Inside The SuJu High School
Chapter 4
~X~HAEHYUK STORY: MY STORY~X~
Genre: Romance, hurt, humor, etc.
Rate: T
Disclaimer: HaeHyuk puya Tuhan. Semua cast punya Tuhan.
Story punya Author
ENJOY!
Donghae PoV ('Till the end)
Murid-murid seisi sekolah ini mencap aku dan sahabatku, Lee Hyukjae, yang kerap disapa Eunhyuk atau Hyukkie itu sebagai murid terjahil sesekolah. Tak jarang aku dan Eunhyuk merusak tanaman Sooman-songsaenim. Kami sempat dimarahi, tapi kami tidak pernah kapok...
Ya, itulah watakku di luar. Namun sebenarnya aku adalah orang yang sangat menyedihkan. Masa laluku kelam...
Mungkin menyakitkan mengingat orang tuaku meninggal akibat kecelakaan. Aku diurus oleh paman dan bibiku. Tapi mereka pun meninggal akibat kecelakaan. Pamanku yang meninggal duluan membuat bibiku stress dan saat mengemudi dia tidak konsen. Aku dioper pada nenekku yang tinggal seorang diri. Namun nenekku meninggal juga karena terbunuh rampok yang merampok seisi rumah nenekku. Dan terakhir, aku dioper pada pamanku yang lainnya, dan merupakan guru di sini. Ia bilang aku harus mandiri, ia hanya akan memberikan uang padaku. Ia tidak mau mengurursku karena dia takut satu hal... Mati. Karena setiap orang yang dekat denganku hanya akan meninggal akhirnya.
Ya, itu kenyataan... Aku tidak bisa memungkiri itu semua. Itu fakta.
Kadang aku berpikir, buat apa Tuhan menciptakanku bila aku lahir hanya untuk membuat orang yang menyayangi dan kusayangi menderita?
Aku belum menemukan jawabannya, makanya, mungkin lewat hidup, aku bisa menemukannya.
"Hae!" teriak seseorang yang kukenal. Orang yang dekat denganku... Hyukkie.
"Nae, Hyukkie?" tannyaku.
"Aku dapat berita baru! Yesung dan Wookie pacaran! Pacaran Hae!"
"Haa? Apa benar? Ayo kita jahili mereka!" ujarku semangat. Namun itu hanya untuk topeng yang menutupi semua masa laluku..
Kami berlari mengelilingi sekolah. Ya, sekolah sudah bubar karena mendadak ada urusan yang harus diselesaikan para guru. Jadi sedari tadi aku dan Hyukkie hanya diam di kamar.
"Nah! Itu Hae!... Yah~ Heechul-hyung keburu marah... Yesung jadi pergi... Dasar tukang ngambek..." kata Hyukkie putus asa.
"Kau sih lama!" omelku jahil.
"Ya! Kau yang malas-malasan gitu... Nyebelin..." jawabnya sebal.
Jujur, aku sebenarnya sangat mengaguminya yang benar-benar easy going. Ia benar-benar jahil dan polos. Tampangnya imut dan jahil. Tapi aku hanya takut... Rasa kagum ini berubah menjadi rasa suka. Bukan... Bukan itu... Tapi aku takut, jika ia semakin dekat denganku, ia hanya akan meninggal seperti yang lainnya.
"Ah, Hyukkie... Aku mau ke kamar lagi... Aku sedang mengantuk..." ucapku.
"Yah... Kau tidak rame, Hae~!" jawabnya. Ia pun mengikutiku yang sudah jalan lebih jauh.
Kami pun berjalan bersama... Menuju kamar kami tentunya.
"Eh, Hae... Boleh nanya enggak?" tanya Hyukkie tiba-tiba.
"Nanya apa?" jawabku sambil menatap lurus kedepan.
"Apa kau... Menyukai seseorang?"
Aku reflek menatap dia heran. Kenapa dia nanya begitu?
"Kenapa memang?"
"Hanya ingin tanya... Jawab enggak?"
"Ya, kalau aku... Aku tidak tahu... Aku masih ragu akan perasaanku. Aku takut orang yang kusukai menerimaku..." jawabku dengan nada... ya, sedikit beda dari biasanya. Dengan nada sedih? Mungkin...
"Eh? Koq takut? Bukannya senang?"
