~Medium~

~Genre: Supernatural, Friendship~

~Chara: Kurosaki Ichigo and Kuchiki Rukia~

~Disclaimer: Tite Kubo~


Aku terbangun jauh sebelum alarmku menyala pukul empat pagi keesokan harinya. Ibu tidak senang membiarkanku pergi saat hari masih gelap, tetapi kami membuat kompromi dengan menyepakati bahwa, dia akan mengantarku ke sekolah yang hanya berjarak beberapa blok. Rukia sudah menunggu di luar pintu ke ruang-ruang latihan musik yang
terletak di ujung lorong berseberangan dengan perpustakaan. Rukia masih membawa biola itu di punggungnya,
agar punya alasan untuk berada di sana, karena dia memberitahu ibunya kalau ia hendak berlatih.

Ada sesuatu yang menakutkan tentang gedung sekolah setelah hari gelap, atau dalam hal ini, tetapi setelah fajar. Semuanya sama, persis seperti ketika kau meninggalkannya seusai bel terakhir di sore sebelumnya. Tidak ada yang dipindahkan, atau dicat ulang, atau diubah. Satu-satunya yang terdengar hanya suara napasmu, dan suara sepatumu sendiri yang berdecit-decit menampar lantai. Rasanya seakan-akan kau memergoki gedung sekolah di tengah-tengah kehidupan yang lain, kehidupan gelapnya yang berlanjut sementara semua murid dan guru tidur di rumah.

Aku pernah menonton film horror, entah aku lupa apa judulnya. Yang pasti berkisahkan tentang sebuah mainan, yang kalau engkolnya diputar, akan ada sebuah badut yang melejit keluar dari box. Meskipun kotak itu memainkan lagu bernada riang juga badutnya yang memakai pakaian bewarna-warni, tapi setiap kali melihatnya, bahwa mainan itu adalah penjelmaan iblis. Oke, aku benci jika harus bercerita di tengah-tengah sekolah dengan suasana yang tidak mendukung seperti ini, tapi dengan menyesal pun kukatakan, itulah yang kurasakan saat berdiri di perpustakaan pada pagi hari yang gelap.

Rukia sebaliknya, ia malah tampak tidak gentar. Rukia yang secara rutin memeriksa makanannya dari ancaman racun biologis, Rukia yang tidak bisa melihat tawon besar di ujung sana tanpa tersentak, Rukia yang, ternyata baru kuketahui akhir-akhir ini, mengagumi Vanessa Mae sebagai idola bermain biolanya, Rukia yang seperti itu kelihatannya tidak khawatir bahwa kami mungkin telah salah memasuki gerbang neraka, tempat keturunan para iblis saat ini yang mungkin sudah menunggu untuk menyergap kami dari belakang jajaran rak buku.

"Jadi, apa yang kita lakukan di sini?" tanya Rukia. Sosok gelap tubuh mungilnya membuat Rukia terlihat seperti boneka berjalan dalam cahaya remang-remang. "Apakah kita harus duduk di meja tempat pertama kali bertemu Shirayuki? Apa ada aturannya? Apakah kau membawa semacam bola kristal? Aku rasa kita harus merapal mantra, betul tidak? Aduh, aku tadi makan sebelum meninggalkan rumah! Apakah kita seharusnya puasa dua puluh empat jam?"

Aku menatap temanku.

"Buku apa sih yang kaubaca?" aku menyergah. "Berdialog dengan Arwah untuk Pemula? Dari mana kau mendapatkan semua itu?"

Rukia tampak malu, ia menggaruk pipinya. "Aku tidak baca apa-apa. Mungkin… mungkin karena aku menonton film sedikit tadi malam."

Aku menghela napas. "Ayolah, Rukia. Ini bukan Sci-Fi Channel, ini hidupku."

Aku tiba-tiba dilanda perasaan itu lagi. Perasaan tak terjelaskan yang mungkin dalam bahasa lain, ada tiga puluh kata untuk menggambarkannya, tetapi tidak ada satu pun kata bahasa Inggris yang mampu untuk menjelaskan jantungku yang mulai berdebar. Darah yang mengalir deras ke wajahku dan tangan yang di luar kemauanku mulai bergerak ke depan. Entah untuk mengambil, menangkap, atau mengusir apa di sana, aku tidak yakin yang mana. Udara bermuatan listrik, seperti yang kaurasakan saat berjalan di dekat air terjun. Kesunyian kian pekat, seolah sanggup menghisap seluruh kegelapan dari dalam ruangan.

