DISCLAIMER :
Togashi-Sensei
scarlet85 (for the original fic, she asked me to remake and publish it)
PAIRING :
Absolutely KuroPika, pasangan abadi di fandom HxH^^
GENRE :
Romance
SUMMARY :
I love you, you're mine and mine only.
WARNING :
AU. OOC. FemKura. And there will be a character from Yu Yu Hakusho, tapi karena ga memberi pengaruh terlalu banyak dalam hal crossovernya, jadi aku ga publish di crossover HxH. Karakter ini muncul karena scarlet85 sangat menyukainya! Also dedicated for KuroPika Week Festival.
.
This is a collaboration fic from scarlet85 and me!
Happy reading^^
.
.
.
Tak terasa, waktu satu bulan telah berlalu. Stanislaus sedang memikirkan sesuatu yang sangat mengganggunya. Salah satu jendral Kerajaan Mione, Light Nostrad, tiba-tiba saja mengundurkan diri setelah Kuroro menolak dijodohkan dengan Neon saat itu. Sejak itu pula, Nostrad dan putrinya bagai hilang ditelan bumi. Semua hartanya di wilayah Kerajaan Mione telah dijual, tak ada seorangpun yang tahu di mana keberadaan Nostrad dan Neon…seolah keluarga itu tidak pernah ada.
Kuroro mengetahui kebimbangan hati ayahnya.
"Ayah, aku akan mencari tahu tentang ini jika itu dapat membuat Ayah lebih tenang," kata Kuroro sambil memandang khawatir pada ayahnya.
Stanislaus memijit pelipisnya dan menghela napas. Ya, situasi kerajaan akhir-akhir ini sedang tidak begitu bagus. Sering terjadi pemberontakan di wilayah perbatasan. Lalu Stanislaus menoleh ke arah putra semata wayangnya. Satu-satunya pewaris Kerajaan Mione…kebanggaannya.
"Bagaimana hubunganmu dengan Putri Kurapika?" tanya Stanislaus mencoba mencerahkan suasana.
Kuroro tersenyum. "Baik-baik saja Ayah, aku berusaha terus menjaga komunikasi di antara kami walaupun sulit. Kalau keadaan sudah tenang, aku akan pergi mengunjunginya lagi."
"Ya…sekali-sekali, ajaklah dia kemari."
Kuroro merasa lega melihat senyuman yang nampak di wajah ayahnya. Ia merasa yakin…Stanislaus pasti akan menyukai Kurapika.
.
.
Sementara itu, di suatu tempat di tengah hutan yang jauh…
"Apa imbalannya jika kami membantumu?" tanya seorang pria bertubuh besar sambil membelai janggutnya. "Kami menginginkan kekuasaan di Kerajaan Mione. Tak ada yang kami inginkan lebih dari itu."
"Itu hal yang mudah," jawab seorang pria di hadapannya yang tak lain adalah Nostrad. "Jika putriku berhasil menikahi Pangeran Kuroro dan menjadi Ratu Kerajaan Mione…kupastikan, keinginanmu dapat dengan mudah dikabulkan."
Pria berjanggut terdiam sebentar, memejamkan matanya…dan berpikir dengan serius. Beberapa saat kemudian, ia membuka mata kembali.
"Baiklah, aku setuju. Apa kau sudah punya strateginya?"
Nostrad tersenyum licik…lalu membuka sebuah gulungan peta di atas meja dan mulai memaparkan rencana jahatnya.
.
& Skip Time &
.
Kuroro sedang asyik mengerjakan tugasnya. Malam itu sudah cukup larut, namun ia bersikeras untuk segera menyelesaikan semuanya. Sebentar teringat wajah cantik seorang gadis berambut pirang yang selalu mengisi hatinya.
'Aku ingin bisa segera bertemu lagi denganmu, Kurapika. Aku rindu padamu,' ucapnya dalam hati.
Kuroro menyingkirkan dokumen yang sedang dipelajarinya sebentar, lalu mengambil sepucuk surat terakhir dari Kurapika. Ia tertawa geli saat membacanya kembali. Surat itu sama sekali tidak mengandung kalimat-kalimat romantis layaknya surat cinta dari seorang kekasih, tapi berisi cerita Kurapika tentang hari-harinya di Kerajaan Eldora, termasuk tentang tingkah Mike yang sepertinya semakin pandai membuat Kurapika kesal. Tak jarang ia memarahi Kuroro di suratnya…tanpa alasan yang jelas. Tapi di akhir setiap suratnya, Kurapika selalu menulis kalimat-kalimat yang menyiratkan bahwa ia pun merindukan Kuroro.
