#The Story From Nanboku-Cho#
.
.
.
Langit menggelap di arah Timur Kyoto, menandakan akan terjadi badai dalam waktu dekat. Tak bermaksud menggubris salah satu fenomena alam itu, kedua sosok berkuda coklat terus melaju di kegelapan malam.
"Sepertinya malam ini akan terjadi badai, Hime-sama!" seru salah seorang penunggang kuda yang berlari di depan.
Gadis bertudung kain lusuh itu mendongakkan wajahnya, menatap langit malam yang kelabu—walau diterangi sinar rembulan.
"Timur Kyoto, ya?" ia bicara pada diri sendiri, "Benar juga."
"Hime-sama?"
Keempat betis salah satu kuda coklat—yang berada di belakang— itu berhenti, ketika kekang yang mengikat leher mereka ditarik secara paksa, hingga ringkikkan protes mereka menggema dikegelapan hutan.
"Bagaimana? Kita menginap di tempat ini dulu, atau melanjutkan perjalanan?" tawar si gadis yang kini telah melepas tudung coklat yang sedari tadi menutupi wajahnya, "Menurutku badai itu pasti akan bergerak ke arah selatan seiring angin bertiup. Jadi, bagaimana?"
Sasuke menatap lawan bicaranya datar—setelah menghentikan laju kudanya—namun tak berucap apapun. Hanya diam dengan otak yang terus berputar mencari celah.
"Hei!"
"Sebaiknya kita lanjutkan perjalanan." Ucapnya datar, seraya kembali memposisikan diri, "Paling tidak, badai itu akan bergerak selama 10 atau 20 menit untuk mencapai Selatan. Jadi, kita masih mempunyai banyak waktu untuk pergi."
Naruto menghela napasnya pelan, lalu kembali memasang tudung kepalanya, dan ikut memposisikan diri di atas kuda.
"Padahal aku sangat lelah…" gadis cantik itu menggumam kesal, seakan ia tak diizinkan untuk beristirahat di tengah malam yang dingin, "Aku mengantuk, Sasuke."
"Sudahlah," Ravennya menoleh, "Sebentar lagi juga akan sampai."
"Ku pegang kata-katamu."
Tak membalas perkataan sang Putri Kaisar, ia berbalik seraya melaju dalam kegelapan, diiringi oleh Naruto yang tampaknya sangat kelelahan, setelah 3 jam perjalanan dengan berkuda.
Argh, kepalanya pusing dan terasa berdenyut aneh. Mungkin karena ia tidak tidur hingga selarut ini. Sialnya lagi, perut ramping itu terus menggumam protes, karena ia belum makan malam.
"Sial…"
The Story From Nanboku-Cho
*
Naruto belong to Masashi Kishimoto
Romance, & Hurt/Comfort
Rate; T
This fic belong to Miyako Shirayuki Phantomhive
Don't Like Don't Read!
Check This Out!
Seperti apa yang telah ia prediksi. Langit Selatan Kyoto mulai menggelap, dan rintik air mulai terdengar membasahi dedaunan kering, hingga menimbulkan bunyi gemericik air yang merdu.
Beruntung sebelum rintik-rintik air itu membasahi tubuh mereka, Istana Selatan Kyoto telah terlihat dari balik rimbunnya pepohonan, dengan jembatan kayu lebar yang menghubungkan Istana dengan perumahan penduduk.
Pintu gerbang utama terbuka lebar saat mereka telah sampai di depannya. Derit gerbang yang terbuka cukup memekakkan telinga, dan mau tak mau Naruto harus menekan rasa geli nya terhadap derit pintu.
"Aku benci suara itu." gumamnya setelah masuk kedalam Istana yang tak terlalu megah. Sejenak ia ragu bila Ayahnya memerintah seseorang untuk membangun tempat ini dengan ikhlas.
"Apa ini Istana tersembunyi? Lebih terlihat seperti dojo."
Sasuke menoleh sekilas, lalu kembali melanjutkan langkahnya menghampiri rekannya yang berambut putih. Hebatnya lagi, rekan Sasuke bukanlah seorang yang tua. Dia muda, dan terlihat bersemangat.
"Sasuke!" seru pemuda di seberang mereka, sambil berjalan menghampiri Sasuke, "Lama tidak berjumpa, ya?"
Pemuda berambut raven itu mengedikkan bahunya tak peduli, "Yah, begitulah. Bagaimana kabarmu, Suigetsu?"
Pemuda bernama Suigetsu di depannya terkekeh, lalu merentangkan kedua tangannya. Seakan memperlihatkan tubuhnya yang terbalut kinagashi hijau lusuh.
"Tak perlu ku jawab pun, kau sudah tahu kan?" ia menyeringai, dan hanya dijawab oleh dengusan malas Sasuke.
Iris perak Suigetsu bergulir dari menatap Sasuke, ke seorang gadis manis berambut pirang keemasan yang tengah berdiri di belakang rekannya itu.
"Jadi, dia putri Kaisar yang ditugaskan untuk membantu kita?" ucapnya sambil menunjuk Naruto dengan dagu, dan dijawab anggukan Sasuke, ia menyeringai, "Cantik, dan tubuhnya juga ideal."
Onyx Sasuke bergulir maklum dengan sifat rekannya ini yang ternyata selain menyebalkan, juga tidak tahu diri. Buktinya saja, ia berani mengatakan hal itu di depan sang Putri Kaisar yang tengah menatap mereka dengan tatapan tajam, seperti tak suka dengan tanggapan Suigetsu dengan tubuhnya yang berbalut tsumugi biru tua.
"Jaga ucapanmu, Suigetsu. Dia putri Kaisar." tegurnya datar, lalu kembali berjalan memasuki genkan, seakan tak mempedulikan gadis cantik di belakangnya, dan rekan kerjanya yang mesum.
Suigetsu tertawa keras, "Baiklah, sepertinya kau sangat 'menyayangi'nya ya?"
Sasuke terdiam sesaat, lalu berbalik menatap tajam sang Rekan, "Akan kubunuh kau suatu saat nanti."
Lagi, ia tertawa keras melihat cara salah tingkah temannya itu. Kaku, dan terkesan bahwa ia tak pernah jatuh cinta sebelumnya.
"Baiklah~ Aku kalah Uchiha!" ia menatap Naruto sekilas, sebelum pergi menyusul Sasuke yang kini telah memasuki genkan, sembari berteriak, "Silahkan lihat-lihat dulu Hime-sama!"
Matanya memicing kesal karena ditinggalkan begitu saja oleh Sasuke, dan Suigetsu. Sendirian di tengah para pasukan yang sedang berjaga di sekitar Istana.
Naruto mendengus kesal, lalu berjalan mengikuti kedua sosok pemuda yang tadi berbincang akrab, hingga tak menghiraukan keberadaannya lagi.
Helai pirangnya yang terikat ekor kuda, bergerak-gerak saat memperhatikan arsitektur keseluruhan bangunan yang kini ia kunjungi.
Bangunan yang disebut Kaisar dan Sasuke Istana Selatan Kyoto itu tampak indah di penglihatannya. Bangunan berlantai 2 itu beratap runcing dikedua sudutnya yang diterangi obor di setiap balkon dan di beberapa sudut yang terkena bayangan dari bangunan. Benar-benar tempat yang sulit untuk dimasuki bila obor hampir berada di setiap sudut.
Tak jauh dari gerbang utama, ia lihat sebuah benteng besar yang terbuat dari susunan bebatuan yang cukup rumit menurutnya. Tidak, setelah ia lihat lebih jauh, benteng dari Istana Selatan ini cukup banyak. Benteng hampir berada di seluruh mata angin, dan mengelilingi bangunan utama dalam radius—sekitar—200 meter kepegunungan. Ah, licik juga Kaisar hingga mempersiapkan bangunan sedetail ini untuk menghadapi musuh.
