"Huhu.. aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi,, hiks, hiks."
"Tidak-itu tidak benar." Bantah Gaara.
"Aku tidak pantas hidup, aku takut hanya sendiri. Hiks, hiks,.."
"Aku akan selalu ada untukmu sakura,,," kata Gaara.
"Hiks, hiks... kalau begini aku akan terus terperangkap dalam kegelapan.." lirihnya lemah dan tertidur kelelahan.
"Dan aku takkan membiarkan itu terjadi." Janji Gaara.
MY EYES
Desclaimer : Masashi Kishimoto
Rated : T
Genre : Romance/ Hurt/Drama/Family
Pairing : Sasuke – Sakura – Gaara
Sudah hampir satu minggu Sakura terus menerus termenung di depan taman, mungkin dia masih shock dengan kejadian yang baru saja menimpanya ini. Teman-temannya—Ino, Sasuke dan Gaara serta Kakashi—calon tunangannya tidak dapat berbuat banyak. Mereka sedikit-banyaknya mengerti bagaimana perasaan Sakura saat ini. Sakura memang gadis yang hebat, dengan segala keterbatasannya dia mencoba menghadapi masalah yang pelik ini.
"Hah." Gadis itu menghela nafas lagi. Mencoba meringankan sedikit beban pikiran yang menumpuk.
Seorang gadis berambut pirang menghempaskan duduk disebelah gadis berambut merah jambu yang sejak tadi terlihat melamun. Sakura tersenyum tipis merasa ada yang duduk disebelahnya "Ino." Gumamnya.
"Kau tahu Sakura? Hari ini begitu cerah." Ino melihat kearah sahabat baiknya itu.
"Hmm," Sakura tersenyum. "Ino apakah kau percaya padaku?" lanjutnya lagi dengan pertanyaan yang jauh berbeda dari pertanyaan Ino tadi.
"Pasti." Jawabnya mantap. "Kau adalah sahabatku. Dan aku sangat mengenalmu, aku akan selalu mendukungmu. Jadi, kalau ada yang bilang seluruh dunia tidak memperhatikan dan mempercayaimu. Itu salah, karena seorang yang duduk disampingmu ini akan selalu ada untukmu." Ino mengatakannya dengan senyum tulus berharap Sakura bisa merasakannya.
"Terimakasih Ino." Balas Sakura dengan senyum miris. "Lalu, bisakah aku mempercayaimu Ino?"
"Eh," Ino kaget dengan pertanyaan Sakura.
"Bisakah aku mempercayaimu?" tanya Sakura dengan murungnya.
Ino terdiam sebentar, dan berfikir Saat Ini sakura membutuhkan dukungan untuk melakukan sesuatu. "Tentu saja." suara keyakinan yang penuh terdengar dari gadis berambut pirang.
"Terimakasih." Bisik Sakura lirih. Ino yang mendengarnya langsung memeluk sahabatnya.
Gambar difokuskan 'cekrek' suara gambar diambil. "A beautiful frienship." Gumamnya.
~~ My Eyes~
Sakura perlahan-lahan menapaki tangga-tangga dirumah besar itu. Tangan kanannya berpegangan erat kesisi sebelah kanan pegangan tangga. Dia ingat Ayame mengatakan letak kamar neneknya berada di lantai 2, belok kanan sekitar lima meter dari tangga.
Hah~ Sakura menghela nafasnya perlahan menetapkan hati untuk berkata semua yang dilakukannya benar dan akan berbuah baik, walaupun tidak itu merupakan konsekuensi yang harus ditanggungnya.
Dia juga masih ingat betapa kagetnya Ayame dengan kedatangan Sakura—yang diantar Ino—kerumah ini. Betapa kerasnya ia menolak mentah-mentah usul Sakura untuk bertemu Neneknya yang masih dalam masa bad mood tingkat akut itu. Dan betapa kerasnya pula ia dan Ino meyakinkan Ayame kalau ia tetap diam dan tidak melakukan apa-apa masalah ini tidak akan pernah selesai.
Ayame masih begitu tidak percaya. Bagaimana mungkin kau membiarkan dua orang yang sedang dalam emosi tingkat tinggi berada dalam satu ruangan yang sama. Dengan posisi saling bermusuhan—tidak, tepatnya memusuhi dan dimusuhi. Tanpa seorangpun yang berada didalam hanya Sakura dan Tsunade—Neneknya.
Dan ide konyol macam apa yang didapat Ayame, 'Apapun yang terjadi didalam—yang terdengar dari luar kalian tidak boleh masuk.' Sakura mengatakan dengan tegas.
