~Medium~
~Genre: Supernatural, Friendship~
~Chara: Kurosaki Ichigo and Kuchiki Rukia~
~Disclaimer: Tite Kubo~
Aku bisa melihat Rukia di kursinya, mencari-cariku, bertanya-tanya mengapa aku belum kunjung kembali dari kamar mandi. Aku cepat-cepat bernaung dalam bayangan. Aku tidak ingin dia melihatku sekarang. Bait terakhir dari lagu yang dinyanyikan oleh Senna dan para Cewek Satelit yang telah berubah menjadi mengerikan telah dimulai. Aku melesat ke rak tempat aku pertama kali melihat Shirayuki. Aku berdiri di antara rak dan dinding, tersembunyi dari sebagian penonton.
"Shirayuki," aku berbisik. "Shirayuki Shihouin. Aku membutuhkanmu. Aku sudah membawa dia."
Shirayuki langsung muncul dalam sekejap, rambutnya yang terurai panjang sedikit berayun seakan-akan dia sedang melompat saat kupanggil.
Beberapa pikiran melintas di benakku. Bahwa aku salah tentang semua ini. Bahwa rencanaku mungkin tidak berhasil. Tetapi, Shirayuki kini menatapku lekat-lekat dengan mata hampa seperti yang kemarin dan kemarinnya lagi.
"Aku membawa Nyonya Shihouin kemari. Di tempat dia bisa mendengarmu. Dan saat dia bisa mendengarmu, kau tahu ia akan bisa merelakanmu pergi, Shirayuki."
"Dia di sini?"
"Aku membawanya sangat dekat ke sini. Kau harus bermain untuknya."
"Gadis yang satunya. Kenapa dia berhenti?"
"Itu masalah lain yang akan kita bereskan malam ini. Aku rasa orang lain tidak ada yang bisa mendengarmu, tapi aku yakin Nyonya Shihouin pasti bisa, aku cukup yakin soal itu. Dan aku tahu Rukia juga bisa mendengar saat kau bermain. Dia mengenali lagu yang kaumainkan saat di perpustakaan pagi itu. Aku akan memintanya naik ke panggung dan bermain denganmu. Kau mulai saja. Entah bagaimana caranya aku akan meyakinkan Rukia untuk bergabung denganmu. Aku rasa Rukia tidak akan mau melakukan itu untuk dirinya sendiri, tapi jika menurutnya dia melakukannya untuk membantumu dan Nyonya Shihouin, masih ada kemungkinan. Kau mengerti, Shirayuki, apa yang kukatakan?"
Wajah hampa yang ganjil itu mengangguk. Mengerti atau tidak, aku tidak punya waktu lagi. Cewek-cewek Satelit sudah selesai dengan lagu ciptaan orang lain yang berhasil mereka rusak dengan suaranya, dan disambut tepuk tangan sekedarnya. Aku bermanuver di antara deretan rak dan menghampiri panggung darurat Inoue. Setelah memotong jalan Senna yang murka, aku mengambil mikrofon.
"Ada satu penampilan lagi malam ini. Sebuah karya musik klasik. Tapi, sebelum kuperkenalkan, aku ingin mengabarkan tentang program sekolah yang akan dimulai kembali. Sebuah penghargaan, sebenarnya, penghargaan di bidang musik. Namanya Beasiswa Musik Shirayuki Shihouin. Shirayuki Shihouin adalah seorang pemain flute, pemain yang sangat sangat berbakat, yang meninggal pada tahun sembilan belas enam puluh saat dia duduk di bangku SMA. Dia tidak sempat meraih karir cemerlang yang seharusnya bisa ia raih."
Aku bisa melihat wajah Rukia, mulutnya menganga saking bingungnya, tetapi aku tidak membiarkan diriku terlalu lama memandang Rukia. Aku harus melakukan ini dengan sebaik-baiknya. Aku mengalihkan pandangan ke tempatku meninggalkan Shirayuki, dan memberi tanda tak mencolok bahwa ia harus bersamaku.
"Kemarilah Shirayuki," aku menggumam, mulutku menjauh dari mikrofon. "Bawa flute-mu."
Lalu aku mengembalikan mikrofon ke depan mulutku lagi.