Aku merasakan sentakan kesakitan di tangan kananku yang bersumber di siku. Lirikan singkat menunjukkan penyebab rasa sakit itu adalah empat jari Rukia yang dia benamkan di tanganku, seakan-akan nyawanya bergantung di situ.

"Sakit," bisikku.

"Kau dengar itu?" dia balas berbisik.

Aku mendengarnya begitu Rukia mengatakannya. Melodi samaran bernada tinggi, murni, dan terdengar menenangkan.

"Itu lagu Holy Night. Yang biasanya dinyanyikan saat Natal. Aku tahu lagunya, aku pernah memainkannya dengan biola."

Bahkan telingaku yang amatiran musik ini pun bisa mengenali bahwa, instrumen yang memainkan lagu itu adalah flute.

"Itu Shirayuki," gumamku pelan. Tetapi bagaimana Rukia bisa mendengarnya?

Suara itu mendadak berhenti saat aku mengatakannya.

"Apa yang dia ingin kita lakukan?" tanya Rukia, suaranya hampir bercampur dengan angin sepoi-sepoi di dalam perpustakaan ini.

"Ayo, kita ke meja belakang. Aku dua kali melihat Shirayuki di situ."

Kami berjalan dengan sangat hati-hati menyusuri perpustakaan, Rukia masih menempel di lenganku, dan aku cukup senang jika ia menempel seperti itu di dekatku. Cahaya merah muda mulai bersinar di luar, tetapi di dalam sini masih sangat gelap. Di satu tempat di dekat rak majalah, sesuatu berdesir. Lebih banyak cahaya yang menyusup masuk dari jendela sekarang, dan aku bisa melihat sosok gelap tanpa bentuk berdiri beberapa meter dari kami.

"Shirayuki?" aku memanggil, masih dengan berbisik. Tetapi sosok yang kulihat itu, sosok hitam bergumpal yang sepertinya melayang beberapa kaki di udara, tidak memiliki tubuh kurus seperti Shirayuki yang familier. Perasaan ngeri menjalari leherku. Aku tidak ingin memberitahu Rukia bahwa ada sesuatu yang salah. Keegoisanku khawatir kalau dia akan berlari, dan meninggalkanku sendirian di sini. Aku merasa kami sebaiknya pergi sekarang juga, lari dari gedung ini sebelum sosok gelap tanpa bentuk itu datang mendekat. Melihat kami. Tahu siapa kami.

Bunyi desiran lagi, seperti pasir yang disapu oleh ombak. Rukia mengeluarkan suara rengekan pelan di lehernya. Sosok gelap itu masih tidak bergeming—hanya melayang di sana seperti kantong tinju yang menggantung dari langit-langit. Di sekelilingnya, benda-benda tampak terdistorsi, seakan-akan sosok itu menghisap seluruh cahaya.

"Shirayuki," aku memanggil lagi. Aku tidak malu mengatakannya—saat ini aku benar-benar ketakutan.

"Ichigo, rasanya ada yang salah. Atau ini memang perasaanku saja?" bisik Rukia. Ia pantas dapat hadiah—tebakannya tepat. Aku sudah bersiap-siap menyambar lengan Rukia dan kabur dari tempat ini, ketika aku mendengar suara. Sesuatu yang lain. Sesuatu yang kukenali. Suara Shirayuki Shihouin, datang dari suatu tempat di belakangku.

"Kenapa?" suara itu setengah berbisik, setengah mendesah.

Kuku-kuku jemari Rukia semakin menusuk tanganku lagi. Rasanya seperti menancap sampai ke tulang. Aku sedikit meringis dengan mengernyitkan dahi, tetapi aku sebenarnya cukup senang dengan rasa sakit itu, karena membantuku untuk fokus.

"Shirayuki, kami datang untuk membantumu. Katakan apa yang kaubutuhkan," aku berbicara.

"Kenapa?" suara itu terdengar lagi.

"Untuk membantumu pergi. Ada sesuatu yang menahanmu di sini. Beritahu kami apa yang menahanmu di sini, dan kami akan membantumu untuk pergi."

"Kenapa kau berhenti?" tanya suara itu.

"Aku tidak berhenti. Aku ada di sini. Bisakah kau segera memberitahu apa yang mencegahmu pergi?" aku semakin mendesaknya.

