Title: Escape With You
Rating: T
Desclaimer: hetalia (c) Hidekazu Himaruya
Character: Sealand/England
Summary: Kepergian Peter membuat orangtuanya panic. Mereka mencari Peter kesana-kemari hingga melalui siaran. Apakah Peter akan dapat ditemui kedua orangtuanya? Apakah Arthur akan pergi ke barat untuk membunuh adik kesayangannya sendirian?
.
.
.
"Fuaaah, kenyang" ucap Peter segera bersender di bangkunya. Ia telah melahap semua makanan yang ia pesan direstoran itu.
"Hei, Gitt, jangan bersandar seperti itu setelah makan!" ucap Arthur lantang. Ia sangat tidak suka dengan orang yang bermalas-malasan setelah makan. Ia terus mengomel dan mengomel kepada Peter.
Peter tidak mempedulikan omelan-omelan Arthur sedikitpun. Ia segera beralih kearah televisi yang ada didekat situ. Iapun tersentak kaget melihat siaran berita disiang itu.
'Diberitahukan kepada semua masyarakat yang melihat anak yang ada didalam foto ini untuk menghubungi kedua orang tuanya. Anak ini menghilang sejak kemarin dan sampai saat ini ia belum juga dapat ditemukan. Anak keluarga Oxenstierna berumur 12tahun yang mempunyai ciri-ciri bermata biru, berambut blond dan mempunyai alis sedikit tebal'
Peter terbelalak melihat kearah siaran berita siang itu. ia melihat foto dirinya dan tangisan kedua orangtuanya yang begitu mengkhawatirkan dirinya. Tanpa ia sadari, Arthur juga tengah menonton berita tersebut.
Peter dengan segera menggenggam tangan Arthur dan membawanya pergi dari restoran itu. ia berlari tanpa memikirkan ucapan-ucapan Arthur yang ditariknya.
"HEI GITT!" teriak Arthur lalu menepis tangan Peter. Peter tersentak kaget dan tersadar dengan apa yang dilakukannya. Ia lalu berbalik menatap Arthur.
"Maaf" ucapnya menyesal. Arthur menatapnya dengan kesal. Ia masih kesal dengan kejadian barusan.
Arthur menghela nafasnya, ia segera merapikan bajunya yang agak berantakan. Ia lalu menepuk-nepuk kepala Peter dengan lembutnya.
"Kau tidak mau pulang kerumah dalam keadaan seperti ini kan?" tanyanya. "Aku tidak akan memulangkanmu sampai kau memaksaku untuk memulangkanmu, Gitt!"
Peter terbelalak mendengar ucapan Arthur. Arthur segera membalikkan badannya. Peter tahu bahwa wajah Arthur kini sedang memerah merona.
"Terserah kau ingin berpikiran seperti apa, tapi ini demi ambisiku!" ucap Arthur kembali.
Peter memeluk Arthur dengan eratnya. Wajahnyapun ikutan memerah.
"Terimakasih, Jerk Arthur"
"Ja—jangan peluk-peluk!"
Peter tersenyum senang. Merekapun segera melanjutkan perjalanan mereka ke barat.
.
XXX
Berminggu-minggu sudah Peter dan Arthur melakukan perjalanan ke barat tanpa kendaraan. Terkadang selama perjalanannya mereka bertengkar dan berdebat. Terkadang mereka berhenti untuk istirahat, makan dan tidur. Perjalanan yang mengesankan. Mereka melewati hutan, gunung, bukit dan lainnya. Mereka bermain dengan binatang-binatang yang mereka temui.
Dalam peristirahatan mereka di dalam hutan alami, Arthur segera membasuh wajahnya di sungai yang jernih itu. Peter duduk sambil bermain dengan kelinci yang sejak tadi mengikuti mereka.
"Peter—" panggil Arthur sambil menghandukan wajahnya yang basah.
"Yup?"
"Orangtuamu mencarimu—" Arthur menghentikan kalimatnya seketika. "—Mereka sayang padamu"
Peter terdiam tanpa sepatah kata.
"Seharusnya kau tidak perlu kabur seperti ini—"
"—dan aku harus menuruti mereka untuk ditunangkan dengan gadis itu?" Peter segera memutuskan kalimat Arthur. "Aku tidak mencintainya! Aku tidak mau ditunangkan seperti itu! itu membosankan! Aku tidak mau jalan hidupku diatur seperti itu!"
"Tapi kau mempunyai orang yang sayang padamu!" Pekik Arthur lantang.
