.

Warning

SLASH/BL, Typo, OOC, AU

.

Rate

T

.

Disclaimer

God, themself

.


.

Love In the Ice

-Z-

.


.

Chapter 1

"Melted"

.


Seoul, 20 Juli 2085

Panas.

Satu kata yang mendeskripsikan bagaimana keadaan kota Seoul sekarang ini di pertengahan musim panas. Hal ini membuat sebagian besar orang mengurung diri di rumah dari pada harus berhadapan dengan matahari langsung.

Dan hal ini mendapat anggukan setuju dari ilmuan muda yang tinggal di pinggiran kota Seoul. Dia lebih tertarik berdiam diri di ruangan bersuhu minus sepuluh derajat celcius dari pada keluar rumahnya. Kaca mata yang bertengger yang sedari tadi bertengger di hidungnya perlahan dia lepaskan. Dengan perlahan dia memijat pangkal hidungnya, lalu dia mendongakan wajahnya menatap pria beku di hadapannya.

"Ice man-sshi."

Pria jangkung yang bernama Jung Yunho itu perlahan menyentuhkan tangannya ke tabung kaca bening di hadapannya. Dia menempelkan kepalanya agar sejajar dengan sosok di hadapannya. Sudah tiga belas tahun bersama membuatnya terbiasa dengan suhu ruangan ini. Dengan miris dia memandangi wajah cantik di hadapannya. Walaupun sudah dapat dipastikan sosok dihadapannya berjenis kelamin laki-laki tetapi dia tetap mengagumi kecantikan pria itu.

"Sudah dua belas tahun dari kecelakaan itu. Hanya kita berdua yang selamat, ice man-sshi." Perlahan Yunho memejamkan matanya. Meresapi rasa dingin yang menjalar melalui telapak tangannya.

Dua belas tahun yang lalu di mana terjadi gempa hebat melanda kota Seoul. Segala sesuatunya hancur berantakan. Bahkan mansion kokoh milik keluargannya juga hancur berantakan dan hanya menyisakan puing-puing reruntuhan yang membuat Yunho yang pada saat itu berumur delapan tahun bergetar ketakutan, mengingat hanya berselang satu detik saat rumahnya hancur berantakan dengan dirinya yang baru keluar rumah. Detik selanjutnya dia keluar dari rumah mewah itu seluruhnya hancur, dan menyisakan beberapa tetes air mata dari mata tajam Yunho kecil. Yunho yang terhempas pada saat itu berusaha menahan rasa sakit yang menyerang tulang kering kaki kirinya yang patah, dan dia berlari mendekati puing-puing sisa tersebut.

Saat itu dia menangis habis-habisan.

Dua hari berselang, para tim penyelamat baru dapat mengeluarkan mayat kedua orang tuanya. Dan Yunho di temukan dengan keadaan dehidrasi sambil memegangi tulang kering kaki kirinya yang patah. Segera Yunho mendapatkan pertolongan yang memaksanya untuk berjalan menggunakan kruk selama satu bulan penuh. Satu minggu setelah kaki kirinya sembuh dia mendapatkan kabar bahwa ice man kesayangannya tidak mengalami kerusakan apapun. Bahkan ruangan yang menyimpan keberadaan ice man-nya masih dalam keadaan sempurna dan suhu di ruangan tersebut sama sekali tidak mengalami pengurangan sedikitpun, mengingat ruangan itu sangat spesial. Ruangan tersebut dilapisi oleh baja tebal yang menahannya agar tidak rusak, saat terkena berbagai macam kemungkinan.

Sebulan setelah dia tinggal dirumah sakit, Yunho menyewa pekerja untuk membangun kembali rumah keluarganya. Rumah yang tidak terlalu besar tetapi menyediakan segala sesuatu kebutuhanya. Dengan sisa uang kedua orang tuanya, Yunho segera menyelesaikan sekolahnya. Di umurnya yang delapan belas tahun dia berhasil lulus di perguruan tinggi terkenal di Eropa dengan nilai sempurna, disertai dengan gelar 'Profesor' melekat di dirinya karena berhasil menemukan serum yang dapat mengobati penyakit HIV/AIDS. Hal ini jelas membuat dia disegani dan mendapatkan penghargaan dari pemerintah Korea Selatan.

Bangga? Tentu saja.

Selang beberapa lama Yunho menempelkan kepalanya di tabung kaca tersebut. Dia pun perlahan beranjak pergi, "Ice man-sshi. Selamat siang." Perlahan tapi pasti Yunho berjalan keluar ruangan tersebut. Dengan cepat Yunho melepaskan mantel yang dia gunakan.

