characters belongs to Masashi Kishimoto
this story was mine
genre : romance / hurt / comfort
pairing : SasuSaku
rate : T
warning : OOC, typo, AU, dan teman-temannya sekalian
Greyson Chance's song : Home Is In Your Eyes :*
ekhem uhuk, akhirnya kembali bisa lanjutin kisah SasuSaku yang gantung kemaren ini ya. akhirnya saya memutuskan untuk lanjutin ceritanya soalnya ga rela sakura mesti patah hati dan sedih sedih tersiksa gitu T_T yaudah deh langsung aja, kebanyakan bacot entar ditimpuk reader *ampun* maaf kalo lanjutannya kurang memuaskan ya, dan semoga lirik lagunya pas pas aja sama ceritanya hehe *maap kalo ternyata maksa* soalnya lagi suka lagu itu *curcol* oke sekian, eh bentar ada 1 lagi yg paling penting, thanks for reading dan makasih banyak buat reviewer Pink Uchiha , ichi yukaiyun , lily kensei , Onyxita Haruno , Violet7orange , Diggory Malfoy , 4ntk4-ch4n , haruno mey , Hatake ChiLd , Raqu ExsilentreaderXP , Fiyui-chan , pudding-tan , yang udah sempetin mampir baca trus ngereview fic aku iniiiiiii, that's mean a lot for me *peluuuuk*
happy reading, and DLDR ~
nb : tulisan yang dimiringin lirik lagu
My heart beats a little bit slower
These nights are a little bit colder
Now that you're gone
My skies seem a little bit darker
Sweet dreams seem a little bit harder...
I hate when you're gone.
Gadis ini sudah memutuskan, dirinya akan melepaskan cinta ini. Cinta yang telah sekian lama dipendamnya, cinta yang dipertahankannya selama bertahun-tahun, cinta yang awalnya diharapkan akan berakhir bahagia, kini memang harus direlakan. Perasaan itu tak pernah diinginkan oleh gadis ini, sesungguhnya dia hanya ingin terus bersama sang pemuda, berada di sampingnya, mendukungnya, dan memberinya semangat. Tapi apa daya, pesona pemuda itu tak pernah luput dari pandangannya, berhasil menghipnotisnya, dan kini menjeratnya sangat dalam.
Tak merasa tersiksa oleh perasaan cinta itu, sang gadis merelakan perasaannya tumbuh. Meski akhirnya dia sadar, semakin lama pemuda itu jauh dari jangkauannya, dan semakin sulit untuk diraih. Dan kini setelah pemuda itu telah resmi mengatakan padanya bahwa dia telah mencintai gadis lain, saat inilah gadis ini akhirnya menyerah. Membiarkan pemuda yang begitu dicintainya itu bahagia, mengabaikan hatinya yang begitu perih menghadapi kenyataan ini. Gadis ini… selalu mementingkan sang pemuda lebih dari apapun, lebih dari siapapun dan lebih dari dirinya sendiri.
Dan disinilah gadis ini berdiri, di depan rumah yang sangat dikenalinya. Gadis berambut pink ini tahu, hal terbaik yang dapat menyembuhkan luka hati adalah jarak dan waktu. Karena itu, akhirnya gadis ini memilih untuk melepaskan dirinya dari luka hatinya dengan cara pergi dari sini. Pergi meninggalkan semua kenangannya bersama sahabat sekaligus cinta pertamanya, berharap kelak saat dia kembali kesini, perasaannya sudah tidak lagi sama. Berharap dia bisa tersenyum dan berucap tulus pada sahabatnya itu mengucapkan selamat atas kebahagiannya bersama gadis lain, tanpa harus merasakan perih lagi di dadanya, tanpa harus menahan tangis yang tertahan di kedua bola mata emeraldnya.
"Sakura? Kenapa berdiri saja di depan situ? Ayo masuk," suara familiar itu membuat sang gadis terkejut dan refleks mendongak.
"Kak Itachi?" gadis ini – Sakura memandang sang pemilik suara dengan wajah kaget.
"Ayo masuk, kau pasti ingin datang kesini kan?" kata Itachi dengan nada yakin.
"Ah, iya," Sakura menurut dan segera mengikuti langkah Itachi untuk masuk ke dalam rumah itu.
"Kenapa datang pagi-pagi sekali? Hari ini kan hari minggu, kau pasti hafal kalau Sasuke belum bangun," Itachi bertanya dengan wajah heran.
"Ah maaf, aku datang untuk pamit," Sakura berkata pelan, tidak berani memandang wajah Itachi – kakak Sasuke – yang memang sudah dianggapnya seperti kakaknya sendiri.
"Pamit? Kau mau kemana Saku?" Itachi terkejut.
"Maaf Kak, aku mendadak pamit. Aku akan pindah ke Korea, tinggal bersama ibuku disana," ucap Sakura menjelaskan.
"Kenapa mendadak? Apa Sasuke tahu?" Itachi masih belum mengerti, dia menatap Sakura dengan wajah kagetnya yang tak bisa disembunyikan.
Sakura menggeleng pelan. Dia memang sengaja tak memberi tahu Sasuke, dia memilih untuk memberi tahu kepindahannya bersamaan dengan waktu dia akan berpamitan. Ini keputusan gadis ini.
Itachi mendesah panjang. Ditatapnya Sakura yang duduk dihadapannya. Gadis ini, sudah sejak lama dianggapnya seperti adik perempuannya. Dia baik hati, sopan dan tidak berkelakuan seperti gadis-gadis pada umumnya, terlalu memuja adiknya Sasuke. Meskipun Itachi tahu, Sakura mencintai Sasuke sejak dulu. Kini dia mengerti mengapa gadis ini memutuskan untuk pindah dari Jepang, dia memilih untuk menyerah pada cintanya, memilih agar adiknya itu bahagia meski justru dia yang harus terluka.
"Lebih baik kau bangunkan Sasuke, beritahu hal ini padanya. Kau tak berniat pergi begitu saja tanpa memberitahunya kan?" akhirnya Itachi buka suara.
"Tentu saja tidak,Kak. Baiklah, aku akan bangunkan dia," Sakura menurut, dan segera pergi menuju kamar Sasuke.
Sejenak tangannya ragu saat dia hampir akan membuka pintu kamar itu, tapi tekadnya sudah bulat. Ini kali terakhir dia harus bertemu Sasuke, terakhir kali dia menatap orang yang dicintainya itu, dan setelah ini perasaan itu harus dibuang jauh-jauh.
