Sebelumnya tentu saja saya meminta maaf bila ada typo, kesalahan ejaan atau informasi.
Selamat membaca ^^
Author:Gapyu
Disclaimer: Naruto itu punyanya Masashi Kishimoto-san
"ramen, ramen dan ramen!" kata Naruto
'apalagi yang rasa miso dan daging sapi! ' pikir Naruto
"ramen itu tidak enak" kata kyuubi
'yang paling enak adalah kitsune udon' pikir kyuubi
Naruto berlari kearah menara hokage. Setelah ia merasa sudah menghilang dari jarang pandang Mizuki, bukannya berlari ia malah jalan santai. Topeng tranparan yang biasa digunakannya di panggung sandiwara, dilepas olehnya.
"Kyuubi, menurutmu sekarang kita harus bagaimana?"
"tidak tahu nak, yang pasti kau lebih baik segera menemui hokage tua itu.."
"maksudmu jiji, Kyuubi? Tapi apakah dia akan percaya dengan cerita kita yang kembali kemasa lalu dan bla bla bla itu?"
"tidak perlu nak, kau tidak perlu menceritakan hal ini kepadanya. Yang penting kau harus memikirkan sesuatu agar hokage tua itu mau meminjamkan gulungannya itu.."
"taruhan.."
"apa nak?"
"kyuubi ingatkan aku berapa kali aku menang taruhan denganmu.."
"403 kali nak.." kata Kyuubi seraya lipatan dan kerutan-kerutan mulai terlihat di dahinya. "memangnya ada apa dengan itu?" Tanya sang rubah.
"kekekeke, lihat saja nanti.." kata Naru dengan senyum licik terpasang di wajahnya yang bahkan dapat membuat Lucifer merinding dan gemetar karenanya.
Dalam perjalanannya menuju menara hokage, Naru pun menyadari akan tatapan-tatapan yang ditujukan kepadanya oleh para penduduk desa. Tatapan yang dipenuhi rasa benci, dendam dan.. jijik?
Narupun terus berpikir ulang bagaimana ia dapat bertahan hidup dengan situasi dan kondisi yang seperti ini. Bagaimana dahulu ia adalah seorang anak yang kesepian dan selalu berbuat onar demi mendapatkan perhatian dari orang-orang. Tetapi walau perlakuan penduduk desa yang begitu kejam kepadanya, Naru tetapu bertekat untuk melindungi desa Konoha, demi melindungi orang-orang yang dianggap berharga baginya.
Melihat kehadirannya yang tidak disambut baik oleh penduduk desa, Naru memutuskan untuk mengambil rute lain menuju menara hokage dengan melewati kompleks dari klan uchiha.
Sasuke pov
'Huh akhirnya aku bisa lolos juga dari tempat yang mereka sebut dengan akademi itu. sungguh membosankan dan tidak ada artinya untuk diriku yang sebagai anggota dari klan uchiha' Pikirku.
Setelah aku pulang dari akademi, aku langsung melakukan rutinitasku yaitu latihan intensif. Aku berlatih mati-matian, bertekat untuk menjadi lebih kuat agar dapat mengalahkan kakaku dan membalaskan dendam orangtuaku padanya.
Kuhabiskan 3 jam dari waktuku untuk berlatih keras disalah satu tempat berlatih yang ada di dalam kompleks uchiha, sampai dengan waktunya matahari terbenam dan digantikan oleh sang bulan. Keringat membasahi tubuhku, tubuhku lelah dan lemas, tak bertenaga setelah melalukan latihan intensif.
Entah secara kebetulan, keberuntungan atau ketidak beruntungan, aku bertemu dobe yang sedang melintas di dapan di depan pintu gerbang kompleksku. ia berjalan seraya tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila. Entah bagaimana, akan tetapi perasaanku mengatakan kalau akan ada sesuatu yang besar terjadi dan percaya dengan perasaanku, akhirnya aku mengikuti dobe diam-diam seraya menyembunyikan tekanan chakraku.
end sasuke pov
Normal pov
Naru berjalan menuju menara hokage seraya menikmati pemandangan di sekitarnya. Tak lama berjalan, kurang lebih 10 menit kemudian, Narupun akhirnya sampai di depan menara hokage. Terlihat sebuah pasukan dari ANBU menjaga ketat pintu masuk dari gendung tersebut, tak mau berlama-lama dan mencari masalah dengan para ANBU, Naru akhirnya memutuskan untuk masuk melalui jendela yang langsung tersambung ke ruangan kantor hokage.
