~Medium~
~Genre: Supernatural, Friendship~
~Chara: Kurosaki Ichigo and Kuchiki Rukia~
~Disclaimer: Tite Kubo~
Saat kami berjalan melewati pintu ganda yang mengarah ke koridor, dan menuju ke pintu perpustakaan, aku merasakan firasat yang cukup kuat akan datangnya malapetaka. Hari ini.
"Kita mengerjakan proyek biologi bersama?" tanyaku.
"Bukan berarti kita tidak perlu mengerjakannya," sahut Rukia. "Aku lagi tidak ada pelajaran biola hari ini. Lagi pula kamu butuh sedikit pencerahan. Orang yang tidak berotak jenius seperti aku pun tahu kalau kamu gak mau memotong kertas-kertas hias untuk cewek tadi."
"Terima kasih untuk bantuannya, Rukia. Tapi aku gak berfikir kalau ini adalah ide yang bagus," ucapku.
Rukia menoleh dan menatapku, memicingkan mata violetnya yang indah.
"Berarti kamu lebih memilih untuk menghabiskan waktu berjam-jam membuat bentuk-bentuk seperti di sereal Lucky Stars, untuk tuan putri yang selalu memerintah seenaknya?"
Aku belum cukup siap memberitahu Rukia bahwa aku mengkhawatirkan perlakuanku kepada dua orang itu, gara-gara suara musik klarinet menakut-nakutinya di ruang tamu. Dan lebih baik tidak usah dibahas lebih lanjut.
"Yah kalau kau mengatakan seperti itu," aku menatap dengan malas. "Tapi serius, Rukia. Percayalah padaku. Aku yang sudah bertahun-tahun di sini, melihat apa yang orang-orang rasakan ketika mereka menolak permintaan Inoue. Lebih mudah untuk tersenyum dan mengangguk daripada menjadi pusat salah satu pertunjukan dramanya."
"Heh," Rukia terkekeh pelan, seakan mengejek. "Kau pasti bercanda. Cewek-cewek itu, Inoue, dan para bulan yang mengitarinya, kamu tidak mungkin berdiri di sana dengan culunnya, dengan wajah penuh senyum yang dibuat-buat, dan mengatakan padaku kalau persetujuan mereka penting bagimu."
"Ya, enggaklah," ucapku gusar.
"Lalu apa masalahnya? Planet Inoue dan bagaimana orang-orang memanggil cewek-cewek yang mengitarinya?—Cewek Satelit tidak akan memperdulikan kita. Kau dan aku. Aku tidak melihat hal itu mempengaruhi hidup kita. Bagaimana menurutmu?"
Aku menggeleng lemas. Aku rasa Rukia bisa melihat ketidaknyamananku. Kemudian dia berhenti, menyenderkan biolanya di salah satu loker, lalu menatapku.
"Ayolah, Ichigo. Tidak perlu dipikirkan. Ini hanya dunia SMA, bukan pemilihan presiden. Lupakan kemarahan Inoue dan telpon ibumu. Beritahu kalau kau akan pulang lebih lama, karena harus mengerjakan proyek biologi."
Sesuatu dalam diriku merasa hangat dan nyaman. Aku tersenyum.
"Baiklah," kataku.
Rukia mengangguk mantap. Ia lalu mengambil biolanya kembali, dan mulai berjalan lagi. Sementara aku menyamai langkahnya dari samping.
"Oh iya, kami baru punya anjing kemarin!" seruku. Rukia menolehkan kepalanya kembali, dengan senyum gembira.
"Apa? Kapan kejadiannya? Kamu tidak menceritakannya padaku. Di mana kamu dapat anjing? Apakah ia tersesat? Atau dari tempat penampungan? Oh, Ichigo, aku harap kamu tidak membelinya di toko anak anjing, karena, yah kau tahu, mereka—"
"Kejadiannya sangat kebetulan, Rukia. Seakan-akan ia menemukan kami. Ibuku melihat sebuah brosur—pemiliknya akan meninggalkan kota dalam waktu dekat, dan tahu-tahu satu jam kemudian ia sudah berada di rumah kami. Anjing golden retriever yang luar biasa cantik. Namanya Kon. Ia merasa seperti sudah tinggal di rumah kami selamanya."
