So much thanks buat kalian yang udah baca dan review. Maupun yang baca doang tapi gak review. Dan yang review doang tapi gak baca –ditendang-.

Buat GoodBoyTobi, makasih ya, udah diingetin akan kebodohan saya XD 2008 cm itu sama dengan 20,08 meter yah? baru tahu kalo 1 meter itu 100 cm –didepak guru Matematika-. Hahahaha…padahal Kisame ngehiasnya cuman pake tangga yang tingginya 3 meter doang XD Makasih! Maksud saya, tinggi pohon itu 2008 mm. cuman salah ketik m jadi c XD.

Chapter kedua ini saya buat hanya dalam waktu 2 jam loh XD Rekor saya selama menjadi Author –info gak penting-.

Ya udah…met baca yah! ^^

Desclaimer: Masashi Kishimoto pemilik Naruto, Yuki-chan pemilik Akatsuki's X-Mas.

Dan Yuki update fic ini untuk pelepas stres karena UAS yang menggerogoti jiwa –lebay-. Dan untuk kalian yang udah dipusingin ama UAS, yang hampir di pusingin ama UAS, yang sedang dipusingin ama UAS, atau bahkan yang sama sekali gak pernah dipusingin ama UAS XD

-Kisame's part begins-

Kisame menatap rumah di depannya ini. Nafas terengah-engah keluar dari mulut dan insangnya (??).

"Shit! Udah capek-capek lari, rumah bagian gue jelek banget lagi!" umpatnya sambil menatap gubuk reyot di depannya ini. Sesekali mata Kisame menatap peta yang di bawanya. "Gue yang salah? Petanya yang salah? Atau Pein yang sengaja milih nih orang gembel?"

Kisame melupakan satu ucapan Pein.

Rumah harus matching ama muka dan kepribadian si pengirim.

Hawa dingin berhembus. Bersamaan dengan kencangnya salju turun malam itu. Sesekali kepala Kisame kejatuhan tumpukan salju dari pohon di atasnya.

"Gak papa lah! Doraemon aja gak pernah ngeluh pas bantuin Nobita berkali-kali!" Kisame menyemangati diri sendiri. Dia lalu berjalan tegap menuju gubuk yang didalamnya terdapat cahaya kecil. Entah itu lilin, atau bahkan hanya sebatang korek api.

Kisame hendak mengetuk pintu dengan kakinya, maklum, kedua tangannya membawa hadiah-hadiah. Tapi niat itu ia urungkan saat menyadari sesuatu.

"Oh iya ya. Misi ini kan rahasia. Mana ada Santa Clause yang ngasih hadiah secara blak-blakan, pake ngetok pintu lagi," pikir Kisame dan yang untuk pertama kalinya, Santa Clause ada di pikirannya menggantikan Doraemon. "Apalagi gue pake jubah Akatsuki! Bisa-bisa bukannya seneng, mereka entar malah ngira gue Giant lagi!" Nah…doi dah balik lagi ke Doraemon. Emang sejak kapan Giant pake jubah norak Akatsuki??

"Ya udah…lebih baik gue letakin ini diam-diam aja deh," gumam Kisame. "Ya iyalah diam-diam. Masak gue mau teriak Woi! Hadiahnya gue letakin depan pintu yah!! gitu!" pikir Kisame membodohi dirinya sendiri.

"Nah! Beres! Misi Doraemon beres! Selanjutnya, pulang!" kata Kisame sambil memandangi gubuk itu. Dalam pikirannya, Kisame bertanya-tanya, apa hadiahnya juga di matching-in ama rumah yah? kasihan dong…

Kisame lalu pergi dari sana. Meninggalkan dua kotak kecil berbungkus biru yang tergeletak di depan pintu.

"Mudah-mudahan gak ada maling lewat yang nyolong ntuh hadiah," pikir Kisame dengan dugaan yang masuk akal.

-oOo-

-Sasori's part-

Sasori menatap gedung megah didepannya ini. Sebuah gedung mewah nan besar berdiri didepannya.

"Hah? Yakin nih, Pein ngundang orang gedongan? Apa gak malu-maluin kita sendiri entarnya?" batin Sasori heran. "Lagian juga, siapa orang kaya yang jadi kenalan Pein yah?? Gak mungkin kan, ini rumah Obama?? Jadi ciut nyali gue. Masak Santa Clause lebih miskin dari yang dikasih hadiah sih??"

