MY EYES
Desclaimer : Masashi Kishimoto
Rated : T
Genre : romance/ hurt dan mungkin sedikit humor
Pairing : Sasuke – Sakura – Gaara
"Hmm.." kata Kakashi tersenyum sambil mengangguk paham. "Sekarang giliran Saya memperkenalkan diri nama saya Kakashi Hatake calon suami Sakura."
"Hah?" suara itu berasal dari mana? Yang pasti bukan dari seorang Sasuke yang sekarang sedang heran tak percaya tetapi tetap mempertahankan aura dinginnya. Juga bukan dari seorang Gaara yang sekarang sedang mengkerucutkan mulut tetapi juga tetap pada ke-cool-annya.
Suara itu berasal dari Ino yang sedang berjalan menuju kamar Sakura, setelah tadi mampir ke toilet.
Yang menjadi objek keheranan hanya tersenyum-senyum kepada ketiga orang yang sekarang tengah menatapnya dengan bermacam-macam ekspresi. Dingin, berapi dan berbunga-bunga.
...
"Yak, lanjutkan!" kata Gaara agak sinis. Mereka bertiga menoleh sebentar ke arah Ino yang sekarang persis seperti korban penculikan, dengan keadaan kaki dan tangan diikat kebelakang dengan mulut yang dilakban.
...
"Hm,, jadi aku kesini untuk bertemu dengan Sakura Haruno."
"Tujuannya?" tangggap Gaara dan Sasuke bersamaan.
"Seperti yang ku katakan tadi, aku adalah calon suami dari Sakura."
"Kau bercandakan?, kau pikir kami akan percaya padamu begitu saja?" tatap tajam Gaara diikuti anggukan Ino yang masih terikat.
"Hmm,, jadi begini.." kata Kakashi sambil membuang nafas.
...
Sakura POV
"Akh,, Ino kau mau membunuhku ya. Masa' aku tak boleh keluar, aku mau pipis nih. Ah~ tega sekali dia, ah terserah kau sajalah aku harus keluar, walaupun aku buta aku tak mau menambah pekerjaan orang dirumah sakit ini dengan membersihkan kasurku. Walau dengan keterbatasanku aku tak mau menyusahkan orang lain, mandiri dan tegar seperti kata orang tuaku. Ah~ aku jadi inget orang tuaku, bagaimana kabar mereka ya. Sudah lama tak ada kabar." Keluhku.
Aku bangkit dari kasur meraba ke pintu untuk keluar menuju toilet, tapi aku berhenti mendengar suara yang ramai didepan kamarku. Rasa keingintahuankupun timbul. Aku merapat ke pintu, tak tahu kenapa keinginan ketoiletpun terlupakan.
"Hmm,, jadi begini.." suara seseorang terdengar membuang nafas.
End of Sakura POV
...
Normal POV
"Kalian mengenal Haruno Cooperation, yang sukses membawa nama jepang di Prancis?" tanya Kakashi sok misterius. Disusul dengan anggukan Gaara yang memang pamam tentang dunia per-bisnis-an dan disusul dengan gelengan kepala dari Sasuke dan Ino.
"Yah, anggap saja kalian tahu. Agar aku bisa melanjutkan ceritaku."
Sasuke dan Ino yang masih terikat saling menoleh dan mengangkat bahu masing-masing.
"Haruno corp perusahaan yang cukup ternama tidak bisa dipandang sebelah mata. Mereka memiliki saham dan kekayaan yang cukup besar, sehingga memiliki musuh yang cukup besar pula. Tetapi kemarin tepatnya beberapa minggu yang lalu mereka ditipu oleh seorang musuh yang dengan liciknya mengalahkan mereka dengan memanfaatkan kelemahan utama Presider."
"..." mereka bertiga masih menyimak cerita Kakashi tanpa sedikitpun niat ingin memotong.
"Kelemahan yang sangat fatal. Yaitu mata." lanjut Kakashi dengan perawakan yang sedikit muram.
'Haah! mata?' dalam hati mereka bertiga, tetapi tidak diungkapkan.
"Iya mata, selama ini presider begitu gigihnya mencari mata yang cocok untuk anak semata wayangnya yang mengalami kebutaan saat ditabrak lari sewaktu kecil." Lanjut Kakashi seolah mengerti apa yang dipikirkan orang-orang didepannya.
Sasuke meneguk air ludah.