"Ya... Pokoknya takut!" Aku merubah nada suaraku menjadi sedikit riang dan tersenyum... palsu tentunya.
"Dasar aneh!" kata Hyukkie padaku. Aku tertawa. Dia pun tertawa... Manisnya...
"Eh, iya... Kamu juga kasih tau dong kamu lagi suka sama siapa?" ucapku tiba-tiba.
"Oh iya! Aku lagi suka sama seseorang. Dia keren, dia cool, dia tegas dan konyol di waktu yang bersamaan, dia tampan...Dan sepertinya semua yeoja yang bertemu dengannya langsung terbius!" cerita Hyukkie.
Aku tertegun. Tampan? Hyukkie suka sama sesama namja? Bukan... Yang penting... Siapa orang itu? Siwon kah?
"O-oh... Ahaha... Siapa Hyukkie?" tanyaku sambil tertawa palsu.
"Rahasia Hae... Rahasia..." jawabnya sambil memasang wajah... Apa itu? Aku tidak tahu yang jelas wajahnya konyol dan lucu.
Nah, tanpa kami sadari, kami sudah ada di depan kamar.
Kamipun masuk dan mulai melakukan aktivitas masing-masing. Hyukkie main game online. Aku? Aku hanya duduk di kasur, saling berkirim pesan dengan Kyuhyun, si anak jenius.
'Hei anak jenius... Kamu sedang apa?' tanyaku padanya melalui sebuah SMS.
'Ngapain nanya? Aku lagi dimarahi Minnie-hyung...' balasnya.
Aku sedikit tertawa. Haha, pasti karena main PSP dan mengacuhkan tugas...Yak, Sungmin memang taat peraturan namun manja, apalagi pada Kyuhyun... Padahal mereka hanya sahabat... Dasar sahabat aneh.
'Yasudah, selamat menikmati...'
Aku pun menyudahi acara SMSku dan beralih pada Hyukkie.
"Hyukkie, lagi maen apa? Mulai ketularan Kyuhyun nih?" tanyaku sambil menopangkan daguku di kepalanya.
"Maen Point Blank... Aku nggak ketularan Kyunnie! Yaaaak! Musuhnya pake Magnum! Yaaaa! Mati..." teriaknya Membuatku sedikit tuli.
"Hahaha..." tawaku... Setidaknya aku tahu kali ini bukan tawa palsu. Tapi tawaku yang alami... Dari hati...Entahlah, jika dekat dengan Hyukkie, tawaku pasti sukses mengembang...
"Ketawa! Huh!"
"Yasudah... Oh iya... Hyukkie... Jalan-jalan yuk?" ajakku. Ya, aku sedikit bosan disini.
"Tapi kau yang traktir?"
"Baiklah, kebetulan uang jajanku bulan ini lebih..."
"Bagus! Aku jadi irit... Ayo~!"
Aku pun melihat dia yang mulai siap-siap. Ya, dia selalu bersemangat jika kutraktir. Dan memang aku selalu menraktirnya jika jalan-jalan. Anggap saja itu balasan karena dia selalu menemaniku... Ahaha
Aku pun mulai bersiap-siap. Aku mencari baju favoritku, itu hadiah dari Hyukkie, makanya jadi favoritku. Bajunya sangat lucu, warna kuning dan ada gambar monyet di pinggir bawahnya. Kata Hyukkie sih supaya aku selalu ingat padanya...
Sedangkan buat celana aku pakai celana jeans model cowok jantan. Kalia tahu sendiri lah?
Kamipun menuju ruang kepala asrama untuk meminta izin. Aku tahu semua murid diperbolehkan keluar asrama, tapi tetap saja harus lapor dulu.
"Yoochun-songsaenim... Kami akan keluar dulu sebentar..." ucapku pada Yoochun-songsaenim. Ya, sebenarnya umurnya cuma lebih tua 5 tahun dari anak kelas 3 alias masih muda. Dan juga masih jomblo... Jomblo? Bukan kata yang tepat sih soalnya banyak yang bilang dia pacaran sama Junsu-hyung, anak kelas 3.
Sudah, back to story.
Setelah diizinkan, kami segera pergi dan menuju stasiun terdekat. Kami naik kereta api agar cepat sampai ke kota. Soalnya kalau naik bus susah, gerah tau?
Sampai di kota...