"Aku. Tidak. Sabar. Untuk. Melihatnya!" cetus Rukia, seakan perkataannya itu seperti di slow motion. "Wah, Ichigo! Kelihatannya kamu memang ditakdirkan untuk memiliki anjing itu. Berarti ia juga menemukanku, karena aku kan temanmu, jadi ia semacam anjing tiriku juga—jika kau tidak keberatan, seekor golden? Ini sangat sangat keren!" seru Rukia panjang lebar.
Aku benar-benar tidak bisa menggambarkan betapa bahagianya melihat Rukia nyaris sama antusiasnya tentang Kon seperti aku. Kau tahu bagaimana orang kadang-kadang mengatakan bahwa sesuatu menghangatkan hati mereka? Yah, meskipun kedengarannya norak, tetapi reaksi Rukia saat mendengar tentang Kon, cukup menghangatkan hatiku.
"Kamu harus ke rumahku untuk melihatnya, lho," semburku. Untuk sesaat kelihatannya aku lupa apa yang akan terjadi nanti saat aku mengundang orang ke rumah.
"Tentu saja! Aku tidak sabar lagi. Aku sudah terlanjur menyayangi Kon—walaupun aku belum melihatnya langsung. Kita akan mengajaknya jalan-jalan ke taman, menyikatnya, mentertawakan Panitia Dekorasi Dansa Inoue. Dan mungkin kita bisa mengajarinya untuk menggeram saat mendengar nama Inoue. Bukankah itu akan sangat lucu? Dasar Tuan Jeruk, memangnya hal buruk apa yang kaupikir akan membuat marah cewek itu?"
Aku akan mengetahui jawaban dari pertanyaan Rukia dalam waktu yang singkat.
Lalu kami sampai di perpustakaan setelah berbicara di sepanjang koridor. Rukia memilih meja besar yang jauh dari penglihatan pustakawan dan para murid lainnya dari rak-rak buku. Kami memang berencana mengerjakan proyek biologi, tetapi ini juga kali pertama aku bertemu dengan Rukia di luar kantin. Rukia menirukan dengan sangat mirip gaya Inoue saat datang ke meja orang kurang populer di kantin. Ia berjalan dengan menyenggol-nyenggolkan pinggangnya, menyibakan rambutnya seperti cewek yang centil, dan sedikit memajukan mulutnya ke depan.
Ia mengetuk-ngetukkan jarinya di papan tulis khayalan. Aku tertawa begitu keras, sampai-sampai tidak bisa menghentikannya. Lalu aku mendengar bunyi gedebuk pelan. Saat itu juga, gerakan menirukan Inoue yang dilakukan oleh Rukia berhenti.
"Bunyi apa itu?" tanyanya.
Sebuah buku tebal bersampul hijau tua menggelincir sendiri dari puncak rak terdekat, dan meluncur ke lantai.
Itu kecelakaan, aku meyakinkan diri. Hanya pergeseran tidak sengaja dari buku-buku lain yang membuat buku bersampul hijau itu tersenggol, dan jatuh. Bukan seperti lampu di rumahku yang secara tiba-tiba melayang sendiri. Bukan sesuatu yang aneh seperti berkomunikasi dengan arwah. Aku ingin meyakinkan semua itu pada diriku, karena tidak ingin menerima kenyataan yang melibatkan arwah kali ini.
"Ada yang jatuh," jawabku. Aku cepat-cepat membuka buku biologi, dan membolak-balik halamannya. Aku berpura-pura tidak tertarik dengan buku yang 'jatuh dengan sendirinya'.
