Cast :
-Yesung as namja
-Ryeowook as yeoja
-Anggota Suju lainnya
-Anggota SNSD
Genre : Romance/drama?
Disclaimer : Ye punya Wook, Wook punya ye, Ye dan Wook saling mempunyai. XD
Warning : Genderswitch, abal, typo, gaje dan menyesatkan. Tapi bergizi dan baik untuk pencernaan. *dilempar* R&R ^^ Don't like don't read!
.
"Uljima noona," bisiknya.
"Aku benar-benar membencinya, Kyu!"
.
"Aku benci Yessungie!"
.
Your Eyes
"Apa yang terjadi noona?" Kyuhyun mulai panik saat dilihatnya Wookie semakin menjadi di pelukannya.
"Dia jahat, Kyu... Hiks. Dia... Dia..."
Kyuhyun hanya diam mendengar Wookie berbicara tentang semua perlakuan aneh Yesung akhir-akhir ini, termasuk Yesung yang seenak jidat melupakan janjinya.
"Lalu kita harus bagaimana noona?"
Belaian lembut Kyuhyun di rambut Wookie sedikit demi sedikit mulai meredakan tangis yeoja rapuh itu. Sambil sesekali sesengukan ia mengendikkan bahunya.
"Molla Kyu. Aku kecewa padanya,"
.
.
Semenjak kejadian itu, baik Yesung maupun Wookie tak pernah lagi berinteraksi seperti dulu. Tak ada teguran tak ada ejekan, ataupun bentakkan yang terlontar dari mulut masing-masing. Hanya sesekali saling mencuri pandang dan berkata seadanya, seperti memanggil saat makan malam contohnya?
Suasana canggungpun sering mendominasi keadaan apartement mereka. Apartement yang dulunya ramai bagaikan pasar ikan, kini sepi seperti makam pahlawan. Beruntung ada Kyuhyun yang selalu berusaha mencairkan suasana walau pada akhirnya akan mendapat deathglare dari Yesung ataupun Wookie.
Bicara soal Kyuhyun, akhir-akhir ini Wookie semakin terlihat dekat dengannya. Ia juga tak tahu kenapa, hanya saja sikap Kyuhyun akhir-akhir ini terlihat sangat ingin menghiburnya. Yah... Walau kadang cara penghiburan itu terlihat sedikit berlebihan.
Dan bicara soal kedekatan mereka, tanpa mereka sadari sepasang mata sipit yang begitu tajam sering kali memperhatikan mereka dari jauh. Mencuri pandang setiap gerak-gerik Kyuhyun yang semakin hari semakin bebas menempel pada wanitanya.
Yesung bukan orang munafik! Ia akui kalau ia tengah cemburu melihat Wookie sama sekali tak mempermasalahkan Kyuhyun yang sedari tadi bergelayutan di lengan mungilnya. Sungguh! Semenjak insiden beberapa hari yang lalu, saat dimana kehidupan Yesung mulai dikendalikan oleh yeoja licik bernama Jessica, sekalipun tak pernah ia memiliki mood yang bagus. Apalagi kini ditambah dengan Kyuhyun yang semakin memanfaatkan keadaan. Tidak di rumah, tidak juga di sekolah, Kyuhyun selalu mendekati Wookie sambil bermanja-manja padanya. Membuat Yesung ingin mencabik-cabik wajah adik sepupunya itu.
"Oppa, kenapa terus-terusan memasang wajah cemberut sih? Jelek tau!" Jessica bergelayut manja di lengan Yesung, membuat wajah pemuda itu semakin tertekuk.
"Bukan urusanmu!"
Mereka tengah berjalan di koridor yang sepi ketika mata Yesung menangkap dua pasang makhluk hidup yang paling tak ingin ditemui nya saat ini berjalan ke arahnya. Wookie dan Kyuhyun.
Mereka berdua tengah asik bercanda tanpa menyadari pandangan menusuk dari Yesung yang semakin mempersempit jarak mereka.
"Cih, secepat itu emosimu berubah oppa?" Jessica tersenyum licik. Sedari tadi tak sedikitpun matanya terlepas dari gerak-gerik Yesung, menangkap mata sipit itu terarah pada dua objek di depan sana. Senyum licik mengembang di paras cantiknya ketika sebuah ide laknat terlintas di otaknya.
"Wah wah, tak ku sangka Ryeowook-ssi benar-benar dikelilingi pria-pria tampan ya?" seringaian tergambar jelas di wajahnya ketika Wookie dan Kyuhyun berhenti tepat di depan dirinya dan Yesung.
Kyuhyun mendengus sebal, baru saja ia menghadirkan sebuah tawa di bibir Wookie, tapi gara-gara si nenek sihir ini tawa yang begitu manis itu lenyap seketika. Sejenak Kyuhyun memandangi Hyungnya yang berwajah datar. Akhir-akhir ini wajah tampan itu memang tak pernah menunjukkan ekspresi.
