~Medium~

~Genre: Supernatural, Friendship~

~Chara: Kurosaki Ichigo and Kuchiki Rukia~

~Disclaimer: Tite Kubo~


Kami melewati lab biologi dan berbelok ke koridor tempat barisan loker kelas sepuluh berada. Nyaris seketika itu juga, aku diam terpaku.

"Apa yang kaulakukan?" tanya Rukia. Aku tidak menjawab—hanya berusaha menilai situasi dari kejauhan.

"Ichigo, apa yang kau... hei, apakah itu lokermu?"

Satu loker, tampak kesepian dan sedih dalam barisan panjang loker polos, dihias dengan meriah. Itu, seperti yang disimpulkan dengan begitu cerdas oleh Rukia, adalah loker-KU. Shiba Kaien yang terlihat geli sedang mengamati bagian luar loker.

Aku berjalan pelan ke lokerku saat Kaien berpaling, dan mulai berjalan ke arahku. Wajahnya menyunggingkan seringai ramah saat dia melihatku.

"Salam, wahai Kurosaki Ichigo yang agung," Kaien menyapa dengan misterius, sambil membungkuk sedikit saat berlalu melewatiku.

"Apa?" gumam Rukia.

Tetapi, sekarang kami sudah sampai di lokerku dan bisa melihatnya sendiri.

Loker itu dihiasi dengan tirai manik-manik, seperti gaya hippie tahun enam puluhan, tirai manik-manik yang modis. Serupa, harus kuakui, dengan beberapa tirai yang tergantung di rumahku sendiri. Untaian manik-manik membingkai poster bola kristal yang digambar dengan tangan, dan di belakangnya berdiri seorang cowok berambut oranye yang sama sekali tidak mirip denganku. Huruf-huruf besar di sekeliling gambar itu berbunyi;

Temui Kurosaki Ichigo yang bisa melihat segalanya. Semua akan terungkap dalam bola kristal dan ramalan kartu tarotnya. Kini hadir di pasar malam. Di stand sebelah wanita berwajah anjing. Hanya satu sen per ramalan.

"Kau pasti bercanda," semburku. "Dia bahkan tidak bisa mengeja kartu tarot dengan benar. Ya, ampun."

Rukia menatap poster buatan tangan itu dengan mulut melongo. "Siapa yang melakukan ini? Menurutmu ini perbuatan Inoue? Gara-gara masalah Panitia Dekorasi Dansa itu?" tanya Rukia.

"Bisa jadi. Tapi lebih mirip gaya Senna," kataku.

Aku menyambar poster itu dengan kasar dan tirai manik-manik ikut terbawa, salah satu talinya putus. Manik-manik plastik ungu dan biru menggelinding dengan liar ke sana kemari.

"Bagus," kataku sarkastis.

"Biar aku ambil," kata Rukia cepat-cepat. Dia menarik setumpuk untaian manik-manik dan poster dari tanganku, lalu berlari ke tong sampah terdekat tempat dia menjejalkan semuanya menjadi satu dalam kecepatan yang mengagumkan. Sambil berjalan ke tempatku dia mengumpulkan manik-manik dari lantai, seakan-akan dia pemetik blueberry kelas olimpiade.

"Aku memang benar-benar orang aneh," erangku saat Rukia memasukkan manik-manik itu ke saku seragamnya.

"Ichigo," sergah Rukia.

"Sungguh Rukia, aku seorang pecundang! Dan sekarang aku hanya menjadi bahan tertawaan, tidak bisakah aku lepas dari mereka dan menjadi seorang remaja yang normal?" seruku.

Rukia tiba-tiba memajukan tubuhnya dan menempelkan bibirnya ke bibirku. Matanya terkatup lembut, sedangkan kedua amber milikku masih membulat kaget dengan tindakan Rukia yang dilakukannya secara tiba-tiba seperti ini. Ya, dia menciumku. Menciumku dengan bibir lembutnya. Sesuatu yang belum pernah kulihat dilakukan Rukia. Sesuatu yang, sebenarnya, belum pernah kulihat dilakukan siapa pun.

"Jangan terlihat putus asa seperti itu di depanku."

Aku menatap Rukia dengan kaget. Pandangan mata violetnya mengatakan kalau ia mengkhawatirkanku, ia tidak mau melihatku tumbang hanya karena masalah remeh begini. Ia terlihat... mencintaiku.