"Eh, Hae... kita makan yuk? Udah jam setengah duabelas nih!" kata Hyukkie seturunnya dari kereta. Dasar tukang makan...
"Baiklah! Ayo...!" jawabku riang... Riang palsu tentunya.
Kami pun keluar dari stasiun dan berjalan di sepanjang trotoar. Ternyata keadaan kota siang-siang itu benar-benar tidak enak. Klakson dimana-mana, cahaya matahari menyengat, dan asap kendaraan juga banyak. Benar-benar deh... Lebih baik nanti sore saja perginya... Biasa sore sih ya?
"Hae! Sepertinya cafe itu meyakinkan! Tidak terlalu ramai pula..." kata Hyukkie tiba-tiba sembari menunjuk cafe yang ada di seberang jalan.
"Kalau di situ maumu, ya baiklah... Ayo!" jawabku.
Kami pun menunggu lampu hijau untuk pejalan kaki menyala. Setelah kurang lebih setengah menit, akhirnya lampu pejalan kaki berubah menjadi warna hijau. Tanpa sungkan-sungkan Hyukkie langsung lari mendahuluiku. Tapi tanpa disadarinya ada mobil melaju sangat cepat...
Ya! Hyukkie! Lari!
Mobil itu semakin dekat...
CKIIIIT—
BUAKH—
Aku membuka mataku yang sedari tadi terpejam karena tidak mau melihat Hyukkie tertabrak. Namun ternyata ada seorang namja sudah menolong Hyukkie.
"Haaaaah! Hampir saja... Nee, kamsahamida, errr?"
"Jung Yunho... Aku pegawai cafe itu..." kata sang namja sembari menunjuk cafe yang jadi tujuan kami tadi.
"Nee, kamsahamida Yunho-sshi... Anda sudah menyelamatkan sahabatku ini..." Aku membuka mulut. Aku benar-benar berterima kasih... Kalau saja tadi dia tidak ada, mungkin Hyukkie akan jadi korban'ku' berikutnya... Ya, korban akibat dekat denganku...
"Ya... Sama-sama, dan satu hal, tidak perlu terlalu formal seperti itu..." jawabnya. "Ah... Bahannya..." lanjutnya tiba-tiba. Aku melihat barang yang dipandangnya. Mungkin karena menyelamatkan Hyukkie, barang belanjaannya berserakan begitu.
"Ah, mian, Yunho-sshi..." ucapku dan Hyukkie barengan.
"Tidak apalah... Bosku juga tidak akan marah padaku..." jawabnya santai. "Jadi, kalian mau kemana sebenarnya?" katanya sambil mulai berjalan mengambil barangnya.
"Aku dan Hae mau ke cafe-mu..." jawab Hyukkie.
"Baiklah, cepat kalau begitu. Ini waktu makan siang orang kantoran.. Pasti cepat penuh..." katanya lalu berjalan. Kami mengikuti di belakangnya.
Sampai di dalam cafe...
"Eh, Hae! Duduk di situ saja!" teriak Hyukkie sembari menarik tanganku menuju kursi dekat jendela. Aku hanya setuju saja.
Setelah kami duduk, Yunho-sshi pun membawa buku menu buat kami.
"Ah, gomawo..." ucapku.
Setelah Yunho-sshi pergi, kami lihat-lihat menunya.
"Hae, kamu mau makan apa?" tanya Hyukkie padaku.
"Aku? Aku ngikut kamu aja deh..."
"Baiklah... Aku mau pesan Beijing Fried Rice saja..."
"Minumnya apa?"
"Emm... Strawberry Juice saja... Kau juga?"
"Tidak mau! Strawberry warnanya pink dan aku tidak suka warna itu sama sekali... Aku Lemonade saja..."
"Nggak keaseman?"
"Nggak..."
Hyukkie pun memanggil waitersnya dan menyebutkan pesanan kita.
Setelah sang waiters pergi, aku bertanya padanya, "Hyukkie... Kamu tidak apa-apa tadi?"
"Eh... Nggak apa-apa koq... Cuma lecet di siku..." jawabnya sambil menggaruk kepalanya yang aku yakini tidak gatal sama sekali.
"Mian, ya, Hyukkie... Aku nggak bisa nolong tadi. Aku terlalu kaget..."
"Gak apa! Hahaha... Itu tadi salahku!"
