Noir Mademoiselle

Chapter 9: RE-Awaken

Yak, inilah chapter akhir Noir Mademoiselle!!


Noir Mademoiselle telah bangkit.

"Huh…. dasar baka usagi. Dia mencari kesempatan!" Cibir Kanda sedikit senang, sambil menebas akuma di hadapannya.

Crystalla d'Castille membuka mata hatinya.

"Ah, Lavi…."

"Alla, akhirnya kau sadar. Iya, ini aku."

Alla tersenyum manis.

"AEON INNOCENCE, AKTIFKAN! RELEASE!"

Coat yang dikenakan Alla berubah, menjadi pakaian seperti seorang malaikat, hanya saja berwarna hitam. Dari punggungnya, sepasang sayap hitam merekah, merentang hingga mencapai ujung atap Noah of Tower.

Rambut salemnya yang manis bertambah panjang, dihiasi dengan mahkota dari rangkaian bulu berwarna perak dan hitam.

Di tangannya dia memegang sebuah harpa kecil, dan liontin 'Song of Venus' itu menggantung di lehernya, membuka dan sinarnya menyelimuti Nana.

"Nana….?" Allen dan Aion terheran.

"CONNECT TO INNOCENCE!"

Serenity Halo yang dipegang Nana berubah warnanya, jadi hitam metalik dengan sayap berwarna hitam pula. Kekuatannya pun bertambah, mengaliri sekujur tubuh Nana.

Lavi pun berubah pakaiannya, seragam Black Order yang dikenakannya berubah menjadi sebuah tuxedo berwarna hitam. Tessei-nya dilengkapi dengan rantai berujung salib. Dan dia pun mempunyai sayap seperti Alla. Bandana yang mengikat kepalanya terlepas, digantikan sebuah mahkota dari duri.

"Ajaib…. Inikah kekuatan Noir Mademoiselle?" Akira takjub. Dia menggenggam Heavenly Guns-nya kuat.

"Aku juga tak mau kalah! Angel's Wings, aktifkan!"

Akira mengaktifkan Innocence parasitnya. Dia pun ikut melayang dengan sayapnya.

"Dark Cards, aktifkan!"

Yuufie pun memegang dua buah card deck berwarna hitam.

"Semakin seru saja jadinya…." Gumam Road. Para Noah yang lain dan Millenium Earl pun tersenyum.

"Pasukan akuma-ku tersayang, muncullah! Ini hari kebangkitan untuk kalian semua!"

Para akuma pun muncul lagi. Para Exorcist sudah siap dengan senjatanya, namun kemudian….

"Mind Destruction!"

Alla memainkan harpa di tangannya. Melodi dari harpa itu mempengaruhi tubuh akuma dan meledakkannya dalam sekejap.

"Dark Chain!"

Lavi melempar rantai yang melingkari Tessei-nya. Kemudian mengikatkan rantainya ke salah satu akuma terdekat. Rantai tersebut mengeluarkan kekuatan kegelapan yang dahsyat, menyedot hidup akuma tersebut hingga hancur menjadi bulu-bulu hitam.

Teman-teman Exorcist mereka menjadi takjub.

"Ayo, kita jangan kalah! Mugen! Kyouran Ichiirou!"

"Cross Grave!"

Nana tersenyum senang. "Oke! Nana juga nggak mau kalah! Serenity Halo! Dark Song!"

"Heavenly Guns! Dual Destruction!"

"Divine Zephyr! Flare Gale!"

Setelah akuma-akuma itu hancur, para Noah sendiri yang turun tangan. Tyki melawan Kanda, Lulubell melawan Yuufie, Jasdero-Devit melawan Allen-Aion, dan Road melawan Akira.

Alla menyanyikan sebuah lagu sambil memainkan harpanya, sementara Lavi melindungi dirinya.

Kanashimi no oshiete….

