~Medium~

~Genre: Supernatural, Friendship~

~Chara: Kurosaki Ichigo and Kuchiki Rukia~

~Disclaimer: Tite Kubo~


Rusak sudah hari Sabtu-ku. Aku harus menunggu di perpustakaan selama satu jam, bersama dua cowok dari Klub Komputer sebelum petugas keamanan bisa memastikan, bahwa alarm itu dipicu oleh seseorang yang membuka pintu darurat yang langsung mengarah ke luar. Tidak terlalu sulit bagiku untuk menebak siapa orang yang berlari tergesa-gesa, sehingga tidak sengaja menyalakan alarm. Namun, aku tidak akan mengadukan Senna kepada petugas keamanan. Tidak setimpal dengan kerepotannya, dan aku tidak ingin tersangkut paut segabai penyebab kepergian Senna yang terburu-buru. Aku sendiri sudah tidak sabar untuk keluar dari perpustakaan ini.

Shirayuki tidak kembali. Tetapi, aku mulai merasa semakin gelisah, dan aku rasa penyebabnya lebih karena kejahilan yang kulakukan pada Senna, bukan penampakan Shirayuki. Dalam hati aku sudah tahu, kalau aku menyalahgunakan kekuatanku, dan bahwa aku terancam telah melewati semacam batas. Aku berusaha untuk tidak memikirkannya. Itu memang lelucon yang konyol, tetapi cuma masalah remeh. Sekarang sudah selesai, dan kabar baiknya, tidak ada yang terluka.

Namun, sudah jelas aku tidak mempunyai alasan maupun keinginan untuk tetap tinggal di perpustakaan, dan mengerjakan proyek biologi. Yang kuingingkan sekarang hanyalah pergi dari sini, dan berbicara kepada Rukia.

Di luar hujan sudah berhenti, tetapi langit masih gelap. Aku mulai bergerak menuju jalan tempat Rukia tinggal. Aku belum pernah ke apartemennya, tetapi aku tahu di mana letaknya. Karena tidak mempunyai ponsel, aku memutuskan untuk langsung mampir ke sana tanpa memberitahunya. Selalu ada resiko tertentu jika pergi ke rumah orang tanpa memberi kabar terlebih dahulu, tetapi aku benar-benar harus menemui Rukia. Diam-diam aku cukup penasaran dengan kehidupan di rumah Rukia yang tidak pernah ia bicarakan. Aku tahu ibunya terobsesi dengan permainan biola Rukia, dan ayahnya semacam ahli komputer yang jarang pulang ke rumah. Yang kutahu hanya sebatas itu.

Kompleks apartemen tersebut berupa gedung bata merah polos setinggi lima lantai. Aku memeriksa deretan bel di pintu depan, dan menemukan yang kucari. Sebuah apartemen lantai dasar. Aku membunyikan bel, dan menunggu, sembari menekankan tangan ke perut, untuk menenangkan suara yang sudah bergemuruh dari situ.

Setelah beberapa saat, pintu apartemen dibuka, dan aku langsung menyapanya tanpa melihat wajahnya terlebih dahulu.

"Hai, Ru—" saat kulihat lebih teliti, ternyata itu BUKAN Rukia! Aku langsung melanjutkan omonganku yang terpotong sesaat tadi. "Halo. Anda pasti ibu Rukia. Saya Ichigo, temannya dari sekolah."

Untuk sesaat, wanita itu tidak berkata apa-apa, dan aku takut Rukia tidak pernah bercerita tentangku kepadanya. Atau yang lebih buruk lagi, aku datang ke apartemen yang salah. Namun kemudian, wanita itu tersenyum, atau setidaknya mulutnya menyunggingkan senyum. Matanya tetap sama—dingin dan penuh penilaian.

"Tentu saja, Ichigo. Senang sekali bertemu denganmu. Aku rasa kami tidak menunggu kedatanganmu?"

"Iya, memang tidak. Maksud saya, kebetulan tadi saya lewat sini, dan… saya memutuskan untuk mampir."

Baiklah, itu payah.

"Yah, kalau begitu silakan duduk di ruang tamu, dan saya akan memanggil Rukia."

