~Medium~

~Genre: Supernatural, Friendship~

~Chara: Kurosaki Ichigo and Kuchiki Rukia~

~Disclaimer: Tite Kubo~


Rukia tidak ada di rumah saat aku menelepon keesokan harinya, dan aku menunggu dengan tak sabar di samping telepon, bertanya-tanya kemana ia pergi pada hari Minggu sore seperti ini. Ibu dan aku sudah berbicara hingga larut malam, dan sekarang setelah aku tahu apa yang harus aku lakukan, aku ingin segera melakukannya. Aku ingin Rukia membantuku meneliti arsip sekolah selama jam makan siang pada hari Senin, supaya kami punya informasi yang dibutuhkan sebelum melanjutkan dengan pemanggilan arwah. Aku merasakan tekanan antisipasi yang tidak menyenangkan, seperti saat mengetahui kau mempunyai janji bertemu dengan dokter yang melibatkan suntik menyuntik.

Rukia akhirnya menelepon tepat sebelum makan malam. Ibu sedang memberikan sentuhan akhir pada hidangan andalannya. Tetapi ketika telepon berdering, Ibuku langsung menegaskan untuk tidak usah khawatir soal makanannya, tidak akan busuk.

"Aku mulai berpikir, ibumu tidak menyampaikan pesanku," cerocosku saat mengangkat telepon.

"Tidak, dia tidak akan melakukan itu," sahut Rukia di seberang sana.

"Jadi, bagaimana pelajaran biolanya kemarin?" aku membuka pertanyaan, sedikit basa basi.

"Itu dia, Ichigo. Kamu enggak akan percaya, sangat MENAKJUBKAN!" serunya.

"Benarkah? Kamu memainkan biolamu?"

"Tidak, seperti biasa, satu not pun tidak. Bukan itu, aku duduk bersama Nyonya Shihouin dan biolaku, tidak melakukan apa pun seperti biasa. Bedanya, aku mampir ke Dunkin' Donuts dalam perjalanan, dan membeli es kopi yang setengah liter itu. Jadi, sekitar empat puluh menit setelah pelajaran berlangsung, aku benar-benar kebelet."

"Oke," kataku. Berpikir bahwa berita ini kedengarannya tidak cocok dibeli dengan kata sifat 'menakjubkan'.

"Karena masalahnya, aku belum pernah ke kamar mandi Nyonya Shihouin," tukasnya.

"Oh, begitu," cetusku, walaupun sama sekali tidak tahu ke mana arah cerita Rukia.

"Jadi, ada banyak foto digantung di lorong," Rukia melanjutkan. "Penerangannya remang-remang, tapi aku punya banyak waktu. Jadi setelah keluar dari kamar mandi, aku berdiri dulu di sana, menunggu mataku membiasakan diri dengan cahaya remang-remang. Dan begitu sudah terbiasa, aku bisa melihat foto-foto itu."

"Apakah fotonya porno?" tanyaku diselingi tawa jahil. Dan tiba-tiba mendapat gambaran kocak tentang Rukia sebagai gadis model poster yang sudah tobat.

"Ih, bukan!" seru Rukia terdengar kesal. "Coba dengar ini, Tuan Jeruk, itu semua foto para musisi. Dari yang terbaru, sampai ke yang jaman dulu. Dan aku sedang melihat bagian foto lama, saat mengenali wajah sangat familier seseorang yang sedang memegang flute!"

"Maksudmu bukan Shirayuki, kan?"

"Memang dia. Ada sekitar empat atau lima foto, gitu. Dan bukan hanya itu, ada juga foto-foto Nyonya Shihouin dan Shirayuki sedang bermain BERSAMA!"

"Tapi, Shirayuki meninggal hampir empat puluh tahun yang lalu. Itu mustahil, Rukia," kataku, pada saat bersamaan aku berharap itu tidak mustahil—bahwa Nyonya Shihouin adalah rantai penghubung kepada Shirayuki.

"Tapi itu TIDAK mustahil, wahai dikau yang tidak pandai matematika!"

"Tolong ulangi?"

