#The Story From Nanboku-Cho#

.

.

.

Washitsu luas berpenerangan remang itu terlihat menyeramkan dari arah pintu masuk. Bayang-bayang pilar dan altar yang terhias indah dengan krisan merah yang menghias di setiap sudut altar, terlihat indah namun keramat di saat yang bersamaan.

Di sana, tepat di tengah-tengah ruangan, beberapa orang yang tak diketahui siapa, sedang duduk bersimpuh menghadap sesosok gadis cantik yang masih saja terdiam di depan altar. Menatap sebatang lilin merah besar, dengan ukiran kata di batangnya.

"Naruto."

Gadis itu berbalik, lalu berjalan perlahan. Menyeret homongi merah muda yang ia kenakan saat berjalan pada sesosok pemuda yang duduk bersimpuh di hadapannya.

"Pangeran Kuniyoshi meninggal dunia." Gumamnya lirih, sontak membuat sebagian orang yang ada di tempat itu berbisik kaget, "Dan parahnya lagi, rokuhara tandai mulai bergerak mencurigai Kaisar yang juga mulai melaksanakan rencana menggulingkan Keshogunan Kamakura."

Sasuke yang berada di hadapannya mendongak menatap sang Gadis dengan serius, "Itu berarti…"

Naruto mengangguk membenarkan, seakan tahu apa yang akan dimaksud oleh Sasuke, "Ya, mulai saat ini, kita harus lebih waspada setiap waktu. Kudengar rokuhara tandai mempunyai banyak pesuruh untuk memata-matai Kaisar dan pengikutnya, termasuk kita saat ini.

Entah itu siapa, tapi aku telah mengirimkan salah satu prajurit untuk mengirimkan pesan pada pihak Kekaisaran yang menunggu kepastian tempat ini, bila sewaktu-waktu terjadi pemberontakan atau perang di daerah sekitar Kyoto."

Sasuke mengangguk mengerti, diikuti Suigetsu yang berada di samping pemuda berambut raven itu.

Naruto menghela napasnya berat, lalu menatap serius kepada para petinggi prajurit, "Kuharap kalian bisa menerima kehadiranku di tempat ini, untuk membantu proses persiapan rencana penggulingan Keshogunan Kamakura oleh Kaisar." ucapnya disertai senyum manis, lalu segera membungkuk dalam di hadapan semua orang, membiarkan helaian pirang keemasan yang ia miliki terjatuh indah di pundak mungilnya, "Mohon bantuan kalian semua!"

*

*

The Story From Nanboku-Cho

*
Naruto belong to Masashi Kishimoto

Romance, & Hurt/Comfort

Rate; T

This fic belong to Miyako Shirayuki Phantomhive

Don't Like Don't Read!

Check This Out!

Gemerisik angin pagi menyadarkan sepasang kelopak safir yang tengah tertutup, namun perlahan terbuka. Perlahan memamerkan pesonanya sebagai safir sang Putri Kaisar.

Naruto menghela napasnya pelan, lalu kembali menyandarkan pundaknya pada salah satu tiang penyangga roka. Iris safirnya terlihat sendu, saat menatap kosong taman di depan washitsu-nya. Sekarang ini, baginya tak ada keindahan selain rasa takut dan cemas akan nasib sang Ibu yang tengah terancam bersama Kaisar di Istana. Benar, ia takut dan cemas.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

Helai pirangnya yang tersanggul kecil bergerak, seiring sang Empu menoleh pada sumber suara yang telah menginterupsinya.

Gadis ber-homongi merah muda itu menatap sendu pemuda tampan di hadapannya kini, sedangkan Sasuke masih setia menunggu jawaban dari sang Putri.

Naruto kembali memalingkan wajahnya, menghindari tatapan bertanya Sasuke, "Tidak ada." gumamnya datar.

Sasuke mengangguk, "Kukira hari ini kau akan berlatih bersama kami di dojo."

Naruto menggeleng kecil, lalu mendongakkan wajahnya—menatap sendu helaian kelopak sakura yang berguguran, "Maaf, sepertinya hari ini aku tidak bisa ikut latihan bersama kalian di sana. Aku sedang tidak enak badan." lirihnya, namun cukup terdengar oleh Sasuke yang benar saja berada di sampingnya.

Pemuda itu kembali mengangguk, lalu melepas haori—semacam mantel—hitam yang ia kenakan, sebelum menyampirkannya pada pundak mungil Naruto, membuat gadis itu tersentak kaget dan menoleh padanya; menatap onyx itu bingung.

Sasuke balas menatap safirnya, "Ini musim semi, bodoh." Naruto mengernyit tidak suka, "Jangan berkeliaran tanpa haori, memangnya kau mau masuk angin, heh?"

Bibir ranumnya mengerucut, namun tak melepas tatapan kesalnya pada Sasuke, "Lancang sekali kau! Beraninya menyebutku bodoh!" serunya kesal, namun dibalas senyum tipis Sasuke yang ternyata mampu membuat kedua pipinya merona.

Naruto memalingkan wajahnya, menyembunyikan rona wajahnya—yang menurut gadis itu memalukan di depan Sasuke— "A-apa senyum-senyum?" ucapnya terbata-bata, salah tingkah.

Pemuda di sebelahnya mendengus geli, lalu berucap lembut, "Bukankah kau sendiri yang menyuruhku untuk tidak berlaku formal padamu? Tidak memanggilmu 'hime-sama', dan yang lainnya?"

Ah, ia merasa kedua pipinya semakin merona mendengar ucapan Sasuke yang terdengar lembut di telinganya. 'Lembut? Itu menyebalkan!' Jika ia boleh mengatakan hal itu… tapi tenggorokannya tercekat untuk mengatakannya, dan malah wajahnya yang semakin merona.