"Hai jiji." sapa Naru dengan cerianya.
Kali ini kecerian Naru bertemu dengan Sarutobi, bukanlah sebuah kepalsuan. Sandaime hokage dari Konohakagure, Hiruzen Sarutobi telah meninggal dunia 10 tahun yang lalu. Beliau meninggal demi menahan serangan dari Orochimaru pada saat berlangsungnya ujian chuunin.
"Naruto? Bagaimana kau bisa- ah sudahlah lupakan, ada yang bisa kubantu Naru-chan?"
"Ah begini jiji, sebenarnya aku sudah lama menaruh rasa curiga pada salah satu guru di akademi, Mizuki-sensei." Jelas Naru, "Entah anda akan pecaya ini apa tidak, kali ini aku sengaja mengagalkan tes geninku."
Sandaime hokage terdiam sejenak, memandang Naru langsung dari mata ke mata. Setelah selang beberapa lama, sandaime hokagepun menganggukan kepalanya sebagai isyarat bahwa dia mengikuti dan meminta Naru untuk melanjutkan penjelasannya.
"Dan seperti apa yang aku kira, sepertinya Mizuki-sensei memang berpotensi untuk menjadi mata-mata. Ia menyuruhku untuk mencuri gulungan terlarang yang ada di kantor anda dengan mengatakan bahwa aku akan dapat lulus menjadi genin jika melakukan tes tambahan ini." Kata Naru dengan ekspresi muka yang serius.
"Naru, apakah kau yakin dengan semua ini? Ini bukan main-main, ini masalah serius."
"Aku sangat mengerti dan yakin dengan hal ini hokage-sama."
Kali ini Naru tidak mengunakan panggilan dekatnya dengan hokage seperti "jiji" atau "ji-chan", hal ini dimata hokage membuktikan bahwa Naru benar-benar serius dengan hal ini.
"Oleh karena itu, aku meminta ijin untuk meminjam gulungan terlarang dan menangkap Mizuki dengan tanganku sendiri."
Mata hokage langsung terbuka dan terbelalak setelah mendengar perkataan Naru. Berpikir kalau ini merupakan rencana yang tidak masuk akal dan gila dengan menempatkan genin (bahkan belum menjadi genin.. -,-) konoha berhadapan dengan shinobi tingkat chunin atau lebih.
"Naru! Ak tidak bisa membiarkanmu dalam bahaya. Aku akan mengutus pasukan ANBU saja untuk membereskan perkara ini."
"Tidak jiji, aku yakin kalau aku mampu melakukan hal ini."
"Ini bukan masalah mampu atau tidak mampu Naru. Naru, kau harus mengerti posisiku, aku tak mungkin membiarkanmu dalam bahaya." Kata sarutobi dengan nada yang lembut dan penuh kasih sayang kapada cucunya semua kecuali darah.
"Bagaimana kalau begini. Kau akan membiarkanku mencoba bertarung dengan Mizuki-sensei dengan ANBU yang mengawasiku. Lalu aku punya taruhan.."
"mmm,apa taruhannya?"Tanya Sarutobi dengan nada penasaran
"Kalau Mizuki-sensei berhasil melukaiku, aku yang menang."
"Mmm, memangnya aku akan mendapatkan apa jika aku yang menang?" Tanya sang hokage
"Aku akan memberitahuku rahasia mengalahkan dokumen-dokumen dan pekerjaanmu itu" *menunjuk tmpukan ketas yang menjulang tinggi yang ada di meja kerja hokage* "dan membatumu mengerjakan mereka dalam kurun waktu seminggu… bagaimana?"
"Tapi tetap saja Naru, aku tak bisa membiarkanmu dalam bahaya."
"Bagaimana kalau bagini, jika Mizuki-sensei berhasil melukaiku lebih dari 5 sayatan atau goresan, ANBU yang ditugaskan untuk mengawasiku boleh turun tangan dan ikut campur dalam pertarungan ku."
"Mmmm, lalu apa yang kau minta bila kau menang?"
