~Medium~

~Genre: Supernatural, Friendship~

~Chara: Kurosaki Ichigo and Kuchiki Rukia~

~Disclaimer: Tite Kubo~


Dalam beberapa hari, selama Ishida masih absen, situasi seperti ini terus berulang. Gadis Biola itu dan aku tanpa sengaja duduk bersama di salah satu meja orang kurang populer. Dan pada akhir minggu, aku mencarinya dimana-mana, berharap ia menjaga satu kursi untuk kududuki. Dan makan bersamanya.

Seiring berjalannya waktu pun, aku dan Rukia, saling bertukar sejarah hidup. Umum-umum saja. Ayahnya bekerja di perusahaan lokal, dan jarang pulang ke rumah, dan ayahku sudah berpisah. Ia dulu mempunyai seekor kelinci putih diberi nama Chappy, tetapi harus diadopsi, karena ibunya yang alergi dengan bulu hewan. Aku samasekali tidak mempunyai peliharaan apa-apa, walaupun sebenarnya aku INGIN. Dan kami berdua anak tunggal. Yah semacam itulah.

Kemudian aku baru menyadari, setelah beberapa waktu, hari, dan bulan yang sudah kulewati, kalau aku mempunyai teman. Sebenarnya lebih dari setahun tidak ada yang melihatku. Atau bisa dibilang, tidak ada yang mengenalku sebagai teman mereka. Satupun. Terlalu sederhana jika kukatakan bahwa rasanya menyenangkan seperti ini. Aku jadi mengerti bagaimana perasaan arwah-arwah yang menemukan atau ditemukan Ibuku. Mereka berkeliaran puluhan, ratusan, atau bahkan milyaran tahun, tidak terlihat oleh orang-orang. Lalu, suatu hari Ibuku menemukan dan melihat mereka. Hanya dengan dilihat saja membuat mereka merasa senang sekali, seperti baru menemukan jati dirinya, dan Ibuku langsung menjadi sahabat mereka.

Rukia pun begitu. Ia melihatku. Dan aku menyukainya.


Saat pulang sekolah hari Jumat, aku mendapati Ibuku sedang duduk termenung di meja dapur sambil membaca surat. Hanya diterangi dengan secercah lilin kecil, dan lehernya yang dibalut dengan syal bewarna ungu muda, ia jadi terlihat seperti orang Hippie. Kami sebenarnya mampu membayar listrik, meskipun pas-pasan. Tetapi Ibuku itu jenis orang yang lebih suka kehangatan dengan sebuah lilin. Aku lalu menghampirinya, dan menggeser kursi.

"Hei, Ichigo," dia berkata, menyapaku lembut seperti biasa. Melipat surat itu, dan tersenyum padaku.

"Hei," balasku. "Apa yang sedang Ibu baca? Panggilan tugas lagi? Surat penggemar? Cek?" tanyaku bertubi-tubi.

"Seseorang meminta bantuan," Ibuku membuka lipatan surat itu lagi. "Dia tidak bisa dan tidak mau datang."

"Aku tidak mengerti. Kalau seseorang percaya kepada Ibu, dan meminta bantuan, kenapa tidak datang kesini saja? Dasar tidak tahu diuntung," ucapku seraya membela Ibu. Aku terkadang tidak bisa menahan kejengkelanku saat ada seseorang yang meminta bantuan pada Ibu, tetapi tidak mau berterima kasih. Atau terkadang jika mereka saling bertemu di supermarket, orang itu malah memalingkan wajahnya dari Ibu. Seakan tidak mengenal atau pura-pura tidak mau mengenalnya. Jika tidak mau diketahui orang kalau kau berurusan dengan medium, lebih baik tidak usah meminta tolong lagi!

Ibuku mengangkat bahu. "Manusia itu memang rumit, Ichigo. Ada banyak alasan ketika mereka meminta tolong padaku untuk menjangkau orang yang dicintainya yang sudah meninggal. Jika mereka meminta bantuan, mereka mungkin sedang kesusahan. Makanya tidak perlu diambil pusing, jalani saja seperti biasa. Toh mereka membayar, kan," ujar Ibuku.