"Kita anggap saja Nyonya Shihouin berusia akhir dua puluhan saat Shirayuki meninggal. Paling-paling lebih kurang beberapa tahun. Artinya sekarang dia berusia pertengahan tujuh puluhan. Ada berita penting untukmu, Tuan Jeruk, manusia bisa hidup selama itu, dan kita tidak butuh matematika, kok. Karena aku menemui Nyonya Shihouin lagi hari ini. Ia agak sedikit terkejut melihat aku tidak membawa biola, tapi ia tetap menyilakanku masuk, dan menyuguhkan es limun. Setelah beberapa lama aku mengatasi kegugupanku, aku langsung saja bertanya tentang foto-foto itu. Aku bilang aku pernah melihat foto Shirayuki di buku tahunan lama, dan mengenali gadis itu di sebagian fotonya. Dan aku agak mendesaknya untuk bercerita. Kau enggak akan percaya apa yang kutemukan."

Benakku berpacu saat aku mencoba menebak-nebak.

"Ichigo, kau masih di sana?"

"Ah, ya, tentu. Aku sedang mengirim informasi terbaru ini ke otakku."

"Nyonya Shihouin adalah guru flute Shirayuki," Rukia memberitahu. "Di sekolah kita."

"Dia mengajar semuanya, dan rupanya sudah begitu sejak dulu. Aku tahu dia mengajar biola, dan flute juga. Aku pernah bilang kalau dia sendiri adalah seorang virtuoso biola. Dia menggelar konser-konser besar di jaman dahulu. Kembali ke topik, dia mengatakan Shirayuki adalah salah satu pemain flute paling berbakat yang pernah dia dengar. Jadi, aku tanya apa yang terjadi pada Shirayuki. Ia terdiam untuk waktu yang lama, dan kupikir mungkin aku sudah terlalu banyak bertanya. Tapi, kemudian ia mengatakan bahwa Shirayuki sakit parah, dan meninggal, sebuah pukulan yang sangat menyakitkan. Dia juga mengatakan hal lain, bahwa tiba-tiba gak ada yang tersisa dari Shirayuki selain beasiswa atas namanya."

"Beasiswa musik?" tanyaku.

"Ya," sahut Rukia.

"Oke, coba kita pikirkan baik-baik," kataku. Perutku mulai bergemuruh, tapi sekarang bukan saatnya memikirkan makan malam. "Nyonya Shihouin adalah guru Shirayuki. Lalu Shirayuki sakit, mungkin terserang meningitis. Shirayuki adalah musisi yang sangat berbakat, menurut Nyonya Shihouin, yang tentunya paham. Lalu ada semacam beasiswa musik yang dimulai setelah Shirayuki meninggal. Tapi, bagaimana semua ini menjelaskan bagaimana Shirayuki masih berkeliaran di sekolah, tepatnya lebih dari empat puluh tahun setelah teman-temannya lulus?"

"Hei, aku hanya mantan pemain biola cilik, kau ingat? Kau lah yang medium, Tuan Jeruk."

"Terima kasih, Rukia, sudah diingatkan," aku memutar bola mata.

"Kau sudah bicara pada ibumu soal itu?"

"Ya, sebenarnya sudah."

"Lalu?"

"Dia bilang kalau aku… yah, kau tahu."

"Aku tahu? Pura-pura saja aku enggak tahu," ujar Rukia.

"Melakukan semacam pemanggilan arwah. Aku harus mempersiapkan diri dengan segala hal yang bisa kucari tahu tentang Shirayuki, lalu melakukan percobaan komunikasi yang terencana. Dan kata ibuku, waktu terbaik untuk melakukannya adalah, tepat sebelum fajar."

"Wow," Rukia terlihat takjub.

"Iya. Dan masalahnya, aku tidak tahu cara melakukannya."

"Kau bisa belajar sambil jalan," Rukia memberi saran yang sangat membantu.

