kalau mereka benar-benar temanmu, seharusnya mereka sedikit berterimakasih... Gryffindor jadi tidak terpuruk terlalu dalam..."
Serena sekarang tertawa, "Yah, kau dengar sendiri untuk siapa angka-angka tadi... Angka berapapun yang kudapat tidak akan mereka ingat lagi. Tapi aku tidak bisa menyalahkannya, mereka bertiga, trio emas katamu? Kudengar Quirrell benar-benar mati..."
Suaranya agak bergetar sebelum akhirnya Serena diam. Dan Draco tahu, itu bukan kesedihan, melainkan sisa-sisa ketakutan. Karena Draco juga merasakannya.
"Itu tidak gampang, maksudku, dihadapi oleh Harry sekalipun. Dan juga Neville, mereka patut mendapatkannya..."
Kediamannya lagi secara mendadak membuat Draco tahu, bahwa itu adalah rasa pahit. Bahwa di lubuk hati Serena, ada perasaan yang tidak terjelaskan yang menyatakan bahwa dia juga ingin diakui sebagai pahlawan dalam peristiwa Hogwarts kali ini. Dan dia memang pahlawan...
"Aku akan mendapatkan untukmu lima puluh angka, Draco, kalau aku bisa mendapatkannya... Kau patut mendapatkannya... Kau ada disana lebih dulu, berusaha menghentikan Quirrell..."
Draco mendengus mendengar perkataan Serena yang tidak menenangkan ini, "Aku tidak memecahkan set catur, ataupun menggunakan logika dan pemberani atau apalah..."
"Hanya karena cuma aku yang mengetahui hal itu. Bukan berarti yang lainnya tidak akan tahu..."
"Aku Slytherin luar dan dalam. Dan aku bangga walaupun orang lain mengataiku licik dan pengecut..."
"Dengarkan si Tuan Keras Kepala yang kepedean..."
"Diam, kau, Nona Ceroboh..."
Draco mau tidak mau tertawa saat Serena menghentikan argumen mereka dengan tawa-anak empat tahunnya. Serena mengelus ujung-ujung rambutnya sambil memandang dikejauhan.
"Tapi aku benar-benar suka disini. Yah, aku mungkin tidak bisa membuat orang lain menyukaiku, tapi tak apalah, toh dari dulu banyak orang yang sebal padaku... Tapi satu tahun sudah berlalu lagi tanpa terasa. Kurasa detensiku memang kebanyakan menguras waktu..."
"Kau masih punya enam tahun, Serena... Dan selamanya di dunia ini..."
Suara Draco menjadi berat dan dia merasakan wajahnya tiba-tiba memerah. Untuk apa, sih dia menenangkan si bodoh ini?
Dari sudut matanya Draco melihat Serena menopangkan dagu pada tangannya sambil memandangi Draco. Draco bahkan terlalu malu untuk menatap kembali.
"Kau benar... Ini tahun yang paling ajaib untukku..." gumam Serena.
Draco menoleh dan mendapati Serena sedang memandang kekejauhan lagi.
"Sampai kapan kau akan duduk disini, van der Woodsen?" tanya Draco setengah mengantuk, ikut memandangi titik yang dituju Serena.
"Terserahmu sajalah, Malfoy..."
.
.
.
Pagi harinya Draco kelimpungan antara mengancingkan jubahnya, menyikat rambutnya, dan mengunci sarang Stark di kandangnya. Tadi malam, dia terlalu lama berada diluar, sehingga kurang tidur lagi.
Tapi si Serena van der Woodsen merasa dia harus bergadang hanya karena malam itu malam terakhirnya di Hogwarts sampai September nanti.
Draco bisa saja meninggalkan Serena sendirian dengan sentimental khas ceweknya yang bodoh itu. Tapi ternyata Draco kesulitan untuk kembali ke asramanya lagi...
Draco tidak sempat mengutuki kebodohan dirinya. Pengumuman nilai-nilai mereka tidak membuat Draco semakin santai. Dia hanya mendapat peringkat kedua dari seluruh sekolah. Dan Hermione Granger-lah juara sekolah untuk anak kelas satu tahun ini.
Kalau ayahnya sampai tahu bahwa si Granger itu perempuan kelahiran muggle tapi bisa mengalahkannya...
Tapi yang membuat hatinya ringan sedikit adalah, semua temannya bahkan tidak ada yang termasuk sepuluh besar. Bahkan si Potter dan Weasley pun hanya lulus pas-pasan.