Betapa hangat sambutannya. Aku berusaha tersenyum ala Tuan Kepribadian Paling Sopan. Tetapi sulit jika tanggapannya dingin begitu. Ibu Rukia memiliki wajah serta model rambut yang sama dengan Rukia. Tetapi jika wajah Rukia ramah dan terbuka, ibunya lebih terkesan dingin dan tertutup.

Aku menduduki kursi yang terlihat tidak nyaman di ruang tamu, dan dengan hati-hati mengamati sekeliling. Ruangan ini hampir mirip museum, dengan kain pelapis yang tak tersentuh, dan perabotan yang dipoles mengkilap. Pada meja dekat jendela, ada beberapa foto berbingkai. Dan aku bangun untuk melihatnya dari dekat.

Semuanya foto Rukia sedang bermain biola—tanpa terkecuali. Dalam beberapa foto kelihatannya ia tidak lebih dari empat atau lima tahun. Lengan kecilnya memeluk alat musik yang lebih besar darinya, dahinya berkerut penuh konsentrasi. Dalam sebagian foto, dia sedang berdiri bersama sejumlah musisi, masing-masing menyeimbangkan biola di depan mereka. Pasti ada lima belas foto di sini, semuanya diberi bingkai perak yang indah, tetapi tidak satu pun memperlihatkan Rukia sedang tersenyum.

Aku mendengar seseorang masuk ke dalam ruangan, dan aku berbalik. Bersiap-siap menyapa Rukia. Tapi ternyata, yang aku lihat hanyalah seorang pria tua kecil, dan keriput. Dengan mata cerah berbinar dan tubuh kurus yang bungkuk. Dia memakai kardigan warna hijau hutan serta celana wol tua yang terawat dengan baik. Dia tersenyum dan mengangguk kepadaku, dan sekonyong-konyong aku mencium bau hangat tembakau pipa. Saat aku mengamati pria itu, aku sadar garis tubuhnya yang rata, tidak lebih dari dua senti, dan merasakan aliran energi di udara.

Dia sudah mati, pikirku tiba-tiba.

Nah, ini yang benar-benar gila. Aku berpikir bahwa orang seperti inilah yang bisa membuatku nyaman. Sikapnya sangat ramah, auranya begitu cerdas dan gembira, membuatku ingin mendengar suaranya, atau kalau bisa membuat ia tertawa. Mungkin aku seharusnya sudah dibawa ke rumah sakit jiwa, tetapi aku benar-benar merasa kalau, orang mati ini adalah yang paling menyenangkan dari yang pernah kutemui. Aku balas tersenyum pada pria tua itu.

"Ichigo!"

Lantai ruangan sedikit terlihat agak goyang, seperti lift yang tidak berjalan terlalu mulus. Rukia berdiri di ambang pintu ruang tamu. Dia melirik ke belakang, lalu memasuki ruangan, berjalan tepat di tempat pria tua kecil tadi berdiri lima menit sebelumnya.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

"Apa? Kamu tidak senang melihatku?" tanyaku.

Rukia memelukku sesaat dengan tubuh mungilnya.

"Kamu tidak tahu betapa aku senang melihatmu. Tapi…," dia berbicara seraya memajukan tubuh mendekati telingaku, dan memelankan suaranya hingga tinggal bisikan, "ibuku selalu stress jika ada yang datang tanpa memberitahu. Ayo ke kamarku."

Rukia memanduku tanpa suara keluar dari ruang tamu, dan menyusuri lorong, yang dihiasi gambar-gambar burung berukuran besar. Masing-masing jaraknya presisi satu sama lain, ada delapan gambar di setiap sisi dinding. Semuanya terlihat begitu bersih dan mengkilap. Lalu saat sampai di sebuah pintu di ujung lorong, aku pelan-pelan mengikuti temanku memasuki ruang kamarnya.

Seperti bagian apartemen lainnya, kamar Rukia ditata dengan selera tinggi, tetapi juga diseraki dengan berbagai petunjuk tentang kepribadian asli Rukia. Di atas tempat tidur terdapat majalah tabloid. Lalu Rukia menutup pintu, dan menghempaskan tubuh mungilnya ke atas tempat tidur, dan menepuk tempat di sampingnya untuk kududuki.

"Jadi ada apa, nih? Kupikir kamu mau kerja romusha menyelesaikan tugas biologimu."