Betapa teriknya syaraf kepala yang menegang, membuat kepala Ayame merasakan sakit yang sangat. Ide gila macam apa itu batinnya. Tapi dia juga menyadari cepat atau lambat Sakura memang harus menyelesaikan masalahnya—walau ia merasa ide sakura dan Ino saat ini benar-benar tidak masuk akal.
~~My Eyes~~
'Yang harus kulakukan saat ini adalah meyakinkan semua orang bahwa Sakura masih ada dirumah sakit dalam keadaan yang baik-baik saja. Apalagi pada dokter Sasuke dan tuan 'tanpa alis' itu.' Gumam Ino saat memasuki rumah sakit sehabis mengantar Sakura.
Yah, yang bisa dilakukan Ino untuk sahabatnya hanya ini. Ia segera kembali kerumah sakit secepatnya untuk menghilangkan kecurigaan.
"Berjuanglah Sakura, aku mempercayaimu dan aku akan melakukan bagianku untuk pantas dipercayai oleh sahabatku." Gumammnya dengan senyum mengambang penuh kepercayaan.
~~My Eyes~~
Sakura kemungkinan besar telah berada didepan kamar yang dimaksud Ayame—kamar Neneknya—perlahan ia meraih gagang pintu. Menghela napas sebentar menguatkan hatinya lalu memutar kenop pintu dan masuk kedalamnya.
Ayame yang berada dibawah tangga sejak tadi tampak gusar melihat gerak Sakura yang telah memasuki kamar neneknya.
Dia terperanjat mendengar suara teriakan marah diikuti benda-benda pecah berjatuhan—dilempar lebih tepatnya. Dia sudah menaiki tangga, apalagi mendengar suara menggelegar Tsunade yang memanggil namanya.
Tapi dia ingat janjinya dengan Sakura, serta janjinya dengan Ino untuk percaya sekali ini saja pada mereka untuk membiarkan dan mengabaikan suara apapun yang didengar. Ia terduduk lemas dibawah tangga menangkupkan tangan diwajahnya mengetukan sepatunya dengan tidak sabaran serta menggigit kuku-kuku jari tangannya frustasi.
~~My Eyes~~
Diwaktu yang sama Kakashi sedang membaca laporan perusahaan. Mejanya dipenuhi berbagai macam kertas dan dokumen yang berserakkan.
Dia terlihat sibuk sekali, sampai tidak sengaja tangannya menyenggol gelas kopi yang berada dimeja yang sama. "Ahh, " pekiknya kesal tertahan. Kopi yang semula beradadigelasnya kini berpindah membasahi seluruh dokumen-dokumen pentingnya.
Entah kenapa dia langsung teringat pada calon tunangannya. "Sakura." Gumamnya. Namun dia cepat-cepat menepis bayangannya dan berkonsentrasi dengan dokumen-dokumen yang kemungkinan besar tidak terselamatkan itu. 'Disana masih ada yang lain menjaganya.' Pikirnya.
.
.
Ino tengah membawa nampan berisi makanan untuk salah satu pasien, tidak tahu kenapa kakinya tiba-tiba lemas dan kehilangan keseimbangannya dan tentu saja menjatuhkan nampan yang dibawanya. Dia tidak mempedulikan nampan yang jatuh mengotori lantai dan bajunya itu. Pikirannya langsung cemas dengan keadaan Sakura.
Ino menggeleng pelan. "Aku percaya padanya." tekatnya. Ia melirik makanan yang telah dijatuhkannya. Menghela nafas sebentar dan mulai membereskan kekacauan tadi.
.
.
Sasuke sedang berada di ruangannya. Dia terlihat termenung, pen yang berada di tangannya dimainkannya tanpa sadar. Tiba-tiba pen itu terlepas dan terlempar cukup jauh dari jangkauannya. "Sakura." Gumamnya.
Tiba-tiba ingatannya melayang sekitar tujuh tahun lalu, ia yang masih remaja diam-diam membawa mobil kakaknya. Sasuke ingin belajar mengendarai mobil, tetapi kakaknya melarang dengan anggapan Sasuke masih kecil dan belum pantas.
Sasuke iri dengan Gaara yang dengan lihainya mengendarai mobil. Apalagi saat sahabatnya—sekaligus rival—itu mengejek Sasuke. Bermodal nekat dia mengambil mobil kakaknya.