"Kejutan yang harus kusampaikan pada kalian malam ini adalah bahwa untuk merayakan dimulainya kembali Beasiswa Shirayuki Shihouin, seorang tamu istimewa sudah hadir di sini. Nyonya Shihouin adalah guru musik di sekolah ini, bahkan sebelum orangtua kita bertemu. Beliau adalah guru Shirayuki Shihouin dan penggagas beasiswa tersebut."
Nyonya Shihouin berdiri miring di depan dinding, memicingkan mata kuat-kuat dalam siraman cahaya, dan memegang biola di sampingnya. Aku melirik dan melihat Shirayuki berdiri di sana, di atas panggung. Dia terlihat lebih rata daripada biasanya, lebih dua dimensi. Seakan-akan upaya mengumpulkan energi untuk berkomunikasi sudah mengurasnya.
"Mari kita beri sambutan yang meriah untuk beliau, oke?"
Penonton dengan patuh bertepuk tangan, karena pada saat ini mereka sudah biasa diberi perintah. Nyonya Shihouin melambai kecil.
"Baiklah tidak perlu berlama-lama lagi... kalian selalu melihat dia membawa biola di punggungnya, dan keluar masuk ruang makan. Kini, membawakan lagu Holy Night sekaligus sebagai audisi untuk Beasiswa Musik Shirayuki Shihouin tahun ini, sambutlah Nona Kuchiki Rukia."
Mulut Rukia menganga semakin lebar, dan aku bisa melihat dia menggeleng kuat-kuat yang tak salah lagi adalah tanda penolakan. Tetapi, Nyonya Shihouin sudah membawa biola ke atas panggung sesuai rencana kami, dan aku melompat dari panggung lalu meluncur menghampiri Rukia.
"Kau sudah tidak waras, ini TIDAK akan terjadi!" ia mendesis.
"Rukia, dengar," kataku, sambil memegang kedua bahunya dengan tanganku. "Di atas panggung. Kau lihat dia?"
Rukia menatap ke tempat Shirayuki berdiri sambil memegang flutenya dengan sabar.
"Tidak."
"Berarti kau harus mempercayai kata-kataku—Shirayuki ada di atas sana dengan flute-nya. Aku rasa dia akan bermain, tapi tidak tanpamu. Semua ini tentang duet terakhir yang dia mainkan untuk audisinya. Gadis yang menularinya meningitis, pemain biola, Rukia. Nyonya Shihouin yang memberitahu. Nah, aku sudah membawanya ke sekolah, dan ini SATU-SATUNYA kesempatan kita untuk memperbaiki semuanya. Aku hanya tahu Shirayuki akan membawakan duet itu bersamamu, dan Nyonya Shihouin akan mendengarkannya. Saat dia mendengar musik Shirayuki masih hidup dan selalu bersama kita, dia akan meninggalkan semua rasa bersalahnya," aku semakin menatap dalam matanya yang mengalihkan pandangan. "Rukia, kau HARUS mau. Demi mereka. Bakatku telah membawa Shirayuki kesini, seperti yang kaubilang. Tapi aku tidak bisa berbuat lebih dari ini. Hanya kau yang bisa," kataku.
Terjadi jeda yang sangat panjang. Aku tetap menutup mulutku. Aku sudah mengatakan apa yang perlu kukatakan, jadi selanjutnya tinggal kutunggu respon dari lawan bicaraku sekarang. Dia bergeming untuk waktu yang terasa selamanya.
Lalu seakan dalam gerakan lambat, seperti tengah berada di bawah air, Rukia berdiri. Aku menatap ke atas panggung dan melihat mata hampa Shirayuki mengikuti setiap gerakan Rukia. Rukia nyaris meluncur ke panggung. Dia mengambil biola yang telah dikeluarkan Nyonya Shihouin dari tas. Guru dan murid saling bertukar tatapan singkat namun cukup serius. Kemudian Nyonya Shihouin berbalik dan berjalan turun, untuk bersandar menyamping di dinding.
"Kenapa lama sekali?" sebuah suara berseru di belakangku. "Dia mau main nggak, sih? Kita harus pergi ke acara dansa."
Aku berputar untuk menghadapi suara itu, yang berasal dari Senna.
"Diam saja," aku mendesis.
Wajah Senna kembali ke bentuk jeleknya yang biasa. Dia mengatupkan bibirnya rapat-rapat sambil memicingkan mata.
"Kalau tidak kenapa, Kurosaki? Kau mau melemparku dengan bola kristal?"
