~Medium~

~Genre: Supernatural, Friendship~

~Chara: Kurosaki Ichigo and Kuchiki Rukia~

~Disclaimer: Tite Kubo~


Rukia dan aku dengan dispensasi khusus berkat kebaikan Ibuku, meninggalkan acara dansa lebih awal dan pergi, hanya kami berdua, ke restoran Cina.

"Jadi, kita benar-benar membantu Shirayuki dan Nyonya Shihouin?"

"Kita membantu mereka," sahutku. "Kaulah kuncinya, Rukia. Mereka sudah tenang sekarang."

"Kau yakin?"

"Positif. Aku bersama Nyonya Shihouin beberapa saat sebelum taksi datang untuk mengantarnya pulang," aku menyesap teh hijauku.

"Apa yang dia katakan?"

"Kau tahu, dia tidak bilang apa-apa, Rukia. Tak sepatah kata apa pun. Tapi, wajah Nyonya Shihouin... aku tahu kedengarannya gila, tapi dari raut wajahnya aku bisa tahu sesuatu dalam dirinya telah berubah. Beban itu telah terangkat. Dan tepat sebelum dia pergi, dia memberiku anggukan kecil. Seperti, yah, sebuah penegasan mungkin."

"Dia bahkan tidak bilang apa-apa tentang aku?" tanya Rukia, merobek tiga kantong gula sekaligus dan menuangkannya ke dalam teh.

"Rukia, matanya itu berkaca-kaca... dan aku tahu itu bukan hanya untuk Shirayuki. Itu untukmu juga. Air mata bahagia."

"Bahagia. Aku pasti akan mendapat pelajaran biola yang menarik besok."

"Seandainya aku bisa hadir," kataku sambil tertawa. Sekarang setelah mendengar Rukia bermain, rasanya aku tidak akan pernah puas. "Berani taruhan ia akan memberimu beasiswa tersebut!"

"Jaga lidahmu, Tuan Jeruk. Kau harus tenang dulu supaya aku bisa memikirkan cara menghadapi keadaan ini," ujar Rukia memberikan cengiran lebar, aku membalasnya juga.

Percakapan kami disela oleh kedatangan pelayan yang membawakan hidangan yang baru kami pesan.

"Nah, ini dia yang kutunggu," aku menggosok-gosokkan tangan melihat makanan yang sudah dihidangkan di hadapanku. "Jadi, apa maksudmu memikirkan cara menghadapi keadaan?"

Rukia mengiris pancake daun bawang menjadi empat bagian dengan ketepatan seorang ahli bedah. Ia mengamati potongan pertama dengan sangat serius sampai-sampai aku bisa melihat kedua alisnya mengkerut ke bawah.

"Itu maksudku. Memang senang mengetahui aku bisa bermain lagi, Ichigo. Sungguh. Tapi sekarang aku sadar itu hanyalah sebagian masalah. Sekarang aku harus memutuskan apakah aku INGIN bermain. Mungkin saja aku tidak mengharapkan beasiswa itu."

"Tapi..."

Aku menuangkan teh untuk mengalihkan pikiran. Ini masalah yang terus terang tidak pernah terbayang olehku.

"Aku tahu, Ichigo. Tapi kau harus memahami sesuatu. Aku lahir dengan bakat ini, oke? Aku menerimanya. Tapi aku tidak pernah mengalami masa perkenalan, seperti yang kaualami dengan penglihatan arwahmu. Aku tidak pernah diberi kesempatan untuk memikirkan apa artinya menjadi penampil profesional, untuk belajar dan berlatih, dan pada dasarnya menyerahkan hidupku pada musikku. Kau menjalani seluruh proses ini sejak aku mengenalmu, dimulai dari mengakui pada seseorang bahwa kau bisa melihat arwah, hingga mempertanyakan mau tidaknya kau membiarkan orang tahu bahwa kau punya keistimewaan semacam itu. Dan bahwa, suka gak suka, itu akan menjadi kehidupanmu. Kau memutuskan untuk menggunakan bakatmu, dan membantu yang membutuhkan."

Aku mengangguk, mendadak merasa sangat dewasa saat menyesap tehku, dan mengamati ekspresi Rukia, yang ultramegaserius.

