~Medium~
~Genre: Supernatural, Friendship~
~Chara: Kurosaki Ichigo and Kuchiki Rukia~
~Disclaimer: Tite Kubo~
Aku tengah bersiap-siap memanggil Shiba Kaien dan melambai saat melihat seorang wanita duduk di bangku, tepat di belakangnya. Wanita itu mengenakan gaun, dan sedang menyapu lantai dengan celemek di bagian depan, dan sepertinya sedang menggiling sesuatu menjadi bubuk, dalam alu dan lumpang kecil. Jantungku mencelos. Parahnya lagi, Kaien sudah melihatku dan melambaikan tangan. Kalau aku membalasnya, apakah Lady Apoteker abad kesembilan belas itu akan mengira aku melambai kepadanya? Aku tidak mungkin bisa bercakap-cakap dengan normal jika ada orang mati yang terus-terusan berusaha menarik perhatianku. Maksudku, yang benar saja!
Tetapi Kaien memberi isyarat pada kami untuk mendekat. Aku tersenyum lebar saat kami berjalan menghampirinya.
"Hai, apa kabar?" kataku, berusaha terdengar seramah dan sesantai mungkin.
"Baik. Aku dapat tugas riset tentang pedagang Amerika awal untuk pelajaran sejarah," ujarnya. "Aku ingin segera menyelesaikannya. Hei, kau gadis yang bermain biola itu, kan?"
"Benar sekali," ucap Rukia sambil mengangkat jari telunjuknya. "Aku Rukia, senang berkenalan denganmu."
Semuanya terdengar sangat normal dan beradab, saat Rukia tiba-tiba mencondongkan tubuh melewati Kaien ke tempat wanita hantu itu berdiri. Yang membuatku kaget, Rukia mengulurkan tangan ke arwah itu, dan langsung memperkenalkan diri.
"Hai, aku Rukia," sahutnya.
Aku benar-benar ketakutan. Apa yang dilakukan Rukia? Apa yang dipikirkannya? Dia seharusnya MENGABAIKAN aktivitas arwah. Bukan pura-pura bisa MELIHATNYA!
"Oh, Violinist Cantik, apakah kau kena sihir lagi?" tanyaku cepat-cepat, sambil mencoba menarik lengan bajunya menjauh dari situ.
Kaien langsung melemparkan tatapan aneh padaku sebelum berpaling ke arah Rukia dan mengulurkan tangannya.
"Oh maaf, ini adalah ibuku. Bu, mereka ini adalah dua temanku dari kelas sepuluh, Ichigo dan Rukia."
Wanita itu meletakkan alu dan lumpangnya, merapikan celemeknya, dan tersenyum.
"Senang bertemu dengan kalian, anak-anak, apakah kalian bersenang-senang di sini? Maafkan pakaianku yang kotor ini, aku biasa menjadi model hidup untuk sejarah selama sebulan sekali. Dan Kaien, kau tidak pernah memberitahu padaku kalau kau mempunyai teman seperti mereka. Pasangan yang cocok, bagaikan Romeo dan Juliet, ya," aku bisa melihat mata Nyonya Shiba menyapu ke langit-langit, seolah sedang membayangkan kencannya sewaktu ia masih muda dengan suaminya.
Aku langsung menyambar, "oh tidak, tidak, Nyonya. Maaf, kami tidak berpacaran… maksudku bukan pasangan, iya, tentu saja berbeda jauh dari Romeo dan Juliet, hahaha," aku tertawa garing. Sedangkan Rukia berkata, "iya, ahaha. Aku tidak terlihat ingin mengatakan kata-kata seperti 'oh ya, jelas aku berpacaran dengannya, dan sekarang sedang menikmati kencan siang bolong kami di museum yang indah ini', atau seperti 'aku tidak berpura-pura mengatakan kalau aku hanya temannya sewaktu SD, padahal kenyatannya kami memang pacaran'. Tidak seperti itu, kan?" Rukia tersenyum manis. Aku langsung menampar kasar dahiku dan menggeleng-gelengkan kepala.
Sementara Kaien menyenggol lengan ibunya karena kata-kata jahilnya, aku mencoba mengganti topik dengan cara bersiul-siul, menolehkan kepala ke belakang, kanan, dan kiri, berharap ada atraksi sirkus di sana. Dan Rukia hanya bisa menggaruk-garuk sebelah lengannya, sambil menghentak-hentakkan kaki ke lantai, seolah sedang menginjak semut, padahal tidak ada apa-apa di sana.