"Sedang apa hyung di sini? Bersama nenek sihir ini pula,"
"Heh, ga hyungnya ga dongsaengnya, sifat kalian sama ya? Suka berkata pedas!"
"Aku tak butuh komentarmu, nenek peyot!"
Jessica menggeram kesal, namun bukan Jessica namanya kalau tak punya segudang senjata licik untuk menjatuhkan lawannya. Kembali ia menggelayutkan lengannya di lengan Yesung manja, ia senderkan kepalanya di lengan berotot pemuda itu, membuat kesan bahwa pemilik benda yang tengah ia tempeli itu adalah seorang Jung Jessica.
Bukan hanya Wookie, Yesungpun terkejut akan tindakan Jessica barusan, dialihkannya pandangannya ke arah Wookie, ketika itu juga segumpal rasa sesak menghampirinya saat melihat pancaran mata Wookie meredup. Binar yang biasa ia tangkap dari mata puppy itu kini menghilang entah di telan siapa. Dan hatinya semakin sakit ketika mengetahui bahwa ialah penyebab dari segala kesedihan yeoja mungil itu.
"Kau tadi tanya Yesung sedang apa kan, Kyuhyun-ssi? Baiklah, sekarang pasti kau sudah tau apa jawabannya," Jessica semakin mengeratkan pelukannya, membuat sikap protektif terhadap Yesung 'nya'. Menunjukkan pada stiap mata yang melihat bahwa mereka tengah bermesraan, walau sebenarnya itu hanya anggapannya.
"Hei, sudah kukatakan AKU TAK BUTUH PENDAPATMU! Kau itu bodoh atau tak tahu malu sih?"
"Sudah Kyu. Tak usah dilawan," Wookie mmenarik kemeja Kyuhyun, membuat namja itu hendak berprotes ria kalau saja senyum memohon Wookie tak terpampang di wajah mungil itu. Membuatnya bungkam seribu bahasa dan sebuah mata yang dari tadi memandangi mereka tajam.
"Baiklah. Kalau noonaku yang manis ini meminta, akan kuturuti apapun kemauannya," sambil tersenyum diusapkannya tangan besarnya ke kepala Wookie, membuat yeoja itu tenang sesaat.
Tanpa mereka sadari Yesung terus-terusan menahan emosinya untuk tidak memporak-porandakan pemandangan di depannya. Ia remas kuat pergelangan tangan Jessica, cukup untuk membuat yeoja itu hampir menangis menahan sakit.
Bukankah itu tempat perlampiasan yang amat baik?
"Ayo pergi," ucap Yesung dingin sesaat sebelum ia beranjak dengan menyeret Jessica yang masih setia dengan ringisannya.
Oh tidak! Perlakuan Yesung barusan semakin menambah kesalahpahaman bagi seorang Ryeowook. Entah kenapa ia merasa kalau Yesung mulai menajiskan keberadaannya. Seperti tadi contohnya, tak sedikitpun ia melihat Yesung menatapnya, bahkan ia buru-buru pergi dari tempat itu, membawa serta Jessica dalam genggaman hangat seorang Yesung. Setidaknya itulah presepsi yang dimiliki yeoja mungil itu.
"Kyu, sepertinya aku baru menyadari sesuatu,"
Kyuhyun menatap Wookie heran.
"Apa itu noona?"
"Kurasa aku benar-benar telah menjadi seekor anak anjing yang menyedihkan sekarang,"
.
.
"Yesung lepaskan tanganku! Sakit tau!"
Yesung langsung melepas tangan Jessica kasar. Segera ia melangkah cepat meninggalkan yeoja yang sibuk mengimbangi langkahnya. Sungguh emosi seorang Yesung sekarang benar-benar sangat buruk.
"Hei! Tak bisakah kau berjalan lebih pelan? Perlakuanmu barusan melukai pergelanganku!"
Merasa tidak dihiraukan, Jessica dengan sekuat tenaga menarik tangan Yesung untuk berbalik kearahnya. Ketika itu juga ia terkejut menerima tatapan Yesung yang begitu menakutkan. Demi Tuhan! Tangan Jessica bergetar saat itu juga! Seperti melihat vampire yang tengah kehausan akan darah segar, seperti itulah ia ditatap oleh mata sipit itu.
"Kau! Jangan pernah usik lagi ketenanganku!"
Jessica terdiam, ia hendak memprotes kalau saja Yesung tak memotong ucapannya dengan kasar, membuatnya semakin bungkam dalam ketakutan.
"Aku tak peduli apa yang mau kau perbuat! Lakukan sesukamu!"
Jessica tersentak, tak menduga Yesung akan berkata demikian. Apakah permainannya akan berakhir sampai disini?
"K-kau tidak t-takut aku melakukan sesuatu pada W-wookiemu?"
Yesung menyeringai tajam, di dekatinya yeoja yang semakin mundur ketakutan. Didekatkannya bibirnya ketelinga gadis itu, membisikkan sesuatu.