Sasori memikirkan cara untuk menyampaikan hadiah dikedua tangannya.

"Hm…gimana yah? susah juga nih!" pikir Sasori. Lalu dia memutuskan untuk memanjat pagar kokoh didepannya, dan dengan sukses ia masuk di halaman rumah mewah itu. Ternyata tadi dia masih di jalanan toh -.-'

"Nah…sekarang tinggal nentuin tempat buat naroh ini!" Sasori celingukan, lalu dia menatap tempat sampah. "Bego! Mana ada Santa Clause rendahan yang ngasih hadiah lewat tong sampah?"

Sasori melihat salah satu jendela di lantai bawah rumah itu terbuka sedikit. Dan Sasori pun mendapatkan ide. Segera dihampirinya jendela itu.

"Emang…ternyata mudah banget yak?" pikirnya sambil menaruh kedua hadiah itu lewat jendela yang agak terbuka. Ruangan disana tampak gelap. Mungkin lampunya dimatikan kali.

"Misi selesai. Dengan ini, gue bisa pulang!" kata Sasori pelan sambil tersenyum. Dan tak menyadari bahwa telapak tangannya yang ia gunakan untuk memasukkan hadiah tadi, kini basah.

-Hidan's part-

Hidan kini berdiri di depan sebuah tempat perjudian.

"Brengsek si Pein! Apanya yang rumah di matching-in ama kepribadian si pengirim?? Emang gue punya tampang muchikari apa?" batin Hidan misuh! Hey! Ini kasino, bukan tempat pelacuran, dodol!

"Padahal gue kan umat beragama yang taat. Kirim gue ke Masjid kek!" umpat Hidan lagi. Tak sadarkah dia, bahwa agama yang dianutnya adalah agama Jashin, bukan Islam?? -.-'

"Ugh!! Semoga Dewa Jashin mengampuni mereka yang berjudi di malam Natal seperti ini!" doa Hidan tulus.

Lalu Hidan mulai memikirkan, bagaimana caranya untuk menyerahkan hadiah ini secara diam-diam, tanpa harus ketahuan oleh satu orangpun??

"Andai gue Zetsu yang bisa nyungsep ke tanah," rintih Hidan. "Nyesel gue sering ngehina dia."

Hidan mencari-cari tempat yang mungkin bisa ia gunakan untuk meletakkan hadiah tanpa harus ketahuan. Dan tatapannya berhenti pada cerobong asap dapur.

"Biasanya…kata Itachi, Santa Clause suka keluar masuk lewat cerobong asap, dengan kata lain, cerobong asap lah yang menjadi terminal Santa," analisa Hidan sambil mengingat ceramah nonsense Itachi. Padahal udah jelas-jelas kalo Santa bawa-bawa kereta dengan rusa lebih dari 2 ekor dan bawa hadiah segitu banyaknya. Mana muat dia kalo lewat cerobong asap?? Tapi Hidan tak menyadari hal itu. Dia lebih percaya seorang Uchiha daripada seorang Author XD

Hidanpun akhirnya memanjat pohon didekat cerobong asap itu. Susah payah dia manjat, ampe jatuh berkali-kali, karena pohonnya licin kena salju. Padahal dia bisa loncat aja kan? Dia kan Jonin!

Hidan lalu bergelantungan kayak simpanse melalui ranting pohon, menuju cerobong asap. Setelah ia berada tepat diatas cerobong, sambil membaca doa semoga Dewa Jashin menyertainya (mana mungkin Dewa Jashin sudi ikutan meloncat kayak orang tolol gitu), Hidan akhirnya menjatuhkan dirinya ke cerobong asap dapur itu. Tapi karena terlalu di los, gak pake ngerem, dia jatuh bergedubrak dengan backsound reruntuhan tembok. Untung aja cerobong itu muat dengan ukuran badan Hidan, kalo gak, Hidan bisa nyantol disitu selamanya.

Dan akhirnya Hidan mendarat dengan selamat, tepat diatas perapian yang sedang mengobarkan api besar!

"Shit! Gue kira cerobong asap dapur! Bego!" umpat Hidan setelah melepas dan ngibas-ngibasin jubahnya ke lantai. Untung disana gak ada siapa-siapa. "Lagian juga, apinya gede banget! Itu perapian, atau mereka sengaja mau ngerjain Santa yang dateng ngasih hadiah dengan ngebakarnya??!! Dasar umat murtad!"