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Seorang prajurit dengan napas yang terengah-engah segera berlari menghampirinya.
"Pangeran, Yang Mulia Raja ingin bertemu denganmu sekarang juga. Datanglah ke aula kerajaan."
.
.
Kuroro memasuki aula dengan heran. Para pejabat istana sudah hadir di sana. Wajah mereka terlihat cemas, termasuk Stanislaus tentu saja.
"Selamat malam, Ayah. Ada masalah apa sebenarnya?" tanya Kuroro setelah membungkuk hormat pada ayahnya.
Stanislaus menghela napas, ia menatap Kuroro dengan khawatir. Hal ini membuat Kuroro menjadi bingung. Setelah beberapa saat, Stanislaus mulai bicara,
"Keberadaan Nostrad sudah diketahui. Ternyata sejak dia mengundurkan diri, dia bersekutu dengan para pemberontak. Aku pun sangat yakin, semua pemberontakan yang terjadi akhir-akhir ini adalah ulahnya. Lalu…Kuroro, aku tak tahu bagaimana caranya mengatakan ini padamu. Tentang Kerajaan Eldora…"
"Kenapa dengan Eldora? Ada sesuatu yang harus kuketahui?"
"Nostrad dan para pemberontak itu…menghimpun kekuatan yang besar, lalu menyerang Kerajaan Eldora."
"APA?"
Kuroro terkesiap. Ia tak bisa membayangkan, strategi apa yang digunakan Nostrad dan sekutunya sehingga mampu menyerang Kerajaan Eldora. Wajah Kurapika langsung terlintas di benaknya. Dadanya berkecamuk, ia sangat mengkhawatirkan keadaan di sana.
"Pangeran Kurama dan pasukannya sedang pergi ke wilayah timur untuk menjalin kerjasama dengan penguasa di sana…jadi sepertinya dia tidak tahu saat serangan sedang berlangsung."
Penjelasan itu semakin membuat Kuroro khawatir. Tanpa menunggu lama, dengan ijin Stanislaus, ia dan pasukannya segera pergi ke Kerajaan Eldora.
Sebenarnya apa yang dilakukan Nostrad? Tidak mungkin Kerajaan Eldora dapat ditaklukkan begitu saja. Apa yang diinginkannya?, pikir Kuroro dalam hati. Kurapika…tunggu aku!
.
& Skip Time &
.
Sesampainya di wilayah Eldora, Kuroro terkejut. Tempat yang awalnya indah berubah menjadi mengerikan. Kobaran api tampak di mana-mana, orang-orang berlarian sambil menangis. Mayat-mayat bergelimpangan, menebarkan bayu anyir darah di sore hari yang kelam itu.
Kuroro menatap lurus ke depan…di mana Istana Kerajaan Eldora berada. Ia segera memacu kudanya dengan sangat cepat menuju tempat itu, dengan sekelompok prajurit mengikutinya.
"Kurapikaaaa…..!" seru Kuroro.
.
.
Sementara itu di wilayah timur, nampak Kurama dan pasukannya baru saja selesai dengan urusan mereka. Kurama sedang memberikan perintah untuk kembali ke Kerajaan Eldora saat tiba-tiba seorang prajurit datang bersama Mike. Penampilan mereka cukup mengkhawatirkan. Prajurit itu terluka, sementara Mike kotor sekali. Anjing itu menghampiri Kurama, menggosokkan kepalanya ke kaki si pemuda berambut perak sambil melenguh pelan.
Kurama mulai merasa tak enak.
"Ada apa?" tanya Kurama dengan suara gemetar.
Prajurit itu mulai menangis.
"Maaf, Pangeran…kami tidak bisa melindungi semuanya…"
"Apa maksudmu? Bicara yang jelas!"
Si prajurit ketakutan melihat sikap Kurama yang mengerikan. Ia pun membuka mulutnya dan berusaha keras untuk bicara,
"Ada banyak orang…entah berapa kelompok pasukan yang tak diketahui dari mana asalnya, menyerang Eldora."
"Ayah bagaimana? Lalu Kurapika dan Killua?"