Perlahan Yunho merenggangkan tangannya, "Huft, ada seminar ya?" dengan malas Yunho berjalan ke arah kamarnya, untuk menganti pakaiannya. Sejak dia menemukan serum khusus untuk mengobati penyakit HIV/AIDS—tanpa harus bersusah payah—setiap harinya dia sudah mendapatkan uang yang cukup banyak memenuhi rekeningnya. Hal ini membuat dia malas. Sering kali dia berfikir untuk menemukan penemuan baru. Tetapi entah kenapa hal itu selalu tertunda akibat kemalasannya sekarang. Dan hari-harinya sekarang ini hanya di penuhi dengan acara-acara yang diadakan oleh orang-orang kurang kerjaan—menurutnya.

.


.

"Suhu Seoul sekarang ini sudah mencapai suhu yang sangat tinggi. Kami menyarankan anda untuk tidak keluar rumah dengan pakaian yang terbuka, karena sinar matahari yang sangat terik, dapat merusak kulit anda. Dan sekarang ini suhu kota Seoul sudah mencapai empat puluh tiga derajat—"

'Pip'

Yunho menganti saluran televisi di hadapannya. Dengan tangan yang menompang dagunya, dia menelusuri ruangan dimana dia berada sekarang. Ruangan di sebuah rumah sakit ternama Seoul. Ruangan milik dokter kepala di rumah sakit ini. Ruangan milik sahabat karibnya, Park Yoochun.

"Chun, ruanganmu panas sekali."

Yoochun yang sedang konsentrasi dengan berkas-berkas dihadapannya mendelik ke arah Yunho, "Jangan mengeluh terus, Jung Yunho-sshi. Aku sedang sibuk disini. Aku bukan seorang pengangguran yang mendapatkan uang dengan mudah, karena hasil penemuannya."

Yunho dengan cepat mendelik ke arah Yoochun sambil mengecurutkan bibirnya, "Mengejekku, eh?" Yunho perlahan bangkit sambil meng-geret kursi yang menjadi tempat duduknya tadi ke depan meja Yoochun. Dengan sekali hentak Yunho duduk di kursinya, lalu meletakan dagunya di atas meja sambil memperhatikan tangan Yoochun yang bergerak-gerak menandatangani berbagai macam surat, sambil mengoreksi hasil pemeriksaan beberapa pasiennya.

Yunho sesekali menggerakan bola matanya untuk menatap wajah Yoochun yang serius, lalu kembali menatap tangan Yoochun yang bergerak lincah.

"Berhenti menatapku dengan wajah pervert-mu, Jung Yunho."

Yunho mendengus lalu mengangkat wajahnya dari atas meja dan memutar bangkunya membelakangi meja Yoochun, "Chunnie... bosan."

"Berhenti mengucapkan hal yang sama, Yun." Yoochun perlahan meletakan pena yang dia gunakkan dari tadi, lalu merengangkan tubuhnya dengan memutarkan kepalanya ke arah kiri lalu ke arah sebaliknya sambil memejamkan matanya.

"Cobalah mencari pekerjaan baru." Gumam Yoochun sambil meraih gelas yang berisi kopi hangat yang baru saja dibuatnya sendiri.

Yunho yang sedari tadi sudah bangkit dan mengobok-obok aquarium Yoochun yang berisi kura-kura, hanya menautkan alisnya bosan mendengar penuturan sahabatnya, "Tidak tertarik, Chun. Kesannya monoton." Dengan usil Yunho menusuk kepala kura-kura Yoochun yang membuat kura-kura Yoochun tidak sampai hitungan detik refleks mengigit tangan Yunho. Yunho tidak menjerit kesakitan karenanya. Hanya memicingkan matanya sambil menatap kura-kura Yoochun dengan pandangan sinis. Detik berikutnya dia menarik tangannya dengan cepat untuk keluar dari aquarium tersebut, hanya saja gigitan kura-kura yang erat itu menyebabkan kura-kura tersebut malah ikut tertarik.

Karena kura-kura juga mahluk hidup, dia refleks melepaskan gigitannya, hanya saja naas kura-kura tersebut jatuh dengan tidak terhormat di atas lantai marmer yang menjadi alas ruangan tersebut.

'DUK'

Yoochun refleks mengarahkan wajahnya ke arah Yunho. Dia menatap nanar kura-kura kesayangannya yang menemaninya selama satu tahun belakangan.

"KELUAR KAU, JUNG YUNHO!"

.


.