Aku menghela napas. "Memang, tadinya begitu. Aku malah sudah ke perpustakaan tadi pagi. Dan coba dengar apa yang terjadi."

Aku memberi Rukia laporan lengkap tentang pengalaman natural, maupun yang supernatural. Dia mendengarkan tanpa memotong, terutama matanya yang melebar saat sampai pada detail tentang Shirayuki yang muncul kembali, sambil memegang flute.

"Bagaimana rupanya?" tanya Rukia penasaran.

"Yah, kau tahu, Rukia. Tidak terlalu hebat. Di samping kenyataan bahwa dia sudah meninggal selama, kira-kira, empat puluh tahun. Wajahnya tidak cekung. Seperti kelelahan, atau sakit, atau kurang tidur. Dan dia memakai baju usang yang sama lagi, seperti di dalam foto. Entah dia memakainya sepanjang waktu, atau arwahnya terperangkap dalam baju itu saat dia memakainya. Aku tidak yakin."

"Baiklah. Dan setelah itu dia lenyap?"

"Tidak ada kejadian penting lagi. Petugas keamanan mematikan alarm kebakaran, untuk memastikan tidak ada kebakaran sungguhan apa pun. Begitu mereka bilang aku boleh pergi, aku langsung lari ke sini."

Rukia tampak berpikir serius.

"Dan kau yakin Shirayuki menghilang sebelum alarm kebakaran menyala atau sesudah?" tanya Rukia lagi.

"Sebelumnya. Aku sedang menatap tepat ke arahnya, dan dia lenyap begitu saja seperti di sihir. Kemudian alarm menyala."

"Jadi, apa pun yang ingin dia katakan, sudah selesai dikatakan?"

"Yeah," sahutku. "Tapi yang membuatku bingung, apa benar dia memang ingin menampakkan diri kepadaku?"

"Maksudmu?"

Aku berdeham sedikit.

"Seperti kubilang tadi, aku melakukan hal ini, hanya untuk menakut-nakuti Senna."

"Akting magician maksudmu?" Rukia bantu menjelaskan.

"Ya, mungkin kurang lebih seperti itu. Aku tahu kedengarannya konyol. Tapi, kau seharusnya melihat wajahnya, Rukia. Dia berubah dari nenek sihir modis, menjadi cewek tak berdaya dalam waktu kurang dari sepuluh detik."

"Tapi kemudian Shirayuki datang, dan kau ingin bilang bahwa kau tidak yakin, apakah dia berusaha menghubungimu, atau dia datang karena dia kira kau memanggilnya."

"Tepat sekali," jawabku.

"Kau tahu apa yang menurutmu kita butuhkan?" Rukia bertanya, sambil duduk tegap, dan mengayunkan kakinya ke lantai.

"Acara realitas kita sendiri?"

Rukia mengernyit, sambil mengecutkan mulut mungilnya.

"Jangan sekali-sekali membahas soal itu," dia menegur. "Kalau ibuku tahu ada yang namanya acara realitas, aku yakin ia akan menawarkan judul Pemain Biola Junior Mentok ke semua stasiun TV di kota ini. Bukan, yang kita butuhkan adalah lebih banyak informasi." Rukia beranjak ke mejanya, dan membuka laptop, menyalakannya lalu duduk di kursi.

"Apa yang kaulakukan?"

"Kemarilah," panggilnya. "Kita akan meng-Google," ia mengetik-ngetikkan beberapa kata dengan cepatnya di atas tombol keyboard. Aku berjalan menghampirinya ke meja laptop.

"Apa yang kau cari di sana?"

"Sekolah kita," jawab Rukia. "Aku berani taruhan apa saja, pasti ada situs yang memuat segala hal tentang sekolah kita."

Dan Rukia benar, situs itu memang ada. Foto terbaru sekolah kami, dengan garis luar cap sekolah dilapiskan di atas foto. Ada bagian untuk kehidupan murid, staf pengajar, mata pelajaran, olahraga, dan sejarah. Layar utama menampilkan kumpulan foto para murid yang diambil secara diam-diam. Tampak sehat dan bahagia. Seperti yang bisa diduga, Inoue dan Ishida muncul dalam dua foto, dikelilingi oleh pemuja ciliknya.

Kami berdua memajukan tubuh, mendekati layar, membaca judul-judul bagian situs.