Sasuke yang belum begitu bisa mengendarai mobil dijalan raya tiba-tiba kaget dengan seseorang yang melintas. Saat ia ingin menginjak 'rem', tidak sengaja ia malah menginjak pedal 'gas'. Dan brak! Bisa di tebak ia telah menabrak orang itu. Saskuke turun untuk melihat apa yang ditabraknya. Betapa kagetnya dia, yang dia tabrak bukan hanya seorang tapi dua orang. Satu orang laki-laki yang telah bersimbah darah dan seorang anak perempuan yang terpelanting agak jauh didekat semak-semak.
Sasuke ketakutan, dia langsung pulang meninggalkan korbannya dijalan yang cukup sepi itu. Tidak ada yang tahu kejadian itu. Hanya ia sendiri.
Kekagetannya bertambah saat kejadian itu diberitakan di televisi. 'Pemilik perusahaan besar dan cucunya telah menjadi korban tabrak lari. Pemilik perusahaan itu meninggal ditempat, sedangkan cucunya mengalami kebutaan permanen, yang diduga matanya tertusuk ranting kayu didekat semak-semak saat ditabrak.' Dan dari situlah Sasuke bertekat dan berusaha keras untuk menjadi seorang dokter yang ahli—menebus segala kesalahan yang takut untuk diakuinya.
.
.
Saat yang sama pula Gaara yang sedang berada diruang gelap—didalam kamarnya. Ia membuka gulungan rol klise dari kameranya. Dia terus sibuk, dengan teliti dan perlahan ia mencelupkan foto ke sebuah tempat yang diisi sejenis air lalu menggantungkannya dengan penjepit. Terus menerus melakukan hal yang sama.
"Uhuk," Gaara terbatuk sambil memegangi dadanya yang terasa sakit. "Uhuk, uhuk,," dia masih tidak peduli darah yang mengalir dari bibirnya dengan enteng dihapusnya dengan kaos lengannya sehingga meneinggalkan noda merah pekat di kaos kuning yang dipakainya. Tanpa sengaja ia menjatuhkan foto Sakura yang sedang sedih dengan wajah memerah. "Sakura." Gumamnya merasakan perasaan yang tidak enak, namun ditepisnya.
"Uhuk, uhuk." Gaara terdiam sebentar lalu melanjutkan kegiatannya. "Uhuk," darahpun bertambah banyak keluar dari mulutnya dan seperti tadi dengan entengnya ia mengapus dengan kaos yang dipakainya.
"Penyakitku bertambah parah saja rupanya." Katanya sambil menyeringai dan kembali asyik menekuni kegiatannya.
~~My Eyes~~
Sakura yang masuk kekamar Neneknya langsung mendapat sambutan meriah. Tsunade bertepuk tangan kagum—dengan maksud mengejek. "Huh, ternyata nyalimu besar. Berani memasuki kandang singa yang sedang mengamuk."
"Hah! KENAPA KAU MASUK KE SINI ANAK SIALAN!" teriak Tsunade yang langsung melempar guci-guci dan vas bunga—yang berada didekatnya—kearah pintu tempat sakura masih mematung sejak dia masuk.
"AYAME!" panggilnya menggelegar memekakkan telinga. Tapi Ayame yang ditunggu tidak kunjung muncul. Tsunade yang kesal sendiri melemparkan asbak rokok yang terbuat dari kayu ke arah Sakura.
Tak!
Ujung asbak rokok itu mengenai kepala sakura. Tapi Sakura tetap bergeming mengabaikan rasa sakit yang berasal dari kepalanya yang mengeluarkan darah hasil karya seni dari asbak rokok yang dilempar Tsunade. Juga mengabaikan rasa sakit yang menjalar di kakinya terkena pecahan beling yang berserakan dilantai.
Dia bisa merasakan kelihatannya tidak hanya telapak kakinya saja, tetapi betis, bahkan tangannya merasakan nyeri terkena pecahan-kaca. Tapi ia mengabaikannya rasa sakit dihati Neneknya—Tsunade pasti lebih sakit dari apa yang dialaminya ini.
"Kenapa?" Sakura terdiam sebentar menggigit bagian dalam pipinya untuk menahan rasa sakit—sakit fisik dan batin yang dirasakannya. "apa salahku nek?" tanya Sakura pedih.
"Huh~ kenapa? Kenapa kau bilang? Kau itu pembawa sial." Sinis Tsunade menekannkan kata-katanya. "Jadi CEPAT PERGI DARIKU BOCAH SIALAN!"
"Nek," panggil Sakura pelan yang masih berada didekat pintu. Tsunade yang berada kurang-lebih tiga meter darinya tentu daja tidak mendengar.