"Kau yang harusnya menghawatirkan dirimu sendiri!"
Kalimat tajam itu sukses membuat Jessica terdiam mematung, fokus matanya tak lagi bekerja saat Yesung angkat kaki dari tempat itu.
"Akupun tak akan kalah,"
.
.
Suasana di ruang makan malam itu benar-benar terasa mengerikan. Sudah beberapa hari ini dentingan sendok dan piring mendominasi ruangan yang dihuni tiga orang itu. Makan malam yang dulu selalu terasa ramai dengan berbagai pertengkaran konyol, kini lebih didominasi rasa canggung dari tiap pihak.
"Noona, tambah nasinya! Masakanmu memang yang terbaik!"
Akhirnya sebuah suara memecahkan kebungkaman tiap mulut itu. Bertrimakasihlah pada Kyuhyun yang tak betah berlama-lama berada dalam suasana canggung seperti ini.
Wookie tersenyum simpul melihat Kyuhyun yang begitu lahap memakan masakannya. Kalau diingat-ingat, Kyuhyun begitu banyak membantunya belakangan. Berkat Kyuhyun juga ia mulai bisa tersenyum lagi walau jarang.
"Uhukk..huk hu.. Hoekk,"
Senyum Wookie berganti menjadi raut kawatir ketika mendapati Kyuhyun tengah terbatuk karna tersedak.
"Pelan-pelan, Kyu. Kau ini seperti tak pernah makan saja," ditepuknya punggung lebar Kyuhyun perlahan, memberikan pemuda itu segelas air. Yesung hanya diam, melanjutkan makannya tanpa ada niat melihat pemandangan yang tersaji di depan matanya.
Ia juga ingin diperhatikan oleh Wookienya.
Semenjak Wookie menampar Yesung, namja sipit itu sama sekali tak berniat untuk mendekati Wookie untuk sekedar meminta maaf. Ego dan gengsinya terlalu tinggi.
"Tak usah berlebihan seperti itu! Dia tak akan mati!" ucap Yesung dingin.
"Kenapa berbicara seperti itu? Kalau terjadi sesuatu dengan Kyu bagaimana?"
"Dia hanya tersedak. Ambil air sendiri juga bisa kan?"
"Hyung, kau cemburu?"
Satu kata barusan berhasil membuat Yesung bungkam. Menyebalkan! Ia mengutuki dirinya yang memiliki adik sepupu yang begitu jenius seperti Kyuhyun. Namun tentu saja ia tak akan mengakui tebakan Kyuhyun barusan. Berkilah sudah menjadi hobinya saat ini.
"Cemburu? Pada nona ini? Jangan bercanda Kyu!"
"Tidak hyung. Kau terlihat masam setiap kali aku berdekatan dengan Wookie noona,"
"Hentikan leluconmu bodoh! Mana mungkin aku cemburu pada nona ini! Aku sudah punya Sica,"
Untuk pertama kalinya, seorang Kim Yesung mengakui Jessica sebagai miliknya. Walau kita tahu apa yang dikatakan Yesung barusan hanya salah satu bentuk dari sejuta kilahan yang ia karang.
Sepertinya kecemburuan mulai mendorongnya untuk melakukan pembodohan.
"Tapi aku tak melihat itu hyung! Kau dan Jessica hanyalah kepalsuan! Kau cemburu padaku yang dekat dengan Wookie noona adalah kenyataan!"
"Kenyataan katamu? Untuk apa aku cemburu dengan sepupuku sendiri hanya karna seorang yeoja yang bahkan tak kuketahui asal-usulnya?"
"Hyung! Jaga bicaramu!"
"Bahkan Yeoja itu menumpang dan makan gratis tiap hari dirumahku. Hah, benar-benar membuatku mati gila sekarang! Merepotkan!"
"Hyung!"
Takk
"Aku sudah selesai,"
Wookie segera berlari menuju kamarnya sesaat setelah ia meletakkan sumpit dengan kasar di atas meja makan. Membuat perseteruan kecil yang semakin membuat hati gadis itu panas berhenti. Pandangan mereka teralih pada Wookie yang sudah menghilang di balik pintu kamar.
"Hyung, kali ini kau sungguh keterlaluan," Kyuhyun meletakkan sumpitnya, melangkahkan kakinya ke kamar Wookie mencoba menghibur gadis yang mungkin terluka atas perkataan hyungnya.
"Aaarggggg..."
Sementara Yesung? Ia hanya menjambak rambutnya sambil mengerang frustasi. Sungguh ia tak tahu bahwa kecemburuan bisa membuatnya berkata asal tanpa memikirkan orang yang begitu ia rindukan. Kilahannya kali ini memang terlalu berlebihan.
.
.
"Noona... Aku masuk ya?"
Kyuhyun membuka pintu kamar Wookie perlahan, melihat seorang manusia tengah duduk di atas kasur dengan kepala yang ia tenggelamkan dikedua lututnya. Ia sedang menangis.
