Persiapan menjadi preman ala Akatsuki

Summary: Kakuzu pun menghampiri setiap anggota Akatsuki satu per satu dengan alasan yang sama, nagih utang. Diantara mereka semua, yang membayar hanya Konan, itu pun hanya setengahnya. Akhirnya sang Leader mengadakan rapat mendadak mengenai hal ini.

Warning: bahasa sesuka author, OC/OOC, abal, gak bermutu, garing kress kress, de le le.

Rated: K+, ajalah.

Genre: humor/friendship, terserah mau pilih yang mana.

Naruto punya Mashashi Kishimoto. France punya Hidekaz Himaruya. Akatsuki+Hetalia punyaku
—dikeroyok— XD

.

.

.

Pagi yang cerah, tenang, damai, tentram, aman, dan nyaman. Tidak seperti biasanya markas Akatsuki yang bobrok bisa setenang ini. Bahkan tak biasanya suara kicau burung terdengar nyaring di telinga.

Ayo, kita lihat kedalam. Ternyata para Akatsuki pada sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Terlihat bantaljarum Pein sedang mencari paku untuk ditancapkan ke mukanya. Konan yang sedang sibuk membuat order origami berjumlah 1001 buah. Kisame sibuk berpacaran dengan pacar tercinta (baca: ikan). Itachi sedang memoleskan produk penghilang keriput. Sasori sedang sibuk membuat sketsa kugutsu yang akan dibuatnya, yang disampingnya ada Deidara yang menyimak semua perkataan dari Danna-nya itu. Hidan yang sedang berlajar agama dengan Dewa Jashin. Kakuzu yang sibuk menghitung uang angpao bulan lalu. Zetsu,… sepertinya tidak perlu dibahas.

Saat Kakuzu menghitung uang angpao-nya ia teringat akan sesuatu, dan berjalan menuju Hidan sambil menadahkan tangannya, seperti ingin menagih sesuatu. "Hidan, ayo bayar biaya les privat dengan Dewa Jashin." Ujarnya dengan mata berkilat-kilat. "gu-gue belum ada uang, Zu." Ucap Hidan. "uhm, baiklah. Tapi, ada bunga-nya. Setiap satu jam, bunga-nya 1%." Ujar Kakuzu. "APA?" teriak Hidan.
"kau mau bayar sekarang? Atau terima." Tanya Kakuzu. "iya iya, gue terima. Tapi, ringanin buat gue dong." Pinta Hidan dengan menggunakan puppy eyes no jutsu. "gak ada." Ucap Kakuzu seraya berlalu.

Kakuzu kini menghampiri Itachi. "Itachi, ayo bayar biaya make-up yang kau beli." Ujar Kakuzu. "harus sekarang?" tanya Itachi yang masih sibuk didepan kaca. "iya." Sahut Kakuzu. "aku ngutang dulu,ya? Belum ada duit." Ucap Itachi dengan santainya. "oke, bunga-nya 1% per jam." Ujar Kakuzu. "iya iya, entar aku bayar." Ucap Itachi. Kakuzu pun beralih ke yang lain. "APA? Bunga 1% per jam?" Itachi baru ngeh sama perkataan Kakuzu. "GILA! Dapet duit dari mana secepet itu."

Kakuzu pun menghampiri setiap anggota Akatsuki satu per satu dengan alasan yang sama, nagih utang. Diantara mereka semua, yang membayar hanya Konan, itu pun hanya setengahnya. Akhirnya sang Leader mengadakan rapat mendadak mengenai hal ini. Semua Akatsuki (minus Kakuzu)pun berkumpul di ruang rapat(gak disangka Akatsuki punya ruang rapat).
"okeh, semuanya. Kita harus cari pekerjaan untuk melunasi hutang kita pada Kakuzu." Ujar Pein dengan (sok) berwibawa. "kerja apaan, Pein?" tanya Kisame.
"kerja apaan kek, yang bisa kalian kerjain. Kayak yayang Konan dong. Memanfaatkan keahliannya untuk mencari uang." Ujar Pein sambil mengedipkan sebelah matanya ke Konan.
"ah, yayang Pein bisa aja." Ucap Konan.
"yayang Konan kan emang pinter." Sahut pein yang sedang bergombal ria. Semua Akatsuki sweatdrop menyaksikan pemimpin mereka yang rada-rada.

Anggota Akatsuki pun berangsur-angsur meninggalkan ruang rapat.

"uum, Leader-san. Un." Deidara binggung karena ditinggal temen-temennya. Sekarang diruang rapat cuman ada Pein, Konan, Sasori, sama Deidara aja. " . . . " Sasori mencolek pundak Dei, "tinggalin aja, mereka." Ujar Sasori. "i-iya, un." Deidara nurut seraya mengikuti Sasori keluar.