"Maaf, kelihatannya banyak serangga di bawah," Rukia menggosok-gosokkan sepatunya, sehingga menimbulkan bunyi berdecit-decit, seperti saat kau sedang mengelap kaca jendela dengan sangat kencangnya.
"Jadi, ehmm, kami harus melanjutkan pameran sekolah kolonial di ruangan sebelah. Sampai bertemu lagi, Kaien, dan senang bertemu dengan Anda, Nyonya Shiba."
Rukia menunggu untuk berbicara sampai aku mendorong punggungnya ke ruangan sebelah, dan kami berdiri dengan aman di depan pameran terang benderang.
"Kau mau menjelaskan padaku?" tanyanya.
"Apakah kau berencana untuk menjelaskannya padaku terlebih dahulu, tepatnya kejadian mana yang sedang kau pertanyakan? Karena hari ini aku mendapat banyak sekali kejadian yang tidak kuduga."
"Kena sihir lagi? Bagaimana dengan itu?" Rukia menaikkan kedua alisnya.
Aku menghembuskan nafas berat, seakan baru saja melewati pertarungan di arena gaib.
"Oh, yang itu. Waktu aku melihat wanita berpakaian kuno, aku langsung beranggapan ia adalah arwah. Lalu kau tiba-tiba mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri padanya, dan sungguh, Rukia, aku tidak tahu apa yang terjadi. Untuk sementara tadi aku tidak bisa membedakan siapa yang hidup dan siapa yang mati. Ini memang pengalaman yang paling konyol bagi seorang medium remaja. Aku benar-benar tidak sanggup melakukan ini."
"Melakukan apa?"
"Menjadi seorang medium."
Rukia tampak berpikir.
"Yah, apakah ada kebijakan pembatalan? Apakah ada orang yang bisa… menghilangkannya?"
Aku menatap temanku dengan wajah muram.
"Nggak ada. Ini bukan jerawat. Ini bakat," ucapku lesu.
"Yeah," sahut Rukia. "Kalau begitu tidak ada yang bisa dilakukan."
Yah, kalau itu sih aku sudah tahu. Sekalian saja aku bilang tidak sanggup lagi menghadapi tekanan waktu, ruang, dan gravitasi. Aku sama sekali tidak punya pilihan. Aku mengedarkan pandangan untuk memastikan kami masih sendirian, dan mataku melihat sekelebat gerakan di balik pintu ruang sebelah. Aku tidak mau menunggu untuk memastikan kalau itu adalah manusia atau arwah.
"Bisakah kita keluar dari sini? Aku mulai merasa enggak enak. Seharusnya ada taman di belakang. Kita bisa memakan sandwich kita di sana."
Rukia menatap ke arah pintu yang bertuliskan EXIT tempat taman dan meja-meja setengah terlihat dari dalam.
"Ada lebahnya tidak?" tanyanya dengan gugup.
Aku langsung mengaitkan lenganku ke lengan Rukia dan berjalan ke pintu keluar.
"Aku yang akan menghadapi lebah, tawon, belalang, atau kumbang. Hidup atau mati, yang berani mendekatimu."
Aku agak rileks saat kami sudah berada di taman yang bersih. Hanya ada kami berdua di sana, dan kami mendapat meja yang enak, di dekat air mancur kecil, juga di bawah pohon rimbun. Semuanya tampak kembali normal dalam tenangnya hari. Aku membuka bungkus sandwich yang disiapkan Ibu, dan menggigitnya. Aku juga mengamati Rukia yang dengan tekun memisahkan sandwich miliknya, dan menyatukannya lagi.
"Hanya memeriksa," katanya. Aku memutuskan untuk tidak bertanya apa yang ia periksa. Kami mengunyah dalam keheningan selama beberapa menit.
"Hei, Rukia," panggilku. "Kau ingat waktu kita di perpustakaan? Tepat sebelum kejadian Shirayuki?"
Rukia menatapku dari atas sandwich hasil susun ulang. Dan mengangguk sambil menggigitnya kecil.
"Kamu mau mengatakan sesuatu padaku. Tentang biolamu. Atau mungkin tentang guru biolamu yang membuatmu pindah ke sini. Ingat, kan?" aku mendesaknya.