"Dia datang kepadamu, Ichigo. KE-PA-DA-MU! Apakah itu karena kau Cowok Populer pandai berbaur, tanpa ciri khas yang biasa? Tidak. Itu karena kau istimewa. Karena kau memiliki bakat. Kita berdua memiliki bakat, Ichigo, yang tidak dimiliki banyak orang. Dan baiklah, itu memang memisahkan kita dari cowok-cowok cool dan cewek-cewek trendy. Itu membuat kita menjadi sasaran para pembenci. Itu harga yang harus kita bayar, dan jangan pernah mengatakan padaku kalau kau lebih suka menjadi seperti mereka, daripada mengikuti jati dirimu. Jati diri ibumu yang tertanam dalam dirimu juga. Jangan COBA-COBA mengatakan padaku bahwa kau mau mengorbankan segalanya hanya supaya sama dengan orang lain."

Dan entah karena Rukia menciumku, atau dari apa, aku benar-benar merasakannya. Ini nyata. Aku seorang medium. Aku bisa melihat arwah sama seperti Ibu, dan itu akan menjadi hidupku, hidup yang berbeda dari orang lain. Dan mungkin memang itu yang kuinginkan. Kesadaran tersebut dan kehadiran Rukia di sampingku sekarang, membuatku bertahan melewati hari yang panjang ini, saat semua orang memanggilku Kurosaki, dan menanyakan di mana bola kristalku. Meskipun merasa malu dan defensif dan terhina, aku hanya tertawa saat orang-orang meledekku, bersikap seakan mereka memberiku pujian. Senna yang paling berisik, tetapi hanya saat dia berada di tengah kerumunan Cewek Satelit. Dan meskipun dia terus menerus bicara dengan lantang, bahwa ini akan membuat Inoue tertawa, aku tidak pernah melihat Inoue tersenyum sedikit pun. Malah dia sepertinya mengabaikan Senna. Aku bertanya-tanya apakah mereka sedang bertengkar atau apa.

Belakangan, setelah pelajaran olahraga, aku tidak sengaja berpapasan dengan Senna saat kami lewat di koridor kelas. Saat melihat, atau tepatnya melirik ke wajahku, dia pasti akan tersentak seperti mengira aku adalah orang gila yang akan menyihirnya menjadi seekor katak buruk rupa. Betapa pun menyebalkannya Senna, aku masih merasa tidak enak karena melecehkan bakatku seperti itu, jadi aku membiarkan dia pergi tanpa mengatakan apa pun.

Lebih belakangan lagi malam itu saat berbaring di tempat tidur berusaha memecahkan semua petunjuk yang diberikan Shirayuki padaku, aku ingat bahwa setelah ia menghilang, setelah suaranya meredup masih ada sesuatu yang lain di perpustakaan. Sesuatu yang membuatku begitu ketakutan sampai-sampai tidak berani kuceritakan pada sahabatku. Ketika matahari terbit, aku masih belum tidur.


Pada saat Rukia dan aku sudah sama-sama mendapatkan jawaban untuk pertanyaan kami masing-masing, acara dansa hari Jumat hampir tiba. Aku tidak menemui perlawanan dalam mengorek informasi tentang Beasiswa Musik Shihouin. Tetapi masalahnya, orang-orang yang kutanyai dimulai dari sang pustakawan, hanya samara-samar tahu bahwa dana semacam itu pernah ada. Melacak dokumentasi tambahan ternyata menjadi semacam perburuan harta karun.

Akhirnya, seorang asisten pustakawan menemukan berkas-berkas yang salah tempat dalam kotak dokumen mengenai program beasiswa olahraga. Berkas-berkas tersebut menceritakan babak baru dalam kisah ini. Seperti perkiraan kami dari hasil temuan dalam arsip, Nyonya Sihouin hanya mengadakan audisi pada tahun pertama setelah kematian Shirayuki. Sesudah itu, kegiatan tersebut berhenti total. Rupanya tidak ada yang terpikir untuk menyelidiki. Mungkin keadaannya sama saja di masa itu—kebanyakan orang lebih peduli pada program olahraga daripada musik.