Hitomi wo tojite itara kanashimi mo mienai to

Nukumori shirazu ni ireba kizutsuku koto mo nai to

Omoidasenai yasashii koe wo

Tomurau mune no unabara

Kieuseta kako kara dareka ga yondeiru no

Kanashimi wo kono te ni

Torimodosu toki wa itsu to

Nido towa konai ima anata no koto shika mienai

Tooku de shizuka ni hikaru yasashii fune ga hitotsu

Sakamaku nageki wo nosete mune no nani ma ni kieru

Shiranai hazu no nukumori mo naze

Sagashite madou unabara

Sanazami yurameite inochi no fune wa yuku yo

Hoshi hitotsu mienai nami ma wo koete susumu yo

Kurayami no mukou ni anata no koto shika mienai

Itsuka miteta namima

Shizukesa no hou e

Umi no soko ni kieta

Yasashisa no hou e

Aishi au mirai wo tashika ni shitteiru no

Kanashimi wo kono te ni

Torimodosu sono toki made

Nido towa konai ima

Anata no koto shika mienai.

Cahaya terang memenuhi ruangan.

"Heaven's Seal!"

-X-X-X-

Semua telah berakhir. Tapi sayang, Millenium Earl bisa kabur bersama satu-satunya anggota keluarga Noah, Road.

Tapi setidaknya, mereka bisa membereskan anggota penting keluarga Noah.

"Tadi itu hebat sekali." Puji Kanda untuk pertama kalinya.

"Iya! Aku sampai takjub." Yuufie tersenyum senang.

"Apalagi bagian segelnya itu! Uuh, Nana suka banget!"

Lavi hanya tersenyum mendengar perkataan teman-temannya, saat dia melihat tubuh Alla turun perlahan-lahan dari atas, dengan mata tertutup. Tangannya bertemu dan berpelukan satu sama lain, seolah memohon sesuatu. Harpa yang dia pegang rusak, pecah di sana-sini.

"Hei, baka usagi, Alla akan segera bangun, kan?" Tanya Kanda.

"Tentu saja, Yuu-chan! Kau ini bicara apa, sih! Tentu saja dia akan segera bangun. Dia hanya kelelahan, makanya…."

"Noir Mademoiselle tak akan terbangun lagi."

Semuanya menoleh ke arah suara. "Bookman!"

Bookman, ditemani Toma sang Finder dan Krory serta Miranda. Dua Exorcist itu pun nampaknya habis bertempur dahulu.

"Apa maksudmu, Bookman?" Tanya Aion. "Apa maksudmu kalau Noir Mademoiselle tak akan terbangun lagi?"

"Tugasnya sudah selesai. Dia tak akan terbangun lagi untuk selamanya."

Lavi menghampiri Bookman dengan wajah heran. "Panda, apa maksudmu? Katakan padaku, apa maksudmu!"

"Noir Mademoiselle diciptakan Tuhan, untuk mensucikan dunia." Jawab Bookman. "Tuhan memberi perantara lewat keluarga d'Castille, dan menautkan dengan para Bookman. Lewat perantara itulah, Tuhan bisa mengendalikan dunia dan mensucikannya dari kejahatan yang ada."

"Tapi apa maksudmu dengan Noir Mademoiselle tak akan terbangun lagi?" Tanya Lavi tidak sabaran.

"Kekuatan Noir Mademoiselle yang sebenarnya baru akan bangkit saat dia menerima pernyataan cinta yang tulus dari Bookman pasangannya. Ya, Lavi, nona Crystalla membangkitkan kekuatannya yang sebenarnya saat kau menyatakan perasaan cintamu dengan tulus. Dalam kasus ini, dia memiliki Innocence yang istimewa, yang bernama 'Aeon Innocence'."

"Lalu?" Nana penasaran.

"Nona Nana d'Castille, kau pasti juga tahu, apa itu Aeon Innocence, mungkin, sebelum aku menjelaskan?"

Nana menggeleng.