Sakura melangkah menuju tempat tidur Sasuke, ditatapnya pemuda itu dalam diam. Ternyata benar, pemuda ini masih terlelap dan belum terlihat tanda-tanda dia akan bangun. Akhirnya Sakura duduk di tepi tempat tidur tanpa melakukan apapun. Kembali teringat pembicaraannya waktu itu, saat pemuda ini menghubunginya dan menceritakan semuanya. Saat akhirnya Sasuke mengungkapkan cintanya pada Ino, dan saat akhirnya Ino pun menerima cinta itu. Kembali dadanya terasa perih, matanya pun berangsur memburam karena menahan butir air mata yang ingin menetes.
Secepat itukah dia harus menyerah? Melepaskan cintanya yang terlanjur dalam ini? Mengubur semua kenangan indahnya bersama Sasuke tanpa ingin menyisakannya sama sekali? Pertanyaan itu berkali-kali singgah dipikirannya, menuntut jawaban. Namun gadis ini pun tak tahu harus menjawab apa. Perlahan kristal bening itu menetes, membasahi tempat tidur Sasuke. Buru-buru dihapusnya air mata itu, berharap Sasuke tidak melihatnya menangis seperti ini.
"Saku…," gumaman perlahan itu mengagetkan Sakura. Ditatapnya Sasuke dengan wajah tak percaya. Mengapa pemuda ini menggumamkan namanya saat tertidur? Ini semua bohong kan?
Ditatapnya Sasuke tanpa berkedip, namun kelopak matanya tetap tak terbuka. Kedua mata onyx hitamnya tetap tak tampak. Sakura mendesah, berpikir mungkin tadi Sasuke sedang tak sadar. Akhirnya dia memutuskan untuk membangunkan Sasuke. Terlalu lama berdiam diri menatapnya membuat perasaan Sakura semakin kacau dan tak seimbang. Dia takut keputusan yang sudah ditetapkannya kemudian berubah.
"Sasuke… Bangun," ditepuknya lengan Sasuke pelan.
"Ngghh…" Sasuke menggeliat, membuat Sakura sedikit kaget.
"Ayolah bangun, mau sampai kapan kau tidur terus," kali ini nada suara Sakura meningkat.
"Aaah aku masih ngantuk, sejak kapan kau disini sih?" Sasuke menjawab meskipun matanya masih belum terbuka.
"Sejak saat aku melihatmu tidur dengan mulut terbuka dan air liur menetes ke bantalmu!" jawab Sakura sarkastis.
"Nani?" Sasuke bangkit dengan wajah kaget dan panik. Namun detik berikutnya dia mendengar Sakura tertawa pelan.
"Kau bohong! Kenapa pagi-pagi sudah datang kesini? Rajin sekali sih," Sasuke mengacak-acak rambut emo hitamnya dan memperbaiki posisinya menjadi duduk menghadap Sakura.
"Aku…" Sakura menggantung kalimatnya. Ditariknya napas dalam-dalam, berharap semuanya akan berjalan lancar setelah ini. Semoga Sasuke tidak mencegahnya untuk pindah, agar keputusan ini semakin mudah untuknya.
"Aku mau pamit," akhirnya kalimat itu terucap.
"Pamit? Kau mau kemana? Kita belum liburan sekolah Saku, kau aneh sekali sih?" Sasuke bertanya tak paham.
"Aku akan pindah ke Korea, Sasu. Karena itu aku kesini, untuk pamit padamu dan Kak Itachi," ucap Sakura menjelaskan perlahan.
"APA? KOREA? Kau gila ya? Kenapa tiba-tiba? Kenapa sebelumnya tak memberitahuku? Jangan bercanda Saku," Sasuke terkejut, dia menatap Sakura meminta penjelasan, namun Sakura tak membalas tatapan itu.
"Aku nggak bercanda, ini memang sudah lama direncanakan oleh ibuku. Maaf aku baru memberitahumu sekarang," kata Sakura dengan nada menyesal.
"Aku nggak percaya. Apa tidak bisa diundur sampai kita lulus SMA?" tawar Sasuke.
Sakura menggeleng, tak sanggup dia menatap mata itu. Karena meski dia tak menatap pun dia tahu mata itu memancarkan kekecewaan setelah mendengar keputusannya ini.
"Kenapa begitu mendadak? Kalau kau tidak ada lagi, rasanya akan beda Saku. Hanya kau gadis yang benar-benar mengerti aku," ucap Sasuke getir.
"Kau akan baik-baik saja Sasu, kau punya Ino," Sakura menepuk pundak Sasuke. Dia bangkit dan melangkah menjauh, ditahannya air mata itu agar tak jatuh kembali. Sudah cukup air mata itu terjatuh, sudah cukup hatinya kembali perih saat diputuskannya untuk mengatakan hal ini, sudah cukup semua sakit ini, sudah cukup Sasuke mengendalikan hatinya sejauh ini. Dan kali ini Sakura tak mau membiarkan hatinya dikendalikan oleh Sasuke, lagi.
Sayonara, Sasuke-kun...
Sudah berkali-kali gadis berambut pirang itu menatap kekasihnya heran. Sejak tadi kekasihnya tampak gusar dan tak tenang. Padahal hubungan mereka sama sekali tidak bermasalah dan baik-baik saja.
"Ada apa denganmu Sasu? Apa yang kau pikirkan?" tanya Ino khawatir.
"Hah? Aku baik-baik saja, tak perlu khawatir," jawab Sasuke, meski suaranya terdengar ragu.
Ino tak bisa memaksa lagi, dia hanya diam dan kembali meminum jus apel pesanannya. Sudah beberapa hari ini dia merasa ada sesuatu yang tak beres dengan kekasihnya itu. Sikap Sasuke tak lagi seceria dulu, meskipun memang karakter utamanya pendiam dan tidak terlalu banyak bicara. Tapi sekarang, Sasuke selalu tampak murung, bahkan beberapa kali Ino menemukan Sasuke sedang berdiri atau duduk melamun, entah apa yang dipikirkan oleh pemuda itu.
Awalnya gadis itu mengira, sikap Sasuke ini disebabkan karena kepindahan Sakura yang tiba-tiba ke Korea itu. Tapi Ino yakin, beberapa hari berikutnya pasti Sasuke akan kembali seperti semula. Namun dugaannya salah, justru semakin hari sikap Sasuke semakin aneh dan Ino tidak bisa mengerti lagi.
"Aku mau pulang. Kau mau mengantarku?" akhirnya Ino memutuskan untuk kembali, pikirannya terlalu lelah menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi pada kekasihnya itu.
"Ya, aku antar," Sasuke mengiyakan lalu bangkit dari duduknya.