"Kau harus menunggu dan melihat apa yang akan kulakukan," kataku. "Tapi aku jamin kau tidak akan suka."
Senna menegakkan tubuh.
"Ini sudah selesai," dia berseru di atas kepala para penonton. "Ayo teman-teman, kita ke aula olahraga dan memulai pesta!"
Beberapa orang mulai ikut berdiri. Kebanyakan Cewek Satelit. Tetapi, Inoue dan Ishida memberi isyarat pada mereka untuk tetap duduk lagi. Senna, yang sudah heboh menghentak-hentakkan kaki saat berjalan ke pintu, mengeluarkan suara keras bernada marah.
"Pertunjukan ini tinggal sejarah!" dia berteriak.
Orang-orang mulai menggumam dan menoleh-noleh. Bertanya-tanya apakah Senna benar. Rukia sudah duduk bersama alat musiknya dan memegang tongkat penggesek, tetapi dia belum mulai bermain. Dia terlihat membeku. Kaku.
"Ayo, teman-teman!" Senna berseru lagi.
Orang-orang mulai beringsut di kursi mereka. Beberapa sudah berdiri. Lalu aku mendengarnya. Alunan suara flute yang jernih dan bernada tinggi. Aku mengenali iramanya sebagai lagu yang kami dengar dimainkan Shirayuki di perpustakaan. Holy Night.
Meskipun setahuku tidak seorang pun di antara orang-orang ini yang bisa melihat atau mendengar Shirayuki, tetapi sesuatu sepertinya membuat mereka terpaku. Semua penonton terdiam saat Shirayuki memainkan bar kedua, memandang berkeliling untuk mencari tahu mengapa semua orang tidak bersuara, dan apa yang sebenarnya mereka lihat. Rukia tampak bagai terhipnotis, mengangkat tongkat geseknya. Ketika Shirayuki mulai memainkan bar ketiga, Rukia bergabung.
Seiring baris-baris awal yang dia mainkan, seisi dunia seakan meleleh. Rukia memainkan susunan nada berjenjang di bawah alunan Holy Night Shirayuki, sebuah melodi yang anehnya terdengar familier. Aku merasakan vibrasi biola jauh di dalam dadaku, tempat yang disebut Ibu inti hati. Suaranya begitu kaya, begitu dalam dan murni, sampai-sampai aku merasa bisa melayang dari kursiku. Aku benar-benar terpesona seluruhnya. Saat bermain, Rukia berayun pelan, matanya terpejam. Musiknya seakan mengalir begitu saja, vibrasi yang dalam menggantung di atas kepala dengan intensitas yang mengguncang, namun indah. Itu adalah suara terindah yang pernah kudengar seumur hidupku.
Ibunya benar, pikirku. Rukia memang jenius. Bakatnya sungguh termasuk sangat langka. Dari cara Rukia dan Shirayuki bermain bersama, seakan-akan mereka telah melebur menjadi satu entitas. Kadang-kadang sulit dipastikan di mana biola berakhir dan flute berawal.
Itu lagu yang pendek, dan berakhir dengan tenang serta sederhana, ketika masing-masing alat musik memainkan nada yang sama. Terjadi keheningan yang panjang, lalu tiba-tiba semua orang di ruangan itu berdiri, bertepuk tangan dan menghentakkan kaki, seolah-olah Shane Filan baru naik ke atas panggung, diikuti anggota band Westlife lainnya.
Rukia tidak bergerak sedikit pun. Dia hanya duduk di sana dengan kepala tertunduk, memegangi tongkat penggeseknya. Tetapi Shirayuki menatap melewati para penonton. Aku berpaling untuk melihat Nyonya Shihouin, tangannya saling menggenggam, matanya sedikit berkaca-kaca. Raut wajahnya mengungkapkan apa yang ingin kuketahui. Nyonya Shihouin sudah mendengar. Dia sudah mendengar kedua murid jeniusnya bermain, yang satu masih hidup, yang satu tidak. Keduanya benar-benar cemerlang.
Udara begitu penuh dengan aliran listrik, aku bisa merasakan rambutku saling bergesekkan. Jumlah energi yang terkumpul di ruangan ini sangat besar. Sesuatu yang kuat, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya telah berlangsung. Bahkan Cewek Satelit pun tampak merasakannya. Aku kembali berpaling ke atas panggung, tempat Rukia masih bergeming. Tetapi Shirayuki tampak berubah. Saat menatapnya, aku benar-benar melihat kehidupan mengalir masuk ke matanya. Sosok Shirayuki yang rata dan tak bergerak mulai terisi. Untuk sesaat dia benar-benar terlihat seperti manusia yang hidup dan bernapas, sehidup yang pernah ia alami.
