Sekarang aku tidak tahu harus bersikap bagaimana lagi.
Apakah aku harus tetap senang atau sedih
Jika dipikir-pikir, dahulu..
Aku selalu menderita karena kegelapan ini, menderita sendirian, mengasihani diri sendiri sampai pernah menyalahkan Tuhan.
Tapi aku tak pernah sadar dan berfikir, bahwa saat itu sinar disekelilingku sangat terang hingga aku bisa merasakan kehangatannya.
Sekarang..
Saat aku bisa melihat cahaya itu.
Entahlah, mengapa aku merasa begitu gelap.
Cahaya yang telah lama ku idamkan telah terganti dengan sesuatu yang lebih gelap, lebih menyakitkan bagiku.
Hati ku?
MY EYES
Desclaimer : Masashi Kishimoto
Rated : T
Genre : Romance/ Hurt/Drama
Pairing : Sasuke – Sakura – Gaara
Sakura ..
Matahari tidak berubah, tetap hangat berwarna kemerahan saat akan tenggelam.
Warna rumput tetap hijau dipagi hari.
Tetesan embun juga masih basah, sejuk dan indah seperti dulu.
Warna bunga Sakura yang sedang bermekaran juga masih indah, meyejukkan hati.
Tapi kenapa aku masih merasa ada sesuatu yang terus mengganjal di hatiku.
"Sakura!" Suara Ino mengintrupsi lamunanku.
Ah, dia masih cantik seperti dahulu. Sahabatku—Ino telah tumbuh menjadi wanita yang cantik rupanya.
"Bagaimana perasaanmu?" tanyanya antusias. Kelihatannya dia senang sekali. "Ini hari pertama sejak perbanmu dibuka?" katanya girang "apa saja yang kau lihat. Bagaimana menurutmu aku cantikkan.." tambahnya kelewat semangat.
"Iya, Ino kau cantik. Puas?" jawabku pura-pura tak peduli.
"Huh kau ini, tidak bisa menyenangkan hati teman ya?" sebalnya.
"Haha,." Aku hanya tertawa tergelak. Rupanya ekspresi ino saat lucu seperti ini ya. Dan kamipun tertawa bersama.
Saat tertawa aku menyadari Ino memperhatikanku dengan tatapan miris. Ia melamun sambil menatapku. "Hei Ino kau tidak naksir padaku kan?" candaku membuyarkan lamunannya.
"Huh~ tidak akan. Aku hanya berfikir ternyata si jidat lebar ini lumyan cantik—yah tentu saja tidak lebih cantik dariku." Balasnya sambil mencibir kearahku.
"Hei, kau memuji atau menghinaku ino?" aku mendelik pura-pura tesinggung. Dia menjulurkan lidah padaku. "Jangan menanyakan hal yang telah kau tahu." Ujarnya jenaka.
"Ckck, kau tidak berubah! Oh ya siapa donatur besar yang kau ceritakan itu? Aku ingin berterimakasih kepada keluarga mereka." Tanyaku penasaran.
Raut wajah Ino sedikit berubah—tapi ia langsung tersenyum tulus membalas pertanyaanku. "Hm, itu sebenarnya rahasia rumah sakit. Keluarga donatur itu ingin merahasiakan dan tidak ingin mengungkit apapun, jadi mereka tidak meninggalkan sedikit petunjuk bagiku." Jelas Ino.
"Tapi, setidaknya.." perkataanku diputus oleh Ino. "Sudahlah, kau sudah ditunggu Nenek dan tunanganmu yang ganteng itu.—ah, aku iri padamu Sakura. Kakashi jauh lebih tampan dan kelihatan bertanggung jawab, berbeda sekali dengan dahulu." Rancaunya, aku hanya tersenyum tipis menangggapi.
"Ah, kau ini. Aku jadi penasaran melihatnya.—tapi tidak berarti aku menyetujui ia tunanganku loh, itukan tidak atas ijinku." Membuat Ino mencibir kesal kearahku. "Aku ingin bercermin Ino, malukan bertemu dengan nenekku dengan acak-acakan."
Ino menahan ku yang akan beranjak menuju toilet. "Kau sudah cantik Sakura. Nenek, dan Kakashi sudah menunggu. Ayo~ pergi, aku akan ikut ke tempatmu, mengurus segala kebutuhanmu Sampai kau benar-benar pulih." Katanya seraya menarik tanganku.
"Tapi Ino, aku ingin ber—" Tolakku.
"—Kita berangkat~" semangatnya. Lagi-lagi memotong ucapanku.