"Noona, kenapa menangis? Perkataan Yesung hyung tak perlu dipikirkan," Kyuhyun mendekat, duduk disamping Wookie serta membelai kepala mungil itu hangat.
"Kyu, apa aku ini menyusahkan?"
"Ani,"
"Apa aku ini menyebalkan?"
"Tidak,"
"Apa aku patut untuk dilenyapkan?"
"Itu sangat dipantangkan!"
"Lalu kenapa Yesung terlihat semakin membenciku, Kyu? Bukankah harusnya aku yang membencinya masalah Jessica kemarin?"
Kyuhyun terdiam. Ia pandangi noonanya yang kelewat polos ini dengan senyum lembut yang langka dari seorang seperti dirinya.
"Yesung hyung tidak pernah membenci noona kok,"
"Lalu aku harus bagaimana Kyu? Tiap hari aku hanya bisa sakit hati atas perlakuan Yesung,"
"Kalau begitu lupakan dia, noona,"
Wookie terdiam, ucapan Kyuhyun barusan belum bisa ia cerna dengan baik. Ia tengah bingung saat otaknya mulai memproses tiap kata yang ia dengar.
"Kenapa kau berkata seperti itu, Kyu? Yesung itu hyungmu,"
Kyuhyun terdiam, perkataan Wookie barusan meredupkan pancaran matanya. Ia hanya tertunduk, tak sedikitpun melepaskan belaiannya pada rambut Wookie.
"Kalau boleh jujur, aku cemburu pada Yesung hyung..."
Ia menarik nafas, memberi jeda sejenak.
"Aku cemburu pada Yesung hyung yang selalu mendapat perhatian noona, hyung yang selalu menjadi pujaan para gadis, bahkan aku iri pada sikapnya yang selalu memikirkan orang dibanding dirinya..."
Kembali ia memutar bola matanya menatap langit-langit.
"Walau dia selalu menyangkal, aku tahu kok sedikitpun ia tak pernah tak memperhatikan keadaan sekelilingnya. Sejak kecil ibuku telah pergi menemui Tuhan, sejak itu pula Yesung yang sudah kuanggap sebagai hyung kandungku tak pernah berhenti menghiburku,"
Kyuhyun mentap Wookie, memancarkan senyuman yang begitu menyampaikan ketulusan. Sedikit banyak ia juga senang memiliki hyung seperti Yesung. Tapi sejurus kemudian senyumnya berubah masam melihat Wookie yang tak pernah menangis kini melelehkan air mata.
"Tapi untuk kali ini akupun kecewa pada Yesung hyung karna telah membuat noona menangis,"
"Lalu aku harus bagaimana Kyu?"
"Sudah kubilang lupakan dia, noona,"
"Tak bisa! Aku..." Wookie menunduk, menyiratkan kegalauan yang besar dari pancaran matanya.
"Ayolah noona... Buanglah segala presepsi bodoh tentang jodoh-jodoh itu. Alasanmu bahkan tak pernah jelas mengatakan Yesung hyung itu sebagai jodohmu,"
Wookie terdiam, pancaran matanya meredup, kepalanya tertunduk menghindari kontak mata dari Kyuhyun. Ada sebuah rahasia besar dari gerak-geriknya. Rahasia yang tak diketahui siapapun. Rahasia dari semua perlakuannya terhadap Yesung yang mengatakan bahwa Yesung adalah jodohnya.
"Kau tidak tahu Kyu,"
"Ya! Aku memang tak pernah tahu! Bahkan aku selalu tak pernah bisa memahami dirimu noona! Padahal baru hitungan minggu kita bertemu, tapi kenapa aku begitu peduli pada mu?"
Bentakan Kyuhyun barusan berhasil membuat Wookie terpana karenanya. Sungguh ia tak pernah menyangka bahwa lelaki yang selalu berbuat usil dan selalu menjahilinya dengan tingkah mesumnya itu bisa berkata demikian. Ia tatap mata onyx tajam di depannya, mencari sesuatu yang dapat meyakinkannya. Sungguh! Tak ada sedikitpun kebohongan yang tersirat dari mata indah itu.
Wookie tersenyum, ia peluk Kyuhyun erat penuh kasih.
"Kau tahu Kyu? Aku sangat membenci sikap mesummu itu, tapi kali ini kau telah menjadi dongsaengku yang sangat baik. Aku menyayangimu,"
Kyuhyun tersentak, sedikit semburat merah terpancar melalui pipi tirusnya.
"Kau tahu alasan sesungguhnya aku menatakan Yesung itu jodohku karna apa?"
Kyuhyun menggeleng pelan.
"Kau tahu perusahaan yang sekarang dipegang oleh appanya Yesung?"
Kyuhyun mengangguk sebentar.
"Dulunya perusahaan itu adalah perusahaan milik appaku, dan appanya Yesung adalah orang kepercayaan appaku,"
"Lalu?"