Seperti Bangunan Istana pada umumnya, Istana Selatan juga dikelilingi oleh pagar berupa susunan bebatuan yang kuat, dan tinggi. Dengan begini, ia tahu apa yang harus ia rencanakan saat peperangan tiba.
Bibirnya tersenyum meremehkan, "Heh, pengecut." Dan ia melanjutkan langkahnya menuju Istana. Lagipula, tubuhnya juga mulai basah dengan rintik hujan yang mulai menderas sejak tadi, bodohnya ia yang terlalu sibuk berpikir.
Begitu ia memasuki genkan, roka—koridor—yang lumayan panjang, seperti tak berujung di dalamnya. Obor yang menerangi sepanjang roka dengan bayangan pilar-pilar tinggi, cukup membuatnya merinding, untung saja di pintu depan terdapat dua penjaga.
Naruto berbalik menatap salah satu prajurit itu—setelah membiarkan mereka membungkuk hormat. Salah satu prajurit yang tingginya melebihi ia, tersenyum lembut.
"Apa Anda perlu bantuan, Hime-sama?" ia bertanya sopan, Naruto mengangguk mengiyakan, lalu balas tersenyum.
"Kulihat Sasuke dan Suigetsu lewat pintu ini. Jadi, apa kau tahu mereka pergi kemana?"
Pria itu terlihat berpikir sejenak sebelum menjawabnya, "Kalau saya tidak salah, Sasuke-sama pergi ke ruang perjamuan bersama Suigetsu-sama."
Helai pirangnya yang terikat satu itu bergerak mengangguk, "Begitu? Dasar… beraninya meninggalkan ku!"
"Hime-sama…" panggil pria berambut panjang itu, membuatnya mendongak, "Apa perlu saya antarkan?"
Setelah terdiam cukup lama, akhirnya ia mengangguk ragu-ragu, "Maaf merepotkan mu… eng…"
Prajurit ramah itu tersenyum lembut sebelum menyebut namanya, "Hayate, Hime-sama."
#The Story From Nanboku-Cho#
Washitsu berpenerangan obor itu cukup luas. Di sisi kanan dan kirinya terdapat fusuma berlukiskan naga yang sedang mengamuk—memporak porandakan Takamagahara—juga beberapa hiasan seperti; guci—yang berada di lemari panjang dekat perapian—dan kaligrafi—yang di pajang, sekitar altar pemujaan—ikut memperindah washitsu itu.
Di tengah-tengah washitsu terdapat meja perjamuan yang cukup panjang, tak lupa beberapa bantalan untuk duduk di sisi kanan juga kiri. Tepat di depan meja panjang itu ada sebuah altar pemujaan juga lukisan besar Kaisar Go-Daigo yang terpajang di atasnya. Washitsu luas yang indah.
Tak jauh dari fusuma tempat prajurit berjaga, Naruto dan Sasuke duduk seiza sembari melahap makan malamnya dengan sopan, berbanding balik dengan Suigetsu. Pemuda samurai itu terus melahap makannya sambil bicara, tak peduli decakan kesal dari gadis di hadapannya.
"Anda tahu, Hime-sama?" jemarinya bergerak menyuap sesumpit daging katsuo no shigure ni, lalu berkata tak jelas, "Saya dan Sasuke salah satu pengikut aliran pedang Gyoryu!"
Naruto mengernyit tak mengerti, lalu meletakkan sumpitnya di atas mangkuk dan menangkupkan kedua tangannya seraya bergumam 'Arigatou Gozaimasu'.
Gadis beriris safir itu mendengus malas, "Habiskan makananmu, baru bicara, dasar tidak sopan!"
Suigetsu menelan kunyahannya tadi keras hingga menimbulkan suara yang membuat Sasuke tak ingin lagi menyuap makanannya.
Pemuda itu meneguk secangkir kecil genmai shoshu di hadapannya lalu menatap Naruto antusias sambil mencondongkan tubuhnya, sedangkan gadis itu sendiri mengernyit risih. Tubuh mungilnya beringsut mundur, lalu bergumam takut pada Suigetsu, "Jangan menatapku seperti itu!"
Pemuda bergigi layaknya hiu itu menyeringai, dan perlahan menjauhkan wajahnya dari Naruto, "Saya dan Sasuke adalah pengikut aliran pedang Gyoryu! Apa Anda sudah tahu rumor tentang aliran itu?"
Iris safirnya membulat tak percaya, lalu dengan tak sengaja menggebrak meja sebagai pelampiasan rasa ketidak-percayaannya "Aliran Gyoryu? Kalian pasti bercanda!"
Sasuke yang tengah melahap makan malamnya mengernyit tidak suka dengan teriakan melengking dan gebrakan meja dari Naruto yang kelewat keras. Iris kelamnya melirik gadis itu tajam, seakan menegur gadis yang mengaku anak Kaisar itu.
Merasa diperhatikan, Naruto menundukkan kepalanya sekilas, lalu kembali duduk seiza seperti yang lain—kecuali Suigetsu.
"Ajari aku!"
Onyx miliknya terbelalak saat seruan memohon—mungkin tepatnya memaksa—Naruto agar mengajarinya berlatih aliran pedang itu.
Ditatapnya tajam Suigetsu yang telah membuat sang Putri 'memaksa' mereka untuk mengajarinya aliran berpedang itu.
"Jangan meminta yang tidak-tidak, Hime-sama!" Tukasnya seraya melempar tatapan tajam pada gadis di hadapannya, "Aliran itu membutuhkan waktu lama, dan yang ada dalam pikiran Anda tidak semudah kelihatannya. Jauh lebih sulit, dan berbahaya."
Naruto balas menatap kesal pada Sasuke, "Ck, setidaknya aku bisa membela diri di pertempuran nanti dengan aliran itu!"
Suigetsu menyeringai, lalu menepuk pelan pundak tegap Sasuke, "Benar, apa jadinya bila Putri Kaisar lemah tak berdaya? Yang ada hanyalah Kaisar dipermalukan!"
Lengan kekar Sasuke menepis tak suka tangan Suigetsu yang menepuk pundaknya, "Jangan memperburuk keadaan, Suigetsu."
Pemuda berambut putih di sebelahnya menghela napas malas, "Lagipula, aku ragu ia sudah menguasai kiri oroshi, chiburi, dan nukitsuke."
"Kau berkata seperti itupun, malah membuatku makin tak percaya." Matanya melirik Naruto datar, "Tanpa melatih dan mengajarinya pun, ia sudah menguasai iaijutsu, kenjutsu, dan jujitsu dengan baik."
Suigetsu yang baru mendengar hal mencengangkan itu pun, lantas menolehkan kepalanya pada Naruto yang tengah menunduk sambil mengerucutkan bibirnya. Pemuda itu menatapnya tak percaya.
"Benar begitu, Hime-sama?" ia bergumam, dan dijawab anggukan lesu Naruto, "Astaga! Kalau begitu kenapa aku baru tahu, Sasuke? Seharusnya Anko dan Kurenai memberitahu kita!"
Onyx itu memicing tidak suka, "Tepatnya 'aku' bukan 'kita', Suigetsu."
Rambut putih pendeknya menggeleng keras, lalu mencondongkan badannya ke arah Naruto, hingga membuat gadis itu hampir terjatuh dari posisinya karena kaget.
