~Medium~

~Genre: Supernatural, Friendship~

~Chara: Kurosaki Ichigo and Kuchiki Rukia~

~Disclaimer: Tite Kubo~


Aku merenungkan saran Rukia baik-baik, dan sampai pada kesimpulan bahwa ia benar. Penglihatan arwahku tidak akan pergi begitu saja seperti jerawat. Setidaknya tidak dalam waktu dekat. Begitu pula dengan Ibu. Sudah waktunya bagiku untuk membahas masalah ini dengannya. Namun, bagaimana memulainya? Bagaimana orang memulai pembicaraan seperti itu?

Seharusnya ada layanan telepon, pikirku. Sesuatu seperti 911-MEDIUM-1. Lalu, kau akan diarahkan ke suara rekaman.

Tekan satu jika benda di rumah Anda melayang.

Tekan dua jika ada ektoplasma merembes keluar dari tembok rumah Anda.

Tekan tiga jika arwah-arwah mengganggu saluran TV kabel Anda.

Tekan empat jika Anda mewarisi kemampuan gaib ibu Anda.

Untuk berbicara kepada medium, silahkan tekan nol.

Oke, itu tidak lucu. Sekarang aku menunggu sampai setelah makan malam. Ibu biasanya berada dalam kondisi yang tenang dan puas. Saat ia membungkus sisa tofu dan mozzarella, lalu menyimpannya. Kon mengawasi dengan penuh harap, menunggu remah-remah yang jatuh ke lantai, sehingga ia mendapatkan makan malam bonus.

Namun, ketika aku bersiap-siap memulai pembicaraan, telepon berdering. Ibu mengangkatnya dan mendengarkan tanpa bersuara selama beberapa saat.

"Saya mengerti. Dan ini ibu dari ibumu? Ya, saya paham. Sebenarnya saya baru selesai makan malam dengan putra saya, Ichigo."

Sesuatu tentang caranya mengatakan putra, diikuti dengan namaku di belakangnya, memberiku perasaan bahwa, Ibu sedang tidak ingin berbicara dengan orang ini, jika berada di dekatku.

"Baik. Itu bagus. Ya, sampai nanti."

Ibuku tidak menjelaskan apa pun saat dia menutup telepon. Biasanya, kami benar-benar tidak pernah menggali urusan masing-masing. Kalau mau dibicarakan, pasti akan dibicarakan. Kalau tidak, kau tidak usah bertanya. Jangan bertanya, jangan memberitahu. Tetapi rasa penasaranku menang kali ini.

"Bu, siapa itu?" tanyaku.

"Biasa, orang yang butuh bantuan," ucapnya. "Apakah kamu dan Rukia bersenang-senang hari ini? Bagaimana museumnya?"

Ini mungkin pembukaan yang sangat bagus. Aku duduk di depan meja dapur, yang baru kuseka bersih beberapa saat lalu. Ibuku duduk di seberangku, mengulurkan tangan untuk menyalakan lilin berukuran besar. Ia sepertinya merasakan ada masalah. Dan tentu saja ia merasakannya.

"Museumnya lumayan," sahutku. "Tidak terlalu seru untuk orang-orang normal yang beruntung."

Ibuku mengangguk seolah-olah mengerti apa yang barusan kukatakan masuk akal. Aku tahu penjelasan panjang lebar tidak perlu diperlukan di sini.

"Aku mulai melihat mereka, Bu," cetusku tiba-tiba.

Ruangan terlihat menggelap selama sepersekian detik, seperti saat kau menonton TV, dan sinyalnya mati di tengah hujan badai. Ibuku mengamatiku dari seberang meja. Wajahnya tampak tersaput aneh dalam kerlap-kerlip lilin.

"Ya," sahutnya. "Sejak di sekolah waktu itu?"

Dia tahu. Ya, tentu saja dia tahu. Aku mengangguk.

"Awalnya hanya penampakan acak di sana sini. Tapi, sesuatu terjadi, Bu. Sepertinya seluruh sistemku menguat, dan aku mulai melihat mereka di mana-mana. Setiap saat."

Ibuku memilin-milin rambutnya yang bewarna coklat muda.

"Kapan mulainya? Kapan kamu terus-terusan melihatnya?"