Hidan segera meletakkan hadiah di meja depan perapian. Tentu saja dengan masih menyumpah-nyumpah. Santa macam itu?? -.-'

Dan Hidan segera pulang dengan make teleportasi. Tau gitu ngapain dia susah-susah masuk kayak tadi, kalo akhirnya bisa keluar dengan cara yang amat sangat mudah??

-Kakuzu's part-

"Rumah siapa nih?" pikir Kakuzu sambil menatap rumah berarsitektur agak kuno, namun agak mewah. Cocok dengan wajah Kakuzu yang udah bangkotan, tapi sok cakep XD "Jangan-jangan ini rumah Tsunade. Atau rumah Kochikame? Atau rumah koruptor?" tebak Kakuzu sambil mengabsen orang-orang yang se-spesies dengannya.

"Ya udahlah! Yang penting gue cepet bebas dari tugas laknat ini!"

BOOF! Kakuzu pake teleportasi dan langsung masuk ke dalam rumah itu. Dia langsung naruh kedua hadiah di tangannya di dekat pohon Natal pertama yang ia temui.

"Beres! Saatnya pulang!" kata Kakuzu langsung menghilang.

Oh…Sasori, Kisame, dan Hidan. Kenapa kalian pake cara ribet kalo bisa pake teleportasi kayak Kakuzu?? -.-'

-Deidara's part-

Deidara termenung di depan sebuah asrama perempuan. Sudah beberapa kali sebelumnya Deidara protes pada Pein, kenapa harus ke asrama perempuan?? Well….asrama sih gak papa. Tapi kenapa harus PEREMPUAN???

Selain itu, beda dengan kawan-kawannya yang lain, Deidara membawa sekarung hadiah! Entah berapa jumlahnya. Dan ini tentu saja dinilai Deidara sangat tidak adil!

"Emang berapa orang sih, yang mau gue kasih hadiah?" gumam Deidara sambil cemberut. "Lagian seharusnya yang dapet bagian banyak kan Pein! Dia ada 6! Tapi masak dia cuman ngirim hadiah kesatu orang doang sih?" protes Deidara.

Deidara menghembuskan nafas berat. Capek! Dingin banget, lagi! Shit! Salju kok dingin yah? Andaikan salju yang turun malam ini sehangat mentari..

"Mana ada mentari hangat! Dimana-mana, mentari itu panas! Suhu permukaannya tuh lebih dari 1 juta derajat Celcius, dasar Author bego!" umpat Deidara sambil meluapkan kekesalannya yang seharusnya ditujukan pada Pein.

"Gimana cara gue masuk kedalam yah?" pikir Deidara. "Ribet juga nih!"

Deidara melihat seseorang keluar dari rumah itu.

"Ngapain tuh orang keluar dari rumah malam-malam dingin begini? Jangan-jangan punya misi yang sama dengan Akatsuki kali yah?" pikir Deidara. Tiba-tiba Deidara mempunyai akal.

Girl-whom-Deidara-saw's POV

"Sial! Dingin banget! Kenapa harus gue yang keluar buat ngunci pagar sih?" batin gue. "Gue kan cewek, kalo entar gue mati kedinginan kan masalah." Oh…jadi kalo cowok yang mati kedinginan, adalah hal yang wajar-wajar saja? O_o

"Misi!" kata seseorang bersuara berat yang membuat gue menoleh, dan mendapati seorang wanita berdiri di depan pagar asrama.

"Iya?" sahut gue heran. Tampang wanita ini agak ke bule-bulean gitu. Lagipula…oh my Jashin!! Malam-malam dingin gini dia cuman pake tank top dan celana hot pants?? Gila kali ya!

"Nama saya Ann. Saya datang dari White House, saya disuruh Presiden SBY untuk menyerahkan ini pada kalian!" kata wanita itu sambil menyerahkan sekarung hadiah. "Mohon diterima yah!"

"Sejak kapan SBY ada di White House?" pikir gue heran campur ngeri. "Lagian nih orang cewek ato cowok sih? Suaranya ngebass banget!"

"Terima kasih," jawab gue sambil menerima sekarung hadiah. "Tapi…jujur deh, Anda itu bukan waria iseng kan?"