Rukia kembali melakukan kunjungan khusus tanpa biola ke rumah Nyonya Shihouin untuk membahas tentang Shirayuki lebih lanjut. Dia membawa buku tahunan lama itu, beserta fotocopy yang kami buat dari dokumen beasiswa asli dalam arsip sejarah. Itu tindakan yang berisiko, tetapi Rukia merasa bahwa melihat benda-benda itu mungkin akan mendorong Nyonya Shihouin untuk bercerita lebih banyak lagi. Dugaan Rukia sangat tepat, dan dia meneleponku setelah makan malam untuk memberi laporan.

"Kau mendapatkan informasi baru?" tanyaku antusias.

"Oh, Tuan Jeruk. Saat aku selesai bicara, kau akan bertanya-tanya apakah ada yang tidak kuketahui."

Kedengarannya menjanjikan.

"Ceritakan," desakku tidak sabar.

Tetapi Rukia ingin mengulur waktu untuk menikmati rahasianya.

"Baiklah," Rukia menghela napas. "Aduh, aku harus mulai dari mana?"

"Pilih satu tempat, dan mulai dari situ," tukasku sambil mengertakkan gigi.

"Ya, ampun. Baiklah, jadi, aku datang dan mengetuk pintunya malam ini. Dan dia tampak senang melihatku. Lalu kami masuk ke ruang tamu seperti biasa. Aku menaruh buku tahunan dan salinan beasiswa di atas meja, dan memberitahu Nyonya Shihouin bahwa aku menemukannya di perpustakaan. Dia mengambil buku tahunan dan langsung membukanya ke halaman memorial Shirayuki. Dia menatap foto itu lama sekali. Kemudian, dia mengambil dokumen beasiswa. Begitu dia melihatnya, matanya langsung berkaca-kaca. Saat itu aku langsung merasa sangat tidak enak. Tetapi, sesuatu dalam dirinya telah terbuka dan dia menatapku lalu menggelengkan kepala, dan mengatakan bahwa ini salahnya, seharusnya ia tidak membiarkan beasiswa Shirayuki berhenti setelah kejadian itu."

"Kejadian apa?"

"Aku juga ingin tahu. Tapi, aku tidak yakin apa pertanyaan yang tepat. Jadi, aku bertanya pada Nyonya Shihouin, apakah Shirayuki meninggal karena meningitis, dan aku menyinggung bahwa nama keluarga Shirayuki adalah Shihouin. Dia menatapku dengan agak kaget, mungkin kaget karena aku tahu atau apa. Kemudian dia mengangguk dan berkata, ya, kejadiannya kurang lebih setahun setelah dia mulai mengajar Shirayuki. Dan bahwa Shirayuki adalah murid kesayangannya, sekaligus keponakannya."

"Jadi, Nyonya Shihouin memang bibi Shirayuki!"

"Yak. Dia bercerita tentang adik perempuannya, ibu Shirayuki. Aku rasa si ibu dan Nyonya Shihouin tidak benar-benar akur. Nyonya Shihouin tahu Shirayuki punya bakat musik yang hebat, dan dia terus menerus mendesak agar adiknya mengizinkannya mengajar Shirayuki. Dan dia terus mendorong Shirayuki dengan sangat keras, agar ia berhasil mencapai tingkat tertinggi. Ibu Shirayuki tidak suka, dan dia bertengkar dengan Nyonya Shihouin. Lalu, Nyonya Shihouin berkata padaku kalau Shirayuki meninggal gara-gara dia."

"Nyonya Shihouin berkata dia yang menyebabkan Shirayuki meninggal? Bagaimana dengan penyakit meningitis itu?"

"Aku tahu. Dia bilang ada audisi penting yang rencananya akan diikuti Shirayuki dan seorang murid lainnya. Mereka seharusnya bermain duet. Ingat kan lagu yang dimainkan Shirayuki di perpustakaan? Holy Night. Nah, perempuan pasangan duet Shirayuki ini meneleponnya, dan mengatakan kalau dia sedang tidak enak badan. Menurut Shirayuki mereka sebaiknya melewati audisi itu, tapi kata Nyonya Shihouin dia sangat marah pada mereka berdua, dan bersikeras memaksa mereka untuk tetap pergi. Karena kesempatan ini jarang datang."

"Lalu?"