Peter tersentak kaget mendengar ucapan Arthur. Ia terdiam. Arthur terdiam. suasana hening. Burung-burung yang sejak tadi berkicaupun ikut terdiam.
Peter menatap Arthur dengan lurus tanpa ragu. "Lalu, kau pikir tidak ada yang sayang padamu?"
Arthur tersentak mendengar ucapan Peter. Ia tertunduk sedih.
"—ya" ucapnya parau. "Sejak kecil aku hidup sendiri tanpa teman. Teman-temanku hanyalah teman imajinasi. Tidak ada satupun yang mencintaiku, kakak-kakakkupun selalu memukuliku dan menjadikan aku sebagai kelinci permainannya saja, begitu juga dengan Francis, tetanggaku. Francis memang jahil sejak dulu dan selalu membuatku kesal. Lalu Alfred adik angkatkupun juga berusaha untuk menjatuhkanku. Padahal saat itu adalah saat-saat yang membahagiakan milik kami"
Peter tetap menatap Arthur tanpa tergoyahkan. Ia berdiri dari duduknya.
"Jerk, kau itu bodoh, ya!" ucap Peter yang membuat Arthur terbingung-bingung dengan kalimatnya. "Apakah dari sekian lamanya kau hidup dengan mereka tidak ada satupun pengalamanmu yang indah dengan mereka? Kau dicintai oleh mereka! Tidak hanya oleh adik angkatmu!"
Arthur tetap terdiam heran denganucapan Peter.
"Kau tidak akan dapat merasakan rasa sayang mereka, Jerk, karena kau selalu memikirkan penderitaanmu dan mengkasihani dirimu sendiri!" ucap Peter lantang. "Bila kau merasa tidak ada satupun yang mencintaimu, maka AKU YANG AKAN MENJADI ORANG NOMOR SATU YANG MENCINTAIMU!"
Arthur terbelalak mendengar ucapan Peter. Wajahnya memerah padam. Begitu juga dengan Peter yang mengucapkan kalimat gombal nan memalukan itu didepan Arthur.
"A—apa yang kau barusan katakan, Gitt?" ucap Arthur malu.
"Karena itu aku bilang padamu, aku mencintaimu!" ucap Peter mempertegaskannya dengan wajah yang memerah padam. Ia juga tidak pernah berpikir akan menyatakan perasaannya seperti itu.
Arthur tertunduk malu, ia tidak tahu harus bagaimana. Yang ada didalam pikirannya sekarang adalah bahwa ia senang ada yang menyukai dirinya yang seperti itu. ia tertawa terbahak-bahak dikala wajahnya yang memerah. Airmatanyapun berjatuhan tanpa ia inginkan.
"Jerk, kau tidak apa-apa?" ucap Peter mendekati Arthur. "Apa ada yang sakit?"
Arthur tersentak kaget saat mengetahui airmatanya yang berjatuhan itu. pilu rasanya dihatinya, namun pilu dihatinya menghilang bersamaan dengan airmatanya.
Peter menghapus airmatanya dengan tangannya yang kosong itu, ia menatap wajah Arthur yang terlapisi airmatanya. Begitu indah dan manis sehingga tanpa ia sadari ia mendaratkan bibirnya tepat dibibir Arthur. Arthur tersentak seketika lalu menerima ciuman dari Peter. Mereka mentautkan llidah mereka masing-masing.
"I love you, Jerk. So, jangan berpikir bahwa tidak ada yang mencintaimu lagi!" ucap Peter malu.
.
XXX
"Bagaimana ini, Berwald? Peter masih belum ditemukan!" ucap seorang pria manis yang mempunyai hati seperti bongkahan es yang mudah retak. Ia menangis dalam ruangan yang gelap sambil menatap kearah pria disebelahnya. Dibawah matanya dapat terlihat lingkar mata bagaikan panda yang membuktikan bahwa dia kurang tidur selama anaknya hilang. Ia begitu menghawatirkan anak satu-satunya itu.
"T'n'nglah, Tino. Ak' b'ru s'ja m'nd'patk'n k'bar b'hw' P'ter d't'mukan d' s'atu t'mp't" ucap pria berkaca mata bermata biru pekat bagaikan emerald.
"Benarkah? Dimana dia sekarang?"
"D'a t'l'h m'makai ATMk' unt'k m'mb'li s'suatu. 'ku y'k'n k'ta b'sa m'n'muk'nnya"
"Pak!" panggil seorang polisi yang tiba-tiba mendatangi mereka. "Kami telah mendapat laporan bahwa anak bapak dan i—ibu telah ditemukan"
"Dimana dia sekarang?" tanya Tino khawatir.