Selama perjalanan pulang baik Sasuke maupun Ino tak ada yang membuka suara. Keduanya bisu dan terjebak pada pikirannya masing-masing. Mereka berdua tak berusaha mencari tau apa yang keduanya pikirkan, memilih untuk menyimpannya rapat-rapat di dalam pikiran mereka.
"Arigatou Sasu, hati-hati di jalan," Ino melepas sabuk pengamannya dan membuka pintu kemudi. Sasuke hanya mengangguk tanpa berucap apa-apa.
Gadis pirang itu berdiri menatap kepergian mobil kekasihnya, sampai mobil itu hilang di tengah pekatnya kegelapan malam. Dia mendesah, kemudian dia tersentak saat memikirkan kemungkinan yang tiba-tiba terlintas dibenaknya. Tubuhnya gemetar kala itu, ditepisnya kemungkinan yang tiba-tiba muncul dipikirannya tadi. Tidak mungkin, tidak mungkin alasan Sasuke akhir-akhir ini berubah karena kehilangan Sakura. Tidak mungkin kan Sasuke ternyata mencintai sahabatnya itu? Pertanyaan itu tersangkut di tenggorokan Ino, membuat dadanya sedikit sesak dan kepalanya terasa pusing. Dibuangnya pikiran aneh itu, dan dirinya segera masuk ke dalam rumah berharap pikirannya jernih kembali.
Di tempat lain, seorang pemuda berambut hitam kebiruan itu berdiri di sisi jembatan. Pikirannya menerawang jauh, tak dihiraukannya pemandangan lampu-lampu jalanan yang terlihat begitu indah dari tempatnya berdiri. Malam ini terasa lebih dingin untuknya, sedingin perasaannya kini. Langit yang begitu terang bertabur bintang-bintang dirasakannya gelap. Langit, bintang, hal yang disukai oleh Sakura itu kini tak bisa benar-benar mengembalikan perasaan Sasuke yang masih gelisah. Setelah kepergian gadis itu, langit seperti terbawa bersamanya, bintang seperti ikut pergi dengannya dan menyisakan langit gelap untuk Sasuke disini. Hari-hari setelah Sakura pergi membuatnya jadi lebih sulit. Sepertinya sulit untuk berharap mendapat mimpi indah sewaktu tidur. Pikirannya selalu terjaga, bahkan jika tidur bayangan gadis pink itu tetap kokoh memenuhi ingatannya.
Baru kali ini perasaan mempermainkannya terlalu jauh. Ada hal yang tiba-tiba tidak Sasuke pahami dan mengerti, setelah kepergian Sakura rasanya begitu hampa. Berkali-kali dia menghibur dirinya sendiri, mengingat bahwa dia masih memiliki Ino, kekasihnya, tapi berkali-kali itu juga perasaan kehilangan itu semakin besar. Dia pikir, begitu banyak waktu yang dihabiskannya bertahun-tahun bersama Sakura membuatnya selalu terbiasa dengan kehadiran gadis itu disisinya. Bahkan, rasanya aneh jika sehari saja dia lalui tanpa ada Sakura disisinya. Lantas, mengapa kini perasaannya tak karuan begini?
Bohong kalau Sasuke bilang dia tidak merindukan Sakura. Hari-harinya tanpa gadis itu sekarang tidak lagi sama. Tak ada lagi seseorang yang tiba-tiba datang menemuinya saat latihan basket, menunggunya, mendengarkan ceritanya yang pasti membosankan. Begitu disadarinya, Sakura memang telah membekas begitu besar pada hidup Sasuke. Kenapa pemuda ini tak bisa menyadarinya saat gadis itu belum pergi? Kenapa justru dia sadar saat akhirnya gadis itu memutuskan untuk meninggalkannya.
Pemuda ini sadar, dia membutuhkan gadis itu. Gadis berambut pink yang dengan setia selalu berdiri di sampingnya apapun yang terjadi. Rasanya begitu sakit mengetahui bahwa hari-hari itu tak bisa kembali lagi. Sasuke terlalu bodoh untuk menyadari hal ini, begitu dekatnya Sakura dengannya membuatnya buta akan perhatian yang diberikan Sakura. Dia menganggap semua perhatian itu akan terus ada untuknya, dia tak memikirkan bagaimana perasaan Sakura selama ini padanya. Kini setelah gadis itu pergi, justru dia yang merasa kehilangan semua. Kepergian Sakura seperti membawa semua yang dimilikinya, keceriaan Sasuke, semangatnya, jiwanya, bahkan hatinya ikut terbawa oleh kepergian gadis itu. Menyisakan sebentuk rasa sakit yang kini baru disadari Sasuke, bahwa ini adalah cinta yang belum terucap, atau mungkin cinta yang terlambat untuk diungkapkan.
"Maaf, lebih baik kita pisah saja," Sasuke berucap pelan. Kalimat itu begitu menampar Ino. Ditatapnya Sasuke tak percaya, segitu mudahnya kah kalimat itu terucap dari mulut Sasuke?
"Kenapa? Aku salah apa?" tanya Ino dengan suara yang bergetar. Ditahan tangisnya agar tidak tumpah saat itu juga.
"ini semua bukan salahmu, kau tak pernah melakukan kesalahan apapun. Aku yang salah, mempermainkanmu begini. Aku sudah begitu bodoh mempermainkan perasaanmu, maaf," hanya kata-kata itu yang terucap dari bibir Sasuke, tangannya menyentuh lembut punggung tangan Ino.
Ino menggelengkan kepalanya kuat-kuat, dirinya masih belum menerima hal yang tiba-tiba terjadi ini.
"Kenapa tiba-tiba? Sebenarnya kau kenapa?" tanya Ino tak mengerti.
"Aku begitu kehilangan dia, Ino. Ternyata begitu aku sadar, aku tak bisa jika tanpa dia," jawab Sasuke.
Ino terdiam. Dugaannya kini terbukti sudah, akhirnya apa yang diharapkannya tidak terjadi justru terjadi sekarang. Dari awal gadis pirang ini tahu, hati pemuda ini memang sudah dimiliki oleh orang lain. Lantas mengapa dia tetap mempertahankan hubungan ini? Padahal dirinya sendiri bimbang pada perasaannya, awalnya dia tak memiliki perasaan lebih untuk Sasuke. Tapi semua sudah terjadi, perasaan itu akhirnya tumbuh, dan saat perasaannya sudah hadir justru Sasuke yang sadar bahwa dia tak bersungguh-sungguh mencintai Ino.
"Aku mengerti. Dari awal aku tahu bahwa kau tak sungguh-sungguh suka padaku," ucap Ino akhirnya.