"Tapi, dalam kasusku tidak begitu, Ichigo. Aku bisa melakukan apa yang bisa kulakukan. Tapi tidak pernah ada yang bertanya padaku apa yang kuinginkan. Dan aku terlalu muda untuk menanyakannya pada diriku sendiri, atau untuk mengetahui bahwa aku berhak punya pendapat tentang hidupku. Aku sudah belajar biola sejak umur empat tahun. Dan karena aku sangat bagus, seolah-olah sudah dipastikan... bahwa ini adalah hidupku. Karena aku bagus, tapi lebih-lebih karena itu yang diinginkan ibuku."

Tidak seperti Ibuku, yang tahu bahwa aku juga akan melihat arwah tapi menunggu sampai aku mau mengakuinya sendiri, pada waktu yang kuanggap tepat.

"Ada apa sebenarnya dengan ibumu? Dia punya cita-cita berkarier di atas panggung, tapi tidak kesampaian?" tanyaku.

"Ya dan tidak," sahut Rukia. "Oh, ya ampun, kau sudah mencoba siomainya? Ini seperti puisi!"

Saat itu aku baru saja menjejalkan sepotong siomai utuh ke dalam mulut, jadi aku hanya mengangguk penuh semangat dan menunjuk ke mulutku yang penuh.

"Iya, kan? Jadi, soal ibuku tadi, aku rasa orangtuanya tidak menjadikan musik ibuku sebagai prioritas. Cuma sesuatu yang dilakukan gadis berpendidikan, kau mengerti? Melukis, atau menari balet, atau dalam kasus ibuku, bermain violin. Bermain secara professional bukan merupakan pilihan untuknya. Ini soal perbedaan generasi, kau tahu. Ibuku harus mempersiapkan diri menjadi seorang istri."

Itu satu wilayah dalam generasi tersebut yang bukan menjadi tempat asal Ibu, pikirku, meskipun ibu Rukia kelihatannya selupuh tahun lebih tua daripada Ibuku. Tetapi, kalau dipikir lagi, hampir segala hal tentang Ibuku memang berbeda.

"Jadi, bisa dibilang dia yang membuat keputusan itu untukmu," kataku, setelah akhirnya berhasil menelan sebagian besar siomai.

"Itulah tepatnya yang dia lakukan," kata Rukia. "Dan kupikir itu ada hubungannya dengan mengapa aku tidak bisa bermain setelah peristiwa demam panggung di Carniege Hall waktu itu. Tubuhku langsung mengambil kendali—metafora yang bagus, ya? Dan, jeder, begitu. Tiba-tiba saja aku tidak bisa bermain. Sekarang aku bisa, tapi masalah yang lebih besar masih belum diputuskan. Kau tahu, kan, tentang aku ingin menjadi apa. Aku tidak mau diberi beasiswa hanya dengan asumsi bahwa aku menginginkannya. Aku yang harus membuat keputusan sendiri."

Rukia mulai memotong udang dengan ganas.

"Kau sadar, Rukia, bahwa pada satu titik kau harus membagi perasaan ini dengan ibumu? Apa pun keputusanmu, kau harus membicarakannya dengan ibumu."

Rukia merengut, dan semakin galak memotong udangnya. Dia tiba-tiba merobek setengah bagian udang dengan begitu kuat, sehingga potongannya melejit dari piring dan memantul dengan anggun pada tangki ikan sebelum menggelinding ke bawah meja.

Untuk sesaat Rukia tampak malu, tetapi saat menyadari bahwa tidak ada seorang pun selain aku yang melihat udang terbang tadi, dia menyemburkan serangkaian tawa terkekeh. Seperti biasa, tawanya menular, dan saat kami berdua dengan enaknya terbahak-bahak, aku melihat si pelayan menatap kami dengan muram dan curiga dari posnya.

Rukia benar—dia ADALAH teman sekaligus kekasih terbaik dan satu-satunya yang kumiliki. Sungguh perpaduan yang aneh. Dia pemain biola dengan tingkat cara berpikir seperti orang dewasa, dan sama sekali tidak cocok jika dipadukan dengan ukuran badannya yang bisa kubilang kecil. Selain Ibu, Rukia adalah orang yang paling jujur yang pernah kukenal. Jujur tentang segala hal dan kepada siapa pun, kecuali ibunya. Aku juga begitu waktu pertama kali melihat penampakan.