"Oh, jadi Sakura tidak buta sejak kecil? Tetapi buta lantaran pernah mengalami kecelakaan?, tidak bisa dipercaya siapa sih orang yang tega tidak bertanggung jawab. Kalau saja ia mau bertanggung jawab mungkin keadaan sakura tidak akan seperti ini. Sungguh tidak berprikemanusiaan. Ya kan Sasuke?" komentar Gaar panjang lebar.
"Hn"
"Ya padahal, Presider selalu bertindak dengan hati-hati mencari mata yang cocok untuk anaknya supaya tidak ketahuan dengan musuh-musuh yang memang iri padanya. Tapi ternyata rahasianyapun terbongkar."
"Presider dibohongi dengan rayuan tentang mata yang cocok dengan Sakura karena memang sangat sulit dicari, Presiderpun tertarik dan bahkan rela menggadaikan perusahaan yang turun-temurun dimiliki keluarga mereka sampai harta benda mereka terkuras habis. Mereka meminta pinjaman kemana-mana sampai menyuruh Sakura untuk tinggal dengan neneknya yang memang kurang senang dengan keadaan Sakura yang membuat sial baginya."
"Haah~ Tetapi sungguh ironis mereka ditipu telak. Sebelum itu akupun pernah diberi pesan oleh beliau untuk menjaga Sakura anak semata wayangnya jika terjadi sesuatu pada beliau dan istrinya. Karena menurut beliau aku adalah orang yang paling dipercayainya."
"Aku yang memang berhutang budi pada keluarga Haruno yang bisa merubahku sampai aku seperti sekarang ini, tidak enak menolak niat baik mereka. Aku menerima saja dan memutuskan untuk menikahi Sakura terlebih saat mendengar..." Kakashi terdiam beberapa saat tenggorokkannya seperti tercekat." Bahwa.." mata Kakashi berkaca-kaca. "Pesawat yang ditumpangi presider dan istrinya mengalami kecelakaan tanpa seorang pun yang selamat."
Air mata Kakashi yang ditutupi dengan senyuman pun tumpah dengan sendirinya. Gaara dan Sasuke juga terdiam tidak tahu harus berbuat apa hanya Ino yang menemani Kakashi menangis saat itu.
Dikamarnya Sakurapun juga tak mampu membendung air matanya, dia menangis tanpa suara ingin rasanya dia mengajukan protes kepada tuhan tentang keadaanya sekarang. Kenapa dia terus diberikan cobaan yang tiada henti. Ingin rasanya dia bunuh diri untuk mengurangi rasa sakit hati.
Akh,, dia merasa tak tahan lagi.. Tuhan tolong dia,,,
Tapi Sakura tak ingin mengeluh dia ingin mencoba untuk tegar, "Hemm... Baiklah, tapi disana kau tak boleh menyusahkan orang lain, kau harus tetap jadi Sakura yang tegar seperti yang selama ini kami kenal." Suara ayah Sakura terngiang saat dia diijinkan untuk datang ke Konoha lagi. Perlahan-lahan dia membuka kenop pintu. Semua orang yang masih beraada di depan kamar Sakura masih kaget dengan kedatangannya yang tiba-tiba.
"Ino" panggil Sakura sendu.
"Sakura, kenapa kau keluar." Ino menghampiri Sakura yang seperti berusaha untuk berjalan. Sepertinya ikatan Ino sedah lepas, entah sejak kapan.
"Ino tolong antarkan aku ke tempat kedua orang tuaku." Kata Sakura sambil tersenyum lemah.
"Ta-tapi, sakura".
"Aku hanya ingin meraba mereka untuk yang terakhir kalinya."
Ino mengangguk. 'Kasihan Sakura' batinnya.
Sementar Sakura dan Ino pergi keruang mayat tempat jenazah orang tua Sakura terbaring. Kakashi, Gaara dan Sasuke hanya terdiam tidak bisa berbuat apa-apa.
"Itu Sakura?" tanya Kakashi memecah kebisuan yang tercipta.
"Ya." ditanggapi oleh anggukan Gaara
"Sungguh kasihan gadis itu, aku akan berusaha untuk membahagiakannya sekaligus membalas budi baik orang tuannya." Kata Kakashi sambil tersenyum.
"Hn, tapi bukankah kalau kau tidak mencintainya dan terpaksa menjaganya akan lebih membuat dia menderita." Tanggap sasuke.
"Aku akan tetap berusaha untuk mencintainya."
"Aku juga bisa membahagiakan Sakura, mungkin lebih darimu. Bagaimana? Tanya Gaara antusias.
