Shiree da~

WIHIII! Nyaris bgt ni chapter hiatus XD Gak usah komen lama-lama dah. TARIK MANG!

Disclaimer: tenang aja, 07-GHOST bukan punyaku kok~ Tapi punyanya Tante Yuki dan Tante Yukino~


Chapter 5

Teito terengah-engah menghindari kejaran para cewek 'desa' yang ngejar Teito gara-gara 'kegantengannya'.

"KYAAA! TUAN KLEIN!"

Begitulah teriakan salah satu cewek. Kasihan Teito.. Sudah ditarik-tarik, dikejar-kejar pula.. Kacian.

"Teito, kenapa lu ngos-ngosan kayak anjing kepanasan gitu?", tanya Hakuren yang lagi bawa tumpukan buku.

"Dikejar-kejar cewek gila!"

"Bukan gila, tapi fans lu! Sama cewek yang lembut kek!"

"Berarti sama Hozuki juga mesti lembut dong.."

"Oh, kalo yang itu sih, gak usah. Dia bukan cewek kok.."

Tiba-tiba, terdengar suara burung berkicau, eh.. suara derap kaki Hozuki yang mengarah ke Hakuren. Dalam sekejap, Hakuren sudah terpental sampai surga(?). Tapi, begitu nyampe di sana, Hakuren ditangkis lagi ma malaikat, abis dosanya banyak dan buku-buku yang dibawa Hakuren 'mencurigakan'. Tobat dulu sana! *author dipukul gara-gara ngelantur*

"Malaikat jahat nih! Kenapa mesti ditangkis balik sih?"

"Itu tumpukan buku apa?", tanya Teito. Hakuren membuka salah satu bukunya dan dalam sekejap, darah mengucur deras dari hidungnya. Waktu Teito dan Hozuki ngelihat, Teito gelagapan sementara Hozuki memancarkan aura pembunuh.

*sfx: OH YEAHH!*

"APA-APAAN INI! SEJAK KAPAN HAKUREN JADI KETULARAN SI BAKA ERO PEDO! KENAPA INI ISINYA NAKED LADIES!", Hozuki marah-marah sambil ngelemparin tumpukan buku-buku erotis itu ke arah Hakuren. Kayaknya sih, wajar aja si malaikat nangkis balik si Hakuren. Malaikat 'kan bisa ngelihat isi buku erotis itu tanpa kovernya dibuka dulu. Lagian, si Hakuren ditampol ampe surga bawa2 begituan. Makjan.

"Ini punyanya Frau taok!"

"Ngapain lu disuruh bawa? Tuh orang kurang kerjaan ya? Dodol amat.."

"Abis, Castor-san melakukan razia dan menemukan tumpukan buku2 erotis ini di perpustakaan gereja. Dia langsung nyuruh aku buat bakar buku-buku ini tanpa peduli siapa pemiliknya. Tapi, aku 'kan sayang ma Frau-sama, jadi, diem2 aku mo balikin ini ke kamarnya."

Tiba-tiba, Hozuki segera berlari dengan kencang menuju perpustakaan gereja.

"Hozuki kenapa?", tanya Hakuren.

"Ohya, aku inget dia ini mirip ma Frau. Nekat nyimpen majalah erotis di perpustakaan gereja. Bedanya, majalah Hozuki itu judulnya, YAOI Monthly, BL psycho, Shonen-Ai Daily, The Daily BL, Manly Vocaloids version BL yang terbit tiap 3 tahun (katanya Hozuki, itu barang langka), dll.."

"Aku baru inget.. Dia 'kan fujoshi.."

Lalu, Hozuki balik lagi dengan muka cerah. Semua koleksi majalah BL-nya ditumpuk di samping.

"Kyahh~ Selamat-selamat.. YAOI Monthlyku banyak banget di situ.. Untung kamu bilang ada razia dadakan.", ujar Hozuki sambil nunjukin majalah YAOI Monthly dengan kover Frau x Teito yang menjadi spotlight-nya. Teito yang ngelihat kover yang menunjukkan tubuhnya di bawah tubuh Frau. Teito langsung merebut majalah itu dari tangan Hozuki.

"APA-APAAN INI! SIAPA YANG BIKIN KOVER INI!"

Tiba-tiba, Teito ngelihat ke arah atas, a.k.a author sambil gemetaran.

"Mama.. mama yang bikin ya?"

Author senyam-senyum dan ngangguk2. Teito nangis keras-keras dan bikin repot Hakuren dan Hozuki gara-gara mencegah air mata Teito jadi banjir bandang di gereja itu. Tiba-tiba, Frau muncul.

"Hakuren, lama banget ngebawainnya. Sini, biar aku yang ambil.."

"Ah, sori sori.."

