Episode 3 : My Memory
Pansy, Hermione, Ron, John, Lavender, dan Seamus bersenang-senang. Mereka bermain-main hingga malam. Apalagi Pansy yang kelewat senang dengan hubungan Hermione dan John yang renggang. Saat teman-temannya ingin tidur, John menyadari bahwa Hermione menghilang.
"Sial! Dimana gadis itu! Jangan-jangan…"
John panik dan memutuskan untuk mencari Hermione sendirian di hutan. Untung ia sudah diperbolehkan membawa tongkat ibunya.
"Lumos."
Tidak hanya menggunakan tongkatnya, John sudah mempelajari astronomi dan tahu letak bintang. Ia menggunakannya untuk mengetahui dimana utara, selatan, dll. Sedangkan Hermione di hutan menunggu seseorang untuk menjemputnya. Ia sangat ketakutan dan mulai menangis.
"Tolong, ya Tuhan, tolong aku! Kirimkan seseorang!"
John mendengar teriakan dan isakan. Ia buru-buru mencari sumber suara itu dan menemukan seorang gadis sedang duduk dan menangis disitu.
"John?"
"Hermione?"
Hermione langsung memeluk John dan menangis saking takutnya di hutan itu. John cepat-cepat sadar dan memasukan kembali tongkat ibunya.
"Hey sudah, jangan menangis lagi. Aku sudah disini," kata John menenangkan Hermione.
"Ya ampun, k-k-kalau k-k-kau tidak datang, entah a-a-apa yang akan terjadi pa-padaku," isak Hermione.
"Err… Hermione tentang yang ku katakan di sekolah, aku minta maaf. Aku menyukaimu dengan tulus kok. Hanya saja, yah, waktu itu aku tidak menyadarinya. Jadi, aku minta maaf," kata John perlahan.
"Benarkah?"
"Iya."
"Sungguh?"
John hanya tersenyum.
"Hermione, kau lihat bintang disana? Itu namanya bintang Polaris. Bintang itu akan selalu terletak di utara."
"Tapi, bukankah bintang selalu bergerak?"
"Tidak, Polaris adalah satu-satunya bintang yang tidak bergerak. Dia akan selalu diam. Itu adalah patokan utara. Jadi kalau tidak tahu harus kearah mana saat pulang, carilah Polaris dan ia akan membantumu pulang."
Hermione tersenyum sambil mendengarkan John.
"Eh Hermione, kenapa kau bisa sampai ke hutan?"
"Aku bengong dan asal jalan saja, makanya aku sampai kesini," jawab Hermione singkat.
"Ck, dasar cewek aneh."
"APA?"
"Sudah lupakan saja."
John mulai mengantar Hermione kembali ke villa. John berkutat dengan pikirannya. Bagaimana jika dia menolak? Ya ampun, sejak kapan aku jadi pengecut seperti ini…
"Hello? John, apakah kau tidak mendengarku?"
Suara Hermione menyadarkan John kembali.
"Oh, maaf. Ada yang ingin kau bicarakan?"
"Tidak," jawab Hermione ketus.
"Err, begini Hermione. Hari ini kan salju sudah turun, pasti besok salju juga sudah turun…"
"Ya ampun, tentu saja! Memangnya aku bodoh?"
"Dengarkan dulu! Karena filmnya sudah habis, maukah kau…"
"Ya?"
"Mmm, yah, kita bisa berjalan-jalan dan membuat boneka salju. Yah, tidak ada yang istimewa sih. Tapi, apakah kau mau…"
"Ya! Tentu saja aku mau ikut!"
Hermione menjawab lebih cepat. John kira wajahnya sedang kesal atau marah atau memutar matanya, tapi ternyata wajahnya memerah dan ia sedang tersenyum.
"Benar?"
Hermione mengangguk. Akhirnya aku bisa pergi dengan John pikir Hermione.
Mereka sudah sampai ke villa. Teman-teman mereka sudah menunggu mereka dengan wajah khawatir. Bahkan ada polisi yang rupanya dipanggil Mr. Parkinson.
"Astaga, demi jenggot Merlin! Kemana saja kalian? Aku dan keluargaku serta teman-teman kalian khawatir setengah mati! Oh ya ampun, Merlin, jangan sampai Johanna mendengar ini, gee," kata Mr. Parkinson yang sepertinya masih histeris.
