Makasih banyak buat kalian yah!! makasih yang udah ngasih dukungan, pendapat dan kritik ataupun whatever lah pada Yuki dan fic ini –peluk-peluk para reviewers tanpa menyadari acungan golok di tangan mereka-
Sebenernya, chapter kali ini panjangnya 18 lembar MW. Karena takut pembaca pada tepar karena bosen dan mantengin kompu / HP karena baca chapter ini, makanya, chapter ini Yuki cut jadi 2 bagian. Sambungannya ada di chapter depan ^^ total chapter kali ini sekitar 11 lembar MW. Jangan bosen yuah ^^
Dan juga, Yuki kaget sekali, ternyata Yuki tak pandai mendramatisir / sok misterius yah T.T Buktinya, jawaban para reviewers banyak yang ngena dan betul!! –jedot2in kepala ke VFT Zetsu- para reviewers yang tebakannya betul, Yuki cantumin di bawah! –semua nengok ke lantai- errr…maksudnya di akhir chapter ini.
Ya udah…langsung baca yah!!
-oOo-
Sasuke membuka pintu rumahnya. Well, rumah yang bisa dibilang gubuk. Setelah berpisah dari tim Hebi, Sasuke mulai terkatung-katung dan ia berniat tak akan kembali ke Konoha! TAK AKAN!! Dimana harga diri Uchiha jika ia kembali ke Konoha dengan keadaan ngegembel kayak gini? Lagipula, dia dulu juga terkenal sebagai pengkhianat dan pembenci Konoha. Masak ujung-ujungnya dia harus pulang kampung juga? -.-'
Sasuke melihat sekeliling rumahnya, tempat berukuran 3X3 meter itu. Semua masih tampak sama. Tak ada kado yang menunjukkan tanda-tanda bahwa semalam Santa udah rela mampir ke gubuknya ini. Tak ada hamburan salju yang menandakan kereta Santa telah mendarat disini. Dan tak ada reruntuhan rambut putih dari jenggot Santa yang menandakan Santa semalam telah minum kopi disini (??).
"Itachi pembohong!" rutuk Sasuke pelan, teringat akan cerita Santa yang dulu waktu Sasuke kecil, sering diceritakan dengan semangat oleh Itachi. Padahal dari kecil Sasuke dah tahu, itu semua hanya omong kosong. Tapi Itachi memaksa adiknya untuk percaya. Dan saat Sasuke telah percaya, Sasuke baru sadar, yang patut untuk tidak dipercayai itu bukan Santa, tapi Itachi!!
Sasuke membuka pintu rumahnya. Ia ingin melihat indahnya salju diluar. Ingin membandingkan, lebih putih mana antara salju dan kulit Sai (??).
Dingin! Sangat dingin. Apalagi untuk Sasuke yang memakai atasan tanpa kancing seperti ini. Menyesal dia dulu menerima baju dari Orochimaru ini dan membuang kaos kesayangannya.
"Biar dadamu yang seksi kelihatan," kata Orochimaru dulu dengan tampang khas pedophile.
Sasuke tertegun menatap sesuatu yang tergeletak didepan pintunya. 2 buah benda kotak kecil.
"Ah…kado Natal yah?" ucap Sasuke sambil sumringah sedikit. Meskipun tak ada orang yang melihatnya, entah kenapa melakukan senyum adalah perbuatan tabu bagi Sasuke. Tak heran kalo Santa tak sudi mampir ke gubuknya XD
"Tapi kok warna kertas kadonya biru?" gumam Sasuke sambil memungut kedua kotak itu. Ia lalu menutup pintu dan kembali lagi kedalam, mengurungkan niatnya untuk melakukan perbandingan putih antara salju dan Sai.
"Pasti bukan dari Santa. Kalo dari Santa, warnanya pasti merah dan putih," analisa Sasuke. "Atau Santa lagi kehabisan kertas kado warna merah putih? Yang dikirimi kado ama dia kan orang sedunia?"
Sasuke pun membuka kedua kado itu dengan tatapan nepsong. Semoga saja isinya baju hangat! Atau minimal buku panduan untuk jurus keren baru lah!
