Noir Mademoiselle
Chapter 8: The Long Lost Song
"Jadi, kalian bertiga…."
Aion mondar-mandir di aula kantin. "Apa petunjuk yang kalian punya untuk mencari Crystalla d'Castille?"
Allen, Lavi, dan Kanda terdiam.
"Hooi, para cowok ganteng, jawab, doong!" Aya menatap wajah mereka semua. "Allen sayang, Allen pasti punya petunjuk, kan? Nggak kayak Lavi dan Kanda?"
BUUGH!!
"AAWW!!"
Aya terpental ke arah dinding kantin setelah Lavi memukulnya.
"LAVI! Kau ini apa-apaan?!" Allen segera menolong Aya. Jelas dong, dia kan nggak rela pacarnya dilukai kayak gitu.
"Bilang padanya, jangan sembarangan BICARA!!!!"
Setiap nada dari kata-kata Lavi penuh dengan amarah. "KALAU DIA MASIH SEMBARANG BICARA, AKAN KULUMATKAN DIA DENGAN TESSEI-KU!!!!!!" Lavi menarik Tessei-nya.
"LAVI!!! HENTIKAN!!!"
Allen berdiri untuk melindungi Aya yang hampir menangis. "Aya kan tidak sungguh-sungguh saat dia bicara seperti itu!!! Kau tidak perlu marah-marah seperti ini!!!!"
Kemudian Allen menghampiri Aya lagi. "Bangunlah, Aya…. Pipimu tidak apa-apa?"
"Iya, tapi…. kenapa Lavi semarah itu???"
"Aya, mengertilah. Lavi adalah Bookman pelindung Noir Mademoiselle, makanya dia kalut. Ayo, berdiri dan mnita maaf, kan tadi kau juga yang salah."
"Tapi, Aya takut…."
"Tidak usah takut, ayo."
Aya berdiri dan menghampiri Lavi.
"Lavi, a-aku mau minta maaf, sudah bilang begitu ta-tadi…."
SREET!
GUSRAKK!
"AAAHHH!!"
Jeritan Aya membelah keramaian di aula kantin. Lavi melemparnya jauh ke ujung kantin. Aion dan Nana cepat-cepat menolongnya.
Allen sudah benar-benar marah sekarang. Dia memukul Lavi hingga calon Bookman itu jatuh tersungkur.
"LAVI!!! KAU INI APA-APAAN, HAH?!! AYA SUDAH MINTA MAAF BAIK-BAIK PADAMU, APA YANG KAU PIKIRKAN??!!"
Lavi berdiri. Dia mencengkeram kerah baju Allen.
"Berisik, dasar MOYASHI SIALAN!! KAU TAK MENGERTI APAPUN TENTANG PERASAANKU!!!"
Lavi memukul Allen. Allen pun jatuh tersungkur lebih jauh, hingga merusak kursi kantin.
"Lavi, sudah hentikan! Ini diluar perkiraan! Kita berdiskusi bukan untuk berkelahi, kan?" Akira, sebagai sahabat dekat Lavi, berusaha menghentikannya. Gadis itu menahan tangan Lavi untuk memukul Allen lebih keras lagi.
"Lavi, sudah, hentikan ya…. Aku mohon sekali."
"CEREWET!! JANGAN MENGATURKU!!!"
PLAKK!
Lavi menampar Akira. Gadis itu jatuh ke dekat panci berisi sup panas.
"Akira-chan, awas….!" Jerit Yuufie tertahan.
"BAHAYA!"
Lenalee cepat-cepat menarik Akira.
"Huff, nyaris saja dia ketumpahan."
Yuufie segera memeriksa Akira. "Ya ampun, dia pingsan…. Lavi, kau ini kenapa, sih?! Apa kau tidak ada perasaan hingga menampar sahabat dekatmu sendiri hingga pingsan seperti ini?!" Yuufie marah-marah.
"KAU LAGI, JANGAN IKUT-IKUTAN!!!"
Tangan Lavi mengarah menuju Yuufie. Gadis itu sudah ketakutan.
"BAKA USAGI, HENTIKAN KEBODOHAN INI!!"
BUUGH!
Kanda menghajar Lavi duluan sebelum dia sempat menampar Yuufie.
"Cih…."
"Kau ini kesurupan atau apa?! Kita disini sekarang bukan untuk bertengkar, tahu! Kita sedang memikirkan bagaimana cara menyelamatkan Alla!!"