"Buku itu," Rukia menunjuk sampul buku hijau di lantai.
"Mungkin," kataku. Mengamati gambar-gambar sel makhluk hidup yang mulai menarik perhatianku.
Rukia memungut buku hijau itu, dan melemparnya ke atas meja, tepat di hadapanku.
"Jangan bilang 'mungkin' padaku. Memang buku ini. Ia keluar sendiri dari rak dan jatuh ke lantai. Aneh," tukasnya.
"Kalau begitu biar kukembalikan," ucapku. Aku mengambilnya dan menjejalkan kembali buku itu ke tempat semula, tanpa melihat judulnya. Saat aku duduk lagi, Rukia menyilangkan kakinya di atas kursi, dan mengawasiku. Ekspresi di wajah serta matanya tidak terbaca.
"Apa?" tanyaku mendadak bersikap defensif.
"Kita berteman, kan?"
Sikap defensifku langsung meleleh menjadi kubangan di dalam diriku.
"Tentu saja!" aku berseru. Agar membuat ia yakin.
"Teman sungguhan, bukan seperti Inoue dan Satelit Setianya itu, ya kan?" Rukia mendesak.
"Tentu bukan," ucapku. "Ya, maksudku, teman sungguhan, Rukia. Ya, sudah tentu."
"Menurutku begitu," ujar Rukia. Ia sekarang menjadi setengah tertarik pada buku biologinya sendiri. "Karena aku merasa jika aku perlu memberitahukan sesuatu, atau aku ingin, yah kau tahu, mengungkapkan sesuatu dari dalam diriku, mungkin aku bisa…. Mempercayaimu. Yah, maksudku, bahwa itu tidak akan merubah pertemanan kita."
Aku serta merta merasa bahwa, tidak ada perkataan tentang dirinya yang akan membuatku berhenti menjadi temannya, dan aku sadar, mungkin ia merahasiakan hal yang sama sepertiku. Tetapi, tidak mungkin ada yang punya rahasia seaneh milikku.
"Ini soal… soal biolaku. Kamu tahu? Guru yang kubilang membuatku pindah kemari?" Rukia bertanya, sambil mewarnai huruf 'R' di sampul bukunya, dengan pulpen bewarna ungu.
"Ya," sahutku memberi dorongan.
Apa pun yang hendak Rukia katakan, pasti terpotong oleh bunyi gedebuk lagi. Aku sudah tahu bahkan sebelum menengok ke lantai. Buku hijau itu jatuh lagi. Tepatnya menjatuhkan diri tepat di depan kakiku.
Ampun, deh. Arwah-arwah ini terkadang sangat mengganggu.
"Wah," Rukia terlihat kagum. Yah, tetapi bukan kagum saat melihat pesulap melakukan triknya. "Apakah itu… apakah itu buku yang sama yang tadi jatuh?"
Aku tidak mungkin berpura-pura tidak tahu. Karena kami juga bukan orang bodoh. Aku mengangguk.
"Baiklah," ucap Rukia, sambil menatap buku itu lekat-lekat. "Apakah ini hanya perasaanku saja, atau ini memang mengerikan?"
Aku menghela nafas. Ini dia—kejadian dengan Inoue dan Ishida terulang lagi.
"Bukan hanya perasaanmu, Rukia. Tapi ini memang mengerikan. Masalahnya, hal-hal aneh terkadang terjadi di sekitarku. Aku sepertinya… menarik perhatian mereka, atau apa," aku berbicara asal sambil menatapnya. Mungkin aku bisa lolos dengan memberi sepotong kecil informasi itu tanpa membahasnya,
Rukia mengalihkan perhatian dari buku ke aku.
"Oke," katanya berhati-hati. "Apa yang kau lakukan?"
"Maksudmu?" aku tidak menangkap pertanyaan Rukia dengan jelas.