"Aku tidak melihat bagian untuk penampakan misterius di sini," ujar Rukia.

"Lucu sekali," aku yang mulai bosan, hanya menjauhkan tubuh dari sana.

"Tunggu. Hei ini ada sesuatu!" serunya kemudian.

"Apa?"

"Ada informasi tentang sekolah kita yang merupakan fasilitas pendidikan dengan masa operasi terlama di wilayah kita."

Aku memutar bola mata. "Gila. Itu kayak revolusioner banget."

"Tidak, diam dan dengarkan, Tuan Jeruk. Di sini disebutkan bahwa sekolah kita didirikan di lokasi yang sekarang pada tahun delapan belas dua puluh, dan hanya pernah menutup pintunya satu kali, selama tiga minggu di tahun sembilan belas enam puluh, saat wabah meningitis berjangkit di wilayah ini."

"Sembilan belas enam puluh? Bukankah itu tahun kematian Shirayuki?"

Rukia mengangguk, masih menatap layar. Dia menggulung layar ke bawah beberapa kali.

"Aku mau coba memasukkan namanya di kotak pencarian. Mungkin mereka membahas Shirayuki karena, kau tahu, dia meninggal dan sebagainya."

"Tidak ada," kataku, saat kotak pencarian menyatakan tidak ada yang sesuai dengan nama Shirayuki. "Aku rasa itu terlalu mudah."

"Dan aku rasa mereka tidak akan menaruh informasi semacam itu di situs web. Orang tidak mau tahu kalau murid di sekolah mereka bisa mati."

"Tapi, kalau memang penyebab kematian Shirayuki itu dari penyakit meningitis, itu berarti bukan salah siapa-siapa, betul tidak? Maksudku, di zaman itu ada berbagai macam penyakit menular yang menewaskan anak-anak."

Rukia mengangguk. "Tidak banyak informasi yang berguna dalam situs web ini, selain keterangan tentang wabah penyakit meningitis," ujar Rukia, masih menggulung layar ke bawah. "Tapi, disebutkan bahwa, ada banyak arsip tentang sejarah sekolah dalam berkas-berkas perpustakaan di ruang bawah tanah. Aku rasa kita harus mencari di sana."

"Bagus! Karena satu-satunya hal yang lebih menyenangkan daripada perpustakaan berhantu adalah ruang bawah tanah di bawah perpustakaan berhantu, betul?"

Rukia mengangkat bahu. Lalu aku mendengar suara ibunya yang memanggil. Rukia tampak mengerutkan alisnya saat mendengar suara itu.

"Rukia, kau tidak mendengar aku memanggilmu?"

"Tidak, kami—"

"Aku yakin kau hanya tidak menyadari waktu. Empat puluh menit lagi kau ada pelajaran, dan aku bahkan belum mendengarmu menyetel biolamu. Waktu Nyonya Shihouin sangatlah penting, Rukia. Aku tidak tahu kenapa aku harus memberitahu apa yang sudah kau ketahui."

Aku langsung cepat-cepat berdiri. "Saya sudah mau pergi," kataku. Baik ibu maupun putrinya, sepertinya tidak mendengarku.

"Ibu," katanya tiba-tiba. "Tolong beri aku waktu, ya? Aku sedang ada teman. Ya ampun!" Rukia memohon dengan nada yang terlihat memaksa ibunya untuk keluar dari sini.

Ibu Rukia menarik napas, dan menghembuskannya dengan tegang. Lalu ia membalikkan badan, dan meninggalkan kamar. Rukia mengerang. "Maaf."

"Tidak apa-apa. Antar aku ke pintu?"

Rukia menuruti permintaanku. Ia mengawalku lagi menyusuri lorong berhias gambar burung-burung. Menuju pintu keluar. Ibunya tidak terlihat.

"Nanti kutelepon," katanya.

"Tidak perlu kalau aku duluan yang menelepon," balasku. "Oh, iya, Rukia," panggilku setengah berbisik sebelum menyelinap keluar pintu.

"Iya?"

"Apartemenmu berhantu."


Peristiwa merapal mantra palsu untuk menakut-nakuti Senna cukup membuatku tertekan. Jadi, ketika Ibu membuatkan pancake dan pastel sosis kedelai untuk makan siang hari Minggu, aku memutuskan untuk menceritakannya. Dengan pengandaian tentu saja.