Kanda menarik Yuufie ke dalam pelukannya, membiarkannya menangis.
"Terserah apa katamu!!"
Lavi meninggalkan kantin. Kentara sekali kalau dia marah.
-X-X-X-
"Apa-apaan Yuu…. Dia, semuanya…. apa dia tahu perasaan yang sedang kurasakan?!" Gerutunya di lorong. Kemudian dia berhenti di taman, dimana Alla suka menyanyi di sana.
Lavi memasuki taman dan duduk di bangkunya. Dia memutuskan untuk membuka liontin 'Song of Venus' itu.
Begitu dibuka, otaknya langsung penuh dengan bayangan Alla.
"Alla, kau tidak apa-apa, kan? Tunggulah aku, aku berjanji akan segera menolongmu." Ucapnya sambil mencium liontin itu.
Keanehan terjadi. Liontin itu tiba-tiba bersinar, tak lama kemudian menampakkan bayangan Alla yang disiksa di Noah of Tower. Dia diikat di sebuah ranjang dan pakaiannya robek dimana-mana. Darah sudah keluar dari sekujur tubuhnya.
"CRYSTALLA??!!"
(Gambaran di liontin)
"Tidaaakkk!!! Jangan dekati aku, pergi kau, dasar mesum!"
"Aku tidak suka dipanggil 'mesum', atau bisa kubilang, aku lebih suka dipanggil 'lolicon'"
"AAHH! Pergi! Jangan dekati Alla, sana cepat pergi!"
"Hehehe, aku tidak mau pergi, Lord Millenium sudah bilang kalau aku bisa bermain-main denganmu sebelum upacara."
"TIDAAAKK!! Alla tidak mau kalau bersamamu! Alla tidak rela!! ALLA TIDAK RELA, POKOKNYA TIDAK RELA KALAU BUKAN SAMA LAVIII!!!"
"Lavi? Bocah sialan yang sulit diam itu? Ooh, rupanya kau suka padanya, ya."
"Hentikan, jangan cium Alla, pokoknya tidak boleh!! TIDAK BOLEH!!!"
"Oh ya? Kalau begitu, bagaimana kalau aku memaksamu?"
"TIDAAKK!! TIDAK, JANGAN DEKATI ALLA!! JANGAN SENTUH ALLA!! HENTIKAN…. mmhh…. LEPASKAN!!
LEPASKAAAN!!!!"
"Benar-benar Mademoiselle yang manis. Aku jadi ingin bermain-main denganmu lebih lama lagi."
"LEPASKAAAANNN! LAVI, TOLONG….!!!!"
"Sialan Tyki…."
Lavi mengepalkan buku-buku jarinya dengan kuat. Dia amat sangat marah sekarang.
Dia berangkat sendiri tanpa ada yang tahu, kecuali Timcanpy yang diam-diam terbang membuntutinya, sambil membawa liontin 'Song of Venus' itu di dalam tubuhnya.
-X-X-X-
"Aaahh! Lepaskan Alla, dasar brengsek!!"
Di Noah of Tower, Tyki Mikk masih senang bermain-main dengan tahanannya-atau tepatnya, tahanan keluarga Noah, Crystalla.
"Aku merasa senang bermain denganmu, Mademoiselle. Aku takkan bosan kalau begini caranya."
Alla sudah menangis. Tubuhnya sakit, dia tidak diberi makan atau minum. Sudah dua hari ini, Tyki datang ke kamar tahanannya dan menyiksanya sesuka hati.
"Hosh…. hosh…."
"Aah, kau capek, Mademoiselle?"
"Jangan pura-pura baik!" Semprot Alla. "Alla tahu maksudmu!"
Tyki tersenyum penuh arti. "Ya, tentu kau sudah tahu maksudku. Maksud keluarga Noah. Maksud dari Lord Millenium. Yaitu mendapatkan liontin lagu kunci itu, Noir Mademoiselle."
"Heh, jangan harap Alla akan kasih! Tidak akan pernah!"
"Bicaramu berani juga, hai gadis kecil."
Tyki memegang wajah Alla kasar. "Mau tidak mau pun, kau akan menyerahkannya pada kami."
Alla melempar pandangnya ke arah lain.
"Jangan mengalihkan diri saat orang yang lebih tua bicara, Mademoiselle!"