"Kau tahu. Hiks." Tsunade mulai terisak. "Dulu kami hidup bahagia, tapi semenjak kau lahir hidup kami jadi terus-terusan sial. Hiks, hiks." Tsunade terdiam sebentar mengarahkan pandangannya kearah jendela. Sakura masih diam mendengarkan—tak tahu harus berkata apa—mengabaikan rasa sakit dan pening disekujur tubuhnya.
"Anakku—Ayah Sakura—mulai jarang mengunjungi kami lagi semenjak kau lahir. Aku masih maklum, aku juga senang melihat kebahagian anakku. Hiks hiks. Tidak ada lagi yang ingat hari ulang tahun aku dan suamiku. Padahal kami selalu merayakan ulang tahunmu dan ulang tahun anak-anakku. Hiks, hiks." Tsunade memejamkan mata mengingat masa-masa menyakitkan baginya.
"Aku masih paham, setidaknya aku dan suamiku masih bisa merayakan ulang berdua. Masih ada anak keduaku yang mengucapkan selamat lewat telpon dan seorang anak yang menelponku mengatakan selamat dengan suara ceria—tanpa tahu penderitaan orang lain. Aku senang." Tsunade masih berbicara dengan memandang ke jendela. Sakura masih belum beranjak dia masih tertegun tidak mengerti dengan ucapan Tsunade.
"Itu semua tidak masalah, namun kau mengambil nyawa orang-orang yang ku sayangi satu-persatu. Hiks, hiks. Suamiku, satu-satunya orang mengerti aku meninggalkanku hanya untuk, hiks u-untuk menyelamatkan hidupmu! Hiks, hiks. Coba saat itu kau mendengarkan perkataanku jangan bermain dijalan—walau sepi. T-tapi kenapa kau tidak mendengarkanku. Hiks, hiks." Lirih Tsunade kesal.
"Hiks, hiks." Tsunade masih menangis mengenang kematian tragis suaminya.
Sakura mulai membayangkan sosok kakek yang mendorongnya kesisi jalan ketika sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Ian mulai menangis tanpa suara.
"Su-suamiku mati. Hanya karna menyelamatkanmu. Ayah dan Ibumu juga hanya sedih sesaat dengan kematian suamiku mereka lebih sibuk mementingkan keadaan matamu. Mereka juga menyalahkan aku yang tidak becus menjagamu. Hiks, mereka pikir aku ini pembantu yang melayanimu. Mereka tidak begitu mementingkan ayah mereka yang telah meninggal, mereka bilang 'Yang terpenting saat ini menyelamatkan yang masih bisa diselamatkan.' Apa itu? Mereka mati-matian mencari mata yang cocok untukmu. Tcih," Tsunade mendecih kesal. "Mereka meminta bantuanku. Aku tidak akan pernah sudi. Apalagi dengan kematian Reita anak keduaku yang tiba-tiba terkena serangan jantung mendengar ayahnya yang telah tiada. Kasihan Reita." Lirih Tsunade pelan.
Sakura tetap menangis tidak menyangka hidupnya telah membuat orang lain menderita.
"Kau telah membunuh dua orang! Tidak, tiga orang. Aku telah lama mati. Tidak ada kehidupan lagi dihatiku. Aku telah mati!" Kecam Tsunade sambil menatap Sakura yang terisak-isak pelan dengan tatapan penuh kebencian.
"Hah, kau menangis! Air matamu bahkkan tidak berharga sama sekali. AKU TIDAK BUTUH AIR MATAMU! " teriak Tsunade kesal.
"Selama tujuh tahun Ayah dan Ibumu mencari mata untuk anak sial sepertimu. Hah~ tidak ketemu juga sampai sekarang itu menandakan memang hidupmu itu tidak berharga. Setelah uang kalian hampir habis karena ditipiu dan sebagainya kalian datang padaku! Huh~ aku seperti panti tuna netra menampungmu." Tsunade tidak terisak lagi, air matanya telah terganti dengan kecaman pedas yang menusuk hati Sakura.
"Dan Sekarang benarkan kejadian sial akan terus menimpaku. Anakku mati, meninggalkan seorang yang tidak berguna. Seharusnya kau ikut mati bersama mereka di kecelakaan pesawat!. Hiks, hiks." Tsunade kemabali menangis.
"Sekarang Apakah kau puas? Aku tidak punya apa-apa lagi. Kapan giliran kau membunuhku!" Raung Tsunade menatap Sakura yang masih terdiam terduduk, cairan merah pekat telah memenuhi lantai.
"N-nenek salah, kami tidak pernah mengabaikan nenek. Hiks, ka-kami selalu memperhatikan nenek walau dari jauh, ka-kami selalu..."