"Yeah, lucu sekali, Violinist Cantik. Tapi, aku bukan hanya bicara tentang pemanggilan arwah. Aku bicara tentang peluangku untuk masuk ke perpustakaan sebelum fajar. Perpustakaan tetap buka setelah sekolah usai, tapi cuma sampai pukul enam. Hari Sabtu buka sebulan sekali, tapi setelah pukul delapan pagi. Jadi, bagaimana menurutmu? Aku harus menerobos masuk?"

"Yah, kau bisa melakukan itu," ujar Rukia, terdengar sangat ceria untuk seseorang yang menyarankan agar, dia dan teman satu-satunya melakukan perbuatan yang mungkin termasuk tindak pidana di negara bagian ini. "Atau, kau bisa mencari kenalanmu, seseorang yang, yah, mau membantumu. Yang untuk alasan sangat rumit termasuk ketiadaan lapisan kedap suara dalam gedung apartemen yang dibangun setelah awal tujuh puluhan, punya perjanjian khusus dengan penanggung jawab sekolah untuk memasuki ruang musik pagi-pagi sekali, supaya dia bisa duduk dan menatap biolanya tanpa mengganggu kedamaian siapa pun di sekitarnya. Melalui pintu yang kebetulan juga memberi akses ke perpustakaan."

"Kau punya kunci? Kau punya kunci untuk masuk ke sekolah?" tanyaku.

"Itu kurang lebih versi singkat dari perkataanku barusan."

"Kapan kau bisa menggunakannya?"

"Mereka tidak pernah benar-benar memastikan kapan aku bisa atau tidak bisa menggunakannya. Ini untuk berlatih biola."

"Maukah kau membantuku? Maukah kau memasukkanku dan membantu melakukan pemanggilan arwah?

"Akan kucoba," sahut Rukia. "Tapi aku tidak berani janji. Aku tidak akan seperti Senna dan melarikan diri. Tapi akan kucoba. Selama tidak ada serangga yang terlibat."

"Aku ingin melakukan ini sesegera mungkin. Sulit menjelaskannya, Rukia, tapi aku merasa Shirayuki mendesakku terus-terusan. Aku harus mengambil langkah selanjutnya, dan aku tidak mungkin menunda lagi. Tapi ibuku bilang, aku harus sudah punya semua informasi tentang Shirayuki yang bisa kudapatkan, untuk membantu mencari tahu apa kiranya yang menahan Shirayuki di sekolah itu. Satu-satunya tempat yang terpikir olehku yang mungkin menyimpan informasi itu adalah, arsip sejarah yang kau baca di situs web. Kalau kita melewatkan makan siang besok, kita bisa turun dan memeriksa arsip-arsip itu. Siapa tahu kita akan menemukan sesuatu yang berguna. Lalu, kita bisa melakukan pemanggilan arwah hari Selasa pagi, kalau kau benar-benar bisa memasukkan kita ke sekolah pagi-pagi sekali," jelasku panjang lebar.

"Apakah harus secepat ini?" tanya Rukia.

"Ya," tegasku. "Shirayuki tahu aku bisa melihatnya, dan dia sudah menamppakkan diri tiga kali di sekolah. Semua ini membuatku sedikit tertekan, Rukia. Sungguh, kau tidak bisa membayangkannya. Aku tidak terbiasa dengan hal ini. Aku harus mencari tahu apa yang menahan Shirayuki, dan memberi bantuan yang dia butuhkan agar keadaan bisa kembali normal. Aku nyaris belum mengerjakan apa pun untuk proyek biologi itu. Sudah cukup buruk aku bisa melihat hantu. Aku tidak mau sekolahku juga ikut berantakan."

Rukia terdengar seperti menghela nafas dari seberang sana. "Kalau begitu, aku rasa kita harus melewatkan makan siang besok."

Rasanya aku ingin mencium Rukia lewat sambungan telepon.


Sang pustakawan tampak kaget mendengar kami ingin mendatangi ruang arsip, seakan-akan baru sekali ini dia mendengar permintaan nekat semacam itu. Tetapi dia tidak mengajukan pertanyaan apa pun. Lalu ia memberikan kunci dan petunjuk arah ala kadarnya untuk pergi ke ruang bawah tanah.