"Siapa tahu Santa jago dalam jutsu," pikir Sasuke. "Hah?" Sasuke tertegun bengong sambil menatap benda yang keluar dari masing-masing kotak.
Dari kotak pertama, hanya ada satu lonceng kecil. Ditambah dengan foto narsis seorang atau seekor atau apalah itu, warna biru, gigi tajam, dan bawa-bawa pentungan gede, mengingatkan Sasuke pada Suigetsu. Dan dari kotak kedua, hanya ada sepucuk surat.
"Buat apaan benda kayak gini?!" geram Sasuke sambil memegang dengan tatapan jijik pada lonceng kecil itu. Bunyi gemerincing pun terdengar. "Aaaarrrgghhh!! Panas!! Panas!!" batin Sasuke tak jelas, saat mendengar bunyi lonceng itu. Dia langsung membuang lonceng itu kedalam perapian. Dan dalam beberapa menit, lonceng malang itu telah meleleh hancur.
Sasuke melihat foto itu. Perasaan pernah lihat. Sangat familiar. Tapi siapa dia? Apakah dia salah satu fangirls Sasuke?
"Apa-apaan sih ini? Sejak kapan Santa mukanya dipermak jadi ancur begini? Cuman ngasih lonceng kayak gitu lagi!" rutuk Sasuke kesal.
Dia lalu membuka surat itu. Inilah satu-satunya harapan terakhirnya. Siapa tahu didalam surat itu ada cek 1 milyar ryo. Meskipun mustahil sih… Tapi kan motto hidup Sasuke adalah Nothing's impossible, I'm so incredible -.-'
Sasuke lalu membaca tulisan di kertas folio itu. Hancurlah harapannya. Kertas cek tak ada yang ukurannya segede ini.
Merry Christmas, wahai orang yang miskin!
"Good! Dugaan gue kalo Santa itu tidak ada semakin kuat!" kata Sasuke.
Di hari yang damai dan bersalju ini, kami, para peri Natal, memberimu sedekah untuk menyambung hidupmu.
"Sedekah??" Sasuke sweat dropped.
Selembar foto si peri, dan sepucuk surat ini.
Dengan surat ini pula, kami mengundang kamu untuk hadir dalam pesta Natal bersama kami. Pesta Natal yang mewah dan termeriah yang mungkin akan menjadi pesta Natal yang seharusnya tak pantas untuk kau hadiri, orang gembel.
Kau bisa datang ke gua di dekat kutub, 100 km dari sini (kira-kira segitu). Jangan khawatir soal transportasi. Kau bisa datang sendiri dengan kakimu dan pulang sendiri dengan tanganmu (??).
Merry Christmas, orang miskin!
"Dari tadi nih peri bawaannya ngehina gue mulu!" dumal Sasuke. "Gak nyesel gue ngebakar loncengnya!"
Nb: loncengnya jangan dibakar, itu terbuat dari emas 24 karat loh!
"AAAAAAARRRGGHH!!"
-oOo-
"Aaaaaaaaarrrggghhh!!"
Terdengar teriakan super keras dari arah kamar mandi.
"Siapa tuh yang menyanyi?" tanya cowok berkacamata goggle dengan cuek sambil tetap memainkan PSP nya.
"Bukan menyanyi, Matt-kun," ralat sang cowok yang berambut putih, dengan memainkan puzzlenya. "Itu suara Mello-chan yang sedang mengejan. Biasa, dia kan kena sembelit menahun."
"Aaaaaaaaarrrrgghhh!!"
Suara itu tedengar lagi.
"Tapi apa suara mengejan segitu overnya?" tanya Matt campur kesal karena permainannya langsung game over gara-gara diringi backsound dari Mello.
"Kita lihat yuk!" kata Near sambil berdiri sambil membawa puzzle yang telah ia susun dengan sempurna. "Siapa tahu Mello-chan melahirkan."
Dan Matt pun menahan untuk tidak nabok Near.
"Ada apa, Mello-chan?" tanya Near sambil langsung membuka pintu kamar mandi yang tertutup.