"Maksudmu apa? Aku serius suka padamu, tapi sekarang aku sadar bahwa aku memang mencintainya sejak dulu," kata Sasuke.
"Ya aku paham. Dia selalu ada untukmu sejak dulu, wajar kalau perhatiannya sudah kau anggap hal yang biasa. Sedangkan aku, aku gadis yang tiba-tiba hadir ditengah-tengah hubungan kalian, sifatku dan sifatnya berbeda dan hal itu membuat kau tertarik. Tapi pada akhirnya pasti kau akan sadar, siapa yang lebih kau butuhkan. Aku benar kan?" tebak Ino tepat sasaran.
Sasuke terperangah. Tak menyangka bahwa Ino bisa begitu paham perasaannya seperti itu.
"Ya, kau benar," Sasuke mengakui.
"Kalau begitu jujurlah padanya. Belum terlambat kan? Dia masih bisa kembali," Ino menepuk bahu Sasuke memberi semangat.
Meski perasaannya sakit, dia sangat paham apa yang Sasuke rasakan sekarang. Rasa kehilangan itu begitu besar melandanya sehingga dia jadi seperti ini. Sasuke mengangguk, tersenyum memandang Ino dan mengucapkan terima kasih berkali kali. Terima kasih untuk cinta yang Ino berikan untuknya, terima kasih untuk dukungannya, terima kasih untuk pengertiannya, terima kasih karena telah menyadarkan dirinya.
Your heart beats a little bit faster
There's tears where there use to be laughter ...
Now that I'm gone ...
You talk just a little bit softer
Things take a little bit longer …
You hate that I'm gone …
Helaian rambut merah muda bergoyang seirama dengan hembusan angin. Berada di tempat ini rasanya begitu damai. Keputusan gadis ini untuk meninggalkan Jepang dan tinggal bersama ibunya di Korea dirasakannya sebagai keputusan yang tepat. Dia tak menyesali kepindahannya kesini, tinggal di rumah yang jauh dari hiruk pikuk keramaian, dan tinggal di rumah yang tepat berhadapan dengan pantai. Hal ini membuatnya sedikit banyak melupakan semua permasalahannya, sakit hatinya, kepedihan hatinya saat meninggalkan Jepang kala itu.
Gadis itu duduk di bibir pantai. Dimainkannya pasir-pasir yang basah terkena ombak. Dibiarkannya air laut membasahi kaki hingga dress pink miliknya itu basah. Tiba-tiba dia tertawa pelan, ingatannya kembali pada hari terakhir dia bertemu Sasuke. Ada hal yang masih membuatnya penasaran kala itu, disaat pemuda itu belum sadar dan menggumamkan namanya. Hatinya masih diliputi pertanyaan, mengapa saat itu justru namanya yang terucap dan bukan nama Ino? Entahlah, barangkali dia tak akan pernah mendapat jawabannya.
Aah, gadis pink ini merindukan pemuda itu. Pemuda yang selalu dia dampingi setiap saat, pemuda yang dia cintai setulus hati. Sesungguhnya perasaannya resah tak menentu, meninggalkan pemuda itu disana. Apa Sasuke baik-baik saja tanpanya? Pertanyaan itu terus menghantui pikiran gadis ini, namun berkali-kali ditepisnya rasa khawatir yang berlebihan ini. Dirinya yakin, bahwa Sasuke baik-baik saja. Sasuke tak akan terlalu merasakan kehilangan saat Sakura pergi, Sakura yakin akan hal itu. Tapi, tetap saja hatinya tak kuasa berdusta, kalau dia memang benar-benar merindukan pemuda itu, setulus hatinya.
"Sudahlah teme, jangan terus-terusan murung seperti itu. Sakura-chan pasti baik-baik saja disana," ucap Naruto – sahabat Sasuke – menghibur.
"Aku tahu, dia pasti baik-baik saja disana. Aku hanya… merindukannya," ucap Sasuke pelan. Dia tak suka mengakui hal ini di depan Naruto yang selalu meledeknya, tapi memang begitulah keadaannya. Sesering apa pun mereka bertengkar, orang yang paling mengerti Sasuke adalah Naruto begitupun sebaliknya. Jadi kali ini pun, dibiarkannya dirinya kelihatan lemah di depan sahabatnya itu, karena Sasuke tahu, Naruto pasti mengerti.
"Aku mengerti. Bersabarlah, liburan sekolah sebentar lagi, saat itu kau boleh pergi ke Korea untuk mengunjunginya," ucap Naruto bijak.
"Ya, aku tahu," kata Sasuke paham.
"Jangan jadi mellow begitu hanya karena Sakura-chan pergi meninggalkanmu. Harusnya kau paham dan menyadari sikapnya sebelum ini terjadi. Kau memang selalu lamban soal masalah begini," Naruto menasihati.
"Ya, aku tau… Apa menurutmu dia sayang padaku?" tanya Sasuke polos.
"Baka! Melihat sikapnya sekarang kau masih belum bisa menyadari perasaannya? Memangnya kau pikir kenapa dia pindah ke Korea tiba-tiba? Dia hanya ingin menghindarimu! Daripada dia terus-terusan sakit melihatmu bersama Ino, dia lebih memilih untuk menyerah teme," Naruto menatap Sasuke jengkel, gemas karena sikap lambat sahabatnya itu.
"Bagaimana kau bisa tahu sejelas itu?" tanya Sasuke kaget.
"Sakura sendiri yang cerita padaku," ucap Naruto mengakui.
"Lalu kenapa kau baru beritahu aku sekarang dobe?" kali ini gantian Sasuke yang jengkel.
"Itu kan rahasia Sakura-chan, mana bisa aku beritahu seenaknya. Karena sekarang ternyata kau baru menyadari perasaanmu makanya aku baru bisa menceritakannya," kata Naruto membela diri.
"Ya, aku mengerti. Tapi rasanya aku benci berada disituasi seperti ini, aku benci dia tiba-tiba pergi," Sasuke menunduk lesu.
"Aku tahu rasanya, aku tahu," lagi-lagi Naruto berkata begitu, hanya sekedar untuk menghibur sahabatnya, Sasuke.
Everyday times passing
growing tired of all this traffic
Take me away to where you are…
Rindu ini menusuk, mencengkeram, menggelisahkan.
Pemuda berambut hitam semi dark blue ini terduduk di tepi tempat tidurnya. Matanya menerawang ke atas langit-langit, mendesah, dan akhirnya menjatuhkan tubuhnya diatas kasur miliknya. Sudah kira-kira 3 minggu sejak percakapannya dengan Naruto, sahabatnya. Tentang betapa rindunya dia pada gadis pemilik rambut bubble gum itu, tentang betapa sesungguhnya perasaannya tersiksa saat gadis itu pergi, tentang betapa kehilangannya dia tanpa gadis itu disisinya, tentang ah… terlalu banyak 'tentang' yang lainnya.