Di luar markas Hidan, Itachi, Kisame sedang ngerumpi –ralat–berdiskusi. "chi, menurutmu, aku ngapain, yak? Biar dapet duit." Tanya Kisame pada Itachi. "jual aja tuh, pacar-pacarmu." Sahut Itachi. "oh, tidak bisa." Jawab Kisame dengan gaya Sule. "ah, aku mau pinjem ke my lovely otouto aja ah." ujar Itachi seraya mengeluarkan HP (HandPhone, bukan Harry Potter). Ta ti tut ti tut tet.
"maaf, nomor yang anda tuju sedang tepar. Cobalah, beberapa tahun lagi." Itachi menutup HP-nya. "ntar aku coba lagi." Ucap Itachi.

"lha? Kenapa gak lo jual aja tuh HP, chi?" tanya Hidan sambil menatap HP Sony Ericsson K810i milik Itachi. "kalo aku jual, aku gak bisa nelpon otouto lagi, dun." Ujar Itachi sambil bergaya ala banci lampu merah.–plaak– 'kenapa gue punya temen kayak dia, yak?' ujar Hidan merinding.

"aku coba lagi, deh." Itachi mencet-mencet HP-nya(lagi). Tak lama kemudian terdengar suara dari seberang sana. "halo?"
"halo, Sasuke! Aniki pinjam duitmu, ya?" kata Itachi dengan wajah memelas yang membuat Kisame, dan Hidan cekikikan. " . . .lagi gak ada duit. Tuuut tuuut tuuut . . . " tanpa ba-bi-bu Sasuke sudah memutuskan sambungannya. Itachi pun menaruh kembali HP-nya dengan wajah muram.

Tiba-tiba keluarlah Sasori dan Deidara. "eh, kalian mau kemana?" tanya Kisame. "mau ke pasar." Sahut Sasori yang masih narik tangan Deidara. "ngapain ke pasar?" tanya Itachi. "mau jadi preman. Ya, enggaklah, mau jual 'ini'." Ujar Sasori. "unh? Aku jangan dijual! Un!" Deidara mewek-mewek ditarik paksa sama Sasori. "DEI NO BAKKA!" Sasori sukses mendaratkan sebuah jitakan ke kepala Dei, semakin lama keduanya pun udah gak keliatan lagi. ". . . " Hidan, Itachi, dan Kisame bertatapan.

"sebenernya yang mau dijual itu siapa?" tanya Kisame dengan wajah polosnya.(what the . . . ?) akhirnya Kisame mendapatkan hadiah berupa mangekyou, plus sabitan dari Itachi dan Hidan, yang menyebabkan Kisame bonyok dalam sekejap dengan alasan yang tak jelas pula.

"AHA!" tiba-tiba muncul sebuah lampu terang di atas kepala Hidan. "gue punya ide!" tereak Hidan, yang membuat telinga Itachi dan Kisame budek seketika. "gak pake tereak berapa sih, bang?" sewot Itachi. "5 juta! Udahlah dengerin gue, gue ada ide, nih." Ujar Hidan. "ide apa, sih?" tanya Itachi. "kenapa kita gak jadi preman pasar, aja? Kan gak perlu modal duit." Ucap Hidan semangat '45.
"ide bagus, tuh." ucap Itachi sambil membayangkan dirinya menggunakan baju khas preman.

Tiba-tiba Zetsu muncul dari bawah tanah. "ha? Gue ikutan, dong!" ucap Zetsu item. "tapi, tem. Jadi preman itu 'kan tidak baik." Ujar Zetsu putih menceramahi Zetsu item. "halah! Dari pada kita kagak punya duit, tih." Ucap Zetsu item. "ya sudahlah, aku ikut." Akhirnya Zetsu putih pasrah sama Zetsu item. Hidan, Itachi, dan Kisame hanya manteng melihat 'makhluk' yang bisa bersandiwara dengan dirinya sendiri, itu.

Dan tiba-tiba(perasaan author ngomong 'tiba-tiba' mulu, ya.) Sasori dan Deidara kembali. Mereka membawa beberapa tas, sepertinya mereka habis belanja. "lho? Itu Dei, kan? Dia gak jadi dijual, ya?" tanya Kisame. "heh! Kisame pinter dikit napa, sih. Atau lo mau gue jadiin sushi?" ujar Hidan. Kisame langsung geleng-geleng sampe kepalanya copot (?)

Itachi pun mendekati Sasori dan Dei. "lho? Kalian habis belanja, ya?" tanya Itachi sambil ngeliat isi tas yang dibawa Dei. "iya. Ini tanah liat Sasori yang membeli 'kan-nya untukku." Ujar Dei yang kelihatanya seneng banget. "hei Sasori, kau punya uang?" tanya Itachi ke Sasori. "enggak. Tapi, aku tadi, jual bomnya Dei." Sahut Sasori. "emang ada yang mau beli bom-nya Dei?" Tanya Itachi(lagi). Sasori mengangguk "ada kok. Tadi kebetulan ketemu teroris di pasar. Ya, aku tawarin aja. Eh, ternyata dia mau." Jelas Sasori.