"Hei, siapa gadis yang satunya itu?" aku mendengar seseorang bertanya.
Dan ketika itulah aku mendengar dentuman keras, lalu semua lampu di perpustakaan sekonyong-konyong mati, meninggalkan kami semua dalam kegelapan total.
Seandainya punya kuasa, mungkin aku juga akan memasukkan sambaran kilat dan lampu mati dalam rencanaku. Itu cara yang sangat pas bagi Shirayuki untuk menghilang, bagi Rukia untuk perlahan-lahan sadar dari komanya, dan bagiku untuk mengantar Nyonya Shihouin keluar dengan aman. Benar-benar sentuhan yang sempurna.
Tetapi aku tak punya kuasa itu. Kemungkinan besar, dalam proses meninggalkan siklus hantunya, Shirayuki mengalami semacam perubahan energi yang bentrok dengan arus listrik, dan hasilnya seperti sambaran kilat.
Ketika lampu-lampu kembali menyala sejenak kemudian, aku sudah berhasil mencari jalan ke pintu yang mengarah ke koridor. Sambil mengangkut biolanya, aku memandu Nyonya Shihouin ke pintu luar di ujung lorong tempat aku bisa melihat taksinya datang.
Aku merasa tidak nyaman. Ini aspek permediuman yang paling tidak kupahami—cara berinteraksi dengan orang hidup. Nyonya Shihouin baru saja merasakan perasaan emosional yang hebat. Setelah berpuluh tahun menyalahkan diri sebagai penyebab berakhirnya karir musik dan hidup keponakannya, dia telah mendengar musik itu dan rasa hidup itu lagi. Dia telah mengerti bahwa baik murid maupun musiknya tidak menghilang untuk selamanya, seperti yang dia kira. Namun aku tidak tahu apa yang diharapkan dariku sekarang. Aku tidak tahu apa yang diinginkan Nyonya Shihouin untuk kukatakan, atau apakah ia ingin dibiarkan sendirian dengan pikirannya. Aku benar-benar merasa tidak berdaya.
Di luar aku melihat sorot lampu depan, serta logo perusahaan taksi setempat yang bersinar kuning di atas mobil. Aku membuka pintu dan memeganginya untuk Nyonya Shihouin, memberi isyarat pada sopir untuk membantu memasukkan biola ke dalam bagasi. Saat Nyonya Shihouin berjalan melewatiku, aku membuka pembicaraan.
"Nyonya Shihouin...," aku tergagap.
Dia berhenti dan memandangku dengan mata emasnya yang cerah. Dia tidak mengatakan apa-apa, tetapi sebelum berlalu dia memberiku anggukan singkat. Dan aku tahu anggukan itu artinya 'ya'. Aku sudah dengar. Ya. Aku mengerti. Ya. Aku melihat. Ya. Aku telah melakukan tugasku, dan melakukannya dengan cukup baik. Aku merasakan gumpalan kecil di tenggorokanku saat mengawasi sopir taksi membantu Nyonya Shihouin masuk ke mobil. Aku ingin sekali bertemu Ibu untuk menceritakan semuanya. Aku tahu aku telah melakukan hal yang baik, dan begitu aku mendambakan persetujuan Ibu sehingga nyaris tak sanggup mencegah diriku untuk segera berlari pulang saat itu juga. Tetapi masih ada yang harus kulakukan di sini.
Belum sempat aku kembali ke perpustakaan untuk mencari Rukia, Ishida keluar dari pintu yang mengarah ke lorong, dan menabrakku.
"Oh, Kurosaki," cetusnya. "Maaf. Aku tidak melihatmu."
Seminggu yang lalu, aku pasti menganggap Ishida hanya pura-pura minta maaf, bahwa dia sengaja menabrakku hanya untuk menunjukkan bahwa dia bisa melakukan itu di hadapan kekasihnya, atau pun para Cowok Populer. Tetapi sejak Senna mengadakan sesi hancurkan-Kurosaki-di-depan-umum, dia tidak pernah ikut-ikutan. Kejadian apa yang telah merubahnya?