Naruto mendecih kesal, "Ish, aku salah bicara!" ucapnya pelan, tapi sayangnya terdengar oleh Sasuke.

Pemuda berambut raven itu terkekeh kecil, "Mungkin maksudmu senjata makan tuan, Ojou-sama." Ucapnya, yang langsung dihadiahi tatapan tajam dari sang Putri.

"Urusai!" serunya seraya berlari—dengan tergopoh-gopoh— menjauhi Sasuke yang masih setia tersenyum lembut kearahnya, lalu berjalan menyusul Naruto. Uchiha Sasuke tersenyum?

Helai pirangnya yang tersanggul kecil—dengan makie berbentuk sakura—terlihat bergoyang-goyang seiring sang Empu berjalan sambil menghentak-hentakan kakinya, kesal. Tak menyadari seringaian tipis Sasuke.

Trang!

Safir sang Putri terbelalak saat dilihatnya sebuah wakizashi tajam hampir saja mengenai lehernya bila ia tidak refleks mengambil tatton—yang selalu tersembunyi dibalik obi yang ia kenakan—lalu menahan wakizashi tadi dengan belati miliknya.

"Apa yang kau lakukan, Sasuke?" bentaknya begitu melihat sosok Sasuke yang berada di belakangnya dengan menggunakan bilah wakizashi yang memantulkan sosok pemuda di belakangnya dengan jelas.

Pemuda berambut raven itu menarik kembali wakizashi yang tadi sempat ia gunakan untuk menyerang Naruto, lalu menyarungkannya kembali.

Sasuke menyeringai puas, saat tubuh ramping di hadapannya berbalik dan menatapnya marah, "Aku hanya ingin melihat sejauh mana kau bisa menahan serangan jarak dekat dengan gerakan refleks, dan tangkisan yang kuat." Ucapnya, lalu berbalik menghampiri setangkai bunga lili yang berada di samping sebuah pohon nan rindang.

Naruto mendengus kesal, lalu menghampiri Sasuke, "Ada apa dengan bunga itu?" tanyanya penasaran karena tiba-tiba Sasuke memetik sang Bunga, "Dia ingin hidup, jangan dipetik!" serunya ketika Sasuke berbalik menatapnya.

Pemuda itu menatap Naruto intens, "Kau menyukai bunga sakura?" tanyanya tiba-tiba, membuat Naruto melongo tidak mengerti dengan sikap pemuda di hadapannya ini.

Kelopak safirnya memicing tidak mengerti, "Apa maksudmu?" gadis itu balas bertanya, membuat Sasuke mendengus bosan.

Sasuke menghela napas berat, "Kutanya, kau suka dengan bunga sakura?" pemuda itu mengulang perkataannya.

Naruto mengangguk antusias, "Kenapa memangnya?"

Pemuda itu terdiam sejenak sebelum berkata, "Apa yang kau sukai darinya?"

Safirnya kembali menatap bingung Sasuke, lalu mengedikkan bahunya, "Entahlah, mungkin karena bunga sakura itu indah."

Sasuke mengangguk mengerti, "Hn."

Namun, tak ia sangka Sasuke dengan lancangnya melepas jeratan yang sedari tadi mengikat helai pirangnya, dan melepas makie berbentuk sakura yang ia kenakan sebagai hiasan rambutnya.

Gadis itu terbelalak tak percaya, "Apa yang kau lakukan Sasuke?" serunya, namun sama sekali tak digubris oleh Sasuke yang dengan semena-mena melepas ikatan rambutnya hingga tergerai. Yeah, tak digubris pun tak apa, karena gadis ini dengan penampilan apapun akan tetap terlihat sempurna, entah di mata siapa.

"Sasuke!"

Pemuda berambut raven itu dengan lembut, menyisihkan beberapa helai pirang Naruto di telinganya, sebelum meletakkan setangai lili putih di telinga gadis itu, hingga membuat wajah Naruto merona.

"Kau tidak cocok dengan bunga itu," ucapnya datar seraya membelai lembut pipi kanan Naruto, "Kau terlihat indah bila menjadi dirimu sendiri, bukan orang lain."

Dengan kasar, Naruto menepis telapak tangan Sasuke dari pipinya, lalu menatap pemuda itu tajam.

"Jangan sembarangan menyentuhku, Uchiha!"

Sepasang onyx Sasuke terbelalak kaget saat gadis berambut pirang keemasan itu menepis tangannya kasar dari wajahnya, belum lagi tatapan tajam gadis itu.

"Aku adalah seorang Putri, Sasuke. Bukan seorang gadis biasa yang tak tahu diadab!" Tegurnya dengan penuh penekanan, sedangkan wajah manis itu mulai memerah, "Dan seorang Putri, haruslah menjaga harga diri dan kehormatan dirinya! Dan aku tidak ingin di sentuh sembarangan, seperti apa yang kau lakukan tadi!"

Pemuda berambut raven itu terdiam beberapa saat, membiarkan Naruto menyelesaikan perkataannya, "Kau tahu bukan? Bagi siapapun yang melakukan hal tidak semestinya pada keluarga Kaisar akan berimbas pada nyawa?"

Helai pirangnya tertunduk menatap rumput di bawahnya, "Bila kau melakukan hal itu—lebih dari seharusnya, antara seorang Jenderal dengan Putri, maka tidak ada pilihan lain, selain kepalamu harus di penggal, untuk menutupi semua itu."