"Bu?"

Dia sedang berdiri dalam balutan kimono ungu pudar di depan meja, membagi pastel sosis kedelai ke piring masing-masing. Dia memberiku senyum lebar dengan mata berbinar.

"Aku punya pertanyaan, hanya berandai-andai tentu saja."

"Tentu saja," Ibuku mengulangi. Ia meletakkan piring di depanku, dan menarik kursi untuk dirinya sendiri.

"Hati-hati dengan sirupnya, masih panas," ia mengingatkan. Aku menuangkan lebih dari yang kubutuhkan ke atas pancake yang terlihat masih hangat itu dan sosisku sekaligus.

"Jadi, anggap saja, hanya berandai-andai, nih, aku berurusan dengan orang atau manusia ini yang pikirannya luar biasa picik. Ibu tahu, semacam golongan pembenci yang biasa. Dan polanya sama, mereka mempunyai lebih banyak uang dibandingkan Tuhan, dan menghabiskan sebagian besar uang itu setiap hari, dan mencari makhluk hidup yang lebih lemah darinya, untuk disiksa, dihina, dan dikucilkan."

"Sejauh ini kedengarannya familier," ujar Ibu. Ia mengoleskan mentega ke atas roti bagel bebas gandum tanpa telur.

"Ya, hanya saja ada masalah. Semacam kerumitan yang tidak normal. Jadi selain golongan pembenci yang biasa, gadis ini juga salah satu anggota dari Masyarakat Kebodohan Moral."

"Masyarakat Kebodohan Moral?" Ibuku mengulangi. "Aku tidak yakin pernah mendengar tentang mereka."

"Itu karena aku baru menamai mereka secara resmi kemarin. Jadi begini, hanya berandai-andai tentu saja—"

"Tentu saja," Ibu menyela sambil tersenyum kecil.

"Iya, bisa dibilang dia adalah penggagas Masyarakat Kebodohan Moral. Dan yang dilakukan perkumpulan ini adalah merazia lingkungan sekitar, untuk mencari apa pun yang tidak beroperasi dalam batas-batas tradisional di negara ini."

"Ah, peristiwa Inkuisisi Spanyol, tidak ada yang mengira," Ibuku berkata, masih tersenyum sambil menyesap teh hitam Cinanya.

"Ibu berada di jalur yang benar, tapi sudah terlambat beberapa abad. Aku sedang berbicara tentang—"

"Dengan berandai-andai tentu saja," dia memotong lagi.

"Iya, tentu saja, tentang masa sekarang. Lebih tepatnya lagi kemarin. Jadi, ketika seseorang dalam perkumpulan ini mengira telah menemukan seseorang yang perilakunya tidak sesuai dengan aturan tradisional, mereka lalu bersikap menyerang. Yang melibatkan penggunaan kata-kata seperti penipu dan penyihir, dan membuat ancaman untuk membongkar rahasia diikuti dengan pengucilan sosial. Oh, dan menyarankan dengan paksa agar orang ini pindah ke sekolah lain, sekolah yang menerima, bagaimana dia menyebutnya sebagai, 'murid hippie miskin'."

"Idih," cetus Ibu. Meletakkan cangkir tehnya dengan perlahan. "Ichigo, katakan padaku kalau tidak ada yang benar-benar berkata begitu padamu."

"Melanjutkan kisah pengandaian ini," aku segera memotong, "kita anggap saja emosi orang itu menguasai dirinya. Jadi ia memutuskan untuk sedikit berbuat jahil, layaknya anak-anak cowok lainnya. Jadi, dia merapal mantra palsu untuk membangkitkan arwah. Hanya untuk menakut-nakuti si orang dalam anggota Masyarakat Kebodohan Moral itu."

"Dan hasilnya?" tanya Ibu.

"Ketakutan yang cukup membuat orang itu lari terbirit-birit, dan jackpot! Ia membunyikan alarm kebakaran sekolah."

Ibuku bersandar di kursinya, tampak membayangkan orang itu, dan lumayan geli.

"Yah, Ichigo, karena pembenci yang kamu andaikan ini menggunakan kata penipu, aku beranggapan dia menuduhmu atau aku memalsukan kemampuan kita untuk berinteraksi dengan arwah."