"Menurut cerita Nyonya Shihouin, murid satu-satunya positif mengidap penyakit meningitis sehari setelah audisi. Shirayuki terjangkit beberapa hari kemudian. Murid pertama akhirnya sembuh. Dan, seperti yang kita ketahui, Shirayuki tidak."

"Jadi, Nyonya Shirayuki menyalahkan dirinya karena Shirayuki sakit dan meninggal."

"Tepat," sahut Rukia. "Karena dia bilang dia tidak tahu sedang ada wabah. Dia tidak tahu murid satunya sudah terjangkit, tapi dia tahu banyak anak muda yang kena. Banyak orang tidak mau pergi ke tempat ramai karena takut tertular. Tapi Nyonya Shihouin tetap memaksa Shirayuki pergi ke tempat audisi. Sejak itu, dia dan adiknya tidak pernah berbicara lagi."

"Aneh sekali, Ichigo. Aku tidak percaya Nyonya Shihouin begitu mudah menceritakannya padaku. Seakan-akan selama ini dia sudah menunggu seseorang menanyakannya. Dia bilang dia tidak pernah bisa menerima kenyataan bahwa, dia tidak akan mendengar Shirayuki bermain lagi. Dia terus menerus mendengar tuduhan adiknya. Dan setiap kali membantu seorang murid yang berpikir untuk berhenti bermain, dia mengira perasaannya akan membaik, tapi ternyata tidak. Dia mengatakannya beberapa kali."

"Tapi kita mendengarnya bersama, Shrayuki masih bermain."

"Aku tahu. Tapi, aku harus bilang apa padanya? Bahwa arwah Shirayuki masih tertahan di bekas ruang musik?"

"Yeah, oke, aku mengerti. Tapi kita harus mencari cara untuk mengajaknya ke sekolah. Supaya dia bisa mendengar Shirayuki bermain."

"Dengar, aku rasa aku sudah berbuat cukup banyak untuk malam ini. Nyonya Shihouin sudah mengungkapkan kisah hidupnya padaku, aku sudah menyampaikannya kepadamu, dan aku harus menyelesaikan tugas membaca empat puluh halaman sejarah Eropa sebelum American Idol dimulai."

Aku sungguh takjub mendengar Rukia suka menonton American Idol. Rasa hausnya akan budaya pop tidak pernah terpuaskan.

"Baiklah, Violinist Cantik," kataku. "Aku tahu harimu belum lengkap sebelum menonton channel itu."

"Terima kasih, Tuan Jeruk. Ngomong-ngomong, kita punya waktu berjam-jam untuk membicarakan soal ini di acara dansa besok malam."

Rahangku melorot.

"Apa?"

"Acara dansa, Ichigo. Acara dengan dekorasi permata, bintang, dan bulan yang, berkat bantuanku, kau tidak terlibat ke dalamnya."

"Apa yang membuatmu berpikir aku mau pergi ke acara itu, Rukia? Kau sendiri yang bilang kalau kau tahu aku tidak berniat pergi sama sekali."

"Ya, tapi itu sebelum," Rukia menggantung perkataannya.

"Sebelum apa?"

"Dua hal. Yang pertama dan terpenting, sebelum salah satu Cewek Satelit mencoba mempermalukanmu supaya menjadi bahan tertawaan. Satu-satunya cara untuk membuktikan kau tidak terluka seumur hidup, gara-gara kejahilan kecil itu adalah dengan menampakkan diri, pura-pura riang gembira di acara dansa."

"Kau tidak mungkin serius," kataku.

"Sayangnya aku serius," sahut Rukia. "Dan sekarang alasan kedua. Pertunjukan bakat pra dansa yang diadakan teman baik kita, Inoue. Semua orang, termasuk kau, yang mengambil kelas musik atau drama atau mengikuti program seni, yang kebetulan kulakukan, mendapat nilai tambahan jika menghadiri acara bebas ini."

"Kau baca dari selebaran, ya?"

"Aku memang membacanya dari sana. Aku butuh nilai tambahan itu. Aku tidak mau memilih alternative kegiatan lainnya. Sudah cukup berat bagiku untuk menjelaskan kepada ibuku kenapa aku tidak bisa dapat dua puluh nilai tambahan. Aku harus datang ke acara itu, dan mendapatkan nilaiku. Dan kau, kau harus menghadapi ketakutanmu, Tuan Jeruk."