"Aku tidak bisa menyerahkannya begitu saja, kau harus membuktikannya dulu padaku." Kakashi menanggapi dengan senyum.
"Berarti kita berdua bertarung, heh?" kata Gaara menyeringai.
"Hn, jangan lupakan aku. Aku juga tidak akan membiarkan kalian berdua menang." Kata Sasuke sambil berlalu mungkin menyusul Ino dan Sakura.
"Yah, aku juga akan berusaha membahagiakan pink jelek". kata Gaara tersenyum sinis kepada Kakashi sambil berlalu berlainan arah dengan Sasuke.
"Hmm Presider semoga kau dan istrimu tenang disana, Nona Sakura ternyata dikelilingi orang- orang yang menyayanginya dengan tulus. Tapi aku juga tidak akan menyerahkannya begitu saja. Mereka harus membuktikan terlebih dahulu padaku bahwa mereka lebih baik dariku."
"Tapi aku khawatir, Nona Sakura dikelilingi orang-orang aneh." Katanya pelan lalu ikut berlalu meninggalkan kamar Sakura yang pintunya terbuka begitu saja. Mungkin dia harus kembali besok.
...
Pagi-pagi sekali jenazah kedua orang tua Sakura telah dibawa oleh orang-orang suruhan Tsunade, hanya segelintir orang yang mengetahuinya. Sasuke yang baru tahupun terkejut dia bersikeras untuk ikut dengan berbagai alasan agar diizinkan. 'Aku harus memberitahu yang lain' pikirnya.
...
"Sa-sakura"
"Santai saja Ino, ayo kita berangkat" kata Sakura datar.
"Ka-kau yakin?"
"Kenapa kalian tidak mengantarku saja, tanpa banyak protes?" kata Sakura yang kelihatannya mulai agak kesal. Ino segera mendudukkan Sakura di bangku belakang.
"Bagaimana?" tanya Gaara.
"Sejak mendengar berita tentang kematian orang tuanya semalam, dia jadi irit bicara. Dia terkesan santai dan aku heran dia bahkan tidak meneteskan air mata setetespun. Aku merasa kasihan padanya yang seperti tidak memiliki nyawa lagi."
"Ya, sudah kita masuk saja." Tangap Gaara.
Sebelum Gaara menghidupkan mesin mobil, Ino yang duduk disbelah Gaara menoleh kebelakang dengan mimik cemas diwajahnya. "Sa.. " Belum selesai Ino bertanya Sakura memotong dengan cepat. "Aku baik-baik saja Ino."
Ino yang merasa tidak enak hatipun menengok kearah Gaara yang dibalas anggukan singkat Gaara dan merekapun meluncur membelah hari yang masih berkabut.
...
Sakura hanya berdiri jauh dari pemakaman ditemani Ino dan Gaara, mereka tidak diizinkan masuk dengan alasan keamanan. Gila! Padahal yang akan dimakamkan itu orangtua Sakura bukan. Kali-ini Tsunade memang keterlaluan dia bahkan tidak mengizinkan Sakura untuk berada didekat pemakaman.
Sasuke dan Kakashi bahka terlibat baku-hantam dengan orang-orang Tsunade yang tidak mengizinkan Sakura masuk. Mereka ingin setidaknya Sakura berada didiekat jenazah orang tuanya untuk yang terakhir kalinya.
Kakashi juga sempat marah dengan Tsunade yang tidak menggubris kehadiran mereka sedikitpun.
Tapi yang lebih membuat teman-temannya sakit hati adalah tindakan Sakura yang hanya tersenyum dan tertawa, saat Ino menceritakan situasi disana yang di amatinya dari jauh. Dia bahkan seperti tidak menghargai tindakan Kakashi dan Sasuke yang membelanya mati-matian.
Hujan deras mengguyur kota saat itu pula rombongan Tsunade pergi, Ino dan Gaara mengajak Sakura mendekat kearah pemakaman.
"Haha, katanya kalian membelaku untuk mengikuti posesi pemakaman?" tanya Sakura disertai derai tawa bahkan dia tidak menampilkan kessedihan sedikitpun. "Ah, padahal santai saja. Aku juga tidak bisa melihat.. hei aku buta, teman-teman.. hahaha.." Sakura meracau sendiri. Membuat yang ada disitu tersenyum miris.
"Dan,, hahaha tadi Kakashi memaki nenekku. Hahaha pasti lucu sekali."
"Sakura" bisik Ino pelan.