Sasuke masih diam mendengarkan. Namun, terkadang ia harus menajamkan pendengarannya ketika seruan dan sorak sorai para prajurit yang tengah berlatih bersama Suigetsu di dojo belakang Istana sedikit membuyarkan fokus pendengarannya.

"Aku tak ingin itu terjadi…" ucap Naruto, setelah memberi jeda pada perkataannya, "Aku tak ingin… kau terbunuh percuma, hanya untuk itu."

Kini giliran pemuda itu yang tertunduk menatap hamparan rumput yang berdesir lembut di bawah kakinya yang beralaskan tabi dengan waraji.

Naruto menghela napasnya pelan, lalu berbalik meninggalkan Sasuke yang kini tengah bergelut dengan pemikirannya, "Kuharap kau tidak akan melakukan hal itu lagi, Sasuke."

Gadis itu pergi meninggalkannya dalam desiran halus angin musim semi yang terasa menyebalkan baginya.

Haaah… cinta itu begini ya? Menyusahkan memang bila kau jatuh cinta pada seorang Putri yang tidak jelas keinginannya seperti apa.

Keinginan? Ya, tentu saja. Keinginan mereka berbagai macam bentuk, dan sama sekali tak bisa dicakup dengan akal sehat. Terkadang kau harus menggunakan naluri untuk memenuhi permintaan atau keinginan mereka, bila tidak ingin dimarahi.

Tapi keinginan Putri di hadapannya ini sungguh berbelit!

Pertama, sang Putri menginginkan agar ia berlaku non-formal padanya.

Kedua, sang Putri juga menginginkan agar ia tidak sungkan untuk melukai tubuhnya.

Dan yang ketiga, sang Putri Tercinta ingin agar ia memperlakukannya sama seperti ia memperlakukannya sebagaimana gadis biasa yang hanya tinggal di rumah meminta untuk dilamar~

Apa salahnya? Ia hanya membelai lembut helai pirang keemasan dan pipi tan itu!

Ah~ tidak-tidak! Ia salah, dan ia menyadarinya.

Lalu, salahnya apa? Salahnya itu terletak pada perlakuannya yang cukup berlebihan pada seorang Putri yang terbiasa menjalani latihan perang, daripada memetik shamisen atau merangkai bunga di taman.

Ck, memang begini resikonya jatuh cinta pada seorang Putri yang keras kepala, juga pemarah. Tapi, yah… tak apa… masih ada hari esok untuk merubahnya bukan?

#The Story From Nanboku-Cho#

Tubuh mungil berbalut homongi biru muda itu, tampak bagai lukisan indah bertemankan alunan angin yang membelai wajah manisnya. Menyibakkan helai pirang sang Putri Kaisar, hingga nampaklah sepasang kelopak yang tertutup menikmati hembusan angin yang sejuk.

Ya, gadis yang tengah ia perhatikan dari jauh ini begitu indah. Ia cantik bagai seorang Dewi yang turun dari kahyangan.

Tubuh kecilnya yang terduduk di depan washitsu serta kelopak ranum sakura yang bermekaran di sekitarnya, membuat sosok yang ia sukai begitu indah dipandang. Ya, cantik sekali.

"Katakan saja perasaanmu padanya!" seru seseorang, yang tak usah berbalik pun, ia tahu siapa orang itu.

"Jangan berkata yang tidak-tidak!" ucapnya sarkas, sembari merapikan kinagashi hitam yang ia kenakan, "Kekaisaran dalam keadaan genting, dan kau menyuruhku untuk mengatakan perasaanku padanya? Omong kosong."

Suigetsu menggeleng semangat, lalu mendorong tubuh Sasuke yang tengah bersender pada pilar roka, hingga pemuda itu hampir terjatuh karenanya.

"Ayolah~" pemuda berambut putih itu terkekeh pelan, "Aku bosan melihatmu mengintipnya dari kejauhan terus-menerus selama 3 hari ini!"

Sasuke mendengus kesal, sebelum berbalik menatap Suigetsu sinis, "Aku tidak mengintipnya!"

"Kau pembohong, Uchiha!" serunya disertai kekehan, "Apa kau tak sadar, hah? Wajahmu setiap memperhatikannya selalu berubah-rubah! Antara bingung, dan rindu!"

Untuk kali ini Sasuke tak membantah perkataan Suigetsu. Ia lebih memilih diam sebagai jawabannya.

Benar, memang benar apa yang Suigetsu katakan padanya. Ia merasa setiap menatap Naruto, tatapannya menjadi lebih lembut, dan setiap ia perhatikan tingkah laku aneh Naruto, ia merasa senang.

Sebenarnya, tak jarang ia memperhatikan Naruto dari kejauhan. Sering, dan hampir setiap hari semenjak acara penolakan mentah-mentah gadis itu untuk dibelai pipinya. Dan kalian tahu? Semenjak itu pula, si Putri Cantik menghindarinya… entah itu dengan tidak seringnya lagi sang Putri mengajaknya bicara, menolak dengan halus saat ia mengajaknya untuk berlatih pedang, duduk menyendiri lalu pergi entah kemana bila ia mendekatinya. Cukup! Ia hanya ingin bersama sang Putri~

Entah mengapa wajah cantik dan tingkah laku sang Putri bagai candu asmara untuknya. Senyum yang merekah itu terlalu indah baginya, dan yang paling menjengkelkan adalah, ia sering salah tingkah bila gadis itu tersenyum manis padanya.

Suigetsu tertawa mengejek, "Sedang memikirkannya, huh?"

Onyx miliknya menatap Suigetsu kesal, "Apa maumu, hiu?"

Suigetsu menunjuk dirinya sendiri, "Aku?"