"Hari ini," kataku. "Aku tidak bisa… maksudku, kelihatannya aku tidak sanggup melakukannya."

"Kamu melihat pria tua bermantel hitam pada saat kita berjalan-jalan ke danau," Ibuku berkata.

Aku mengangguk, dan nyaris bertanya bagaimana dia bisa tahu. Tetapi, itu kan sudah jelas. Dia tahu, karena dia juga melihatnya.

"Dan beberapa kali sebelum itu. Hanya di jalan. Dan sesuatu di sekolah yang akan kuceritakan sebentar lagi. Tapi hari ini, Bu, aku melihat cukup banyak arwah, sampai-sampai tidak bisa membedakan antara mereka atau manusia. Ini benar-benar semakin memburuk. Kalau memang akan seperti ini jadinya, aku tidak tahu cara mengatasinya."

"Ichigo," Ibuku memanggil dengan lembut. "Ini bukan semakin memburuk. Ada beberapa tempat yang sifatnya hampir-hampir seperti magnet arwah. Pemakaman, rumah sakit, teater. Juga museum. Penglihatanmu tidak bertambah kuat. Kamu hanya kebetulan berada di tempat yang penuh hantu."

ITU yang benar-benar melegakan. Sungguh. Tidak ada yang lebih menyenangkan dibanding mengetahui, bahwa kau tidak akan melihat pasukan hantu setiap saat.

"Maaf," kataku. "Aku tahu seharusnya dari dulu aku menceritakan ini padamu. Hanya saja aku tidak yakin, apakah aku benar-benar senang dengan kenyataan ini. Aku tahu Ibu suka menjadi medium, dan aku tidak ingin membuat Ibu sedih dengan bersikap cengeng dalam menghadapi masalah ini…."

"Kamu tidak bersikap cengeng, dan kamu tidak mungkin membuat aku merasa sedih. Ichigo, mendapat penglihatan adalah hal yang rumit. Ini bakat yang membutuhkan banyak ketabahan dan perngorbanan. Butuh waktu lama untuk merasa nyaman dengan bakat ini. Sebagian orang tidak pernah sampai ke sana."

"Aku hanya tidak yakin bagaimana menghadapinya. Aku tidak tahu apa yang diharapkan dariku. Aku baru kelas sepuluh, ingat. Saat kau seharusnya menghabiskan setiap jam di luar jam tidur untuk berusaha menjadi normal…. Dan ini sangat sangat tidak normal."

"Kamu benar," Ibuku mengiyakan. "Memang tidak. Tapi dalam kenyataan, dan kamu mungkin terlalu muda untuk tahu, dalam kenyataan, tidak ada yang namanya normal. Normal adalah sesuatu yang disepakati manusia, supaya kita punya perbandingan untuk diri kita sendiri. Normal seharusnya menjadi masalahmu yang paling remeh, Sayang."

Mudah saja dia berbicara seperti itu. Dia sudah pergi meninggalkan dunia normal bertahun-tahun yang lalu.

"Tapi… apa yang harus kulakukan? Apakah ada semacam buku panduan? Pelajaran tambahan, atau ekstrakulikuler, mungkin? Karena aku benar-benar buta."

Ibu tertawa. "Aku ada," ujarnya. "Aku bisa membantumu. Kita bisa membicarakan berbagai hal, atau aku bisa membacakan kartu-kartu untukmu. Tapi, kau sudah punya semua yang kaubutuhkan, dalam dirimu." Ia menunjuk ke dadaku. "Istuisimu sekarang adalah buku panduanmu. Kamu melihat arwah sekarang. Begitulah awal mulanya. Dan kelihatannya aneh, awalnya menakutkan, tapi percayalah kalau kubilang kamu akan terbiasa. Akan tiba waktunya saat kamu merasa aneh karena semua orang tidak melihat apa yang kamu lihat."

Kita lihat saja nanti. "Yang kaulakukan ini hanyalah menunggu dan mengawasi. Biasakan dirimu dengan penampakan mereka. Kamu tidak perlu melakukan yang lain. Belum. Pada saatnya nanti, kamu akan melanjutkan ke tahap berikutnya." Oke, ucapannya membuatku penasaran. Seperti sedang bermain game, 'ke tahap berikutnya'.

"Yaitu?"