"Coba aku tidak buta, aku kan bisa melihat wajah kalian yang terlihat seperti orang bodoh membelaku,, hahaha."
"Sakura.." Ino memanggilnya hampir menangis.
"Aduhh,, hahahha." kata Sakura mememegang perutnya menahan tertawa "Padahal ya, aku yang anaknya saja tidak peduli, hahha .. kalian memang bodoh.. hahhahaha,, ayo kita pulang saja,, hahah" kata Sakura mencoba beranjak masih sambil memegang perutnya.
"SAKURA!" teriak Gaara melengking, mereka semua reflek langsung melihat kearah Gaara.
'PLAK'
Sakura tersungkur jatuh akibat tamparan Gaara. Membuat air yang menggenang diaspal menciprat wajah Sakura yang memang sudah basah akibat air hujan. Sakura terdiam.
"Gaara kau keterlaluan!" Teriak Ino.
"Apa-apan kau Gaara?" Marah kakashi
Sasuke hanya menghela nafas letih.
"Hahahahah,,," tawa Sakura yang masih terduduk di aspal yang tergenangi air hitam pekat.
"HAHAHA." tawanya semakin membahana membuat Ino meringis takut. " Kau tahu bagian yang paling lucu hari ini aku di tampar dari seorang yang bahkan tidak beralis, hahaha."
"Sakura,," Ino memanggil Sakura dan mencoba memeluknya sambil menangis.
"Kalian pulanglah dulu. Aku ingin berbicara pada sakura." Kata Gaara pelan.
"Hikss,, hikss Sakuraaa." Ratap Ino.
Sasuke menepuk bahu Gaara pelan, lalu berlalu sambil mengajak ino yang masih berusaha memeluk sakura.
"Bantu Sakura." kata Kakashi dengan senyum tipisnya lalu membantu Sasuke menarik Ino kembali ke rumah sakit.
Gaara tertegun sebentar memandangi kepergian mereka, tetapi tawa Sakura mengembalikannya kealam sadar.
"Hahahahah" Sakura masih tertawa memukul-mukul air yang menggenang disekitarnya.
"Sakura maafkan aku." kata Gaara berjongkok didekat sakura.
"Hahaha, aduh Sakit." Keluhnya seperi anak kecil sambil memegangi pipi yang habis ditampar Gaara.
"Maafkan aku." lirih Gaara yang terluka melihat orang yang dicintainya seperti itu.
"Haha,, lucu ya." Rancaunya lagi. "Uhh dingin." keluh Sakura
"Kau dingin?" tanya Gaara lembut.
"Hahaha" Sakura tertawa lepas lagi, membuatkeadaannya persis seperti orang gila.
"Menangislah Sakura, menangis!" Paksa Gaara sambil memeluk sakura.
"Hahaha" tawa Sakura.
"Ayolah menangis Sakura aku tahu seharian kau telah mengalami hari yang berat jadi tidak ada salahnya jika kau mengangis sebentar." kata Gaara lebih mengeratkan pelukannya ke sakura. "Tidak ada salahnya jika kau menangis."
"Haha,, huhu,, hhuhuhu.." akhirnya Sakura juga menangis di pelukan Gaara.
"Huhu.. aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi,, hiks, hiks."
"Tidak-itu tidak benar." Bantah Gaara.
"Aku tidak pantas hidup, aku takut hanya sendiri. Hiks, hiks,.."
"Aku akan selalu ada untukmu sakura,,," kata Gaara.
"Hiks, hiks... kalau begini aku akan terus terperangkap dalam kegelapan.." lirihnya lemah dan tertidur kelelahan.
"Dan aku takkan membiarkan itu terjadi." Janji Gaara.
~~~ TBC~~~
*Bahagia, bahagia*
Akhirnya bisa update juga.. T.T
Thank you so much for the last review, Hikari Shinju (maap baru update.. T.T kita sama-sama terharu... iya, Kakashi jadi calon suaminya Sakura. endingnya.. *style mikir* bisa ya, bisa tidak #plak.. artinya belum jelas. makasih ya dah riview,, review lagi yah... ~^), vvvv (iya kasihan sakura. emang Tsunade jahat banget. kenapa Tsunade benci sama Sakura mudah-mudahan bisa dijelaskan chap depan ya.. jadi jangan bosan :) thanks for review, review lagi yah...), AmarilisBlossom, Rene Nightray, and Aurellia Uchiha.
riview again please.. :)
Violet7orange.. ~^