"Aku rasa kita harus memesan pisang goreng untuk pencuci mulut," ujar Rukia.

Aku paham. Aku juga tidak ingin membicarakan ibu Rukia lagi.

"Satu pisang goreng seorang," aku mengoreksi. "Ibuku selalu berkata, kalau melakukan sesuatu jangan setengah-setengah. Oh, ya ampun, aku benar-benar lupa memberitahumu!"

Rukia menengadahkan kepalanya dengan senyum penasaran yang menyenangkan.

"Aku punya sesuatu untuk kita, yah, sebenarnya bukan untuk kita, tapi...," Aku merogoh sakuku. "Aku sudah membawanya seharian tapi belum ada waktu yang tepat untuk menunjukkannya padamu."

"Ayo keluarkan, Tuan Jeruk, aku jadi tegang, nih!" cetus Rukia tidak sabaran.

Aku menarik tanganku dari dalam saku, dan memegang benda itu di depan Rukia.

"Bandana merah?" tanyanya.

Aku mengangguk.

"Untuk Kon," kataku. "Aku rasa kau harus menyimpannya sampai kau main ke rumahku lagi, jadi nanti kau yang akan memasangnya."

Rukia mengambil bandana merah itu dengan senyum yang begitu lebar, bisa-bisa kau mengira aku baru saja memberinya foto Brendon Urie bertanda tangan. Lalu, dia mulai tertawa, dan itu juga membuatku tertawa. Aku tidak tahu apa yang lucu. Kami hanya merasa bahagia.

Di meja sebelah, aku melihat seorang pria kurus beruban tersenyum ke arah kami. Dia duduk sendirian, membaca Koran New York Times yang berita utamanya mengenai presiden tahun enam puluhan. Rupanya, restoran ini sudah sangat lama berdiri. Aku membalas senyumnya, dan dia menyuap makanan, yang mungkin, sudah tidak ada di menu selama puluhan tahun. Begitu banyak arwah yang menginginkan sesuatu. Tetapi banyak juga yang tidak—mereka hanya ingin terlihat oleh mata. Aku bisa melihat mereka. Aku senang melakukannya.

Aku berdiri di luar menunggu taksiku. Ibuku memberi kami berdua ongkos taksi untuk pulang, tetapi Rukia sudah dijemput. Taksiku datang tak lama sesudahnya, dan aku masuk lalu duduk dengan nyaman di kursi belakang. Kadang-kadang enak rasanya menjadi penumpang tak dikenal, hanya duduk bersandar dan membiarkan orang lain menyetir. Tanpa harus berbicara tentang apa pun.

Kami melewati sekolah dalam perjalanan pulang. Acara dansa sudah lama berakhir, dan sekolah gelap gulita. Jendela perpustakaan memantulkan cahaya bulan, tampak seperti sepasang mata dalam kegelapan. Aku merinding saat tiba-tiba ingat bahwa Shirayuki bukan satu-satunya makhluk dari dunia lain di perpustakaan itu. Ada sosok gelap dan kosong yang kulihat. Apa pun itu, aku tahu satu hal, ia masih ada di sana. Dan yang lebih buruk lagi, aku tahu bahwa setelah interaksiku dengan Shirayuki berakhir, makhluk itu sekarang tahu tentang AKU. Aku sudah menarik perhatiannya. Dia tidak akan pergi. Pada akhirnya, aku harus memberitahu Rukia tentang apa yang kulihat. Memberitahu Ibu juga. Kami harus mencari tahu makhluk apa itu. Kami harus membuat rencana. Tetapi, aku tidak ingin memikirkan soal itu sekarang. Biar dia menunggu sampai matahari sudah bertengger aman tinggi di langit.

Aku lega saat kami membelok dari jalan utama dan meninggalkan gedung sekolah berdiri sendiri dalam kegelapan. Aku sekilas teringat Senna yang diselimuti sekorasi dansa, dan nyaris tertawa keras-keras. Aku berpikir tentang keramahan Ishida yang tak terduga setelah aku menyinggung soal neneknya. Dari mana datangnya itu? Langitkah?