Pemuda ini tertegun untuk kesekian kalinya, beginikah rasanya merindukan seseorang sepenuh hati? Mengharapkan sosoknya hadir setiap saat meski hanya sekedar melihatnya saja? Disadarinya kini bahwa perasaannya semakin kuat untuk gadis itu, betapa bodohnya dia baru menyadari ini. Disaat justru gadis itu – yang dicintainya – memilih untuk menyerah atas cintanya, disaat gadis itu memilih pergi, merelakan kebahagiannya demi pemuda bodoh ini.
Mengapa rasanya menunggu itu bisa terasa menyesakkan seperti ini? Pemuda ini bertanya kesekian kali dalam hati. Menunggu berakhirnya bulan ini, menunggu datangnya libur musim panas tahun ini, menunggu saat itu, saat dimana dia yang kini akan menyusul gadis itu. Saat dimana berganti dia yang akan mengejar bayangan gadis itu, saat dimana nanti akan diutarakannya perasaannya sesungguhnya terhadap gadis itu. Ah, rasanya pemuda pemilik mata onyx ini sudah tidak sabar menunggu hari itu tiba.
Mengapa rasanya begini membosankan dan menjenuhkan?
Ah, aku merindukanmu Sakura…
Andaikan bisa aku meminta sekarang, bawa aku di tempat dimana kau berada…
Andai bisa…
I wanna be holding your hand in the sand by the
the tire swing where we use to be
baby you and me…
I'd travel a thousand miles
Just so I can see you smile
Feels so far away when you cry
Cause home is in your eyes…
"… Kalau kau tidak ada lagi, rasanya akan beda Saku. Hanya kau gadis yang benar-benar mengerti aku."
Ucapan terakhir Sasuke itu terngiang-ngiang kembali di telinga Sakura. Meski sudah hampir 1 bulan lebih dirinya pergi meninggalkan Jepang, tak bisa dipungkiri hatinya masih sangat merindukan tempat kelahirannya itu. Tempat dimana dia bertemu dengan orang-orang yang menyayanginya dan yang dia sayangi. Apa pemuda berambut raven itu merindukannya? Ah, memikirkannya saja seperti berharap sesuatu yang muluk.
Tapi kata-kata terakhir itu, membuat gadis pink ini ragu sesaat. Ragu akan posisi sesungguhnya di hati sahabatnya itu. Tapi segera saja semua kemungkinan yang membuat hatinya melambung itu ditepisnya, dirinya tidak mau terjebak dalam keadaan bodoh seperti dulu lagi. Mencintai, mengagumi, tanpa mengutarakannya, tanpa membiarkannya hal itu diketahui oleh Sasuke, dan berujung menyedihkan seperti ini.
Seperti biasa Sakura selalu ada disini, di tepi pantai yang tepat berada di depan rumahnya. Kini suasana riuh ombak dan gemericik air ini sudah menjadi tak asing di telinganya, menjadi hiburan tersendiri untuknya. Hiburan disaat hatinya terkadang gelisah, merindukan seseorang yang berada jauh disana.
Andaikan bisa…
Andaikan bisa aku berharap
Aku ingin kau disini…
Keinginan kuat itu tak bisa ditepis gadis ini, bahwa dirinya menginginkan keberadaan pemuda itu disini, disisinya. Membayangkannya saja membuatnya mau tak mau tersenyum, andaikan pemuda itu disini, pasti akan sangat menyenangkan. Bermain di sepanjang pantai ini, menikmati debur ombak pantai, memandang ombak yang bergulung dan menyapu pasir pantai, memandang matahari yang terbit dan kemudian tenggelam. Menyusuri sepanjang pantai ini, bersamanya…
Lagi-lagi seperti ini, kerinduan ini begitu menusuknya. Membuatnya terkadang ingin menyerah pada keadaannya sekarang. Menyerah untuk melupakan pemuda itu, menyerah untuk menghentikan cintanya pada pemuda itu, menyerah untuk segala usahanya untuk mengubur rasa cintanya yang begitu dalam ini.
Apa yang sebaiknya nanti ku katakan terlebih dahulu?
Apa yang akan ku jelaskan nanti?
Pertanyaan itu menggantung disudut pikiran Sasuke. Otaknya masih berusaha keras memikirkan jawaban atas pertanyaan itu. Hatinya berdebar tak karuan saat ini, saat dimana hari kepergiannya tiba. Hari dimana dia memutuskan untuk mengejar cintanya, meminta cintanya kembali, dan berjanji untuk tak akan melepasnya – lagi.
"Mau sampai kapan melamun begitu?" suara berat itu menyadarkan Sasuke dari lamunannya.
"Hn," Sasuke hanya balas bergumam dan segera masuk ke dalam mobil yang akan mengantarnya ke bandara sekarang.
Di dalam mobilnya, Sasuke hanya diam tanpa berusaha membuka percakapan dengan kakak laki-lakinya – Itachi. pikirannya terlalu sibuk dipenuhi dengan berjuta kemungkinan tanggapan Sakura saat mengetahui kedatangannya nanti. Bagaimana jika saat dia menemuinya gadis itu sudah tak lagi mencintainya? Bagaimana jika sudah ada pemuda yang menggantikan posisinya di hati gadis itu? memikirkannya saja sudah membuat dadanya berdenyut perih, sakit.
"Tak usah tegang begitu, dia pasti terkejut kau tiba-tiba datang mengunjunginya," suara berat itu lagi-lagi memecah lamunannya.
"Tegang katamu? Sama sekali tidak," ucap Sasuke berbohong.
"Sudahlah, meskipun kau mengelak aku sama sekali tidak bisa kau bohongi Sasu, hanya kali ini saja jangan sia-siakan kesempatanmu lagi. Jangan sampai kau menyesal nantinya saat dia benar-benar telah pergi dari sisimu," Itachi menasihati.
Sasuke bergeming menatap kakak laki-laki satu-satunya itu. Darimana dia bisa tau persis perasaannya sekarang?
"Bagaimana… kau bisa..." Sasuke menggantung pertanyaannya sendiri sambil menatap Itachi dengan wajah heran.
"Ya, tentu saja aku bisa," jawab Itachi sambil tersenyum kecil.
"Jadi selama ini kau tau kalau dia menyukai… aku?" tanya Sasuke sedikit ragu.