"Saat hal-hal aneh terjadi. Apakah sebaiknya kita mengembalikan buku itu ke tempatnya?"
Aku berani bersumpah bahwa pada saat itu, buku hijau bergerak, mungkin hanya satu atau dua senti ke arahku. Aku rasa Rukia juga melihatnya saat buku itu sedikit melompat kecil. Hebatnya, dia tidak mengatakan apa pun.
"Yah, menurutku yang harus dilakukan adalah memeriksanya. Mungkin buku ini kesepian. Kelihatannya orang-orang yang pernah ke perpustakaan ini tidak pernah membaca bukunya."
Rukia tertawa, dan kegelisahanku sedikit terhapus. Aku membungkuk mengambil buku itu, dan meletakkannya di meja kami. Rukia menarik kursinya lebih dekat, agar kami berdua bisa melihatnya bersamaan. Ada cap sekolah kami di sampul buku.
Rukia menelusuri huruf-huruf yang timbul di sampul buku dengan jarinya.
"Sembilan belas enam puluh," dia membaca.
"Sembilan belas enam puluh," aku mengulangi. "Ini buku tahunan lama."
Aku membuka pada halaman pertama dan mulai membolak-baliknya. Bagian pertama berisi foto hitam putih para alumni atau lulusan. Masing-masing berupa pas foto berukuran kecil persegi.
"Hei, lihat rambutnya!" seru Rukia, menunjuk salah satu foto. "Ujungnya digulung ke atas pakai gel pengeras. Kau bisa menyimpan pensil dalam gulungan itu!"
"Bagaimana dengan kacamatanya?" aku menunjuk orang yang kelihatan mencolok. "Apa sih ini? Kacamata kucing? Seperti di film kartun itu, ya."
"Cewek itu juga pakai!" seru Rukia, tertawa saat menunjuk salah satu foto di bawah halaman. "Menurutmu suatu hari nanti orang di masa depan, akan melihat buku tahunan kita, dan mentertawakan model rambut kita, dan menganggap kita terlihat seperti di tokoh kartun?"
"Tidak mungkin," aku menggelengkan kepala, sambil membuka halaman berikutnya. "Orang itu bergaya paling aneh di tahun enam puluh atau tujuh puluhan. Dan sedikit di tahun delapan puluhan. Kita sudah normal sekarang."
"Ya, kecuali rambutmu yang terlihat seperti di cat itu."
"Oh, ayolah Rukia. Rambutku ini sudah alami sejak kecil. Kenapa banyak orang mengira rambut ini di cat? Esensi mereka tidak berkembang, dasar," aku mengacak-acak rambut orange milikku sendiri. Rukia tertawa keras. Padahal di ruang perpustakaan sudah terpampang tulisan keep quiet. Tapi untung saja sang pustakawan entah pergi ke mana.
Saat tanganku tidak memegang halaman buku itu, tiba-tiba saja punggung buku itu menutup dengan sendirinya. Dan halaman yang tadi tertutup.
"Kau menghilangkan halaman yang tadi," Rukia menggembungkan pipinya. "Aku ingin melihat cewek yang rambutnya digulung itu."
Dia mulai membalik-balik halaman buku lagi, mencari foto-foto para alumni yang terlihat norak di mata kami.
"Semua cewek di sini rambutnya digulung," ucapku.
"Atau dikonde seperti sarang lebah," Rukia menambahkan, masih membolak-balik halaman. "Apa yang ada di otak mereka? Apakah cewek ini memasang kacamata kucing setiap pagi, menepuk-nepuk rambut sarang lebah mereka yang besar dan gemuk sampai rapi, lalu menatap dirinya di kaca, dan berfikir, 'aku sudah cantiiiik sekarang'?"
"Mungkin mereka dipaksa ibunya," ucapku setengah tertawa.