Terjadi kesunyian yang panjang. Aku berdeham dan Rukia terlonjak.

"Shirayuki?" aku mengisi keheningan dengan memanggilnya lagi.

"Ada penderitaan. Ada rasa bersalah. Kenapa dia berhenti?"

"Aku tidak mengerti. Penderitaan siapa? Kenapa siapa memberhentikan apa?" tanyaku frustrasi. Dan, kenapa aku tidak bisa melihat Shirayuki di mana pun? Aku harus menguatkan diri dan mencari tahu cara untuk membantu Shirayuki. Tetapi, rasa ngeri di leherku semakin bergetar, karena suara Shirayuki tidak berasal dari gumpalan gelap yang seperti sarung tinju itu. Makhluk apa pun itu, dia jelas sesuatu yang sama sekali berbeda dengan yang pernah kulihat selama ini. Jantungku berdentam di dalam, seperti ditekan dari belakang. Arwah Shirayuki berbicara kepadaku, tetapi ada juga sesuatu yang berada di perpustakan ini bersama Rukia dan aku. Sesuatu yang jahat.

"Dia tidak bisa disalahkan," bisik Shirayuki. Suaranya terdengar terkuras, seakan-akan dia mengerahkan seluruh energinya untuk berbicara kepadaku. "Jika dia bisa mendengarku, mungkin dia mengerti. Bawa dia, jika bisa kaulakukan. Tapi kenapa? Kenapa dia berhenti?"

"Omongannya tidak masuk akal," aku berbisik pada Rukia. "Dia terus membicarakan tentang penderitaan seseorang, lalu bertanya kenapa orang itu berhenti."

"Aku juga tidak paham," tukas Rukia, suaranya dekat di telingaku.

"Katakan padanya, bahwa berhenti berarti mati," suara itu berbicara lagi. Shirayuki kedengarannya seperti mulai memudar.

"Shirayuki, tolong jelaskan! Aku tidak mengerti apa yang kau minta dariku!" aku membentak. Tiba-tiba terdengar suara listrik, dengungan seperti suara telepon yang rusak.

"Bawa dia kalau kau bisa. Dia akan mendengar. Tapi dia harus mengerti apa artinya berhenti selamanya."

Bagaimana aku bisa menjelaskan kepada 'dia' yang dimaksud Shirayuki, kalau aku sendiri pun tidak mengerti maksudnya? Lalu suaranya menghilang, seakan-akan ada yang menekan tombol POWER di TV. Di seberang ruangan, beberapa lampu langit-langit berkedip menyala, lalu mati lagi. Aku bisa merasakannya di perutku—Shirayuki telah pergi lagi, dan komunikasi dengannya pun berakhir.

Namun, sosok gelap tanpa bentuk itu masih menggantung di depan meja kami. Aku mendengar dengungan lagi, tapi kali ini seperti suara ribuan lalat yang menyerbu benda busuk. Sesuatu yang jauh melampaui kekuatanku untuk menghadapinya, sesuatu yang tidak menginginkan hal sederhana seperti komunikasi.

"Ichigo…."

Aku bahkan tidak mau repot-repot untuk menyahut. Aku menyambar lengan Rukia dan menyeretnya dari kursi, dan berlari kencang ke arah pintu. Rukia pun tidak butuh dipaksa—ia langsung mengembalikan keseimbangan tubuhnya, dan keluar mendahuluiku. Kami berlari seperti sepasang rusa yang ketakutan, melesat sepanjang lorong, dan keluar dari pintu yang mengarah ke tempat parkir. Kini langit bewarna merah muda dan keemasan dalam cahaya mentari yang baru saja terbit.

Kami terus berlari, hanya untuk berada di wilayah aman. Kami tidak berhenti sampai sudah menyeberangi tempat parkir, dan melompati pagar kelompok bermain di sekolah kami. Aku meluncur hingga berhenti di tempat bermain anak-anak, papan-papan perosotannya masih basah oleh embun. Rukia membungkuk di kotak pasir di dekat situ.

Rukia tersengal-sengal, keringat mengalir dari setiap pori-pori di kulitnya.

"Tenang Rukia. Kita sudah aman sekarang," aku mencoba untuk menenangkannya dengan cara memeluk tubuh mungilnya, dan membenamkan wajahku di atas kepalanya.