"AAAAAAARRRGHHH!!" Mello semakin keras menjerit saat Near dengan seenak otaknya (?) membuka pintu kamar mandi saat Mello telah menanggalkan seluruh pakaiannya.
"Um…sepertinya Mello-chan sedikit terkejut," kata Near sambil membiarkan sebuah gayung hasil lemparan Mello nyangkut di kepalanya.
"Bukan hanya sedikit! Tuh cowok nyaris jantungan, dodol!" kata Matt.
"Lain kali ketok pintu dulu dong, Near!" gerutu Mello sambil membuka pintu, setelah ia mengenakan kembali pakaiannya. "Lo jadi cowok jenius gak sopan banget!"
"Kalo nanti Mello-chan mati di kamar mandi, saya harus ngetok pintu dulu untuk diijinkan masuk?" kata Near.
"Udah deh! Percuma ngomong ma anak pinter!" kata Mello kesal. "Tuh! Kalian lihat di bak mandi! Ada apa?" tanya Mello sambil menunjuk ke dalam kamar mandi.
"Ada air?" tanya Matt dengan tebakan terjenius.
Mello, Matt dan Near masuk kedalam dengan langkah hati-hati. Near ada didepan, Matt dibelakang Near, dan Mello posisi paling aman, bontot!
"Kalo ampe bom itu meledak pas gue masih di dalem, gue bunuh lo, Mel," kata Matt berbisik.
"Lagian siapa bilang ada bom?" kata Mello ikut berbisik.
Dan mereka terhenyak saat yang ditemukan dalam bak mandi hanyalah air dan gayung.
"Waw! Keren!" desis Matt. "Berapa bulan kau tak mandi hingga lupa pada apa saja dalam bak mandi?"
"Lihat yang bener dong lo! Mata 4 masih kurang juga?!" bentak Mello pelan sambil menyingkap tirai yang tadi menutupi separuh dari penampang bak mandi.
Dan mereka kembali terhenyak saat melihat dua buah kotak warna merah mengambang di permukaan air.
"Tuh! Ada kardus!" Mello berteriak lebay.
"Pasti dari Santa," Near tersenyum kecil sambil mendekati bak mandi.
"Oh Near! Jangan mendekat! Meskipun aku ingin membunuhmu untuk jadi nomor satu, tapi aku tak rela kau mati di tangan Santa!" kata Mello.
"Plis deh, blonde, Santa itu peri Natal, bukan teroris!" kata Matt sambil ngegetok kepala Mello.
"Hm…," Near menaruh puzzlenya diatas kloset, dan memegang kedua kardus itu. "Pasti ini kado Natal untuk kita!"
"Kita kan ada tiga, Near," kata Matt. "Masak kita harus ngebagi kado itu jadi tiga? Si Santa pelit banget!"
"Lagian kenapa harus dikamar mandi sih? Biasanya kata L, Santa kan ngasih kadonya di deket pohon Natal," analisa Mello.
"Itu kan Watari yang diem-diem pas malam ngeletakin hadiah-hadiah deket pohon Natal. Mau-maunya lo dikibulin," kata Matt.
"Pasti si Santa kemarin ingin buang hajat. Lalu dia masuk ke kamar mandi, dan menaruh hadiah ini disini," sambung Near.
"Nonsense! Santa kan bukan manusia! Mana mungkin dia kebelet boker?" kata Matt.
"Tapi dia bisa kebelet kencing, kan? Atau cuci muka kali?" kata Mello.
"Ya sudah…kita buka saja apa isinya," usul Near daripada meributkan apa Santa bisa mengeluarkan sisa metabolisme atau tidak.
"Eh?? Anting?" Near mengambil salah satu benda yang terdapat dalam kardus pertama.
"Bando?" Matt mengangkat benda yang lain dalam kardus pertama.
"WTF?!?! Rok?" dan Mello yang paling mengenaskan.
"Jelas ini bukan dari Santa! Ada yang ngerjain kita!" kata Matt. "Masak kita dikasih barang-barang cewek kayak gini?"