Saat ia mengatakan hal-hal semacam itu, aku merasa tidak akan pernah menjadi sebaik, semulia, ataupun setabah dia, tak peduli jika aku sudah berusaha keras. Ketika Ibuku melihat orang-orang yang tak berdaya membutuhkan pertolongan, aku hanya melihat mereka sebagai orang yang tak tahu diuntung.

"Tidak, aku hanya merasa mereka harus menghormati Ibu. Orang-orang seharusnya menunjukkan rasa hormat padamu, Bu," ucapku pelan. Aku menempelkan daguku di kedua tangan yang kutaruh di meja. Menatap wajah Ibu yang ditutupi sedikit bayangan, karena penerangan hanya dari lilin kecil ini.

Dia lagi-lagi tersenyum. "Aku tahu, Sayang. Aku tidak menolak sedikit pun rasa hormat jika ada yang menunjukkannya." Ia mengacak-acak poniku. Aku hanya terkekeh pelan sambil menggelengkan kepala.

"Aku bukan anak kecil lagi, Bu."

Aku sekarang penasaran dengan isi surat itu, tetapi aku tahu tidak ada gunanya meminta, karena Ibuku tidak pernah berbagi cerita, sama sepertiku. Ia hanya akan berbagi cerita tentang orang-orang yang meminta tolong padanya. Dan tidak lebih dari itu.

Ibuku menatap surat itu, dahinya sedikit berkerut.

"Ibu mendapatkan sesuatu?" tanyaku.

Dia memejamkan mata sambil menghela nafas pelan, sehingga api kecil di atas lilin sedikit tertiup ke arahku, tapi ia masih tidak menyerah untuk padam. "Tidak ada. Tidak ada apa pun. Tapi aku akan mendengarkan apa yang harus kudengar sekarang. Kau punya pekerjaan rumah?"

Aku menggeleng.

"Atau mungkin ada channel di TV yang ingin kau tonton jam segini?"

Aku menggeleng lagi.

"Mau pesan makanan Itali?"

"Nope," kataku sambil menggeleng. "Rasanya aku tidak ingin makanan Itali. Perutku masih kenyang," kataku. Aku tahu sekarang Ibu ingin melakukan sesuatu berdua denganku. Anggap saja hubungan antara Ibu dan Anaknya. Jadi aku membuat penawaran yang cukup bagus.

"Kita bisa berjalan-jalan berdua ke danau," seruku.

"Ya, ide bagus!" ia terlihat senang. "Kita bisa mampir ke supermarket dulu untuk memberi apel dengan sirup madu, dan beberapa kayu manis. Lalu kita bisa memakannya di temani pemandangan danau yang indah, bagaimana?"

Perutku langsung membunyikan alarmnya. Mataku berbinar-binar seperti di film-film kartun. Seperti biasa, ia selalu tahu apa yang kuinginkan. Aku lalu memakai sepatu, sedangkan ia meniup lilin itu.

"Sebenarnya di sekolah aku dapat teman baru," ucapku sambil berjalan keluar dari pintu.

Ibu berhenti saat tangan halusnya itu memegang kunci di kenop pintu. Wajahnya begitu antusias dan optimistis. Sampai-sampai aku ingin bersumpah jika Rukia mengetahui aku adalah seorang medium dan meninggalkanku, aku akan tetap menciptakan kebohongan ini agar Ibu tetap bahagia.

"Begitukah? Itu bagus sekali, Ichigo," nada bicaranya terlihat girang. Padahal seharusnya aku yang lebih girang, karena mendapat sahabat baru. "Ceritakanlah tentang temanmu itu."

"Yah," aku mengangkat mulutku berbarengan dengan bola mataku yang menatap ke kiri atas. "Dia gadis yang manis, dan selalu satu paket dengan barang bawaannya."