Wanita itu tampak terkejut, seperti menyadari sesuatu.

"Oh…tentu saja saya cewek tulen! Pengen bukti?" ujar wanita itu dengan suara mengecil, tapi membuat dugaan gue lebih kuat kalo dia adalah seorang waria.

"Terima kasih! Sampaikan rasa hormat saya pada SBY, Miss Ann" ujar gue sambil buru-buru menutup dan mengunci pagar.

End of the Girl's POV

"Iya! Nama saya Ann!" kata cewek itu yang masih di luar pagar dengan suara sok-imut-imut-nya. "Anndre!" suaranya jadi kembali bariton.

Dan BOOF!! Sosok cewek tadi berubah kembali menjadi sosok Deidara dengan tampang jutek dan kesal.

"Kenapa?! Gak gue pas jadi cowok, gak gue pas jadi cewek, selalu aja dikatain waria?!?!?!"

-Itachi's part-

Itachi beda dengan kawan-kawannya yang lain. Disaat kawan-kawannya menempuh badai salju yang dingin, Itachi malah menempuh badai padang pasir!

"Sama ajah dinginnya, bego!!" semprot Itachi. Entah kenapa, di fic ini Author dikatain bego melulu.

Itachi lalu sampai di sebuah rumah. Suasana di desa ini sangat sepi. Mungkin mereka malas keluar karena kedinginan. Atau Itachi nyasar ke kota kematian?

"Gini deh…gue coba ajah ke salah satu rumah," ujar Itachi sambil menghampiri sebuah rumah yang paling besar diantara yang lain. Dasar! Santa Clause kok pilih-pilih!

Itachi mendekat ke sebuah jendela. Ia yakin, jendela didepan tempatnya ia berdiri sekarang adalah jendela kamar tidur. Itachi yang sudah keracunan hal-hal mesum dari Pein, mulai punya niat untuk mengintip kedalam. Siapa tahu disana ada peristiwa –piip- dan ia bisa nonton –piip- secara live??

"Ah! Enggak! Gak boleh!" batin Itachi sambil menggeleng-geleng. "Gak ada Santa yang mesum!" Dan Itachi baru menyadari, betapa tidak cocoknya ia menjadi Santa!

"Gue tes ah!!" batin Itachi. "Ehem!" ia berdeham.

"Hohohoho…!! Hohoho…!!" Itachi menirukan suara Santa, tentu saja dengan suara yang tidak terlalu keras. Ia juga menggerak-gerakkan lonceng di topi Akatsuki nya, agar tugasnya sebagai Santa semakin meyakinkan.

GUBRAK!! Ada sesuatu yang jatuh dari dalam.

"Shit!" terdengar suara umpatan dari seseorang didalam sana.

Mendengar umpatan itu, Itachi langsung kabur tanpa tanggung jawab (??).

"Gue ngeganggu mereka ya?" pikir Itachi masih ngeres. "Oh iya, hadiahnya belom gue kasih!"

Itachi balik lagi, dan langsung menaruh kedua hadiah itu di bawah jendela, tapi sebelah luar dari rumah. Gimana kalo hadiah itu ketutup ama pasir yah??

"Hohoho!!" sekali lagi Itachi ngerjain orang didalam dari luar jendela tadi, lalu pergi dari sana dengan cekikikan.

-Tobi's part-

"Um…Tobi ini ada di rumah siapa nih?" kata Tobi sambil memandang sebuah bangunan. "Rumah Sakit Jiwa??" Tobi membaca sebuah papan di depan bangunan itu. "Kok Pein ngirim aku kesini sih?? Emang aku gila apa?" tanya Tobi yang tumben, bisa tersinggung.

"Ah…ya udah lah! Mungkin Pein mau ngasih hadiah Natal pada bekas teman-temannya yang masih di rawat disini," ucap Tobi sambil tersenyum kecil di balik topengnya.

Tobi pun melangkah menuju bangunan itu. Sambil berpikir, bagaimana caranya dia memberikan hadiah itu?

"Ah…kayaknya lagi rame nih! Pasti banyak orang yang pengen ngerayain malam Natal dengan keluarga mereka yang dirawat disini," pikir Tobi sambil memerhatikan hiruk pikuk di rumah sakit itu. Banyak sekali ruang pasien yang dikunjungi oleh keluarga mereka.