"Hime-sama, memang sejauh mana Kurenai dan Anko mengajari Anda?" tanyanya penasaran, "Jelaskan pada saya!"
Tubuh mungilnya beringsut mundur dari meja yang kini menjadi tumpuan tangan Suigetsu, dan menatap pemuda itu ragu.
"Kurenai-sensei sudah mengajariku semua teknik jujitsu; atemi waza, gyakudori, nage waza, Koryu, dan, Wado-ryu.
Sedangkan Anko-sensei sudah mengajariku beberapa aliran kenjutsu; Niten-ryu, Yagyu-ryu Itto-ryu, Tennen-Reshin, dan Shinto-munen.Tapi selain itu mereka mengajariku cara menyerang dengan Tekko, Tessen, Yumi, Yari—atau kalian biasa menyebutnya ilmu Sojutsu—selain itu… mereka juga mengajarkan ku taktik besar perencanaan perang juga strategi menurut lingkungan."
Suigetsu tercengang mendengar penuturan Naruto yang kini masih saja menundukkan kepalanya. Pemuda berambut putih itu menoleh pada Sasuke, menatapnya seakan bertanya, dan dibalas oleh anggukan singkat dari pemuda tampan itu.
"Pantas saja Anda diperintahkan untuk membantu kami di sini!" serunya frustasi, malu dengan apa yang telah ia ucapkan sebelumnya, "Maaf saya telah bicara sombong pada Anda, Yang Mulia!"
Gadis cantik itu menggeleng keras, "Tidak! Justru aku ingin kalian mengajari ku memperdalam ilmu pedang! Dari dulu aku ingin sekali menjadi Jenderal!"
Sasuke sedikit bingung dengan pemikiran Putri Kaisar satu ini. Menurutnya, kebanyakan Putri Kaisar itu menginginkan mereka agar dinikahi oleh pangeran, bangsawan, maupun pejabat Istana. Selain itu? Entahlah, tapi itulah yang ia ketahui selama bekerja sebagai salah satu Jenderal di Istana Kaisar.
Tak jauh berbeda dari Sasuke, rekan kerjanya yang satu perguruan itu juga terdiam tak percaya pada sang Putri, dan mulai bertanya-tanya, apakah gadis ini punya kelainan? Tidak, atau entahlah… ia sama sekali tak mengerti apa maunya seluruh wanita di dunia ini.
"Apa Anda sedang bercanda, Hime-sama?"
Lagi, Naruto menggeleng, lalu menatap memohon pada Sasuke yang balas menatapnya aneh.
"Kumohon…" gadis itu mengiba, "Selama 15 tahun ini aku terus mengasah kemampuan ku bertarung, hanya untuk menjadi Jenderal impianku.
Yah, aku mengerti bila jabatan satu ini paling tidak diminati oleh—hampir—seluruh Putri yang ada di dunia! Tapi… tapi aku berbeda… aku ingin melindungi mereka yang kusayangi, juga rakyatku di masa depan."
Lama mereka terdiam, hingga suara gemerisik kain bergesekan terdengar dari arah Sasuke. Pemuda tampan itu berdiri dari posisi duduknya, lalu melangkah santai meninggalkan washitsu itu.
"Kau mau kemana, Sasuke?" Naruto bertanya, namun tak dijawab oleh Sasuke, "Aku belum sele—!"
"Bila Anda bersungguh-sungguh ingin mempelajari aliran itu. Besok pagi saya tunggu di dojo Istana." Ucapnya datar, tanpa berpaling sedikitpun, lalu kembali melanjutkan langkahnya hingga tubuh tegap berbalut kinagashi biru muda, tertelan bayang gelap roka. Meninggalkan gadis manis yang tengah terdiam tak percaya.
Besok pagi? Cepat sekali…
#The Story From Nanboku-Cho#
Malam kini jauh lebih gelap dibanding dengan malam yang lalu. Badai kini tengah melanda Kyoto Selatan dengan gencarnya. Angin bertiup kencang, hingga merobohkan pepohonan tua yang tak sanggup menahan deru angin.
Naruto duduk meringkuk memeluk kedua lututnya. Wajah cantiknya mendongak, menatap malam yang bergemuruh—lewat shoji bundar di kamarnya—sedang jemari lentik yang terbiasa menggenggam pedang itu memeluk sebuah cangkir berisikan teh hijau yang hangat. Sepertinya ia tak bisa tidur nyenyak malam ini.
Gadis bermarga Fujiwara itu menghela napas lesu, sembari menenggak minumannya perlahan. Rasa teh hijau yang pahit menyeruak melewati tenggorokannya, berusaha mempertahankan suhu hangat tubuhnya.
"Aku benci badai." Gumamnya kecil, sebelum meniup uap panas tehnya, "Setidaknya yang membuatku benci itu suaranya."
Entah… ia ragu, bila besok dapat bangun lebih pagi untuk latihan bersama Sasuke. Mau bagaimana lagi? Walaupun sudah sangat mengantuk dan lelah, ia tak bisa tidur bila deru angin yang keras selalu membuat jantungnya berdegup takut. Ya, gadis yang bercita-cita menjadi Jenderal di kalangan Istana nanti, ternyata takut dengan gemuruh angin saat badai.
"Sasuke…" ia menggumam pelan, seraya merebahkan diri—setelah meletakkan cangkir teh di depannya—di atas tatami yang dingin—walaupun di belakangnya sudah tersedia tempat tidur besar yang bertirai.
Takut. Tubuh kecilnya sedikit tersentak saat gelegar petir menyambar di kejauhan. Ia takut, dan tak ada seorang pun yang kini menemaninya di washitsu itu. Takut sekali…
Tak ingin terus terpaku pada rasa takutnya terhadap petir atau badai, gadis beriris safir itu terdiam memikirkan peristiwa beberapa jam yang lalu.
Yah, Rasanya aneh bila ia mengingat peristiwa beberapa jam yang lalu, saat ia memeluk Sasuke dan berkata 'jangan meninggalkannya'. Ia merasa pipinya kini tengah bersemu mengingat kejadian itu.
"Aneh… kenapa aku tiba-tiba memeluknya?" bisiknya kecil, menutupi perasaan aneh yang kini bergelut manja dalam dadanya, "Ah, harusnya aku lebih memikirkan nasib Okaa-sama dan Saneyo-san! Bukan nasibku!"
Ia terdiam sejenak. Benaknya melayang pergi entah kemana. Entah apa yang ia pikirkan sekarang… yang pasti… wajahnya terus memerah bila mengingat wajah tampan Sasuke. Ya, wajah tampan pemuda itu.
Mungkinkah ia jatuh cinta? Ia tidak tahu. Tidak, tepatnya ia tidak mau tahu apa yang sedang ia rasakan kini, dan berusaha fokus pada peperangan yang kapan saja bisa terjadi. Fokus untuk menyelamatkan kedua wanita yang sangat ia sayangi.
Tapi apa? Kadang sebersit perasaan hampa dan aneh—ia tidak tahu, bagaimana menggambarkan perasaan aneh yang selalu membuatnya berdebar tak karuan—juga menghantui setiap detik yang ia lewati. Nah, sekarang ia harus menyalahkan siapa atas semua yang telah terjadi? Sasuke? Tidak mungkin! Jelas ia yang pertama memeluk pemuda itu… dan setidaknya saat itu ia lupa tata krama seorang putri, dan membuat ia merutuki dirinya sendiri bodoh.
Apa hanya dengan memeluk, kau dapat merasakan cinta datang secepat ini? Entah, ia bingung.
Gadis manis itu menggeram pelan, "Sialan!"
Helai pirangnya terasa berat saat itu juga, seiring dengan gejolak aneh yang membuatnya sesak napas. Apa ini?