"Kamu akan didekati oleh arwah," ujarnya. "Kau akan didekati oleh arwah yang menunjukkan dengan jelas bahwa mereka menginginkan perhatianmu. Bahwa mereka menginginkan bantuanmu."

"Oh itu," kataku, menangkupkan kedua tanganku di sekeliling lilin. "Masalahnya, Bu. Itu sebenarnya sudah terjadi."


Kami terjaga sampai larut pada Jumat malam itu, dan keesokan harinya aku merasa seperti zombie. Aku sudah berencana untuk pergi ke perpustakaan, yang oleh sekolah dibuka pada satu hari Sabtu setiap bulannya untuk murid-murid yang rajin belajar, dan senang menunda-nunda tugas. Rukia ada 'pelajaran biola' pagi itu, dan karena kami tidak pernah benar-benar mengerjakan tugas biologi itu, Sabtu pagi sepertinya waktu yang tepat untuk mengerjakan beberapa risetnya.

Aku berjalan ke sekolah, sebagian untuk menjernihkan kepalaku yang berkabut, dan sebagian karena Ibuku sudah menjadwalkan sesi pertemuan, dan aku tidak ingin minta tumpangan. Cuaca mendung dan gerimis mulai turun yang sepertinya bisa menjadi deras sewaktu-waktu. Ini adalah jenis hari ketika seorang cowok menggeletak dengan malasnya di tempat tidur, atau bermain Nintendo di rumahnya. Tetapi jujur saja, setelah berbicara berjam-jam dengan Ibuku tentang segala hal dari penyaluran roh secara spontan, sampai teori kerasukan setan, aku benar-benar harus menjauh dari rumah untuk sementara.

Perpustakaan telah tampak kelabu dan angker di bawah langit gelap. Menyerupai penjara berkeamanan rendah, yang sepertinya terasa simbolis. Seakan-akan kami semua adalah narapidana di sekolah, dan sipirnya adalah guru-guru kami. Namun ini masih terlalu pagi untuk perenungan serius. Aku mengenyahkan pikiran tersebut dan masuk ke dalam. Perpustakaan sangat kosong. Ada dua cowok dari Klub Komputer yang membungkuk di atas salah satu terminal komputer perpustakaan. Kau tidak pernah bisa memastikan apakah mereka sedang melakukan riset serius, bermain Call of Duty, atau mencoba meretas sistem penilaian. Mereka sepertinya tidak menyadari kedatanganku, dan itu bagus. Aku lebih suka tidak dikenal.

Aku pergi ke bagian belakang perpustakaan, ke meja tempat Rukia dan aku mengalami fenomena supernatural kecil-kecilan kami. Aku pergi ke belakang sana hanya karena tempat itu terpencil. Tetapi, di sana pun aku tidak benar-benar sendirian. Aku bisa mendengar suara seorang cewek di antara rak buku, entah berbicara kepada seseorang yang tidak diberi kesempatan untuk menyela, atau berbicara ke ponselnya. Dia berbicara seakan-akan ada kereta api yang mengejarnya dari belakang, dan berusaha meminta pertolongan lewat ponselnya itu.

"Jadi aku melakukannya seminggu penuh, itu kayak tujuh hari, benar-benar mematuhi diet, sampai ke huruf-hurufnya, ngerti, kan? Dan setelah tujuh hari aku turun setengah kilo. Lalu hari Minggunya, ibuku datang bawa cheesecake, dan aku makan, ehmm, semacam, dua potong. Jadi besoknya, aku naik satu kilo! Jadi itu kayak apa? Kalau aku menghentikan diet ini satu menit saja, berat badanku langsung naik dua kali lipat, bisakah kau membayangkannya? Soalnya maaf saja, ya, tapi, kalau seluruh dunia menuntut kita kurus, mereka harus memaksa pemerintah menyediakan pelatih olahraga gratis untuk pembayar pajak, atau apa gitu."

Aku duduk terpaku, masih tidak bisa berhenti menguping, tidak yakin apakah yang kudengar ini menandakan kematian peradaban Barat, atau hanya sesuatu yang luar biasa lucu.

"Orang tuaku harus membayariku sedot lemak," suara itu terus mengoceh. "Aku tidak peduli batasan umur. Mungkin aku bisa bikin KTP palsu. Soalnya sekarang aku harus pakai korset, hanya supaya jeansku muat."

