Minggu pagi. Pagi yang akan selalu ribut—jika biangnya adalah Suzuna dan Ayahnya.

Maid-sama! is Fujiwara Hiro's

Morning

by Emmie Fleuretta

"SUZUNAAA! KAU MASIH TIDUR? BUKA PINTUNYA!" suara bentakan Misaki membahana keseluruh penjuru ruangan, Misaki mengetuk-ngetuk pintu kamar Suzuna sembari memakaikan kaus kakinya. Sesekali, ia membetulkan tali tas selempangnya yang terus-terus jatuh menuruni lengannya—mengganggu aktivitasnya memakai kaus kaki. Sungguh Minggu pagi yang sibuk untuk Misaki, mengingat hari ini ia ada rapat OSIS yang diselenggarakan pagi-pagi sekali.

Ia mendatangi kamar Suzuna, bukan karna dia iseng ingin menganggu pagi Suzuna yang terlihat tenang. Tapi ia ingat, kemarin malam seluruh peralatan alat menulisnya dicuri oleh Suzuna untuk mengisi kolom Quiz. Dan, jika Suzuna tidak membuka pintunya, mungkin, ini adalah keterlambatan Misaki untuk yang pertama kalinya. Sekali lagi, pertama kalinya!

"SUZUNAAA! AKU BILANG BUKA PINTUNYA!" mungkin, Misaki akan mencincang Suzuna pulang nanti karena lama sekali membukakan pintu kamar untuknya.

"SUZUNA! SUZUNA! SUZUNA!" tidak. Sudah cukup. Misaki naik pitam ketika tak ada jawaban dari Suzuna—walaupun tidak menjawab, setidaknya bukakan pintu untuknya—lalu, Misaki menuruni tangga, beralih ke dapur untuk membuat keributan yang mungkin tidak lebih gawat dari ributnya ia di lantai atas tadi.

Menarik nafasnya yang memburu, Misaki menatap Ibunya—Minako—yang memunggunginya.. "Ibu… Suzuna tidak ada di kamar."

Minako yang sedari tadi mengupas bengkuang, membalikkan badannya sekedar untuk melihat Misaki. Tatapannya terlihat bingung pada Misaki. Lalu, sebuah kalimat yang meluncur dari bibir Minako membuat Misaki sangat-sangat ingin segera membunuh Adiknya yang tercinta.

"Lho? Bukannya—Suzuna sedang tidur dengan Ayah? Dikamar Ayah?"

Sepertinya, Misaki harus naik ke lantai atas lagi hanya untuk mendobrak kamar Suzuna dan mengambil segala peralatan alat tulisnya.

"AKH! SUZUNAAA!"

.

.

.

Di kamar orang tuanya, Ayuzawa Suzuna tersenyum. Ia mengeratkan pelukannya pada Ayahnya yang memunggunginya. Terdengar kikik geli dari Minato.

"Hati-hati, sore nanti, kau harus cepat bersembunyi, Suzuna—" Minato menutup majalahnya yang ia baca. Meletakkannya dimeja, dan berbalik menghadap Suzuna yang memeluknya. "—sebelum kakakmu mencincangmu." Minato tersenyum geli.

Mendengar itu, Suzuna hanya tertawa kecil. Menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku tidak yakin neechan akan mencincangku."

Minato menaikkan alisnya, bingung terhadap perkataan Suzuna. "Lho? Kok begitu?"

Suzuna mendongakkan kepalanya, menatap mata hazel Minato yang persis dengannya. "Nanti, ketika neechan sampai di sekolah, aku yakin neechan akan segera melupakan hal ini," ia tertawa tertahan. Tidak segera melanjutkan perkataannya. Mendengarkan suara jeritan frustasi Misaki di luar sana yang semakin lama menghilang. "soalnya, akan ada menantu Ayah yang akan membuat neechan melupakan peristiwa ini." ujarnya melanjutkan.

Kaget, Minato lagi-lagi hanya menaikkan alisnya. "Menantu?" jelas Minato bingung dengan kata 'menantu'. Emangnya, sejak kapan Misaki menikah—diusia muda begini?

Suzuna memukul pundak Ayahnya sebelum kembali memeluk Ayahnya itu. Tatapannya tenang, tapi bibirnya menyeringai. "Menantu itu—pacar nee—"

BLAM! Kata-kata Suzuna terpotong oleh debuman pintu kamar orang tuanya.

Buru-buru Suzuna dan Minato melihat darimana asal suara tersebut.

Lalu, ketika mereka melihat monster berdiri dengan wajah yang merah padam. Monster bernama Misaki itu berteriak histeris. "SIAPA YANG BILANG DIA ITU PACARKU?"

Gawat. Gawat. Gawat. Mata Suzuna melotot, dengan segera, Suzuna memeluk Minato lebih kencang. "Nee-neechan belum pergi?"

"Rapat OSIS dibatalkan, imotouku…"

Glek. Ajal Suzuna bukan lagi sore nanti, tetapi sekarang juga!

Sedangkan Minato, telah deluan bersembunyi dibalik selimut.