#The Story From Nanboku-Cho#
Entah sudah berapa lama ia menunggu di dojo yang luas ini. Bersender pada sebuah tiang dekat perapian, sembari memainkan gagang hitam katana miliknya.
Onyx bak langit malam tak berbintang itu bergulir menatap satu persatu benda yang berada di ruangan luas itu. Tak jauh dari tempatnya berdiri terdapat sebuah lukisan kaligrafi berartikan 'Kemenangan', yang ditulis besar pada sebuah kain yang menutupi sebagian besar dinding kayu di atas perapian, sedangkan di seberang tempatnya berdiri, terdapat sebuah rak berisikan berbagai macam katana siap pakai, dan bokken. Ia mulai berpikir, benar juga perkataan Naruto tadi malam tentang Istana ini. Tempat ini terlihat seperti markas militer daripada sebuah Istana dengan belasan paviliun.
"Maaf terlambat!"
Ravennya bergerak menoleh, lalu mendengus menatap sang Putri yang terlambat datang dari perjanjian semula. Ck, ia meminta gadis itu untuk datang pagi-pagi buta… bukan pagi hampir siang seperti ini!
Naruto tersengal menarik napas saat berdiri tepat di hadapan Sasuke. Tubuhnya sedikit membungkuk saat itu.
Pemuda tampan itu menghela napas maklum, lalu menatap safir di hadapannya malas.
"Kenapa Anda datang terlambat, Hime-sama?" ia bergumam kesal, "Ini sudah hampir siang, dan Anda baru saja datang? Saya sudah menunggu Anda lebih dari sejam yang lalu."
Setelah dirasanya cukup menghirup udara di pagi hari, didongakkannya kepala, menatap Sasuke yang lebih tinggi darinya.
"Aku tidak bisa tidur tadi malam, gara-gara badai…" ujarnya pelan, "Dan aku baru bisa tidur setelah badai berhenti… mungkin sekitar jam 5 aku baru tidur."
Onyx-nya terus menatap Naruto penuh selidik, sedangkan gadis itu hanya terdiam dengan wajah memohon.
Sasuke mendengus geli, "Apa-apaan wajahmu, Hime-sama?"
Bibir ranumnya tersenyum lebar, "Setidaknya aku berusaha meyakinkanmu dengan wajah seperti itu."
Sasuke menatapnya lembut, namun berubah menjadi tatapan kaget saat ia lihat penampilan bak lelaki yang di kenakan sang Putri. Bayangkan saja, hakama putih yang terlihat kebesaran—yang untung saja, lengan pakaian kebesaran itu di tahan oleh sebuah tasuki—lengkap beserta obi model kai no kuchi yang biasanya hanya untuk laki-laki—tepatnya samurai—lalu rambut pirangnya juga diikat tinggi—seperti ekor kuda—dan ia bisa melihat beberapa helai pirangnya di pundak kecil itu.
"Hime-sama… rambut Anda…"
Naruto menggeleng, lalu memperlihatkan helai pirangnya yang agak pendek dari sebelumnya, "Aku memotongnya, agar lebih mudah bergerak, dan mataku tidak terkena rambut."
Pemuda berambut onyx itu hanya bisa terdiam menatap gadis cantik di hadapannya. Gadis cantik yang mulai berubah menjadi pemuda cantik.
"Ah, Sasuke!" panggilnya riang, membuat pemuda itu segera tersadar dan menatapnya bingung, "Jangan panggil aku se-formal itu… asal kau tahu saja, aku sama sekali tidak menyukainya!"
"Eh?"
Naruto mengangguk, lalu berlari kecil menghampiri rak bokken yang berada tak jauh dari tempatnya berada, lalu mengambilnya, "Mulai saat ini, kau harus memanggilku, NARUTO. Bukan Hime-sama atau yang lainnya. Cukup, NARUTO."
"…"
Ia terdiam cukup lama, sebelum menatap horor gadis yang tengah bermain pedang di seberangnya. Astaga… haruskan ia melanggar salah satu etika lagi, demi keluarga Kaisar ini?
#The Story From Nanboku-Cho#
Dua bilah bokken itu saling menghantam satu sama lain. Menebas, menusuk, dan bertahan.
Naruto melompat jauh kebelakang saat tusukan bokken Sasuke hampir saja mengenai perutnya. Gadis itu kembali menyerang sang Raven yang terus menatapnya datar, berbanding balik dengan tatapannya yang penuh semangat di pagi hari ini.
Bokken miliknya menghantam keras bokken Sasuke, hingga membuat pemuda itu hampir terjerembab ke belakang, membuat Sasuke berhenti meremehkannya.
Sasuke mengarahkan bilah bokken-nya pada kaki gadis itu, namun dengan cepat Naruto melompat menghindarinya, dan balas menebas saat pemuda itu akan menegakkan tubuhnya. Namun, refleks Sasuke lebih peka, membuatnya bisa menghindari sabetan pedang kayu Naruto dan menangkisnya kuat hingga tubuh kecil itu bersalto dua kali kebelakang.
"Kau seperti kucing, Naruto." Ucapnya sembari menyiapkan kuda-kuda dengan bokken terhunus di depannya.
Naruto terkekeh kecil, sambil mengibaskan rambutnya, "Tidak! Lebih tepatnya rubah~"
Bibir tipis itu menyeringai, "Benarkah? Mari kita tes seberapa peka gerak refleks mu, Hime-sama."
Gadis berambut pirang keemasan itu mengerucutkan bibirnya, "Sudah kubilang jangan panggil aku dengan embel-embel itu!"
"Hn,"
Secepat kilat Sasuke menebaskan bokken miliknya pada leher Naruto di saat gadis itu lengah. Iris safirnya terbelalak namun langsung menundukkan kepalanya, menghindari tebasan itu, dan menendang lutut Sasuke sekuat yang ia bisa.
"Hei!"
Kaki jenjangnya melompat mundur lalu tersenyum kecil pada Sasuke yang tengah meringis sakit karena kakinya di tendang sekuat itu.
Bibir ranumnya tersenyum puas, "Salah satu ajaran Anko-sensei adalah, selagi lawan lengah tendang kakinya setelah kau menghindar dari serangannya. Karena di sanalah letak kelengahan yang mereka miliki."
Sasuke menyeringai, rupanya Kaisar tak salah pilih Jenderal untuk membantunya di peperangan mendatang, "Jujutsu, eh?"
Naruto mengangguk, lalu tersenyum ceria, "Benar sekali!"
"Lalu, apa kau bisa menghindari yang ini?"
Sasuke berlari cepat, lalu menebas gadis di hadapannya lebih keras dari yang sebelumnya, tapi segera di tangkis oleh Naruto. Mengadu kekuatan mereka yang rupanya berbeda jauh—karena Naruto juga seorang perempuan. Namun tak berlangsung lama, hingga Naruto melompat mundur dan menyerang Sasuke secara terencana.
Napasnya mulai tersengal-sengal akibat terlalu banyak mengerahkan tenaga. Melihat kesempatan itu Sasuke segera menyerang Naruto bertubi-tubi. Pedang kayu miliknya, ia gerakkan membujur dan di tangkis Naruto dengan pedangnya yang bergerak melintang. Rupanya gadis itu tidak terlalu fokus lagi setelah napas dan tenaganya terbuang percuma.
"Pelajaran pertama!" seru pemuda itu di dekat wajah Naruto yang memulai memerah kehabisan napas, "Jangan sia-siakan tenaga mu, saat pertempuran! Itu akan menjadi peluang musuh untuk menyerangmu secara cuma-Cuma!"