"Aku ikut berduka untuk nenekmu," kataku tiba-tiba. Aku tidak berencana mengatakan apa pun, tetapi setelah mengatur dan membantu terwujudnya peristiwa malam ini, aku merasa seperti orang yang berbeda.
"Ya, terima kasih," sahut Ishida. Matanya yang bewarna biru tua itu tersembunyi di balik kacamata persegi empatnya.
Aku hanya berdiri di sana, tidak tahu harus melakukan atau mengatakan apa lagi. Ishida membuat gerakan seolah-olah hendak pergi, lalu dia ragu-ragu.
"Jadi, begini, hal-hal yang dikatakan Senna tentang kau dan ibumu." Oh jadi dia mengetahuinya juga. "Aku tidak sepenuhnya setuju tentang itu. Senna kadang-kadang bisa sangat kejam, Orihime pun mengakuinya. Dia mulai sangat mengganggu akhir-akhir ini."
Aku terperangah. Ishida tidak meminta maaf karena memberitahu Senna tentang dunia aneh yang kusebut rumah. Ishida adalah raja para Cowok Populer dan akan tetap seperti itu bersama 'ratu'nya. Tetapi sedikit kata yang dia sampaikan padaku barusan benar-benar sangat berarti.
Ishida sekarang benar-benar beranjak pergi.
"Ngomong-ngomong, keren sekali kau bisa membujuk cewek itu bermain," dia berseru dari atas bahunya. "Setidaknya kita punya satu bakat sungguhan dalam pertunjukan tadi."
Lalu dia meluncur ke arah aula olahraga, tidak diragukan lagi untuk membantu Inoue menangani tugas berat Perawatan Dekorasi Dansa. Ini ternyata benar-benar menjadi malam yang penuh kejutan.
Aku akhirnya menemukan Rukia di aula olahraga, sedang berdiri dekat meja hidangan. Aku tidak sabar untuk memberitahu Rukia tentang Nyonya Shihouin, tetapi terkejut saat melihat wajahnya merah padam karena marah.
"Kok kau tega, sih?" dia mendesis.
"Apa?"
"Kau tahu pasti apa yang kumaksud. Kau satu-satunya orang yang kuberitahu! Tega-teganya kau, dari semua orang, mengerjaiku seperti itu?"
Lidahku benar-benar kelu.
"Aku... um..."
"Itu hal paling rendah dan paling kotor yang pernah dilakukan siapa pun kepadaku, Ichigo. Kupikir aku mengenalmu. Kupikir kita saling mengerti."
"Tapi Rukia, kau bermain. Kau benar-benar bermain!"
"Yah, kau tidak memberiku banyak pilihan, kan?"
"Tapi... Rukia. Kau sudah meruntuhkan penghalangmu. Kau bermain. Kau terdengar seperti malaikat! Bukankah itu bagus?"
Wajah Rukia masih merah padam. Aku menyambar gelas plastik dan menyerahkannya kepada Rukia.
"Kau mengelabui aku," kata Rukia, masih terdengar marah. Tapi tidak semarah sebelumnya, jika aku tidak salah membaca sikapnya.
"Aku tahu, Rukia. Aku tahu, dan aku minta maaf. Idenya datang begitu saja, setelah aku mendengar kalau pertunjukan bakat akan digelar di perpustakaan, tempat Shirayuki berada. Aku tidak tahu apakah aku bisa melaksanakannya. Aku hanya berpikir jika aku bisa membawa Nyonya Shihouin ke perpustakaan, Shirayuki mungkin akan bermain, tapi hanya kalau aku bisa membujukMU bermain juga."
"Yeah, pernahkah terpikir olehmu," sembur Rukia, menekankan pengucapan setiap kata, "untuk bertanya padaku tentang rencana kecilmu itu? Menanyakan perasaanku jika harus ikut berperan? Bukannya menipuku seakan-akan aku sedang dikerjai? Kau tahu kan aku punya masalah dengan bermain!"
"Tapi, Rukia, kau mungkin akan menolak," kataku dengan nada minta maaf.
"Tentu saja aku akan menolak! Karena aku TIDAK mau melakukannya!"
Dia menghabiskan air mineral itu dalam satu tenggak. Gawat. Sekarang dia marah.
"Aku tahu," kataku lembut. "Tapi, kau berhasil melakukannya. Kau berhasil! Aku tahu kau tidak menyukai caranya. Tapi apa kau sama sekali tidak merasa bahagia? Rukia, kau membuat perbedaan yang tidak bisa dilakukan siapa pun. Kau menyelamatkan mereka."