Tempat itu tidak berdebu, atau lembap, atau penuh sarang laba-laba seperti yang kupikirkan. Ada tangga semen yang mengarah ke pintu darurat, dan di belakangnya terdapat koridor remang-remang, tapi bersih dengan beberapa pintu. Salah satu pintu mengarah ke ketel uap, dan pintu lainnya mengarah ke ruangan yang menyimpan saklar pemutus tenaga untuk perpustakaan. Kedua pintu tersebut bertanda merah, yang menandakan hanya boleh dimasuki petugas berwenang. Pintu ketiga dilengkapi dengan papan nama hitam putih yang bertuliskan ARSIP SEJARAH.

Bagian dalamnya hanya berupa ruangan kecil dengan rak arsip yang menempati tiga dari empat sisi dinding. Di bawah rak-rak itu, terdapat sebuah meja yang berfungsi sebagai meja kerja kecil. Ada tiga kursi plastik, dan sejumlah lampu neon panjang berkedip-kedip di atas kepala.

"Apa tepatnya yang kita cari?" tanya Rukia. Aku mengambil daftar referensi darinya, dan duduk di salah satu kursi orange. Tepatnya seluruh kursi di sini bewarna orange.

"Aku tidak tahu," kataku, mempelajari daftar tersebut. Panjangnya tiga halaman, dengan huruf yang kecil, sehingga aku harus memicingkan mata. "Aku berharap akan tahu saat melihatnya."

"Apakah ada berkas yang berhubungan dengan program musik?"

"Aku tidak melihat satu pun. Tidak ada tentang beasiswa, tidak ada tentang musik."

"Coba kulihat," sahut Rukia.

Aku menyerahkan daftar itu dengan tidak sabar. Bagaimana aku bisa membantu Shirayuki? Bagaimana aku bisa menyisihkan dia dari hidupku, kalau aku tidak tahu apa yang ia butuhkan?

"Ini ada arsip tentang pembangunan Sayap Musik," ujar Rukia.

"Kita tidak perlu tahu tentang pembangunan. Lagipula, bagaimana itu bisa membantu kita?"

"Yah, satu-satunya arsip dalam daftar panjang ini yang mengandung kata musik. Tidak ada salahnya kita pelajari."

Rukia memeriksa rak, lalu memilih sebuah kotak arsip bewarna coklat, dan menariknya keluar. Dia meletakkannya di meja, dan mengeluarkan setumpuk kertas. Aku mengambil sebagian dari tumpukan teratas dan mulai mempelajarinya.

"Semuanya tentang peresmian gedung, pembukaan sayap musik baru, bla bla bla. Siaran pers. Guntingan surat kabar."

"Mereka membangun aula olahraga, auditorium, dan sayap musik baru tahun sembilan belas tujuh puluh," Rukia membaca dari semua arsip yang dia temukan. "Sudah tidak baru lagi sekarang."

"Selama ini tidak…," aku terdiam. Sesuatu dalam salah satu guntingan surat kabar telah menarik perhatianku.

"Tunggu, coba dengar ini," kataku. "Di lokasi ruang musik yang asli, dua dinding luar diruntuhkan, dan tempat tersebut diperluas untuk menampung perpustakaan yang sekarang."

"Sekarangnya mereka, atau sekarangnya kita?" tanya Rukia.

"Dua-duanya kurasa. Rukia, mengertikah kau? Intinya, tempat yang saat ini menjadi bagian dari perpustakaan dulunya merupakan ruang musik. Itu bisa menjadi mata rantai menuju Shirayuki yang kita cari. Tapi, masih tidak menjelaskan kenapa mata rantai itu tetap bertahan setelah dia meninggal. Apa yang mencegah Shirayuki pergi ke dunia selanjutnya?"

Rukia mengangkat bahu, lalu tiba-tiba berkata, "aku pernah menonton dokumenter di History Channel tentang hotel yang terbakar pada sembilan belas empat puluh, dan saat mereka membangunnya kembali, lantai yang baru tiga puluh senti lebih tinggi dibandingkan lantai aslinya. Dan kadang-kadang orang melihat hantu berjalan-jalan di koridor, dengan bagian lutut ke bawah terbenam di lantai."