Aku mengangguk, memutuskan bahwa sekarang adalah waktu yang tepat untuk menanggalkan aspek pengandaian dari kisah ini, dan menerima kenyataan bahwa identitas si penyihir dan penipu sudah sangat jelas.

"Ketika seseorang menuduhmu berbohong tentang sesuatu yang begitu penting menyangkut jati dirimu, itu termasuk serangan. Dan kenyataan bahwa kamu membuatnya panik menunjukkan bahwa, dalam hatinya ia yakin kemampuan seperti itu memang ada, dan dia takut akan kemampuan itu. Tapi kamu harus sangat berhati-hati, Ichigo, dalam menggunakan bakat. Jangan menyalahgunakannya, karena itu akan membuatmu berada di jalan yang sangat rumit."

Aku mengangguk, setuju dengan opini Ibu.

"Segala hal memiliki dua sisi, Ichigo. Termasuk apa yang kita lakukan ini. Semua mitos yang kita ketahui menggambarkan hal itu. Untuk setiap titik terang pasti ada sisi gelap yang setara. Untuk setiap kekuatan baik, pasti ada kekuatan lemah yang melawannya. Zeus versus Hades, jika memakai perumpamaan film. Kamu harus bersama dengan energi terang sepenuhnya, Ichigo."

"Ibu pasti akan mengambil jalan yang benar, iya, kan?" tanyaku. Menuangkan sirup lebih banyak ke piring, dan menciptakan lautan gula cair di sekeliling pulau pancake. "Ibu pasti membiarkan dia menjuluki penyihir dan penipu, dan ibu merasa tidak perlu membuktikan apa pun kepadanya."

Ibuku mengangkat bahu.

"Karena harus berhadapan langsung dengan banyak anggota Masyarakat Kebodohan Moral, aku tahu, betapa marah dan muak perasaanmu. Dan menurut ibu, tidak ada kerusakan serius yang terjadi kali ini. Tapi, pada saat bersamaan, kamu menyerap energi negatifnya, dan kau merengkuhnya. Kamu malah menyokong energi gelap itu, bukannya membalas dengan energi terang."

Aku tidak yakin aku memahami semua perkataan dan maksudnya. Tetapi itu jelas bukan pujian tentang caraku menangani masalah ini. Aku agak berharap kami bisa kembali menggunakan pengandaian untuk bagian selanjutnya, tapi tidak mungkin ada kata kembali.

"Masalahnya, Bu, setelah Sen—maksudku, setelah Masyarakat Kebodohan Moral itu pergi, sepertinya panggilanku benar-benar ditanggapi. Karena Shirayuki, gadis dari tahun enam puluhan yang kuceritakan padamu waktu itu, muncul tiba-tiba. Tak sampai semenit setelah panggilan palsuku."

Ibu meletakkan cangkir tehnya kembali, dan memberiku tatapan menilai.

"Maksudmu, kamu mengira mungkin kamu telah memanggil arwah ini tanpa sengaja?" dia bertanya. Aku mengangguk muram. "Apakah ia mengatakan atau melakukan sesuatu saat menampakkan diri?"

Aku memejamkan mata, berusaha mengingatnya. "Dia—dia jelas-jelas menatapku. Dia berdiri di sana dan menatapku. Lalu ia mencondongkan tubuhnya ke depan, dan meletakkan tangannya di atas meja. Aku tidak yakin apa yang seharusnya kulakukan. Aku menyebutkan namanya, bilang bahwa aku bisa melihatnya, dan menyebutkan namaku juga."

Ibuku mengangguk, kepalanya agak miring sedikit. Kon, yang berbaring di kaki Ibu, mengangkat kepalanya yang besar, dan ia mengawasi Ibu.

"Lalu ia berbicara…," aku melanjutkan.

"Dia berbicara?" potong Ibuku, tampak terkejut.

Aku mengangguk. "Apakah itu tidak wajar?"

"Itu bisa terjadi. Berbicara secara fisik membutuhkan pengendalian sejumlah besar energi. Energi yang sudah digunakan si arwah untuk memunculkan dirinya. Biasanya komunikasi pertama berlangsung di tingkat mental. Seperti telepati. Mungkin satu atau dua kata tak jelas. Tapi itu sangat sulit, kecuali di sana sudah ada sumber energi untuk diserap. Apa yang ia katakan?"