"Sepertinya mereka telah melakukan sesuatu kepada Yang Mulia Raja dan adik-adikmu, Pangeran. Karena mereka terlihat lemah menghadapi serangan musuh…tidak seperti biasanya. Demikian pula halnya dengan para prajurit…termasuk aku."
Si prajurit segera berlutut lalu bersujud di kaki Kurama.
"Aku gagal melakukan tugasku…aku pantas mati…Kumohon bunuh aku, Pangeran!" ia memohon.
Kurama menunduk, menatap prajurit itu dengan emosi yang campur aduk. Kurama membungkuk dan menyentuh kepala si prajurit. Ia merasakan sesuatu.
"Kalian diracuni," Kurama menyimpulkan, lalu segera naik ke atas kudanya. "Kita lanjutkan perjalanan. Jika keluargaku tak bisa diselamatkan…mungkin kau memang harus mati."
.
& Skip Time &
.
Pandangan Kurapika mulai kabur. Pedangnya terlepas, ia mulai memegangi kepalanya yang terasa sakit.
"Kakak!" seru Killua khawatir. Ia beranjak dari sisi Silva lalu segera memegangi Kurapika.
Di tengah-tengah ruangan itu, Silva terus berusaha melawan Nostrad, sementara beberapa orang prajuritnya pun masih berusaha menghadang anak buah Nostrad dan pemberontak dari wilayah Mione.
"Apa yang kau inginkan sebenarnya? Apa salahku? Aku bahkan tidak mengenalmu sebelumnya!" kata Silva geram. Tubuhnya sudah terasa begitu lemah.
Nostrad hanya mneyeringai, sementara Neon yang menyaksikan itu langsung tertawa terbahak-bahak. Kurapika meraih vas bunga yang ada di atas meja dan langsung melemparkannya ke arah gadis manja itu. Neon terkejut saat vas bunga itu membentur dinding di belakangnya, dan pecahannya menggores pipi Neon. Neon memegangi pipinya yang berdarah.
"Kau! Kurang ajar…!" seru Neon marah. Ia mengambil pedang dari genggaman salah satu mayat yang ada di sana, namun pedang itu terlempar ke belakang saat tiba-tiba seseorang menangkisnya.
"Pangeran Kuroro!" ucap Neon terkejut saat melihat siapa orang itu.
Kuroro menatapnya marah. "Neon Nostrad…apa yang kaulakukan di sini? APA YANG KAULAKUKAN PADA KURAPIKA!"
Tubuh Neon sedikit bergetar mendengar bentakan pria itu, tapi kemudian ia bersandar ke dinding dan terkekeh.
"Gadis itu…telah merebutmu dariku," jawabnya.
"Aku tidak pernah menjadi milikmu dan tidak akan pernah!"
Bersamaan dengan itu, Nostrad mengalahkan Silva dengan satu pukulan hingga Raja Eldora itu terjatuh. Kuroro terkejut melihat orang sekuat Silva bisa dikalahkan dengan mudah. Ia segera mengalihkan perhatiannya dan mulai melawan Nostrad.
"Jangan membuang tenagamu," Nostrad berkata. "Lebih baik kau terima saja takdirmu dan nikahi putriku."
"Kalian benar-benar hina menggunakan cara kotor seperti ini!"
Pertarungan pun berlangsung sengit. Karena Kuroro berada dalam kondisi normal, tidak seperti Silva dan yang lainnya dari Kerajaan Eldora, Nostrad mulai kesulitan melawannya. Ia melirik Neon, seolah mengisyaratkan sesuatu kepada putrinya itu.
Dalam waktu sekejap saja, salah seorang anak buah Nostrad sudah mengarahkan pedangnya kepada Kurapika. Killua menjerit, membuat Kuroro menoleh. Matanya terbelalak. Tak ada waktu lagi. Kuroro berlari menghampiri Kurapika. Namun naasnya, hal itu membuat pedang yang diarahkan untuk Kurapika menusuk punggungnya hingga menembus ke dada.
Neon terhenyak. Kurapika pun sadar. Tubuh Kuroro langsung menimpanya…membuat pakaian gadis itu kotor oleh darah. Perlahan Kurapika membaringkan tubuh Kuroro di lantai dan meletakkan kepala pria itu di pangkuannya.
"Pangeran Kuroro!" seru Neon sambil mendekat.