"Meskipun kita kawaii, tapi kan gak harus dapat benda kayak ginian!" kata Mello sambil membuang rok itu ke arah belakangnya tanpa menoleh. Dan rok itu mendarat dengan anggun di muka L yang kebetulan lewat di dekat mereka.
"Pemberian adalah rezeki. Apalagi ini dari peri Natal, harus kita hargai," kata Near sambil mengambil selembar foto dari dalam kardus pertama.
"Ya, gue hargain! Tapi gak bakal gue pakai!" kata Matt.
"Gue lebih milih makai bando daripada rok!" kata Mello.
"Ya udah…ini ajah buat elo!" Matt memasangkan bando itu ke kepala Mello. Mello nya sih diem-diem ajah.
"Hm…foto siapa tuh?" tanya Mello sambil menatap sebuah foto lelaki berambut merah dengan tatapan mata orang dalam foto itu yang terlihat sangat menguasai (??). "Tampan juga. Light aja kalah ganteng."
"???" Near dan Matt hanya sweat dropped.
"Gue hanya bilang tampan, bukan berarti gue suka!" kata Mello.
"Lagian siapa bilang elo suka Light?" tanya Matt. Mello mingkem.
"Lagian, nih orang rada mirip ama gue kayaknya," kata Matt sambil menatap foto itu.
"Eh!! ada surat!" kata Matt saat membuka kardus yang kedua. "Ditulis di kertas folio kayaknya."
"Kita baca deh! Siapa tahu dia punya petunjuk tentang kasus Kira ketiga," kata Mello nepsong.
Merry Christmas, wahai orang kaya dan mulia…
"Darimana dia tahu kalo kita kaya, ya?" tanya Near curiga.
Di hari Natal yang damai ini, kami peri Natal, memberimu kado spesial dalam hidupmu.
"Spesial menjijikkan," kata Mello.
Mungkin tak seberapa dibandingkan kekayaan yang kau punya. Bagi duit dong…
"Santa apaan yang minta duit kayak gini?" kata Matt.
Dengan surat ini pula, kami mengundang kamu untuk hadir dalam pesta Natal bersama kami. Pesta Natal yang mewah dan termeriah yang mungkin akan menjadi pesta Natal yang patut untuk kau hadiri, orang kaya dan keren.
Kau bisa datang ke gua di dekat kutub, 100 km dari sini (kira-kira segitu). Jangan khawatir soal transportasi. Kau bisa datang sendiri dengan limosine mu dan pulang sendiri dengan uangmu (??).
Merry Christmas, orang kaya! I love you!!
"Aaaaa…bentar deh! Gue rasa peri ini yaoi," kata Matt sambil menunjuk foto tadi.
Nb: Sasori tidak yaoi. Dia udah punya pacar, namanya Deidara (??)
"Hah? Deidara? Kayak nama cowok," gumam Mello.
"Sejak kapan nama Santa berubah jadi Sasori Clause?" tanya Near sambil berpikir keras.
-oOo-
"Tsunade, mau kemana kau?" tanya Jiraiya saat Tsunade dengan langkah terhuyung-huyung, beranjak dari meja judi.
"Pulang!"
BLAM! Tsunade masuk ke gudang dan menutup pintunya.
"Sejak kapan rumahmu ada digudang?" tanya Jiraiya yang kesadarannya masih tinggal 25 persen.
Tsunade duduk bersandar di balik pintu gudang. Matanya melek merem tanda ia separuh sadar, separuh kagak sadar.
"Hik! Kebelet banget gue!"
Tsunade bangkit dan segera membuka pintu. Ia berjalan menuju ke perapian.
"Ah…disana toiletnya," kata Tsunade sambil menunjuk ke bara api yang berkobar. "Pengen kencing." O_o disana???
Langkah Tsunade terhenti saat ia melihat sesuatu tergeletak di tepi meja dekat perapian. Sangat di tepi. Bahkan benda itu nyaris jatuh.
"Ah…apa itu?" Tsunade duduk di sofa dan mengambil kedua kardus itu. Dilihatnya baik-baik. "Kayak kado dari Santa."