Yunho mengecurutkan bibirnya sambil memainkan topinya, setelah dengan tidak berkepri-manusiaan dia diusir Yoochun dari ruangannya, sekarang dia terpaksa harus berjalan-jalan di jalanan kota Seoul yang sepi karena panas yang menyengat. Dengan berbagai usaha dia terus berjalan sambil bersembunyi di balik bayangan-bayangan bangunan dan pohon-pohon di sekitarnya. Belum lagi dia tidak membawa ponsel. Padahal jika dia membawa ponsel, sekarang ini dia bisa menghubungi siapapun manusia yang mungkin sedang menganggur untuk menyelamatkannya dari suhu yang sangat panas ini. Mana dia tidak membawa dompet juga. Naas sekali.

Bagai mana cara dia sampai ke tempat Yoochun? Tentu saja dengan menumpang mobil sahabatnya yang lain, Shim Changmin. Mumpung arah perjalan mereka sama. Karena Yunho lebih suka numpang saja dari pada harus membawa kendaraan sendiri. Selain malas ini bisa untuk mengurangi polusi, bukan?

Lalu, untuk apa dia ke tempat Yoochun? Tentu saja hanya untuk sekedar 'merusuh' dari pada bosan. Sungguh sangat terlalu...

'Kruuk...'

Ah, sudah dapat di pastikan ini pasti suara perut tokoh utama kita. Mengingat setelah bangun tidur dia segera mendapat pesan singkat dari Changmin bahwa Changmin hendak pergi ke restoran miliknya yang tentu saja melewati Rumah Sakit di mana Yoochun berada. Yunho segera menelfon Changmin agar menunggunya sejenak, setelah itu dia segera menganti bajunya dengan celana panjang berwarna putih dengan kemeja putih juga. Setelah menyambar topinya, dia berlari keluar rumahnya, lalu segera menaiki mobil Changmin yang setia menunggunya di depan rumahnya.

Changmin hanya mengomentari tentang penampilan Yunho yang serba putih dengan ucapan singkat saja. Karena bukan hal yang aneh saat melihat banyak manusia berkeliaran dengan pakaian serba putih, mengingat warna putih tidak menyerap panas tidak seperti dengan warna pakaian gelap yang menyerap panas.

Yunho mengusap perutnya sambil berjalan ke arah rumahnya. Sebenarnya dia suka saja berjalan-jalan. Hanya saja jika diiringin dengan perut lapar dan suhu panas, siapa yang tertarik? Sambil menendang-nendang kerikil yang dia temukan, Yunho sesekali berfikir untuk menciptakan alat yang bisa menghentikan panas. Tetapi dia berusaha menyingkirkan pikiran bodohnya, dan kembali berjalan.

'CKIIT'

Yunho mendongak dan menatap datar mobil putih yang berhenti di hadapannya secara tiba-tiba dan brutal. Dia tahu siapa pemilik mobil ini. Terlihat jelas dari plat mobil yang menunjukan tulisan '01 Y'. Mobil ini adalah mobil miliknya. Yunho mendengus pelan saat melihat jendela mobil sedan itu perlahan turun dan menampakan wajah yang tidak asing.

"Paman Kim!" Seru Yunho sambil memasuki bangku kosong di samping kursi pengemudi. Setelah dipastikannya Yunho menggunakan sabuk pengamannya, Mr. Kim segera mengendarai mobil sedang itu dengan membabi buta ke arah rumah Yunho.

Yunho hanya merengut bingung, sambil menatap wajah pamannya.

"Yunho, kau tahu kan Pamanmu ini sangat tidak mengerti dengan perihal alat-alat elektronik. Kau tahu kan Pamanmu ini hanya tahu hal tentang nyetir menyetir?"

Yunho hanya mengangguk-angguk setuju saja, karena yang diucapkan Pamannya memang benar adanya.

Mr. Kim melirik Yunho dari sudut matanya, "Aku tidak tahu apa yang terjadi. Hanya saja tiba-tiba terdengan suara alarm dari ruang bawah tanahmu."

Yunho tersentak dan mulai memperhatikan ucapan pamannya. Dia menatap tajam wajah pamannya yang menampakan kekuatiran. Dia tahu jelas ruang bawah tanah hanya dihuni oleh 'Ice Man' kesayangannya.

"Dan layar LCD yang ada di ruang tengah menyala dan bertuliskan tulisan, 'DANGER'. Aku tahu ini pasti ada masalah. Segera aku mencarimu, hanya saja kau tidak ada. Aku sampai kelabakan hanya untuk mencarimu." Perlahan Mr. Kim menyeka keringatnya yang sedari tadi menetes selain karena kuatir, dia juga lelah berputar-putar selama dua jam penuh hanya untuk mencari Yunho.