"Kalo gini, gimana Tobi bisa ngasih hadiah dengan diem-diem??" Tobi tanpa sengaja melihat sebuah ruangan. "Kayaknya sepi tuh! Hihi…disana ajah deh!" pikir Tobi riang sambil menuju ruangan itu.

Beberapa menit kemudian….

"Hoah!! Akhirnya selesai!! Tobi bisa pulang!!" pikir Tobi sambil berlari keluar rumah sakit. "Merry Christmas, all!!" teriaknya.

"Eh! ada satu pasien yang kabur tuh!!" teriak seorang suster sambil menuding Tobi yang telah menjauh.

-The Leader's part-

"Brengsek!! Sialan!! Kenapa mereka (baca: 8 orang Akatsuki, minus Pein) pada nyuruh aku ke tempat ini buat ngasih hadiah??" umpat Pein sambil melangkahkan kakinya menuju sebuah 'panti pijat'. Tahu kan tempat apaan?

"Ya tempat buat mijit orang pegel lah, Author bego!" umpat Pein. 3 kali Author mendapatkan gelar Bego pembaca!!

"Trus cara ngasih nya gemana yah??" pikir Pein. "Andaikan wujud gue invisible," ratap Pein pilu. "Kalo invisible, bukannya malah nakutin? Entar orang pada lihat dua kardus hadiah melayang-layang dan jalan sendiri, lagi!" ralatnya.

Pein memasukkan kedua kardus itu ke dalam jubahnya, sehingga perawakannya terlihat lebih gemuk.

"Ahahaha…cara yang simpel! Gue jenius banget yuah?" pikir Pein senang. Ditekannya keras-keras lagi kardus-kardus itu agar masuk lebih dalam ke jubahnya. Padahal dari awal udah ada peringatan dari Kakuzu…"Kalo rusak, barang diganti saat itu juga! Awas lo!" gitu!

Pein memasuki panti pijat. Benar saja!! Ternyata tempat itu penuh dengan orang laki-laki!! Yang di pijat laki-laki! Yang mijat juga laki-laki!

"Pikiran yaoi elo kumat, Tor!" kata Pein. Entah siapa yang disebut Tor ama dia.

Pein dengan PD nya menolak saat seorang laki-laki menyambutnya dan menawarkan jasa pijatnya ke Pein. Kalo yang nawarin cewek, gak peduli tua atau muda, Pein pasti langsung iya-iya ajah.

Pein hanya mengatakan kepada laki-laki itu, bahwa dia datang kesini bukan untuk pijat, tapi untuk menyerahkan hadiah dari Santa Clause. Dan sama begonya dengan Pein yang terang-terangan dan tanpa sadar menggagalkan misi rahasia ini, tuh laki-laki pemijat juga dengan begonya senyum dan menyilahkan Pein untuk menuju pohon Natal di dalam ruangan. Entah untuk apa senyum laki-laki itu. Barangkali senyum itu berarti…

"Terima kasih…," atau…

"Dasar orang gila!"

Pein mencari-cari tempat yang kira-kira aman untuknya menaruh hadiah. Tempat dimana tak seorang pun akan melihatnya! Dimanakah itu??

"Masak di toilet sueh?" pikir Pein jengah. "Kok gue kebagian yang kotor-kotor mulu!"

"Ahahahaha…disini ajah deh!" Pein senang karena telah menemukan sebuah tempat yang tepat dan tersembunyi untuk menaruh hadiah-hadiah Natal itu.

Pein menuju dapur. Disana sepi kok! Dan Pein langsung menaruh, tepatnya menyelipkan dua kardus itu di atap / langit-langit yang berlubang! -.-" Sampe mampus pun tuh hadiah gak bakal ditemukan, Pein!! Niat ngasih hadiah Natal ke manusia atau ke tikus sih tuh orang?

-Zetsu's part-

"Apa bener nih, Pein nyuruh gue kesini?" tanya Zetsu sambil mengintip dari balik Venus Fly Trap nya dan melihat sebuah rumah mewah. "Katanya rumah di matching-in ama muka dan kepribadian si pengirim. Masak sih…ada orang cacat dan kanibal di dalam sana?" tanya Zetsu yang tanpa sadar mengakui bahwa dirinya cacat dan seorang kanibal.

"Ya udah deh…gak papa! Emang orang kaya pada normal dan sehat semua? Gak kan?" kata Zetsu putih.