Wookie terdiam, bola matanya menerawang jauh ke langit-langit kamarnya. Sejurus kemudian ia tersenyum pahit, begitu menyakitkan.
"Appaku meninggal karna kecelakaan pesawat dan ummaku yang ikut dengannya terpaksa ikut pergi dan meninggalkan aku sebatangkara,"
Wookie menarik napas sejenak, tersenyum dengan tulus kali ini.
"Karna kami tak memiliki kerabat, maka dengan tangan terbuka appa dan umma Yesung menampung dan merawatku. Aku benar-benar merasakan kasih sayang orang tua kedua saat itu. Lalu karna pada saat itu pengetahuanku tentang dunia bisnis sama sekali nol, maka appa Yesunglah yang memegang semua kendali seperti yang dikatakan di dalam surat wasiat appa. Dan agar perusahaan tetap berada di tanganku, appa Yesung memberikan foto Yesung padaku. Ia bilang akan menjodohkan anaknya denganku agar aku bisa meneruskan perusahaan ayahku tanpa campur tangan orang lain. Appanya begitu memperhatikan keluarggaku sejak dulu,"
Kyuhyun mengernyit heran.
"Jadi karna perjodohan itu makanya noona bilang kalau Yesung hyung itu jodoh noona?"
"Bukan Kyu! Bukan itu alasannya,"
"Jadi?"
"Semenjak aku melihat foto Yesung, aku melihat ada sesuatu yang mengalir lewat pancaran matanya. Dari kecil aku bisa menafsirkan apa yang orang rasakan terhadap sesuatu hanya dengan melihat ke dalam matanya. Dan pada saat aku melihat kedua mata Yesung di foto itu, aku merasakan bahwa Yesung adalah orang yang ditakdirkan untukku,"
"Kenapa begitu?"
"Mollayo. Tapi melihat sikap Yesung yang tak akan pernah menerimaku sampai kapanpun membuatku ingin kembali ke rumah appa Yesung. Aku ingin menyerah saja dan membiarkan Yesung bahagia dengan Jessica,"
Ucapan Wookie barusan membuat Kyuhyun tersentak, tersadar akan sesuatu. Jika Wookie kembali ke rumah appa Yesung yang ada di Mokpo, itu berarti ia tak akan bisa lagi melihat Wookie noonanya kan? Itu brarti tak ada lagi bermanja-manja pada noona mungil ini. Dan pemikiran itu langsung membuat Kyuhyun berontak, ia guncang-guncang kedua bahu Wookie dengan kedua lengannya.
"Andwae noona! Noona mau ninggalin Kyu sendiri?"
"Kan ada Yesung yang akan menemanimu, Kyu. Lagipula jika tidak ada aku, kau bisa kembali menikmati kamar tidurmu ini tanpa harus sekamar lagi dengan Yesung kan? Ternyata aku selama ini benar-benar merepotkan ya?"
Wookie menggaruk kepalanya, memasang senyum yang begitu dipaksakan, sukses membuat seorang Cho Kyuhyun tak tahan untuk tidak menarik Wookie kedalam pelukannya.
"Noona jangan pergi! Aku rela tidur sekamar dengan Yesung hyung selamanya asal noona tetap tinggal. Bahkan aku berjanji tidak berbuat jahil dan mesum lagi pada noona ataupun Minnie noona. Ah, kalau perlu aku akan membuang PSP yang sering membuat noona kesal itu. Aku janji akan menepati semuanya!"
Kyuhyun mengeratkan pelukannya, menenggelamkan wajahnya pada bahu mungil milik gadis itu. Siapa yang bisa percaya bahwa pria itu sedang mempertahankan keberadaan Wookie sampai membuat janji yang bahkan ia sendiri tak yakin akan bisa menepati. Namun yang terpenting bagi seorang Cho Kyuhyun saat ini adalah cara untuk mempertahankan noona kesayangannya.
"Jebal noona... Jangan pergi ya,"
Sejenak Wookie tersenyum tulus melihat dongsaeng yang ia yakini sebagai jelmaan malaikat dari Kyuhyun. Ia tak tahu kapan dongsaengnya yang evil dan mesum itu berubah menjadi malaikat yang setia menghiburnya kapanpun. Perlahan diangkatnya telapak tangannya, diusapnya lembut rambut namja yang sudah ia anggap layaknya dongsaeng kandungnya.
"Kau dongsaengku yang sangat baik Kyu. Aku menyayangimu,"
Kyuhyun terdiam, mengangkat kepalanya menatap Wookie dengan pandangan tak suka. Membuat Wookie balas menatap heran.
"Tapi aku menyukai noona,"
"Aku juga menyukai Kyu,"
Sejenak Kyuhyun menggerutu, merutuki kepolosan noonanya yang sungguh kelewat batas.
"Bukan noona! Bukan seperti itu! Aku... Ehm, mencintai noona,"
Wookie melongo menatap Kyuhyun tak percaya. Seketika itu juga tawanya meledak-ledak, mengundang tatapan heran dari dongsaeng tampannya itu.