Yunho memelototkan matanya. Kepalanya mendadak panas sekarang. Berbagai macam kemungkinan buruk berkelebatan di kepalanya. Begini saja, minggu lalu hal yang sama juga terjadi. Dan ternyata suhu ruangan dimana 'Ice Man'-nya berada telah naik menjadi sepuluh derajat Celcius. Dengan cepat Yunho memperbaiki saluran pendingin yang ada. Dia takut suhu yang sedikit hangat saja membuat es yang melindungi 'Ice Man'-nya mencair dan membuat kerusakan pada tubuh beku tersebut.

"CEPAT PAMAN !" bentak Yunho kalap. Dia mencengkram pakaiannya dengan frustasi. Satu-satunya hal yang ditinggalkan orang tuanya, hanya 'Ice Man'-nya saja. Jadi wajar saja jika Yunho sangat melindungi 'Ice Man'-nya.

.


.

Jung Yunho. Pemuda kelahiran Seoul ini sebenarnya bukanlah orang yang suka bertindak gegabah. Hanya saja kondisinya sekarang memaksanya untuk bertindak dengan cepat.

Dalam jarak seratus meter dari rumahnya. Dengan bermodalkan nekat Yunho segera membuka pintu mobilnya yang masih berjalan, dan hal ini membuat pamannya melakukan rem mendadak pada detik yang sama dengan Yunho yang sudah melompat turun dari mobil dan berlari cepat menembus sinar matahari yang menyengat. Tanpa memikirkan pagarnya yang harus di dorong terlebih dahulu sebelum terbuka, ia langsung melompat begitu saja melewati pagar setinggi satu setengah meter tersebut. Hal ini kontan membuat alarm keamanan di rumahnya berbunyi nyaring. Tanpa memikirkan apapun Yunho hanya menekankan ibu jarinya ke sensor otomatis yang membuat pintu di hadapannya terbuka begitu saja. Dengan kepalan tangannya dia memukul alat di dekat pintu masuk rumahnya untuk menghentikan suara alarm yang berbunyi nyaring.

Setelah suara alarm berhenti, Yunho segera berlari ke arah tangga yang menghubungkan ruang tengah rumahnya dengan pintu bawah tanahnya. Kembali dia menekankan ibu jarinya ke sensor otomatis yang berada di sebelah pintu masuk, lalu detik berikutnya pintu kembali terbuka. Yunho mengumpat kasar terhadap pintu di hadapannya yang terbuka sangat lama.

Setelah pintu itu terbuka lebar, dengan sekali langkah Yunho melompati lorong yang berisi jaket tebal yang harus digunakan sebelum memasuki ruangan 'Ice Man'-nya. Tanpa menghiraukan jaket yang tergantung itu. Yunho kembali menekankan ibu jarinya dengan kasar ke arah sensor otomatis yang berada di sebelahnya. Semakin dekat dia dengan ruangan 'Ice Man'-nya, semakin nyaring juga terdengar bunyi alarm.

Yunho menginjakan kaki kirinya ke arah pintu masuk, pandangannya terpaku pada sosok 'Ice Man'-nya. Sekarang ini yang ada di hadapannya bukanlah sesosok beku yang selama belasan tahun dia pandangi.

Sekarang ini yang ada di hadapannya adalah seorang pria yang sedang memukul-mukul tabung kaca yang mengelilingi dirinya. Tubuhnya terendam oleh air yang dapat dipastikan bahwa wujud sebelumnya adalah es. Wajahnya yang membiru seakan menjelaskan kepada Yunho bahwa pria itu membutuhkan udara. Dengan kasar pria itu semakin gencar memukul-mukul kaca di hadapannya agar dia dapat mengambil oksiken. Hanya saja karena dia berada di dalam air, hal ini membuat pergerakannya terbatas. Membuat pukulannya sama sekali tidak berakibat apapun terhadap kaca di hadapannya. Tangan kirinya yang bebas mulai membekap mulutnya menahan gelembung-gelembung udara yang mulai keluar dari celah-celah bibirnya.

Yunho terpaku selama lima detik dengan apa yang dia lihat. Tetapi detik selanjutnya dia mengingat bahwa manusia hanya bertahan selama empat menit saja tanpa oksigen. Dengan tangan kosong dia memukul tabung kaca tersebut dengan sepenuh tenaga. Hanya saja mengingat ketebalan kaca tersebut, sama saja Yunho melakukan hal yang sia-sia.