"Baiklah. Aeon Innocence adalah Innocence istimewa yang hanya dimiliki oleh nona Crystalla d'Castille, dalam sejarah keluarga d'Castille. Aeon Innocence ini dianggap sebagai Innocence yang keramat, hanya orang-orang yang terpilih saja yang bisa menggunakannya. Dan dalam keadaan ini, nona Crystalla d'Castille adalah perantara yang dipilih Tuhan untuk mengendalikan Aeon Innocence."

Para Exorcist plus Finder mengangguk-angguk.

"Aeon Innocence memiliki kekuatan besar yang bahkan aku pun bisa merasakannya dari jauh. Saat Noir Mademoiselle membangkitkannya bersama Bookman pasangannya, kekuatan mereka akan berlipat ganda dan bisa menghancurkan akuma dalam sekejap, bahkan yang jauh sekalipun."

"Jadi, akuma-akuma lain di luar sana hancur begitu Aeon Innocence bangkit?" Tanya Allen. Bookman mengangguk.

"Apa akibatnya bagi Noir Mademoiselle itu sendiri?" Tanya Krory, disambut anggukan Lavi dan yang lain.

"Pertanyaan bagus, tuan Arystar Krory. Aeon Innocence berakibat fatal apabila perantara dan Innocence itu sendiri tidak cocok, sama halnya dengan Innocence-Innocence lain yang pernah kalian lihat. Hanya saja, kematian menunggu bila Aeon Innocence tidak cocok dengan perantaranya."

Suasana tegang menyelimuti.

"Nona Crystalla d'Castille memiliki kecocokan yang sangat tinggi dengan Aeon Innocence, itu yang kutahu."

"Lalu kenapa dia belum bangun, kalau begitu?" Tanya Miranda.

"Jawabannya gampang, nona Miranda Lotto. Lavi."

Semua mata tertuju ke arah Lavi.

"Kenapa namaku yang kau sebut?" Lavi protes.

"Aeon Innocence itu berada di dalam jantungmu sekarang, Lavi."

Semua mata melotot tak percaya.

"Panda! Jangan main-main!" Lavi naik pitam. Untung Allen segera menahannya.

"Serangan gabungan dapat mengakibatkan guncangan yang sangat hebat pada tubuhmu, Lavi. Demi mencegah hal itu, nona Crystalla d'Castille memindahkan Aeon Innocence ke dalam jantungmu."

"Tapi…. kenapa?"

"Untuk hal itu, kurasa nona Miranda akan menjawabnya."

Lavi menatap Miranda.

"Maafkan aku sebelumnya Lavi, tapi apa yang Bookman katakan memang benar. Alla telah memindahkan Aeon Innocence dalam tubuhnya ke jantungmu."

"KENAPA, YANG KUTANYAKAN!!"

Miranda agak kaget saat Lavi membentaknya. "Karena…. Alla sangat mencintai dirimu."

Lavi terhenyak, sambil memandangi Alla yang telah kaku.

"Tapi…. dia tidak pernah bilang…."

"Percaya padaku, Alla pernah bilang seperti ini: 'Jika kekuatanku bangkit, aku akan berusaha melindungi Lavi, walaupun harus mengorbankan nyawaku sendiri.'

Saat itu aku yakin, kalau Alla benar-benar mencintaimu. Dan dia memindahkan Aeon Innocence ke dalam jantungmu tanpa maksud buruk, dia hanya inginkan kau tetap hidup untuk membalas perasaan cintanya."

"Kenapa caranya seperti ini! Kenapa dia yang mati!" Jerit Lavi.

"Lavi, Alla melakukannya, karena dia tidak rela bila kau yang mati, hanya demi melindunginya."

Lavi jatuh berlutut. "Bohong…. Ini semua bohong…."

"Ini kenyataan, jadi terimalah." Hibur Allen. "Alla telah menyerahkan hidupnya untukmu. Dia telah menyerahkan hidupnya yang penuh cinta hanya untukmu, terlebih dia telah menyerahkan Aeon Innocence yang merupakan pusat kehidupannya padamu. Sekarang, dia hidup di dalam dirimu. Dia hidup di dalam hatimu. Dan ingatlah, cintanya akan terus mengalir dalam darahmu, dalam jantungmu, dia akan terus melindungi dirimu."