Tyki merogoh rok Black Order yang dipakai Alla.
"AAHH!! Dasar Noah mesum, cepat keluarkan tanganmu!! Menjijikkan!!"
Tyki tidak menghiraukan protes dari gadis itu, tangannya terus merogoh ke dalam.
"Lepaskan tanganmu…. Cepat keluarkan! Alla tidak sudi…. Alla tidak rela orang sepertimu merogoh rok Alla!!"
"Oh ya? Apa yang akan kau lakukan padaku, Mademoiselle, sementara kau tak bisa apa-apa tanpa bocah sialan itu disini."
Entah kapan terjadinya, rok Black Order yang dikenakan Alla sudah lepas.
"Aah…. aaahhh…."
"Nah, Noir Mademoiselle, kita mulai permainan yang sebenarnya."
Alla melotot dalam ketakutan. Tangisan semakin menjadi, turun dari matanya.
"AAAAHHHH!!!!!!"
-X-X-X-
"Hei, kemana Lavi?" Tanya Aion.
"Lavi? Dia kan tadi pergi keluar."Yuufie berkata di sela isakannya.
"Jangan-jangan…. dia pergi ke Noah of Tower sendirian…." Aya menduga-duga sambil ketakutan.
"Masa sih, Lavi senekat itu?"
"Bisa saja kan, mengingat tadi dia sangat marah…."
Allen celingak-celinguk. "Hei, dimana Timcanpy?"
"Masa hilang juga?"
"Tadi kan masih ada…."
Tiba-tiba Kanda berdiri.
"Kanda-kun, ada apa?" Tanya Yuufie.
"Kita segera berangkat!" Komandonya.
"Eeh? Tapi, Komui kan belum memberi perintah!" Sergah Aion.
"Tidak usah menunggu perintah! Aku punya firasat buruk, lebih baik kita segera pergi!"
Para Exorcist itu mengangguk.
-X-X-X-
"Akhirnya…. Noah of Tower."
Lavi menarik Tessei-nya.
"Ouzuchi Kouzuchi! Man, man, man!"
Tessei-nya membesar dan dia menerjang masuk ke dalam.
"Hmm, bocah pecicilan itu datang juga, rupanya." Gumam Lulubell. "Apa yang harus kita lakukan, Lord Millenium?"
Millenium Earl hanya terkekeh. "Bagus, bagus. Sebaiknya kita beri sambutan untuk tamu kita."
Seketika akuma-akuma dari level 1 sampai 4 bermunculan. Lavi dengan membabi buta menghancurkan seluruh akuma itu.
"Wah, dia tidak buruk!" Seru Road. "Earl-sama, boleh aku turun?"
"Jangan, Road. Lebih baik kita tunggu disini, upacara akan segera kita mulai."
Millenium Earl dan para Noah memandang Alla yang dipasak di sebuah salib yang rusak.
-X-X-X-
"Huh, akuma-akuma tak berguna! Kalian tak akan bisa menangkapku!" Seru Lavi. "Hiban!"
Api dengan cepat membakar akuma level 1 di depannya.
Lavi hampir tiba di lantai puncak. Dia menatap ke atas atap, yang ada sedikit lubangnya.
"Ugh, sebentar lagi gerhana. Aku harus cepat!"
Lavi berlari ke atas, tanpa tahu Timcanpy terus membuntutinya.
-X-X-X-
"Ayo, semuanya! Sebentar lagi gerhana, upacara itu akan segera dimulai!" Seru Kanda.
"Meskipun kau bilang begitu…. Kami tidak kuat lagi…." Aion berkata lemah. "Kami tidak kuat lagi berlari."
Kanda mendengus kesal. "Kalian ini bagaimana, sih? Kita harus cepat!"
Aion ambruk bersama yang lainnya. "Biarkan kami istirahat dulu…. sebentar saja."
"Che! Dasar lemah!"
Di kejauhan, Akira melihat sebuah golem berwarna oranye, persis Timcanpy.
"Hei, lihat golem itu!" Seru Akira. "Itu milik siapa?"
"Oh! Itu Orange!" Aya menghampiri golem berwarna oranye itu. "Ada apa, Orange?"
Orange membuka mulutnya, memberi gambaran bahwa Timcanpy sedang membuntuti Lavi.
"Oh, jadi itu dia! Dasar baka usagi!" Kanda berdiri. "Ayo! Kita tidak punya waktu untuk dibuang!"