Kurapika mendongak. Dengan mata basah oleh air mata, ia menatap Neon dengan marah…membuat gadis itu gemetar dan berhenti melangkah. Kemudian Kurapika kembali mengalihkan perhatiannya pada Kuroro.
"Kuroro…kumohon bertahanlah!" kata Kurapika gemetar sambil mencoba menutup luka di dada Kuroro dengan tangannya. Kuroro hanya menatapnya. Tiba-tiba ia terbatuk, membuat darah mengalir dari sudut bibirnya. Kurapika segera memeluknya.
"Bodoh! Kenapa kau lakukan itu? kenapa kau malah menghampiriku?"
Kuroro tersenyum lemah. "Karena aku…mencintaimu," bisiknya. Ia terbatuk lagi.
"Jangan bicara lagi! Kumohon…"
Perlahan Kuroro mengangkat tangannya, menyentuh wajah cantik Kurapika.
"Terimakasih…"
Setelah kata itu berhasil diucapkan, tangan Kuroro jatuh terkulai. Putra Mahkota Kerajaan Mione…menghembuskan napas terakhirnya.
"T-Tidakkkkkkk…..!"
Kurapika menjerit histeris. Tangan Neon mengepal erat. Ia pun menangis.
"Semua ini…gara-gara kamu," gumam Neon. Ia mengambil pisau dan menghampiri Kurapika yang lengah.
CRASHH!
Neon menusuk tengkuk Kurapika kuat-kuat. Darah segar terciprat…gadis itu meregang nyawa hingga akhirnya mati. Silva dan Killua yang sudah terbaring tak berdaya tak bisa berbuat apa-apa.
"Kau iblis!" umpat Killua sambil menangis.
Neon menyeringai dan melemparkan pisaunya. "Aku hanya membantu agar mereka bisa terus bersama," ia menjawab.
Nostrad tertawa. Tujuannya tercapai kali ini. Namun tawanya terhenti saat tiba-tiba kepala Nostrad terlepas dari tubuhnya. Neon memekik ngeri. Tampak Kurama memegang pedangnya yang bersimbah darah…bahkan bajunya pun penuh darah. Matanya terbelalak melihat Kurapika dan Kuroro yang sudah menjadi mayat. Dadanya terasa perih. Kurama sangat menyayangi Kurapika…ia pun tahu pasti, adiknya itu benar-benar mencintai Kuroro dan bahagia bersamanya. Tapi kenapa akhirnya harus begini?
Kurama menoleh ke arah Neon.
"Tangan kotormu telah membunuh adikku," ucapnya geram. Tanpa berkata apapun lagi, Kurama mengangkat pedangnya dan menebas kedua tangan Neon hingga putus.
Neon menjerit, ia begitu kesakitan hingga berguling-guling di lantai dengan bersimbah darah.
"Aku tidak akan pernah memaafkanmu, kedua tanganmu kutebas namun kau akan tetap hidup…dan menderita selamanya!"
Nada suara Kurama terdengar dingin…begitu gelap dan kejam. Neon pun jatuh pingsan karena tak tahan akan rasa sakit di kedua tangannya.
"Kurama…," Silva memanggil dengan suaranya yang terdengar semakin lemah.
Kurama segera menghampiri Silva dan berjongkok di dekatnya. Ia mengambil ramuan lalu memberikannya pada Silva dan Killua hingga kekuatan mereka berangsur-angsur kembali.
"Adikmu…Kurapika…" lirih Silva.
Tanpa sadar Kurama meneteskan air matanya, dan Killua menangis keras memanggil nama Kurapika dan Kuroro.
Kurama menghapus air matanya, lalu segera berdiri.
"Aku akan melakukan sesuatu. Semoga jiwa mereka belum sampai ke tangan Dewa Kematian. Doakan aku, Ayah."
Kurama memerintahkan prajuritnya untuk membuat ramuan yang sama lalu memberikannya kepada orang-orang yang masih selamat. Perlahan ia melangkah…menuju ke pemandangan mengerikan itu. Jasad Kurapika dan Kuroro seolah tenggelam dalam genangan darah yang tampak begitu merah.
Dengan hati-hati Kurama mengangkat keduanya. Dengan diiringi oleh beberapa orang prajurit, Kurama pergi meninggalkan Istana Kerajaan Eldora.
.
& Skip Time &
.