"Aku merasa mual. Aku merasakan sesuatu yang jahat di dalam sana tadi. Biolaku! Masih di dalam. Apa sebenarnya yang terjadi barusan?" Rukia menceracau di sela napas yang tersengal. Perkataannya tidak teratur.

Aku menggelengkan kepala. Aku tidak akan pura-pura tahu kalau memang tidak tahu. Kalau pemanggilan arwah selalu seperti ini, aku tidak yakin aku akan sanggup. Tetapi, aku punya firasat ini bukan pemanggilan arwah yang biasa. Ada makhluk lain di perpustakaan yang mencoba mencegah Shirayuki untuk berkomunikasi. Makhluk yang menghisap energi secepat Shirayuki mengumpulkannya. Apakah Rukia juga merasakannya?

Rukia menatapku dari kotak pasir, tetapi dia tidak bergerak. Duduk di pasir sambil memegangi sekop kecil, ia terlihat seperti anak berumur enam tahun. Pasti lucu seandainya bukan karena persentuhan mengerikan dengan makhluk jahat tadi. Seekor kupu-kupu putih terbang tanpa dosa melewati kepala Rukia. Ia melompat dan memekik, memukul kupu-kupu yang tidak tahu apa-apa itu dengan sekop kecilnya. Untunglah, dalam kengeriannya, bidikan Rukia kacau balau.

"Rukia, tarik napas. Ayolah, itu hanya seekor kupu-kupu!" seruku.

Rukia bergidik pelan, dan mengedarkan pandangan, seolah-olah akan ada ribuan kupu-kupu yang menyerbunya dari belakang. Dan menggerogoti isi kepalanya.

"Kau bilang kau mendengar musik," kataku.

Rukia mengangguk. "Waktu kita berjalan masuk. Lagu itu. Jelas aku mengenalnya, Holy Night. Hanya saja dimainkan dengan flute."

"Tapi, kau tidak mendengar Shirayuki berbicara?"

Rukia menggeleng.

"Musiknya berhenti saat kita tiba di meja. Ada sesuatu yang berbau tidak enak. Masam. Tapi, aku tidak mendengar apa-apa lagi. Apa yang dikatakan Shirayuki?"

"Shirayuki mengatakan, ada penderitaan, dan rasa bersalah yang menahannya di sini. Dan jika kita membawa 'dia' ke sini, dia akan bisa mendengar, dan dia akan mengerti. Shirayuki menggunakan kata ganti perempuan. Aku rasa yang dia maksud adalah Nyonya Shihouin. Tapi, kemudian ia terus-terusan bertanya, mengapa dia berhenti, dan itu tidak masuk akal. Lalu pada satu titik, ia mengatakan sesuatu seperti, 'berhenti berarti mati'. Tunggu sebentar, tadi kau mendengar Shirayuki bermain, tapi tidak bisa mendengarnya berbicara?"

Rukia mengangguk lagi. Kelihatannya terlalu sulit baginya untuk berbicara.

"Dan kau tidak melihat… kau tidak pernah melihat Shirayuki seperti aku melihatnya? Sama sekali, sampai kau mendengar Shirayuki bermain?" aku mendesak.

"Aku tidak tahu apa yang kudengar. Yang jelas aku mendengar lagu yang dimainkan oleh flute itu."

"Kau mendengar Shirayuki bermain," aku meralatnya.

"Tapi aku bukan medium! Mana mungkin aku bisa mendengarnya bermain?"

"Ibuku bilang, medium adalah orang-orang yang sirkuit tubuhnya luar biasa sensitif terhadap frekuensi cahaya dan energi yang berbeda. Mungkin seorang musisi dirancang untuk sangat sensitif terhadap musik. Kau mendengar permainan Shirayuki, karena musik adalah bakatmu."

Rukia tampak merenungkan hal itu. Aku menyentuh pundaknya.

"Rukia, mungkin bukan cuma karena aku Shirayuki muncul dan berusaha untuk berkomunikasi. Mungkin dia merasakan bakat musikmu. Mungkin dia menjangkau kita berdua. Aku karena sensitif terhadap arwah, dan kau karena musik."

Rukia mengangguk lagi.

"Rukia, menurutmu kenapa Shirayuki terus-terusan menyuruhku untuk tidak membiarkan Nyonya Shihouin berhenti? Aku bahkan tidak mengenalnya."