"Hyah!"
Bokken Naruto kini terkulai lemas seiring dengan tuannya yang mulai kelelahan.
Sasuke menyeringai kecil, "Pelajaran kedua!" serunya, "Usahakan terus fokus pada lawanmu, meski sebanyak apapun mereka. Kau tidak boleh lengah sedikit pun, lengah akan membuatmu jatuh dan terbunuh percuma."
Trak!
Giginya bergemeletuk kesal, saat pedang kayu Sasuke tiba-tiba hampir menebasnya di bagian perut—kalau tidak segera ia tangkis—namun, tebasan pemuda itu segera berpindah dari perut menuju kepalanya. Lagi, ia menghindari serangan itu dengan menunduk, dan menendang lutut Sasuke untuk kedua kalinya, namun berhasil pemuda itu hindari dengan bergerak cepat ke sampingnya, dan balas menendang lutut Naruto hingga gadis itu jatuh berlutut di depannya.
"Pelajaran ketiga!" ia berseru, sembari menarik kerah hakama yang Naruto pakai dengan kasar, hingga gadis itu berdiri, "Bila kau menggunakan cara yang sama dengan durasi secepat itu, lawan akan menyerangmu dengan cara sebaliknya dan mengetahui kelemahanmu, hingga kau jatuh seperti tadi!"
Wajah manisnya berpaling dari Sasuke, menghindari tatapan tajam pemuda itu, "Lihat dan pelajari apa yang ku katakan, Naruto!"
Perlahan namun pasti, ia kembali mendapat perhatian dari safir yang tadi menghindarinya. Safir dan Onyx yang berbeda dari satu sama lain itu kembali berpandangan. Langit malam dan siang yang berbeda jauh.
"Kau ingin menjadi Jenderal, bukan?" tanyanya sarkas tak perduli pada status Naruto yang seorang putri Kaisar, "Ini caraku, dan kulihat kau sama sekali belum mengerti tentang apa arti pertempuran sesungguhnya!"
Gadis berambut pirang itu hanya diam mendengarkan, namun masih menatap kosong pada Onyx di hadapannya.
Sasuke menghela napas kesal, "Aku seorang Jenderal, dan ku akui memang terlalu muda… tapi Kaisar sendirilah yang mengangkatku menjadi salah satu Jenderal di Kekaisaran."
"Lalu kenapa kau malah marah padaku?"
"Itu karena kau meremehkan perang!" serunya, lalu berjalan mundur dengan teratur, menghempaskan tubuh tegapnya pada lantai kayu yang keras, "Apa kau tahu, heh? Perang itu mengerikan! Mereka! Prajurit dan Jenderal sepertiku terancam mati! Tidak ada jaminan hidup di medan perang, Naruto!"
Gadis beriris safir itu merasa bersalah akan kelakuannya selama ini, dan telah meremehkan apa itu yang dimaksud dengan perang. Kedua guru wanitanya kini telah gugur di medan perang, dan ia masih meremehkan hal itu, dengan ilmunya yang sekarang. Ilmunya memang hampir sempurna… tapi ia tak tahu bagaimana cara memakai ilmu nya di medan perang.
"Ayahku mati di medan perang… begitu pula dengan kakek, dan pamanku." Gumamnya lirih, raven miliknya tertunduk, "Kami klan Uchiha turun-temurun mengabdi pada Kaisar, dan sekarang giliranku untuk mengabdi pada Kaisar, walaupun masih ada saudara lelaki ku."
"Jadi kau klan Uchiha?"
Pemuda itu mengangguk membenarkan, "Ya."
"Sasuke…"
"Hm?"
Naruto menghela napasnya pelan, sebelum beranjak dari tempatnya. Menghampiri sang Raven yang tengah tertunduk menatap lantai kayu di bawahnya.
"Kenapa kau tak mengelak dari tugasmu?" ia bergumam lirih, lalu duduk tepat di sebelah Sasuke, dan ikut menundukkan wajahnya, "Sebagai bangsawan… kau punya hak untuk memilih pekerjaan di kekaisaran, misalnya; Perdana Menteri, atau pekerjaan lainnya yang mengharuskan mu bekerja di balik layar."
Kepalanya yang tadi tertunduk, kini mendongak menatap wajah manis Naruto yang juga menatapnya penasaran, membuat pemuda itu tertawa sarkas, lalu menatap sendu gadis di hadapannya.
"Kau tanya, kenapa aku tidak mengelak saja?" pemuda itu tersenyum sinis, "Tidak, sebelum aku dapat melindungi mereka yang berharga bagiku."
Safir bak permata itu menatapnya kagum. Ya, ia kagum akan keteguhan yang dimiliki pemuda ini, dan entah mengapa… perasaan yang bergejolak itu kembali menggebu-gebu, membuat wajahnya memerah.
"Wajahmu kenapa?"
Tidak! Itu pertanyaan telak Uchiha Sasuke! Gadis berambut pirang terikat itu langsung menangkupkan kedua tangannya pada wajahnya. Menutupi wajah manis itu dari pandangan bingung seorang Jenderal muda, Uchiha Sasuke.
"Ti-tidak apa-apa!" ucapnya terbata-bata, "Bukan apa-apa!"
Pemuda itu hanya bisa mengernyitkan dahinya, sebelum tawa keras Suigetsu membuat keduanya tersentak kaget.
"Sejak kapan kau jadi bodoh seperti itu, Sasuke?" ia tergelak keras, sambil menunjuk-nunjuk wajah Naruto yang kembali memerah, "Dia su—"
"Urusai!"
Sasuke yang masih bingung dengan keadaan di sekitarnya, mulai dari Suigetsu yang tertawa, hingga wajah manis Naruto yang memerah, lalu berteriak memotong pembicaraan Suigetsu.
Suigetsu kembali tertawa keras, "Hime-sama~ apa Anda sakit?" ia menggoda Naruto, hingga membuat gadis itu berlari pergi.
Pemuda berambut ravenitu kembali mengernyit bingung, sebelum berdiri menghampiri Suigetsu yag masih tertawa hingga terbatuk-batuk tidak jelas, semenjak Naruto pergi dari tempat itu.
"Kau ini kenapa, sih?"
Suigetsu berhenti tertawa lalu menyeringai aneh padanya, "Kau tidak sadar, heh?"
Sasuke menggeleng, "Sadar karena apa?"
Suigetsu menepuk pundaknya pelan, "Kau ini Jenderal, tapi kenapa tidak peka sama sekali, sih?"
Sasuke menepis lengan Suigetsu, "Berhenti membuang waktuku, Suigetsu! Katakan ada apa?"
Pemuda berambut putih itu tertawa pelan, "Dia menyukaimu."
"Siapa?"
"Ya, putri Kaisar lah!"
Sasuke sempat terdiam lama, yah, butuh waktu beberapa saat untuknya mengerti apa arti kata 'suka' yang rekannya katakan. Tapi tunggu! Tadi dia bilang apa? Menyukai seorang Jenderal sepertinya? Mimpi apa ia tadi malam?
"Kau tidak sadar, ya?" Suigetsu menggeleng maklum, "Kau ini memang peka terhadap serangan… tapi bodohnya, kenapa kau sama sekali tidak peka dengan perasaan lawan jenis, hah?"
Entah yang keberapa kalinya ia terdiam bergulat dengan pikirannya untuk hari ini. Mulai dari perang, hingga perasaan. Apa Kami-sama ingin membuatnya gila? Tumben sekali kinerja otaknya begitu lamban!