Kurama dan para prajuritnya memacu kuda mereka dengan kencang, hingga tiba di depan sebuah kuil tua saat hari sudah gelap. Jasad Kurapika dan Kuroro mulai membiru. Kurama memerintahkan beberapa orang prajurit untuk meletakkan keduanya di dalam kuil, lalu ia duduk bersimpuh dan berdoa di sana sambil mengatupkan kedua tangannya. Di hadapannya, tampak sebuah patung besar berwujudkan seorang wanita.
'Kumohon, hidupkan kembali nyawa mereka…Kumohon Dewi, kembalikan mereka ke dunia ini. Akan kulakukan apapun…walau nyawaku menjadi taruhannya,' ucap Kurama dalam hati.
Kurama terus berdoa dengan khusyuk. Saat tengah malam tiba, muncul cahaya menyilaukan dari altar. Kurama memicingkan mata, dan melihat sosok seorang wanita cantik dengan sayap putih di dalam cahaya itu.
"Kesungguhan hatimu telah membuatku tergugah. Wahai Manusia, apa yang kau inginkan?" tanya wanita itu dengan lembut.
Kurama terkejut sekaligus merasa senang. Sebelumnya, ia tak pernah memohon kepada dewa maupun dewi sampai seperti ini.
"Dewi Whity Yang Agung, kumohon…hidupkanlah kembali adikku Kurapika dan kekasihnya. Tolong cegahlah nyawa mereka sampai ke tangan Dewa Kematian. Sebagai gantinya, aku akan melakukan apapun permintaanmu."
"Kau sangat menyayanginya?"
"Ya, dan aku ingin dia bisa hidup bahagia bersama kekasihnya di dunia ini."
Dewi Whity terdiam sejenak, lalu memejamkan matanya. Setelah beberapa saat, ia membuka matanya kembali.
"Roh mereka masih dalam perjalanan. Untunglah kau datang ke sini tepat waktu. Aku akan mengabulkan permintaanmu."
Perlahan Dewi Whity menghampiri jasad Kurapika dan Kuroro yang tergeletak di hadapan Kurama. Kedua tangannya menyentuh dahi pasangan itu. Sayap putihnya terkembang indah. Dewi Whity memusatkan energinya, hingga mengeluarkan cahaya keperakan yang mengaliri tubuh Kurapika dan Kuroro.
Kurama terbelalak melihat peristiwa di hadapannya. Luka-luka di kedua jasad itu menghilang dengan sendirinya. Perlahan…Kurapika dan Kuroro membuka mata mereka kembali.
Kurapika bangkit dan menyentuh tengkuknya. Ia terlihat terkejut saat mengetahui tak ada luka apapun di sana. Tiba-tiba tangan kirinya terasa hangat. Kurapika menoleh…dan melihat Kuroro yang menggenggam tangannya sambil tersenyum.
"Syukurlah kau selamat," Kuroro segera menarik tubuh Kurapika dan memeluknya.
Kurapika membalas pelukan itu. Ia tersenyum. "Bodoh…kau masih saja mengkhawatirkanku," ucapnya.
Kurapika mengangkat sedikit wajahnya yang berada di dada Kuroro dan melihat ke arah di mana Dewi Whity berada. Kuroro menyadari hal itu, ia pun menoleh. Keduanya takjub melihat penampilan Sang Dewi yang tampak begitu cantik dan suci.
"Terimakasih Dewi," keduanya berkata sambil membungkuk hormat.
Dewi Whity tersenyum. "Dia…telah membuatku tergugah dengan kesungguhan hatinya untuk menghidupkan kalian kembali," ia berkata sambil menatap Kurama.
Kurapika menoleh. Ia terkejut melihat kakaknya ada di sana. Kurapika segera melepaskan diri dari pelukan Kuroro dan lari menghambur ke pelukan Kurama.
"Kakak…, Kakak…!" isaknya.
Kurama memeluk Kurapika dengan penuh kasih dan membelai rambut gadis itu.
"Syukurlah…kalian bisa hidup kembali," kata Kurama sambil mencium lembut kepala Kurapika.
Di dalam hatinya, Kurapika merasa begitu bahagia. Ia mempunyai kakak dan kekasih yang sangat mencintainya.
Kuroro memperhatikan semua itu. Ia tak bisa memungkiri, ada rasa cemburu yang muncul melihat keakraban mereka berdua.
'Ah…apa yang kupikirkan? Bagaimanapun aku lebih beruntung, karena aku adalah kekasih Kurapika dan bukan kakaknya,' Kuroro meyakinkan diri.