"Oke... Untuk menebusnya, hari ini aku akan mengajakmu jalan-jalan. Gimana, Hyukkie?"
"Hieee~? Serius? Oke deh~!" kata Hyukkie sembari tersenyum riang. Tak berapa lama kemudian, pesanan kami datang.
Setelah sang waiters tadi meletakkan pesanan kami diatas meja kami berterima kasih kemudian mulai menyantap makanan yang sangat menggiurkan itu. Bagaimana tidak? Baunya saja sudah harum...
Kulihat tanpa segan-segan Hyukkie langsung melahapnya. Aku juga ikutan saja...
"Ah, kenyang, Hae~~" ucap Hyukkie setelah menghabiskan sepiring Beijing Fried Rice. Ia mulai meminum jusnya. Sedangkan aku? Aku masih makan... Tapi bukan artinya aku makannya lelet, aku hanya lagi gak nafsu makan...
"Hm, aku juga kenyang nih, Hyukkie..."
"Hieee? Masih banyak begitu?"
"Kamu mau...?"
Hyukkie diam kemudian beberapa saat setelahnya mengangguk. Aku pun mengambil sesuap nasi dan menyuapinya ke arah Hyukkie.
"Buka mulutmu..." ucapku.
"Yak! K-kau gila apa Hae? Aku bisa makan sendiri~!" kata Hyukkie. Aku melihat pipinya sedikit memerah... Lucu sekali... Ahaha~
"Hahaha... Oke, oke..." tawaku.
Aku pun memperhatikan si Hyukkie yang memakan makananku tadi. Eh, aku baru sadar satu hal, sendoknya sendokku... Mana tadi sendoknya aku mainin di mulutku lagi...
I-itu tandanya,... Hyukkie...
Jyah!
"Hyuk-Hyukkie? Sendok..."
"Sendok kenapa?" Ia terheran sembari memandangi sendoknya. Beberapa detik setelahnya ia langsung membelalakan matanya... Kaget.
"Yaaa! Kenapa gak bilang ini punya kamu?"
"Kau langsung merebutnya, Hyukkie!"
Kami pun bertengkar yang tidak penting. Tapi tunggu sebentar, kami kan sahabat... Kenapa harus malu. Kalau aku sih malu karena aku memang diam-diam suka pada Monkey ini, tapi kalau Hyukkie? Kenapa ia bisa malu hanya karena ini? Mungkinkah... Ia punya perasaan yang sama?
"...Sudah ah! Tanggung! Sudah habis juga!" marah Hyukkie.
"Hahaha, lain kali hati-hati makanya!" ucapku masih dengan unsur-unsur tawa.
Setelah beres makan kami keluar dari cafe itu... membayar dulu pastinya...
"Eh, Hae, janji jalan-jalan kan?" tanya... atau tepatnya tagih Hyukkie dengan wajah dibuat-buat imut... Memelas maksudnya.
"Iya... Kau mau kemana setelah ini?"
"Ke... Kita ke toko aksesoris di dekat bioskop, jadi setelahnya kita ke bioskop. Lalu kita ke cafe ... Lagi... Untuk makan sore, dan jalan-jalan ke mall, baru terakhir ke taman... Katanya malam ini bulannya sedang bagus, purnama, Hae! Purnama!"
Aku memang sudah biasa mendengar kemauannya yang kadang gila itu, tapi tiap kali aku pasti kaget mendengarnya... Dia ini jadi seperti yeoja tahu? Ckckck...
"Oke baiklah, karena aku sudah janji akan aku penuhi semuanya..." ucapku mantap.
"Haha, gitu dong~"
Kami pun melanjutkan acara kami... Kami ke tempat yang sudah Hyukkie inginkan. Pertama, toko aksesoris...
"Hae, ini bagus tidak?"
"Hae, ini cocok buatku tidak?"
"Hae, benda ini lucu!"
"Hae... Hae~"
Aaaah~! Aku bisa gila lama-lama... Hampir semua aksesooris dia coba...Dia ini namja atau sudah bertransformasi menjadi yeoja sih? Ngikutin Heechul-hyung hah? Tapi sudahlah... Gak apa-apa, toh semuanya match buat dia... Dasar indah...
"Iya, iya... Beli saja sesukamu... Sudah kubilang uang jajanku dilebihkan untuk bulan ini..."
