.

Warning

SLASH/BL, Typo, OOC, AU

.

Rate

T

.

Disclaimer

God, themself

.


.

Love In the Ice

-Z-

.


.

Prolouge

.


Seoul, 26 January 2073

Tap. Tap. Tap. Tap.

Suara derap langkah kaki seorang anak laki-laki berumur delapan tahun bekumandang di lorong luas sebuah rumah di pinggiran kota Seoul, Korea Selatan. Anak laki-laki tersebut sesekali bersembunyi di samping lemari-lemari besar yang tersusun rapi di sepanjang lorong tersebut, sambil mengeluarkan suara-suara lucu dari bibirnya. Dengan senapan mainan kayu yang dia genggam di tangan kanannya. Kakinya yang mungil melangkah cepat ke arah pintu besar di ujung lorong tersebut.

Jempol tangan kirinya dengan cepat ia tekankan di sensor otomatis yang berada di samping pintu besar tersebut, dan detik berikutnya dia bersembunyi di samping pintu sambil memegang erat senapan mainannya. Sesekali dia mengintip keadaan di dalam ruangan tersebut untuk memastikan pria jangkung di dalam ruangan tersebut tidak sadar akan kehadirannya.

Selang lima belas detik, bocah laki-laki itu berlari ke dalam ruangan sambil mengacungkan senapan mainannya ke arah lelaki dewasa yang ada di dalam ruangan tersebut.

"Dor! Dor! Dor! " bocah laki-laki tersebut berlari-lari mengelilingi pria dewasa di depannya sambil mengerak-gerakkan senapannya seakan-akan sedang menembaki pria di hadapannya. Bibirnya berusaha menirukan suara tembakan yang biasanya di hasilkan oleh senapan asli. Walaupun pada akhirnya yang dihasilnya adalah suara melengking yang lucu.

Pria dewasa yang menjadi korban permainan anak laki-laki tersebut hanya tertawa pura-pura kesakitan. Sekedar hanya untuk bermain-main oleh anak laki-laki kesayangannya. Tetapi selang beberapa detik, dia meraih anak laki-lakinya dan mengendongnya. Sesekali melemparnya ke udara dan menangkapnya kembali membuat suara tawa dari bibir bocah laki-laki tersebut.

"Appa! Enough..."

Pria dewasa tersebut akhirnya berhenti memainkan anaknya di udara dan perlahan meletakan anak satu-satunya di atas meja.

"Anak appa sudah mulai fasih berbahasa Inggris ya?" pria dewasa tersebut dengan lembut mengacak-acak rambut lebat anaknya. Sedangkan anak kecil dihadapannya hanya tersenyum bangga. Anak laki-laki itu memang termaksud dalam golongan orang cerdas. Diumurnya yang baru delapan tahun ini, dia sedang menempuh sekolah menengah pertama. Memang IQ-nya yang di atas rata-rata patut di banggakan. Selain dia mewarisi kecerdasan kedua orang tuanya yang merupakan seorang ilmuan terkenal pada saat itu, dia juga memiliki wajah tampan yang terlihat sejak pertama kali dia menghembuskan nafas. Postur tubuhnya sangat ideal mengingat kedua orang tuanya sangat memperhatikan kesehatannya. Olahraga rutin, makanan bermutu tinggi, lingkungan sehat yang mendukung serta keluarga yang harmonis membuat anak laki-laki ini tumbuh dengan sempurna.

"Appa, bagaimana keadaan 'Ice Man'-sshi?"

Pria dewasa tersebut tertawa pelan lalu mengendong anaknya untuk memasuki ruangan lain yang dihubungkan dengan pintu otomatis yang terletak di ujung ruangan. Sebelum mereka memasuki ruangan tersebut, terdapat lorong yang dipenuhi dengan jaket-jaket tebal serta sepatu boots. Pria dewasa tersebut mendudukan anaknya di atas meja, sambil menaruh jaket kecil yang dibuat khusus untuk anakknya di pangkuan anakknya. Anak laki-laki tersebut segera mengenakan jaket tersebut dengan lihai. Sedangkan sang ayah hanya menatap bangga anaknya, sambil menggunakan jaket merahnya yang tebal. Setelah itu dia mengenakan satu-satunya sepasang sepatu boots yang ada, ke kedua kaki anaknya. Lalu dia pun menempelkan ibu jari tangannya ke sensor otomatis untuk membuka pintu di sampingnya. Perlahan dia meraih anaknya, dan menggendongnya ke dalam ruangan.