"Hn,"

Bibir pucatnya menyeringai, "Aku ingin kau berhenti memperhatikannya!"

Sepasang Onyx Sasuke terbelalak mendengarnya, sontak ia menatap si Hiu tidak percaya.

Suigetsu terkekeh pelan, lalu menepuk pundak Sasuke, sebelum menunjukkan cengirannya, "Aku bercanda, Sasuke! Mana mungkin aku melakukannya pada sahabatku yang sedang dilanda kasmaran ini? Yang ada hanyalah, kau akan mati merindu sebelum perang tiba!" ucapnya diiringi tawa mengejek yang membuat Sasuke menjitak kepala sahabatnya itu.

"Berhentilah menertawakan Suigetsu!"

Bibir pemuda berambut putih itu mengerucut kesal, sambil terus meringis kesakitan, "Kau kejam sekali, Sasuke…" ringisnya saat Sasuke melirik tajam pemuda itu.

"Makanya, berhenti mengatakan hal yang tidak-tidak padaku—!"

"Sasuke!"

Kedua helai yang berbeda warna itu menoleh serempak kala sebuah suara yang mereka kenali menginterupsi keduanya dari acara saling mengejek dan memukul.

Naruto yang tadi berlari kini menelengkan wajahnya bingung, dengan seringaian Suigetsu dan wajah Sasuke yang perlahan memucat, "Ada apa dengan kalian?"

Pemuda berambut raven itu menggeleng cepat, "Tidak ada!"

Kening gadis itu mengernyit bingung, "Kalian aneh hari ini," gumamnya, sambil berjalan mendekati keduanya, "Ada berita penting dari Gaara."

Onyx yang tadi terlihat sedikit panik, kini beralih menjadi serius dengan serentetan kalimat yang tadi di dengarnya dari Naruto, "Apa itu?"

Naruto menghela napasnya pelan, sebelum mendongak menatap kedua pria itu tajam, "Kita diperintahkan untuk bergerak menuju gunung Kasagi tempat Kaisar bersembunyi dari rokuhara tandai."

#The Story From Nanboku-Cho#

Malam itu suasana Istana Selatan tampak riuh. Di area halaman depan istana, para pasukan dengan baju zirah mereka tampak hilir mudik membawa kotak-kotak kayu yang berisi obat-obatan, maupun cadangan makanan yang nanti disimpan pada sebuah gerobak besar yang malam ini akan diangkut menuju gunung Kasagi. Tempat dimana Kaisar dan pengikut setianya bersembunyi dari pasukan Keshogunan.

Naruto dengan baju zirah yang melekat pada tubuh mungilnya, tampak setia mengatur kerja pasukannya di depan pintu gudang istana, tempat pasukannya mengambil kotak-kotak berisi obat dan cadangan makanan untuk perjalanan menuju gunung Kasagi.

Tak jauh dari posisi sang Putri, nampak Sasuke yang dengan setia memperhatikannya dari balik punggung Suigetsu yang tengah mengoceh tentang strategi miliknya pada Sasuke. Tapi sayangnya tak didengar baik oleh pemuda itu.

Suigetsu yang merasa diacuhkan oleh pemuda berambut raven itu segera menatapnya kesal, "…kau dengar tidak Sasuke?"

Pemuda yang tak mengenakan baju zirah seperti Suigetsu maupun Naruto, hanya mendengus malas ketika Suigetsu kembali mengoceh tentang sikap acuhnya pada strategi yang tengah hiu itu susun.

Pemuda berambut putih itu mengernyit kesal, ketika Sasuke terus saja mengacuhkannya walaupun ia mengoceh dengan keras seperti ini.

"Kau mendengarku tidak, Uchiha Sasuke?" teriaknya tepat di telinga sang Jenderal muda hingga pemuda itu hampir terjungkal karenanya.

Sasuke mendelik Suigetsu tajam, "Apa maumu, Suigetsu? Dasar pengganggu!" ucapnya kesal, lalu kembali berdiri dan menatap lawan bicaranya kesal, "Ada apa, heh?"

Suigetsu yang tak tahu apa-apa hanya mengerucutkan bibirnya, sembari menatap si Tampan Uchiha manja, seakan meminta belas kasihan, "Kenapa kau mengacuhkanku, Sasuke? Aku kan hanya meminta pendapatmu tentang rencana penyeranganku!" seru Suigetsu kesal, dengan telunjuknya mengacung pada wajah Sasuke.

Tangannya bergerak menepis telunjuk Suigetsu yang menghalangi jarak pandangnya terhadap sang Putri yang nampaknya tengah tersenyum menyemangati pasukannya.

Merasa bingung dengan keadaan yang dialami sahabatnya. Kepala putih itu pun menoleh dan mencari satu objek yang sedari tadi telah merebut perhatian Sasuke dari ocehannya.

"Kau sedang melihat apa, sih?" ucapnya bingung sambil menyipitkan kedua belah kelopak matanya, berusaha mencari sang Objek ditengah kegelapan.

Dan akhirnya ia mendapat satu kesimpulan yang jelas, tentang menghilangnya perhatian Sasuke. Yup, tentu saja itu semua tentang si Manis berbaju zirah, yang tengah tersenyum kearah salah satu pasukannya yang terlihat lelah.

Raven putih Suigetsu menggeleng-geleng maklum dengan keadaan sahabatnya, sebelum berbalik menatap Sasuke malas.

"Kau sedang memikirkan apa, hingga jiwamu melayang sebelum perang, heh?" sindir pemuda itu dengan wajah tertekuk kesal, membuat Sasuke melirik sejenak kearahnya, sebelum kembali memperhatikan Naruto.