"Argh! Omong kosong satu-satunya yang ku inginkan adalah kau menghilang dari hadapanku selamanya!" potong Tsunade dengan bringas sambil menghempaskan gelas yang berada disampingnya kelantai. "Lenyaplah kau dari hadapanku!" teriaknya. Lalu mengalihkan pandangannya kembali menatap keluar jendela.
"Baiklah kalau nenek menginginkannya. Akhirnya aku juga mempunyai alasan untuk mengakhiri hidup." Ia tersenyum miris. "T-tapi asal nenek tahu kami tidak pernah mengabaikan nenek. Kami selalu menyiapkan hal yang terbaik untuk nenek walau terlambat, hiks Ayah dan Ibu juga kami bersama sama selalu ingin membuat nenek senang, kami tidak pernah ingin menyusahkan Nenek. Kami ingin menyiapkan ka-kado yang tidak a-akan, di tem-temukan dimanapun." Kata Sakura menahan sakit.
"Se-selamat ulang t-tahun nek." Katanya pelan lalu terbaring dilantai yang telah basah oleh darah.
"Huh, aku tak bu.." Tsunade tidak bisa melanjutkan perkataanya setelah melihat keadaan Sakura. Sakura telah telah terbaring dilantai merah oleh darahnya sendiri. Tsunade mendekati Sakura, ia sangat kaget melihat pergelagan tangan Sakura yang teriris. Dia bunh diri! "Sakura," panggil Tsunde lirih. "Sa-SAKURA!" teriak Tsunade menangis memeluk sakura dengan wajah yang memucat.
~~My Eyes~~
Ino, Kakashi dan Gaara melihat dengan gerakan yang tidak sabar keruangan UGD. Tsunade yang masih kaget dengan apa yang terjadi, ia tak menyangka ia secara tidak langsung telah membunuh cucunya sendiri. Dengan pakaian yang bernoda darah dan wajah kebingungan Tsunade menggenggam erat-erta benda yang tadi ada digenggaman Sakura. Batu Giok hijau seukuran telapak tangan dengan tulisan 'n Moth' Tsunade tidak mengerti.
Ayame yang duduk disebelah Tsunade mencobaa menenangkan Orang yang sudah dianggap orang tuanya sendiri itu. Ia yakin dalam hati Tsunade, ia sangat menyayangi Sakura. Rasa sayang itu hanya terkubur oleh rasa kesal mendalam. Dia sudah pernah bilang Tsunade adalah orang yang rapuh, dia hanya menutupinya dengan sikap dinginnya.
Pintu UGD terbuka, Sasuke keluar dengan wajah gusar. "Sakura kehilangan banyak darah. Ia membutuhkan darah sekarang. Kami kehabisan darah AB positif. Kalau menunggu dari palang merah mungkin akan satu jam kemudian datangnya. Kami butuh segera." Kata Sasuke tegas.
"Darah yang langkah, dan hanya bisa menerima darah AB positif yang sama." Kata Kakashi lemas. "Darah ku B."
"Hiks, hiks Sakura,," tangis Ino cemas.
Tsunade semakin tertunduk lesu. Menyadari golongan darahnya tidak dapat membantu apa-apa. Ayame menggeleng pelan kearah Sasuke menandakan bahwa tidak ada yang bergolongan darah AB Positif di sini.
"Akh," kesal Sasuke menendang tembok disebelahnya. 'aku juga tidak berguna' batinnya.
Gaara masih mematung. Dia tersenyum pelan. "Sasuke, penderita kanker hati bisa mendonorkan darahnya kan?" Gaara masih tersenyum.
Semua memandang Gaara kaget dengan pernyataan Gaara.
~~MY EYES~~
~Bersambung~
Yah~ Update lagi,, ^^
Maaf ya lama updatenya,,
Maafkan saya ya jika ceritanya tambah ga jelas, juga tambah memusingkan. Saya yang nulis juga bingung, hehe..
Ceritanya chapter ini mau sedih-sedihan gitu, tapi ternyata jadinya ya kayak begini.. maafkan saya (_ _)..
Terimakasih kepada yang telah menyempatkan diri untuk meriview chapter kemarin, maafkan ceritannya bertambah GJ semakin lama. terimakasih juga saran dan masukannya :D sudah saya perbaiki,, :D semoga cerita ini bisa menjadi lebih baik dan sesuai harapan..
Thanks a lot for you all. maaf ga bisa bales pesannya, diusahakan nanti saya bales doubel,, hehe ^^V *soksibuklu
Untuk itu mohon riviewnya ^^
Violet7Orange.. *lambai-lambai