Cerdik dan cermat jiji "kalau masalah itu, aku akan putuskan nanti, setuju? Kata Naru seraya mengulurkan tanganya kedepan.
"Setuju." jawab hokage seraya menjabat tangan Naru sebagai tanda persetujuan.
Setelah pertemuannya dengan sang hokage, Naru lansung berlari keluar ke arah hutan dengan membawa gulungan besar yang bertuliskan terlarang bersamanya. Ia bersembunyi dibalik semak-semak, menunggu hingga dirinya ditemukan oleh Iruka-sensei seperti apa yang pernah/ akan terjadi.
"Lalu sekarang apa Kyuubi?"
"Menugggu dan mengunggu nak, apa lagi?"
*sighhhh* Naru akhirnya menghela nafas panjang akan komentar atau jawaban Kyuubi yang sepertinya tidak terlalu membantu.
15 menit kemudian
Seperti yang sudah kuperkirakan, Iruka-senseipun akhirnya menemukan Naru. Menanyakan tentang bagaimana caranya Naru bisa mendapatkan gulungan terlarang tersebut sampai adengan dimana Mizuki-sensei akhirnya masuk ke dalam panging sandiwara ini.
Seperti yang sudah dijanjikan oleh jiji, sebuah pasukan ANBU bersembunyi dibalik pepohonan hutan. Nampak sekilas salah satu dari mereka ada yang mengenakan topeng inu dan neko.
'Kakashi-sensei dan Yuugao-chan'
"Naruto, berikan gulungan itu padaku!" Perintah Mizuki-sensei
"Naruto, jangan berikan gulungan itu kepadanya walaupun kau harus mati" kata Iruka-sensei
Naru yang memasang topengnya, memulai aktingnya yang sudah dipersiapkannya. "a-ada apa ini? Apa yang terjadi disini?" Tanya Naru dengan wajah yang binggung dan penuh dengan tanda tanya.
"Naruto! Itu merupakan gulungan yang berbahaya dimana terdapat jurus-jurus ninja terlarang didalamnya " jelas Iruka seraya menatap langsung mata Naru yang tampak binggung "Mizuki mempergunakanmu untuk mendapatkan gulungan terlarang itu!" kali ini, pandangan mata Iruka-sensei menjadi lembut dan dipenuhi dengan rasa simpati.
"Naruto, tidak ada gunanya kau memiliki gulungan itu, dan ak akan memberitahukan sebuah kebenaran kepadamu."
Iruka-senseipun tersentak kaget, wajahnya memucat setelah mengetahui kalau Mizuki akan memberi tahukan tentang Kyuubi padaku.
'oh iya, Kyuubi tolong ingatkan aku untuk setidaknya membeku saat Mizuki menceritakan dongeng basinya itu ya..'
"tentu saja nak, tentu" kata Kyuubi seraya tersenyum layakanya rubah yang licik.
"tidak, jangan mizuki!' teriak Iruka sensei.
"12 tahun yang lalu, kau tahu tentang rubah iblis yang di segel kan?" kata Mizuki seraya memandang Naru dengan seriusnya. "Semenjak kejadian itu, sebuah peraturan baru telah dibuat untuk desa ini, akan tetapi aturan ini ada untuk tidak diberitahukan kepadamu."
"Tidak kepadaku? Peraturan apa ini dan mengapa?" Tanya Naru kepada Mizuki.
"Peraturan yang dimana tidak seorangpun boleh mengatakan fakta kalau kau ini sebenarnya adalah si rubah iblis.. kau adalah si rubah berekor Sembilan itu! kau lah yang telah membunuh orangtua Iruka dan menghancurkan desa ini!"
Naru hanya terdiam seribu bahasa, Mizuki-senseipun melanjutkan dongeng sebelum tidurnya.
"Tidakkah kau mengerti mengapa semua orang membencimu? Sama sajanya dengan Iruka, dia sebenarnya juga membencimu!"
Sejenak keheningan terasa diantara mereka sampai terdengar suara tertawa lepas yang terbahak-bahak, ya itu bukan lain adalah Naruto Uzumaki, rokundaime desa Konoha yang kembali kemasa lalu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahannnya.
"nak, katanya kau mau pakai acara kaget dan sampai membeku segala."