Draco hanya berharap ayah-ibunya akan melihat sisi positif hal ini. Maka, saat dia menaiki kereta bawang yang akan membawa anak-anak ke stasiun, dia mengijinkan dirinya tersenyum melihat Hogwarts yang akan ditinggalkannya sampai September nanti.
.
.
.
"Draco! Kau mau kemana lagi?"
Pansy merengut ketika Draco melemparkan semua permen dan cokelat serta Bolu Kuali dari troli si penjual kepada mereka.
"Diam, Pansy. Aku tak butuh kau ikuti..." seru Draco diantara seruan senang Crabbe dan Goyle yang mulai membuka kardus Cokelat Kodok dengan gigi mereka.
Draco keluar dari kompartemennya dan mulai berpikir apakah dia harus mengunjungi kompartemen rahasia ibunya dulu. Draco memikirkan tempat pertemuan pertamanya dengan Serena itu. Apakah dia masih setegang dahulu dan perlukah Draco melihat kesana untuk mengetahui apakah si Granger masih membuatnya tidak percaya diri...
Tapi sekarang hal itu tidak diperlukan lagi...
Dia menemukan Serena sedang berusaha memasuki kompartemen dengan Oliver Wood dalam rangkulannya dan teman Ravenclaw-rambut-merah-nya dalam rangkulan tangan lainnya. Bertiga, mereka tertawa seolah ada yang lucu. Wajah Oliver Wood agak kemerahan.
Menyadari ada yang memperhatikan, Serena mendapati Draco sedang mengawasinya. Dengan sekali kedipan mata, tahulah Draco kalau Serena yang sekarang tidak memerlukannya lagi. Dan hatinya agak ringan memikirkan bahwa tidak semua orang membenci cewek aneh itu.
Draco berbalik ke kompartemennya. Memborong Bolu Kuali lagi. Dia akan memberikan semuanya pada Marcus Flint dan tim Slytherin agar mereka senang. Tapi menyelipkan Ramuan Sakit Perut untuk bagian Marc Zabini mungkin bagus juga.
.
.
.
Draco hanya berharap lautan anak-anak yang membanjiri stasiun menahannya cukup lama disini. Dia telah melihat ayah-ibunya di peron dekat perapian Floo yang berjajar, berdiri dengan jubah dan gaya yang sempurna, menunggu dengan semua orang tua teman-temannya.
Tampang ayahnya, meskipun dari kejauhan, tampaknya tidak menunjukkan suasana gembira.
"Mereka kelihatannya oke..."
Seseorang berdesis di telinganya, membuat Draco terlonjak.
Serena sudah ada disampingnya lagi. Burung hantunya tampaknya tidak mau dimasukkan ke sangkar dan malahan bertengger di bahu Serena. Sekarang si burung tersebut mendelik galak pada Draco.
Draco tidak dapat menahan diri untuk tidak melirik ke sekitarnya. Memastikan tidak ada satu pun temannya sedang ada didekat situ.
Mata Serena yang berbeda warna itu membulat, meremehkan ketakutan Draco.
"Terima kasih tapi kau tidak membuatku tenang sama sekali..." Draco balik mendesis.
Bahu Serena mendorong bahu Draco main-main, mungkin sebagai tanda menyemangati. Tapi yang Draco dapatkan hanyalah memastikan kedua orang tuanya tidak meilhat hal ini. Kemudian Serena membelah paksa kerumunan anak-anak. Dengan kuakkan si burung hantu, suasana jadi makin riuh dengan omelan-omelan dan kericuhan ala anak-anak. Serena tertawa diantara kekacauan ini lalu berteriak, yang Draco tahu, pastilah ditujukan padanya...
Atau dia mungkin hanya berharap...
"Sampai bertemu September nanti!"
Serena, dengan kekuatannya yang tidak terduga, atau mungkin juga karena kopernya yang besar, terus menyelak kerumunan dan menyebabkan kekacauan, sampai dia tiba lebih dulu di peron. Dan Draco tahu apa yang menyebabkannya bersemangat seperti itu.
Ada orang-orang yang dicintainya menunggunya di stasiun muggle, dibalik peron sembilan tiga-perempat tersebut...
Draco memandang rambut cokelat Serena yang menjauh, merasakan harapan, kemudian ikut menerobos kerumunan, menuju tempat ayah-ibunya.
.
.
.
End of First Year