"Kalian tidak apa-apa kan? Tidak luka kan? Apakah ada orang yang menganggu kalian?" Tanya Mrs. Parkinson sambil memeriksa Hermione dan John.
"Kami berdua tidak apa-apa Mr. and Mrs. Parkinson. Maaf telah menyusahkan kalian dan membuat keributan disini."
"Tapi, oh, demi Merlin, ya sudah, tidak apa-apa," kata Mr. Parkinson.
"Sudahlah, kalian boleh kembali tidur, biar kami memberesi masalah ini," jawab Mrs. Parkinson.
Sebelum kembali ke kamar, Hermione ditarik oleh Ron.
"Hermione, kenapa kau bisa hilang bersama John? Apakah dia menyakitimu?"
"Tidak, sebenarnya John menyelamatkanku. Aku hanya bengong dan berjalan asal, tahu-tahu aku berada di hutan."
"Oh, sebenarnya tadi aku ingin menyelamatkanmu, tapi aku tidak diperbolehkan keluar oleh orangtua Pansy, makanya, yah, maaf deh aku tidak menyelamatkanmu."
"Tidak apa-apa Ron."
Hermione langsung ke kamarnya sambil menguap. Ia sangat letih dan ingin cepat-cepat tidur. Sebelum ia bisa menutup mata, Pansy sudah menariknya dari kasur.
"Hey, bagaimana kau bisa hilang bersama John? Jadi itu cara licikmu? Di depan kau berpura-pura sebagai temanku dan di belakang kau merayu John? Bukankah sudah kukatakan bahwa aku menyukai John dan dia milikku-"
"Tunggu, kau tidak mengatakan apa-apa tentang kau menyukai John. Dan Pansy, dia bebas bisa berteman dengan siapa saja," potong Hermione ketus.
"Teman? TEMAN KATAMU? HERMIONE GRANGER, KAU BETUL-BETUL BODOH!"
Dan Pansy segera menjatuhkan dirinya ke kasurnya sendiri. Kamar di villa Pansy sungguh luas sehingga bisa memuat 3 kasur. Tentu saja Lavender, Pansy, dan Hermione tidur disini. Kamar anak lelaki sebenarnya mirip kamar anak perempuan, hanya beda wallpaper saja.
Liburan di villa sudah berakhir. Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh John dan Hermione karena mereka akan pergi bersama-sama. Yah, bukan ke tempat yang romantik dan spesial, tapi mereka tetap senang. Mereka berusaha mengingatkan masing-masing bahwa ini bukan kencan dan mereka pergi sebagai sahabat. Akhirnya mereka bertemu di sebuah taman.
"Hai."
"Hai."
"Apa yang kau lakukan?"
"Aku akan menemui seseorang."
"Oh, kapan?"
"Aku tidak tahu. Kalau kau, apa yang kau lakukan?"
"Aku akan menemui seseorang."
"Hmm, tampaknya orang itu tidak akan datang, bolehkan aku menggantikan dia Nona Granger?"
"Dengan senang hati Tuan Roger. Dan bolehkah aku menginjak bayanganmu?"
"Mengapa?"
"Agar dia tidak kesepian."
"Silahkan."
"Kalau besok ada waktu, mau berjalan-jalan lagi?"
"Tentu, jam berapa?"
"Saat matahari terbenam, sekitar 15.00."
"Baiklah."
Sementara Hermione menginjak bayangan John, Hermione berpikir untuk membuka rahasia tentangnya. Hermione tidak ingin orang mengetahui rahasia ini karena ia tidak ingin dianggap gila. Tapi ini juga langkah besar bagi Hermione.
"John, kau bisa menyimpan rahasia kan?"
"Tentu saja, kenapa?"
"Aku bisa melakukan ini."
Hermione mengambil salju dan menaruhnya di tangannya. Lalu saat Hermione melepaskan tangannya, salju itu tidak jatuh dan tetap melayang. John, kaget sekaligus senang karena ternyata Hermione adalah penyihir.
"Wah, Hermione, kau penyihir!"
"John! Itu kasar!"
"Tidak, aku tidak bercanda, karena aku penyihir juga!"
"Benarkah? Buktikan!"
John belum pernah melakukan sihir-tanpa-tongkat. Tapi ia mencoba mantra sederhana agar Hermione mempercayainya. Ia mengambil salju, lalu membuat salju itu melayang. Hermione benar-benar terkesan.
"Wah, ternyata kau benar-benar penyihir!"
"Aku tidak sabar sampai kita diterima di Hogwrats!"
