~Medium~

~Genre: Supernatural, Friendship~

~Chara: Kurosaki Ichigo and Kuchiki Rukia~

~Disclaimer: Tite Kubo~


Tidak ada jalan keluar. Aku tahu itu. Kalau aku ingin mempertahankan Rukia sebagai temanku, aku harus jujur padanya. Bukan hanya tentang hal-hal aneh yang terjadi. Tetapi tentang semuanya. Ibuku yang seorang medium. Aku yang bisa melihat arwah. Roh yang berkeliaran, menarik-narik lengan bajuku, meminta sesuatu yang bahkan aku tidak tahu. Semuanya. Apakah ia masih merasa nyaman di dekatku setelah mengetahui yang sebenarnya? Ini di luar kendaliku.

"Baiklah," kataku pelan. "Akan kujelaskan. Tetapi jangan di sini. Kata Ibuku kita bisa pergi ke rumahku kalau masih ada waktu, ingat? Ayo jalan," sergahku sambil meninggalkan buku tahunan itu di meja. Oke, aku benar-benar tidak mau berurusan, apalagi memegang buku itu.

"Tentu," sahut Rukia. "Aku bisa bertemu Kon. Gila benar, betapa senangnya aku mendengar KAU mempunyai anjing. Apakah ia memakai bandana merah di lehernya?"

Aku tertawa seraya memasukkan buku-buku dan pulpenku ke dalam tas.

"Yah, dari awal dia memang tidak pakai. Tetapi siapa tahu. Kalau kita bisa mencuri satu, mungkin dia akan bersedia memakainya."

"Sebelum kami pindah," Rukia mulai bercerita. Padahal aku tidak memintanya. "Kamarku menghadap ke taman, tempat semua orang membawa anjing mereka. Dan anjing yang paling cerdas dan paling cantik. Aku rasa jenisnya beagle, atau apa, bermain lempar tangkap Frisbee dengan pemiliknya setiap hari. Kau tidak akan percaya betapa manisnya anjing itu, dan dia memakai bandana merah di lehernya."

Sungguh manis memikirkan Rukia yang ingin Kon memakai bandana merah seperti anjing yang dulu sering ia lihat bermain Frisbee.

"Kon akan menjadi anjing kita, Rukia. Kita benar-benar akan berbagi. Ayo, kita temui Kon."

Kami keluar dari perpustakaan dan menyusuri koridor lagi. Rukia masih membawa biola di punggungnya. Kami nyaris berhasil keluar dari sekolah saat aku mendengar suara yang familier yang tidak menyenangkan memanggilku.

"Kurosaki, apakah kau sudah selesai dengan proyek biologi? Soalnya pasti asyik banget kalau kau bisa mulai mengerjakan dekorasi itu sekarang. Dan kau tahu—"

Tidak, aku tidak tahu.

"—aku harus pulang cepat, karena… ada urusan keluarga."

Aku berbalik dengan malas. Terlihat Inoue yang berdiri di ujung koridor, jauh. Dengan seorang Cewek Satelit yang tinggi berdiri di belakangnya.

"Aku benar-benar butuh semua orang untuk ikut membantu sekarang."

"Ichigo," panggil Rukia pelan. "Ayo, kita pergi saja langsung."

Aku bagai terperangkap, berdiri di sana dengan kaki menempel di lantai. Rasanya seperti di dalam mimpi, ketika kau dikejar oleh orang jahat, tetapi tidak bisa melarikan diri.

"Tolong, Kurosaki!" seru Inoue.

Yang kuketahui, Inoue tidak pernah meminta tolong. Aku menyadari hal itu saat dia maju satu langkah ke arah kami, sehingga aku bisa melihat gadis yang berdiri di belakangnya. Dia tinggi dan luar biasa kurus, dibalut sweter dan rok usang. Wajahnya yang sangat pucat dibingkai dengan rambut ungu mudanya.

Shirayuki menatapku dari ujung koridor. Dan naluriku tahu bahwa ia ingin mengatakan sesuatu padaku. Bahwa ia membutuhkan bantuanku. Aku memikirkan hal yang aneh-aneh sekarang.

"Tidak, jangan sekarang! Beri aku waktu!" kataku cepat-cepat.