Kami sekarang berada di bawah pohon rimbun mata kami masing-masing menerawang jauh ke ujung danau di sana. Setelah menghabiskan apel dengan sari madu dan kayu-kayu manis, Ibuku begitu senang mendengarkan cerita tentang sahabat baruku ini. Kuchiki Rukia. Aku pribadi juga sebenarnya bahagia sekaligus malu menceritakan ini. Jujur saja, tidak mungkin kan seorang cowok menceritakan sahabat barunya kepada ibunya seakan baru mendapat mainan baru. Apalagi temanku yang satu ini adalah perempuan, betapa malunya diriku. Tapi aku tidak menyesal mempunyai teman sepertinya, tidak peduli itu perempuan atau laki-laki.

Setelah puas menikmati udara sejuk dan cuci matanya, kami pun pulang ke rumah lagi. Rasanya mulutku pegal menceritakan tentang Rukia, padahal ia hanyalah Cewek Biola. Dan saat berjalan di tikungan trotoar, aku melewati seorang pria tua yang mengenakan mantel hitam dan topi abu-abu yang menutupi wajah tertunduknya. Aku menikung terlalu dekat, dan tanpa sengaja menyenggol lengannya saat lewat.

Refleks aku berkata, "maaf."

Ibuku terpaku di sampingku, dan saat menyadari tingkah laku Ibu yang sedikit tercengang aku sadar sekarang. Aku begitu tenggelam dalam pikiranku sendiri, sehingga tidak memperhatikan betapa kosongnya pria itu. Terdengar sedikit aliran listrik yang berdengung seperti lebah, mungkin lebih kecil, di sekelilingnya. Itu aura dimensi lain.

Pria yang barusan kusenggol lengannya, dan tak sengaja kuajak bicara, ternyata sudah tidak bernyawa. Ibuku menatap mataku lekat-lekat sambil meletakkan telapak tangannya di bahuku.

"Ichigo, apa yang barusan kaukatakan?" tanyanya pelan.

Aku kembali menatap matanya yang mempunyai warna sama denganku. Musim gugur. Tapi permasalahannya bukan itu sekarang. Aku terasa didorong untuk menceritakan semua padanya. Bahwa sebenarnya ini bermula ketika aku duduk sendirian di halaman sekolah, entah mengamati apa nun jauh di sana, tiba-tiba sekelebat sosok dua gadis kecil berpakaian kostum Halloween muncul di hadapanku. Mereka menampakkan senyum manisnya. Tidak. Tidak seseram yang kalian pikirkan sekarang. Aku yang terbawa suasana membalas senyum mereka.

Tetapi aku sadar, saat cahaya matahari menyinari daerah kami, aku tidak melihat bayangan di bawah kaki-kaki mereka. Dan percayalah aku kaget setengah mati di situ. Tetapi tidak berteriak lari-lari minta tolong seperti di film-film horror itu, aku masih diam terpaku disana. Mengerjap-ngerjapkan kelopak mataku berkali-kali, dan entah dalam kerjapan ke berapa, mereka hilang dari sana.

Dan sejak hari itu, aku sudah dua kali MELIHAT arwah dihitung dengan hari ini. Aku bisa saja mengatakan yang sebenarnya pada Ibu sekarang juga.

Tetapi, aku malah berbohong.

"Aku bilang 'maaf'," ucapku. Mengalihkan pandanganku sedikit ke kanan. "Aku tadi bilang maaf karena bersendawa keras karena apel-apel yang tadi kita makan. Jangan bilang Ibu tidak mendengar sendawaku?"

Kulirik, ia sedikit ragu-ragu untuk sesaat. Ada sesuatu yang ingin dipaksa keluar dari mulutnya, tetapi ia urungkan itu.

"Itu tadi suaramu?" ia menepuk-nepuk pundakku yang jelas lebih besar darinya. "Aku pikir tadi suara kapal lewat di danau sana."