Lama-kelamaan Kurapika teringat sesuatu.
"Kakak, apa yang telah Kakak korbankan kepada Dewi Whity untuk menghidupkan kami kembali?" tanya Kurapika heran. Menghidupkan jasad yang telah mati adalah permintaan yang besar, bukan hal yang tak mungkin jika dewi itu meminta persembahan untuk jasanya.
Kurama menggelengkan kepalanya. "Tidak, Dewi Whity tidak meminta apapun."
"Benarkah?"
Kurapika menatap Dewi Whity seolah tak percaya atas apa yang didengarnya.
Dewi Whity tersenyum lagi. "Apa yang dikatakan kakakmu benar…aku tidak punya hak untuk mencabut nyawa manusia, aku hanya ingin memberikan kebahagiaan kepada orang-orang yang pantas menerimanya."
Lalu Dewi Whity menatap semua yang berada di ruangan itu dengan tajam. Raut wajahnya berubah serius.
"Aku dapat melihat apa yang telah terjadi. Aku tidak menyukai pertumpahan darah, tapi aku akan memberi pelajaran kepada mereka yang telah menyebabkan hal itu untuk membuatnya jera. Sekarang, kembalilah ke Eldora. Aku akan mengembalikan keadaan kembali seperti semula," jelasnya sambil mulai bergerak terbang ke arah langit.
"Terimakasih Dewi," ucap Kurama tulus.
Dewi Whity menoleh sebentar dan mengedipkan sebelah matanya pada Kurama, lalu pergi menghilang ke langit yang gelap.
.
& Skip Time &
.
Di Kerajaan Eldora, seluruh korban perang baik mereka yang terluka maupun yang sudah mati, bangkit kembali seolah tak ada perang yang terjadi. Silva dan Killua sadar, termasuk Nostrad dan Neon. Namun bekas sabetan pedang di leher Nostrad dan di tangan Neon tetap ada. Hal ini dilakukan agar mereka terus teringat akan kesalahan yang telah mereka perbuat seumur hidupnya.
Saat semua masih merasa terkejut akan keadaan itu, suara Dewi Whity bergema di ruangan aula kerajaan,
"Keserakahan dan ambisi kalian telah menimbulkan bencana. Karena itu aku tidak sepenuhnya menyembuhkan luka kalian. Biarlah itu menjadi peringatan dan hukuman yang harus ditanggung seumur hidup. Jika kalian mengulanginya lagi, nyawa kalian akan tercabut seketika. Itulah perjanjianku dengan Dewa Kematian."
Nostrad dan putrinya ketakutan mendengar suara itu, tapi kemudian mereka menyadari kesalahannya dan menangis bersama. Diiringi dengan tatapan benci Silva dan Killua, Nostrad dan Neon meninggalkan wilayah Kerajaan Eldora sambil menanggung rasa malu yang teramat sangat. Kini segalanya telah berakhir bagi Keluarga Nostrad. Selain menyerang Kerajaan Eldora, mereka pun telah berkhianat kepada Kerajaan Mione. Keluarga Nostrad pasti tak akan diterima kembali di Mione.
Setelah kepergian Nostrad dan Neon, Silva dan Killua berdiri di atas tangga di depan istana untuk menanti kepulangan orang-orang yang sangat mereka sayangi dan mereka rindukan. Akhirnya dengan diiringi cahaya mentari pagi, nampak sebuah rombongan memasuki wilayah istana. Wajah-wajah penuh haru dan kebahagiaan terlihat di sana.
.
& Skip Time &
.
Beberapa orang prajurit Kerajaan Eldora tampak sibuk menaikkan banyak barang ke atas kereta. Sebagai rasa terimakasih kepada Dewi Whity yang telah menyelamatkan kerajaan itu, Silva mempersembahkan banyak benda berharga untuk ditempatkan di Kuil Dewi Whity. Kuroro memberikan benih pohon coklat terbaik yang akan ditanam di sekitar kuil itu, agar orang-orang di sekitar kuil dapat turut menikmatinya. Ya, Dewi Whity memang murah hati. Ia senang bisa memberikan kebahagiaan bagi banyak orang.
Namun air liur Killua menetes saat melihat coklat cair diisi ke dalam guci cantik dan ikut dinaikkan ke dalam kereta. Kuroro tersenyum melihatnya.