Tunggu… Suigetsu bilang, Naruto menyukainya. Tapi, darimana pemuda berambut putih itu tahu bila Naruto menyukainya? Apa wajahnya yang tiba-tiba merona merah itu? Hei, merah bukan selalu berarti menyukai kan? Bisa saja gadis itu marah padanya… walaupun ia sendiri tak tahu gadis itu marah karena apa, dan malu karena apa. Argh! Kenapa semua ini bergitu menjengkelkan, sih?
Suigetsu kembali tertawa, sembari menyenderkan bahunya pada kusen fusuma dojo.
"Kau ini bagaimana, Sasuke?" ia terkekeh pelan, "Aku bingung, kenapa Hime-sama bisa menyukaimu? Padahal isi pikiranmu itu, hanya perang dan strategi!"
Onyx-nya menatap Suigetsu tajam, namun tak berarti apapun pada pemuda itu. Ia tetap tertawa mengejek.
"Diam!" bentaknya, lalu kembali bergulat dalam benak, "Memangnya apa yang membuatmu yakin dia menyukaiku, heh?"
Kepala putihnya menggeleng, lalu mengedikkan bahu, "Wajahnya, mungkin?"
Sasuke menghela napas kesal, lalu berjalan keluar dari dojo, tak memperdulikan Suigetsu yang mengerucutkan bibirnya tidak terima, "Lain kali jangan sembarangan—"
"Tapi dia benar-benar menyukaimu!"
"Tanpa bukti, aku tidak akan mempercayaimu." Ucapnya acuh tanpa menoleh sedikitpun pada Suigetsu.
Tapi siapa sangka? Sebersit rasa senang dan lega melesat jauh dalam lubuk hatinya. Membuat ia kembali berharap, walau mereka bagai sepasang sayap yang cacat. Kami-sama mulai bermain-main dengan bonekanya, itu berarti… perasaan dan takdir adalah dialog dan alur kehidupan sang Boneka.
Dan mereka adalah boneka manekin yang tak bisa hidup tanpa nyawa di dunia ini.
#The Story From Nanboku-Cho#
Hari beranjak siang, begitupula cuaca yang juga beranjak panas. Tampak beberapa ekor burung liar beterbangan di langit biru yang berawan. Langit biru yang begitu indah, hingga ia lupa iris safirnya pun tak kalah indah dari langit itu.
Gadis berambut pirang keemasan itu kini tengah duduk menekuk kedua lututnya di bawah pohon, memikirkan apa yang telah ia lakukan, dan apa yang telah Suigetsu katakan.
Yah, setelah ia pergi—dengan seenaknya, dan tidak sopan—dari dojo tempatnya latihan dengan Sasuke, gadis itu melangkah sembarangan, hingga kakinya berhenti tepat di depan sebuah pohon besar—di dalam lingkungan istana—dan memutuskan untuk beristirahat sebentar di tempat itu, sebelum kembali ke kamarnya.
Helai pirang keemasan yang sedari tadi ia ikat, kini terlepas sempurna, dan membiarkan helaian rambut sepanjang dada itu tersibak oleh angin musim semi. Perlahan, kelopak irisnya tertutup sempurna, saat angin kembali menghempaskan rasa lelahnya dalam berpikir.
Berpikir? Ya, ia sedang berpikir.
Tentang? Tentu saja tentang perkataan Suigetsu, dan perasaan aneh yang tiba-tiba saja selalu mengusik ketenangannya!
Tidak, dimana pun dan kapanpun, bila ia tak segera menuntaskan masalah atau penyakit perasaan ini, ia tidak akan tenang!
Merasa jenuh dengan pemandangan otaknya yang begitu rumit, ia kembali membuka kedua kelopak matanya, hingga safir yang tersimpan apik di sana, menampilkan karisma dan keindahannya. Keindahan yang sanggup membuat Uchiha Sasuke tertahan dalam benak keterpesonaan.
Iris safirnya menatap sayu pada pepohonan yang bergemerisik lembut terkena angin, seakan pepohonan itu tengah menghiburnya demi perasaan yang tak menentu ini.
"Ada apa denganku?" ia bergumam lirih, seraya jemari lentik itu mencengkram erat kerah kataginu yang ia kenakan.
"Kenapa jantungku selalu berdebar saat melihatnya?" ia terdiam sesaat, membiarkan gemerisik angin menjawab pertanyaannya, "Apa aku sakit jantung?"
Tak ada jawaban yang pantas ia terima, selain gemerisik pepohonan di sekelilingnya. Ia bingung… resah, dan tak tahu harus bagaimana. Jujur, sebelumnya ia tak pernah merasa sesesak ini, apalagi di bagian dada.
Yah, rasa sesak itu terus menghantuinya, bila teringat tatapan tajam onyx Sasuke, dan perkataan datarnya.
Aneh bukan? Bisa-bisanya ia menyukai seorang Jederal tak berperasaan seperti itu…
Tunggu! Dia bilang menyukai? Tidak mungkin! Mereka baru bertemu kemarin siang, dan sekarang ia telah merasakan penyakit aneh sesaat setelah bertemu dengan pemuda itu?
Oh, Kami-sama… ia tidak sakit jantung kan? Tidak! Maksudnya, ia tidak jatuh cinta kan?
"Ini gila!"
Ya, memang semua hal yang kau rasakan benar-benar gila. Ah, kau melupakan tata krama berbicaramu, Nona.
"Astaga! Ada apa sebenarnya ini?"
Kepala pirangnya tertunduk kesal. Menenggelamkan seluruh permukaan wajah, pada lututnya yang masih terbalut hakama coklat.
"Okaa-sama… tolong aku…" lirihnya dengan wajah yang masih tertunduk itu.
Rasanya aneh. Perasaan itu terus mendesaknya untuk berkata, tapi ia belum mendapat kata yang pantas untuk mengungkapkannya. Mengungkapkan yang seperti apa pula? Ia bingung, dan wajah tampan Sasuke malah membuat wajahnya semakin merona tak karuan!
"Berhenti memikirkannya!" ia berteriak kesal, sembari mengangkat wajahnya, dan menggeleng-geleng kasar, tak menyadari derap langkah terburu-buru di belakangnya.
"Hime-sama!"
Helai pirang itu bergerak menoleh, dan mendapati seorang prajurit—yang tak ia ketahui namanya—tengah berdiri di belakangnya dengan napas tersengal-sengal.
Gadis itu langsung beranjak dari tempatnya, menghampiri pria itu, lalu menepuk-nepuk punggungnya.
"Hime-sama! Ada surat dari Istana pusat!" seru pria itu dengan wajah pucat, sebelum menyodorkannya sebuah gulungan kecil berwarna putih kekuningan. Naruto mengernyitkan keningnya, curiga.
"Siapa yang mengantarkannya?"
Pria itu menghirup napas dalam-dalam, sebelum menjawab, "Sabaku-sama."
Iris safirnya membulat kaget, "Sabaku no Gaara?"
Pria berambut pendek itu mengangguk cepat.
Tak menunggu lama, jemari lentiknya segera membuka gulungan itu. Membaca deretan huruf hiragana yang membentuk satu pokok pembicaraan. Di tengah-tengah acara membacanya, gadis itu terbelalak tak percaya, dan segera mendongak pada sang Prajurit.
"Cepat panggilkan Uchiha Sasuke, dan Hoshigaki Suigetsu!" perintahnya dengan nada cemas luar biasa, membuat pria itu tersentak kaget, dan segera berlari mencari kedua Jenderal militer itu.
Sepeninggal sang Prajurit, ia menggigiti bibir bawahnya, cemas. Tentu saja, ia sangat cemas.