"Oh, itu baru permulaan. Lihat nanti saat makan malam, suaraku akan terdengar seperti satu armada kapal," aku nyengir. Berusaha untuk stay cool. Tetapi perasaanku tetap saja tidak enak, karena sudah berbohong padanya.

Kami lalu tiba di ujung jalan, dan menyeberang untuk sampai di komplek rumah kami. Aku lega menengok ke belakang, kalau pria bermantel hitam tadi sudah tidak ada. Bisa jadi ia bukan arwah yang ingin berkomunikasi. Kemungkinan besar ia hanyalah arwah yang hatinya masih terikat dengan kebiasaan jalan-jalan sorenya, dan bahkan sampai mati ia masih tidak rela melewatkan hobinya itu.

Malu karena berbohong, daritadi aku hanya membungkam mulut. Berpura-pura banyak bicara, malah akan terlihat banyak berbohong. Yah dan aku tahu Ibuku merasakan kalau yang lebih baik berbicara saat dalam perjalanan pulang itu adalah dia.

"Oh iya, Ichigo. Tadi aku melihat sesuatu yang lucu di tempat laundry. Ada seorang cowok yang sedang memasukkan baju-bajunya ke dalam mesin cuci, tetapi kelihatannya ia belum pernah melakukannya. Maka ia memasukkan kaus orange dicampur dengan celupan baju-baju bewarna putih. Dan ketika mengeluarkannya dari mesin cuci, semua bajunya kena luntur dan menjadi orange! Ekspresinya itu, lho, yang sangat lucu!" Ibuku bercerita dengan hebohnya. Aku mengangguk, tersenyum, nyengir, dan tertawa saat diperlukan saja. Aku semakin merasa bersalah melakukan hal ini.

"Dan ada satu lagi. Aku tahu kamu sangat menginginkan seekor anjing peliharaan, bukan?" pertanyaannya sangat menggodaku. Aku langsung menatapnya tidak percaya. Seekor anjing? Perkataan itu terus melintas di otakku, sampai-sampai bisa dibuat pecah olehnya. Tetapi merawat anak anjing itu susah, kan. Perawatannya juga harganya yang cukup mahal. Dan mungkin tidak bisa diam saat ada sesi.

"Jangan terlalu cepat senang dulu, ini bukan anak anjing," lagi-lagi Ibuku bisa membaca pikiranku. "Ini anjing dewasa. Sudah lima tahun. Anjing golden retriever. Di brosur yang kubaca tadi di tempat laundry, keluarga yang memelihara anjing ini akan pindah rumah ke luar negeri. Dan mereka membutuhkan pemilik rumah yang penuh kasih sayang untuk merawat anjing mereka."

Nafasku bahkan sampai tercekat saking bahagianya. Anjing golden? Oh, ya ampun. Itu adalah jenis anjing yang kuinginkan sejak dulu. Ia anjing yang sangat bersahabat, bulunya mengkilap saat ditembus cahaya matahari. Aku tidak berbicara apa pun, dan membiarkan Ibuku yang melanjutkan.

"Aku sudah menelepon mereka," ucapnya. "Rumahnya dekat dengan tempat laundry, jadi Ibu tadi langsung mampir ke rumahnya untuk melihat anjing itu. Namanya Kon. Ia terlihat cantik dan aku mengakuinya. Ia juga merasa nyaman tinggal dengan arwah. Keluarga itu tidak tahu—tentu saja, bahwa mereka tinggal serumah dengan arwah nenek-nenek dan kakek-kakek yang meninggal tahun empat puluhan. Tapi Kon akur-akur saja. Keluarga itu juga sangat ramah kepadaku. Entahlah, bagaimana menurutmu?"

Aku mengangguk lebih dari tadi aku menggeleng saat Ibu bertanya padaku. Ia menyunggingkan senyum di mulutnya. Senyum lebar sambil terus berjalan.

"Kamu setuju?"