'wkakakakakakakakaka, hahahahahaha! Maaf Kyuubi, tapi aku sudah tidak tahan dengan komedi yang tidak bermutu ini! Dan sepertinya ini sudah waktunya bagi Naruto Uzumaki Namikaze untuk menunjukan kebolehannya'
"N-Naru? " Iruka hanya bisa melihat murid kesayangannya itu dengan pandangan yang... 'bagaimana ia bisa tertawa setelah mendegar perkataan Mizuki!'
"Hahahaha.. maaf- maaf Iruka-sensei dan 'yang terhormat' mizuki-sensei. Hanya untuk sekedar pemberitahuan saja kalau aku ini sudah tau tentang Kyuubi, dan tentu saja aku tidak terkejut lagi dengan fakta yang kau berikan."
Mangalihkan pandangannya, Naru menengok kearah Iruka, air mata terlihat mulai menggenang di mata biru lautnya yang indah.
"Dan aku mau meminta maaf kepada Iruka-sensei atas kehilangan dari orang tua sensei. Aku mungkin tak bisa menghidupkan kembali mereka, akan tetapi aku berjanji akan melindungi desa Konohagakure ini dan tidak akan membiarkan kejadian seperti itu terulang kembali, dattebayo!"
"Naru-chan.."
"Tidak usah banyak bicara lagi, mati kalian!" teriak Mizuki.
Naru lupa dengan adegan dimana Mizuki akan melemparkan shuriken besar kearah Iruka. Dalam kejadian yang berlangsung dalam hitungan detik itu, seribu taktik dan rencana membanjiri otak Naru, akan tetapi tubuhnya entah mengapa tak mau menuruti kehendaknya. Pikiran Naru langsung menjadi kosong hingga sebuah teriakan dengan nada tinggi mengaung di seluruh penjuru hutan.
Suara yang didengarnya, membuatnya tersadar dari keadaannya. Naru merasa kalau ia pernah mendengar suara seperti ini dan ini bukanlah suara dari Iruka sensei, lantas siap-
"sasuke?"
Sasuke pov
Ahirnya setelah beberapa jam mencoba mencari dan melacak keberadaan si dobe, akhirnya aku dapat menemukannya didalam hutan dengan Iruka-sensei dan Mizuki-sensei disana.
Seraya terus menyembunyikan chakraku, aku mendengarkan pembicaraan mereka dari balik salah satu pohon disana. Aku mendegarkan cerita Mizuki-sensei dengan seksama, mendegarkan fakta yang baru saja terungkap kalau Naru adalah rubah iblis yang telah menyerang desa 12 tahun yang lalu.
'd-dope? Iblis? Tidak mungkin, walaupun ia selalu berisik dan bersikap menjengkelkan tetapi aku tahu naru.' Pikir Sasuke.
"na-naru sama sepertiku! Jadi ini sebabnya mengapa mayoritas penduduk desa membencinya, tapi kenapa?"
End sasuke pov
Normal pov
Sasukepun menghabiskan waktunya berdebat dengan dirinya sendiri yang membawa dirinya pada sebuah kesimpulan bahwa Naru bukanlah seperti apa yang semua orang kira. Secara tidak langsung, mulai dari detik itu, Naru telah mendapatkan respek dari uchiha muda.
Ketika Sasuke sadar, ia hanya melihat shuriken besar yang akan dilemparkan oleh Mizuki-sensei kepada Iruka-sensei. Merasa kalau ia mempunyai kesempatan untuk menghentikan shuriken besar itu dari posisinya, tanpa pikir panjang Sasuke meluncurkan dirinya sendiri.
Adrenalin berpacu hebat, berlari dengan sekuat tenaga keraha Iruka-sensei walau dengan kondisi tubuh yang letih sehabis latihan kerasnya. Akhirnya Sasuke dapat mengehentuikan laju shuriken besar tersebut sebelum dapat melukai tubuh senseinya, akan tetapi hal ini dapat dicapai dengan harga yang mahal. Waktu yang sempit membuat Sasuke tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri dari shuriken tersebut.
"arrrhhhhhhhhh!" teriak Sasuke kesakitan.
Naru yang melihat kejadian ini terlihat kaget bukan main, kejadian ini tidak seharusnya terjadi dan belum pernah terjadi dikehidupan sebelumnya.
Airmata, darah, shurike, Sasuke, Iruka-sensei..