"Gawat…"
#The Story From Nanboku-Cho#
To Be Continue
Keterangan:
Tsumugi: Kimono santai untuk wanita yang sudah/belum menikah yang dikenakan sehari-hari di rumah, atau boleh juga dikenakan untuk keluar rumah seperti berbelanja atau jalan-jalan. Ciri khas Tsumugi adalah pada bahannya yang merupakan bahan tenunan sederhana dari katun atau sutra kelas rendah dengan benang yang tebal/kasar sehingga bisa tahan lama dipakai.
Kinagashi: Kimono santai sehari-hari yang dikenakan pria untuk keluar rumah pada kesempatan tidak resmi. Bahannya bisa terbuat dari katun atau bahan campuran.
Genkan: Tempat di mana orang melepas sepatu mereka. Ketika mereka melepaskan sepatu mereka, orang-orang melangkah naik ke lantai yang lebih tinggi dari genkan. Disamping genkan terdapat sebuah rak atau lemari disebut Getabako di mana orang dapat menyimpan sepatu mereka. Sandal untuk dipakai di rumah juga tersimpan di sana. Tapi, entah bila di istana seperti apa. Mungkin tidak ada genkan, but, semoga informasi ini menambah wawasan readers. ^^
Roka: Di pinggir rumah terdapat Roka (bagian berlantai kayu, yang mirip dengan lorong-lorong).
Washitsu: Ruang beralaskan tatami dalam bangunan tradisional Jepang. Ada beberapa aliran dalam menyusun tatami sebagai alas lantai. Dari jumlah tatami yang dipakai dapat diketahui ukuran luas ruangan. Dari sejumlah washitsu yang ada di dalam bangunan (rumah) terdapat satu washitsu utama.
Setiap ruangan bisa menjadi ruang tamu, ruang makan, belajar, atau kamar tidur. Hal ini dimungkinkan karena semua perabotan diperlukan adalah portabel, yang disimpan dalam oshiire (bagian kecil dari rumah yang digunakan untuk penyimpanan).
Fusuma: Panel berbentuk persegi panjang yang dipasang vertikal pada rel dari kayu, dapat dibuka atau ditutup dengan cara didorong. Kegunaannya sebagai pintu dorong atau pembatas ruangan pada washitsu.
Seperti halnya shoji, fusuma dipasang di antara rel kayu, rel bagian atas disebut kamoi dan rel bagian bawah disebut shikii. Rangka dibuat dari kayu dan kedua sisi permukaannya dilapis dengan washi, kain (serat alami atau serat sintetis), atau vinil. Bila kertas pelapis sudah rusak atau sekadar ingin berganti suasana, kertas lama bisa dilepas dan diganti dengan kertas baru. Kedua belah permukaan fusuma dipasangi hikite yang berfungsi seperti pegangan pintu sewaktu mendorong fusuma.
Seiza: Istilah duduk bersimpuh dalam bahasa Jepang.
Gyo-ryu: Teknik yang sedang populer di kalangan samurai pada zaman kekuasaan Kaisar Go-Daigo. Untuk saat ini, saya author masih mengakses informasi tentang aliran berpedang ini lebih lanjut. Konon katanya, aliran ini benar-benar hebat sehingga banyak samurai ingin mempelajarinya, namun sang Guru telah meninggal dunia dan para muridnya lebih memilih untuk berpecar ke setiap daerah yang berbeda. Sekali lagi, maafkan Author yang kurang mencari informasi, karena aliran ini pun author dapat dari sebuah novel karya Yasushi Inoue yang berjudul Furin Kazan. Maafkan saya.
Kiri oroshi: Memotong/menebas lawan secara vertikal. Salah satu teknik dasar berpedang.
Chiburi: Membersihkan katana dengan minyak cendana.
Nukitsuke: Mencabut bilah katana dari lawan.
Iaijutsu: Iaido adalah manifestasi dari meditasi dan kemurnian pikiran dalam penggunaan katana, hal ini terwujud dalam teori dasar dalam iaido: Dalam melakukan sabetan, pikiran harus kosong dan tidak memikirkan sesuatu hal yang lain di luar sabetan itu sendiri, dengan melatih konsentrasi setajam pedang, kesempurnaan sabetan baru bisa dicapai.
Kenjutsu: Kenjutsu, atau ilmu pedang, pertama kali ada dalam sejarah Jepang pada era Prasejarah suku Ainu. Kenjutsu sendiri mulai berkembang menjadi beladiri yang sangat penting dan sarana hidup, pada era Sengoku, dimana Kaisar mulai kehilangan pengaruhnya, bangsawan terus berperang dalam memperebutkan kekuasaan, dan para Jendral juga tidak ketinggalan untuk memainkan politik dan intrik istana kekaisaran untuk menjadi penguasa Jepang. Samurai sendiri, mulai mensistematiskan ilmu pedang mereka, dan membentuk aliran-aliran pedang tersendiri.
Jujitsu: Pada dasarnya adalah bentuk-bentuk pembelaan diri yang bersifat defensif dan memanfaatkan "Yawara-gi" atau teknik-teknik yang bersifat fleksibel, dimana serangan dari lawan tidak dihadapi dengan kekuatan, melainkan dengan cara "menipu" lawan agar daya serangan tersebut dapat digunakan untuk mengalahkan dirinya sendiri. Dari seni beladiri Jujutsu ini, lahirlah beberapa seni beladiri lainnya yang mempunyai konsep defensif serupa, yaitu Aikido dan Judo, keduanya juga berasal dari Jepang.
Atemi waza: Ilmu titik tekan tubuh, atau menyerang titik lemah tubuh lawan.
Gyakudori: Gerakan mengunci persendian lawan.
Nage waza: Teknik membanting
Koryu: Jenis beladiri yang tercipta sebelum restorasi Meiji, dimana pada waktu itu Jepang masih dilanda perang yang berkecamuk. Pada masa ini, beladiri murni digunakan untuk membela diri dari serangan musuh, jadi, Koryu kebanyakan merupakan teknik membunuh dan melumpuhkan.
Wado-ryu: Salah satu teknik yang di kemukakan oleh Ohtsuka, sang Master Jujitsu. Jadi, gaya Wado-ryu sendiri lebih banyak memasukkan jurus-jurus bantingan, dan kuncian
Niten-ryu: Penemu aliran ini adalah Miyamoto Musashi. Musashi memodifikasi tekniknya dengan memegang pedang panjang pada tangan kanan, dan Wakizashi (pedang pendek) pada tangan kiri. Ia juga mengembalikan Kenjutsu pada tujuan awalnya, yaitu: untuk berperang seefisien mungkin. Para praktisi aliran Niten, tidak hanya ahli dalam menggunakan tangan kanan dan kirinya untuk menyerang, tapi juga mampu menggunakan lingkungannya untuk bertarung. Melempar pedang, meludahi mata, menggunakan lumpur dan pasir untuk membutakan lawan, bersembunyi di balik pohon, sengaja datang terlambat untuk memanas-manasi lawan, menggunakan matahari untuk menyilaukan lawan, mungkin terdengar pengecut, bagi praktisi aliran lain.
Yagyu-ryu: Praktisi aliran Yagyu akan memegang pedang dengan grip yang kendur dan selalu siap menerima tenaga lawan, dengan tangkisan terlebih dahulu sebelum menyerang
Itto-ryu: Ito Ittosai adalah pencipta Itto-ryu, seorang ronin hebat profesional yang melayani Jenderal yang berani bayar mahal. Aliran Itto-ryu menekankan pentingnya pertarungan sungguhan dalam latihannya.