Pemuda yang dikaruniai wajah tampan itupun menghela napasnya pasrah sebelum berkata dengan nada putus asa. "Ini pertama kalinya aku merasa takut dengan perang, Suigetsu."

Suigetsu melirik pemuda itu bingung, "Kenapa bisa sampai seperti itu?"

Sasuke tersenyum tipis, "Yeah, aku takut kehilangan nyawaku dan tak akan pernah bertemu lagi dengan seorang gadis keras kepala di sana." Ucapnya sebelum mendengus geli, mengingat wajah Naruto yang bersikeras untuk ikut perang tadi pagi.

Suigetsu diam mendengarkan Sasuke, "Bukan itu saja, aku takut ia terluka di medan perang, dan kau tahu? Itu semakin membuatku merasa seperti seorang bangsawan pengecut yang takut kehilangan harta bendanya demi orang yang dicintai!"

Pemuda berambut putih yang sedari tadi berdiam diri, kini terkekeh pelan menanggapi keluhan sahabatnya. Ah, menurutnya, Sasuke yang seperti ini sangatlah cocok untuk diikutkan dalam perang.

Sasuke mengernyit tak suka pada Suigetsu yang tertawa di sebelahnya, "Apa yang kau tertawakan, idiot?"

Suigetsu tersenyum tipis, "Kalau begitu, utarakan saja perasaanmu padanya, wahai Jenderal yang tengah dilema~"

"Itu tidak mudah, bodoh!" bantahnya sambil bersedekap.

Raven Suigetsu menggeleng maklum, "Apa maksudmu dengan tidak mudah, hm?" pemuda itu kembali tertawa, "Itu lebih baik, daripada kau harus mati penasaran karena tak sempat mengutarakannya pada wanita yang kau sukai 'kan?"

Bibir Sasuke terkatup rapat, enggan memotong perkataan Suigetsu yang ternyata bisa berkata bijaksana seperti itu.

"Begini saja," ia terdiam sejenak, membiarkan onyx Sasuke meliriknya dalam diam, "Tetaplah hidup demi wanita yang kau sukai."

Pemuda itu kembali tertegun mendengar ucapan Suigetsu. Yeah, semua perkataannya memang benar, sangat malahan. Dan perkataannya seperti motivasi yang mengharuskan ia menang dalam perang yang akan datang.

Bibirnya tersenyum tipis, "Ya, kau benar."

Suigetsu menepuk pundaknya, lalu tersenyum lebar, "Berjuanglah!"

#The Story From Nanboku-Cho#

Dan di sinilah ia berada. Tepat di hadapan sang Putri yang menunggu reaksinya terlebih dahulu. Ia gugup, dan gadis itu tahu.

"Jadi…" Naruto berucap lebih dulu, "apa yang ingin kau katakan, Sasuke?"

Pemuda itu terdiam lama, sebelum berucap, "Aku hanya ingin tahu, bagaimana perasaanmu… padaku?"

Bagai gelegar petir yang ia takuti, begitu pula perkataan yang terucap dari bibir Sasuke. Takut, ia sungguh takut dengan pertanyaan yang terlontar dari Sasuke. Ia takut untuk menjawabnya.

Tubuh mungilnya yang terbalut zirah berwarna hitam dengan beberapa simbol kekaisaran di pundak dan punggungnya, sedikit bergerak ketika tubuhnya tersentak ke belakang. Mengekspresikan rasa terkejutnya.

Cepat-cepat ia mengalihkan wajahnya dari pandangan Sasuke, "Untuk apa kau bertanya seperti itu?" balasnya bertanya dengan nada datar.

Sasuke tersenyum tipis, "Tentu saja agar saat aku mati di medan perang nanti, aku tidak mati penasaran karena tak tahu bagaimana sesungguhnya perasaan wanita yang kusukai, terhadapku."

Dadanya kembali berdenyut aneh, sementara laju pernapasannya sedikit tersengal ketika mendengar perkataan Sasuke.

Suka? Pria itu mengatakan bahwa ia menyukai seorang Fujiwara no Himawari yang terkenal dengan kekeras kepalaannya dan sifatnya yang hampir seperti laki-laki? Bodoh! Kenapa Sasuke berkata seperti itu? Ini semakin membuat jantungnya berdetak tak karuan, sementara ada sebuah perasaan aneh yang meluap-luap dari balik dadanya.

Kau tahu? Bibir ranumnya yang sedari tadi terkatup rapat, kini perlahan terbuka, tapi perasaan yang membuncah di hatinya membuat ia tak bisa berkutik. Bibirnya terlena oleh keindahan cinta yang membuat jantungnya berdegup kencang, dan itu malah membuat tenggorokannya terasa tercekat untuk berucap jawaban yang diminta oleh Sasuke.

"Jadi, apa jawabanmu?"

Hentikan itu Uchiha! Kau semakin membuatnya gugup!

Naruto menggigiti bibir bawahnya, sedangkan iris safir yang ia miliki bergerak-gerak gelisah mencari suatu objek yang menurutnya akan membuat ia merasa tenang. Tapi tak ada sama sekali!

"Naruto—?"

"Berhentilah mendesakku, Sasuke!"

Helai pirang keemasan Naruto bergerak, saat empunya mendongak menatap Sasuke. Napasnya tersengal-sengal, dan keringat dingin meluncur mulus dari pelipisnya.

Safir bak langit di musim panas itu menatap Sasuke tajam, "Kalau kau ingin tahu apa jawabanku…" ucapnya dengan nada pelan, "Berhentilah berkata, seakan kau mati esok hari… Jika kau ingin tahu jawabanku, berjuanglah untuk hidup... hingga aku mendapatkan jawaban untukmu."