Rukia terus mengunyah, tetapi lebih pelan.
"Ya," katanya beberapa saat setelah sandwich di dalam mulutnya masuk ke tenggorokan.
"Bukan berarti kamu harus mengatakan semuanya," aku cepat-cepat menambahkan. "Kalau kamu tidak mau, atau kamu berubah pikiran, yah, tidak usah."
"Tidak," sahutnya. "Aku belum berubah pikiran. Gara-gara kehebohan hantumu, aku benar-benar sampai lupa."
Aku menunggu dengan sabar, sementara Rukia menghabiskan sandwich dengan sekali lahap, dan menepukkan serbet ke bibirnya dengan anggun.
"Biolaku, ya," akhirnya ia berbicara. "Keadaannya tidak persis seperti… yang kuperlihatkan. Enggak sepenuhnya."
Apa maksud Rukia? Apakah bahwa selama ini, ia hanya berpura-pura? Bahwa ia sebenarnya bukan pemain biola, dan hanya membawa-bawa tempat biola berisi… apa? Pengusir serangga?
"Baiklah, jadi begini. Aku sebenarnya tidak bermain biola lagi. Maksudku, aku bisa dibilang sudah berhenti total. Dan ibuku tidak tahu. Aku harus berlatih setiap hari sebelum masuk kelas di ruang musik selama dua jam, kau tahu, karena kami tinggal di kompleks apartemen dan secara teori, para tetangga akan mengeluh kalau aku sering berlatih di sana. Aku membawa biolaku ke sekolah setiap hari karena orang tuaku pasti akan melihat kalau aku meninggalkannya di rumah. Tapi saat tiba di sekolah lebih awal, aku hanya membuat pekerjaan rumah, atau membaca di ruang musik, atau melamun. Aku tidak pernah berlatih."
Nah, jujur saja, ini tidak terdengar seperti pengakuan besar-besaran bagiku. Sejauh ini, 'aku tidak berlatih biola' sama sekali tidak seimbang dengan 'aku melihat orang mati'. Tetapi, sepertinya masih ada yang ingin dia bicarakan, dan aku masih mempunyai banyak waktu. Wajahku pasti terlihat agak hampa, karena Rukia memutuskan dia harus menceritakan lebih banyak. Secara detail.
"Kau tahu, aku rasa, aku harus menceritakannya dari awal. Aku sudah bermain biola sejak umurku empat tahun, dan maksudku bukan versi satu nada dari lagu 'Twinkle, Twinkle', atau 'Happy Birthday'. Aku jauh lebih MAHIR. Sejak awal. Dan ibuku, dia termasuk ibu-ibu panggung yang menyeret anaknya ke berbagai audisi dan kontes kecantikan saat masih kecil. Hanya saja dalam hal ini di bidang musik. Dia memperlakukan permainan biolaku dengan sangat serius. Aku tidak melakukan hal lain, tidak ada olahraga, menari, tidak ada acara Ibu dan Anaknya, atau Jambore. Saat tidak sedang kursus, aku berlatih. Dan hasilnya terlihat. Aku jadi, yah kau tahu, bagus. Bagus sekali malah. Aku tampil di konser-konser professional, bersama orkestra, saat aku kira-kira, ehmm, berumur delapan atau sembilan tahun. Mengikuti kompetisi, seri musisi muda. Yah, dan semacam itulah."
Wow. Aku menunggu Rukia melanjutkan. Dia begitu fokus pada ceritanya, sampai-sampai tidak menyadari ada tawon besar yang mendengung malas mengelilingi meja.
"Tahun lalu, sebelum kami pindah ke sini, kerja keras dan hobi ibuku membuahkan penghasilan tertinggi dalam musik klasik. Paling tidak menurut pendapatnya. Dia mendapatkan tempat untukku dalam pertunjukan amal Seniman Muda di Carniege Hall. Kau tahu, Carniege Hall yang itu. Di sini, Kota New York. Itu yang ia idamkan untuk dirinya sendiri, seumur hidupnya, saat dia masih bermain."
"Ibumu juga pemain biola?" tanyaku.