Ia lalu membuka kardus itu. Menemukan satu untai kalung yang terbuat dari bawang putih bercampur bawang merah, lalu di pucuk kalung itu terdapat hurus A. Juga ada foto dari lelaki atau mirip dengan tampang budak, yang berambut putih, bermata ungu. Jangan-jangan dia janda lagi?
"Benda apa ini?" tanya Tsunade sambil mengambil kalung itu. "Hm…wanginya! Ahahaha…hik! Pasti Santa ngasih mawar ini karena dia naksir gue."
Tsunade melempar foto lelaki itu. Dan foto lelaki berambut putih itu berakhir di kobaran api perapian.
"Hah? Surat?" Tsunade menemukan sehelai kertas folio di kardus kedua. "Jangan-jangan tagihan hutang, hik! Sejak kapan ya, gue minjem hik…duit ke Santa? Jangan-jangan hik…Santa ngasih kado-kado Natal tapi dicatat sebagai bon hutang lagi…hik! Perhitungan, hik…!"
Merry Christmas, orang maniak judi dan mabok a.k.a. calon penghuni kekal neraka
"Salam yang bagus!" kata Tsunade terkekeh. "Kita akan bertemu lagi di neraka."
Di hari yang damai dan bersalju ini, kami, para peri Natal, memberimu hadiah untuk menyambung hidupmu.
"Gue gak butuh hadiah! Gue butuh duit!" kata Tsunade. "Barang-barang yang lo kasih jangan-jangan bekas semua yah??" lanjut Tsunade, yang membuat Kakuzu yang berada beberapa kilometer darinya bersin hebat.
Selembar foto si peri, dan sepucuk surat ini.
Dengan surat ini pula, kami mengundang kamu untuk hadir dalam pesta Natal bersama kami. Pesta Natal yang mewah dan termeriah yang mungkin akan menjadi pesta Natal yang seharusnya tak pantas untuk kau hadiri, pecandu narkoba.
Kau bisa datang ke gua di dekat kutub, 100 km dari sini (kira-kira segitu). Jangan khawatir soal transportasi. Banyak beruang kutub yang berkeliaran sepanjang jalan. Kau bisa menaiki mereka.
"Heh…gue bukan pecandu narkoba! Breng--k!" umpat Tsunade kesal.
Nb: A di kalung itu singkatan Akatsuki 8D
"Lumayan, gue dapat mawar dari Santa," kata Tsunade sambil menciumi bawang merah dan bawang putih di kalungnya.
-oOo-
Malam ini, Kiba dan Shino menginap di rumah Neji, kediaman Hyuuga. Mumpung Hinata juga lagi nginep di asrama tempat Sakura dkk tinggal bareng teman cewek lainnya.
Neji, Kiba, dan Shino bersembunyi di balik sofa yang berada tak jauh dari pohon Natal didekat pintu utama. Otak jenius Neji ingin membuktikan, apakah mitos Santa Clause yang sering ngasih barang secara gratis itu benar? Pasalnya, motto yang di pakai orang dunia sekarang ini kan No money, Nothing!. Neji ingin membuktikannya!!
"Pertanyaannya, kenapa gue musti ikut?" dumal Kiba jengkel.
Sudah berjam-jam mereka menunggu saat sesosok mahkluk yang tak jelas apa jenisnya itu muncul mendadak dalam ruangan tempat Neji dkk berada. Tuh makhluk pake masker, mata ijo, jilbab, dan pake jubah gambar awan merah. Sama sekali tak mirip dengan Santa yang biasa Neji liat di poster-poster di jalan-jalan saat Natal. Orang ini lebih mirip untuk jadi gorila Santa. Tapi…apakah Santa memelihara gorila? Ah…Neji bingung! Tidak tahu!
Mahkluk itu lalu menghilang setelah meletakkan kado didekat pohon Natal. Dua buah kado!
"Hm…ternyata aku bisa membuktikan, bahwa Santa wujudnya seperti itu ya?" tanya Neji pelan. Dia tersenyum penuh kemenangan.