Mungkin hanya perasaanku. Aku merasa melupakan beberapa hal penting. Ino juga terlihat aneh—ia seperti menyembunyikan sesuatu dariku. Ah, mungkin perasaanku saja.
"Ino, kau kelewat semangat!" seruku khawatir.
"Nanti juga kau akan mengetahui semuanya Sakura." Katanya pelan tapi tetap terdengar olehku. "maksudmu Ino?" aku reflek menghentikan langkah.
Ino sedikit terkejut—ia juga menghentikan langkahnya. Ia tersenyu miris "Aku hanya bilang—tapi kau jangan marah ya" pintanya. "Kakashi ganteng banget, aku sangat iri padamu Sakura." Tambahnya pelan sedikit malu-malu. "Nah, kau sudah janji untuk tidak marah. Sekarang kita pergi~" katanya kembali semangat.
Aku yakin Ino membunyikan sesuatu. Ucapannya sangat berbeda. Semangatnya seperti dibuat-buat. Sebenarnya apa yang—sudahlah Sakura kau telah berjanji untuk percaya pada Ino. Ia akan bercerita jika memang saatnya. Aku harus berfikiran positif. Tapi rasa penasaranku tetap timbul. Sebenarnya kau kenapa Ino?
..My Eyes..
Disebuah kamar rumah sakit—kamar yang tadinya didiami seorang pasien berambut merah jambu tengah di bersihkan oleh salah satu petugas kebersihan disana. Ia mulai membereskan tempat tidur dan mulai membereskan sedikit debu yang ada di meja dekat tidur pasien. Ia mengangkat vas bunga yang lumayan besar—untuk membersihkan kalau-kalau ada debu disana, orang itu tercengang melihat sebuah notes kecil yang dilipat dua di bawah vas tadi.
Ia berfikir mungkin itu berupa alas untuk vas tadi, jadi ia menyisihkannya dan menaruhnya di pinggir jendela.
Tanpa orang itu sadari angin yang cukup besar berlalu didekat jendela seolah menyuruh kertas itu terus bebas dari himpitan vas yang menimpanya selama ini.
kertas itu terus menari—berputar-putar di langit seolah senang dirinya dipermainkan angin. Sudah cukup jauh ia terus berputar-putar hingga angin mulai bertiup pelan dan pelahan-lahan hilang.
Notes—kertas kecil itu telah sampai di daerah perkotaan yang ramai. Di sana ia perlahan-lahan terjatuh, terinjak-injak oleh orang yang lalu-lalang disana. Orang-orang terus menendang dan menginjaknya, tak ada yang peduli. Kertas yang putih bersih itu kini telah berwarna kecoklatan terkena tanah, kertas yang rapi itu telah kusut bahkan di beberapa bagian telah sobek.
Ia terus maju dan mundur hingga kertas—mungkin sudah tidak layak lagi disebut kertas itu berhenti diujung pagar sebuah rumah. Terakhir ia di injak oleh seseorang yang berlari keluar dari rumah itu dengan terburu-buru, tidak lama setelah itu dua orang mengikuti—mengejar sambil berteriak memanggil nama gadis itu 'Sakura! Tunggu!'. Setidaknya kertas itu bisa lega sejenak, ia tidak lagi terinjak dan dipermaikan angin saat ini. Tapi ia salah, kemudia beberapa orang lagi bersusulan menginjaknya—keliahatannya tempat itu sedang banyak konflik.
..My Eyes..
Sakura gadis itu terduduk lemas melihat sebuah gudukan tanah didepanku. Air mata menetes deras, ia mengigit bibirnya menahan isakkan "Sekarang apalagi? Kenapa orang-orang disekitarku—orang-orang yang menyayangiku satu-persatu harus meninggalkanku? Mengapa mereka sok kuat—lebih mementingkanku dan mengorbankan diri mereka." Rancaunya sambil menatap gundukkan tanah di area pemakaman itu.
Miris..
Tentu saja, siapa yang tak akan sakit jika orang-orang selalu meninggalkanmu—mengorbankan diri mereka untuk dirimu.
Ayame dan Ino tak ingin mendekat—mereka hanya melihat Sakura dari jauh. Mereka tidak bisa mengatakan 'Sabar' atau 'jadilah kuat'. Itu menjadi kata-kata basi jika diucapkan saat ini, yang Sakura butuhkan ialah sendiri meluapkan emosi yang ia tampung. Cukup sudah penderitaan yang ia alami bertahun-tahun. Sekarang saat keadaan mulai membaik ia kembalai kehilangan sosok yang ia kenal—yang kembali mengorbankan diri untuk dirinya.