"Violin tepatnya. Tapi, yah, dia virtuoso gagal tingkat pertama, dan mencurahkan kekecewaan seumur hidupnya padaku. Tapi, itu cerita lain. Dalam konser-konser semacam itu, kau hanya punya satu atau dua sesi pada hari sebelumnya, untuk melakukan latihan bersama orkestra. Aku berlatih bulan-bulanan, siang dan malam. Tapi, saat aku tiba di sana dan harus bermain solo, aku tersedak."
Rukia terdiam.
"Tersedak? Seperti tersedak biji salak begitu?" aku berusaha bertanya tentang artinya 'tersedak' yang dimaksudkan Rukia.
"Bukan. Maksudku, tersedak. Terpaku. Gagal total."
"Permainanmu enggak bagus?" tanyaku.
"Aku tidak bermain SAMA SEKALI," Rukia menjelaskan dengan nada yang ditekan di akhir kalimatnya. "Tidak satu not pun. Aku seperti lumpuh total, tanganku pun gemetar. Itu bukan demam panggung, tapi terror panggung," tambahnya lagi.
"Wah, aku yakin, ibumu pasti marah sekali."
"Dia meradang," cetus Rukia.
Nah, ini dia, kata-kata yang lagi-lagi tidak kumengerti maksudnya. Tetapi melihat ekspresi Rukia saat mengatakannya, aku bisa mengerti artinya. Aku bisa membayangkannya, seorang ibu dengan wajah merah padam, asap yang mengepul keluar dari kedua telinganya.
"Gawat," kataku.
"Dan kemarahannya tidak pernah berakhir. Kemampuanku mendadak lenyap. Mereka akhirnya mengeluarkanku dari pertunjukan, dan menggantikanku dengan anak ajaib yang jago bermain genderang. Sejak saat itu aku tidak pernah bermain lagi."
"Sama sekali?"
Rukia menggeleng. "Tidak bisa jika ada orang lain. Siapa pun. Bahkan guru biola. Aku hanya bisa bermain saat sendirian. Tepatnya, benar-benar sendirian, tanpa ada kemungkinan di dengar orang lain. Tapi, itu pun sudah enggak sama lagi. Aku tidak punya kemampuanku yang dulu. Musiknya tidak berasal dari tempat yang sama. Entahlah, sulit menjelaskannya."
Di pintu masuk ke museum, aku melihat seorang ibu-ibu yang memakai topi pelindung matahari, berdiri di samping bocah laki-laki yang berpakaian kulit rusa. Tanpa menyadari apa yang kulakukan, aku bertatapan dengan mereka berdua, dan langsung aku menggeleng kuat-kuat. Di luar dugaanku, mereka berdua langsung menghilang.
"Tapi ibuku enggak mungkin mengizinkanku berhenti," Rukia melanjutkan kisahnya. "Saat sudah jelas musim panas itu, keadaanku tidak membaik. Dia mulai mencari guru yang spesialisasinya mengatasi murid yang demam panggung. Entah bagaimana dia mendengar tentang Nyonya Shihouin Yoruichi. Dan itu sebabnya aku ada di sini."
"Keluargamu benar-benar langsung pindah menyeberangi negara bagian, hanya supaya kau bisa tinggal dengan guru biola?" tanyaku takjub.
Rukia mengangguk lemas.
"Aku tahu, tidak ada tekanan, iya, kan? Itu sebabnya kami pindah saat pertengahan tahun. Begitu dia menemukan Nyonya Shihouin, dan segera setelah dia mendapatkan apartemen, jeder. Kami langsung berangkat," ucap Rukia.
"Dan kau sudah di sini berapa lama?" tanyaku.
"Tujuh minggu," sahut Rukia. "Dan selama itu, aku sudah berlatih biola selama nol kali. Aku membawa biola ke sekolah, seperti yang diminta ibu. Aku duduk di ruang musik bersama biolaku, saat seisi dunia baru bangun tidur dan menyikat gigi. Tapi aku tidak pernah memainkan satu tangga nada pun."
"Lalu bagaimana dengan gurumu?"
Rukia mengangkat bahu. "Aku tidak tahu harus bilang apa padamu. Dua kali seminggu, ditambah Sabtu pagi tiap dua minggu, aku pergi ke sana. Aku duduk. Dia juga duduk. Biola pun duduk. Tidak ada apa-apa. Seakan-akan dia menunggu sesuatu terjadi, tapi tidak ada yang pernah terjadi."
"Dan dia tidak bilang apa-apa?"