Tiba-tiba, gak sengaja Frau ngelihat majalah kesayangan Hozuki dengan kover Frau x Teito. Lalu Frau noleh ke atas dan narik author masuk ke plot (lagi-lagi..)

"APA-APAAN INI! ENTE SEENAKNYA AJA NAROH ARTWORK RAHASIA ENTE DI SINI! JADI ULASAN UTAMA LAGI!"

"Hehe, mo gimana ya? Abis, artwork Yaoi ane banyak banget. Daripada numpuk gak keurus, lebih baik 'didonorkan' ke majalah 'kan? Bukankah itu sangat dermawan~?", apa-apaan sih, author kita ini. Dasar psycho… *face-palm*

"SUKEBE! Ntar artworknya ore mesti bakar nih!"

"Oh, tidak bisa, tidak bisa.."

Frau dan author melanjutkan cekcoknya dan berakhir dengan author mesti masakin makan malam buat semua pemain *pemains memberikan standing ovation karena kemenangan Frau (lebih tepatnya, karena author bakalan masakin makan malam mereka)*. Yok, kita balik lagi ke plot.

"Mamaku jahat! Mamaku jahat!"

Hakuren dan Hozuki berusaha bikin Teito ketawa dan mulai bikin weird faces yang biasa buat nenangin bayi kalo nangis. Jiah, Teito bukan bayi lagi dong sekarang, wong dah tinggi gitu. Akhirnya Teito berhenti nangis gara-gara dikasih dodol rasa yakisoba(?). Teito ketawa-ketiwi kayak bayi terus tidur sambil tetep ngemot dodol. Jiah, beneran kayak bayi dong.. Author bego.

"Jiah, Teitonya tidur.."

"Jadi, gimana banguninnya ya? Dia mesti latihan jadi seme abis ini.."

Hakuren dan Hozuki berpikir keras dan kebablasan ampe tidur. *sfx: DUAKK* Oke, mereka bangun lagi gara-gara dilemparin kamus Worterbuch dan Oxford dari atas a.k.a dari author.

"WOYY! BANGUN DAN LANJUTIN PLOTNYA!" kata author.

Hozuki dan Hakuren ngelihat lagi naskah mereka dan..

ACTION! *sfx: Cklek*

..

..

..

"Ayo, kita tarik aja dodolnya!", usul Hakuren sambil nunjuk dodol yang ada di mulut Teito.

"Hmm.. Oke!"

Mereka berdua 'berjuang' menarik dodol itu dari mulut Teito. Tapi, gak lepas-lepas juga gara-gara Teito gigitnya keras. Gimana atuh?

"Duh, gimana caranya?"

Tiba-tiba, author narik Hakuren dan bisikin sesuatu. Begitu balik lagi, Hakuren bawa plastik sampah yang gede banget. Dia langsung lemparin plastik sampah yang super-ultra-berat-dan-besar itu ke arah Teito. Ternyata, Teito bangun lagi.

"Lu dibisikin apa ma author?"

"Masa lu lupa senjatanya author kalo kita ketiduran?"

Hozuki ngelihat isi plastik sampah yang gede itu. Isinya? WEBSTER, WORTERBUCH, OXFORD, dll, pokoknya, kamus-kamus mahal yang tebelnya naujubilah! Belom lagi tambahan UUD '45 plus UU dari tahun kapan ampe tahun kapan. Gimana gak tambah berat?

"Oh iya.. Kirain dilemparin sampah."

"Jangan sampah, author gak mau Teito abis pulang dari chapie ini bau sampah."

Hozuki geleng-geleng. Teito ngelus kepalanya.

"Sakit.."

"OK! Gak usah bla-bli-blu-ble-blo lagi, AYO LATIHAN JADI SEME!", perintah Hozuki sambil narik tangan Teito. Teito nurut aja meskipun dia masih puyeng gara-gara dilemparin kamus ma author lewat Hakuren. Hozuki ngelatih Teito selama seharian. Pokoknya, tiap hari dilatih.

Sebulan kemudian…

"Nah, Teito dah lulus! Ini dia sertifikat atas kelulusan teori dan ini kelulusan praktek~" (mo tau praktek pake apa? Pake dummy dengan gambar Frau dummynya dari Castor dan tentu saja gak ngasih tau alasan kenapa minta dibuatin)

"Ngapain pake sertifikat segala? Yaudah, saatnya beresin segera!"

"KYAA~~ BERJUANGLAH TEITO!"

Teito lari marathon ke kamarnya Frau. Fraunya lagi tidur dengan majalah erotis nutupin mukanya. Teito membulatkan tekad dan melompat setinggi-tingginya.. *sfx: DUAKK* kepalanya kena langit-langit. Tidakk! Plotnya ngelantur! Plotnya salah! *author panik*

Teito melompat dan segera mendaratkan tubuhnya ke atas tubuh Frau. Dia menghembuskan nafasnya untuk 'membangkitkan' suasana. Frau ngerjap2in mata. Dia ngelihat Teito berbaring di atasnya.