"Ya! Kenapa noona tertawa?"
"Hahaha—ups. Kau lucu Kyu!"
Alis namja evil itu bertaut.
"Kau bilang cinta padaku, lalu dengan Minnie? Apa kau tidak salah alamat untuk mengatakan kata-kata seperti itu?"
Kyuhyun terdiam menunduk malu. Wajahnya benar-benar merona saat ini.
Benar! Ia tak akan pernah bisa mengelabuhi Wookie. Pasti wanita itu telah melihat kedalam matanya dan menafsirkan sesuatu yang benar-benar membuatnya malu seperti sekarang.
"Kenapa menunduk Kyu? Kau malu? Aiigooo... Dongsaeng noona rupanya sudah besar. Noona jadi semakin tak ragu untuk meninggalkannya sekarang,"
"NOONA!"
"Ia ia. Sudah, lebih baik kau tidur Kyu. Bukankah besok kau ada tugas pagi di sekolah?"
Sejenak ruangan itu hening. Tampak Kyuhyun sedang ingi mengajukan suatu permintaan dengan takut-takut. Sementara Wookie sibuk memikirkan sesuatu yang harus ia lakukan malam ini.
"Noona aku boleh tidur di sini ya?"
Satu pertanyaan atau tepatnya permintaan Kyuhyun barusan membuat Wookie hampir terjungkang. 'Bagaimana ini? Kalau Kyu tidur di sini akan sulit untukku kabur malam ini,'
Tepat! Itulah yang dipikirkan yeoja mungil ini dari tadi. Keputusan Wookie sudah bulat. Apapun yang terjadi, besok pagi ia harus sudah menghilang dari tempat ini.
Tapi jika Kyuhyun tidur di kamarnya bagaimana bisa ia pergi secara diam-diam? Tidak bisa! Kyuhyun harus segera dibereskan.
"K-kau bisa tidur di kamar Yesung, Kyu,"
"Tidak noona! Aku ingin tidur bersama noona!"
Si bocah yang semakin keras kepala ini benar-benar membuntukan jalan pikiran Wookie untuk terus mencari alasan. Sungguh ia ingin kabur secepatnya dari apartement Yesung, walau sebenarnya ia tak mau.
"Tapi Kyu, kalau nanti kau macam-macam bagaima—"
"Tidak akan noona!"
Kyuhyun menarik Wookie ke dalam dekapannya, membawanya berbaring disebelah tubuh kurusnya sambil memeluknya erat. Takut kalau-kalau noonanya akan pergi kabur.
"Aku tidak akan membiarkan noona pergi karna kelalaianku. Sekarang ayo kita tidur, aku lelah,"
Pernyataan Kyuhyun barusan sungguh mengejutkan batin Wookie. Terang saja! Dari mana namja itu tahu kalau ia akan kabur malam ini? Benar-benar sulit jadinya.
Diliriknya Kyuhyun yang sudah terlelap sambil mendekapnya, otaknya pun bekerja ketika dirasanya lengan kekar itu mulai melengah. Segera ia menggerakkan tubuhnya perlahan, ingin bangkit. Namun baru satu gerakan, lengan pemuda itu kembali memelukknya erat.
"Jangan kabur, noona,"
Huh, bahkan Kyuhyun bisa tahu apa yang akan ia lakukan dalam keadaan mata tertutup seperti itu? Ini semakin mempersulit keadaannya!
.
.
Jam menunjukkan pukul satu dini hari ketika seorang gadis dengan pakaian lengkap serta sebuah koper merah membuka pintu kamarnya perlahan dan menutupnya kembali. Sejenak ia menoleh pada seorang lelaki yang tengah tidur lelap bagaikan anak babi. Ternyata kelelahan lelaki itu mampu membuat gadis itu melancarkan aksinya.
Sepatu boots merahnya ia hentakkan perlahan-lahan di lantai keramik mengkilap, menghindari bunyi derap langkahnya yang mungkin saja akan menggagalkan rencananya malam ini.
Sejenak ia lihat pantulan dirinya di cermin ketika melewati ruang tamu. Terlihat sangat sempurna dengan balutan mantel merah selutut miliknya. Cuaca diluar sana memang sedang dingin, meningat salju mulai turun dengan begitu lebatnya. Namun tekadnya sudah bulat! Apapun yang terjadi, malam ini juga ia harus angkat kaki dari rumah ini.
Ia mengangguk mantap pada bayangannya ketika dirasanya semua persiapannya sudah matang.
Termasuk hatinya.
Dilangkahkannya kaki mungil itu dengan mantap, mendekati pintu yang akan mengantarkannya keluar dari apartement seorang yang sudah terlalu lama ia usik ketenangannya.
Diraihnya kenop pintu itu tanpa keraguan. Ya! Tanpa keraguan kalau saja sebuah suara tak menginterupsi perbuatan nekatnya.
"Berhenti berbuat gila setelah kau membuat gila semua orang!"