"Hanya beberapa kata. 'Halo, bagaimana kabarmu?' 'Kau mau es teh?' 'Sampai jumpa'. Dan di awal setiap pelajaran, dia selalu bertanya, 'Dan apa yang akan kita lakukan hari ini, Nona Rukia?'"
"'Nona Rukia'?"
"Tidak ada nama panggilan, dan apa pun yang kau lakukan, jangan mengatakan 'Nyonya'. 'Nyonya' itu kolot. Dia Nyonya Shihouin dan aku Nona Rukia. Jadi dia bertanya, aku mengangkat bahu, dan sudah. Kami hanya duduk diam saja."
"Ibumu tidak berkata apa-apa?"
"Dia tidak bilang apa-apa. Yang hanya bisa berarti satu hal. Nyonya Shihouin tidak pernah memberitahu dengan detail kepadanya—bahwa aku sama sekali tidak pernah bermain selama pelajaran kami."
Oke, ini aneh sekali.
"Menurutmu, Nyonya Shihouin menipumu?" tanyaku hati-hati.
Rukia menggeleng. "Aku rasa tidak. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan. Tapi kadang-kadang aku tiba di sana lebih awal dan mendengar murid sebelum aku. Pemain biola juga. Hebat sekali permainannya. Jadi, wanita itu jelas MAMPU mengajar. Dia hanya memilih untuk tidak mengajarKU."
Rukia terdiam, dan akhirnya menyadari keberadaan tawon besar tadi, yang masih sibuk mengelilingi meja. Dia menjerit kecil sambil mengangkat tangan ke depan, dan menutupi wajahnya. Si tawon, yang anehnya mengerti, langsung terbang menjauh.
"Sudah pergi," kataku. Rukia menjauhkan tangan dari wajahnya dan memandangku berkeliling dengan waspada, lalu ia menatapku.
"Kau satu-satunya orang yang kuberitahu, Tidak ada orang lain yang tahu. Tidak seorang pun."
"Aku tidak akan membocorkannya," aku meyakinkannya.
"Aku juga. Jadi, menurutmu, apakah aku… gila?"
Aku memutar bola mata. "Rukia, bisakah kau duduk di sana, dengan segala kejujuranmu, dan bertanya pada seorang medium yang TERPAKSA menjadi medium, apakah menurutnya pemain biola yang demam panggung itu gila?"
"Tidak," ia tertawa. "Aku rasa tidak. Jadi kita pasangan yang sangat serasi."
"Sangat, Rukia. Mau jadi apa kita nanti, ya?"
"Yah, setidaknya kau punya pilihan yang logis," ujar Rukia.
Aku mengerutkan alis. "Apa maksudmu?"
"Maksudku, sudah jelas apa yang harus kaulakukan selanjutnya, Ichigo."
Aku masih memikir, menunggu sambungan Rukia.
"Kau harus berbicara dengan ahlinya. Ichigo, kau harus memberitahu ibumu."
~TO BE CONTINUED~
Review reply:
Pertama dari Rukianonymous, iya mumpung lagi liburan, saia pengen cepet-cepet beresin. Haha, pertanyaan Anda tepat! Di sini Ichigo gak bisa ngebedain mana yang hantu, dan mana yang manusia, turut berduka cita *plaak*. Gak, kok, Shirayuki gak bakal ngikutin kemana-mana. Oke, makasih Reviewnya! ^^
Kedua dari Wakamiya Hikaru, hoho~ mau tahu? Baca chapter selanjutnya yak! Makasih Reviewnya! ^^
Ketiga dari BlackRed, iya gue juga takut sih sama kupu-kupu *weleh2*. Shirayuki meminta satu porsi nasi goreng gak pake sambel, ya! *Dihajar*. Sip, makasih Reviewnya! ^^
Keempat dari nenk rukiakate, oke, ini udah dilanjutin. Makasih Reviewnya! ^^
Kelima dari Poppyholic Uki, iya, gak apa-apa, kok. Yak, ini sudah diupdate. Makasih Reviewnya! ^^
Akhirnya bisa diupdate juga, sebenernya nih fic udah kelar dari kapan tau, tapi masih gak ada waktu buat publish, soalnya saia juga harus beresin salah satu cerita saia di facebook. Sekali lagi makasih banyak buat kalian semua, semoga chapter kali ini yang Review juga makin banyak, ya! So, selamat berjumpa di chapter selanjutnya!