"Waktu untuk apa?" aku mendengar Inoue bertanya bingung. Tetapi kakiku sudah tidak menempel di lantai, dan aku langsung menyambar lengan Rukia ke luar pintu. Aku punya firasat kalau Shirayuki tidak akan mengikuti kami sampai ke luar sekolah. Wilayahnya adalah sekolah ini, atau bagian-bagian tertentu. Tetapi tetap saja, saat aku dan Rukia sampai di trotoar dan mulai berjalan tergesa-gesa ke rumahku, aku tidak berani menengok ke belakang. Kami tidak bisa berjalan cepat seperti yang kuinginkan, karena tubuh mungil Rukia yang harus berat-berat menggendong biola itu di punggungnya.

"Wah, itu cara yang menarik untuk menghadapi Inoue," kata Rukia. "Agak aneh, tapi aku suka."

Aku menghela nafas. Rupanya tidak ada waktu yang lebih tepat dibandingkan saat ini. Mungkin berbicara sambil berjalan akan lebih mudah. Aku tidak perlu menatap mata violet itu saat bercerita, yang mungkin akan membelalak ketakutan.

"Aku tadi tidak sedang berbicara pada Inoue," ucapku. "Aku, ehm, berbicara pada Shirayuki."

"Siapa Shirayuki?" tanya Rukia santai.

"Baiklah," kataku mantap. Menatap lurus trotoar di depan. "Begini. Sebenarnya aku bisa melihat orang mati."

"Kau bisa melihat orang mati?" tanya Rukia, seakan memastikan ia mendapat alamat yang benar. "Seperti seorang anak di film itu?"

"Seperti anak di film itu, ya. Ini bukan… aku tidak…. Begini, Ibuku melihatnya. Ibuku seorang medium."

"Seperti acara di TV itu, ya?"

Ampun, deh. Apakah Rukia harus menerjemahkan semuanya ke dalam konsep budaya pop? Tetapi, dia benar.

"Iya, seperti acara TV. Pada dasarnya begitu. Aku tumbuh besar dengan hal itu. Aku sudah terbiasa. Maksudku, terbiasa melihat hal itu terjadi kepada Ibuku. Memang begitulah adanya. Seperti seorang ibu yang gila kerapian, atau menjadi pelatih aerobik."

"Atau pengacara," Rukia menambahkan.

"Ya, itu hanya sebagian jati dirinya, profesinya, atau apalah. Tapi yang menjadi persoalan, Rukia, saat aku sendirian di halaman sekolah beberapa bulan lalu, hal itu juga TERJADI kepadaku."

Rukia benar-benar berhenti melangkahkan kakinya di tempat. Jadi aku pun terpaksa berhenti. Aku berpaling untuk melihatnya.

"Jadi, suatu hari, jeder, begitu. Kau tiba-tiba saja bisa melihat orang mati?" tanya Rukia. Dia terlihat ragu, dan aku mengerti itu. Karena tidak pernah memberitahu kepada siapa pun tentang hal ini, aku tidak pernah berbagi tentang betapa sialnya pengalamanku.

"Tepat sekali. Aku masih harus membiasakan diriku dulu. Dan masalahnya, tidak ada yang bisa aku lakukan. Kau tidak akan bisa mengarahkan remote pada mereka dan seenaknya mengganti saluran. Kalau mereka ada di sana, yah, mereka ada di sana."

Kami mulai berjalan lagi.

"Apa kata ibumu?" tanya Rukia. "Dia pasti bisa memberimu saran yang bagus."

"Hanya saja, aku belum memberitahunya," tukasku.

"Kamu belum memberitahu? Tidakkah menurutmu ia akan senang kalau tahu kau juga bisa melihat orang mati?" tanya Rukia.

"Yeah, kupikir itu akan membuatnya benar-benar senang. Ibuku menganggapnya sebagai bakat. Aku lebih cenderung menganggapnya sebagai beban. Mungkin kedengarannya sangat egois."

"Sama sekali tidak," ucap Rukia. "Percayalah, aku memahamimu se-ra-tus-per-sen," ia mengeja, kelihatannya sengaja agar membuatku percaya padanya juga, kalau ia benar-benar memahami persoalan ini.

"Kau satu-satunya orang yang pernah kuberitahu. Maksudku, bukan hanya tentang aku yang bisa melihat orang mati, tapi tentang Ibuku juga."