Anak kecil tersebut menatap kagum ruangan tersebut walaupun sudah puluhan kali dia memasuki ruangan itu. Perlahan dia turun dari pelukan arahnya, dan berlari menyusuri ruangan sedingin minus sepuluh derajat celsius.

Suara decitan sepatu boots dan lantai beku itu terdengar nyaring. Mengapa hanya anak laki-laki itu saja yang menggunakan sepatu boots? Tentu saja karena pada dasarnya anak kecil akan bergerak dengan tidak hati-hati. Lantai yang berada di suhu minus sepuluh derajat celcius sudah pasti membeku dan menjadi es. Untuk jaga-jaga dari pada anak kecil itu terjatuh dan membuat keributan—dengan suara tangisannya.

Anak kecil itu meletakan kedua tangan telanjangnya ke atas tabung berdiameter satu meter dan mengusapnya kaca tebal itu berkali-kali. Pandangannya tertuju ke arah wajah cantik yang membeku di dalam tabung tersebut. Sedangkan pria dewasa di belakangnya hanya menatap anaknya sambil terseyum kecil.

"Ice Man's room"

Itulah nama untuk ruangan minus sepuluh derajat celcius ini, yang di khususkan untuk meneliti pria beku yang ada di dalam tabung kaca tersebut.

Tahun lalu pengembara dari Eropa menemukan pria beku di Kutub Selatan yang terkenal sebagai tempat yang paling dingin. Pria beku ini terkurung di dalam bongkahan es dalam keadaan tubuh yang utuh tanpa cacat sedikitpun. Wajahnya putih dengan mata yang tertutup erat membuat pengembara tersebut terkagum-kagum. Dengan segera dia membawa bongkahan es tersebut ke kampung halamannya, Jerman.

Kebetulan pada saat itu ilmuan terkenal dari Korea tersebut sedang melakukan penelitian terhadap penyakit serius yang melanda beberapa wilayah di Eropa. Ia menemukan pria yang terkurung dalam bongkahan es tersebut di dalam pasar gelap. Dengan berani dia mengeluarkan uang sebesar satu miliyar Dollar, yang langsung di terima dengan senang hati oleh pengembara tersebut.

Dengan susah payah agar tidak terjadi campur tangan dengan pihak pemerintahan, ilmuan tersebut membawa pria tersebut ke kampung halamannya, dan menunjukan oleh-oleh berharganya kepada anak dan istrinya.

Sejak saat itu, mereka pun membuat ruangan khusus untuk meneliti pergerakan pria laki-laki tersebut. Mereka meletakan pria tersebut di dalam tabung kaca berisi air yang kemudian di bekukan. Sekali-dua kali mereka sudah berfikir untuk melelehkan es tersebut. Tetapi karena ketakutan akan kemungkinan buruk seperti putusnya salah satu bagian tubuh atau pembusukan yang mungkin akan terjadi dengan cepat dan segala macam hal yang berkemungkinan membuat tubuh rapuh itu rusak, membuat mereka mengurungkan diri.

Dan sekarang ini genap satu tahun pria beku tersebut masuk ke dalam keluarga ilmuan ini.

"Saengil chukkae, ice man-sshi..." Anak laki-laki tersebut mengelus kaca di hadapannya seakan-akan sedang menyentuh pria beku di dalamnya. Matanya berbinar menatap pria cantik di hadapannya, "Sekarang sudah satu tahun kau menjadi anggota keluarga Jung. Selamat datang, ne."

Pria dewasa yang berdiri di belakang anaknya hanya tersenyum geli mendengar perkataan anaknya. Perlahan dia meraih tubuh mungil anaknya.