Uchiha Sasuke..
..My Eyes..
Laki-laki itu tersenyum tulus saat menulis di selembar kertas. Menerawang, tersenyum, menulis. Itu yang ia lakukan berulang kali. Tampaknya ia sedang memikirkan sesuatu yang melapangkan hatinya.
"Aku harus jujur, walaupun akhirnya dia akan membenciku. Tapi jika takdir mengizinkan biarlah hanya aku yang tahu rahasia ini. Setidaknya aku akan membayarnya di akhirat kelak" gumam pemuda itu.
Ia tersenyum lagi kali ini melihat gambar Sakura yang sedang duduk di taman, ia tersenyum miris. Lalu beralih memperhatikan sahabat sekaligus rivalnya dalam segala hal, "Kau harus selalu menjaganya, cih tak akan ku biarkan kau menang lagi." Guraunya santai.
Ia menatap ruang kerjanya cukup lama. Memperhatikan seolah ingin menghafal apa saja yang ada di dalam ruangan yang telah lama menemaninya itu. Ia melipat rapi jasnya dan meletakkannya diatas meja. Mulai mengambil tas dan mulai beranjak menuju pintu. Saat ingi menutup ia kembali menengok ke ruangan itu "Kenapa aku jadi merindukkan tempat ini ya? Cih aneh." Ia tertawa pelan.
Sasuke—dokter muda itu, ia berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Ia berhenti dikamar tempat sahabatnya. Sahabatnya yang tengah terbaring lemah dengan alat infus terpasang dilengannya. Sahabatnya yang rela memperparah penyakitnya demi menolong orang yang ia cintai. Sahabatnya yang polos. "Cih, aku selalu iri padamu -bisa aku kalah lagidarimu. Kau hebat. Kenapa aku jadi kangen padamu ya? Urgh, menjijikkan. Cepat sembuh Gaa." Ucap laki-laki itu didepan pintu kamar rumah sakit. Lalu kembali menyusuri lorong rumah sakit.
Kali ini Sasuke melewati kamar seorang gadis. Gadis aneh dengan rambut merah muda—yang entah sejak kapan selalu mengisi hari-harinya. Ia tersenyum sebentar. Lalu masuk ke kamar gadis itu. 'Oh, ia sedang tertidur' batin Sasuke. Ia beralih ke vas bunga diatas meja dekat kasur—lalu menyelipkan selembar kertas dibawanya.
Sasuke masih berdiam di kamar iru. Ia masih menatap sosok gadis yang ia rindukkan. Ia melihat setiap inci paras cantik didepan matanya. Ia tersenyum tulus "wajah ini, tak akan pernah aku lupakan." Gumamnya ia menunduk dan mendekatkan diri ke wajah Sakura dan mencium kepala gadis itu lembut.
"Aku mencintaimu Sakura." Ucapnya pelan lalu pergi dari kamar itu.
"Hoi, Dokter! Abis ngapain, hehe." Tanya gadis blonde—Ino yang merupakan salah satu perawat dirumah sakit itu ketika melihat Sasuke keluar dari kamar Sakura. Matanya mengedip jahil.
"Hn," Sasuke menyeringai.
"Huh, kau tersenyum." Teriak lebay gadis itu.
"Sepertinya aku juga merindukan kecerewetanmu itu."
"Hah?"
"Ruamah sakit, keluarga, semuanya."
"Apasih dok,"
"Jaga Sakura untukku ya."
"Kau ini seperti akan mati saja." Canda wanita itu.
"Entahlah, sepertinya aku akan pergi jauh."
"Heum, akan dipindahkan ya?" tanya wanita itu.
"Dah, aku pulang dulu." Sasuke berbalik tanpa menjawab pertanyaan Ino.
"Tumben dokter Sasuke banyak bicara." Gumam gadis itu tapi masih bisa di dengar oleh Sasuke.
Ia berjalan terus menuju parkiran mobilnya, namun naas saat keluar dar parkiran tiba-tiba truk pengangkut alat berat melaju dengan keceptan tinggi. Mobil Sasuke remuk dengan segera terpental beberapa puluh meter dari rumah sakit.
Ia segera dilarikan ke UGD membuat Ino yang baru saja ngobrol dengannya kaget. Ino terlihat linglung tanpa sadar ia masuk ke ruangan dokter Sasuke yang telah lama menjadi patnernya itu.