Rukia menekuri tangannya lama sekali. "Menurutku Shirayuki tidak berbicara tentang Nyonya Shihouin yang berhenti, Ichigo," dia berkata beberapa saat kemudian.

"Lalu?"

"Mungkin dia berbicara tentang aku."


Kami sudah pindah ke kantin ketika aroma program sarapan sebelum sekolah berembus ke kotak pasir. Rukia dan aku duduk berdua di meja kerumunan kurang populer kami yang biasa, tapi untuk kali ini biola Rukia tidak bersama kami. Rukia begitu trauma oleh dialog dini hari kami dengan arwah, sehingga dia tidak mau kembali ke perpustakaan untuk mengambil alat musiknya. Tidak sampai pustakawan dan beberapa anggota Klub Komputer ada di sana, lampu-lampu menyala, dan matahari sudah lebih tinggi di langit. Dia sepertinya tidak khawatir sesuatu akan terjadi pada biolanya. Dia bersikeras bahwa tidak ada orang waras di bawah usia empat puluh tahun akan peduli pada biola tua.

"Jadi menurutmu Shirayuki berbicara tentang dirimu yang berhenti bermain biola?" aku bertanya untuk yang kelima belas kalinya.

"Bukan berarti aku beranggapan semua ini tentang aku," ujar Rukia, menusuk segumpal telur orak-arik yang lolos dari garpunya sebelum sempat masuk ke mulut. "Hanya bagian saat Shirayuki mengatakan 'Kenapa dia berhenti'."

"Kenapa?"

"Sesuatu yang pernah dikatakan Nyonya Shihouin ketika aku pertama kali diperkenalkan kepadanya. Mungkin itu malah pelajaran pertamaku dengannya. Pertanyaan pertamanya, tanpa didului basa-basi, adalah, "kenapa kau berhenti?" Aku tidak menjawab. Dan seperti yang kubilang padamu, aku tidak memainkan apa pun. Aku hanya duduk di sana. Aku terus menunggu diceramahi, atau diminta pergi, tapi dia menerimanya begitu saja bahwa aku tidak bermain. Dia tidak mengomeliku, atau apa. Tetapi dia mengatakan satu hal lagi kepadaku hari itu. Dia mengatakan sesuatu seperti, "Kita bisa melakukan ini untuk sementara, Nona Rukia, tapi jangan menghapus masa depanmu. Bagi sebagian orang berhenti berarti mati." Sesuatu semacam itulah. Sama seperti ucapan Shirayuki yang kau dengar. Makanya aku berpikir kalau Shirayuki berbicara tentang aku."

Aku mengupas kulit jeruk. Dan merenungkan informasi tersebut.

"Baiklah. Kita berangkat dari situ. Shirayuki entah bagaimana tahu bahwa kau sudah berhenti bermain. Dan kenyataan itu sangat berarti baginya. Kita juga tahu kalau kerabat Shirayuki, Nyonya Shihouin, sekarang mengkhususkan diri mengajar murid-murid."

"Benar," kata Rukia.

"Nah, bagaimana kalau ALASAN Nyonya Shihouin melakukan itu adalah karena Shirayuki sendiri berhenti bermain?"

"Aku rasa itu mungkin."

"Kalau begitu pertanyaannya adalah, kenapa Shirayuki sampai berhenti bermain?"

"Maaf, bukan maksudku kurang ajar, atau apa, tapi itu sudah jelas, bukan? Karena ia meninggal."

"Kau bercanda, ya?"

"Aku sangat serius. Foto yang kita lihat di buku tahunan itu, mungkin diambil tidak terlalu lama sebelum Shirayuki jatuh sakit. Dan dia sedang BERMAIN. Tidak terlalu terlihat mentok, atau terserang demam panggung, atau apa. Aku pikir masalahnya adalah Shirayuki jatuh sakit. Sakit parah. Terlalu sakit untuk diselamatkan," Rukia masih sibuk dengan telur orak-ariknya.

"Apa nama penyakit yang kita pikir menyebabkan Shirayuki meninggal?"

"Meningitis," jawab Rukia.

"Dan itu semacam penyakit yang sangat menular?"

"Ya."

"Aku masih belum memahami gambar besarnya. Shirayuki mengatakan sesuatu jika kita bisa membawa Nyonya Shihouin kemari, dia akan mengerti."

"Akan susah banget," kata Rukia, menjatuhkan segarpu telur lagi. Dia melontarkan suara kesal, dan ganti memakai sendok.