Ketiga cowok itu mendekati pohon Natal. Neji mengambil kedua kardus yang terbungkus oleh kertas kado bergambar mata uang dari seluruh negara di dunia itu.
"Eh! rakus banget lo! Gue minta satu dong," rajuk Kiba.
Neji melirik kesal ke Kiba. Disuruh ngintip gak mau, giliran hadiah aja gak mau kalah.
"Hn!" Neji melempar satu kardus ke Kiba. Shino sih diem aja meskipun dia gak dapet apa-apa.
"Gue harap isinya seekor puppy," kata Kiba.
"Mana mungkin? Kalo pun isinya anak anjing, pasti anak anjing itu dah jadi bangkai karena kehabisan udara!" Shino menunjuk kado Kiba. "Lihat, cara ngiket kardus nya kenceng banget."
"Baru kali ini gue lihat Santa ngasih kado yang diiket pake borgol," kata Neji sambil memerhatikan kado Kiba dan punyanya. "Apa dia gak ikhlas ngasih?"
"Pasti yang kita lihat tadi bukan Santa," ujar Shino yang insting serangganya (?) mengatakan bahwa yang datang tadi bukan Santa, tapi rentenir.
"Hm…cara bukanya gimana nih? Kalo ngasih kado tapi gak bisa dibuka, ya percuma dong," kata Kiba.
"Jangan-jangan isinya kosong," kata Neji.
Dan kado itu berhasil di buka setelah Kiba dan Neji memaksa Shino untuk menyuruh serangga-serangga nya untuk menggerogoti borgol itu.
"Ingat, cuman borgolnya! Jangan sampai kadonya ikut kemakan!" kata Kiba was-was.
"Bawel! Yang dapet kado siapa, yang ngebuka siapa," gerutu Shino.
"Hah?? Uang cepek? Formulir undian berhadiah dari perusahaan sebuah merek obat nyamuk? Dan…foto?" Neji sweat dropped saat melihat benda-benda yang didapatnya dari dalam kardus itu.
"Orang dalam foto ini kan kayak…makhluk yang datang tadi," kata Shino menunjuk foto yang dipegang Neji. Mata ijo, jilbab, cadar, dan mencium setumpuk uang.
"Lo dapet apa, Kib?" tanya Neji sambil beralih pandang ke Kiba.
Kiba hanya menunduk jaws dropped sambil mengacungkan satu helai kertas folio.
Merry Christmas, wahai orang pelit!
"Hm…mungkin saja seharusnya kertas ini ditujukan pada Neji," kata Shino tanpa menyadari hawa maut di belakangnya.
Di hari yang damai dan bersalju ini, kami, para peri Natal, memberimu kado untuk menyambung hidupmu.
Uang cepek! Dan formulir undian yang kami relakan untuk diberikan untukmu, setelah sebelumnya ada seorang peri yang menangis tak rela untuk memberikan formulir undian dan uang cepek ini padamu.
Selembar foto si peri terkaya, dan sepucuk surat ini.
Dengan surat ini pula, kami mengundang kamu untuk hadir dalam pesta Natal bersama kami. Pesta Natal yang mewah dan termeriah yang mungkin akan menjadi pesta Natal yang seharusnya pantas untuk kau hadiri. Tapi kalo gak mau ya lebih baik, kami tak perlu mengeluarkan uang lebih banyak lagi.
Kau bisa datang ke gua di dekat kutub, 100 km dari sini (kira-kira segitu). Jangan khawatir soal transportasi. Kau bisa datang sendiri dengan anjingmu dan pulang sendiri dengan seranggamu.
Gosok undian itu dengan uang cepek, kalo dapet hadiah 10juta ryo, kalian harus mengirimkan 9 juta 900 ribu ryo ke peri dalam foto itu.
"Tuh kan, nih peri Natal gak ikhlas ngasih hadiah. Buktinya ada anggotanya yang nangis saat uang cepek dan formulir itu bakal dikasih ke Neji," kata Shino.
"Gue juga gak butuh!" kata Neji
Neji segera menggosok undian itu. Dalam hati, ia akan bersumpah, tak akan menyerahkan satu sen pun pada peri pelit itu! Bahkan jika harus mengorbankan nyawa!