Sedangkan sosok di hadapannya terlihat semakin lemah. Bisa dilihat dari fruekensi pukulannya berkurang dan matanya yang semakin sayu. Melihat keadaan 'Ice Man'-nya yang cukup mengenaskan. Yunho segera mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Matanya tertuju ke arah pipa rusak yang minggu lalu dia ganti dengan yang baru. Pipa tersebut hanya berjarak satu meter dari kakinya, dengan diameter sebesar jari telunjuk pria dewasa, dengan ketebalan satu senti meter. Yunho segera menundukan tubuhnya untuk meraih pipa sepanjang setengah meter tersebut. Dengan cepat dia bangkit dan menghantamkan pipa yang terbuat dari logam itu ke arah tabung kaca di hadapannya.

'PRAAANG'

Terdengar nyaring suara pecahan beling yang menghantam tanah. Yunho memejamkan matanya sejenak untuk menghindari pecahan kaca yang berterbangan. Setelah memastikan tidak ada lagi pecahan kaca yang berterbangan. Yunho segera mendekati sosok 'Ice Man'-nya yang sedang terbatuk-batuk hebat sambil mencengkram dadanya yang terasa panas karena kekurangan udara.

Yunho berjongkok di samping pria yang terbatuk-batuk dalam posisi bersimpuh. Tangannya dia gerakan untuk memukul-mukul punggung pria dihadapannya dengan kekuatan yang tidak besar. Mata Yunho dengan heran menelusuri seluruh tubuh 'Ice Man'-nya. Dia merasa tidak mungkin jika manusia yang sebelumnya telah beku selama puluhan tahun masih bisa bertahan hidup. Selain itu—

ARGH! Berhenti menggunakan logika bodohmu, Jung Yunho. Perhatikan pria dihadapanmu saja. Berhenti memikirkan hal-hal ilmiah. Lupakan itu. Lupakaan!

Yunho baru sadar bahwa pria di hadapannya masih belum selesai dengan batuknya. Bahkan dia semakin menundukan tubuhnya. Membuat dirinya terlihat sedang bersujud. Perlahan Yunho berdiri dengan lututnya dibelakang pria tersebut. Yunho meraih dagu pria itu dengan tangan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya menarik dada pria di hadapannya untuk tegak, bahkan sedikit condong ke belakang dan bersandar di pundak Yunho.

Yunho tahu bahwa pria di hadapannya hanya berusaha untuk semakin banyak dapat menghirup udara. Hanya saja jika dia terlalu menunduk, memacu dirinya untuk semakin terbatuk-batuk. Yunho menahan dagu pria yang sedang bersandar di pundaknya agar tetap mendongak.

Perlahan tapi pasti pria di hadapan Yunho mulai mengatur nafasnya. Tangannya yang tadi mencengkram tangan Yunho yang ada di dadanya mulai mengendur.

Setelah tiga menit dalam posisi ini, Yunho perlahan menarik pria dihadapannya untuk berdiri. Sunyi sejenak sampai akhirnya Yunho membuka suara.

"Siapa namamu?" Ucap Yunho sambil memperhatikan mata pria cantik di hadapannya. Entah kenapa sekarang Yunho mulai menyukai kecantikan yang dimiliki pria ini.

Pria itu hanya menatap Yunho bingung. Mungkin dia tidak tahu maksud dari ucapan Yunho. Yunho sendiri pun hanya memutar bola matanya bosan.

"What's your name?" Mungkin dengan bahasa internasional pria dihadapannya dapat mengerti apa yang dia katakan.

"Oh.."pada akhirnya pria itu membuka suara walaupun masih sangat serak. Sudah puluhan tahun dia tidak menggunakan suaranya, jadi rasanya wajar saja, "My name..."

Yunho sendiri mengira bahwa pria di hadapannya tidak akan mengerti bahasa Inggris juga. Yunho rasa pria itu berasal dari jutaan tahun yang lalu. Dan berbagai macam pikiran tingkat tinggi yang mulai tidak masuk akal melanda otak Yunho yang mulai error. Tetapi saat pria di hadapannya menganggukan wajahnya seakan mengerti, itu seakan-akan seperti angin segar yang menerpa Yunho.

"My name is Kim Jaejoong."

.


TBC


Yak.. Saya natobatkan ini menjadi fanfic Yunjae. TETOTEET... #maintrompet.

Gaje ya? Memang ._. *datar*

Singkat ya? Memang.

Chap depan sepertinya belum akan ada penjelasan tentang kenapa Jae bisa sampe seperti itu. Biar itu bocah belajar bahasa Korea dulu ._. #ditimpuk.

Disini jadi kesannya Jae itu anak luar negri yang nyasar di kutub selatan ya pokonya gitu lah. Ntar aja di jelasin, di chapter lain =w=b #dihajar.

.

Untuk chap selanjutnya...

Bingung ._.

Lagi proses... hahaha #ketawaragu

==Kecupanas.

=Z