Ishida memang mengatakan dia sekarang merasa jauh lebih baik tentang neneknya sejak... entahlah, sesuatu yang tidak jadi dia katakan. Mungkinkah Ishida meminta tolong pada Ibuku? Apakah Ibuku menyampaikan pesan untuk Ishida kepada neneknya?

Ibuku tidak pernah membicarakan identitas kliennya, dan aku tahu tidak ada gunanya bertanya. Kecurigaanku bahwa Ishida meminta bantuan Ibuku hanya akan menjadi kecurigaan belaka. Tetapi juga lebih dari itu. Entah bagaimana, itu memberikan harapan. Harapan bahwa, Ishida Uryuu, Cowok Paling Populer dalam area kode pos ini sekaligus, pasangan dari Penguasa Angkasa Cewek-cewek Satelit, mungkin, hanya mungkin, tidak sepicik yang kukira. Harapan bahwa tidak semua cewek populer seperti Senna. Harapan bahwa mungkin kau mau mengenal dengan lebih baik, beberapa orang tidak terlihat seperti yang tampak di permukaan.

Kami memasuki jalan tempat aku tinggal, dan taksi berhenti di luar rumahku. Sebagian besar lampu sudah dimatikan. Dapur diterangi cahaya lembut keemasan dari beberapa lilin. Aku mendengar Kon mulai menggonggong di dalam, dan seperti biasa suara itu memenuhi hatiku dengan cinta. Pada saat bersamaan, aku tidak sabar untuk bertemu Ibu.

Aku tidak tahu apa yang menantiku di masa depan. Hanya bahwa ada beberapa hal biasa, dan sejumlah hal penting yang tak biasa. Bahwa bagi para arwah dan Rukia juga, AKULAH cowok yang paling populer di sekolah. Seorang penafsir, pembawa pesan, mempunyai kekasih yang begitu mahir dalam bermain biola, kadang-kadang penyelamat, kadang-kadang juga seorang teman. Dan jika aku lebih suka bekerja dalam cahaya lilin, membawa kartu tarot saat bepergian, dan dikenal sering berbicara sendiri, maka, yah, mungkin itulah yang akan kujalani.

Jadi, ya, mungkin menjadi seorang medium bukanlah hal yang paling keren di dunia.

Tetapi di sisi lain, itu mungkin saja.

~THE END~


Review reply:

First from Owwie Owl gabisa login, Hehehe, soalnya ada beberapa yg minta IchiRuki jadian, ya sudah saia kabulkan *kedengerannya kek peri pengabul permintaan aja =.=* Ya, udah end kok sekarang, huehehe XD. Yup ini udah diupdate. Makasih banyak untuk Reviewnya yaa~! ^^

Kedua dari nenk rukiakate, Waah, kalo begitu kita tos dulu donk XD *diinjek* Huehehe, *ngibarin bendera IchiRuki* yah, sebenernya udah selesai, chapter ini cuma penjelasan sekalian penutupnya :D. Yak, ini udah diupdate, makasih Reviewnya~! ^^

Ketiga dari Shana Nakazawa, Hueee *nangis terharu*, makasih banyak Shana T.T. Huehehe, berkat permintaan dari kawan2 sekalian, Shizu wujudkan deh supaya mereka nikah—eh maksudnya pacaran, huehehe XD. Yap, ini udah diupdate sekalian menjadi chapter terakhir kita. Makasih banyak Reviewnya yaa~! ^^

Terakhir dari Chadeschan, Eeh, gak apa2 kok :D. Senna gak kenapa2, cuma mungkin ia bakal dihantuin rasa takut sama kejadian di perpustakaan sama Ichigo waktu itu ^^. Huahaha *ketawa nista*, saia gak tau cara jadiannya harus seperti apa supaya terlihat meriah. Makasih banyak yaa~! ^^

Yosh! Langsung update kilat aja deh! Huehehe, seperti yg udah kita ketahui, chapter ini adalah chapter terakhir dari fic yg berjudul Medium. Fic dengan chapter terpanjang daripada yg lain =.=a. Ya, yg bisa Shizu katakan sampai sekarang hanya terima kasih yg sebanyak2nya, udah stick together ampe the endnya juga, huehehe XD.

Jadi, mind to Review buat chapter terakhir ini? :) Terima kasih sekali lagi, dan sampai jumpa~!