Rungan itu begitu bersih, dokumen, map-map telah tersusun dengan rapi. Diatas meja, seragam dokter kebanggaannya telah terlipat rapi. Diatas seragam itu terdapat kertas—ino segera membacanya ia kaget, surat itu perjanjian mengenai pendonoran organ tubuh—jika pemilik tubuh telah meninggal.
Bersama itupula alat elektrokardiogram menunjukkan garis panjang. Sasuke tidak terselamatkan. Namun ia begitu terlihat damai.
..My Eyes..
"Sakura" panggil laki-laki berambut merah pelan. Tangannya terpasang infus yang ia bawa—di bantu laki-laki berambut putih Kakashi.
Sakura sang pemilik nama melihat kearah pemilik nama dengan mata onyk-nya. Ia bingung dan terlihat putus asa.
"Aku Gaara." Jawabnya seolah mengerti akan keheranan Sakura.
..My Eyes..
"Jujur aku juga kaget saat mendengar kabar Sasuke." Ujar laki-laki itu perih. "terlebih dengan apa yang ia korbankan. Sahabatku memang baik." Ucapnya sambil menyeka setetes air mata yang jatuh.
Gadis di sampingnya masih terdiam, memandang ratusan foto yang terpampang didinding. Mereka sedang berada di galeri museum pribadi milik Gaara yang menampakkan ratusan poto hasil jepretannya.
Ia melihat banyak photo, yang ia perhatikan ialah paras dokter yang sudah lama menjadi dambaan hatinya.
Seorang pria rupawan dengan mata onyk yang tajam, hidung mancung, kulit putih dan rambut emo hitamnya. Sungguh tampan.
"Ia menyukaimu—tidak ia mencintaimu Sakura."
"Hm, yah aku tahu." Sakura tersenyum pedih. "Aku juga mencintai dokter Sasuke."
"Ia mendonorkan seluruh organ tubuhnya untuk orang yang membutuhkan. Tetapi dua nama yang telah ia tulis bahwa matanya ia berikan padamu dan hatinya ia berikan padaku. Aku tidak tahu bagaimana bisa membalasnya."
"Hm, kalian musuhkan."
"Salah, kami sahabat." Ucap Gaara yakin. "Ia sahabat baikku." Tamab Gaara.
"Sasuke pasti sangat bahagia di alam sana. Dia akan mendapat banyak pahala dari perbuatannya didunia. Dia orang baik."
"Yah,"
"Semoga."
"Walau Sasuke tidak ada, tapi ia akan salalu dihatiku." Sakura tersenyum tulus sambil melihat photo dirinya dan Sasuke—Sasuke dan Sakura tengah duduk di bangku rumah sakit, pipi mereka berdua memerah saat Sakura meraba wajah tampan Sasuke.
..My Eyes..
Epilog..
"Kakashi-san denganku saja!" Teriak gadis berambut pirang—Ino sambil menarik lengan kiri Kakashi
"Tidak, aku dulu Ino." Bantah Ayame Sambil menarik lengan Kanan Kakashi.
"Apa hakmu Ayame-san." Ino membelakkan matanya—melotot kearah Ayame.
"Pokoknya denganku." Ucap Ayame tak kalah Garang.
"Akkkuu!"
"Sama aku Kakashi."
"Hah! Hmm" jawab pria itu capek—badannya bergoyang kekanan dan kekiri gara-gara penarikkan dari dua gadis yang sekarang sedang adu deathglare—sambil terus menarik lengannya.
Kakashi yang dulunya tunanganku—sekarang menjadi sosok kakak bagiku. Ia peduli dan slalu ada di sampingku. Aku dan dia memutuskan untuk berhubungan lebih dekat lebih dari pasangan yaitu keluarga. Yey, aku memiliki kakak!. Sekarang ia tengah dikerubuti oleh dua fansnya Ayame dan Ino. Mereka berdua selalu meminta dukunganku. Aku bilang tidak keberatan siapapun yang menjadi pendamping Kakashi—dua-duanya juga boleh, yang dihadiahi cibiran kesal dari mereka berdua.
...
"Saku, ini cicipi kuenya."
"Hm, harum Nenek yang buat?"
"Huh bohong Saku. Nenek cuam menghiasinya saja." Ucap gadis berambut hitam pendek yang beberapa tahun ebih tua dariku—Shizune.
"Kau, harusnya kau tidak membuka rahasia seperti itu, kue itu jika tidak menarik tidak akan enak, ayo Saku cepat makan." Ucap Tsunade kesal.