Lavi mulai menangis. Tangannya menggenggam erat tangan Alla yang dingin.

"CRYSTALLA!!!!"

Rintik hujan mulai menyelusup lewat lubang di atap, mengiringi kepergian sang dewi.

-X-X-X-

Mereka kembali ke Black Order.

"Kalian…. bagaimana?"

Sebenarnya Komui tidak perlu bertanya pada para Exorcist. Dia sudah tahu dari raut wajah mereka. Terlebih, melihat Lavi yang membawa jasad Alla sambil menangis, sungguh pemandangan yang mengiris hati.

"Aku mengerti. Kerja yang bagus." Hibur Komui. "Nah, sekarang kalian semua beristirahatlah. Aku akan mengurus pemakaman Alla."

Mendengar kata pemakaman, Lavi langsung bereaksi. "TIDAK! Takkan kubiarkan kau melakukan hal itu!"

"Lavi, tetapi bagaimanapun juga, jasadnya harus segera dimakamkan. Kalau tidak…."

"BERISIK! Pokoknya tidak akan kubiarkan hal itu terjadi!"

"Baka usagi, jangan macam-macam! Cepat serahkan jasad Alla pada Komui, agar bisa segera dimakamkan!" Perintah Kanda.

"DIAM KAU, YUU KANDA!!" Bentak Lavi dengan sangat keras. Tangannya memeluk jasad Alla dengan kuat, air mata masih melinangi mata hijaunya yang indah.

"Kalau begitu, akan kupaksa kau menyerahkannya!"

Kanda menyodok perut Lavi dengan ujung sarung katananya, membuat Lavi meringis, tapi tetap tidak melepaskan jasad Alla dari gendongannya.

"Moyashi!" Komando Kanda.

"Baik!"

Allen mengincar bagian belakang Lavi. Lavi mengantisipasinya dan berusaha mencegah, namun Kanda memukul kepalanya dari belakang dengan keras. Lavi mengaduh, jasad Alla jatuh dari gendongannya.

"Ah, Alla!"

"Sekarang, Komui!"

Komui mengangguk. Dia cepat-cepat menghampiri jasad Alla.

"TIDAK! BERHENTI!!"

"Cepat, Komui!"

Komui dibantu Aya dengan Red Ribbon-nya, membawa jasad Alla ke ruangannya, menjauhi Lavi yang ditahan Allen dan Kanda.

"TIDAK! KEMBALIKAN ALLA PADAKU! KEMBALIKAN!!!" Jerit Lavi sambil berontak.

"Sudah diam, baka usagi!" Sentak Kanda. Lavi jatuh lagi.

"Kembalikan Alla padaku…. Kumohon, kembalikan dia ke sisiku…. Kembalikan dia padaku!" Mohon Lavi sambil menangis.

"Mustahil, baka usagi! Komui akan memakamkannya besok. Ayo moyashi, kita juga ikut urus."

Allen hanya bisa menurut, mengikuti Kanda ke ruangan Komui, meninggalkan Lavi yang meratap sendirian.

"KEMBALIKAN CRYSTALLA PADAKU!!!! Hu…. hu…. hu…. Alla…. KEMBALIKAAANN!!!"

-X-X-X-

Keesokan harinya, Lavi mengurung diri di kamarnya. Dia tidak mau makan, dia menolak semua orang yang ingin mengunjunginya. Dan dia masih menangis, meratapi Alla yang direbut-walau harus secara paksa-darinya.

Sepanjang hari, dia hanya menggumam 'kembalikan, kembalikan….' saja. Dia benar-benar terpukul.