Gadis itu berbalik pergi. Sasuke merasa déjà vu dengan apa yang telah terjadi, dan itu membuatnya tersenyum tipis lalu berseru, "Kau pun harus begitu, Naruto! Bila kau mati, aku tidak akan pernah memaafkan kesalahanmu, karena telah melanggar janji!"

Langkah pelan Naruto terhenti seketika saat mendengar seruan Sasuke. Gadis itu berbalik menatap Sasuke, yang kini tengah menatapnya dengan senyum puas.

Bibir ranumnya balas tersenyum manis, "Aku tidak akan pernah melanggar janjiku, Uchiha Sasuke! Justru kau yang harus menepatinya!" seru gadis itu, sebelum berjalan meninggalkan sosok pemuda yang telah membuatnya merasakan degupan rasa yang disebut dengan… cinta?

#The Story From Nanboku-Cho#

Pada musim semi tahun 1331 periode Kamakura, rencana penggulingan Keshogunan Kamakura kembali terungkap, setelah dibocorkan oleh salah satu bangsawan istana, Yoshida Sadafusa yang merupakan pembantu terdekat Kaisar Go-Daigo.

Setelah mengetahui Kekaisaran dalam keadaan bahaya, Kaisar Go-Daigo melarikan diri bersama para pengikutnya ke Gunung Kasagi dengan membawa Tiga Harta SuciKusanagi no Tsurugi, Yata no Yagami, Yasakani no Magatama—yang saat itu—sampai sekarang—merupakan tanda kebesaran Kaisar, serta item yang wajib digunakan saat upacara pergantian Kaisar.

Naruto sebagai Putri yang memimpin pergerakan Pasukan Sayap Istana Selatan, serta Suigetsu dan Sasuke yang bertugas mendampingi sang Putri, diperintahkan oleh Kaisar untuk menyisir area perbukitan menuju Gunung Kasagi, beserta bala pasukan. Mereka ditugaskan untuk membantu para pasukan Kaisar, yang terlebih dahulu berada di sana.

Namun, pada tanggal 07 Maret 1332 pasukan yang dipimpin oleh Naruto, beserta pasukannya kalah akibat dikepung oleh pasukan Keshogunan yang jauh lebih kuat dan banyak dari pasukan Kaisar Go-Daigo. Akibatnya, Kaisar Go-Daigo ditangkap dan diasingkan di Pulau Oki. Peristiwa ini dikenal dengan Perang Genko.

Setelah mengalami kekalahan pada Perang Genko, Naruto sebagai pemimpin Pasukan Sayap Istana Selatan mengambil alih peran ayahnya sebagai Kaisar, dan merencanakan pemberontakan bersama saudara lelakinya—dari Permaisuri Saionji Kishi—Pangeran Morinaga dan dua orang samurai—dari Provinsi Kawachi dan Harima—bernama Kusunoki Masashige serta Akamatsu Norimura agar melancarkan pemberontakan di berbagai daerah.

Di tengah keadaan yang kacau balau, Naruto juga menugaskan Suigetsu dan beberapa samurai kepercayaan Kaisar untuk membantu pemuda itu melarikan Kaisar dari pengasingan dirinya di Pulau Oki. Setelah Kaisar bebas dan kembali ke Kekaisaran, Naruto langsung menyerahkan semua kepemimpinan sementaranya pada Kaisar yang telah bebas dari pengasingan.

Perlawanan kembali gencar dilakukan oleh Kaisar beserta bala pasukannya—termasuk Naruto, Sasuke, dan Suigetsu—untuk menumbangkan Keshogunan yang menyerang dari arah Gunung Senjo, provinsi Houki.

Keshogunan Kamakura sendiri mengutus Ashikaga Takauji untuk menghancurkan perlawanan Go-Daigo, namun Takauji membelot ke pihak Go-Daigo, dan menghancurkan kantor Rokuhara-tandai yang bertempat di Kyoto.

Sementara itu, di malam pertempuran antara pasukan Keshogunan dan pasukan Go-Daigo, Sasuke diutus oleh Naruto—atas perintah Kaisar yang sedang berperang—untuk menyerang Kamakura dan membunuh Hojo Takatoki, beserta seluruh anggota klan Hojo.

Namun sebelum pemuda itu berbalik pergi dari halaman belakang kediaman keluarga Kaisar, jemari lentik Naruto terlebih dahulu menggenggam tangannya. Menunda kepergian pemuda itu.

Sasuke menoleh menatap gadis yang di cintainya tengah menundukkan kepala. Menyembunyikan rona wajahnya yang terlihat cemas, "Ada apa Naruto?"

Naruto yang tidak sadar bila ia tengah menggenggam tangan Sasuke, segera menarik kembali jemari lentiknya dan mendongak menatap Sasuke datar. Sangat berlawanan dengan hatinya yang terasa cemas luar biasa.

Yeah, selama ini ia tak memerintahkan Sasuke untuk menyerang maupun membunuh siapapun yang menghalangi jalannya strategi yang ia gunakan untuk memancing amarah dari Keshogunan. Ia sengaja memerintah pemuda itu untuk terus berada di sisinya, dengan alasan agar ia mudah meminta pendapat Sasuke—yang lebih senior dalam hal berperang—tentang rencana yang ia buat.