Aku bahkan tidak menyadari kebenaran hal itu sampai aku mengatakannya. Aku belum pernah mengakui kepada siapa pun yang sebaya denganku, bahwa Ibuku adalah seorang medium. Cowok-cowok yang kukenal di sekolah lamaku, jelas mengetahui bahwa Ibuku itu tipe New Age. Tetapi aku membiarkan mereka mengira kalau pekerjaan Ibuku lebih ke arah penyembuhan. Kartu tarot yang memang suka ia baca, dan sebagainya. Aku melirik Rukia sembunyi-sembunyi. Dia ternyata tidak kabur dariku, dia juga tidak menampakkan ekspresi ketakutan. Hanya saja, ia seperti merenungkan sesuatu.

"Oh, jadi kamu tadi melihat Shirayuki, ya?" tanyanya dengan heboh.

Rukia memang cepat tanggap. Yang lebih penting sekarang, ia tidak ketakutan. Akhirnya aku bisa membuka diri.

"Ya," kataku.

"Di mana? Bagaimana? Seperti apa rupanya? Ceritakan padaku!" Nada berbicaranya sama hebohnya saat mengetahui aku mempunyai anjing.

"Yah, pertama-tama aku melihatnya di perpustakaan, waktu kita sedang mengamati fotonya. Dia…." Rukia berhasil bersikap tenang sehingga aku tidak ingin membuatnya guncang dengan mengatakan kalau, ada sesosok arwah yang berdiri tepat di belakangnya. Cukup dekat untuk menyentuh leher Rukia. Lebih baik aku merekayasa informasi itu, karena aku tidak mau Rukia mengalami gangguan jiwa saat ada arwah yang berniat memegang lehernya dari belakang. "… dia berada di rak tempat buku tahunan itu disimpan. Dia berdiri dengan sangat diam, tangannya di depan. Dan dia tampak sangat kurus, juga tinggi. Walaupun berumur tujuh belas tahun, dia delapan belas atau dua puluh senti lebih tinggi dari anak-anak SMA di sini. Dan ada lingkaran hitam di bawah matanya. Seakan dia tidak pernah cukup tidur," jelasku panjang lebar.

"Lalu apa yang terjadi?"

"Tidak ada. Aku baru sadar ia ada di sana, dan detik kemudian ia menghilang. Seperti melenyapkan diri dalam sekejap. Tapi waktu kita berada di koridor, dan hendak keluar dari sekolah, aku melihatnya lagi. Ia tampak berdiri tegak di belakang Inoue."

"Shirayuki berdiri di belakang Inoue?" tanya Rukia, terdengar takjub.

Aku mengangguk.

Rukia mengeluarkan suara ledakan, dan itu membuatku mundur beberapa langkah ke belakang. Aku belum memahami suara yang dibuat-buat oleh Rukia. Tetapi, yang satu ini rupanya pembukaan dari tawa keras yang terpingkal-pingkal. Rukia membungkuk dan menghentak-hentakkan kaki ke tanah.

"Coba bayangkan…hahaha…" ia masih tertawa di sela-sela pembicaraan. "Seandainya dia tahu… Cewek Satelit ambisius dari Kubur…."

Aku juga mulai tertawa, tetapi tidak sekeras dan seheboh tadi. Ternyata di luar dugaanku, Rukia lebih santai menanggapi semua ini. Orang seperti dialah yang bisa kuajak ke rumahku tanpa harus merasa was-was. Ketika tawa Rukia akhirnya sedikit memelan, diganti dengan suara cekikikan, aku menunjuk ke jalan di depan.

"Nah, itu rumahku, di sana," kataku.

"Bagus!" seru Rukia sambil menegakkan tubuhnya. "Ayo kita melihat Kon!"

Aku membiarkan Rukia mendahuluiku dan merasakan semburan rasa sayang untuknya saat mengawasi gadis itu berlari pontang-panting, menjaga agar biolanya tidak tergeser jatuh dari punggungnya, menuju rumahku. Aku membawa teman ke rumah, dan aku tidak khawatir jika ada kejadian gaib. Rukia menerima pengakuanku tentang melihat arwah dengan begitu santai.

Aku menyusul Rukia di pintu depan rumahku dan membukanya. Kon langsung ada di sana, terlihat sopan dan kuat saat berusaha memperlihatkan kegembiraannya atas kedatangan kami, dengan mengibaskan ekor. Rukia langsung berlutut di depannya, sehingga tingginya sekarang sejajar dengan anjing itu. Kon mengendus-endus wajah Rukia dengan lembut, dan saat dia terus mengibaskan ekor, Rukia memeluk lehernya, dan menempelkan wajah ke bulunya. "Lihatlah, anjing kita ini begitu manis dan cantik. Seperti bintang film."