"Gomawo yo, Hae yang tampan~~"
He? Nggak salah? Dia bilang aku ganteng? Ya Tuhan... Seriuskah? Atau aku yang mulai bongek disini?
"Iya, aku memang tampan Hyukkie... Baiklah! Ayo cepat-cepat...!" ucapku menutupi rasa senang bercampur gugupku.
Dia pun cepat-cepat mencari aksesoris lainnya. Selang setengah jam, dia baru selesai memilih... Tanpa basa-basi langsung aku seret dia ke kasir.
Setelah membayar, kami pun keluar dari toko. Ehm, ternynata barang yang dibeli Hyukkie murah-murah ya? Pantas saja dia memaksaku beli kesini...
"Gomawo, Hae~! Kau memang temanku yang paling baik!"
"Iya, iya Hyukkie... Sudahlah, ayo kita ke perhentian selanjutnya!"
"Hae, kita nonton film Harry Potter and the Deathly Hallows aja! Yang ketujuh itu, ketujuh, Hae!" ujar Hyukkie semangat. Sekarang kami ada di loket pembelian tiket.
"Terserah kamu sih, aku ikut doang... Yasudah, kamu mau duduk dimana?"
"Aku mau duduk belakang, pojok, aku nggak suka yang rame... Ya?"
"Baiklah..."
Aku pun membeli tiket dan mengajak Hyukkie cepat-cepat. Filmnya sudah mau dimulai 5 menit lagi oke?
"Eh, Hae... Tunggu!"
"Apa lagi, Hyukkie-sshi?" jawabku sudah gemas lantaran Hyukkie malah mencegatku.
"Kita beli popcorn dulu, yah?"
"Fine..."
"Yee~! Hae memang baik dan tampan~"
Hyukkie langsung melesat ke tempat beli popcorn saat sudah aku kasih uangnya. Entah sudah berapa kali hari ini dia bilang aku tampan? Hahaha... Dasar, gombal...
"Ini Hae... Ayo cepat!" panggilnya.
Kami pun sedikit berlari takut filmnya sudah dimulai. Saat sampai di dalam, kami duduk di tempat yang sudah kami pesan sebelumnya...
"Huuuaaaa~! Filmnya rame sekali Hae~ Kapan yah keluar yang kedelapan?" ujar Hyukkie saat keluar dari bioskop. Ya, film telah berakhir dan kami akan segera ke perhentian berikutnya, Mall..
Hyukkie terus berbicara sepanjang perjalanan, tak berhenti mengucapkan terima kasih dan menceritakan semua pengalamannya. Cerewet dasar...
Setelah sampai di mall, aku yakin tujuan pertama Hyukkie adalah, toko baju.
"Kau mau beli itu, Hyukkie?" tanyaku saat melihat Hyukkie menatap baju dengan mata berbinar...
"Eh, nggak ah! Ayo liat-liat.."
"Cuma liat-liat? Gak beli?"
"Nggak, hehehe..."
Aku pun pisah darinya untuk melihat-lihat baju lain.
Setelah kurang lebih setengah jam, aku melihat Hyukkie berjalan dari arah kasir ke arahku. Hah? Ia membeli sesuatu? Kenapa gak bilang padaku?
"Ya, Hyukjae! Kamu kenapa gak bilang mau beli...apa itu? Sepatu dan baju? Kenapa gak bilang, Hyukkie?" tanyaku.
"Hehe, gak apa dong, Hae... Oh iya, ini aku beli untukmu. Bajunya sepasang denganku. Sepatunya juga. Aku nemu ditempat baju-baju pasangan... Murah loh, Hae~~" jawab Hyukkie sembari nyengir dan menunjukan belanjaannya. Hah~ Dia baik sekali sih... Yasudah deh... Gak apa... Eh, tapi katanya dia beli di tempat pasangan? Jadi dia menganggap aku pacarnya? Yaaa! Benar-benar menyenangkan...
"Haaah~ Yasudah, gomawo, ya, Hyukkie..." ucapku akhirnya.
"Baiklah! Ayo kita jalan-jalan lagi..." ajak Hyukkie.
"Yaa~ Sudah ah, aku lelah... Kita makan saja yuk?" kata Hyukkie. Ya, memang dari tadi kita keliling mall sampai toko hewan pun kami masuki, padahal aku ataupun Hyukkie tidak punya hewan, justru kamilah hewannya. Aku Fish dan dia Monkey =.=" Oh iya, dan apakah kalian tahu? Tadi Hyukkie sempat hilang. Untungnya ketemu lagi...