Lavi tidak bisa menerima kenyataan bahwa Alla sudah meninggal. Dia baru saja merasakan cinta sejati, dan calon cinta sejatinya harus mati dengan mengenaskan. Rencananya untuk melamar Alla pun pupus sudah, padahal jauh sebelum kejadian itu, Lavi sudah membeli sepasang cincin perak berukir meteor.

Siang harinya, Kanda, Allen, Lenalee, Miranda, dan Krory berkumpul di depan kamar Lavi.

"Lavi, keluar sebentar, dong." Panggil Lenalee. Tidak ada respon.

"Lavi-kun, Komui punya kejutan lho, untukmu." Kata Miranda. Tetap tak ada respon.

"Hoi, baka usagi, keluar dulu dong! Kita-kita punya hadiah untukmu!" Seru Kanda. Baru, mereka mendengar langkah kaki dan pintu dibuka, memperlihatkan Lavi yang acak-acakan dan mata yang bengkak karena terus menangis.

"Apa mau kalian!" Katanya sinis.

"Biasa saja kenapa, sih! Mandi sana, ada kejutan untukmu."

"Aku tak sudi."

Tiba-tiba, Lenalee dan Miranda mengeluarkan alat-alat untuk dandan, sementara Kanda mengeluarkan sabun, Allen mengeluarkan alat mandi, dan Krory mengeluarkan sebuah tuxedo hitam yang bagus.

"Heh? Apaan nih?"

"AYO TEMAN-TEMAAANN!!!" Komando Lenalee.

"He…. hei, apa-apaan nih? Hoi, stop! HEI, HEI!!! WAAA!!!"

Beberapa jam kemudian….

"Nah, kan? Jadi ganteng!" Puji Miranda.

Lavi sudah rapi, karena tadi di'rombak' oleh teman-temannya. Dia masih cemberut.

"Pergilah ke Aula Besar, ada kejutan untukmu." Kata Kanda.

"Aku tidak…."

"PERGI TIDAK, BAKA USAGI???" Kanda mengeluarkan death-glare miliknya yang langsung membuat Lavi ciut.

"Iya, iya, aku pergi."

Teman-temannya meninggalkannya sendirian. Lavi memutuskan untuk pergi juga, karena death-glare Kanda bisa terbawa sampai mimpi kalau tidak diikuti maunya.

Lavi berjalan di lorong menuju Aula Besar dan dia heran, sepanjang lorong dihiasi dengan bunga mawar putih.

"Ada apaan sih, ini?" Gumamnya heran. Tapi dia tetap meneruskan ke Aula.

Saat sampai di Aula, dia terkejut. Seluruh sudut Aula dihiasi warna putih. Dia melihat altar, dan seorang mempelai wanita di depan altar. Di atas ditulis, 'Happy Wed, Lavi!' dari rangkaian bunga mawar putih juga.

"Apa-apaan ini…. Siapa yang ada di sana…."

Saat Lavi masih bengong, sang mempelai wanita datang menghampirinya. Gaun putih yang dia kenakan mengingatkan Lavi pada Alla.

Saat sang mempelai wanita ada di hadapannya, dengan sedikit ragu Lavi membuka cadar yang menutupi wajahnya. Dan Lavi benar-benar terkejut saat mengetahui siapa mempelai wanita itu.

Alla!

"Alla?!"

"Halo, Lavi."

Lavi tidak bisa mempercayai penglihatannya. "Kau benar-benar Alla, kan?"

"Iya, dong. Lavi ini ngomong apa, sih?"

"Tapi…. kau kan…. Aeon Innocence…."

"Oh, itu? Alla juga tidak tahu, tapi Tuhan bicara pada Alla dan menyuruh Alla kembali. Tuhan juga memberi Alla sebuah Innocence baru di mata dan kaki Alla."

Lavi benar-benar tidak tahu harus berkata apa.

"Lavi masih belum percaya, ya? Sini Alla buktikan."

Dan gadis mungil itu berjinjit untuk mencium Lavi.

"Ah…."

"Masih nggak percaya juga?"