"Di sinilah keadaannya tambah aneh. Aku mengatakan sesuatu seperti 'Apa maksudmu kau tahu?' Dan dia menatapku lekat-lekat, dia membalas, 'Aku tahu bahwa aku mati.' Lalu ia langsung lenyap. Jadi sekarang aku tidak paham apa yang terjadi. Maksudku, apakah dia datang karena mengira aku memanggilnya, dan pergi karena ternyata aku tidak memanggilnya? Atau dia memang ingin datang saat merasakan keberadaanku di perpustakaan? Apakah menurut ibu aku telah mengacau, gara-gara mengerjai orang menggunakan bakat ini?"

Ibuku menggeleng, meluncurkan sosis kedelai mengelilingi piringnya, seakan-akan itu adalah kelereng.

"Ibu rasa tidak, Ichigo. Aku hanya bicara berdasarkan naluri. Tapi perkiraanku adalah, Shirayuki merasakan kamu berada di dunia fisik yang dia tinggali, dan dia muncul karena itu. Bagaimanapun, kamu tidak memanggilnya waktu yang pertama dulu. Dia yang mencarimu. Sesuatu menariknya kepadamu. Ibu juga memperkirakan saat Shirayuki memberitahu dia sadar dia sudah mati, itu menunjukkan bahwa dia tidak membutuhkan bantuanmu untuk memandunya ke dunia selanjutnya. Jika dia tahu dia sudah mati, maka dia tinggal di dunia ini atas keinginannya sendiri, bukan karena kehilangan arah."

"Artinya…?" aku benar-benar bingung.

"Artinya bantuan apa pun yang ia butuhkan, pasti menyangkut sesuatu yang sangat berbeda. Dan satu-satunya cara untuk tahu adalah dengan melakukan kontak serius dengannya, dalam kondisi yang aman ketika waktu tidak menjadi masalah, dan kamu tidak menghadapi resiko diganggu oleh seseorang dari Masyarakat Kebodohan Moral, atau apa."

"Maksudmu?"

"Maksud ibu," menghabiskan tehnya dengan satu tegukan besar, "kamu harus melakukan pemanggilan arwah."

~TO BE CONTINUED~


Review reply:

Pertama dari arumru-tyasoang, hai juga, ehehe. Sip, ini udah dilanjutin. Makasih Reviewnya, ya~! ^^

Kedua dari Rukianonymous, iya, Shirayuki lenyap dari situ, tapi dia gak pergi. Arwahnya masih bergentayangan gitu, ehehe. Gak kebakaran, kok, cuma Senna gak sengaja nabrak alarmnya, jadi bunyi, deh. Makasih Reviewnya, ya~! ^^

Ketiga dari nenk rukiakate, wah, makasih banyak, ya! Hiks, maap updatenya baru bisa sekarang. Iya, makasih Reviewnya, ya~! ^^

Keempat dari Yuuka Aoi, huwaaa, maap Shizu janji nanti ada adegan romance-nya, kok. Tapi maap kalo kurang memuaskan, hiks. Yap, ini sudah dilanjutkan. Makasih Reviewnya, ya~! ^^

Kelima dari lola-chan, sebenernya gak ada masalah, tapi Shirayuki ingin meminta sesuatu dari Ichigo, baca terus aja, ya, supaya tau kelanjutannya. Oh, tenang, kok, di sini udah ada Rukia-nya lagi, ehehe. Makasih Reviewnya, ya~! ^^

Keenam dari BlackRed, dia kira si Ichigo mau nolongin dia buat mandu ke dunia selanjutnya, padahal sih enggak. Tetap baca aja terus, nanti lo tau, kok, ehehe. Sip, makasih Reviewnya, ya~! ^^

Ketujuh dari Wakamiya Hikaru, sip, ini sudah dilanjutkan. Makasih Reviewnya, ya~! ^^

Yap, sekali lagi makasih banyak ya buat yang udah Review, maupun yang enggak. Semoga cerita ini membuat kalian semua terhibur. Dan mohon maap jika ada kalimat yang salah, atow malah bikin makin bingung n galau *apa hubungannya?*

Jadi, mohon Reviewnya lagi, ya. Supaya Shizu bisa melanjutkan lagi. Sampai berjumpa di chapter selanjutnya!