"Ya! Tentu saja!" ucapku dengan penuh semangat. Oh, sudah berapa tahun aku memimpikan mempunyai hewan peliharaan. Mendengar Rukia dulu mempunyai kelinci pun membuatku kagum tak henti. "Kapan kita bisa membawa Kon pulang?"

Sejak saat itu aku sangat menyayangi Ibuku sampai tidak sanggup bagaimana untuk menggambarkannya. Aku nyaris cukup bahagia juga mengetahui bahwa aku bisa melihat arwah. Tetapi, aku tidak bisa. Maksudku, aku tidak bisa untuk mengungkapkan apa yang kulihat. Tidak mengerti apa yang mereka inginkan. Aku tidak seperti Ibuku. Aku tidak mempunyai kekuatan sepertinya yang levelnya lebih tinggi dariku. Dan aku tidak bisa membuka praktik medium.

Para arwah itu seperti bayi. Mereka menjerit dan menangis saat menginginkan sesuatu, dan mereka akan terus melakukannya hingga sampai kau memenuhi permintaannya. Dan terkadang mereka tidak bisa memberitahu apa yang mereka inginkan. Aku tidak tahu apakah aku bisa menghadapi semua itu.


Kami lalu membawanya pulang malam itu. Ibu dan aku sama-sama percaya kalau anjing itu mempunyai jiwa, dan jelas Kon berjiwa tua. Pemiliknya—pasangan paruh baya yang tidak mempunyai anak, tidak ingin memperpanjang perpisahan mereka lebih dari yang diperlukan. Jadi setelah memberikan collar milik Kon, bantal besar yang biasa ia tiduri, dan makanan favoritnya, mereka pun bepisah dengan kami. Dan Kon terlihat nyaman berjalan di sampingku.

Aku selalu takjub betapa hidup bisa berubah secepat ini. Tiga jam yang lalu aku tidak punya anjing. Dan sekarang aku membawa pulang anjing paling cantik di dunia. Saat tiba di depan rumah kami, Kon tiba-tiba langsung berlari, sehingga aku yang sedang memegang tali kekangnya pun ikut tertarik, tenaganya cukup besar, sehingga sulit untuk dihentikan hanya dengan satu tangan.

"Bagaimana ia bisa tahu?" tanya Ibuku yang melihat Kon sudah menaiki tangga rumah kami.

"Mungkin penciumannya tajam," ucapku. Mengikuti Kon sementara ia menghampiri pintu. Saat sampai di keset yang bertuliskan welcome, ia duduk dan menoleh memperhatikan Ibuku dengan mata coklatnya.

"Ia menunggu Ibu membuka pintunya," ucapku sambil setengah tertawa.

Aku memegangi tempat tidur Kon, sementara Ibuku membuka pintunya. Aku melepaskan tali kekang, dan membiarkan Kon menjelajahi rumah kami tanpa dibantu. Aku ingin ia merasa nyaman di sini, dan merasa seperti rumahnya sendiri.

"Jadi bagaimana dengan tempat tidurnya? Aku akan menaruh mangkuk makanannya di dapur. Mungkin lebih baik di bawah jendela, agar disinari matahari setiap hari. Siapa tahu saat malam, Kon ingin tidur di kaki ranjangmu?"

"Bolehkah? Aku senang sekali!" seruku. Salah satu bayanganku saat mempunyai anjing adalah ia akan meringkuk di bawah ranjangku setiap malam. Kon anjing yang besar, tapi aku tetap mengijinkannya tidur bersamaku.

Saat hari sudah larut malam, aku merebahkan tubuhku di atas ranjang, ditemani selimut bewarna putih. Dan saat itu juga, Kon melangkah memasuki kamarku tanpa suara, melompat ke atas tempat tidur, dan menggulung tubuh besarnya yang cantik di samping kakiku. Aku hanya tersenyum lebar. Persis seperti khayalanku.