Perasaan yang ia rasakan lebih dari setahun lalu, perlahan kembali menyeruak dalam heningnya malam. Perasaan dimana ia berusaha untuk menepisnya dengan kuat, dan meneguhkan hati bila itu hanyalah perasaan cemas terhadap saudara, kini kembali. Dan memerintahkannya untuk membatalkan perintah yang telah ia berikan pada Sasuke, lalu menyatakan perasaannya yang dulu pernah Sasuke pertanyakan.

"Ah, Naruto, kebetulah ada suatu hal yang ingin kusampaikan padamu." Ucap pemuda itu dengan bibir yang melengkungkan senyum tipis, "Ini tentang pertanyaanku setahun yang lalu—."

"Kembalilah sebelum fajar tiba, Sasuke." Ucapnya datar, memotong perkataan Sasuke untuk kesekian kalinya. Tubuh mungilnya yang berbalut homongi putih, berbalik meninggalkan Sasuke dalam kekecewaan, "Bila ada yang ingin kau katakan, sampaikan itu besok pagi setelah kau pulang."

"Kenapa kau terus memotong perkataanku, Naruto?"

Langkah kakinya terhenti, namun kepalanya tak sedikit pun menoleh pada Sasuke yang kini tengah menatapnya kecewa.

"Apa kau berniat untuk melanggar—!"

"Aku sama sekali tak berniat seperti itu Sasuke!"

"…"

Telapak tangannya mengepal erat, "Aku berkata seperti ini karena aku tak ingin mendengar mu mati!" teriaknya lirih dengan kepala tertunduk, "Kumohon berhentilah berkata seperti itu… bukankah aku telah memperingatkanmu, Sasuke?"

"…"

Tubuh mungil Naruto bergetar menahan isak tangis, "Aku… sesungguhnya aku mencintaimu, Sasuke…" lirihnya dengan air mata yang menetes menuruni kedua pipinya, "Sebenarnya aku ingin kau mendengarnya setelah semua ini selesai! Tapi kau memaksaku untuk menjawabnya, Sasuke!"

Bibirnya terkatup rapat, menghindari isakan yang sewaktu-waktu dapat terdengar, "Aku ingin kau terus hidup di masa ini… aku ingin kau menjadikan jawabanku sebagai acuanmu untuk terus hidup, dan mendampingiku…"

Safir miliknya membelalak tak percaya ketika lengan kekar Sasuke memeluknya dari belakang. Kepala pemuda itu bersandar di puncak kepalanya, lalu menghirup aroma rambutnya yang wangi sakura.

"Kenapa kau tak mengatakannya dari awal?" bisiknya sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil Naruto yang mulai memberontak.

"Lepaskan aku Sasuke!"

Lengan kekarnya kembali mengeratkan pelukannya, hingga Naruto pasrah dalam dekapan pemuda yang ia sukai.

"Aku tak perduli, jika setelah kembali dari kediaman klan Hojo, leherku akan dipenggal karena perbuatanku padamu sekarang." Bisiknya lagi penuh penekanan, "Aku hanya ingin memelukmu… ya, aku tahu ini salah… tapi aku benar-benar ingin memelukmu… sekarang ini."

Safirnya menutup, ketika mendengar deru napas Sasuke dan detak jantungnya yang berdegup cepat.

"Aku berjanji, Naruto…" gumamnya penuh keyakinan di telinga sang Putri, "Aku berjanji akan membunuh semua anggota klan Hojo, dan kembali padamu dalam keadaan tak terluka. Aku berjanji."

Malam itu sang gadis menangis dipelukan hangat sang Jenderal. Biarkan rembulan di atas mereka, menangisi sebuah kisah cinta yang terkotori oleh pertumpahan darah dari berbagai pihak.

Racuni setiap insan dengan kosongnya hati. Tak biarkan sang Perubah Takdir, memasuki celah di masing-masing hati.

Kedua insan ini pengecut. Ya, dan yang paling pengecut adalah sang Wanita yang merasa ketakutan bila pemuda yang ia cintai tak berada di sisinya.

Ya, seperti malam ini.

Malam dimana mereka saling memeluk dengan taruhan kepala sang Pemuda Raven berada dibilah katana yang tajam. Menguatkan masing-masing diri. Membisikkan bila mereka berdua saling mencintai, dan tak akan mengkhianati satu sama lain.

Dan tak akan mengkhianati janji yang telah terukir dalam takdir yang berputar.

Berjanji bila di esok hari, sepasang iris yang berbeda itu akan mendapati sosok yang mereka cintai tengah menatap satu sama lain. Menatap rindu, seakan mereka telah siap untuk menjalani suatu jalan bernama kematian.

Ya, kematian. Sewaktu dimana kau merasa kesakitan saat malaikat mencabut nyawamu dengan perlahan. Sangat perlahan, hingga kau merasa detik telah berubah menjadi abad.

#The Story From Nanboku-Cho#

To Be Continue

Keterangan:

Homongi: Untuk wanita yang belum atau sudah menikah. Biasanya dipakai untuk berkunjung, seperti ke resepsi pernikahan.

Haori: Semacam mantel yang dikenakan pria sewaktu mengenakan Kimono.

Ojou-sama: Nona atau Nyonya

Tatton: Belati

Shamisen: Di dunia musik Jepang abad modern (kinsei hōgaku) seperti genre jiuta dan sōkyoku (sankyoku), shamisen dikenal sebagai san-gen (三弦, 三絃, san-gen? tiga senar), sedangkan di daerah Okinawa dikenal dengan sebutan sanshin (三線, sanshin?).