Suara itu! Suara yang menambah debaran jantungnya itu membuatnya terpaksa menghentikan pergerakan tangannya yang sudah hampir memutar kenop pintu.
"Kenapa kau disitu? Seharusnya kau berpesta pora ketika tahu aku mau angkat kaki dari rumah ini,"
Yesung tersenyum dibalik punggung Wookie. Sedari tadi ia tak tidur hanya karna ingin memastikan bahwa gadis yang bersembunyi di balik mantel merah itu tak berbuat hal yang diluar batas akal sehatnya. Dan kini terbukti firasatnya benar kan? Bahkan gadis bernama Wookie itu nekat angkat kaki dari rumahnya saat hujan badai di luar sana melanda, ditambah waktu yang telah menunjukkan pukul sati dini hari. Bukankah itu patut dikatakan sebagai hal gila?
"Jangan siksa dirimu! Kalau kau ingin tinggal, tak usah berpura seolah kau harus pergi dari tempat ini!"
Seketika itu juga Wookie membalikkan badannya, menatap Yesung dengan sengitnya.
"Bukankah kau yang ingin aku pergi?"
"Kau yang menajiskan apartementku sehingga berani angkat kaki ditengah malam seperti ini,"
"Jangan berkilah! Kau sendiri menajiskan keberadaanku, Kim Yesung-ssi!"
"Kau!"
"Ya! Apa yang kau lakukan?"
Tak tahan lagi! Yesung benar-benar tak tahan dengan keadaan seperti ini. Segera ia tarik paksa pergelangan tangan Wookie, menggeretnya masuk ke dalam kamarnya tanpa sedikitpun menghiraukan rontaan gadis itu.
Brakkk
"Appo..."
Punggung mungil itu dengan sukses menghantam dinding, membuat sang pemilik meringis kesakitan.
"Apa yang kau lakukan hah?"
Tak ada respon khusus yang diberikan Yesung selain seringaian mematikan serta langkah yang semakin memperdek jarak mereka.
Darah yeoja mungil itu berdesir halus ketika merasakan tubuh Yesung menghimpit tubuhnya, merapatkannya ke tembok dengan kedua tangannya masing-masing disamping kepalanya.
"M-mau apa kau, Yesung-ssi?"
Sejenak alis Yesung bertaut. panggilan yang baru saja terlontar dari bibir manis itu terasa asing baginya. Ia pandangi Wookie yang memandanginya takut-takut, segera saja yeoja manis itu menundukkan kepalanya. Ia malu! Sangat malu dipandangi dengan tatapan seperti itu oleh seorang yang 'masih' ia cintai.
"Kenapa menunduk seperti itu? Bukankah kau baru saja seperti serigala yang mengamuk tadi?"
Jantung Wookie berdebam lebih cepat ketika sebelah tangan Yesung mulai mengangkat dagunya, membawa mata caramel itu agar bisa ia tatap dengan matanya yang setajam mata elang.
Sejenak kedua pasang mata itu saling beradu, berusaha menyelami isi hati masing-masing, mencari-cari sesuatu yang mungkin akan bisa melengkapi kekosongan dari hubungan tak jelas mereka selama ini.
"Aku membenci orang yang dengan mudah melupakan janjinya,"
Sukses! Bisikan tajam seorang Wookie barusan sanggup merusak keadaan tentram yang tadi sempat tercipta. Sanggup menggerakkan sebelah tangan Yesung untuk menjauh dari dagu mungil itu. Sejenak ia tersenyum pahit. Bagaimanapun ia tahu sebagian besar kekacauan yang ia benci ini berasal dari dirinya. Walau ia melakukan semua itu untuk kebaikan Wookie, akan terasa sangat tidak berguna jika gadis mungil itu tak mengetahui kebenarannya.
"Kau benar! Akupun membenci orang seperti itu!"
"Cih, naif sekali! Seperti penyindiran terhadap diri sendiri!"
"Kau bahkan lebih naif! Menampar orang di depan umum demi pelampiasan kekesalanmu!"
"Tiada orang yang lebih naif dibanding orang yang telah mengingkari janjinya sendiri!"
"Kau bahkan bukan siapa-siapa ku!"
Nyyutt
Telak! Satu pernyataan Yesung barusan langsung mengisolasi bibir mungil Wookie. Sedikit banyak ia sadar, kedudukannya bagi pemuda itu bukanlah apa-apa. Sedikt banyak ia mengerti bahwa ia bukanlah pengatur hidup namja tampan itu. Sedikit banya ia juga tahu, perasaannya selama ini hanyalah hal bodoh yang dialami manusia terbodoh sepertinya. Yesung tak pernah sedikitpun menerimanya.
Bagaikan menepuk angin dengan sebelah tangan.
"Kau benar! Bahkan aku bukan siapa-siapamu! KAU BENAR! KAU MEMANG SELALU BENAR! BAHKAN KAU TAK PERNAH SAL—"
"AKU MEMANG SELALU BENAR! BAHKAN TERLALU BENAR UNTUKKU MENGAKUI KAU BUKAN SIAPA-SIAPAKU..."