Rukia memungut sepotong biskuit, memeriksa kedua sisinya, lalu mengembalikannya ke piring. Dia mengambil sepotong brownies, dan mulai memeriksanya lagi.
"Apakah aku bahagia atau tidak, itu sepenuhnya urusan lain," tukas Rukia. Suaranya semakin lembut. Hasil pemeriksaan terhadap brownies rupanya memuaskan, karena dia menggigitnya.
"Oh, tidak, itu soal yang sama," kataku, merangkul pundaknya di lenganku. "Ya ampun! Kau itu benar-benar jenius! Mendengarmu bermain... aku sama sekali tidak menyangkanya!"
"Kayak memujiku bakal ada gunanya saja," ia menggerundel, tetapi di mataku kelihatannya MEMANG sangat berguna.
Senna memilih saat ini untuk melewati kami.
"Penampilan kami sangat jauh menggunggulimu, Cewek Biola," Senna berkata dari atas bahunya. "Maaf pecundang."
Rukia dan aku bertatapan, lalu serempak cekikikan dengan heboh.
"Yeah! Aku rasa dia sudah menunjukkannya padaMU!" kataku.
"Aku tidak akan pernah bertemu Simon Cowell sekarang," ujar Rukia sedih, di antara seringai lebar.
"Rukia," kataku, menatap mata violetnya lekat-lekat. "Aku minta maaf. Apa kau benar-benar marah padaku? Shirayuki bermain. Kau bermain. Nyonya Shihouin mendengar semuanya! Kupikir aku sudah memperbaiki keadaan. Tapi, aku tidak mau kehilangan teman terbaikku."
"Temanmu satu-satunya," Rukia meralat. Mencoba menyembunyikan senyum-malu-malu-kucingnya dengan cara menunduk.
"Temanku satu-satunya. Ah ya, mungkin setelah dipikir-pikir lagi, bagaimana jika diganti dengan 'kekasihku satu-satunya'?" aku memegang kedua tangan mungilnya. Dan saat itu juga, Rukia menengadahkan kepalanya, senyum-malu-malu-kucingnya masih terlukis di wajahnya, tetapi terlihat memudar, dan tergantikan oleh senyum kebahagiaan. Tanpa menunggu ia ingin menjawab 'iya' atau 'tidak', aku langsung memeluknya erat-erat. Aku tidak tahu apakah wajah Rukia sekarang terlihat senang, gembira, kaget, atau campuran dari tiga rasa itu, tetapi aku tidak bisa mengurungkan niatku untuk memeluk gadis ini.
"Terima kasih, Ichigo. Aku mencintaimu."
Aku membalasnya juga dengan kalimat yang tidak jauh berbeda—atau mungkin bisa dibilang sama persis—dan dengan penuh makna di setiap kata. "Aku juga mencintaimu, Rukia."
Lalu, setelah melepasnya dari pelukanku, Rukia mengulurkan sepotong kue.
"Mungkin ada serangga di dalamnya, karena aku tidak bisa melihat di cahaya remang-remang begini," dia berkata.
Aku menggigit banyak-banyak.
"Renyah," kataku.
"Pasti serangga," ujar Rukia. "Mungkin salah satu kumbang Jepang itu!"
"Protein!"
Di tengah aula olahraga, Senna sudah memulai berdansa mengikuti sebuah lagu terkenal. Dia meniru gerakan dalam video terbarunya, dan gerakan itu tidak benar-benar ditirukan dengan baik. Di atas kepala Senna menggantung pita-pita dan spanduk-spanduk yang penuh dengan potongan bintang, bulan, dan permata. Salah satu hiasan terlepas dari sebuah pita, melayang turun, dan menempel di puncak kepala Senna. Tanpa menyadarinya, dia terus berputar-putar dengan gerakan yang menyedihkan.
"Nah, itu baru kostum yang cocok," Rukia berkomentar di sela-sela menggigit brownies-nya.
Seolah mendapat aba-aba, potongan kertas lain jatuh dari spanduk dansa dan mendarat di dada Senna. Dia melihat kertas itu dan mencoba menepisnya tanpa merusak irama tarian, yang sebenarnya tidak terlalu berirama.