"Hogwrats? Apa itu?"
Dan mereka menghabiskan hari dengan berbicara dunia sihir dan Hogwrats. Mereka juga membuat boneka salju dan gambar malaikat. Ketika hari sudah sore, Hermione mengundang John untuk makan malam di rumahnya. John tentu saja menerimanya. Kedatangan mereka disambut Henry Granger, paman Hermione dan Catherine Granger, sepupu Hermione.
"Paman Henry, Catherine, ini John Roger sahabatku. John, ini Paman Henry dan sepupuku, Catherine."
"Hai."
"Halo John, senang berkenalan denganmu."
"Paman, dimana bibi Lizzie?"
"Oh, dia akan bergabung besok, dia sedang lembur hari ini."
"Hermione, boleh aku melihat rumahmu?"
"Oh tentu, tapi aku tidak bisa menemuimu karena aku harus ibu. Maaf ya."
"Tidak apa-apa."
John berkeliling di ruang tamu. Sebagai pengganti Hermione, Catherine menemani John. John melihat sebuah foto yang tampak familiar. Tampak familiar karena di foto itu ada Arthur Weasley, ibunya, dan seorang pria yang tampak mesra menggandeng tangan Arthur.
"Ini foto siapa?"
"Oh, itu Paman Stuart. Dia sudah lama meninggal, Hermione tidak menceritakanmu?"
Tentu saja, sekarang semuanya tampak masuk akal! Tapi, astaga… pikiran John mulai berputar. Foto dan kata-kata itu mulai membawanya ke suatu kenangan.
"Ibu, kalau anak-anak lain mempunyai ayah, kenapa aku tidak?" Tanya John kecil.
"Ayahmu sudah meninggal," kata Johanna, tidak tertarik.
"Tunggu, ibu pasti bohong kan! Ibu hanya mencoba menutupinya bahwa dia masih hidup, ibu mencoba memisahkan kami, ibu…"
Karena tidak mendapat respon dari ibunya, John mulai tenggelam dalam pikirannya.
"Ibu, kenapa namaku Roger, menggunakan nama ibu, dan bukan nama ayah?"
Ibunya masih tidak menjawab.
"Apakah kau dan ayah, menikah?"
"Dengar John, aku dan ayahmu, yah, kami, hanya suatu kesalahan."
Jadi dirinya lahir hanya dari 'suatu kesalahan'.
Jadi selama ini ibunya tidak berbohong. Ayahnya benar-benar meninggal. John mengambil foto yang satu lagi, yang dicuri dari ibunya. Di foto ini pun Stuart ada juga. Jadi selama ini, John Roger, benar-benar anak yatim. Ia adalah putra dari Stuart Granger. Dan saudara tiri Hermione Granger, gadis yang disukainya.
"John, kau tak apa-apa kan? Maaf ya, aku harus menyiapkan meja untuk makan malam, permisi."
John tidak menghiraukan Catherine, sekarang yang ingin John lakukan adalah secepatnya pergi dari sini. Dan ia langsung keluar pintu. Ia dapat merasakan betapa sakitnya dadanya. Dan betapa ia merasa jijik terhadap sendirinya dan hatinya meneriakkan ketidakadilan terhadap takdir. Setelah sampai di rumahnya, ia langsung bertanya kepada ibunya.
"Ibu…apakah…aku…"
"Oh demi celana Merlin John, cepat katakan!"
"Apakah…aku anak Stuart Granger?" Tanya John dengan suara lemah.
Ibunya terkejut. "Da-darimana kau tahu?"
"Jadi aku benar anak Stuart Granger?"
Ibunya tidak menjawab.
"Bu, tolong jawab aku."
"Maafkan aku John, tapi i-i-itu benar."
Dan seluruh dunia John menjadi gelap.
Keesokan harinya Johanna dan John bersiap-siap untuk ke sebuah portkey. Mereka akan pindah ke Godric Hollow. Mereka berangkat tepat saat 15.00. Sedangkan Hermione yang malang sedang membeku menunggu John. Di dalam taksi, John sedang merenung sedangkan ibunya berkali-kali menyebutkan bahwa ini adalah keputusan yang tepat. Saat John hendak mengambil sesuatu di sakunya, ia merasakan sesuat yang halus. Sapu tangan Hermione! John menyadari setidaknya ia harus mengatakan perasaannya kepada Hermione.
"Pak, tolong hentikan taksi ini!"