Ada dua hal yang tidak diragukan lagi memperkuat pertemananku dengan Rukia. Yang pertama adalah insiden di kantin, dan yang kedua adalah serangan Cewek Satelit. Di sinilah mereka 'menyerang' kami.

Rukia dan aku sekarang sedang duduk berdua menyantap makan siang, saat aku melihat Inoue Orihime dan Ishida Uryuu—yang sudah masuk sekolah—dengan papan kecil di tangannya, dan oh, jangan lupa dengan Satelitnya yang setia mengelilinginya ke mana pun ia pergi. Dan mereka berjalan menghampiri kami.

Aku tidak bahagia jika ada nenek seseorang yang meninggal, aku menikmati absen Ishida di sekolah. Yah, sangat. Tetapi, ia sudah kembali masuk minggu lalu, dan sedang mendekati meja kami dengan kecepatan yang tidak wajar. Aku tidak butuh ilmu gaib untuk tahu apa yang akan terjadi. Ishida dan Inoue hendak memaksaku untuk bertugas di salah satu organisasi seramnya—dalam hal ini, yaitu Panitia Dekorasi Dansa. Itu kegiatan yang paling membuatku menggelengkan kepala entah berapa kali.

Namun sudah beberapa bulan kejadian supernatural di rumahku dialami oleh mereka berdua, dan meskipun salah satu Satelit Inoue yang paling dekat, Senna, sering memandangku dengan bengisnya, tidak ada yang mengatakan apapun padaku tentang perihal itu. Mereka berdua—pasangan sejati—tidak pernah tertarik pada berita yang sudah 'basi', jadi mungkin ia memutuskannya untuk memberitahu pada Senna saja.

Karena Inoue juga termasuk cewek populer seperti Ishida, jadi ia memiliki sejumlah besar kekuasaan. Dan karena ia merasa paling berkuasa, ia bisa menyuruh siapa saja. Sebagai ketua Panitia Dekorasi Dansa, Inoue bertanggung jawab memilih tema sekaligus mengerjakan dekorasi untuk panggung, untuk acara dansa sekolah. Dan ia selalu memintanya dengan 'paksa'.

Mereka tiba di meja kami, menceklak-ceklik pulpen mekaniknya, pertanda kalau perintahnya sudah datang.

"Kurosaki," tegasnya. "Aku butuh bantuan untuk mendekorasi panggung acara dansa Sabtu depan. Seperti yang kau ketahui—"

Tidak, aku tidak mengetahuinya.

"—tema dansa kita kali ini adalah Permata Dunia. Aku membutuhkan kertas origami yang nanti dibentuk menjadi bintang, permata, dan lain sebagainya. Sekitar seratus lima puluh potong setiap bentuk. Bahan-bahannya ada di ruang seni. Kalau kau bisa langsung memulainya dan tetap di sini pulang sekolah nanti, itu akan asyik banget."

Inoue selalu memberi perintah seperti itu. Dia 'ingin kau langsung mulai mengerjakannya', seakan-akan kau memang sudah berniat melakukan itu sejak dulu. Dan tambahan kecil di akhir perintahnya, 'itu akan asyik banget' padahal sama sekali gak efek. Aku telah diberikan perintah itu, dan percuma saja menolaknya. Sudah kubilang dari awal, kalau kekuasaan Inoue itu sangat besar—ditambah dengan Ishida pula. Dan bisa membuat orang yang menentangnya langsung menderita. Kalaupun aku mempunyai kekuasaan, tidak mungkin aku melampiaskannya ke perempuan.

Walaupun ini perkerjaan culun bagi para cowok—mendekorasi panggung. Bisakah kau membayangkannya? Aku sudah membuka mulut untuk menyetujui dengan sedih, bahwa waktu pulang sekolahku harus dipakai di ruang seni, bukan untuk bermain dengan Kon.

Lalu tiba-tiba Rukia menyela, makanan di piringnya tinggal seperempat lagi.

"Dia tidak bisa."