"Hei, mana kacamatamu?" Rukia menyamakan suaranya seperti ibu-ibu yang galak. "Kau terlihat ayu dengan kacamata itu, nona muda, dan sebaiknya kau memakainya."
"Kau butuh paling tidak tiga inci gulungan rambut, nona muda. Atau tidak ada pemuda rupawan yang akan mengajakmu kencan," aku menambahkan dengan suara yang sama.
Mungkin tidak selucu itu, tetapi Rukia dan aku tertawa terbahak-bahak seolah belum pernah mendengar sesuatu yang kocak. Gadis itu memang jago berakting, sampai-sampai aku tertular darinya. Saat sedang menyeka air mata, aku menyadari halaman-halaman buku itu hilang lagi.
"Yah, hilang lagi deh halaman kita—" Rukia mulai berbicara. Tapi tiba-tiba juga ia diam.
Buku itu membuka—dengan sendirinya—halaman yang berbeda, tetapi orang yang waras tidak mungkin menyalahkan punggung jilidan tua dan kaku yang sudah berpuluhan tahun tidak disibak. Halaman-halamannya terkuak. Satu demi satu. Dengan sendirinya. Seram sekali memang. Seperti tumpukan kartu dalam cerita Alice in Wonderland. Beberapa hal seharusnya tidak bergerak atas kemauan mereka sendiri.
"Apakah ini salah satu 'hal aneh' yang terjadi di sekitarmu itu?" Rukia berbisik.
Aku mengangguk, berharap sekeras mungkin agar halaman-halaman itu segera menghentikan ulah mereka yang menyebalkan. Dan seolah mengerti apa yang barusan kuinginkan, mereka berhenti.
Buku itu menggeletak terbuka di depan kami.
"Apakah sudah selesai?" tanya Rukia, masih berbisik.
"Aku rasa begitu."
Mataku terpaku ke halaman kanan buku tersebut. Aku menatapnya dengan begitu tajam sampai tidak bisa melihat apa yang kutatap. Aku merasa seperti sedang berjuang untuk terbangun dari mimpi. Setelah beberapa saat aku menutup mata dan sedikit menggelengkannya, dan isi halaman itu mulai bisa kulihat.
Satu halaman penuh foto seorang gadis yang memegang flute atau seruling. Meskipun pakaiannya jelas ketinggalan jaman, gadis di dalam foto itu tidak berdandan kuno seperti yang dari tadi menjadi bahan tertawaan kami. Rambutnya bewarna ungu muda panjang. Tidak ada kacamata. Segala hal yang kulihat di foto itu, gadis yang terlihat kurus, wajahnya yang penuh garis dan sudut, juga tidak lupa lingkaran hitam di bawah matanya. Walaupun itu foto lama, agak buram, dan tidak bewarna, aku punya firasat, kulit gadis itu pucat tak wajar.
Dia menempelkan flute ke bibirnya dan jelas sedang memainkannya, atau berpura-pura memainkannya, matanya menatap ke kiri. Dia memakai sweter kardigan yang dikancing sampai ke atas. Serta rok panjang, yang bahkan di mataku, sudah terlihat kuno dan ketinggalan jaman. Bahan rok dan sweternya terlihat usang, seperti bahan bekas. Aku menebak sweter dan roknya mungkin bewarna abu-abu dan biru tua.
"Dalam kenangan," Rukia menggumam. Dan aku menatap tulisan yang dibaca Rukia barusan.
"Mengenang dengan penuh kasih, Shirayuki, sembilan belas empat puluh tiga sampai sembilan belas enam puluh."
"Ya ampun, dia sudah meninggal?" tanya Rukia. Meskipun itu bukan benar-benar pertanyaan. Semua sudah jelas terpampang di depan kami. Seorang murid bernama Shirayuki, yang bermain flute dan sudah cukup lama tidak memperbarui koleksi pakaiannya, meninggal dunia saat usianya masih tujuh belas tahun.