"John, duduk di tempatmu! Kita akan segera ke port- maksudku, Airport!"
Tapi John tidak mendengarnya dan segera keluar dari taksi. John jatuh, dan rasanya sakit tentu saja. Tapi ia segera berlari menuju taman tempat bertemunya ia dan Hermione. Hermione, tunggulah aku. John tetap berlari dan menyebabkan kekacauan lalu lintas, ia tidak menyadari ada bus dan terlambat. Hal yang terakhir dipikirkannya adalah Hermione. Hermione, aku mencintaimu.
Hermione bangun keesokkan harinya. Ia masih kesal karena John melupakan janjinya dan pergi begitu saja dari rumah Hermione. Hari ini ada tugas piket di sekolahnya, jadinya Hermione berangkat ke sekolah.
"Dasar John, dipikirnya aku lupa, sial."
Hermione tetap menggerutu hingga ia menemukan keadaan tim piketnya agak aneh. Pansy dan Lavender menangis sedangkan Seamus, matanya merah sekali. Ron duduk termenung, tidak diiringi lelucon.
"Teman-teman, ada apa?"
Tidak ada yang menjawab. Apakah guru-guru member tugas yang lebih banyak?
"Hermione, a-a-a-ku tidak t-t-tahu b-b-bagaimana cara m-m-mengatakan ini ke-kepadamu."
"Astaga Lavender, ada apa?"
"John, dia…"
"Apa? Ada apa dengan John?"
Lavender tidak mampu mengatakannya. Ron melanjutkan kata-kata Lavender dengan pelan.
"Hermione, dia, John, meninggal."
Otak Hermione kosong. Tidak mungkin, dia ada janji denganku! Tidak, pasti dia memalsukan kematiannya dan berbohong. Hermione tidak menyadari larinya sudah berlari entah kearah mana. Tapi Ron berhasil memeluknya.
"Tidak, aku tidak percaya dia mati! Ron, aku sudah bertemunya dua hari yang lalu! Tidak mungkin ia mati! Tidak, bagaimana ini, aku sudah melupakan wajah John, Ron, bagaimana ini?" tangis Hermione.
Ron hanya diam dan memeluk Hermione. Walaupun ia tidak senang melihat John akrab dengan Hermione, hatinya sedih melihat Hermione menangis kencang. Ron tetap memeluk Hermione hingga Hermione berhenti menangis. Pansy menghampiri Hermione.
"H-h-hermione, John memintaku u-untuk mem-memberikan kaset ini untukmu. Se-se-sebenarnya ini h-h-harusnya diputar saat natal untukmu. Tapi k-k-karena kita akan melewatkan natal t-t-t-anpa dia, aku rasa ini berhak untuk m-m-menjadi mi-milikmu," kata Pansy, diselingi isakan.
Hermione mengulurkan tangannya. Ada tulisan di kaset itu. First Time…
Seorang wanita pirang sedang menunggu putranya yang dirawat di St. Mungo. Saat menemukan putranya tertabrak bus, ia cepat-cepat menghindar dari rumah sakit muggle karena takut para muggle tidak akan sanggup menangani dia. Dia tidak berharap suaminya untuk mendampingi dia. Apalagi setelah pengkhianatannya kepada suaminya. Saking pengecutnya ia, ia kabur dari rumahnya dan berpura-pura sebagai janda berdarah campuran. Ia juga tidak sanggup memberitahu putranya siapa ayah kandungnya dan ayah tirinya. Lagipula, Lucius pasti sibuk dengan urusan Pelahap Maut…
"Narcissa, kau, demi Merlin, bagaimana kau bisa disini?"
"Lucius?"
Lucius tidak berkata apa-apa dan langsung memeluk Narcissa.
"Narcissa, kau tidak tahu betapa aku mengkhawatirkan kau dan Draco! Apalagi setelah kau pergi dari Malfoy Manor!"
"K-k-kau masih mengkhawatirkan aku dan Draco? Setelah pengkhianatanku kepadamu?"
"Narcissa, aku mencintaimu, bahkan lebih daripada kau-tahu-siapa."
"Dan walaupun…darahmu tidak mengalir dalam Draco?"
Lucius hanya tersenyum.
"Walaupun darahku tidak mengalir dalam Draco. Tapi ia adalah buah hatiku."
Narcissa merasa dirinya sudah pulang ke rumah.
BERSAMBUNG
R&R PLEASE ^^