Aku langsung mengumpat dalam hati, 'ck, dasar perempuan'. Kenapa cewek-cewek seperti Senna itu meributkan berat badan mereka? Rukia yang bahkan seorang gadis pun tidak pernah meributkan soal itu, dan karena itulah aku menyukainya. Aku mungkin meributkan soal melihat orang mati, dan menjadi orang aneh di sekolah.

"Gendut itu pecundang, dan, kau tahu, orang miskin tidak sanggup menjadi anggota pusat kebugaran, atau apa. Soalnya, waktu kita masuk kuliah, orang-orang tepatnya enggak akan mau bergaul dengan kita, kecuali kita berukuran enam atau di bawahnya, oke? Orang tuaku mungkin tolol, tapi mereka seharusnya paham. Mereka itu, semacam, memaksaku bangun, dan menyeretku ke tempat yang namanya perpustakaan ini. Padahal aku bisa menyelesaikan tugas biologi lewat internet. Cuma bayar, kira-kira, lima puluh dollar. Sudah ditulis lengkap."

Hapus yang tadi, dan ganti dengan 'kemunduran peradaban Barat'.

"Halo? Bisa dengar tidak? Sekarang bisa? Halo?"

Aku mendengar suara yang tidak salah lagi adalah bunyi ponsel yang ditutup dengan kasar. Sebelum aku sempat berfikir, sebuah kursi diseret ke lantai, dan jenis langkah kaki yang dihasilkan oleh sepatu bot kulit berhak tinggi yang mahal, berdentam-dentam bagai tembakan.

Seseorang berjalan cepat melewati mejaku. Namun, ia kemudian terpaku dan menoleh dari atas bahunya, tepat ke arahku. Itu Senna. Ekspresi malu dan ngeri luar biasa melintas di wajahnya saat dia sadar, mungkin aku mendengar seluruh percakapan di telepon yang sangat pribadi, yang, tentu saja, memang kudengar. Beberapa detik kemudian, ekspresi malu digantikan oleh raut jijik.

"Ih! Di mana kau membeli pakaianmu? Toko diskon? Kau terlihat seperti karyawan di McDonald's."

Mungkin aku seharusnya pura-pura tidak mendegar. Itu hal yang paling aman untuk dilakukan. Tetapi, Senna tampak begitu masam dan sok kuasa—seperti planetnya, Inoue, bibirnya mengatup menjadi satu garis tipis yang keji, sehingga aku tidak mungkin hanya duduk diam.

"Yah, kau jelas punya kebutuhan khusus yang tidak bisa didapat di toko diskon, Senna. Dengan masalah obat diet dan korsetmu itu."

Mulut Senna langsung melongo saking kagetnya dan dia merona. Lalu ia menutup mulutnya, dan memicingkan mata.

"Kau mungkin harus coba juga. Kelihatannya kau lebih membutuhkannya daripada aku. Sebenarnya aku nyaris merasa iba padamu, Kurosaki. Dari apa yang kudengar, kau sama saja seperti dibesarkan oleh kelompok pemuja setan. Dengar ya, aku sekarang tahu semua tentang IBUMU yang aneh."

Aku menatap Senna tanpa ekspresi. Apa sebenarnya yang dilakukan cewek ini di perpustakaan? Seharusnya ia ditolak di pintu masuk, karena tidak memenuhi persyaratan.

"Katanya dia seorang medium? Yang benar saja! Semua orang tahu kalau itu cuma sampah. Ibumu penipu, dan itu menjijikan."

Ya ampun, seandainya ia bukan perempuan, giginya pasti sudah rontok semua di tanganku sekarang.

"Kamu gak cocok berada di sini, dan gak akan pernah. Enggak ada yang menyukaimu selain cewek biola konyol itu. Tidak ada yang mau berteman denganmu. Kau hanya bahan tertawaan di sekolah ini. Seharusnya kau pergi saja, atau pindah ke sekolah hippie yang menampung murid miskin."

"Dan melewatkan penyambutanmu kembali setelah sedot lemak pertamamu? Enggak mungkin."

Wajah Senna langsung merah padam. Tangannya dikepal kuat-kuat, dan sepertinya ia gemetar.