"Kejadiannya pasti di tengah tahun ajaran," kataku. "Dulu bangunan ini menampung murid sampai tingkat kita, SMA. Bisa jadi ia murid SMP atau SMA."
"Tidak disebutkan kenapa ia meninggal," ujar Rukia. "Tidakkah mereka menganggapnya penting? Ini membuat perbedaan."
Aku tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Rukia dengan membuat perbedaan. Tetapi aku juga ingin tahu bagaimana gadis yang cantik namun tampak lelah ini meninggal. Aku jadi sedih memikirkannya.
Rukia mengeluarkan suara pelan yang aneh, entah itu mendesah atau mengeong. Aku menoleh untuk melihat, apakah gadis mungil itu menangis, atau apa, tapi ia hanya mempelajari halaman itu dengan tekun, menyusuri garis tubuh Shirayuki dengan jari-jari rampingnya. Ia menundukkan kepala di atas buku tahunan itu seperti sedang melihat ke dalam mikroskop. Aku bertanya-tanya, apakah ia menemukan sesuatu di dalam foto itu, dan aku sedang berusaha mengintip dari atas bahunya saat tiba-tiba menyadari bahwa ada seseorang yang berdiri di belakang Rukia.
Biar kujelaskan. Sebenarnya aku bukan tiba-tiba sadar. Lebih tepatnya, satu detik tidak ada siapa-siapa di sana, dan satu detik kemudian ada. Kejadiannya kurang lebih berlangsung dalam satu kedipan mata. Aku menolak mengalihkan pandanganku dari wajah Rukia, dan dia masih tenggelam dalam buku tahunan itu. Aku tidak mau memandang ke belakangnya, seberapa pun kalian memaksaku untuk melihat apa yang ada di sana, tetap tidak mau. Dan aku merasakan dengungan di wilayah itu, seperti aliran listrik.
Bahkan tanpa memandang langsung, aku bisa melihat dari ekor mataku. Yang pertama adalah rok panjang bewarna biru tua. Satu lagi adalah rambut panjang bewarna ungu muda pucat, bergoyang seperti di tiup angin, dan berdiri tepat di belakang Rukia. Aku tahu apa yang berdiri di sana, atau siapa. Itu Shirayuki. Gadis yang bermain flute. Dan sudah meninggal selama hampir lima puluh tahun. Dia berdiri dengan tegak dan diam. Tangannya mengatup di depan. Dia mungkin sedang mengamati buku tahunan itu, tetapi aku tidak tahu pasti. Dia memakai pakaian yang sama seperti di buku tahunan, dan dia juga tidak bergerak seperti di dalam foto.
Aku memejamkan mata, dan merasa mual bukan main. Sudah cukup buruk melihat arwah di jalan. Tetapi di sekolah? Dalam PERPUSTAKAAN? Itu seperti tiket ekspres ke meja murid buangan di kantin. Lupakan tentang makan siang. Itu seperti tiket menuju konselor sekolah. Ke evaluasi kesehatan mental. Bagaimana kalau aku mulai melihat arwah di dalam bus? Bagaimana kalau aku mulai melihat mereka di dalam KELAS?
Aku perlu waktu untuk memikirkan cara menghadapinya. Aku perlu paling tidak sedikit saja.
"Jangan sekarang, jangan sekarang, pokoknya jangan sekarang," aku berbisik seperti sedang merapalkan mantra.
"Jangan sekarang apa?" tanya Rukia yang menyadari aku bertingkah aneh. "Kenapa Ichigo? Kau baik-baik saja?"
Aku tidak mungkin duduk di sana dengan mata terpejam seperti sedang ikut kelas Ritual Untuk Mengusir Makhluk Gaib, atau apa. Aku membuka mataku sedikit dan memicing pada Rukia.
"Ichigo? Kau baik-baik saja?" ia mengulangi pertanyaan yang sama.