"Ya, aku sangat tau. Bagaimana bisa aku tidak menyadarinya, dilihat dari caranya menatapmu saja itu sudah berbeda, hanya orang 'bodoh' yang tidak bisa menyadarinya," Itachi menjawab enteng.
Sasuke terpaku. Kata-kata Itachi benar-benar membuatnya malah merasa bersalah atas sikapnya selama ini pada Sakura. Dia menyadari bahwa dirinyalah yang tidak begitu peka terhadap perasaan sahabatnya itu.
"Maksudmu aku 'bodoh'?" Sasuke melirik Itachi tajam, meskipun kata-kata Itachi seluruhnya memang tepat, tapi Sasuke tidak mau begitu saja dicap sebagai orang bodoh. Enak saja! Batinnya kesal.
"Aku tidak bilang begitu, kau yang baru saja mengatakannya lho," kata Itachi sambil menahan tawa, melihat reaksi Sasuke yang terpojok tapi tetap mempertahankan harga dirinya itu sangatlah langka kalau kalian mau tau.
"Cih, menyebalkan," Sasuke memalingkan wajahnya menatap jendela.
Dia pun tak lagi berniat melanjutkan percakapannya dengan kakaknya itu, karena dia tau bahwa kali ini dia tak mungkin menang melawan kata-kata yang diucapkan oleh Itachi. Karena dia sendiri pun mengakuinya, bahwa semua yang dikatakan Itachi – kakaknya – maupun Naruto – sahabatnya – memang sepenuhnya benar. Bahwa dia adalah laki-laki bodoh yang tak peka, yang tega membiarkan perasaan sahabatnya tak terbalas sekian lama, yang diam-diam karena sikapnya itu membuat sahabatnya terluka sedemikian sakit, yang membuat sahabatnya itu justru pergi dengan menanggung sakitnya seorang diri, bahkan yang lebih ironis adalah karena sikap bodohnya inilah akhirnya dia justru merasakan akibatnya sendiri. Menanggung kerinduan ini sendiri, memendam perasaan yang akhirnya baru dia sadari, tanpa tau nantinya apakah perasaannya akan terbalaskan lagi?
Masihkah aku boleh berharap?
Langkah pemuda berambut hitam semi dark blue ini berhenti tepat disaat pandangan matanya menyapu sebuah rumah yang cukup besar yang berada tepat di depan pantai. Dia menarik napas dalam-dalam, sebelum memutuskan untuk melanjutkan langkahnya menuju rumah itu. jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat, tak menyangka bahwa secepat ini dia akan berada disini, di tempat gadis yang selama ini dirindukannya, gadis yang sangat ingin dia temui.
Dia akhirnya memutuskan melanjutkan langkahnya, tak berniat menunda lagi apa yang ingin dia lakukan. Daripada akhirnya nanti dia akan menyesal jika terlambat menemui gadis itu. Dan sampailah dia akhirnya di depan pintu rumah itu, tangannya mengetuk pintu itu perlahan. Ditunggunya respon dari sang pemilik rumah.
"Tunggu sebentar…" suara wanita terdengar dibalik pintu tersebut, diikuti pintu rumah yang kemudian terbuka.
"Kami-sama! Ada angin apa tiba-tiba Sasuke datang kesini?" wanita yang ternyata ibu Sakura itu terkejut mendapati seorang pemuda berdiri di depan pintu rumahnya. Pemuda yang sangat dia kenali sejak kecil, pemuda yang tak lain adalah sahabat anak gadisnya, dan pemuda yang kenyataannya membuat anak gadisnya itu akhirnya memutuskan untuk pindah kesini, bersamanya. Ya karena pemuda inilah yang sudah membuat anak gadisnya itu selalu terlihat termenung dan melamun setiap ada kesempatan.
"Apa kabar tante? Maaf aku datang tak memberitahu sebelumnya, aku takut nantinya malah akan merepotkan," Sasuke tersenyum sambil menundukkan kepalanya.
"Kau keterlaluan sekali Sasuke! Sejak kapan kau merepotkanku dan Sakura? Ayo masuk," ibu Sakura mengamit lengan Sasuke dan mengajak pemuda itu masuk. Di perintahkannya Sasuke meletakkan barang bawaannya di sebuah kamar yang letaknya di pojok rumah itu. Setelah itu diajaknya Sasuke duduk bersama di ruang keluarga.
"Aku benar-benar merindukanmu Sasu. Apa kabar ayah, ibu dan Itachi?" tanya ibu Sakura memulai kembali pembicaraan mereka.
"Aku juga, sudah lama sekali tidak bertemu tante. Mereka baik-baik saja," jawab Sasuke sopan.
"Syukurlah, aku juga sangat merindukan ibumu. Dulu biasanya kami selalu ngobrol seperti ini setiap hari. Kau pasti tau, karena rumah kami dulu kan bersebelahan," Ibu Sakura berucap sambil menerawang seperti mengingat kenangan indah itu.
"Ya, aku tau," kata Sasuke sambil tersenyum.
Matanya menatap ke sekeliling rumah besar ini, sambutan dari ibu Sakura yang memang sejak dulu perhatian padanya ini langsung membuatnya nyaman berada di rumah ini. Tapi, tujuannya kesini kan bukan untuk liburan. Ada hal lain yang lebih penting, yang harus dia selesaikan secepatnya. Tapi kemana gadis itu?
"Mencari Sakura?" suara lembut itu menyentak lamunan Sasuke.
Tertangkap basah sedang menatap sekeliling rumah kemudian melamun segera saja membuat wajah Sasuke memerah.
"Kau tidak berubah Sasuke," Ibu Sakura tersenyum seperti maklum.
"Sejak dulu, meski kalian sekeluarga cenderung pendiam dan kelihatan tak peduli, hanya kau yang paling tidak bisa menunjukkan perasaanmu. Apa yang kau lakukan dan katakan terkadang tidak sesuai dengan apa yang kau rasakan kan?" ucap ibu Sakura ringan.
Namun segera membuat Sasuke tercengang karena kaget. Bagaimana bisa ibu Sakura begitu tepat menebak sifatnya seperti ini?
"Aku tau betul, karena kau sahabat anak perempuanku, dan kau anak dari sahabatku, Mikoto," ibu Sakura berkata lagi seperti menjawab keheranan Sasuke.
Sasuke tak bergeming, dia tak tau lagi harus bersikap bagaimana dan harus mengatakan apa. Semua hal tadi membuatnya sangat terkejut.
"Biasanya sore hari begini Sakura selalu ada di pantai, kau bisa menemuinya kalau kau mau," ibu Sakura bangkit dan menepuk bahu Sasuke pelan. Sasuke mengangguk mengerti. Dia bangkit dari duduknya dan berniat segera pergi ke pantai itu.