"Oke... tapi makan dimana makannya?"
"Di situ saja!"
Kulihat Hyukkie menunjuk cafe dekat pintu keluar. Tidak terlalu penuh... Dan kelihatan sangat meyakinkan...
Namanya 2PM cafe *A/N: Okay, saya kehabisan nama =,=*
Tanpa basa-basi Hyukkie menarikku menuju 2PM cafe... Sampai di dalamnya...
"Welcome to 2PM cafe~" sapa seorang waiters yang tampaknya masih muda. Kulihat name tagnya... Namanya Nichkhun.
Aku pun hanya tersenyum dan berjalan mengikuti Hyukkie yang jalan di depanku.
"Hae, di situ saja yuk?" usul Hyukkie sembari menunjuk kursi kosong dekat jendela. Aku hanya menurut saja. Dan saat kami duduk, waiters ramah tadi datang membawa menu.
"Kamsahamida..." ucapku.
"Yak, kamu mau makan apa?" tanya Hyukkie padaku..
"Aku pesan grilled macaroni... Sepertinya menarik..."
"Hiiiy, kayak eneg gitu...Aku ingin pesan ramen saja... Hahaha, yang ekstra pedas..."
"Ya sudah, tapi aku nggak mau tanggung jawab kalau sampai asrama nanti buang air terus..."
"Gak bakal! Udah ah, waiters-sshi, kami sudah selesai memilih makanan~~" teriak Hyukkie dengan suara imutnya... Membuatku sedikit tertawa.
"Ne, Anda pesan apa?"
Kami pun menyebutkan pesanan kami dan waiters itu segera melesat ke dapur. Setelah itu, karena tak ada kegiatan lain, aku kembali mengobrol sama si Hyukkie. Yah... Paling ngobrolin apa lagi selain hal-hal gak penting?
Selang beberapa menit, waiters tadi datang lagi dengan membawa nampan di tangannya. Ia menaruh pesanan kami kemudian tersenyum dan sibuk kembali dengan pelanggan lainnya.
Dan yang paling membuatku tidak bisa makan dengan konsentrasi adalah mendengar Hyukkie komentar dan mengeluarkan suara-suara orang sedang kepedesan...
"Ah, Hae pedas!"
"Hssh... Hssh... Sssshs...Ah~"
"Gila Hae, terlalu pedas!"
Okay, selang 5 menit kemudian, akhirnya desahan-desahan tidak jelas itu berhenti... Diganti oleh suara tegukan yang cukup keras.
"Aaaah...! Hilang Hae~~"
Aku hanya tertawa dan melanjutkan makanku. Pasalnya makanku terganggu karena Hyukkie menggumam tidak jelas.
Setelah selesai...
"Nah... Perhentian berikutnya, ayo kita ke taman!"
"Ne. Ayo!"
Kami pun berjalan keluar mall. Tentu tidak lupa membayar... Setelah itu, kami berjalan beberapa menit dan sampai di lampu stopan terdekat. Lumayan lama kami menunggu, sampai akhirnya lampu pejalan kakipun menyala. Hyukkie yang barangnya dititipkan padaku semua hanya lari mendahuluiku dan beberapa orang lainnya.
'Tidiiiiiiit—!'
CKIIIT—
BUAGH!
M-mwo? Hyu-Hyukkie? Di-dia, tertabrak mobil? Kenapa tubuhku tidak bisa bergerak begini? Lihat, pabbo, Hae! Kepalanya sudah bersimbah darah! Orang lain juga sudah mulai menutupi pengelihatanmu! Cepatlah!
Aku beranikan diriku menerobos kerumunan orang.
DEG—
Tubuhku melemas melihat Hyukkie yang sudah terbaring tak berdaya dengan lautan darah disekelilingnya.
"Hyu...Hyukkie..."
"Cepatlah telepon ambulan!"
"Bawa dia!"
Teriak orang-orang yang panik hanya angin lalu bagiku. Aku bodoh! Aku terlalu keenakan! Kenapa aku terima ajakan persahabatannya? Pabbo, Hae!
Aku rasakan mataku memanas. Air mataku sudah tak dapat kutampung.
"Hyukkie!"