Wookie terdiam. Bentakan Yesung yang notabene lebih kuat dari bentakkannya mengentikan laju bibirnya berbicara. Ia benar-benar bungkam melihat Yesung yang seperti orang frustasi saat ini. Lelaki itu dengan wajah merah padam mulai menggaruk-garuk kepalanya, menatap yeoja didepannya dengan tingkah gusarnya.
Brakk
Wookie semakin terkejut ketika Yesung menumpukan kedua tangannya di masing-masing sisi kepalanya dengan kasar. Wanita itu menahan air matanya ketika Yesung memandanginya tajam sambil berbisik ke telinganya.
"Dan aku terlalu benar untuk mengakui kau yang bukan siapa-siapaku kini telah meracuni otak dan pikiranku untuk selalu marah melihatmu berdekatan dengan Kyuhyun!"
"Eh? Apa maksudmu?"
Seketika wajah ketakutan Wookie berubah menjadi super polos. Ia bingung kenapa Kyuhyun dibawa-bawa dalam pertarungan sengit ini?
"Aiishhh! Kau ini benar-benar,"
"Hei, apa maksudm—mmbh,"
Tiada kata, tiada kalimat, tiada suara yang terdengar ketika bibir manis Yesung mulai membungkam langsung bibir mungil penggoda iman para pria seperti dirinya.
.
.
Kriikkkk kriikkk kriikkk
TBC
Pletakduakduardoenggg *digampar karna ngeTBC adegan sakral#plak
Okeh, tanpa babibubebo, TRIMAKASIH BANYAK BUAT REDER YANG UDA RIPIU DAN NUNGGU FIC INI! ^^ Author terharu lagi *pelukcium#gampar
Mian kalo chap ini agak gimana gitu, banyak typo ato kesalahan. Mungkin next chap itu last chap. Jadi terus R&R ya reder yang baik hati ^^
uthyRyeosomnia : Ia gapapa de Cuma rambutnya doang, asal rambut yang 'itu' XD #plak Gomawo R&R nya chingu ^^ jangan lupa R&R lagi
Little cloud : Makasi chingu ^^ saya juga ga suka YeSicca si, tapi uda tuntutan pekerjaan *halah. Gomawo R&R nya chingu ^^ jangan lupa R&R lagi
kim ji hwa : Hehe.. ripiu lagi kalo gitu peluk lagi XD *dibakar. Saya juga suka Kyu ngatai si Minnie bohai XD Gomawo R&R nya chingu ^^ jangan lupa R&R lagi
ryeocloud : Ini uda author senteri latar keluarganya si Wookie chingu :D Gomawo R&R nya chingu ^^ jangan lupa R&R lagi
wookrim : Tenang chingu! Si sica uda saya yang ngegampar pake tampah #dibakar sica Gomawo R&R nya chingu ^^ jangan lupa R&R lagi
Eternal Clouds : Ini uda author bikin jelaous si ecung XD Gomawo R&R nya chingu ^^ jangan lupa R&R lagi
yongie13: Makasi ching ^^ Tenang! Kyu uda diamanin sama Minnie chagi kok XD Gomawo R&R nya chingu ^^ jangan lupa R&R lagi
nam seulmi : Ini uda author panjangin, walau dikit sih ==". Tp XD Gomawo R&R nya ya chingu ^^ jangan lupa R&R lagi
LeeSungHye040497 : Ezz... ga bole ejek-ejek lu ndut! Entar ga aku apdet2 lagi baru tau! *digetok readers. Gomawo R&R nya chingu ^^ jangan lupa R&R lagi
Fujo Anak KangTeuk : Gomawo ching. YeWook ga bakal kupisain kok. Kan appa sama umma ku XD #pletak Gomawo R&R nya chingu ^^ jangan lupa R&R lagi
Reviewer : Ini uda lanjut ching :D XD Gomawo R&R nya chingu ^^ jangan lupa R&R lagi
Ammy : Makasi chingu. Mian apdet lelet ^^" Gomawo R&R nya chingu ^^ jangan lupa R&R lagi
YeMiharuginzz : Keknya malas itu uda jadi penyakit de ==" #pletak Gomawo R&R nya chingu ^^ jangan lupa R&R lagi
Nessayukienessa : Ini uda dilanjut ching. Mian lama ya ^^" Gomawo R&R nya chingu ^^ jangan lupa R&R lagi
Lxon : Tau tu! Jessica minta digampar *dibakar duluan Gomawo R&R nya chingu ^^ jangan lupa R&R lagi
Makasi semua yang uda nyempetin baca fic gaje ini serta ripiunya :D
Makasi juga buat silent readers *kalo ada* yang uda nyempetin waktu buat baca. Kalo sempet ripiu ya ^^
REEEVVIIEEWW PLLEEAASEEE! ^^