"Sasuke…" panggilan itu membuat Sasuke menoleh kembali.
"Selamat berjuang," ucap Ibu Sakura sambil tersenyum, kemudian langkahnya menghilang dibalik tembok menuju dapur. Meninggalkan Sasuke yang lagi-lagi hanya bisa berdiri terpaku menatap kepergian wanita itu.
Gadis pemilik mata hijau emerald ini seperti biasa duduk di tepi pantai. Memainkan pasir-pasir pantai yang ada di sekitarnya. Sesekali dia sengaja membiarkan ombak menenggelamkan kakinya hingga membasahi dress putihnya sampai ke pinggang. Rambut pinknya bergoyang diterpa angin sore yang begitu sejuk. Matanya sekejap terpejam, menikmati semilir angin yang membelai wajahnya.
Lagi-lagi pikirannya dipenuhi oleh seseorang. Seseorang yang sangat dirindukannya, rindu yang sampai terasa sesak karena begitu dalam. Dia tak menyangka, menghindari Sasuke, pergi jauh darinya, mencoba melupakannya dan menghentikan cintanya justru malah membuatnya menjadi begini menderita. Ah, lagi-lagi dia memikirkan pemuda itu. Meskipun otaknya memerintahnya untuk melupakan pemuda itu, tapi hatinya tak pernah menurutinya. Dan kali ini pun begitu, meskipun sudah satu bulan lebih berlalu, pikiran Sakura tetap tak bisa lepas dari Sasuke.
Gadis itu tak sadar, sejak tadi ada sepasang mata yang memperhatikannya. Menatapnya dari kejauhan hingga jarak mereka sudah sangat begitu dekat. Namun pemilik mata onyx hitam itu masih tetap tak berniat untuk mengucapkan apapun. Ditatapnya pemandangan dihadapannya dengan perasaan yang tak bisa dideskripsikan. Rindu itu akhirnya tersampaikan, menatap gadis itu dalam keadaan baik-baik saja sudah cukup membuatnya bisa sedikit bernapas lega. Lalu sekarang, apa yang harusnya diucapkannya pertama kali?
"Apa kabar?" suara alto yang khas dan familiar itu membuat Sakura tersentak kaget. Jantungnya seketika itu berdegup cepat. Kepalanya menggeleng-geleng seperti tak percaya dengan pendengarannya sendiri. Hatinya merutuki pikirannya yang semakin lama semakin tak terkendali seperti ini. Segitu bodohnya kah dia sampai membayangkan bahwa tadi dia mendengar jelas suara pemuda yang baru saja dipikirkannya!
"Kalau kau tak berbalik, kau tetap akan menganggap kalau itu hanya halusinasimu saja Saku," lagi-lagi suara itu terdengar begitu jelas. Sakura gemetar ketakutan, dia pikir pikirannya kini sudah tak beres karena bisa berhalusinasi sedemikian jelas.
Tapi gadis itu penasaran, kenapa suara itu seperti bisa membaca pikirannya? Dan akhirnya gadis itu memutuskan untuk berbalik. Tepat saat berbalik itu pun matanya membulat tak percaya mendapati seseorang yang selama ini selalu menganggu pikirannya berdiri dihadapannya. Menatapnya dalam dan hangat, dan… tersenyum?
"Kenapa… kau…" Sakura tak sanggup melanjutkan ucapannya, telapak tangannya menutup mulutnya sendiri seperti tak percaya pada penglihatannya sendiri.
"Sekarang sudah libur musim panas, aku bosan di rumah dan memutuskan untuk liburan disini," Sasuke menjawab enteng. Tapi dalam hati justru dia mengutuk dirinya yang begitu bodoh menciptakan percakapan kali ini. Kemana sikapnya yang dulu biasa ditunjukannya untuk sahabatnya ini? Kenapa dia jadi begini gugup?
"Ah! Ya benar," Sakura mengangguk paham. Sekejap dia berpikir bahwa Sasuke kesini dengan tujuan utama untuk menemuinya, tapi sekali lagi dia tak membiarkan pikiran yang terlalu percaya diri itu menguasai otaknya.
Setelah itu hening. Tak ada yang berusaha untuk menciptakan percakapan berikutnya. Keduanya terjebak dalam pikirannya masing-masing. Mereka sama-sama merasa rindu, sama-sama ingin mengucapkan kata itu, mengungkapkan semuanya, semua rasa yang selama ini mereka sembunyikan dibalik hubungan persahabatan itu. tapi justru tak ada yang bisa diucapkan saat keduanya sudah berhadapan dan saling bertemu. Hanya saling menatap dalam diam, tanpa berucap.
Sasuke menghela napas. Sudah cukup kebodohannya sampai disini. Jangan sampai kali ini pun dia tak berhasil mengucapkan apapun pada gadis di hadapannya ini. Setelah begitu jauh jarak dia rela tempuh hanya untuk bertemu gadis ini, untuk melepas rindunya, untuk mengungkapkan cintanya.
"Aku…" keduanya berucap bersamaan. Menambah suasana menjadi semakin canggung.
"Kau saja yang bicara duluan," ucap Sakura kemudian.
"Aku… merindukanmu," ucap Sasuke pelan. Kali ini mata hitam obsidiannya menatap mata hijau emerald milik Sakura dalam, mengunci mata itu di dalam tatapannya.
Gadis itu diam. Sekilas terlihat terkejut mendengar penuturan dari sang pemuda. Dia menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
"Aku… juga," ucap Sakura akhirnya. Kenapa suasanya menjadi canggung begini? Ada apa dengan dirinya dan juga Sasuke? Sakura bingung dan tak bisa memikirkan alasan yang paling logis dari keadaan yang sekarang dia alami. Jantungnya semakin berdegup kencang seiring tatapan Sasuke yang semakin lama semakin menghanyutkannya. Mata itu tetap sama seperti dulu, hitam pekat dan memabukkan. Entah kapan gadis ini bisa terlepas dari pesona pemuda dihadapannya ini, dia pun tak tau.
Dia berdebar mendengar ucapan Sasuke yang berkata bahwa pemuda itu merindukannya. Lalu apa maksud sebenarnya Sasuke datang kesini? Bagaimana dengan hubungannya dan Ino?
"Aku sudah putus dengan Ino, beberapa hari setelah kepindahanmu kesini," ucap Sasuke seperti bisa membaca pikiran Sakura.
"Kenapa? Aku lihat kau bahagia bersamanya, lalu kenapa berpisah?" Sakura bertanya tak mengerti.
"Awalnya aku pikir juga begitu. Tapi ternyata pikiranku itu salah," jawab Sasuke.