Dia memang anjing yang manis dan cantik, aku setuju. Kon berdiri dengan sabar selama beberapa saat sementara Rukia dan aku membelai-belai punggungnya. Lalu, ia berlari kecil menyusuri lorong, dan berbelok ke ruang tamu.

Aku membantu Rukia menaruh biola kesayangannya ke dinding. Pintu kamar Ibuku tertutup, aku tahu sedang ada sesi sekarang. Jadi aku menarik lengan Rukia, dan bersantai di ruang tamu, tempat Kon sudah berbaring dengan anggun di bawah jendela. Rukia langsung bersikap seperti di rumahnya sendiri, membenamkan tubuh ke sofa usang dan menepuk-nepuki bantal yang warnanya sudah pucat.

"Nyaman," katanya. "Ibuku pasti lebih suka membiarkan sofa tertutup plastik, itu pun kalau diizinkan oleh ayah."

Aku duduk di samping Rukia. Di luar, terdengar bunyi gemuruh guntur dan suara percikan air hujan di jendela.

"Kita tepat waktu," kataku. Semua terlihat nyaman dan beres.

"Aku masih membayangkanmu melihat Shirayuki berdiri di belakang Inoue," Rukia mengubah posisi tiduran di sofa, menjadi duduk tegap. "Hei, apakah kue-kue itu untuk kita?"

Aku meraih piring yang disiapkan Ibu dan mengulurkannya kepada Rukia saat terdengar dentuman guntur lagi. Rukia memusatkan perhatiannya pada kue jahe manis.

"Jadi, apa yang terjadi?" ia membolak-balik kue itu beberapa kali, menelitinya sebelum menggigit.

"Dengan Shirayuki?" tanyaku.

Rukia mengangguk, mulutnya penuh dengan kue hasil penelitiannya.

"Terus terang, aku tidak tahu, Rukia. Dia menginginkan sesuatu. Dia berusaha mendapatkan perhatianku, dan aku belum siap untuk memberikannya. Seperti yang kubilang tadi, aku benar-benar baru dalam hal ini."

Rukia mengangguk tanda mengerti. Ia memeriksa kuenya yang tinggal setengah, dengan mata terpicing. Lalu, mulutnya terbuka membentuk seringai nakal.

"Setidaknya kalau lain kali Inoue mempertanyakan di mana arwah sekolahmu, kau bisa menunjukkan padanya," dia berkata. Lalu sekonyong-konyong meledak tertawa.

Aku juga ikut tertawa, sementara hujan berderai di luar, dan merasa bahwa apa pun yang terjadi pada Shirayuki, untuk saat ini dunia masih baik-baik saja. Kon mendengkur di pojok. Aku punya teman, teman yang tahu rahasia anehku. Dan dia tidak keberatan. Belakangan malam itu, setelah naik ke tempat tidur—dan lagi-lagi Kon ikut tidur bersamaku, aku baru ingat, kalau Rukia sudah akan menceritakan rahasianya sendiri di perpustakaan, tapi tidak sempat, karena Shirayuki yang ingin mendapatkan perhatianku.


Keesokan harinya adalah hari libur sekolah. Kenyataan bahwa libur sekolah ini memberiku waktu tambahan untuk menghindari arwah Shirayuki di sekolah. Aku masih gelisah memikirkan kelanjutan masalah ini, dan sebaiknya apa yang kulakukan? Bagaimana memulai percakapan dengan gadis yang sudah tidak bernyawa?

Rukia ingin pergi ke kota bersamaku untuk melihat museum sejarah lokal. Sebuah gagasan yang tepat yang didukung Ibu dengan penuh semangat. Museum itu menggambarkan rentetan kehidupan di wilayah ini, hingga jauh ke masa prasejarah.

Kami bertemu di halte bus saat menjelang siang. Rukia mengenakan kemeja biru gelap dengan celana coklat tiga per empat. Di lengannya tersampir jas hujan bermotif strawberry. Aku agak terkejut melihat ia tanpa biola di punggungnya itu. Ia jadi lebih terlihat mungil dan tidak terbebani dengan adanya biola itu. Wajahnya pun tampak cerah dan bersemangat, dan ia tersenyum sangat lebar saat melihatku.

"Hore! Kamu datang! Ini hebat sekali, Tuan Jeruk, kita akan bersenang-senang! Mungkin mereka akan mengajari kita cara mengaduk yoghurt!"