Lavi memeluk Alla erat sekali.

"Aku percaya! Aku percaya itu kau…. Alla…."

"Iya, Alla tahu…. Sudah, Lavi jangan menangis lagi."

Lavi menghapus air matanya. "Iya, kau benar…. Ayo, kita ke altar, pengantinku?"

"Iya, iya, ayo!"

Denting piano yang dimainkan Krory(semuanya langsung muncul saat Lavi dan Alla berjalan menuju altar) mengalun indah di Aula. Miranda terlihat senang sekali, begitu pula Lenalee dan yang lainnya.

"Lavi Bookman Jr., apakah kau menerima Crystalla d'Castille sebagai istrimu, yang kau kasihi, kau hormati, dan kau dukung dalam suka maupun duka?" Tanya jenderal Tiedoll yang bertindak sebagai pastor hari itu.

"Aku bersedia." Jawab Lavi.

"Crystalla d'Castille, bersediakah?"

"Alla bersedia."

"Dengan begitu, atas nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus, kalian kuresmikan sebagai suami-istri yang sah."

Aula Besar gegap gempita. Lavi dan Alla bertukar cincin, yang dilanjutkan dengan kiss, yang mengundang 'ooh' dari hadirin.

"Ucapkan selamat untuk Lavi dan Alla!!" Seru Komui.

"SELAMAT!!!"

Lenalee dan Miranda menaburkan bunga mawar putih(lagi). Kanda dan Allen membuka sampagne dan menyiramkannya di atas kedua pengantin.

"Selamat, ya!" Seru semuanya.

Lavi dan Alla tersenyum. Tiba-tiba….

BRAKK!!

"Road!"

"Halo, Exorcist. Sedang ada acara bahagia, ya? Kenapa aku tidak diundang?"

Para Exorcist menyiapkan Innocence mereka masing-masing.

"Ooh, jadi kalian memilih bertarung denganku? Setelah apa yang kalian lakukan pada keluargaku, yah, mungkin kecuali Earl-sama, ya…."

"Biar Alla saja."

"Hah? Apa maksudmu, Alla?" Tanya Lavi.

Alla menghadapi Road.

"Baiklah, Mademoiselle, kita bertarung!"

Road mengeluarkan pasukan akuma miliknya.

"Alla, jangan diam saja!" Seru Lavi.

Alla memejamkan matanya sebentar, lalu….

"Sprint, aktifkan!"

Sprint adalah Innocence tipe parasit yang ada di kedua kaki Alla. Bila diaktifkan, kakinya akan memiliki kecepatan yang luar biasa, dan dapat membuatnya berjalan di udara.

Benar saja, setelah mengaktifkan Sprint, Alla menghindar dari serangan akuma dengan sangat cepat, bahkan Lavi dan teman-temannya yang lain tak bisa melihat dimana Alla.

"Ce…. Cepat sekali…."

"Dark Eyes, aktifkan!"

Dark Eyes juga Innocence tipe parasit yang ada di kedua mata Alla. Matanya akan memancarkan kekuatan kegelapan yang kuat sekali, yang bias menghancurkan duapuluh akuma sekaligus.

"Dimana Mademoiselle itu??"

Road melihat mata yang tajam sekali, membuatnya kesakitan dan mati tak lama kemudian.

"Semuanya berakhir…. CRYSTALLA!"

Lavi berlari menghampiri Alla dan langsung memeluknya.

"Alla!"

"Lavi…. Impian Alla kini jadi kenyataan…."

"Iya…. Mademoiselle…. Kau adalah nonaku selamanya…."

"Iya…. Lavi dan Alla akan sama-sama selamanya…. Sampai tua…."

Air mata kebahagiaan menetes dari mata Alla yang berkilau. Tugasnya sebagai Noir Mademoiselle telah selesai.

Sekarang, tugas barunya adalah menjadi Mademoiselle hanya untuk Lavi seorang.

-FIN-


Tamatnya gaje banget, yah?