"Aku akan menjadikan ini urusan pribadiku, memastikan kalau semua orang di sekolah ini tahu, kalau ibumu hanya seorang penipu," desis Senna. "Karena saat orang tahu kebenarannya, tidak akan cukup bagi mereka hanya dengan menjauhimu. Mereka tidak akan membiarkanmu tetap berada di sekolah ini. Kau akan menjadi orang buangan, dan ibumu akan menjadi bahan tertawaan di kota ini."

Dan kata-kata itulah yang membuatku kehilangan akal sehatku. Seharusnya aku tidak melakukannya, tetapi aku rasa kalian mungkin mengerti jika berada di posisiku sekarang.

Pertama-tama, aku berdiri, untuk memberi efek. Entah itu akan membantu atau tidak. Lalu aku berlama-lama menatap Senna, memicingkan mata untuk menyamainya.

"Kau sepertinya sangat yakin kalau ibuku penipu. Menarik sekali karena belum pernah ada penelitian ilmiah yang bisa membuktikan bahwa dunia gaib itu TIDAK ada, tapi kau sepertinya benar-benar yakin. Sebaiknya kau benar, Senna. Karena bagaimana kalau kau salah? Bagaimana kalau ibuku benar MEMANG mempunyai kemampuan untuk berhubungan dengan arwah? Apakah kau berani macam-macam dengan orang seperti itu? Dan bagaimana denganku? Apa kau yakin aku tidak mewarisi bakat ibuku? Karena coba tebak, Senna, aku juga MEMILIKINYA. Kau mau mengujiku? Aku bisa memunculkan arwah di sini. Aku bisa mengatur agar sesuatu yang tidak menyenangkan dan jelek, jahat, mulai menghantuimu. Yang perlu kulakukan adalah merapal mantra, sementara kau diam berdiri dengan manis disana. Begitu kau bermasalah dengan arwah, enggak akan ada dokter bedah plastik yang bisa menyembuhkanmu."

Oke, waktunya jeda dramatis. Aku mengamati ekspresi Senna, agak cemas bahwa dia mungkin hanya akan tertawa tebrahak-bahak. Tetapi tidak, ekspresi gelisah mulai merayapi wajahnya. Aku melanjutkan kata-kataku yang hampir semuanya karangan semata.

"Yang harus kulakukan sekarang adalah merapal mantra, seperti yang sudah kubilang, hanya berdiri saja dengan manis, dan aku akan segera mulai."

Aku mengangkat kedua tangan ke depan, seperti sedang membaca masa depan di atas bola kristal. Dan memejamkan mata.

"Wahai sang pengendali, wahai yang berhubungan dengan nama manusia, terjadinya segala rintangan dan topeng darah daging! Kebenaran dan pengendalian diri, tancapkan sedikit cakarmu pada dinding mimpi yang tidak kenal dosa. Aku memanggil kalian, bangkitlah…."

"Hentikan," Senna mendesis. Sedikit menjauh dari tempatnya berpijak. "Hentikan!"

Aku membuka mata setengah dan menatapnya. Senna mendekap tasnya, seperti sedang memeluk bayi. Aku dengan santainya melanjutkan trik yang kelihatannya berhasil ini.

"Bangkitlah wahai para arwah… aku memerintahkanmu…," aku kembali bersenandung. Mudah saja seperti sedang menyanyikan lirik lagu favorit kalian di kamar mandi.

Senna langsung mengambil langkah mundur, dan terakhir menabrak rak majalah. Sepertinya itu membuatnya hilang kendali. Dia mengeluarkan jeritan melengking, memukuli rak majalah tidak berdosa itu, seakan-akan itu adalah tikus dapur, lalu kabur meninggalkan perpustakaan.

Aku duduk lagi di kursiku, tertawa tanpa suara. Aku merasa bersalah atas perbuatanku tersebut, pada seorang cewek yang menginginkan supaya badannya langsing. Tetapi ia memang pantas mendapatkannya. Dan raut wajah Senna saat aku mengucapkan mantra… tidak ternilai harganya. Aku tidak tahu apakah aku bisa menggambarkannya nanti saat bercerita dengan Rukia. Aku terkekeh pelan, lalu menghela nafas dalam-dalam. Saat tengah menarik nafas, aku merasakan sesuatu menyentuh kesadaranku. Hanya sesuatu. Aku sama sekali tidak yakin apa yang menyentuhku. Aku membuka mata.