"Buktinya si Einstein. Dia kan kaya, tapi gak normal," kata Zetsu item

"Hah?" Zetsu putih heran

"Bener kan? Si Einstein hapal semua rumus fisika! Pake nemuin rumus yang terkenal banget itu loh…gue lupa… Nah! Apakah orang kayak dia itu normal?? Manusia rumus! Pantes aja kepalanya botak," kata Zetsu item.

"Bukannya Einstein yang gak normal, tapi elu yang bego!!" kata Zetsu putih

"Manusia normal, itu gak jenius-jenius amat!" Zetsu item masih keukeuh

"Tapi juga gak bego-bego amat!" sembur Zetsu putih pada Zetsu item. "Udahlah…gak baek ngegunjingin orang mati. Kita harus segera menyelesaikan misi ini."

"Gimana cara kita masuk?" Zetsu item bingung.

Zetsu putih nampol Venus Fly Trap sisi kanannya. "Ya lewat tanah lah!! Gunanya apa kita tiap hari diledekin tikus got oleh anak-anak Akatsuki?"

"Tapi tikus got kan gak lewat tanah!" Zetsu item Venus Fly Trap sisi kanannya

"Mang elu mau beneran jadi tikus got?" sembur Zetsu putih. "Ya udahlah…saatnya kita buktikan, bahwa meskipun kita cacat dan sering dianggep gak berguna, kita harus buktiin, bahwa kita ini memang berguna!"

"YA!!" sahut Zetsu item mantap. Cuma YA saja!

Zetsu nyampe di sebuah ruangan.

"Wah…ruang makan!" seru Zetsu putih pelan sambil ngintip dari balik Venus Fly Trap nya yang masih tertutup.

"Tapi gak ada manusia nya..," Zetsu item agak sedih.

"Kita harus punya niat, selama Natal, kita harus jadi vegetarian!" kata Zetsu putih.

"Cuman sehari dong? tanggal 25 doang," kata Zetsu item

"Emang elo mau jadi vegetarian seumur idup?"

"Taruh dimana yah hadiahnya?" kata Zetsu putih.

"Oh iya! Gue inget ama ucapan Itachi! Katanya, Santa itu identik dengan semua hal yang dingin!" kata Zetsu item.

"Maksud?"

"Kita taruh aja hadiahnya di tempat dingin," kata Zetsu item. "Disana," Zetsu item menunjuk sebuah kulkas dengan kakinya.

Zetsu putih tersenyum. "Okeh! Beruntung banget kita, nemuin tempat yang cocok!"

Zetsu segera menuju kulkas itu, dan langsung membuka pintu kulkas dengan kakinya. Lalu, dijorokkannya Venus Fly Trapnya ke dalam kulkas, dan Venus Fly Trap itu membuka, lalu mengeluarkan dua buah kardus dari dalamnya. Dan dua kardus itu mendarat aman di dalam kulkas. Kebetulan banget yah?? XD

"Fiuh…akhirnya, mata gue bisa lihat dengan leluasa," kata Zetsu item.

"Mata lo kan kuning. Kena hepatitis B ya lo? Jangan nularin gue ah!" kata Zetsu putih

"Eh, bego! Kalo gue kena, elo juga kena! Kita kan sehati!" kata Zetsu item.

"Sehati?" Zetsu putih jaws dropped. "Masak gue hemafrodit?"

"Ngomong-ngomong…kita berhasil menyelesaikan misi ini! Kita berhasil membuktikan bahwa kita sangat berguna!" kata Zetsu item sambil berurai air mata. Terdengar nyanyian We are the campion dari lubuk hatinya.

"Iya! Pulang yuk!" kata Zetsu putih

Dan mereka kembali menghilang ke tanah, dengan meninggalkan lubang yang cukup besar di lantai ruang makan itu

Ternyata…mereka benar-benar tak berguna -.-"

-oOo-

Hm…Yuki buka pertanyaan ^^

Rumah siapa yang didatengin para Santa Clause (gadungan) itu? Dan untuk siapa akhirnya hadiah dari Tobi diberikan?

Dimana Sasori dan Tobi meletakkan hadiahnya?

Apa yang dilakukan orang dalam kamar pada misi Itachi? XD

Sampaikan jawaban kalian lewat review. Kalo dugaan kalian bener, Yuki kasih tepuk tangan –ditabok-

Review, ya ^^