"Aku tidak tahu, Rukia. Aku benar-benar tidak tahu. Kapan pertunjukan pra dansa itu?"

"Pukul tujuh, di perpustakaan."

"Perpustakaan," aku mengulangi.

"Ya. Lalu acara dansa digelar di aula olahraga pukul delapan."

Aku sungguh-benar-benar tidak ingin pergi ke acara dansa itu. Aku yakin aku setuju dengan pendapat Rukia bahwa aku harus melakukan pemunculan yang berani. Sejauh ini yang kutahu, aku sudah melakukan itu. Tetapi sebuah ide terbentuk di kepalaku.

"Aku rasa paling tidak aku bisa mampir ke acara di perpustakaan itu denganmu."

"Aku tahu kau pasti setuju. Sudah dulu, ya. Sampai besok di sekolah."

Aku mengucapkan selamat malam dan menutup telepon. Aku sudah menyelesaikan tugas membaca untuk pelajaran sejarah, dan aku tidak berminat pada American Idol, jadi aku bebas untuk membuka pikiranku terhadap ide yang mulai terbentuk, dan tinggal menunggunya mekar.


Jadi, akhirnya aku mengorbankan Jumat malam yang berharga, ditambah hujan yang nyaman pula, untuk duduk di perpustakaan dan menyaksikan bakat dalam-tanda-kutip beberapa teman sekolahku. Rukia sepertinya tidak menyadari bahwa aku sudah cukup lama berada di perpustakaan saat dia datang. Dan jika aku terlihat sering mengecek ke pintu, atau terus-terusan melirik ke jam, Rukia tidak menganggap sikapku itu janggal.

"Kau sudah tanda tangan?" dia bertanya. "Kau harus tanda tangan untuk mendapatkan nilai tambahan."

"Aku tidak BUTUH nilai tambahan," kataku sedikit menekankan. "Aku melakukan pengorbanan ini murni untukmu, temanku."

"Jangan bicara padaku tentang perngorbanan," balas Rukia. "Anggap saja ini American Idol dengan nilai tambahan."

Sebenarnya aku sama sekali tidak menganggap begitu. Diam-diam aku kembali menengok ke pintu. Inoue Orihime sudah berdiri di atas panggung darurat depan jendela, dan kehadirannya saja sudah cukup membuat ruangan sunyi senyap. Meskipun dia belum sepenuhnya kembali menjadi benda luar angkasa, Inoue jelas mempunyai kendali atas ruangan ini. Sebagian besar penonton adalah anggota dari Klub Drama yang culun, Cewek Satelit, Cowok Populer, dan sedikit atlet. Terus terang aku kaget melihat banyaknya murid yang berhasil dijerat Inoue—pastinya dibantu Ishida juga—untuk datang ke sini. Setidaknya ada enam puluh orang yang memenuhi perpustakaan.

Inoue sudah memulai pidatonya.

"Tentu saja, pastikan kalian menandatangani papan tulis kecil di meja pustakawan kalau ingin mendapat nilai akademik resmi karena menghadiri acara dari departemen seni dan musik ini. Baik, jadi semoga kalian menikmatinya."

Setelah semua murid menyelesaikan tampilan dalam gaya mereka tersendiri, giliran Senna dan para Cewek Satelit yang maju ke atas panggung. Aku kembali menatap ke arah pintu, dan kali ini aku melihat apa yang kucari.

"Mau ke toilet, sebentar saja," aku berbisik pada Rukia, dan buru-buru meninggalkan kursiku sebelum dia sempat menanggapi.

Aku mencari jalan di antara penonton dan menyelinap ke luar pintu. Mataku tidak menipu ataupun sedang rabun—dia memang datang. Di lorong berdiri Nyonya Shihouin, menyangga sebuah biola berukuran sedang di sampingnya. Waktu menelepon Nyonya Shihouin tadi sore, aku memang tidak memaparkan cerita lengkapnya. Tetapi aku menyinggung ketertarikan kami pada Shirayuki, persahabatanku dengan Rukia, dan pertunjukan bakat yang dijadwalkan berlangsung di sekolah malam ini. Aku memohon Nyonya Shihouin untuk datang dan membawa biola. Siapa tahu Rukia bisa dibujuk untuk bermain. Di luar dugaanku, dia langsung setuju. Aku memesankan taksi, dan sekarang disinilah Nyonya Shihouin, benar-benar dirinya berdiri tepat di lorong sekolah. Aku menghampirinya dan sedikit membungkuk di depannya.