Aku memeriksa kertas-kertas lainnya, sementara Rukia bercerita. Tetapi tidak ada yang menarik perhatianku.

"Mengertikah kau, Ichigo? Hantu-hantu itu berjalan di lantai yang ASLI. Makanya kaki mereka kelihatan seperti terpotong di bagian lutut. Karena lantai baru—"

"Rukia, periksa kotak itu, dan lihat apakah ada yang tertinggal di dalamnya," suruhku cepat-cepat.

"Tapi, mengertikah kau? Hantu-hantu itu masih berjalan di rancangan gedung yang lama, yang—"

Aku mengulurkan tangan, dan segera menyambar kotak arsip itu.

"Iya, aku mengerti, Rukia." Kemudian aku membalik kotak itu di atas kepalaku, dan mengguncang-guncangnya. Amplop kecil seukuran dokumen standar, melayang melewatiku, dan mendarat dengan rapi di pangkuan Rukia.

"Hei," serunya. Tetapi ia tidak memungut amplop itu, jadi aku mengulurkan tangan dan mengambilnya. Amplop itu tipis, dan saat kubuka, hanya ada selembar kertas di dalamnya. Aku mengeluarkannya dengan hati-hati, karena kertas itu sudah tua, dan menguning.

Ketika membaca tulisan yang tercetak di bagian atas kertas, aku mengeluarkan siulan pelan.

"Beasiswa Musik Mengenang Shirayuki Shihouin," aku membaca.

"Shihouin?" Rukia mengulangi.

"Ini kelihatannya seperti pedoman dan persyaratan untuk mengatur dana beasiwa. Seorang hakin pengesah yang dipilih untuk dewan sekolah… jadwal audisi tahunan… lalu ada daftar nama para penerima. Tapi hanya ada satu nama pemenang yang terdaftar untuk tahun sembilan belas enam puluh satu. Mana pemenang tahun enam puluh dua? Mana penerima beasiswa yang lainnya?"

"Mungkin mereka membuat arsip baru setiap tahun," ujar Rukia.

"Yah, tidak ada catatan tentang arsip semacam itu dalam daftar referensi. Kelihatannya berhenti begitu saja di tahun enam puluh satu."

"Ichigo, mereka pasti berkerabat," kata Rukia.

"Siapa?"

Ia menunjuk judul dokumen yang barusan kubaca keras-keras.

"Shirayuki Shihouin. Sesering apa kau mendengar nama itu? Ini pasti bukan kebetulan. Kelihatannya mereka tidak mungkin kakak beradik, karena umurnya yang beda jauh. Mungkin dia bibi Shirayuki. Atau nenek? Entah bagaimana, beasiswa Shirayuki dan Nyonya Shihouin saling berhubungan. Dan mengapa Nyonya Shihouin tidak pernah memberitahu?"

Aku mengumpulkan kertas-kertas dan mengembalikannya ke dalam kotak arsip.

"Kita tanyakan pada Shirayuki."

"Tanyakan pada dia?"

Aku menarik napas panjang.

"Kita punya pemanggilan arwah."

~TO BE CONTINUED~


Review reply:

Pertama dari nenk rukiakate, hehe, okelah gak apa-apa. Makasih banyak udah Review ya~! ^^

Kedua dari BlackRed, yah enggak lah =.=" baca aja nanti. Sip, makasih Reviewnya~! ^^

Ketiga dari Shana love IchiRuki, waah, makasih ya buat pujiannya Shizu terharu T.T. Huhuhu, maaf saia gak update kilat. Yosh, makasih buat dukungan dan Reviewnya~! ^^

Keempat dari Poppyholic Uki, hehe, gak apa-apa, tapi saia minta maaf kalo updatenya gak kilat sesuai yang Uki minta. Makasih banyak buat Reviewnya ya~! ^^

Yah, gak banyak yang mau Shizu omongin lagi, karena Shizu juga gak tau mau ngomong apa, ehehe. Review lagi ya, siapa tau ada yang kurang dari cerita ini. Jadi, sampai bertemu lagi di chapter selanjutnya!