Tennen-Reshin: Pengguna aliran ini adalah Pasukan Pendukung Pemerintah Shinsen-gumi. Aliran ini menggunakan banyak gerakan sodokan dan tusukan, cukup ideal untuk menghalau gerak pedang tunggal aliran Shinto-munen.
Shinto-munen: Aliran pedang resmi klan Chousu, bergerak sabetan pedang tunggal.
Tekko: Senjata yang digunakan untuk meningkatkan kekuatan pukulan tangan kosong. Pada bagian tinju terdapat ujung yang menonjol. Tekko digunakan untuk menyerang bagian tubuh yang bertulang, seperti; pergelangan, rusuk, dan bahu, juga untuk menyerang titik-titik saraf pada tubuh.
Yumi: Busur panjang. Senjata ini banyak digunakan oleh para samurai untuk menyerang jarak jauh. Sampai sekarang, Yumi masih banyak digunakan dalam olah raga yang disebut Kyudo/Panahan.
Yari: Senjata berbentuk tombak yang digunakan para Prajurit perang. Ilmu beladiri yang menggunakan Yari, disebut Sojutsu.
Tessen: Senjata yang berbentuk kipas yang terbuat dari besi. Ilmu beladiri yang menggunakan Tessen disebut Tessenjutsu.
Dojo: Tempat latihan indoor yang luas.
Genmai Shoshu: Minuman beralkohol asli Jepang, yang terbuat dari hasil fermentasi beras merah.
Katsuo no Shigure ni: Ikan katsuo/cakalang yang di tumis dengan shoyu dan jahe. Shigure ni artinya Autumn Rain.
Shoji: Sama halnya dengan fusuma, bedanya Shoji dapat di tembus cahaya, sedangkan fusuma tidak. Bisa di bilang Shoji adalah jendela besar.
Katana: Pedang panjang Jepang (daitō) walaupun di Jepang sendiri ini merujuk pada semua jenis pedang. Katana adalah kunyomi (sebutan jepang) sedangkan onyomi (sebutan hanzi) karakter kanji tersebut adalah tō. Ia merujuk kepada pedang satu mata, melengkung yang khusus yang secara tradisi digunakan oleh samurai Jepang.
Katana biasanya dipasangkan dengan wakizashi atau shōtō, bentuknya mirip tapi dibuat lebih pendek, keduanya dipakai oleh anggota kelas satria.
Bokken: Pedang kayu
Hakama: Pakaian khas pria yang sederhana, dan sering di gunakan untuk berlatih.
Tasuki: Kalian pernah melihat Chef Harada yang ada di Trans TV? Yap, Chef itu juga mengenakan tasuki, yang notabene sebuah tali untuk menahan lengan baju/kinagashi/kimono/tsumugi/etc. yang lengannya cukup besar dan lebar, sehingga susah untuk bergerak bebas.
A/N:
Konnbanwa, minna-san~ ^^ Ogenki desu ka? Atashi wa genki desu yo! Hehehe
Ne, Mi harap chapter kali ini berkesan dan cukup membuat readers penasaran, walaupun chapter kali ini sama sekali tidak menyenangkan. Yeah, ini membosankan… menurut Mi sih. Tapi readers gimana? Membosankan kah? Mi yakin kalian bosan dengan deskripsi aneh bin ajaib yang ada di atas… =="
Haaah~ Sesuai anjuran dari Li-chan dan Kak Poppy—editor novel kenalan Mi—deskripsi cerita Mi harus di perjelas, karena ini merupakan hal pokok yang harus di jabarkan untuk menunjang jalannya cerita. Betul? #lempar sendal#
Yosh, lupakan pembicaraan aneh yang ada di atas. Sebagai gantinya, Mi sangat berterima kasih, bagi siapa saja yang telah mereview fic abal ini, #ojigi# Arigatou minna-san… Mi sangat bahagia, karena baru pertama kalinya Mi dapet review hampir 20, dengan kata lain 18 review dan 16 review untuk The Way You Are, ne, sepertinya readers cukup menyukai fic itu ya? ^^
Yeah, sebelum sekarang… Fic Mi sebelum-sebelumnya hanya mendapat 5 review untuk Save My Heart, 8 review untuk White Love for White Lily, dan rata" kelipatan 3 untuk fic lainnya… =="
Tapi Mi bersyukur waktu baru dapet 5 review dari Save My Heart yang notabene fic pertama Mi. Yeah, dengan susah payah ngedit cerita, agar menyenangkan hati readers, Mi update itu fic secepat mungkin yang Mi bisa, hingga menjadi sekarang. Kalau boleh jujur, senior kita pada kemana yak?
Ne, mungkin segitu saja curcol Mi, untuk review, gomen bagi yang pake akun, Mi balesnya lewat PM. Gag papa kan? ^^'
Hoho, sekarang kita balas review yang gag login dulu yak~
Mitsuki Ota: Hahaha, terima kasih sudah di review, ngerepotin aja… ==" Wkwk, tambah nilai? Kayak lomba aja ya~ hehe. Yosh, semoga dengan fic ini, membuat Ota-chan agak mudah untuk memahami kebudayaan dan politik Jepang pada zaman peperangan. ^^ Arigatou gozaimasu!
Inuzuka Amor: Iya dong~ Banyak fic baru di lappy Mi~ #multichap semua# Haha, terima kasih… waeyo~ Kenapa di hindari? Yah, Mi juga gag suka sama sejarah sih… khususnya Indonesia… yang di bahas itu-itu aja… ==" Walaupun begitu, Mi tetap menghargai perjuangan mereka hingga Indonesia merdeka secara lahir, bukan batin ^^'. Bingung si kaisar dan selir Tameyo bener apa enggak orang tuanya Naru? Ah~ kan udah Mi bilang… Naru-chan kelainan genetik, pigmennya pirang semua… ==" Yah, tapi sebagai author yang tak ingin ciri khasnya hilang~ #emang ciri khas elo apa?# Hoho, tetap akan ada kejutan di akhir cerita! ^^ Iya, ini sudah apdet kok, Terima kasih sudah review yak~
SaNa Lopers: Arigatou sudah mereview fic ini~ ^^ Aish~ kenapa bingung? Hahaha, mungkin penjelasan Mi yang terlalu ribet mungkin ya? Tapi, tunggulah hingga konflik fic ini benar-benar muncul~ Hoho. Yap~ Ini sudah apdet, maaf lama~ Semoga suka ne? ^^
Aretabelva: Hoho, tidak juga~ yang ada di pikiran Mi, mungkin hanya sampai 7 chapter, dengan jumlah word nya mungkin akan membludak, ^^. Aish~ apa hanya itu konfliknya? Khu, khu, khu, Mi tidak sepicik itu untuk menipu readers~ Nyahahahaha #plak!# Nyan, ini sudah apdet kok, terima kasih sudah repot-repot mereview ya! ^^ Semoga suka dengan chapter kali ini~
Higuchi Keitaro: Iya dong~ Kalo enggak historical, namanya bukan Mi-chan~ #hug everyone# Bingung mau komen apa? Hoho, Mi juga bingung kok ngejelasin fic ini… ==" Yosh, enggak apa-apa klo gag login~ Ini sudah apdet~ Terima kasih sudah mereview yak~ Semoga suka!
Ne, sekali lagi, bagi yang review login, Mi bales di PM. Jadi, harap bukan akun masing-masing, dan kita komen-komenan oke? Hohoho
Sekian dulu dari Mi-chan, minna~ Semoga saja kalian suka dengan chapter kali ini, dan tidak membuat kalian bosan.
Osh~ ARIGATOU GOZAIMASU, MINNA-SAN! Hope you like it~
Mata Ashita~ ^^