Dua orang jenius itu menatap Rukia untuk sesaat. Terlihat sangat bingung, seperti saat mereka mengunjungi rumahku.

"Maaf?" Ishida yang giliran berbicara.

"Ichigo tidak bisa," ia mengulanginya lagi, dengan nada sedikit keras. "Kami harus mengerjakan proyek biologi di perpustakaan nanti pulang sekolah."

Ishida dan Inoue saling pandang, lalu mereka mengeluarkan tawa kecil penuh keheranan. Inoue melirik ke belakang, untuk melihat apakah anak-anak lain melihat lelucon yang menakjubkan ini.

"Yah," tawa masih menggema di antara suaranya. "Itu hebat, tetapi aku benar-benar membutuhkan Kurosaki untuk permata dan bintang bulanku. Kau anak baru itu, kan? Mungkin kamu tidak tahu, kalau aku adalah ketua Panitia Dekorasi Dansa. Jadi aku merasa Kurosaki harus bisa membantuku hari ini."

"Dia nggak bisa," ia masih mengulanginya dengan keras dan tegas. Oke, aku sekarang mulai takut diperebutkan dua cewek. "Dia akan ke perpustakaan BERSAMAKU. Dan kau harus mulai meminta bantuan pada ORANG LAIN."

Inoue langsung membisu, begitu juga dengan Ishida. Ia tidak banyak omong kali ini, karena ia tidak ada hubungannya dengan Panitia Dekorasi Dansa. Cewek berdada besar itu sama sekali tidak bisa mendengar kata-kata 'tidak bisa', sehingga ia hanya bisa berdiri di sana dengan mata melotot.

"Ayo," sergah Rukia sambil mengangkut biolanya.

Aku ragu-ragu sesaat. Aku merasa beruntung karena baru saja Inoue tidak memberitahu sebagian besar desas desus tentang peristiwa di rumahku. Tetapi jelas mereka akan selalu mempunyai masalah denganku, dan mereka tidak akan pernah menjadi temanku. Rukia lah temanku. Keputusan sudah matang, aku berjalan di samping Rukia yang lebih pendek dariku, dan kami meninggalkan Ishida, Inoue, juga para Cewek Satelit itu, berdiri di samping meja kerumunan orang kurang populer yang sekarang kosong.

~TO BE CONTINUED~


Review reply:

First from Shizuma Shieru, iya panjang, lumayan deh, haha. Oke ini sudah dilanjutkan, makasih reviewnya! ^^

Kedua dari Chadeschan, yup, Anda benar (kurang lebih). Hmm, soalnya saia pengen membuat Inoue sekali ini aja, rada-rada ngebenci Ichigo. Ehehehe, daripada terlalu ngerjar kan, jadi gimana gitu kesannya ^^a. Yah, mudah-mudahan sih alurnya mudah dimengerti. Sip, makasih reviewnya! ^^

Third from ichigo4rukia, hahaha terlalu jauh, yak? Hmm, ra-ha-si-aa *diinjek*. Ehehe, baca terus aja chapter selanjutnya, makasih reviewnya! ^^

Keempat dari nenk rukiakate, iya, Nenk benar! HARUS bisa dilanjutkan, ehehehe. Iyoo, ini sudah di update, gomen kalau lama ya T.T. Makasih reviewnya! ^^

Terakhir dari BlackRed, yoi, cuma ngedenger doang, tapi di chapter-chapter berikutnya sedikit meningkat. Ho, makasih buat pembetulannya. Sip, makasih reviewnya! ^^

Oke, gomen sebesar-besarnya jika cerita ini lama di update. Shizu harus berperang (?) melawan UAS. Jadi gak sempet maen dan sebagainya. Semoga Readers yang sudah menunggu juga bisa puas dengan chapter kali ini. Oke, Reviewnya ditunggu, kesan, pesan, dan apa pun diterima. Sekian, dan sampai berjumpa di chapter selanjutnya!