Aku teriak sekencang mungkin. Ya, aku menangis sekarang...
"Tenanglah, nak..."
"Temanmu pasti selamat..."
"Ambulan akan datang sebentar lagi..."
"Maafkan aku, nak... Aku sedang buru-buru tadi..."
Aku dengar semua komentar orang, tapi apa peduliku? Yang penting Hyukkie harus selamat!
Selang beberapa menit, samar-semar kudengar suara ambulan mendekat. Ya, benar saja, ada ambulan menuju tempat ini.
"Permisi! Kami mau mengangkut korban itu..."
Aku rasakan ada orang yang mengangkatku dan menarik tubuhku menjauh. Aku tak bisa melakukan apapun selain melihat Hyukkie diangkut dan dimasukkan dalam mobil ambulan.
"Mianhae yo, nak... Saya berjanji akan membayar biaya rumah sakitnya..." ucap seorang Ahjusshi yang menarikku tadi.
"Ne... Aku punya satu permintaan... Bi-bisakah Anda mengantar saya ke rumah sakit?"
"Tentu saja... Ayo..."
"Gomawo, Ahjusshi..."
Sedari tadi aku hanya bulak-balik menunggu dokter keluar dari ruang UGD. Pikiranku tertuju pada satu hal, Hyukkie!
Selang 1 jam, dokter keluar dari ruang UGD. Kulihat name tag sang dokter. Jungmin-songsaenim.
"Siapa diantara Anda yang merupakan keluarga Hyukjae-sshi?"
"Kami bukan keluarganya, tapi saya temannya...Bagaimana keadaan Hyu—maksudku Hyukjae?" ucapku pada sang dokter.
"Dia tidak apa-apa, pendarahannya tadi tidak terlalu parah. Luka dikepalanya sudah ditangani, hanya tunggu menutup. Luka-luka di tangannya sudah diobati. Berterimakasihlah pada Tuhan..."
"Haah~ Apa sekarang ia bisa dijenguk?"
"Ne, Hyukjae-sshi akan dipindahkan ke ruang rawat inap nomor 151... Saya permisi dulu."
Jungmin-songsaenim pun pergi. Aku hanya menghela nafas lega karena Hyukkie tidak apa-apa.
"Mianhae yo, Donghae-ah... Aku akan mengurus biaya rumah sakitnya... Kau tengok Hyukjae-ah dulu saja..." ucap Taewoo-ahjusshi, orang yang tidak sengaja menabrak Hyukkie tadi.
"Ne, Taewoo-ahjusshi... Kamsahamida..."
Dia pun membungkukan badan begitupun juga aku. Ia pun berlalu begitu aku langsung menuju ke ruang Hyukkie di-opname.
Sampai di depan kamarnya.
Aku melihat ada seorang suster keluar dari kamar Hyukkie. Aku tersenyum sepintas dan kemudian masuk ke ruangan Hyukkie.
Aku memandang tubuh tak berdaya Hyukkie dengan tatapan sendu. Akupun menarik kursi dan duduk disebelah ranjangnya.
"Mi-mianhae, Hyukkie... Mian..." Aku menggenggam tangannya erat. Aku rasakan air mataku tumpah lagi.
"Aku... Aku tahu seharusnya aku tidak perlu menjadi temanmu... Aku hanya membawa bahaya untuk orang-orang yang kusayangi... Aku tak pantas Hyukkie... Kau terlalu baik untukku. Sedang aku? Tak ada yang bisa kulakukan untukmu... Aku hanya perusak hidupmu... Mian..."
"Ne, kamu tidak pantas jadi temanku Hae Jelek..."
Siapa tadi? Aku menatap Hyukkie, dan betapa terkejutnya aku melihat ia sedang tersenyum ke arahku.
"Hyu-Hyukkie..."
"Ahaha... Mian Hae, aku membuatmu khawatir... Aku terlalu sembrono..."
"Tidak, Hyukkie. Ini salahku. Aku membawa sial untuk orang-orang yang kusayangi... Aku tidak pantas untuk berada di sini, di sekitar orang-orang... Aku tak pantas mendapat kasih sayangmu, Hyukkie..."
"A-ani, Hae... Aku tidak peduli kamu mau ngomong apa... Yang jelas itu gak bakal ngaruh karena aku sangat menyayangimu, Hae..."