"Susah banget?"

"Membawa Nyonya Shihouin kemari. Dia hampir tidak pernah keluar rumah, dan pergi ke mana-mana. Salah seorang muridnya selalu berbelanja bahan makanan untuknya."

"Kenapa?"

"Kau tahu, hal seperti itu tidak mungkin dibicarakan secara terbuka, Ichigo. Masa aku harus bilang, 'Oh Nyonya Shihouin, ngomong-ngomong, sementara kita duduk di sini dalam kesunyian dan enggak melakukan apa-apa, kenapa sih Anda tidak suka meninggalkan rumah?'"

"Kau bisa mencari cara yang lebih halus dan santai untuk menanyakannya," aku mulai melahap satu jeruk. "Sepertinya dia akan senang memulai topik pembicaraan baru."

Murid-murid mulai mengalir masuk ke kantin—yang datang pagi-pagi karena orang tua mereka harus mengantarkan mereka sebelum pukul delapan, dalam perjalanan ke tempat kerja, atau alasan-alasan rumit yang tidak menarik bagiku. Satu atau dua orang di antara mereka sepertinya menganggap Rukia dan aku menggelikan. Aku mengabaikan tawa mereka, dan hanya menganggapnya sebagai angin lalu.

"Tunggu sebentar," Rukia kelihatannya menemukan sesuatu. "Aku punya ide."

"Katakan," cetusku antusias.

"Menurutku tentang beasiswa musik itu, Ichigo."

"Beasiswa musik?"

"Beasiswa musik itu seperti memorial. Setidaknya beasiswa musik yang seperti ini. Baiklah. Shirayuki meninggal, bukan? Dia seorang musisi berbakat dan hidupnya berakhir sebelum dia menjadi musisi terkenal. Jadi, nenek atau bibi, atau apa pun posisi Nyonya Shihouin selain sebagai gurunya, menyediakan beasiswa musik untuk mengenang Shirayuki. Jadi, idenya adalah, setiap tahun sejumlah musisi muda akan mendapat bantuan, dan pada saaat bersamaan kenangan tentang Shirayuki akan dihormati, dan namanya akan selalu diingat orang."

"Cukup masuk akal," kataku, memukul-mukul jeruk itu seakan-akan bola pimpong. Beberapa Cewek Satelit dan Cowok Populer masuk ke kantin, dan menatap tepat ke arahku. Tiba-tiba saja mereka tertawa. Aku memeriksa pantulanku di termos perak Rukia yang mengkilap, tapi tidak melihat apa pun yang bisa menjadi bahan tertawaan.

"Tapi beasiswa itu tidak bertahan. Tidak ada murid yang terpilih untuk memenanginya setiap tahun. Atau kalaupun ada, sekarang sudah enggak lagi. Maksudku, itu kan seperti ada orang yang masuk ke pemakaman dan meruntuhkan batu nisanmu."

Otak Rukia pasti penuh dengan batu nisan, tetapi perkataannya lebih masuk akal dibandingkan teori apa pun yang bisa terpikir olehku.

"Yah, aku tahu ada dua hal yang mungkin bisa kita cari jawabannya. Aku akan mencari lebih banyak informasi tentang sejarah beasiswa musik itu, dan kapan mereka berhenti memberikannya kepada murid."

"Aku bisa mencari tahu soal itu," ujar Rukia, terdengar gusar. "Bagaimanapun aku seorang musisi. Yah, musisi tergelincir."

"Dan itu seharusnya membuatmu enggan untuk menanyakannya ke sana kemari. Bagaimana kalau tiba-tiba mereka memintamu ikut audisi?" kataku.

"Oh," cetus Rukia, wajahnya muram.

"Tapi, kau harus mencari tahu dari Nyonya Shihouin tentang apa yang terjadi pada Shirayuki."

"Entahlah," tukas Rukia. "Itu kelihatannya tugas yang cukup sulit. Tapi aku akan mencoba."

Masuk lagi dua Cewek Satelit. Cekikikan. Lalu dua pemain sepak bola masuk di belakang mereka, mengamati kami, juga terlihat geli.

"Baiklah," kataku tiba-tiba. "Pasti ada sesuatu yang terjadi."

"Aku rasa kita sudah memastikan soal itu," kata Rukia, memutar bola mata saat dia dengan sia-sia mengejar telur ke sekeliling piringnya dengan sendok.