Badan shamisen (disebut dō) dibuat dari kayu, berbentuk segiempat dengan keempat sudut yang sedikit melengkung. Bagian depan dan belakang dilapisi kulit hewan yang berfungsi memperkeras suara senar. Kulit pelapis shamisen adalah kulit bagian perut kucing betina yang belum pernah kawin. Sedangkan shamisen kualitas biasa dibuat dari kulit bagian punggung dari anjing. Shamisen yang dibuat kulit imitasi memiliki kualitas suara yang tidak bagus sehingga kurang populer.

Panjang shamisen hampir sama dengan gitar tapi leher (sao) lebih langsing dan tanpa fret. Leher shamisen ada yang terdiri dari 3 bagian agar mudah dibawa-bawa dan disimpan. Leher shamisen yang utuh dan tidak bisa dilepas-lepas disebut leher nobezao.

Sutra merupakan bahan baku senar untuk shamisen. Tsugaru-jamisen yang berasal dari daerah Tsugaru ada yang memakai senar dari serat nilon atau tetoron. Senar secara berurutan dari kiri ke kanan (dari senar yang paling tebal) disebut sebagai ichi no ito (senar pertama), ni no ito (senar kedua), dan san no ito (senar ketiga).

Kusanagi no Tsurugi: Pedang yang digunakan saat Susano'o memenggal kepala Yamata no Orochi. Seperti halnya Yata no Kagami, dan Yasakani no Magatama, Kunagi no Tsurugi juga salah satu dari tanda-tanda kebesaran Kekaisaran Jepang.

Yata no Kagami: Adalah cermin suci yang merupakan bagian dari tanda-tanda kebesaran Kekaisaran Jepang. Hal ini dikatakan disimpan di Kuil Ise di Prefektur Mie, Jepang, walaupun kurangnya akses publik membuat ini sulit untuk memverifikasi. Yata no Kagami itu merupakan "hikmat" atau "kejujuran," tergantung pada sumber.

Yasakani no Magatama: "Yasakani No Magatama" (八尺 琼 曲 玉, juga 八 坂 琼 曲 玉) merupakan bagian dari tanda-tanda kebesaran Kekaisaran Jepang, diwaktu sekitar periode Heian. "Yasakani no Magatama" singkatan dari kebajikan, dan merupakan salah satu dari tiga item yang digunakan dalam upacara kenaikan kesultanan.

Dalam mitologi Jepang, perhiasan bersama dengan cermin, digantung pada pohon di luar gua Amaterasu's (mana dia tersembunyi) untuk memancing keluar. Hal ini diyakini menjadi kalung terdiri dari batu giok magatama bukan permata soliter seperti digambarkan dalam budaya populer. Hal ini diyakini dan diabadikan dalam Kokyo, Istana Kekaisaran Jepang.

Attention for All Readers, Reviewers, and Authors

Saya sebagai author Miyako Shirayuki, sekaligus leader dan member grup SasuFemNaru

Menyatakan bahwa:

Mulai tanggal 15 Juli 2012, SasuFemNaru bukan lagi PAIR yang 'terkesampingkan', melainkan satu PAIR yang telah di resmikan mulai tanggal itu, karena hari jadi PAIR SasuFemNaru telah di tentukan, begitu pula dengan FanDay dan yang lainnya.

Saya tahu, saya tidak pantas mengatakan ini semua karena saya pun baru bergabung di fandom ini 2 tahun yang lalu. Saya pun juga tahu, bila ini belum termasuk keputusan dari berbagai pihak yang menyukai SasuFemNaru, atau SasuNaru.

Tapi, sejujurnya saya ingin mengangkat 'nama' PAIR ini ke permukaan! Mengenalkan lebih jauh PAIR ini pada publik! Mengatakan bahwa PAIR ini pun berhak untuk terkenal, dan dikenal!

Saya berkata seperti ini, karena saya betul-betul menyukai SasuFemNaru! Saya ingin membuat penggemar PAIR lebih banyak, lewat semua fiction yang saya dan teman-teman penyuka PAIR ini buat. Dan saya juga tahu, bila kemampuan saya pun masih seumur jagung.

Maka dari itu, sebagai salah satu penggemar berat SasuFemNaru, saya mengatakan bahwa tanggal 15 Juli 2012 adalah FanDay SasuFemNaru!

15 Juli sediri diambil dari festival Hanabi Taikai yang dilaksanakan rutin setiap pertengahan bulan Juli dengan pesta/festival musim panas—Kembang api—terbesar se-Jepang, yang dilaksanakan di pusat kota Tokyo. Melambangkan Female-Uzumaki Naruto/Naruko

Sedangkan tanggal 15 adalah pertengahan bulan, dimana bulan purnama muncul di permukaan langit, hal ini melambangkan Uchiha Sasuke.

Festival Hanabi Taikai, melambangkan sebuah kebersamaan di tengah padatnya rutinitas sehari-hari. Langit yang berhias bulan purnama dan bintang, saat itu juga dimeriahkan dengan percikan kembang api ditengah dinginnya malam. Menghangatkan perasaan ribuan manusia, sama halnya dengan sosok Female-Uzumaki Naruto/Naruko yang bersifat ceria, hangat, dan penuh kasih sayang, meluluh-lantahkan sifat bak dinginnya malam seorang Uchiha Sasuke.

Dengan ini saya akhiri pengumuman dari segenap SafOnyx, yang telah mendukung pengembangan PAIR SasuFemNaru di FNI.

Satu hal lagi, mulai saat ini saya akan pindah ke chara: Uzumaki Naruko. Bila ada yang berkenan untuk melihat fic-fic SasufemNaru karya author lain yang ikut serta. Arigatou~

Atas nama besar keluarga SafOnyx, kami ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya atas perhatian kalian. Wassalam… ^^

Review please~ XD #plak!#