"Kenapa?" gadis itu menatap Sasuke tak mengerti.
"Aku lebih menderita setelah kepergianmu."
"Jangan bohong!" Sakura menggeleng tak percaya.
"Apa aku kelihatan sedang berbohong?" tanya Sasuke sambil menatap Sakura sendu. Ucapan gadis itu seketika membuat rasa percaya dirinya berkurang. Dia semakin bingung dan tak mengerti bagaimana caranya mengungkapkan perasaannya pada gadis itu.
"Tidak…" Sakura menggeleng. "tapi aku yang tak mau percaya," katanya lagi. Sasuke membisu. Matanya menatap hijau emerald itu tajam, mencari makna dibalik ucapan gadis itu tadi. Dia bilang dia tak mau percaya ucapan Sasuke? Kenapa?
"Kena – " belum sempat Sasuke menyelesaikan ucapannya matanya membulat kaget melihat Sakura tiba-tiba menangis.
"Apa aku salah mengucapkan sesuatu padamu?" Sasuke memegang kedua bahu Sakura lembut, meminta penjelasan.
Gadis itu hanya menggeleng. Diseka air matanya dalam sekali sentakan tangan.
"Lalu kenapa menangis?" Sasuke bertanya dengan nada khawatir.
"Aku hanya tak bisa percaya kau menderita setelah aku pergi. Aku tak mau percaya begitu saja, tak mau berharap apapun dari semua ucapanmu lagi, tapi nyatanya… Tetap saja aku mempercayainya – lagi," ucap gadis itu dengan suara parau mencoba menahan tangis.
Sasuke tersentak kaget. Terlalu dalamkah luka yang dulu telah ditorehkan olehnya di hati gadis ini? Sampai kemudian Sakura tidak bisa dan tidak mau begitu saja mempercayai kata-katanya? Pemuda ini tak tahan, menatap gadis ini menangis membuat hatinya berdenyut perih, dan bertambah perih karena tau alasan gadis ini menangis adalah karena dirinya.
"Maaf…" Sasuke merengkuh gadis pink itu ke dalam pelukannya. Dirasakannya aroma pink cherry yang tercium begitu jelas dari rambut pink itu. matanya terpejam menikmati perasaan hangat yang dirasakannya saat memeluk Sakura.
"Maaf aku telah banyak menyakitimu Saku, tolong jangan menangis lagi karena aku. Aku tak bisa memaafkan diriku sendiri kalau itu terjadi lagi," ucap Sasuke dengan nada menyesal.
Sakura membeku mendapati dirinya tengah dipeluk oleh Sasuke. Jantungnya berdebar tak karuan saat dirasakannya napas pemuda itu di lehernya. Sesaat dia ragu untuk membalas pelukan itu, namun akhirnya tangannya terulur dan membalas pelukan itu.
"Kau tak pernah salah Sasuke," ucap Sakura lembut.
"Aku tak mau lagi kehilanganmu, kembalilah ke Jepang," pinta Sasuke.
"Tak semudah itu Sasu…" Sakura tertawa kecil mendengar permintaan Sasuke.
"Hn," Sasuke hanya menggumam menanggapi ucapan Sakura. Dia terlalu terhanyut dengan keadaannya sekarang. Akhirnya rasa rindu yang menyiksa itu hilang perlahan, akhirnya dia bisa kembali mendapatkan cintanya ini, akhirnya gadis ini benar-benar berada dipelukannya. Ah, entah bagaimana Sasuke harus berterima kasih pada Kami-sama.
"Apa aku terlambat jika sekarang aku meminta kembali cintaku?" tanya Sasuke sambil berbisik.
"Aku tidak pernah mengambil cintamu asal kau tahu," jawab Sakura bergurau.
"Aku serius Sakura… Apa sudah terlambat jika aku memintamu untuk jadi milikku, sekarang?" Sasuke melepaskan pelukannya, mengalihkan pandangan matanya untuk menatap dua bening hijau emerald itu.
"Ya!" jawab Sakura yakin. Jawaban itu membuat Sasuke terkejut, jadi… Sudah terlambatkah dia?
"Benarkah?" Sasuke bertanya tak percaya.
"Ya, kau terlambat. Karena aku yang terlebih dahulu akan memintamu untuk jadi milikku," gadis itu menjawab sambil tersenyum manis.
Sasuke terdiam. Lalu sedetik kemudian dia balas tersenyum menatap gadisnya itu. Ternyata Sakura mempermainkannya tadi. Ah, hampir saja Sasuke berpikir bahwa kali ini dia akan patah hati.
"Jangan coba mempermainkanku Sakura," Sasuke menatap Sakura tajam. Kali ini dia yang akan gantian mempermainkan gadis itu.
"Aaaa gomen Sasukeee!" Sakura menutup matanya karena takut menatap mata onyx hitam Sasuke yang menatapnya sangat tajam. Namun setelah ditunggu beberapa detik, tak ada balasan apapun, dan Sasuke pun tak mengatakan apapun.
Perlahan dibukanya kedua mata emerald miliknya itu, dan tepat saat itu juga wajah Sasuke berada tak sampai 1 cm di depan wajahnya.
"Aku mencintaimu…" kata-kata itu tepat diucapkan Sasuke bersamaan dengan kecupan lembut di bibir Sakura. Dan tentu saja hal itu sukses membuat wajah Sakura merah padam dibuatnya.
"Kau curang Sasukeeee!" kemudian teriakan Sakura terdengar diikuti tawa Sasuke yang terdengar di pantai itu. Diantara debur ombak, diantara bunyi burung-burung yang melintasi pantai itu, diantara gesekan pasir pantai dan kaki-kaki dua orang yang saling mengejar itu, dan disaat matahari kembali ke peraduannya, membentuk siluet jingga pekat yang membuat segalanya menjadi terlihat lebih indah, dan berakhir bahagia.
If I could write another ending
This wouldn't even be our song
I'd find a way where we would never ever be apart
Right from the start
Jika boleh memilih, jika bisa kembali, maka Sasuke ingin mengulang semuanya. Memulai semuanya dari awal, disaat gadis itu berada disisinya, disaat mereka tak harus berpisah karena kebodohan yang dilakukannya dan dia berharap bisa menyadari perasaannya itu sejak awal. Namun jika begitu, pasti tak akan ada hal menarik untuk diceritakan kan?
ya ampun cerita macam apa ini? *bingung sendiri* makasih ya udah mampir bentar buat baca, reviewnya doong jangan lupa pliiis *puppy eyes* kritik dan saran boleh kok asal membangun hehe sekali lagi, thanks for reading and review pleaseeeeee...