"Tidak Hyukkie, lebih baik mulai hari ini kita berpisah saja. Ne Hyukkie? Bukankah itu akan membuatmu bahagia dan tidak akan terkena masalah seperti ini lagi?"
"Ani yo! Biar sejuta kali aku tertabrak karena dekat denganmu, aku tidak akan setuju dengan ide sintingmu, Hae... Aku bahkan akan lebih menderita bila harus jauh denganmu karena aku terlalu menyayangimu Hae..."
Aku tertegun mendengar kata-katanya. Benarkah itu, Hyukkie?
"...Saranghae, Lee Donghae..." ucap Hyukkie kemudian.
M-mwo?
"Hyu-hyukkie—"
CUP~-
Mwo? Bibir Hyukkie... Tadi, menyentuh bibirku... Sekilas...
"Perlu kuulang, Hae?"
"Ani... Ani... Tapi, apa betul?"
"Ne, Lee Donghae! Aku mencintaimu... Saranghae yo~!"
Aku tidak tahu kata-kata apa yang bisa mengekspresikan perasaanku sekarang.
"Hyu-Hyukkie..."
"Hae, kamu punya kata-kata lain untuk disampaikan gak sih? Dari tadi Hyukkie Hyukkie terus..." gerutunya. Oke, aku tidak tahan untuk memeluknya sekarang.
GREP—
"Ha-Hae?"
"Nado sanranghae yo, Hyukkie..." ucapku sambil memeluk Hyukkie.
"Gomawoo, Hae~~~ Eh, satu hal..."
"Apa itu?"
"Bulan purnama masih adakan? Janji yang tadi masih berlaku? Ayo kita ke taman!"
Mwo? Ke taman? Padahal ia belum sembuh seutuhnya...
"Ani, Hyukkie, kamu—"
"Gak terima alasan! Pokoknya cepat antar aku ke taman!"
"Tidak bisa, Hyukkie..."
Perdebatanpun berlangsung cukup lama, sekitar 1 menit. Tentu saja aku tidak mengizinkannya, ia belum sembuh total, dasar gila! Namun pada akhirnya aku pun mengalah...
"...Nah, gitu dong, Hae. Eh, iya, belanjaannya?"
Crap! Aku baru ingat karena terlalu kaget aku meninggalkan belanjaanku di tempat tabrakan tadi.
"Eh, anu... Itu..."
TOK...TOK...
"Permisi, Donghae-ah... Ini belanjaan yang kau tinggalkan tadi..." tiba-tiba Kulihat Taewoo-ahjusshi masuk dengan membawa belanjaan kami.
"Aah~ Kamsahamida... Jeongmal kamsahamida, Taewoo-ahjusshi..." ucapku.
"Ne, cheonmaneyo... Ah, Hyukjae-ah sudah baikan... Mian yah atas kecerobohan saya..."
"Eh, gak apa-apa, aku sudah baikan!"
"Baiklah, saya harus pergi lagi... Permisi..."
"Ne..." jawab kami berbarengan.
"Aaah~ Untung belanjaannya selamat!" ucap Hyukkie. "Ayo kalau begitu!"
"Okay... Ayo..."
"Ya! Indah sekali malam ini, Hae~" ujar Hyukkie yang sedang bersandar di bahuku. Sekarang kami sedang menikmati indahnya malam purnama di Kota Seoul didampingi segelas coklat panas.
"Ne... Eh, Hyukkie..."
"Apa?"
"...Gomawo..."
"Untuk apa?"
"Semuanya..." ucapku sambil memandang langit.
"Hahaha... Oke deh..."
Kami pun berciuman, lagi, sekarang cukup lama. Meski sesama namja, tapi aku merasakan cinta di dalam ciuman ini.
Akhirnya pun, aku bertemu dengan orang yang amat mencintaiku...Akhirnya aku tahu kenapa aku ada di dunia ini. Untuk menyenangkan hati orang yang mencintaiku dan menerimaku apa adanya...
TBC~
A/N: Huaa~~ Beres juga chapter 4 ini. Gimana, memuaskan tidak? Kuharap iya...
Aku gak bakal banyak omong, hanya mau minta maaf karena banyak kekurangan dan thx buat readers yang dah baca.
Nantikan chapter berikutnya, SiBum couple~
Oh iya, satu hal lagi,
JANGAN LUPA TINGGALKAN REVIEW~~~ =3