Aku menepuk pundak mungilnya itu, seraya berfikir betapa membosankannya hidup Rukia. Karena kegembiraannya itu sama seperti orang yang baru saja mendapat tiket, dan tanda masuk ke belakang panggung untuk konser Mike Ness. Namun, aku sendiri merasakan aliran semangat akan mempelajari barang-barang peninggalan para orang purbakala.

Selain obrol-obrolan di rumahku kemarin, baru kali ini kulihat Rukia jauh dari sekolah, dan dari biolanya, di dunia nyata. Dan ia terlihat lebih cerewet dibandingkan biasanya. Dia juga terlihat semakin cantik dan manis. Aku suka sekali.

Akhirnya kita sampai di depan museum, saat berjalan tadi, Rukia terus saja bercerita tentang bibinya yang sedang ke Los Angeles. Sayangnya perhatianku tersita oleh gerobak tertutup, lengkap dengan lembu sungguhan. Seorang aktor yang pakaiannya seperti di film-film cowboy itu, duduk kaku di bangku gerobak.

"Aku rasa bisnis pasti luar biasa buruk, atau luar biasa bagus, jika museum sampai beriklan dengan itu," kataku, menyenggol lengan Rukia dan menunjuk ke arah gerobak.

"Kedai hot dog?" tanyanya.

"Bukan, Violinist Cantik, dengan itu. Gerobak tertutup lengkap dengan aktor berpakaian cowboy seperti di film-film, yang sedang duduk di bangku kusir."

Rukia menatap ke arah yang kutunjuk, lalu kembali menatapku.

"Apakah kau sedang bercanda, Tuan Jeruk, atau kau melihat… salah satu makhlukmu?"

Tatapan yang kuberikan pada Rukia jelas menunjukkan pilihan yang kedua. Rukia kembali memutar kepalanya ke arah gerobak itu.

"Apakah itu melakukan sesuatu?" bisiknya.

Seakan mendapat aba-aba, orang itu melecutkan cambuk ke udara, dan lembu itu berjalan pelan menyeberangi dua jalur lalu lintas. Mobil-mobil melaju tepat menembus pertunjukan tersebut tanpa mengurangi kecepatan. Aku menatap dengan mulut menganga. Gerobak, aktor itu, dan lembu menghilang saat mereka menembus tembok restoran.

"Ampun, deh," cetusku. "Ini benar-benar gila."

"Apa yang kau maksud dengan gila?" tanya Rukia hati-hati. Kami masih berdiri di trotoar, tempat bus menurunkan kami.

"Aku tidak pernah bisa menduganya. Aku tidak tahu cara membiasakan diri melihat arwah-arwah yang muncul dan hilang begitu saja dari wilayah pribadiku. Lihat saja, aku mengoceh padamu tentang gerobak tadi, karena kupikir itu benar-benar ada. Maksudku, bagaimana kalau aku sedang bersama orang lain? Orang yang… yah, kau tahu. Tidak mengetahui tentang aku."

Rukia menggenggam lenganku.

"Kau tidak sedang bersama orang lain. Kau sedang bersamaku. Dan lama-lama kau akan terbiasa dengan semua ini. Ayo, kita masuk ke dalam."

Aku mengangguk dengan senyum lemas, dan mengikuti Rukia yang berjalan ke pintu masuk museum. Saat masuk ke dalam, aku melirik ke tempat gerobak tadi berada. Tidak ada apa-apa di sana, selain kedai hot dog yang dengan damainya tidak mengetahui kalau dia baru saja bersentuhan dengan sejarah.

Apakah ini hidupku sekarang? Apakah aku akan melihat para arwah berjalan dan berbicara? Padahal sebelumnya aku sempat khawatir tentang terlihat keren. Semakin lama semakin jelas bahwa masalahku bukanlah tentang cara terlihat keren, tetapi cara untuk TIDAK terlihat seperti orang sinting yang selalu berhalusinasi.

Di dalam museum, kami melewati bagian Kehidupan Peternakan Awal, tidak terkesan dengan koleksi garpu rumput, dan diorama mengenai empat tahap pencabutan tunggal pohon. Rukia anehnya tampak tertarik dengan penggambaran proses pencukuran bulu biri-biri, sampai ia melihat pameran belalang kering di kotak sebelahnya.

"Hii!" dia memekik kaget, melompat mundur dan menabrakku. Kekuatan fobia serangganya membuat kami berdua jatuh terduduk di lantai. Dan ia hanya terkekeh malu, sambil menggaruk belakang kepalanya.