"Tenanglah Killua, coklat untukmu sudah kusiapkan. Coklat beragam bentuk dengan rasa yang bermacam-macam," kata Kuroro sambil mengacak-acak rambut perak Killua.
Mata Killua langsung membelalak senang. "Benarkah itu, Kak?" tanyanya seolah tak percaya.
"Ya, tentu saja. Aku sudah memerintahkan prajuritku untuk menyimpannya di kamarmu."
"Terimakasih! Kalau begitu lebih baik aku segera ke kamarku sekarang!"
Killua membalikkan badannya. Namun sebelum sempat melangkah, Kurama mencegahnya.
"Coklat bisa menunggu. Ayo, temani aku ke Kuil Dewi Whity. Aku ingin melihat sudah sejauh mana renovasinya," kata Kurama dengan nada suara yang datar.
"Kakak jahaaaatttt…..!" pekik Killua sambil berusaha memberontak dari pegangan Kurama, namun kakak sulungnya itu sama sekali tak mempedulikan protesnya.
Kuroro tertawa geli. Tiba-tiba sebuah tangan menepuk bahunya dengan lembut. Kuroro menoleh…dan tersenyum saat melihat siapa pemilik tangan itu.
"Jangan manjakan Killua dengan terus memberikan coklat padanya, nanti giginya bisa rusak," Kurapika berkata sambil menatap Kuroro dengan tajam.
Ekspresi wajah gadis itu membuat Kuroro gemas, ingin sekali Kuroro menciumnya. Tapi Kuroro sudah punya rencana yang lebih baik dari itu.
"Kurapika, maukah kau ikut denganku ke suatu tempat?" Kuroro bertanya.
"Ke mana?" tanya Kurapika heran.
"Pokoknya ikut saja…aku jamin, kau tidak akan menyesal."
Kuroro menarik tangan Kurapika, lalu mengajaknya berkuda bersama. Kurapika sedikit merasa canggung saat duduk di depan Kuroro karena jarak di antara mereka begitu dekat. Sesekali Kuroro mencium rambut gadis itu, membuat wajah Kurapika merona hingga ia tak berani menoleh dan melihat ke arah kekasihnya.
Setelah berkuda beberapa lama, Kuroro memerintahkan kudanya berhenti. Ia mengambil sehelai kain hitam lalu memasangkannya di mata Kurapika.
"K-Kuroro! Apa ini? Kau mau apa!" protes Kurapika sambil mengangkat tangannya hendak membuka penutup mata itu.
Kuroro segera menahan tangan Kurapika.
"Ssh…diamlah, sebentar lagi…ada kejutan untukmu," bisik Kuroro, kemudian ia turun lebih dulu dan menurunkan Kurapika. Tangannya menuntun gadis itu dengan hati-hati.
"Kita sudah sampai," kata Kuroro beberapa saat kemudian.
Kurapika berhenti melangkah. Ia merasakan angin menerpa, lalu Kuroro menyibakkan rambut pirangnya yang panjang. Terasa sesuatu yang dingin mengenai dadanya. Kurapika menyentuh benda itu. Perlahan, Kuroro melepaskan kain yang menutupi mata Kurapika.
Kurapika menunduk. Ternyata, Kuroro memasangkan sebuah kalung dengan liontin dari sebuah permata besar dengan kilaunya yang indah. Belum habis rasa terkejut gadis itu, Kuroro kembali menuntun Kurapika untuk melangkah sedikit lagi. Mereka pun sampai di perbatasan antara Eldora dan Mione.
Mulut Kurapika menganga melihat pemandangan di hadapannya. Kuroro telah menghias wilayah itu dengan taman yang ditata dengan cantik dan dihiasi bermacam-macam bunga yang indah.
Kurapika menatap Kuroro tanpa bisa berkata apa-apa.
"Aku ingin memperingati hari itu…saat kau menerima perasaanku," Kuroro berkata. "Kurapika, cinta kita pun telah mempererat hubungan di antara Mione dan Eldora. Pasti akan sangat membahagiakan…jika cinta ini berlangsung untuk selamanya."
"Ma-maksudmu?" tanya Kurapika gugup.
Kuroro menggenggam tangan gadis itu dan menatap mata biru Kurapika dengan penuh kasih.
"Kurapika, maukah kau berada di sisiku selamanya? Dalam segala suka dan duka…bersediakah kau?"