Lalu sekonyong-konyong kejadian itu berlangsung serempak. Bintang-bintang, berlian-berlian, bahkan pitanya sendiri terlepas dan melayang turun, seolah digerakkan oleh kekuatan tak terlihat. Sepotong berlian hinggap di bokong Senna. Sepotong bintang dan bulan menempel di lututnya satu-satu, semua pita melilit di lehernya bagai syal. Dalam sekejap, Senna menjadi alam semesta potongan benda-benda langit. Setiap kali ia berhasil melepas satu, potongan lain seolah langsung melayang turun dan melekatkan diri padanya. Orang lain sepertinya tidak ada yang terpengaruh. Tidak ada yang berusaha menolong Senna. Selama sedetik, mata kami bertemu. Aku menyunggingkan senyum jahil. Dari suatu tempat di belakang kami, aku mendengar seruan marah.
"Senna, apa yang kau lakukan?"
Inoue Orihime berderap melewati kami.
"Kau tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memotong semua bentuk itu? Aku harus melakukannya semua SENDIRIAN! Itu bukan untuk kaumainkan! Kau merusak semuanya!"
Senna mencoba meneriakkan penjelasan, tetapi suara yang keluar terdengar seperti pekikan burung bangau yang akhir-akhir ini kutonton dalam acara dokumenter di Animal Planet. Inoue mencengkeram salah satu lengan Senna yang berhias bintang-bintang, dan menyeretnya keluar dari aula olahraga.
"Apa-apaan itu tadi?" Rukia berkata di antara sela tawa.
"Aku rasa," sahutku, menggigit lagi kue serangga Rukia. "Shirayuki Shihouin baru saja memberi kita hadiah perpisahan."
~TO BE CONTINUED~
Review reply:
First from Rukianonymous, Waah, makasih banyak ya. Hehe, namanya juga fiksi ^^a. Yup ini udah di-update. Sekali lagi makasih buat Reviewnya yaa~! ^^
Kedua dari Shana Nakazawa, Makasih Shana ^^, huehehe, di sini juga ada momen IchiRuki-nya, tapi keliatan kayak dipaksain yaa =.=a. Yap, makasih banyak untuk Reviewnya~! ^^
Ketiga dari Kie2Kei, Salam kenal juga, yap, gak apa-apa kok :D Hoo iya yah, gak diperiksa lagi sih, *jetot* Ehehe, sengaja, biar Readersnya penasaran XD. Iyap, silakan silakan, makasih untuk Reviewnya yaa~! ^^
Keempat dari nenk rukiakate, Aaaa kenapa baru muncul sekarang? Tanpamu aku galaau *huwooo, injekin, injekin! SKSD banget!* Yosh, lupakan yg di atas =.=v. Ehehe, ide itu tiba-tiba datang, jadi yah sudah deh, pasangkan saja (?). Sip, makasih Reviewnya yaa~! ^^
Kelima dari Ray Kousen7, Hehe, tenang aja kok ^^. Huehehe, begitulah, saia juga susah ngejelasinnya sih, err... =.=a. Wah, ini emang ada novelnya, kok, cuma Shizu ubah2 aja dikit. Sip, makasih banyak Reviewnya yaa~! ^^
Last from BlackRed, Huehehe, now it's showtime-nya itu yah kayak gini. Rukia dan Shirayuki duet bareng gantiin personil CeBe yg katanya bubar dua orang XD. Eeeh, tebalik tau, yg bener Rukia cium Ichigo, nahaha XD. Yosh, makasih banyak Reviewnya yaa~! ^^
Yah, sebenernya saia lagi UN sekarang, tetapi memaksakan diri untuk publish fic =.=a, soalnya lama2 nunggak juga rasanya jadi gak enak XD.
Ehm, apa lagi ya?
Untuk teman-teman sekalian yg juga lagi menghadapi Ujian Nasional, semoga kita semua lulus dan bisa mendapat nilai tertinggi *Woi, lu mate aja gak pernah di atas 7! Huehehe XD* Maaf jika cerita ini membingungkan =.=a, semoga typo2 yg ada di atas gak mengganggu Readers :)
*Tengok ke belakang takut tiba2 dilempar panci sama emak gara2 maen komputer* Yosh, segitu dulu deh dari Shizu, doakan saja semoga bisa update lagi pas hari Kamis XD. Mohon Reviewnya, dan terima kasih untuk yg udah RnR di chap sebelumnya. Sayonara~! :D