"Bukan, maksudku se-ka-rang," aku menukas. Kelihatannya sikapku jadi paranoid begini. "Apakah pakaianku lengkap? Apakah aku terlihat normal bagimu?"

Karena situasi ini suasananya seperti di dalam mimpi, ketika kau mendapat dirimu di sekolah dalam balutan piama. Atau yang lebih parah, tanpa memakai busana apa-apa.

"Tentu saja!" sahut Rukia. "Sudahlah, lupakan saja telur konyol ini. Jatuh terus setiap kali aku mencoba untuk memakannya."

"Kita harus keluar dari sini," kataku tegas.

Rukia menatapku, wajahnya menunjukkan kekagetan dan kebingungan. Tetapi saat aku berdiri dia ikut berdiri.

"Lagipula sekarang mungkin sudah aman untuk kembali ke perpustakaan," katanya. "Harus mengambil biolaku sebelum seseorang menyeretnya ke bagian barang hilang."

Itu sih kecil kemungkinannya. Tetapi, yang penting aku lega bisa menjauh dari semua tatapan dan tawa mengejek orang-orang. Aku merasa lebih baik begitu kami berada di lorong. Aku menyusuri lorong dengan berjalan, dan Rukia kehabisan napas saat mencoba menjajariku.

Walaupun dibilang merasa lega, tetapi aku masih bisa mencium adanya masalah hari ini.

~TO BE CONTINUED~


Review reply:

Pertama dari Rukianonymous, haha iya. Tapi, anggap aja Yoruichi berwajah muda kayak di manganya *maksa*. Iya nih, dialognya panjang bukan maen. Shizu re-readnya lagi juga agak males, huehehe. Dan semoga gak ada typo kali ini. Oke, makasih Reviewnya~! ^^

Kedua dari Shana love IchiRuki, ehem, kalo untuk hubungan antara Yoruichi dan Shirayuki adalah *jeng, jeng, jeng* silakan dibaca di chapter selanjutnya! *Sengaja bikin penasaran* Hmm, kayaknya sih pacaran, tapi bisa juga cuma temen, huehehe. Sip, ini sudah diupdate. Terima kasih banyak Reviewnya~! ^^

Ketiga dari Poppyholic Uki, wah maafkan Shizu jikalau chapter sebelumnya itu kurang panjang. Semoga chapter kali ini cukup panjang. Kalo kurang lagi, silakan panjangin ya. *apa coba?* Terima kasih Reviewnya~! ^^

Keempat dari BlackRed, wahaha, itu dari novelnya juga udah ada, tapi gue ubah seenak jidat. Hmm, soal itu, silakan baca chapter selanjutnya! Makasih Reviewnya~! ^^

Kelima dari wu, wah gak apa-apa, gak terlalu ketinggalan jauh kan? Ehehe. Terima kasih sekali udah ngebet sama nih cerita dan terima kasih juga buat Reviewnya~! ^^

Keenam dari nenk rukiakate, iya, sebentar lagi akan terekspos *wuih bahasanya* Yap, ini sudah diupdate. Makasih Reviewnya ya~! ^^

Terakhir dari Aruri Fumiho, ehehe, makasih sudah memuji cerita ini. Yap, ini sudah diupdate. Sekali lagi makasih~! ^^

Oke, setelah sekian lama dilanda oleh ujian praktek, Shizu bisa juga nge-update ceritanya. Kayaknya sih bentar lagi bakal tamat, kira2 tiga chapter lagi, trus abis itu buat cerita baru lagi *maruk*. Ehem maap, karena akhir-akhir ini Shizu lagi demen buat cerita, entah kenapa, mungkin karena termotivasi oleh ceritanya Raditya Dika yang Shizu baca di blognya.

Weits, malah curcol. Okelah, gak banyak yang mau Shizu omongin lagi di sini. Mohon maap jika ada yang salah, typo berseliweran, karena Shizu juga manusia yang bentar lagi akan ditentukan lulus atow enggaknya *jadi kepikiran lagi* Mohon Reviewnya siapa tau ada yang salah di cerita ini, atow ada yang kurang, ehehe.

Dan sekali lagi terima kasih untuk semuanya, bagi yang udah ngereview, baca sampe abis, atow gak sengaja ngebuka cerita ini trus balik lagi. Sampai berjumpa di chapter selanjutnya~!