Kurapika tersentak. Kalimat indah yang keluar dari mulut Kuroro mengejutkan dirinya. Kalimat itu memiliki arti sebuah ikatan yang akan menautkan masa depan mereka berdua. Lamaran…ya, di depan taman yang sangat indah itu, Kuroro melamarnya.
'Kuroro…setelah semua yang terjadi, kau kira aku sanggup untuk jauh darimu? Sesungguhnya kau tak perlu menanyakan itu,' Kurapika berkata dalam hati.
Namun tentu saja Kurapika tak mampu mengatakan itu. Ia hanya menunduk…dan mengangguk pelan. Mata hitam Kuroro yang biasanya nampak misterius, kali ini terlihat begitu bahagia. Ia segera memeluk Kurapika.
Setelah beberapa saat, Kuroro melonggarkan pelukannya dan menatap wajah gadis itu. Betapa cantiknya Kurapika saat ini.
"Kurapika, bolehkah aku menciummu?" tanya Kuroro penuh harap.
Wajah Kurapika semakin merona, tapi ia masih sanggup memberikan tatapan penuh ancaman kepada Kuroro.
"Tapi di dahi saja dan jangan berani macam-macam!" ancam Kurapika.
"Iya Nona Manis, tapi tolong pejamkan matamu terlebih dahulu. Karena aku merasa agak gugup melakukannya."
Seulas senyum menawan menghiasi wajah Kuroro yang tampan. Ugh, betapa Kurapika tak mampu menolak senyum itu. Ia pun memejamkan matanya.
Kuroro menghela napas sebentar, lalu mendekatkan wajahnya. Ia kembali menatap Kurapika. Wajah cantiknya yang bagaikan malaikat, dan…bibirnya yang mungil.
CUPP!
Kuroro mengecup bibir Kurapika. Kurapika terkejut, ia langsung membuka matanya dan bersiap menampar Kuroro, namun pemuda itu segera memegang tangannya dengan sigap tanpa melepaskan ciumannya. Sebelah tangannya mendekap tubuh gadis itu agar tak bisa melepaskan diri.
Setelah mencium Kurapika cukup lama, Kuroro menjauhkan wajahnya. Kurapika hanya diam…namun kemudian air mata mulai menetes dari sudut mata birunya.
"Kau…membohongiku," isak Kurapika.
Kuroro merasa bersalah. Ia melepaskan Kurapika dan memegang kedua bahu gadis itu.
"Maaf…," katanya pelan. "Aku melakukannya karena aku mencintaimu."
Kuroro menjadi lengah. Dalam waktu sekejap saja, tamparan Kurapika sukses mendarat di pipinya. Kuroro meringis kesakitan.
"Itu akibatnya kalau kau berani melanggar janji dan berbuat macam-macam padaku," kata Kurapika sambil menjulurkan lidahnya lalu berbalik pergi.
Tapi kali ini Kuroro tidak mau menyerah lagi. Ia menyeringai, dan meraih tubuh Kurapika hingga mereka terjatuh di atas rumput halus di taman itu. kurapika terbaring, sementara Kuroro berada di atasnya.
"Benar-benar gadis yang nakal," gumam Kuroro.
Kuroro menahan kedua tangan Kurapika dan mencium bibirnya kembali. Setelah beberapa saat, Kuroro melepaskan ciumannya dan menatap wajah terkejut Kurapika.
"Kau tidak mungkin bisa menang dariku, Tuan Putri," ucap Kuroro lagi.
Karena jantungnya berdebar begitu kencang, Kurapika tak mampu berkata apa-apa. Bahkan ia tak protes atas panggilan 'Tuan Putri' yang ditujukan Kuroro padanya. Kurapika hanya memanyunkan bibirnya. Kuroro tersenyum dan berbaring di samping gadis itu.
Kuroro menatap langit biru yang berada di atas mereka berdua.
"Aku mencintaimu, Kurapika."
"Aku benci kamu, Kuroro!" pekik Kurapika sambil mengepal erat kedua tangannya.
Kuroro hanya tersenyum…ia tahu, kalimat itu tidak berarti apa-apa. Kuroro yakin Kurapika pun mencintainya. Kuroro meraih tangan kanan Kurapika yang ada di sebelahnya. Ia menggenggam erat tangan itu. Seketika, protes Kurapika berhenti.
'Kamu…kebahagiaanku,' ucap Kuroro dalam hati.
THE END
.
.
A/N :
Review please…! ^^