Aku tidak yakin, tetapi melalui mata yang terpicing, aku tidak lagi melihat rambut panjang itu di belakang Rukia. Aku membuka mata sepenuhnya. Tanpa dapat dicegah, aku menghembuskan nafas lega. Shirayuki sudah pergi. Entah dia hilang sementara, atau dia mendengar permohonanku untuk pergi, yang jelas ia sudah tidak ada.
"Aku baik-baik saja," tukasku.
"Kau yakin?" tanyanya lagi. Ia menggosok-gosok tangannya yang kedinginan, yang aku yakin ia merinding habis-habisan.
"Aku yakin."
"Positif?"
Aku menghembuskan nafas keras-keras. "Iya, Rukia. Aku positif!"
"Itu bagus," ia memutar tubuhnya menghadap ke arahku, "kalau begitu aku siap."
"Siap untuk apa?" tanyaku bingung.
Rukia mendorong buku tahunan ke arahku dengan kedua tangan kecilnya.
"Aku siap untuk mendengar penjelasanmu tentang apa yang baru saja terjadi."
~TO BE CONTINUED~
Review reply:
Pertama dari nenk rukiakate, waw, semua film Amerika yang Nenk sebutin gak ada yang Shizu tau T.T. Maklum lah, saia anak ndeso, hihihi. Iya, makasih banyak buat pujiannya! Arigatou buat Reviewnya! ^^
Kedua dari Rukianonymous, iya, pada banyak yang bilang suka sama sifat Inoue. Yah sekali-sekali aja ubah sifat Inoue, biar gak terlalu ngejar Ichigo, hehe. Rukia kan emang sang midget tomboy *ditendang*. Oke, makasih Reviewnya! ^^
Ketiga dari chadeschan, haha, makasih pujiannya! Yap, ini udah di update, moga-moga puas deh. Makasih Reviewnya! ^^
Keempat dari wu, makasih pujiannya! ^^
Kelima dari Ruki Yagami, iya, makasih buat pujiannya! ^^
Keenam dari BlackRed, yoi, betul. Sebenernya sengaja sih, pengen nyiksa Ichigo supaya jadi bulan-bulanan *siap-siap sembunyi di balik batu*. Makasih buat Reviewnya! ^^
Capek *bletaak!* Ketujuh dari Shana love IchiRuki, haloo Shana, kita bertemu lagi *SKSD* makasih ya buat pujiannya, jangan manggil Senpai dong, saia masih amatiran, bener deh. Iya, sama-sama. Makasih buat Reviewnya! ^^
Terakhir dari ichigo4rukia, iya bisa, kan kadang-kadang yang minta bantuannya itu bukan cuma hantu, biasanya orang juga, hihihi. Sebenernya di sini Ichigo rada-rada lemah gak berdaya gara-gara dia medium, jadi istilahnya masih belum siap gitu, ngerti kan sama jawaban aneh saia? Hehe. Makasih ya Reviewnya! ^^
Akhirnya selesai juga! Baru kali ini dapet review yang banyak, saia sangat terharu T.T. Sekali lagi terima kasih banyak ya untuk kalian semua! Dari yang Silent Readers, maupun para Reviewer yang sekarang ini, kalau kalian gak ada, cerita ini gak bakal lanjut, hehe. Ternyata banyak yang seneng ya kalau Inoue diubah sikapnya jadi gak terlalu mengejar Ichigo, hehe.
Oke, jadi mohon dimaafkan ya, jika masih ada alur yang gak jelas, atau penokohan agak sedikit saia ubah di sini, misalnya, Ichigo jadi cemen, atau Rukia terlihat gahar banget—mungkin emang udah dari sananya kali, ya, kalau Rukia itu preman—dan sebagainya. Review akan selalu ditunggu dari kalian, jangan malu-malu ya untuk mereview, gak bakal saia cari terus nanti saia gigit kok (?). Sekian dari Shizu, dan sampai berjumpa di chapter selanjutnya!