Tidak kurang, tidak lebih dapat kita lihat ekspresi Naru yang berubah total. Topengnya sudah retak dan jatuh ketanah. Tubuhnya menegang, matanya yang polos, berubah menjadi serius dan keras layaknya mata seorang pertarung yang sudah melihat kematian.
"MATI KAU MIZUKIIIII!" teriak Naru dengan emosi dan amarah yang memuncak.
Naru berlari kearah Mizuki dengan kecepatan yang luar biasa, Iruka, Mizuki dan bahkan para ANBU mengalami kesulitan untuk mengimbangi gerakan Naru.
Naru membuat 3 buah kage bushin dengan tanpa menggunakan segel tangan, meluncurkan tendangan dan pukulan ganda. Ditendangnya Mizuki ke udara beberapa meter mengunakan lutut oleh bushin 1, bushin 2 dan 3 yang sudah berada di udara menendang mizuki dibagian rusuk kanan dan kirinya yang menimbulakan suara retakan keras, dan diselesaikan dengan Naru yang asli yang sudah menunggu disana, menendang Mizuki dengan bagian belakang kakinya yang ditambah dengan sejumlah chakra. Tubuh Mizuki yang sudah hampir tidak bernyawa, terbanting ketanah dan membuat retakan hebat yang berdiameter lebih dari 5 meter.
Naru melakukan pendaratan yang mulus, berdiri tepat disamping tubuh mizuki yang tergeletak ditanah. "inilah ganjaran karena kau telah melukai orang-orang yang berharga untuku. Anbu-san, tolong laporkan ini kepada hokage-sama dan bawa dia ke Ibiki-san"
Tak selang beberapa lama, beberapa ANBU yang telah dilihat oleh Naru menampakan dirinya, membawa pergi tubuh Mizuki dan Sasuke. Iruka memutuskan untuk tidak ikut dan tinggal disana bersama dengan Naru.
"Naru…"
"maafkan aku iruka-sensei, aku telah gagal melindungimu dan oleh sebab itu sasukepun jadi ikut terluka karenanya" kata Naru dengan suara kecil seraya menahan tetesan air yang akan keluar dari matanya.
Iruka sensei berjalan perlahan kearah Naru, memeluknya dari belakang dan memutar tubuh Naru sehingga dapat berhadapan dengannya. Keduanya hanya sama-sama terdiam, iruka memeluk Naru dengan eratnya dan tak lama kemudian, airmata mengalir deras hingga dapat membasahi jaket/rompi chuunin Iruka.
"Naru.. " kata iruka seraya menarik diri dari pelukan naru,
Mata Naru terbelalak kaget saat melihat Iruka-sensei melempaskan hitai-atenya dihadapan Naru. Hal seperti ini juga tidak pernah terjadi sebelumnya, Naru akhirnya mengetahui bahwa sedikit banyak, keberadaannya didunia yang baru ini telah mengubah masa depan.
Irukapun mengikatkan ikat hitai-atenya di lengan kanan naru sambil berkata "selamat Naru, akhirnya kau berhasil menjadi genin dari desa Konoha" katanya dengan senyum yang lebar tertanam dibibirnya.
"arigatou gozaimasu iruka-sensei.." kata Naru dan yang lebih mengejutkan Iruka, ia mengatakaan ini sambil membungkuk dengan begitu dalam.
"Ma ma Naru, sudahlah kau memang pantas untuk mendapatkannya. Bagaimana kalau kita melapor ke hokage dulu, lalu kau akan kutraktir ramen!"
"RAMENNNN!"Teriak nau dengan gembiranya. "Ne iruka-sensei, sesudah kita makan ramen, maukah sensei mengantarku ke rumah sakit untuk menjenguk Sasuke?" Tanya Naru dengan raut wajah dan nada bicara yang khawatir.
"Tentu saja Naru.. ayo, ikimashou!""
"HAIII"
Akhirnya selesai juga chapter ini.. mohon maaf bila ini sedikit membosankan, tapi chapter ini juga cukup penting untuk perkembangan cerita di chapter-chapter selanjutnya..
Sekali lagi kalau ada kritik atau saran, bisa dikirimkan lwat review, pm ato email..
And please reviiiiieeewww~~~ hehehehhe
Arigatou gozaimasu minna-san.. ja ne!