"Nyonya Shihouin, saya Ichigo. Saya teman Rukia. Kita tadi berbicara di telepon, ingat, kan?"

Ia mengangguk.

"Baik, aku rasa jika kita melakukannya dengan benar, kita bisa meyakinkan Rukia untuk naik ke atas panggung, dan bermain biola malam ini. Kalau dia melakukan itu, dia meruntuhkan penghalangnya, bukan?"

"Jika dia bisa tampil di sini, di depan orang banyak, maka iya. Dia akan membuat langkah psikologis yang signifikan untuk mengembalikan musiknya," Nyonya Shihouin menjawab.

"Dan itu sangat penting. Maksud saya, iya kan? Bukankah Anda bilang saat seseorang punya bakat seperti itu, berhenti berarti mati?"

Nyonya Shihouin menatapku dengan serius. Dia mengatupkan bibirnya, dan melirik ke dalam perpustakaan.

"Ya," katanya. "Ya, saya memang bilang begitu."

Dia jauh lebih tinggi dari yang kukira. Yang pasti lebih tinggi dari Rukia, rambutnya panjang bewarna hitam keungu-unguan, kulitnya yang bewarna cokelat gelap, dan sepasang iris emas.

"Karena ada hal lain, Nyonya Shihouin. Kalau saya bisa melakukan apa yang saya harap bisa saya lakukan, ada sesuatu yang perlu Anda dengar juga. Selain Rukia, maksud saya."

Nyonya Shihouin sepertinya tidak terlalu mendengarkan. Dia mengedarkan pandangan dari balik pintu perpustakaan seolah-olah dia sudah berpuluh tahun tidak melihat ruangan itu. Suara nyanyian para Cewek Satelit yang melengking mencemaskan, sepertinya tidak mengganggu Nyonya Shihouin. Dia melangkah maju dengan ragu-ragu.

Jantungku berdebar begitu kencang sampai-sampai kupikir bisa melejit keluar dari dadaku. Aku tidak mengira akan bisa segugup ini. Namun, sekarang semua sudah berjalan. Nyonya Shihouin sudah sampai di pintu perpustakaan, dan berdiri diam-diam menatap ke dalam.

Now, it's showtime.

~TO BE CONTINUED~


Review reply:

First from Shana Nakazawa, hai juga Shana ^^. Ah, beneran? Shizu kira gaje banget, soalnya nyontoh dari novel walaupun ada beberapa yang diubah, huehehe. Wah, terima kasih sekali mau di fave, merupakan suatu kehormatan untuk saia tersendiri *cielah!* Sekali lagi terima kasih banyak buat Reviewnya~! ^^

Kedua dari Rukianonymous, huehehe, Shizu juga agak merinding sih, ngetiknya pas malem2 pula *sigh* Sip, ini udah diupdate, maaf kalo lama. Makasih Reviewnya~! ^^

Ketiga dari BlackRed, muahaha, dari novelnya, kok *dijitak* Huhuhu, makasih banyak yaa, akan gue usahakan endingnya bahagia, deh. Makasih Reviewnya~! ^^

Keempat dari Poppyholic Uki, wahaha, itu lagu apa, yaa? *Orang deso abaikan saja* Sip, ini sudah diupdate, makasih banyak Reviewnya~! ^^

Oke, setelah berminggu-minggu nih fic nunggak, akhirnya bisa diupdate juga. Mumpung ada waktu luang karena sedang libur. Kayaknya Review pun semakin sedikit yaa? Humm, humm, apa ini karena chapternya yang terlalu kebanyakan jadi yang laen gak bisa ngikutin dari awal? Humm, humm, istilahnya sih males baca gitu, sama kayak saia, huehehe *Dikemplang*.

Yosh, tenang aja kok, bagi para Readers setia di sini, dua chapter lagi abis. Shizu yakin pasti udah pada bosen, saia juga kok, huehehe.

Wokelah, gak banyak cingcong pren. Sekali lagi makasih banyak masih ada yang mau Review, hiks hiks. Review dari teman-teman sekalian adalah nyawa fic ini *lebay gilaaa!* Dan sampai berjumpa di chapter selanjutnya!