Semua yang mengikutinya mengangguk.
-X-X-X-
"Datang juga kau, Exorcist!"
Lavi diam, menatap keluarga Noah dan Millenium Earl yang mengelilingi salib tempat Alla dipasak.
"Lepaskan Crystalla!"
Road memberikan pandangan mengejek. "Tidak semudah itu, dong! Noir Mademoiselle milik kami! Tapi, hanya kurang satu benda, iya kan, Earl-sama?"
Millenium Earl mengangguk. "Nah, Exorcist, dimana liontin suci itu?"
"Heh, walaupun aku tahu, aku takkan memberitahukannya pada kalian! Kalian harus memaksaku untuk memberitahukannya!" Seru Lavi menantang.
"Hohoho, sikapmu menantang sekali, anak muda." Tyki turun menghampiri Lavi. "Baiklah, aku yang akan menghadapimu!"
"Oke! Maju!"
Lavi dan Tyki mulai bertarung. Keduanya seimbang.
"Dimana liontin suci itu, anak sialan?" Tanya Tyki agak memaksa.
"Tidak akan kuberitahukan! Aku tidak akan memberitahukannya pada kalian!" Lavi menolak memberitahu.
"Oya? Tapi kurasa teman kecil kita akan memberitahu!"
Tyki menyerang Timcanpy yang ada di belakang Lavi. Timcanpy jatuh, liontin Song of Venus termuntahkan dari tubuhnya.
"Liontin itu!" Tyki berlari untuk menangkapnya.
"Tidak akan kubiarkan!!"
Keduanya berebut untuk mendapatkan liontinnya. Tiba-tiba….
"Red Ribbon, aktifkan! Extend!"
Sebuah pita merah memanjang, menangkap liontin itu lebih dulu.
"Divine Zephyr, aktifkan! Divine Air Slash!"
Pisau angin menerjang. Tyki cepat-cepat menghindar.
"Rupanya kita kedatangan tamu lagi." Gerutunya.
Lavi menoleh. "Aya! Aion! Dan kalian, kenapa kemari?!"
"Baka usagi! Kita ini sama-sama menolong Alla, tahu!" Kanda sewot. Yuufie berusaha menenangkannya.
"Lavi, mengertilah! Kita semua juga ingin menyelamatkan Noir Mademoiselle!" Seru Allen sembari menghampiri Lavi.
"Kalian…."
"Kita kan teman, Lavi-kun, apa kau lupa? Teman tidak akan meninggalkan yang sedang kesusahan." Kata Akira lembut.
"Akira…."
"Oke, ayo kita bereskan!"
Para Exorcist itu berdiri.
"Ayo, kita mulai!"
Noah dan Exorcist bertempur.
"Divine Zephyr! Fire Gale!"
"Serenity Halo! Hypno Voice!"
Duet Aion-Aya cukup bagus.
"Crown Clown!"
"Mugen! Kyouran Ichiirou!"
"Hiban!"
Trio Allen-Lavi-Kanda memberi pukulan kritis.
"Heavenly Guns! Heaven's Roulette!"
"Red Ribbon! Tight Thrust!"
Pukulan akhir dari Akira dan Aya.
"Bagus, bagus! Tapi upacara akan segera dimulai!"
Millenium Earl membangunkan Alla. Alla terbangun, tapi tak sadar.
"Hei, Earl brengsek! Kau apakan Alla?!" Tanya Lavi dengan marah.
"Khekhekhe. Dia berada di bawah kendaliku, dan dia akan menyanyikan lagu itu untuk kebangkitan sejati!"
Lavi menggeretakkan giginya, lalu menerjang ke arah Millenium Earl.
"JANGAN HARAP ALLA AKAN KUBERIKAN PADAMU!!!"
Lavi melompat melewati Tyki dengan menginjak payung Road, menangkap sisi salib tempat Alla dipasak.
"Alla, sadarlah, ini aku! Ini aku, Lavi! Kau dengar, kan? Alla!"
Alla tak merespon apapun.
"BAIKLAH, KALAU KAU MEMAKSA!"
Lavi mencium Alla, menciumnya selembut yang dia bisa.
Tato yang terukir di leher Alla, Lavi, dan Nana bersinar. Ruangan itu bersinar terang.
Noir Mademoiselle telah bangkit.