"Ye,, haha.." ledek wanita itu.
"Hmm" Aku mengambil sedikit kue dan mulai melahapnya.
Nenek, kak Shizune dan aku jadi kompak. Kami benar-benar menjadi sebuah keluarga. Aku melirik kearah pajangan yang bertuliskan 'We Love You Grand Mother' yang ditulis dengan batu giok hasil kerajinan tangan ku bersama ayah dan ibu dulu. Semua disini menjadi membaik seiring berjalannya waktu. Ayah, ibu aku senang sekarang kalian tidak perlu mencemaskanku.
...
"Huh, sudah ku kira kau kesini." Ucap seseorang dingin.
Aku membalikkan badan melihat kearah pemuda berambut merah yang tengah sok cool didepanku.
"Ck, coba kau lihat kelakuan sahabatmu Sasuke." Ucapku prihatin.
"Huh~ kau ini." Ucapnya sambil mengacak rambutku.
"Apaan sih," Aku merengut—pura-pura marah.
Tak mempan ia malah semakin menjadi mengacak-acak rambutku. "Kami pergi dulu Sasuke, terimakasih atas segala yang telah kau berikan. Semoga kau bahagia disana. Kami akan kembali lagi nanti." Ucapnya.
Kami meninggalkan area pemakaman sambi berjalan ia mulai menggodaku lagi. "Kapan kau menerima lamaranku." Ucapnya tiba-tiba.
"Kapan ya?" Aku mendengus tak peduli.
"Ck, asal kau tahu fansku yang minta dinikahin banyak." Pamernya sombong.
"Ya udah, aku kan bukan fansmu. Week! Yang mau nikahin aku juga banyak." Balasku.
"Hei, tsk kau ini." Ucapnya kesal.
"Asal kau setuju anak kita kelak namanya 'Sasuke'" ucapku sambil berlalu mendahuluinya.
"Apa!" Gaara kaget. " Hei, hei!" ia mulai mengejarku.
Hubunganku dengan 'tuan tanpa alis' bertambah dekat, ia telah mengajukan surat lamaran padaku. Yang belum ku cap jempol sampai sekarang. Mungkin dalam waktu dekat? Tidak tahu menunggu perkembangannnya saja. Lalu ia menyebarkanya pada Nenek dan Kakashi tentu saja ditentang oleh Nenek dan Kakashi. Ujar nenek ia belum ingin berpisah dariku—cucunya. Sedangkan Kakashi katanya ia belum melihat kesungguhan cinta Gaara padaku. Ia sering mengejek Gaara bahwa sebenarnya pengorbanan Sasuke disini yang menunjukkan cinta padaku. Haha, kadang kasihan melihat Gaara dianiaya oleh orang-orang disini.
...
Ayah, Ibu aku sudah senang sekarang. Aku sudah bahagia. Aku tidak terperangkap lagi dalam kegelapan. Berkat pertolongan seorang malaikat penolong. Semoga kalian disana juga bahagia.
Ps: Ibu, Ayah, jika kalian bertemu dengan malaikat penolongku disana—katakan padanya sampaikan pada Sasuke bahwa 'He is My Eyes Forever'.
Notes kecil yang tersangkut didepan pintu pagar kediaman Haruno berkibar-kibar di terpa angin. Kertas itu sudah berubah warna menjadi coklat dengan banyak sobekkan kecil di dalamnya. Namun tulisan yang ada masih bisa terbaca.
Sakura, entah kenapa saat ini aku ingin jujur padamu. Penderitaanmu selama ini, penyebabnya aku. Aku yang secara tak sengaja membunuh Kakekmu dan membuat duniamu gelap. Maafkan aku. Kau boleh membenciku.
Semoga aku bisa menebus kesalahanku.
Uchiha Sasuke.
Akhirnya kertas itu kalah oleh terpaan angin, lalu terdampar di selokkan yang penuh air. Terendam dan terpecah lalu hilang larut dalam air.
~~~~~~~THE END~~~~~~~
Akhirnya tamat.. *nangis*
Udah terlantar berapa lama ni fic?
Terimakasih bagi yang sudah membaca fic 'My Eyes' dan menunggunya sampai tamat.. saya tidak bisa apa-apa tanpa kalian *ngambil tissue* terimakasih reviewer.. dan maaf kalau ceritanya tambah ga jelas apalagi pas endingnya -_-'.
Ya sudah,,
minta tanggapan terakhir untuk cerita ini dong dengan meriview? ^^
