Noir Mademoiselle

A/N: Halo! Hi! Auf Wiedersehen! Konbanwa!

Lavi no tenshi lagi rajin update, wehehe….

Tenang aja, yang mau jadi OC, boleh! Silakan hubungi saia! Mau PM kek, sms kek, bebas!

Okeey, sekarang waktunya kita START!


Chapter 6

"Pelindung Noir Mademoiselle…. Apa maksudmu?" Kanda menanyai Lavi.

"Aku baru membaca…. Kalau ternyata…. Setiap gadis keluarga d'Castille berpasangan dengan salah satu Bookman…. Lihat saja, di garis ke-49 ini."

Lavi menyodorkan buku pada Kanda untuk dibaca. Dan Kanda melihatnya.

Garis ke-49. Di sisi kanan dia melihat nama Crystalla.

Crystalla d'Castille.

Dan di sisi kiri dia melihat nama Lavi.

Kanda menaikkan matanya, dan dia melihat nama Bookman berpasangan dengan salah satu gadis d'Castille lain.

"Sejak kapan ini ada….?"

Lavi menggelengkan kepala, tanda tak tahu.

"Tapi, bagaimana? Bukankah kau tidak…."

"Ya, aku tahu. " Jawab Lavi parau. "Aku tahu aku tak boleh memiliki 'hati'…. tetapi…."

Lavi tertunduk. Kelihatan oleh Kanda, kalau Lavi tertekan.

"Lavi…."

BRAK!

"Reever!"

Baik Lavi atau Kanda sama-sama terkejut. "Ada apa?"

"Gadis itu…. Crystalla…."

"Kenapa lagi?" Kanda mulai khawatir.

"Dia hendak terjun!"

Kanda buru-buru keluar, disusul Lavi.

-X-X-X-

"Hosh…. hosh…"

Kanda dan Lavi terengah-engah di lorong.

"Ah, Lavi-kun, Kanda-kun!"

"Lenalee!"

Kanda dan Lavi menghampiri Lenalee. "Dimana Alla?"

"Dia ada di dekat ruangan nii-san…."

"Ayo, kita ke sana!"

Mereka berlari lagi ke dekat ruangan Komui.

"Alla!"

Alla menoleh sejenak. "Kakak Yuu, Lavi, Lenalee-neechan…."

Kanda terpaku. "Doushite….? Alla?"

Alla hanya menyunggingkan senyum kecil yang pahit. "Kurasa Lavi tahu, iya kan, Lavi?"

"Tahu apa??" Lavi kelihatan kikuk.

Alla membuka sedikit coat yang dipakainya, dan terlihatlah.

"Ah! Itu…. Tato itu…." Lavi terkejut.

Tato berbentuk mawar hitam itulah yang mengganggu pikirannya. Dan sekarang dia melihatnya.

"Usagi, apa yang kau maksud…. Itu kan?" Tanya Kanda, yang mulai mengerti. Lavi mengangguk.

"Hal ini mengganggu pikiran Alla…. Alla tidak tahan lagi…. Alla tidak mau…. Pokoknya tidak mau…."

"Tapi, kau tidak perlu terjun seperti ini!" Sergah Kanda.

"Keputusan Alla sudah bulat." Tegas Alla. Dia menjatuhkan tubuhnya ke dasar.

"ALLA BODOH!!!"

Kanda berusaha menangkap Alla, tapi dia terlambat.

"Uuukhh…. Sial! Sial! SIAL!!"

Lavi menatap ke bawah. Memang, Alla sudah tak terlihat lagi olehnya, tapi dia merasakan sesuatu bahwa Alla masih ada.

"Dia masih ada…."

Lavi juga ikut terjun ke bawah.

"LAVI!"

"LAVI-KUN!"

-X-X-X-

'Alla, ada dimanakah kau….' Batin Lavi dalam kegelapan itu.

SRIIING….

Lavi melihat sinar yang sangat terang di depan. Dia berjalan menuju ke sana, berharap kalau itu Alla.

Dugaannya benar, itu memang Alla. Lavi mendekatinya, tapi tak bisa menyentuhnya.

'Kenapa ini? Kenapa aku tak bisa menyentuhnya?'

Lavi menengok kesana-kemari, tapi yang ditemuinya hanya kegelapan semata.

'Apa yang harus kulakukan? Beritahu aku…. Alla!'

Di depan, Lavi melihat seberkas sinar lagi datang mendekatinya.

"Lavi…. Jika kau ingin menyentuh Noir Mademoiselle, ada satu syaratnya. Kau harus jujur pada perasaanmu sendiri, dan hal itu akan menuntunmu menuju sesuatu yang selama ini kau inginkan."

"Tapi…. Bagaimana caranya aku bisa…."

"Percaya pada hatimu, Lavi…. Percaya bahwa selama hatimu memberitahumu, maka itulah jalan yang akan kau lewati."

Lama-kelamaan, suara itu menghilang, diikuti cahaya tadi.

Lavi kebingungan sambil menatap Alla yang nampak tertidur itu.