"Happahnyah yang gak butuh?" Kiba syok melihat Neji yang excited banget ngegosok formulir itu.
Anda belum beruntung! Coba seribu kali lagi
Dan undian itu masuk tempat sampah diringi oleh umpatan dari hati Neji. Kiba dan Shino yang melihatnya, langsung pada menjaga sikap, jangan sampai mereka membuat Neji marah.
"Ada yang belom elo baca, Neji!" kata Kiba.
Jika gak dapet hadiah…resiko ditanggung teman pemilik undian
Dan Kiba serta Shino kabur ke kamar masing-masing sebelum Neji mempraktekan jukennya pada mereka berdua. Surat itu ikut kebawa ama Kiba.
"Kenapa kita musti jadi korban?" tanya Kiba. "Dasar peri Natal itu!"
"Dan kenapa musti gue juga?" tanya Shino.
"Tapi…kayaknya tuh peri tahu deh…kalo orang yang mau dikirimi hadiah adalah pemelihara anjing dan serangga," kata Kiba
"Apa? Orang yang dikirimi hadiah? Gue kan gak dapet apa-apa!" kata Shino. Kayaknya ngambek.
Nb: bagi yang gak kebagian kado…kasihan deh lo!
"BRENGSEK!" umpat Shino
-oOo-
Makasih udah baca. Dan inilah jawabannya.
Rumah siapa yang didatengin para Santa Clause (gadungan) itu? Dan untuk siapa akhirnya hadiah dari Tobi diberikan?
Jawaban: Kisame : Sasuke
Sasori : Wammy's House
Hidan : Perjudian (Tsunade)
Kakuzu : Hyuuga's komplek (??) a.k.a. for Neji actually
Deidara : (found out next chapter)
Tobi : (found out next chapter)
Pein : (found out next chapter)
Zetsu : (found out next chapter)
Itachi : (found out next chapter)
Dimana Sasori dan Tobi meletakkan hadiahnya?
Jawaban : Sasori : Di kamar mandi –see?? Banyak dari kalian yang bener jawabannya. Yuki payaaaaahhh…!!-
Tobi : (found out next chapter)
Apa yang dilakukan orang dalam kamar pada misi Itachi? XD
Jawaban : (found out next chapter)
Sasori dan Itachi : "Dan mari kita sambit, eh, mari kita sumbat, eh, mari kita sambut para reviewers yang pinter-pinter!!"
Dum dum dum plak! (sfx: kendang yang di tabuh Deidara)
akasuna yu : nilai = 1
panda-kun tak log in : nilai = 1
Ainara aya : nilai = 0.5
GoodBoy Tobi : nilai = 2.5
Akasuna no Azura : nilai = 0.5
Sasori : cuman 5 ekor yang bener, Ta! –geleng2 kepala-
Itachi : ekor? Lo kate hewan kayak elo! –nempol Sasori-
Sasori : Juara untuk chapter kali ini adalah GodBoy Tobi! Selamat!!
Itachi : Dan sesuai janji, Author keparat itu, nih, gue kasih tepuk tangan!! –maksa Pein tepuk tangan dengan 12 tangannya- makasih ya! –peluk2 reviewers, tanpa menyadari tank dari Gaza melayang dari belakangnya.-
Sasori : Dan makasih banyak juga buat….
Niero-SilvaUchiSa
Haruno Rizuki-kun
'ana-cHan
La auteur Dani
Hatake-Rie
lovely lucifier
lolipopalavigne
Akatsuki's FC
Senritsu no Kaze
ce dua
himura kyou
Mami males l0gin
dilia shiraishi
Sasori dan Itachi : sampai jumpa di chapter depan!! –masang senyum terbaik dari mereka, Author tepar-
Bagi pertanyaan2 / bagian yang belom terungkap jawabannya, kalian boleh coba lagi! Dan kalo bener, Yuki kasih hadiah dan ciuman pipi dari 3 bintang Akatsuki!!
Review ya ^^