"Mereka ada ditengah lautan menuju Amerika"
Mendengar kalimat itu, Tino segera tidak sadarkan diri. Bagaimana tidak? Lautan menuju Amerika. Itu sesuatu yang sangat mengejutkan bagi orangtua yang selalu memanjakan anaknya dan melarang anaknya pergi main jauh-jauh selama ini.
"B'ikl'h k'ta s'sul d'a!" ucap Berwald bergegas sambil menggendong Tino, istri tercintanya.
"Baik pak!"
Sementara itu di lautan luas diatas kapal megah bak Titanic, Arthur dan Peter menikmati pemandangan indah laut biru.
"Anginnya segar" ucap Peter sambil menikmati angin laut. "Aku ingat, kami sering sekali jalan-jalan keluar negri naik kapal laut seperti ini. Aku, papa dan mama melihat lumba-lumba dilautan"
Peter termenung seketika mengingat orangtuanya.
"Kau tahu?" ucap Peter. "Aku anak orang kaya. Tidak ada yang tidak mengenal kata 'Oxenstierna' dipelosok dunia ini. Mereka semua takut dan kagum terhadap ayahku. Mereka menghormati ayahku dan mereka sangat takut pada ayahku. Aku sangat disayang tanpa terluka sedikitpun. Mereka menjagaku dan sangat berhati-hati. Aku senang bersama mereka—"
Arthur terdiam mendengarkan cerita Peter sambil mengeluarkan rokok dari sakunya.
"Ibu tidak pernah mengizinkan aku keluar jauh-jauh dari rumah. Ia begitu menjagaku. Mungkin bila ibu tahu aku pergi ke Amerika bersamamu, ia pasti panik sekali. Ehehe" Peter tertawa kecil sambil menatap Arthur. "Jerk, aku sangat menikmati perjalanan ini. Aku sangat senang bisa bertemu denganmu. Setelah ini, mungkin kita tidak akan bertemu lagi"
Arthur menepuk-tepuk kepala Peter. Ia mematikan rokoknya yang baru saja ia hidupkan.
"Kau bicara seperti itu seakan kita tidak akan pernah bertemu lagi" ucap Arthur sambil menatap lautan. Peter tersenyum kecil.
Arthur menatap Peter dengan lurus tanpa ragu. "Indah"
"Eh?"
"Kau tahu, bola matamu itu bagaikan lautan biru ini. Begitu indah dan menyegarkan bila dipandang" ucap Arthur. "Aku juga menikmati perjalanan ini dan aku berharap bisa terus bersamamu seperti ini. Karena aku terasa kembali hidup bila bersamamu"
Peter tersenyum kecil mendengar ucapan-ucapan Arthur. Ia tidak menyangka, Arthur akan mengucapkan kalimat memalukan seperti itu. dan tentu saja ia tidak menyangka bahwa ia akan mendapatkan kecupan dari Arthur untuk kedua kalinya. Peter memeluk Arthur dengan eratnya, begitu juga dengan Arthur. Mereka memperdalam kecupan tersebut.
"Jerk, aku tidak mau pulang tanpamu" ucap Peter parau. Ia sudah terlanjur mencintai pria yang ada didepan matanya ini. Ia tidak ingin berpisah dengan pria itu.
"Tidak akan kupulangkan!" ucap Arthur mempererat pelukannya dan memperdalam ciumannya. "Tetaplah disisiku! Bersamaku, Peter!"
"I will"
.
.
TBC
.
.
My OTP XDD... akhirnya bisa juga buat cerita tentang Inggrisealand XDDD... asyeeekkk XDD selama ini selalu bingung nuangin idenya ke ffn XDDD selalu buat gambarnya terus XDD
Sorry ya apdetnya lama... karena males nulis dan susah menuangkan idenya dalam bentuk cerita.. dan akhir2 ini sibuk banget... sekali lagi hontouni gomennasai A... maaf kalau part 2 ini tidak memuaskan sama sekali.. tapi saya akan berusaha untuk memuaskan pembaca... A/...
.
.
Terimakasih sudah membacanya dan maaf kalau ternyata masih TBC... semoga apdet untuk yg nomor 3 ga terlalu lama... w doakan saja... dan maaf kalau banyak typo karena saya suka bingung typo jadi tolong beritahu...
.
Minta REVIEW-annya please.. suka tidak sukanya juga bilang saja...