"Sekarang, aku harus bagaimana?"

Lavi terdiam sejenak.

'Ah…. Aku tahu, akhirnya aku tahu….'

Lavi meraih tangan Alla.

'Akhirnya aku tahu. Hal ini…. Aku tak peduli meski aku penerus Bookman, aku ingin jujur pada diriku.'

Lavi tersenyum menatap wajah gadis itu.

"Aku mencintaimu, Alla…. Setelah sekian tahun bersama…. Aku mencintaimu lebih dari apapun…. Datanglah ke dalam hatiku, datanglah mengisi jiwaku yang sepi…. Datanglah padaku, nonaku…. Datanglah ke dalam sanubari yang merasuk, merindukan dirimu…. Datanglah ke dalam relung sukma yang meronta menginginkanmu…. Datanglah ke dalam dekap hangat cintaku…. Datanglah ke dalam taman cinta yang kubuat hanya untukmu, nonaku…. Datanglah, Noir Mademoiselle, ke dalam rentang jiwa yang lelah menantimu…. Aku mencintaimu….

Aku mencintaimu selamanya."

Dan Lavi mencium bibir gadis itu lembut.

"Uh…. Lavi?"

Lavi menatap gadis di pelukannya. "Crystalla?"

"Alla…. Mimpi indah."

Lavi tersenyum. "Iya, kau akan selalu mimpi indah."

Alla memeluk Lavi. "Jadi Lavi, ya…. Pelindung Alla…. Orang yang dipasangkan dengan Alla…. Alla senang sekali…."

"Aku…. juga."

Mereka berpelukan erat.

"Alla sudah dengar…. Alla akan datang ke tempat yang tadi Lavi katakan…. Alla akan senang sekali…."

"Terimakasih."

Dan mereka pun berciuman kembali. Alla tak peduli meski wajahnya memerah, dia merasa senang bisa bertemu pangerannya yang dia rindukan sejak lama.

-X-X-X-

"Kanda-kun, cahaya itu?" Lenalee menunjuk cahaya di bawah.

"Iya, apa itu?"

Cahaya itu mulai naik, naik, dan naik mendekati mereka.

"Ah, keajaiban, Kanda-kun!" Seru Lenalee gembira.

"Apa?"

"Lihat cahaya itu!"

Kanda menatap ke arah cahaya itu dan terkejut.

Cahaya itu adalah Lavi dan Alla.

"Baka usagi? Bagaimana bisa…." Kanda terheran.

"Yuu-chan, kau jangan heran. Ini wajar, karena akulah yang melindungi gadis ini."

Kanda hanya mengangguk maklum.

"Lavi-kun, itu…."

Lenalee menunjuk leher Lavi, yang sekarang terukir sebuah tato bergambar salib.

"Oh, ini." Lavi berkesan cuek. "Ini adalah bukti bahwa aku akan melindungi Noir Mademoiselle."

Lavi menatap Alla yang tersenyum padanya.

GREKK!

"Wah, pertemuan yang seru sekali, ya."

Semuanya menoleh ke atas. "Road! Lulubell!"

Road, menaiki payungnya seperti biasa. Dan Lulubell berdiri di ujung reruntuhan.

"Terimakasih sudah menemukan Noir Mademoiselle." Kata Road. "Sekarang, kami akan membawanya."

"Enak saja kalau bicara!" Lavi sewot. "Dia takkan kuserahkan pada kalian!"

"Ck, ck, ck.... Exorcist kita yang satu ini, gampang naik darah, rupanya." Cela Lulubell. "Hati-hati, sifatmu itu akan membawa akibat buruk bagi dirimu sendiri."

"Cih...."

Para akuma mulai muncul. Kanda, Lavi, Lenalee, dan para Exorcist lainnya mulai melawan.

"Alla, kamu pergi saja!" Seru Lavi.

"Tapi.... Alla mau bantu...."

"SUDAH! Kau pergi saja sana! Serahkan disini pada kami!"

Alla hanya menurut dan dia berlari pergi.

"Eits, tak semudah itu, Noir Mademoiselle."

Road mencegat Alla dan memukulkan payungnya ke arah tengkuk gadis itu. Alla pun pingsan seketika.

"MUNDUR!"

Lavi dkk heran melihat para akuma itu mundur begitu saja.

"Lihat, apa yang kudapatkan." Seru Road sambil menunjukkan Alla di atas payungnya.

"Crystalla!"

Lavi hanya bisa menggeretakkan giginya. Kanda menggenggam Mugen miliknya erat.

"Nah, sampai jumpa, Exorcist!"

Dua anggota keluarga Noah itu pergi menggunakan pintu yang dibuat Road.

"SIAL! SIAL! SIAL!!!" Jerit Lavi sambil memukuli lantai.

"Lavi-kun, jangan! Sudah, hentikan!"

Lenalee menangkap tangan Lavi.

"Kalau begini, cuma satu cara." Kata Kanda kemudian. "Panggil para Exorcist itu."


Waah, kira-kira, siapa Exorcist yang dimaksud Kanda, ya?