"terus kenapa beli tanah liat lagi?" lagi-lagi Itachi bertanya. "tanah liat ini yang gak bisa meledak." Ucap Sasori singkat. "udah, ah. Nanya mulu. Ayo, Dei." Lanjut Sasori sambil ngajak Dei masuk ke markas. "iya, Danna. Un." Deidara yang nurut langsung ikut masuk ke markas. 'mereka pasangan yang aneh, ya?' kata Hidan dalam hati. 'kok Deidara nurut banget, sih, sama Sasori? mendingan dia jadi pathner-ku dari pada ikan itu.' Ujar itachi dalam hati sambil ngelirik ke Kisame yang lagi cengo.

"hei, dimana Zetsu?" tanya Hidan dengan gaya Phineas&Ferb. "entahlah." Itachi mengangkat kedua bahunya. "oh ya, ngomong-ngomong kok Dei nempel terus sama Sasori, ya?" tanya Kisame. "hei, jangan suka ngomongin orang. Itu tidak baik." Ujar Zetsu putih—yang tiba-tiba muncul dari tanah— menceramahi Kisame. "oh, kau disitu Zetsu." Ucap Hidan yang masih dengan gaya Phineas&Ferb. "udah. Sekarang kita cari baju preman, yok! Masa iya, kita jadi preman bajunya seragam(?)" ujar Hidan lagi.

"pinjem Sasori aja, yuk! Dia 'kan punya baju buat boneka-bonekanya." Ujar Kisame. "tumben kau pinter, Kis" ucap Itachi. Mereka pun masuk kedalam markas dengan tujuan kamar SasoDei. Sampai mereka disana,…"danna, hah hah, aku lelah. Un." Terdengar suara yang kedengaran lirih. "ayo, Dei. Sedikit lagi." Ucap suara lain. "aku sudah lelah, unh." Ujar suara itu lagi. *plis, jangan ngebayangin yang aneh-aneh. Ingat ini bukan rated M*lanjut,…BRAAK(sfx. Suara orang jatoh—pingsan—) "eh? Dei kok pingsan, sih?" ujar suara lain itu lagi. Hidan, Itachi, dan Kisame yang mendengar perkataan orang itu, langsung menyerobot masuk ke dalam. "Dei kau,...tidak apa-apa?" tanya mereka.

"huh, payah. Masa disuruh bikin tanah liat aja pingsan." Kata Sasori yang ngangkat Dei ke kasur. "?" Hidan, Itachi, dan Kisame cengo ngeliat Sasori. "kalian ngapain kesini?" tanya Sasori. "ki-kita mau pinjam baju." Ucap Hidan 'gila, gue kira ngapain tuh,bocah.' Kata inner Hidan. "baju? Baju apa?" tanya Sasori. "baju,... baju apa aja deh." Ucap Kisame. " . . . " Sasori lalu menghampiri sebuah peti dan membukanya. "pilih aja sendiri." Sambungnya.

Beberapa saat kemudian,
Hidan sudah mengunakan baju hitam dengan lambang Nazi(?) tanpa lengan dan celana jeans biru dengan rantai-rantainya (bukan rantai yang gede. Tapi, rantai kecil yang biasanya ada di kantong preman itu, apalah namanya,... Author gak tau, kalo ada yang tau, kasih tau, ya.) Itachi memakai baju merah lengan pendek dan celana hitam panjang. Kisame,... apaan nih? Gaun warna ungu? "ki-kisame? Mana ada preman pake gaun?#$%^&*" tereak Hidan. "habis warnanya unyu-unyu" ujar Kisame dengan tampang innocent.

DAKK DUKK BAKK BRUKK
Kisame tepar ditempat. Deidara bangun sambil sweatdrop menyaksikan pembantaian didepannya. "a-aku ada di neraka, ya?" ujarnya lalu pingsan lagi. Akhirnya setelah beberapa jam, mereka semua sudah siap menjadi master of preman pasar (?) Deidara pun sudah sadar dari pingsan-nya yang nyenyak.

"okeh, semuanya. Kita sudah siap." Ucap Itachi."ayo kita berjuang!" sambung Itachi. "yosh!" ujar mereka semua. "Danna, kok mereka jadi preman ribet banget, ya?" bisik Deidara pada Sasori. "mereka 'kan memang selalu ribet. Liat aja nanti bagaimana kalau mereka jadi preman." Sahut Sasori pada kohai-nya itu dengan suara pelan.

TO BE CONTINUE

Note:
Huuuuahh! Gajeness banget!
Neko say: "uwaah! Usagi-chan, maafkan Neko. *sembah sujud* Neko-chan disuruh belajar sama mama. Hasilnya, jadi begini, deh,... HUUUE! *nangis-nangis"

Note from Usagi:

Emh... Maaf sebesar-besarnya kami gak tahu caranya gimana bikin categorynya jadi 2 anime jadi saya cantumin Hetalia. Mohon bantuannya bagi yang tahu cara mencamtumkan 2 categorynya /\

Wanna RnR?
.Thank's.