"Ya-ya, ayo anak appa harus keluar... terlalu lama di ruangan dingin bisa membuatmu masuk angin." Pria dewasa tersebut menggendong anaknya keluar dari ruangan tersebut. "Umma-mu pasti sudah memasak makan malam yang enak sekarang."

Anak kecil yang awalnya menampilkan wajah cemberut pun perlahan tersenyum mengingat ibunya yang tampak cantik menggunakan arpon, sambil menyiapkan makanan yang enak.

.


.

"Jung Yunho! Cuci tanganmu sebelum makan!" dengan semena-mena wanita cantik di ruangan makan tersebut memukul pelan kepala anaknya dengan spatula saat melihat anak satu-satunya mengambil udang goreng di atas meja.

Sedangkan anak laki-laki yang di panggil Yunho itu hanya mengelus kepalanya pelan sambil mengecurutkan bibirnya. Perlahan dia berjalan ke arah kitchen set dan membasuh tangannya di bawah kran air. Appa-nya hanya menatap geli ibu dan anak di hadapannya. Dengan diam-diam dia juga menjulurkan tangannya untuk mengambil udang goreng diatas meja.

Dengan deathglare andalan dari satu-satunya wanita dari ruangan tersebut. Pria dewasa yang hendak mengambil udang goreng tersebut pada akhirnya menyerah dan mencuci tangannya.

"Tadi dari mana?" Wanita tersebut meletakan spatula yang menjadi andalannya di dekan bak cuci piring.

"Dari ice man-sshi, umma." Anak kecil satu-satunya—Yunho—diruangan itu berkata sambil mengusap tangannya yang basah dengan lap.

Wanita dewasa itu hanya mengangguk-anggukan kepalanya pelan sambil menyiapkan nasi di ketiga piring kosong di atas meja.

'DRAK'

Yunho mengedarkan matanya menatap sekitar ruangannya. Seluruh benda di ruangan itu bergetar hebat sampai pada akhirnya jatuh. Kedua orangtuanya bergerak cepat. Ayah Yunho segera mengendong buah hatinya dengan cepat serta menarik istrinya untuk berlari menuju pintu keluar rumah mewah keluarga Jung.

Satu hal yang ada di pikiran mereka.

GEMPA

Tubuh mungil Yunho bergetar, dia mencengkram erat pundak ayahnya saat melihat barang di sekitarnya jatuh berantakan. Bahkan dengan jelas dia bisa mendengar suara lampu yang jatuh dan pecah.

'BRUK'

Langkah kaki ayah Yunho berhenti saat istrinya terjatuh. Dengan cepat dia menurunkan anaknya, dan mendorong bocah kecil itu untuk berlari ke pintu keluar. Dengan bergetar Yunho berlari ke arah pintu keluar menuruti perintah tubuh ayahnya. Tidak terdapat sedikitpun keraguan dalam larinya. Dia tidak menoleh kebelakang untuk melihat orang tuanya. Walaupun dia ingin sekali kembali dan menemui orang tuanya. Hanya saja tatapan mata ayahnya barusan membuatnya tidak menoleh. Tatapan mata ayahnya yang tajam dan seolah-olah mengatakan...

'Teruslah hidup...'

.


.

TBC

.


.

Yow, hanya prolog. Hahaha... *ketawa datar*

Cacad? Memang. (–w— )a Hahaha...

.

Ah, kemaren ANNIVERSARY TVfXQ, nyaaan~ XD

MAKIN SUKSES TVXQ! SARANGHAE...

Cassie always waiting DB5K! Always Keep the Faith

(bubububububu, harusnya ini di publish kemaren tp krn baru buat account tgl 25, harus delay dulu. Gantinya update 2 chap sekaligusnya sebagainya)

.

Btw, kemaren ini tanggal 22 Desember. Hari ibu kan?

"HAPPY MOTHER'S DAY... Dear OUR UMMA... KIM JAEJOONG! LOVE YOU!"

.

-Zzz, Cassie-