"GHYAAA! TEITO! LU NAPA?"

"Gak kenapa-kenapa.. Ini sudah waktunya Frau."

"Waktunya apa?"

"Kau akan jadi uke-ku.."

"Oh.."

Tanpa ba-bi-bu, mereka sudah melakukan adegan yang disensor. Setelah moans yang cukup 'mengganggu' (atau 'menghibur' bagi author), mereka berhenti melakukannya.

"Fiuh, ternyata kamu jadi seme yang hebat juga. Nilaimu A plus!", ujar Frau yang abis jadi uke.

"Yah, permintaan author harus kupenuhi 'kan? Kalo nggak, aku bisa dikulitin hidup-hidup.."

Frau mencium Teito dan mengelus rambutnya.

"Nah, balik lagi ke kamarmu sana.."

Teito mengangguk. Begitu buka pintu, ia ngelihat Hozuki yang hidungnya disumbat pake tisu banyak banget. Teito gelagapan.

"Nga.. Ngapain lu disini?"

Hozuki mikir.

"Makan kue~"

"Mana kuenya dan apa itu!", tanya Teito sambil nunjuk handycam di tangan Hozuki.

"Oh, ini.. Ini penemuan terbaruku. Namanya GARPU~"

"Seumur-umur gak pernah gua liat garpu kayak gitu.."

"Yah, namanya juga penemuan baru. Pasti selalu aneh dan bentuknya bisa berbeda 180 derajat dengan yang asli 'kan?"

Teito menunjukkan anger mark dan melempar kamus WEBSTER ke arah Hozuki.

"Kena marah Teito?"

"Iya..", jawab Hozuki sambil ngelus kepalanya. Hakuren mendesah.

"Kenapa?"

"Yah, aku baru aja mikir. Mereka berdua itu cocok. Apa aku masih boleh menyukai Frau-sama ya?"

Hozuki melihat wajah Hakuren.

"Kalau kamu merasa itu mengganggu hubungan mereka, tidak usahlah."

Hakuren nangis karena merasa kalah. Dia memang sudah naksir Frau dari dulu. Kalau melihat Frau dan Teito bersama, dia merasa sakit. Tapi, saking sayangnya dengan Frau dan Teito (dan tentu saja, author), ia tidak mau menganggu. Padahal, ia sanyat menyayangi Frau, sangat menyukai Frau, bahkan, sangat mencintai Frau. Lalu, bagaimana cara Hakuren bisa menahan perasaannya? Atau malah, membuang rasa sukanya pada Frau? Dengan memikirkan hal itu, air mata menetes di pipinya. Hozuki sendiri tidak bisa berbuat apa-apa. Hozuki sebenarnya ingin melihat kakaknya bahagia, tapi, apa boleh buat. Dia ini OC milik author dan sudah dicuci otak oleh author agar menjadi pendukung setia FuraTo. Bagaimana pun juga, tidak ada yang bisa menahan perasaan cinta bukan?

..To Be Continued..


Frau: Kok ending chapie ini jadi rada serius gitu? Kena angin apa lu?

Raphael: *mikir* gak tau dah..

Teito: Mama… Mama.. Aku beneran bakal jadi seme ampe cerita ini abis?

Raphael: sebenernya kepengen. Tapi, sesuai kata-kata penutup chapie 4, manusia tidak bisa melakukan apa yang mereka inginkan ya?

Teito: *shiver* jadi kebayang chapie2 berikutnya bakal jadi apa…

Raphael: nyahahahahaha~~

Frau: WOYY! Makan malamnya mana!

Raphael: oh iya.. Sabar, fish eye lasagna-nya hampir jadi..

Castor: Ah, aku suka sekali fish eye lasagna~

Labrador: Aku mau teh chamomile ya~?

Raphael: Silahkan, potongan paling gede buat Labrador, Castor dan Tei-chan sementara Frau dan Hakuren….

Frau & Hakuren: *jiiiiiiiiiiiiit* tatapan yang menyuruh Raph buat ambilin porsi gede juga.

Raphael: iya-iya.. *sweat-drop* ini.

All: ITADAKIMASU!~~~~

Frau: Hah, enaknya~ Dasar cewek manis ini! Bisa-bisanya bikin makanan seenak ini..

Castor: iya setuju..

Frau: Lalu, lasagna memang harus sama white wine, ya! Makanya, tolong ya~

Raphael: Ujung-ujungnya minuman keras toh! Pembacas juga ore kasih kok!

Castor: ah, baiknya..

Raphael: Tentu saja harus memberikan review~ (Mokona: Dunia ini milikmu, Raph!)

Frau: TUJUANMU ITU TOH!

Raphael: Hahahahahaha! TOAST! *toast with wines*

All: *cling*KAMPAI!