Shirayuki berdiri di hadapanku, menatap tepat ke arah mataku. Aku terlonjak tanpa sadar, kaget. Shirayuki tidak bergerak. Seakan-akan dia sudah berdiri di sana dari tadi. Menunggu.

Sepertinya ia bisa melihatku, tetapi wajahnya tanpa ekspresi, dan terkesan hampa. Seperti robot. Aku merasakan getaran dingin menjalari tulang punggungku. Walaupun sudah pernah melihatnya di sini, walaupun aku yakin ia menghantui ruangan ini, terpikir olehku, mungkin ia datang karena menanggapi panggilanku. Panggilan palsu untuk menutup mulut Senna.

Entah bagaimana aku pernah berhasil menyuruh Shirayuki pergi. Entah bagaimana aku pernah berhasil menyampaikan padanya, kalau aku belum siap berinteraksi dengannya. Sekarang meski bisa dibilang tidak sengaja, aku mungkin telah memanggilnya. Ini salahku, dan sekarang sebaiknya aku melakukan sesuatu. Aku harus menebus kesalahanku.

"Shirayuki?" aku berkata.

Sesuatu berbinar di matanya saat aku panggil, tetapi dia diam saja. Dia tampak persis seperti saat aku melihatnya bersama Inoue, dan seperti di dalam buku tahunan. Baju abu-abu usang yang sama, rambut ungu muda yang panjang, dan rok biru tua yang tidak menambah tingginya atau pun memendek. Apa yang harus kulakukan? Ya ampun, kenapa aku tidak mengajukan pertanyaan sederhana itu pada Ibu? Apa yang diinginkan Shirayuki dariku?

"Namaku Ichigo. Aku bisa melihatmu, Shirayuki."

Oke, itu payah sekali. Sudah jelas ia bisa melihatmu, dasar bodoh. Aku tidak punya petunjuk apa-apa. Aku memang tidak cocok di sini, seharusnya aku berada di sekolah pendidikan medium.

Lalu Shirayuki maju satu langkah ke arahku. Aku mesti menggerakan seluruh pengendalian diri. Dia meletakkan satu tangan di atas meja, dan mencodongkan tubuhnya ke arahku. Tangannya tampak rata dan berdimensi dua, seperti gambar di TV. Suaranya keluar, nyaris tak lebih dari bisikan.

"Aku tahu," katanya.

"Kau tahu apa?" aku balas berbisik.

"Aku sudah tahu. Bahwa aku sudah mati…."

Dan dia lenyap lagi dari pandangan, ruang yang sebelumnya dia tempati mendadak diisi oleh dentang nyaring alarm kebakaran sekolah.

~TO BE CONTINUED~


Review reply:

Pertama dari BlackRed, iya, namanya juga masih pemula. Sebenernya dia masih bisa maen, tapi harus di tempat yang gak ada siapa-siapanya. Iyap, Anda benar. Ehm, kalo yang itu, gue juga gak tau sih, ehehe. *dijitak*. Oke, nih udah diupdate. Makasih Reviewnya! ^^

Kedua dari Rukianonymous, iya, dia demam panggung gitu. Mungkin karena grogi, atau semacamnya lah. Haha, dia pake baju gitu buat jadi model, semacam patung gitu, tapi idup. Makasih Reviewnya! ^^

Ketiga dari lola-chan, hehe, untung saia bisa bikin summarynya, supaya Readers gak kejebak sama judul. Oke, makasih Reviewnya! ^^

Keempat dari nenk rukiakate, sip, terus RnR aja, yaa! Makasih Reviewnya! ^^

Terakhir dari Wakamiya Hikaru, oke, ini udah dilanjutin. Makasih Reviewnya! ^^

Akhirnya Shizu bisa update ficnya lagi. Sedihnya karena bentar lagi saia harus masuk sekolah T.T. Doain aja terus ya, semoga updatenya gak lama-lama banget. Oke lah, gak banyak bacot lagi, maafkan kalo masih ada yang salah di sini, dari typo, alur gak jelas, penghancuran image, dan sebagainya. Review seperti apa pun diterima dengan senang hati. Sampai berjumpa di chapter selanjutnya!