"Tenang dong, Rukia. Serangga-serangga itu sudah mati," aku tertawa.

"Tetap saja menjijikan," ia menjauhi kotak tersebut, dengan menggeser bokongnya. "Serangga memang membuatku takut. Orang ada yang sampai dirawat di rumah sakit, hanya karena trauma yang lebih remeh."

Aku menarik tangan Rukia untuk membantunya berdiri, dan membawanya melewati lorong beratap melengkung ke pameran berikutnya.

"Jangan khawatir," kataku. "Kita akan aman di sini, di bagian Toko dan Apoteker Awal."

Aku diam-diam sedang merencanakan untuk menggelitik leher belakang Rukia dengan gerakan tiruan belalang oleh jari-jariku. Tapi aku menyadari kalau di ruangan ini, bahwa kami tidak sendirian. Di sudut dekat pameran apoteker, seorang cowok berambut hitam menunduk menekuri buku catatan.

Aku langsung mengenalinya. Ia bernama Shiba Kaien. Anak kelas dua belas dan sekaligus kapten sepak bola di sekolah kami. Kaien memperoleh kecerdasan yang menakjubkan, dan prestasi atletik yang membuatnya dipilih sebagai kapten sepak bola. Hampir semua orang menyukai cowok yang baik hati ini. Begitu pula dengan si pasangan jenius—Inoue dan Ishida. Aku jelas tidak ingin terlihat bodoh di hadapannya, jadi aku mengakhiri atraksiku untuk membuat Rukia kaget setengah mati, dan menghampirinya.

~TO BE CONTINUED~


Review reply:

Pertama dari Rukianonymous, huahaha, Shizu juga merinding sendiri lho pas ngetik nih fic, bayangin yang enggak-enggak *lupakan*, sebenarnya gak ada sesuatu di biola Rukia, tapi ada rahasia dibalik batu *weleh*. Terus baca dan Review ya untuk mengetahui segala rahasia di sini. Makasih Reviewnya! ^^

Kedua dari Chadeschan, enggak kok, Rukia gak bisa melihat arwah, hanya bisa merasakannya doang. Makasih buat opini dan Reviewnya! ^^

Ketiga dari Sinunasilentreader, hoo~ maaf kalo updatenya gak secepet kilat seperti yang Anda inginkan. Oke, makasih Reviewnya! ^^

Keempat dari Wakamiya Hikaru, oke ini udah di update. Whoa! Semangat sekali ya, hehehe. Makasih Reviewnya! ^^

Kelima dari nenk rukiakate, sip, makasih Reviewnya! ^^

Keenam dari BlackRed, hoho~ itu sudah jelas, RA-HA-SI-AAAA *digebok* Terus baca aja yaa. Hmm, gue juga berpikiran sama kayak elu. Pasti gue juga kabur kalo ada hantu di belakang gue. Makasih Reviewnya! ^^

Ketujuh dari Yuuka Aoi, iya, salam kenal jugaa. Waah, akhirnya ada yang request! Seneng banget Shizu. Hmm, romance IchiRuki, ya? Saia akan coba untuk menambahkannya. Tapi maaf, gomen, sorry, jika romancenya gak terlalu kayak anak remaja gitu, karena saia gak pernah bisa bikin cerita romance, akhir-akhirnya malah jadi lebay, dan terkesan gaje T.T. Jadi maafkan saia jika romancenya nanti gak memuaskan untuk Anda. Mungkin nanti bakal ada di chapter depan. Oke, makasih buat Request dan Reviewnya! ^^

Terakhir dari wu, hehe makasih banyak juga udah muji nih cerita. Maaf juga kalau updatenya lama. Oke, makasih Reviewnya! ^^

Ya, para Readers terhormat, pertama-tama saia ingin mengucapkan Selamat Natal (bagi yang merayakan) dan Tahun Baru 2012. Tadinya Shizu pengen buat fic untuk meriahkan Natal kali ini, tapi gak ada ide satu pun yang nyangkut di otak saia, jadi yaah, gak jadi deh. *Malah curhat*

Lalu, maafkan Shizu juga kalau typo masih ada yang salah mungkin, alurnya gak jelas, dan banyak kesalahan2 yang mengecewakan, mohon di Review lagi ya untuk chapter kali ini, sehingga Shizu semangat buat chapter berikutnya, mumpung lagi liburan, ehehehe. Jadi, sampai bertemu di chapter selanjutnya! Merry Christmas God Bless You :D